Monday, April 26, 2010

Kepedulian



Saya mengajak teman pengusaha datang melihat rumah singgah.  Rumah Singgah itu memang saya sediakan bagi PSK yang mau bertobat. Mereka dapat pendidikan ketrampilan selama di rumah Singgah. BIaya hidup mereka sebelum kembali ke masyarakat di tanggung oleh Rumah Singgah. Dalam perjalan kami ngobrol tentang semangat kepedulian tentang keadilan dan kemanusiaan.

“ Kalau anda punya uang cash di tabungan Rp. 2 miliar saja, itu artinya anda termasuk 10% komunitas di dunia. 90% engga ada duit sebanyak itu. Kalau anda punya uang Rp. 10 miliar saja di rekening, itu artinya anda termasuk 1% komunitas dunia. Artinya 99% tidak punya uang sebanyak. Kesenjangan itu dari tahun ketahun , terus melebar “ Kata saya.

“ Oh i see. “ Katanya siap menyimak.

“ Saya analogikan secara sederhana. Berapa kamu keluar uang sehari untuk bayar bill makan dan minum? rata rata Rp. 2 jutaan sehari. Nah itu sama dengan 50% gaji UMR Jakarta. Begitulah timpangnya penghasilan. Bandingkanlah gaji Direktur BUMN dengan gaji Manager. Itu puluhan kali beda. Kalau dibandingkan dengan buruh, itu ratusan kali. Belum lagi financial freedom yang dinikmati orang berduit. Dari kemudahan KPR, Credit Card dan beragam side business yang mendatang passive income yang tak kecil. Kader partai jadi komisaris di BUMN. Tokoh ormas hanya kenalin pengusaha dengan elite politik untuk melancarkan deal bisnis, dapat uang miliaran sebagai donasi yang tak tercatat. Uang sebanyak itu mungkin umatnya tidak pernah liat, tak mampu bermimpi mendapatkannya.” Sambung saya.

“ Kamu bicara tentang rasio GINI ya” 

“ Ya. Di negara kapitalis, di negara komunis dan sosialis, bahkan di Arab juga sama saja. Kalau anda punya uang banyak, anda cenderung mendapatkan kebebasan untuk dapatkan lebih banyak. Kalau anda punya uang sedikit, jangankan bertambah banyak, lambat laun kolor pun sudah susah beli. Kalau tadi ganti setiap hari, mungkin besok harus ganti dua hari sekali. Engga percaya? Kalau anda punya utang di bank di bawah Rp. 1 miiar , anda akan dikejar oleh bank. Kalau engga bayar maka aset disita. Tetapi kalau anda punya utang ratusan miliar, bank bermanis muka dengan anda dan berusaha memberikan solusi lewat pemberian utang baru.

Manusia memangsa melebihi isi perutnya. Manusia bukan hanya butuh makan tetapi juga butuh rasa aman dari lapar. Maka stok pangan harus ada. Pada saat anda stok pangan di gudang, dan kebun, ada orang lain yang tidak punya kesempatan bisa makan lebih. Ketika anda menyimpan uang di bank karena ingin terus makan tanpa kawatir, ada orang lain yang bingung gimana makan pada hari ini dan besok. Setiap jengkal tanah yang anda miliki ada sekian orang yang tidak punya tanah. Ketika anda membeli satu rumah, ada orang yang tidak punya ramah. Ketika anda menambah rumah, ada orang yang bingung cicil rumah." kata saya  berusaha mencerahkan.

“ Begitu rakusnya design politik dan memang ujungnya tidak ada keadilan.” Katanya.

“ Ini bukan hanya karena masalah politik. Ini masalah kita semua.  Masalah kemanusiaan. Lebih besar lagi itu antara kita dengan Tuhan. Cara Tuhan berdialogh dengan kita tentang cinta dan kasih sayang. Tuhan ingin kita melaksanakan keadilan Tuhan lewat perbuatan, bukan hanya retorika. Tuhan ingin kita berguru kepada alam terbentang. Lihatlah semut yang berbaris rapi dalam semangat gotong royong. Atau lebah terorganisir saling melindungi. Atau matahari yang tak henti menyinari.  Lebih konplex lagi adalah liatlah kandungan senyawa kimia. Natrium klorida (NaCl) yang terdiri dari Natrium ( Na) dan Clor (Cl). Sama sama gas mulia.  Kalau mereka berpisah, mereka menjadi gas berbahaya bagi kehidupan. Tetapi karena mereka mencari keseimbangan, Na dan Cl saling mengikat. Dan jadilah garam dapur. Engga enak makan tanpa garam. Kebersamaan itu fitrah kehidupan. Kemulian manusia karena ia bisa menerima perbedaan, dan itulah rahmat. "

Tapi skenario Tuhan tidak pernah salah. Manusia tetaplah diciptakan untuk memakmurkan bumi. Untuk mengawal terjadinya keseimbangan di alam semesta. Itu sebabnya manusia diberi akal dan hati. Akal bisa melihat fakta. Hati bisa merasakan. Namun tanpa perbuatan berbagi, akal dan hati tidak berfungsi seperti pesan cinta Tuhan. Bahkan ketidakadilan itu kalau dibicarakan terus menerus tanpa perbuatan berbagi malah menimbulkan konplik atas nama agama dan idiologi. Paham ya" 

“ Paham saya ? Katanya mulai tercerahkan.

Di rumah singgah. “ Aku kangen ibuku.” Kata Dewi.
“ Ada apa ? Kata saya. Teman saya memperhatikan para wanita yang duduk di ruang tamu saat kami berkunjung.
“ Bang, saya ada tulis essay. “ Kata Dewi.
“ Memang saya suruh Dewi tulis essay tentang pengenalan diri dan lingkungannya. “ Kata Ibu asuh. 
“  Boleh saya bacakan. “ Kata Dewi kepada saya.
“ Ya silahkan. Saya dan kita semua mendengar” Kata saya.

“ Dia wanita yang kupanggil Ibu. “ Dewi mulai membaca. “ Perempuan perkasa yang setiap hari bertelanjang kaki menyusuri pematang sawah yang becek. Kemudian membiarkan kakinya terendam dalam kubangan Lumpur. Badan membungkuk menggemburkan tanah dengan kakinya yang kokoh. Suaranya nyaring mengendalikan kerbau menyusuri setiap jengkal sawah kami. Ibu dan Kerbau adalah pasangan serasi. Pasangan yang sadar dengan takdirnya. Pasangan yang harmonis diantara petak sawah yang menghampar dan ladang yang rimbun. Dan kami , anak anaknya adalah bagian penonton suatu drama kehidupan yang juga dulu ibu pernah lalui ketika masih kanak kanak. Kehidupan memang bergerak lambat dan tradisi ini menjadikan kami selalu akrap dengan kerbau dan sawah.

Ibu , adalah juga bagi kumpulan wanita di kampung kami. Semuanya berbaris rapi menjadi lebah pekerja karena para ayah turun ke kota menjadi kuli atau apa saja untuk membangun kota. Kepulangan para ayah tidak lagi menjadi sebuah penantian. Para ibu hanya tahu bahwa mereka harus membunuh rasa birahinya untuk sebuah harapan dari kota. Hingga setiap jengkal tanah di kampung ini hanya dipenuhi oleh para ibu yang kelelahan ketika malam datang. Ke esokan paginya mereka harus kembali berbaris bersama kerbau kesayangannya. Layaknya suami , sang kerbau menjadi sahabat setia dan juga tempat makian bila kerbau itu malas bergerak. Tapi sang suami tetap menjadi harapan.

Yang menjadi kenangan terindah bagiku dan ini kelak yang akan selalu kurindu. Adalah memberikan tumpukan jerami kepada kerbau. Ibu akan membakar sebagian kotoran kerbau untuk menghangatkan tubuh kami dari sengat dingin malam dan juga untuk menghindarkan kami dari sengatan nyamuk. Semua tersusun dengan sangat sistematis. Antara kerbau dan kami saling melengkapi. 

Desa ini bila senja tanpa seluet elang menari nari. Pria tempat kehangatan bagi ibu ibu tidak lagi hadir dikala senja datang merangkak malam. Ibu nampak tidak lagi peduli karena selalu ada harapan bila ayah pulang. Membenamkan diri dalam kesunyian malam dalam kelelahan adalah irama hidup yang kadang membosankan namun ibu akan selalu baik baik saja.

Satu saat ketika Ayah pulang, maka keceriaan terpancar di wajah ibu. Maka hari hari berikutnya terasa sangat lain. Ibu lebih banyak bersolek. Apa lagi Ayah datang membawa oleh oleh bedak berwarna warni dari kota. Bibir ibu nampak ranum dan juga pipinya. TV berwarna yang dibawa Ayah dari kota menceritakan banyak impian untuk ku “ Kamu harus melihat dunia luar. Kamu harus seperti dunia yang ada diluar sana. “ Begitu kata Ayah memberikan semangat untukku. 

Hari hari berikutnya, Kerbau ku tak lagi nampak. Dia sudah digantikan oleh motor bebek baru berwarna merah. Juga ibu tidak perlu lagi bersusah payah membusukan jerami di sawah kami. Karena ayah membawa pupuk dari kota untuk ditebar. Juga Ayah membawa bibit bibit terbaik dari kota. Semuanya “ agar ibu tidak perlu berlelah disawah dan dapat menikmati hasil banyak” demikian Ayah.

Kami merasa berubah dan harapanpun semakin besar bahwa kami akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Waktu bergerak maju , impian kami jauh lebih maju tapi anehnya kami tetap saja di tempat kami bahkan tak lagi merasa berpijak di tanah kami. Sawah kami menghasilkan padi namun tidak memberikan kami cukup uang untuk dimakan karena harus berbagi dengan Koperasi untuk membayar pupuk dan bibit dan juga upah traktor menggemburkan sawah. Juga kami harus membayar cicilan hutang keperluan ibu membeli kulkas, membayar kredit motor dan banyak lagi. 

Lambat laun ayah sudah jarang bicara tentang keindahan hidup di kota. Tentang mimpi kelap kelip lampu kota di malam hari. Tentang rumah megah berlapis marmer. Dan ibu sudah tak pernah lagi memintal rambutku yang panjang. Ibu selau pergi ketika aku terlelap dalam tidurku dan baru kembali setelah ayam berkokok. Tapi aku yakin ibu akan baik baik saja.

Aku tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang kota. Ingin sekali aku datang ke kota melihat semua yang Ayah ceritakan, seperti bintang filem, mobil mewah, gedung tinggi dan banyak lagi yang selama ini hanya kulihat dari televisi. Dalam keinginan dan impian itu, akupun tidak begitu tertarik lagi belajar di sekolah , apalagi ketika Motor bebek kesayangan ibu sudah tidak ada lagi untuk mengantarku kesekolah. Aku tidak mau berlelah jalan kaki ke sekolah atau merusak sepatu cantikku. Aku rindu kota, tapi juga aku merindukan ibu yang tidak lagi ada ketika aku sangat membutuhkannya. Ayah hanya bilang ” Ibu mencari uang”. Aku sendiri bingung, sejak kapan Ibu pandai mencari uang.? Yang kutahu ibu adalah sahabat kerbauku di sawah dengan arit di tangan menyiangi kebun kami. Tapi aku yakin , ibu akan baik baik saja.

Satu waktu yang tidak pernah aku lupakan , ketika malam aku terjaga. Aku sangat merindukan Ibu. Kulihat di sebelah kamar , Ibu tidak ada. Ayah juga tidak ada. Aku mencoba melangkah keluar rumah. Berjalan menembus pekatnya malam. Di ujung jalan desa terdengar suara musik sayup sayup dan suara tawa orang ramai. Kesanalah aku pergi. Di sana aku lihat ayah sedang bermain remi dengan bertemankan bir hitam. Kemana Ibu ? Aku tidak melihat ibu. Langkahku terus bergerak mencari ibu. Dari kejauhan nampak ibu ku sedang berdiri di depan losmen kumuh. Ibu tersenyum kepada siapa saja yang lewat atau kadang kala bercanda dengan tukan becak yang mangkal di depan losmen. Apa yang sedang dikerjakan ibu?. Aku tidak tahu. Tapi aku yakin , ibu akan baik baik saja.

Kini waktu berjalan terasa lambat seiring dengan semakin jarangnya aku melihat ibu dan Ayah di rumah. Memasak , menanak nasi dan mencuci adalah bagian dari keseharianku. Tapi setidaknya aku tidak harus bercengkrama dengan kerbau. Atau menggiring kerbau ke sawah. Karena sawah sudah dijual. Kebun sudah juga dijual setelah sebelumnya kerbaupun terjual. Keinginan dan impian yang dibawa oleh TV , tidak lagi bisa kami dengar karena TV pun sudah lama terjual. Kami tidak punya apa apa lagi. Kecuali jasad dan impian yang masih tersisa walau tak bisa diungkapkan. Kami hanya butuh makan untuk membuat hari hari dalam impian kami tetap hidup. Itupun semakin sulit. Tapi kami yakin ,kami akan baik baik saja.

Kini, aku tidak lagi ada di desa bersama mimpiku. Aku berada di etalase dengan lampu temaram. Tubuhku menjadi tontonan orang orang yang melirik setiap melintas di depan etelage. Aku tersenyum bersama semua mereka yang ada di dalam rumah kaca ini. Harapan kami disini , hanyalah berharap agar ada orang yang memanggil kami dan membeli kesenangan sesaat yang dapat kami berikan untuk membayar impian kami. Beginilah akhir dari cerita bila akhirnya aku ada disini bersama mimpiku dan juga sama dengan semua mereka yang terkapar tanpa masa depan karena terampas oleh mesin kepengohan dari budaya yang salah. Aku tidak akan menyalahkan ibu dan ayahku. “ Dewi mengakhir baca essay dengan air mata berlinang. Teman temannya juga sama. 

Saya perhatikan teman saya. Dia terharu. “ Mulai sekarang, saya akan jadi donatur Rumah Singgah ini “ Katanya.

“ Engga perlu. Saya maunnya kamu juga buat Rumah Singgah sendiri. Ayo berbagi dalam sunyi” Kata saya. Dia menyanggupi. Benarlah.  Beberapa bulan kemudian dia cerita sudah punya rumah singgah. Memang air laut tidak akan bisa habis. Tetapi setangguk kita ambil, air lautpun berkurang. Sampai kapanpun pelacuran tidak akan bisa hilang di muka bumi. Tetapi dengan tidak membeli jasa mereka dan menolong mereka dari kelam, pelacuranpun berkurang. Kita tidak akan bisa membuat negara bersih dari korupsi, tetapi dengan kita menolak korupsi, korupsipun berkurang. 

No comments: