Wednesday, September 26, 2012

Hanya modal skema bangun proyek.


Hari kamis Budi telp Maria agar terbang ke Hong Kong untuk bertemu. Dia segera terbang. Karena waktu yang diberikan Budi hanya hari Jumat. Hari sabtu Budi akan kembali ke Jakarta bertemu dengan keluarganya. Jam 5 sore Maria sudah Check in di Hotel Mandarin Hong Kong. Tak berapa lama terdengar suara panggilan telp dari Budi. “ Jam 7.30 malam saya jemput di Hotel. Saya mau ajak kamu makan malam dengan relasi saya. “ Kata Budi.

“ Siap mas. “ 

Benarlah, jam 7.30 kendaraan Budi sudah ada depan Loby. Maria bersegera masuk kedalam kendaraan. Nampak Budi mengenakan pakain santai. “ Ini pasti ketemu dengan sahabatnya ya. Bukan relasi bisnis ? Kata Maria sambil duduk di samping Budi. 

“ Kok tahu ? kata Budi terkejut

“ Ya tahulah, dari pakaianya “

Budi tertawa. Seraya merangkul pundak Maria dari samping. “ Saya perhatikan kulit kamu semakin putih. Ada apa ?

“ Biasa aja. Mas aja kurang perhatian. “

“ Oh ya. Proses pendirian pabrik Semen di Vietnam berjalan degnan baik. Saya senang. “ kata Budi cepat kepokok persoalan. Selalu efisien. Basa basi hanya sekedarnya.

“ Secara bisnis proyek itu feasible. Semua izin proyek dari konsesi, Amdal , lahan sudah rampung. Gimana? udah ada keputusan pembiayaannya ? Kata Maria yang juga Dirut perusahaan pemilik  proyek itu.

“ Engga usah kawatir. Kita  gunakan skema EPC loan. “ Kata Budi.

“ Ok. Apa yang harus aku lakukan.” Kata Maria dengan wajah serius.

“ Pastikan negosiasi dengan kontraktor EPC  agar mau membangun proyek itu secara turn key. Artinya kita akan bayar proyek itu setelah 100% proyek selesai dibangun.”

“  OK. Siap. Tetapi tentu Kontraktor butuh jaminan pembayaran.”

“ Holding di Hong Kong akan siapkan financial guarantee atas kontrak EPC itu. 

“ Jadi Holding engga kasih uang tunai ? 

“ Engga. Mereka lebih nyaman pembiayaan dedicated dengan proyek. Jadi lebih Clean dan Clear secara financial.”Kata Budi tegas.

“ Boleh tanya ?Kata Maria.

“ Ya.

“ Gimana Holding bisa dapatkan financial guarantee untuk EPC ? Apa Collateralnya ?

“ Engga ada collateral. “

“ Jadi apa jaminannya ?

“ Ya Business plan yang kamu buat itu, yang lengkap dengan semua dokumen perizinan yang ada. Termasuk adanya exit strategi atas proyek tersebut. Kan dalam bisnis plan kamu ada point, setelah proyek selesai dibangun akan mengeluarkan bond melalui penawaran terbatas sebagai cara refinancing. “

“ Itu kan baru business plan”

“ Benar. Tetapi team holding udah bicara dengan Investment banker. Justru karena itu mereka setuju mengatur skema dalam rangka penerbitan financial guarantee untuk EPC. “

“ Bisa tahu. Apa skemanya ?

“ Investment  banker mengeluarkan semacam Secure bond. Ini instrument pasar uang berupa surat utang dimana investment banker bertindak sebagai buyer sendiri kalau terjadi default. Instrument ini kita jadikan jaminan ke bank untuk menerbitkan financial guarantee kepada kontraktor EPC.

“ Dan kontraktor atau EPC akan gunakan financial guarantee itu sebagai underlying dan jaminan menarik pinjaman dari bank. Karena kontraktor punya reputasi dan credit rating yang tinggi tentu tidak ada kesulitan menarik pinjaman untuk pembiayaan proyek. Ya kan. “ kata Maria tersenyum.

“ Ya. Setelah proyek mencapai progress diatas 60% pembangunan, investment banker akan menawarkan bond lewat pasar terbatas ( limited offers ). Umumnya bond  ini akan dibeli oleh investor, karena proyek sudah hampir selesai. Jadi jelas cover risk nya. IRR diatas bunga bank dan fixed income dan collateralnya berupa proyek yang sudah jadi. “

“ Uangnya untuk kita ?

“ Ya engga. Uang hasil penjualan Bond itu disimpan di rekening diskrisi yang peruntukannya untuk melunasi pembayaran kepada kontraktor/EPC agar Finacial guarantee yang diterbitkan bank tidak default.

“ Jadi kesimpulannya, tanpa colllateral, tanpa uang, Holding kita bisa membiayai proyek sampai selesai. Selanjutnya proyek itu sendiri yang akan membayar utang atas bond yang  diterbitkan. 

“ Ya. setelah 3 tahun proyek beroperasi, kamu harus bisa listed di bursa untuk melunasi bond tersebut atau bisa juga bond itu dikonversi dengan saham atau dijual ke investor institusi. “

“ Dan pada akhirnya kita akan dapat capital gain dan juga sebagai Share holder tanpa keluar modal. Ya kan.” Kata Maria tersenyum. 

Budi hanya mengangguk dan tersenyum.

“ Ada masalah Mas “ Kata Maria setelah hening sebentar.

“ Masalah apa ? Budi mengerutkan kening.

“ Salah satu direktur kita yang punya hubungan keluarga dengan pejabat Vietnam, sepertinya dia mau keluar dari perusahaan “

“ Wah itu masalah besar. Kenapa ?

“ Dia  cemburu denganku. Dia pikir aku suka dengan pacar dia yang jadi Project Manager”

“ Oh gitu. Apakah benar kamu punya hubungan khusus dengan pacarnya ?

“ Enggalah “ Jawab Maria tersenyum.

“ Jawab dengan jujur! “ Kata Budi dengan tegas. Tapi Maria melihatnya seperti melucu dan memang lucu liat Budi melotot seperti itu. 

“ OK. Jujur ya. Maria memang tertarik dengan pria itu tapi tidak tahu apakah pria tertarik dengan Maria. Tapi Maria tidak peduli. Itu hanya emosional insidentil saja. Siapa sih yang engga tertarik denga pria ganteng seperti itu. Cerdas dan baik hati “ 

“ Hmmm” Budi mengangguk ngangguk “ Itulah penyebabnya. Wanita bisa meliat sikap kamu, terutama kepada orang yang dia cintai. Berulang kali aku bilang udah dech pikirin cinta. Kenapa sih. Usia  kamu udah mendekati 45 tahun. “

“ Mas ngomong apa sih. Aku engga pernah bilang mencintai pria itu. Aku hanya bilang ketertarikan saja. “

“ Ketertarikan itu lebih bahaya daripada mencintai “

“ Bahayanya apa ?

“ Karena tidak rasional. Banyak rumah tangga hancur karena masalah ketertarikan dengan wanita atau pria lain di luar pasangannya.”

“Ah sudahlah engga usah dibahas. Yang pasti aku tidak tertarik. Masih batas wajar saja kok. Maklumilah. Aku sudah menjanda lebih dari 5 tahun. Masak engga maklumi sih. “  Maria nampak murung.

“ Saya engga ingin proyek ini gagal, hanya karena masalah kamu dengan putri pejabat vietnam itu. Ingat, tanpa koneksi kuat, engga mungkin kita dapat hak bangun pabrik semen di negara orang. Emang siapa kita. Pahami itu. Dewasa sedikit kamu. “ Wajah Budi nampak berubah cepat. Terkesan marah kepada Maria.

“ Ya mas. Maria akan berusaha selesaikan masalah ini secara personal dan pastikan direksi itu engga sampai berhenti. “ 

“ Jangan kecewakan saya. Ingat itu.” Kata Budi tegas.

“ Ya Mas. “

Sebelum pembicaraan tuntas, kendaraan mereka sudah sampai di Gedung dimana restoran berada. Budi berjalan bergegas masuk kedalam loby gedung itu dengan gaya khasnya. Maria berusaha mengikuti dari belakang. Keluar dari Lift nampak sahabat Budi sudah menanti dengan senyum mengambang. Sahabatnya merangkulnya dan menuntunnya masuk ke restoran menuju table. 

“ Kenalkan, ini sahabat dan juga mitra saya. “ kata Budi memperkenalkan Maria.  Sahabat Budi mengangguk kearah Maria. Benar antara Budi dengan sahabatnya sangat dekat. Nampak dari cara mereka berbicara dan minum wine.  Setelah usai makan malam. Budi mulai berbicara dengan sahabatnya, yang juga CEO investment banker. Saat itu juga hadir CEO EPC dari BUMN China.  Dua orang key player penentu solusi pembiayaan proyek itu adalah sahabat Budi. Maria hanya jadi patung melihat keakraban mereka. Setelah usai makan malam, Budi hanya berkata singkat kepada Maria " follow up mereka sampai selesai. Pastikan proyek selesai sesuai skedul. " 

Tuesday, August 14, 2012

Memuliakan ibu, bisnis lancar



“Andaikan tangannya masih kokoh, langkahnya masih kuat itu akan selalu digunakannya untuk membimbing anak-anaknya melangkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya akan terus terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik-baik saja, dan bunda akan selalu ada di sampingmu, Nak…”
**

Tahun 2008. Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan datang. Aku masih larut melihat perkembangan bursa di New York. Dari tadi siang aku malas membuka email karena melihat perkembangan pasar yang semakin memburuk. Keliatannya hari-hari ke depan tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali bertahan dalam situasi buruk. Teman mengatakan dalam gurauan kepadaku bahwa ini saatnya kita surfing di atas gelombang ganas. Lihatlah tak banyak yang bisa selamat tapi ini tantangan untuk menguji siapa yang qualified melewati putaran waktu. 

SMS datang.
“Sudah baca email dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang menghadap Raja mereka.” 
Saya terkejut. Bersegera saya membuka email. Benarlah , email ini datang dari tadi siang. Terbayang upaya hampir setengah tahun untuk mendapatkan klien potensial, kini peluang terbuka dengan adanya undangan untuk presentasi. Walau kemungkinan berhasil masih sangat jauh, namun setidaknya ini titik awal untuk sebuah harapan. Akupun bersegera membuka file presentasi untuk mempertajam materi dan menambah sedikit bahan sesuai hasil riset mutakhir.

Pagi-pagi aku bersama team sudah berada di bandara untuk terbang memenuhi undangan. Dijadwalkan, setiba di bandara aku akan dijemput oleh asisten kerajaan. Kemudian akan diantar ke tempat istirahat kerajaan sambil menunggu jadwal pertemuan khusus dengan Raja. Setelah pertemuan dengan Raja, maka keesokan harinya dijadwalkan untuk menghadiri presentasi dengan pejabat terkait. 

Penerbangan first class itu sangat nyaman. Di dalam pesawat aku berusaha membaca indikator mutakhir ekonomi dan sosial negara yang akan aku kunjungi itu. Ketika mendarat, cuaca cukup cerah. Pejabat yang menjemput kami tampak tersenyum ramah membawa kami ke limosine untuk menuju hotel. Sesampai di Holel Kerajaan, pejabat itu memberikan kesempatan kami untuk istirahat dan dia langsung kembali ke kantornya. Pejabat itu berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku dengan Raja. Hanya aku saja tanpa didampingi tim. Jam 7 malam jemputan akan sampai di hotel untuk acara makan malam jam 8 bersama Raja. Aku mengangguk.

Aku bekerja bersama tim sampai mendekati subuh untuk memantapkan segala persiapan. Setelah sholat subuh aku memilih untuk istirahat dan tidur. Begitu pula dengan anggota tim lainnya. 
Sebelum berangkat tidur, telepon selularku berdering.
“ Pah,” suara isteriku di seberang.
“ Ya.” Aku menangkap ada sesuatu di rumah. Karena tidak seperti biasanya isteriku menelepon sepagi ini.
“Papa, tenang aja.”
“Ya tenang, ada apa?”
“Bunda kena serangan jantung ringan.”
“Sekarang Bunda ada dimana?”
“Di rumah sakit. Mama dampingi bunda terus. Kata dokter keadaannya sudah membaik. Papa tenang aja. Adik adik semua ada di sini kumpul. Bunda di bawah perawatan dokter terbaik. Kita berdoa aja semoga keadaan bunda semakin membaik.”

Terkesan bagiku, isteri berusaha menenangkan aku bahwa keadaan bunda baik baik saja tapi diapun tidak bisa menyembunyikan kekawatiran akan keadaan bunda. Seusai menerima telepone itu, batinku mendesakku untuk segera pulang. Tapi, bagaimana dengan rencana kunjungan ini? Bagaimana perasaan timku bila pertemuan ini gagal karena aku harus segera pulang. Apalagi perjuangan mendapatkan klien ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun.

Namun, hatiku tidak bisa tenang dengan segala pemikiran tentang masa depan usahaku. Aku hanya memikirkan tentang hari ini di mana bunda sedang sakit dan aku harus ada di sampingnya.
“Apakah itu tidak bisa ditunda lusa saja atau besok saja setelah kamu bertemu dengan raja,” kata salah satu anggota timku. Dia dapat memaklumi sikapku namun dia juga meminta kebijakanku soal kelangsungan bisnis kami.
“Ibu saya sakit dan ini tidak sederhana. Aku tidak bisa memaafkan diriku bila aku sampai menunda pulang,” kataku dengan wajah bingung. Aku terduduk sambil mengusap kepala. Bayanganku terus kepada bunda.
“Tapi bagaimana dengan rencana kita?”
“Maafkan aku…,” kataku menatapnya dengan wajah sesal, berharap timku dapat memaklumi. Semua anggota tim terdiam. Akhirnya salah satu dari mereka berkata “Kamu benar! Kalau begitu kita putuskan pulang hari ini,” kata mereka dengan tersenyum seakan berusaha menutupi keadaan posisiku agar tidak merasa bersalah karena keputusanku untuk pulang.

Jam delapan pagi aku menelepon pejabat penghubung kami dengan kerajaan dan menyampaikan alasan kami untuk pulang.
“Yang harus Anda ketahui bahwa tidak pernah satu kalipun Raja kami dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler istana akan sangat keras.”
“Mengapa?”
“Kamu sudah setuju untuk datang dan kini mendadak kamu batalkan sepihak karena alasan yang tidak masuk akal.”
“Ini soal ibu saya.”
Pejabat itu hanya terdiam dengan wajah terkesan marah.
“Maafkan kami. Semua akomodasi dan tiket yang sudah kerajaan keluarkan akan kami ganti. Ini kesalahan kami dan kami akan membayar kesalahan itu,” kataku.
“Reputasi Anda juga akan hancur,” kata pejabat itu dengan nada mengancam.
“Kami sadar akan itu. Sekali lagi maafkan kami.”
Tampak pejabat itu berbicara melalui telepon dengan nada penuh hormat.
“Tadi berusan saja pangeran berbicara dengan saya dan ia sangat marah karena pembatalan pertemuan ini,” kata pejabat itu lagi.
“Apakah saya bisa bicara dengan beliau?”
“Tidak perlu,” katanya tegas dan kesal.

Aku bersama tim berangkat menuju bandara. Rencananya, aku langsung pulang ke Jakarta. Sementara timku kembali ke Hongkong. Sesampai di bandara, tampak sekuriti sangat ketat. Supir taksi yang kami tumpangi mengatakan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami terpaksa turun agak jauh dari gate keberangkatan. Ketika aku bersama tim melangkah menuju bandara keberangkatan, salah satu pejabat yang mengenal kami bersegera berlari ke arah kami. Dengan ramah pejabat itu berkata, “Raja ingin bertemu dengan Anda.” Aku mengangguk dengan melangkah agak ragu mengikuti pejabat itu keruang VVIP. 
Ketika melewati koridor bandara seorang petugas mengambil pasporku dengan ramah. Aku terus melangkah dalam perasaan penuh tanya. Ada apa gerangan ini? Ketika pintu ruangan VVIP terbuka, tampak sang Raja di dampingi putra mahkota tersenyum ramah ke arahku. Tanpa sungkan dia memelukku sambil mencium pipiku.

“Saya mendengar kabar bahwa ibunda Anda sakit dan Anda harus segera pulang. Benarkah itu?”
“Maafkan saya, Yang Mulia. Bukan bermaksud tidak menghormati undangan Yang Mulia, tapi keadaan ibu saya memang memerlukan kehadiran saya di sampingnya.”
“Pulanglah. Urusan dunia ini tidak penting. Memuliakan ibu adalah memuliakan Allah. Tak ada ibadah terbaik di dunia ini selain berbakti kepada ibu. Sampaikan salam saya kepada ibu Anda. Doa saya akan menyertainya.” Kata kata itu meluncur begitu sejuknya. Aku sampai terharu. Di hadapanku ada seorang raja yang kaya raya dan di hormati, namun tetap lebih menghormati seorang ibu.”
“Terimakasih, Yang Mulia”
“Saya yang harus berterimakasih kepadamu. Karena lewat peristiwa ini, saya bisa memberikan pelajaran berharga kepada putra saya. Bahwa tak penting berapa peluang bisnis yang akan diraih namun bila saatnya datang untuk memuliakan orang tua maka itulah yang lebih diutamakan,” kata Raja sambil menatap ke arah putra mahkotanya.

Usai pertemuan itu, aku bersama pejabat penghubung kerajaan keluar ruangan VVIP menuju bandara keberangkatan. Pejabat itu berkata, “Yang Mulia Raja meminta Anda pulang dengan jet pribadinya. Sementara tim anda tetap di sini untuk melanjutkan pertemuan dengan pejabat terkait. Raja juga telah memutuskan untuk memilih perusahaan Anda sebagai mitra kami. Selamat.”

Anggota tim saya tampak berlinang air mata ketika mendengar kata-kata itu. “Bila kita muliankan ibu maka Allah akan memuliakan kita. Tentu yang sulit menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang. Anda benar dan kami percaya sikap Anda,” kata salah satu anggota tim saya sambil memeluk saya.

Ketika sampai di bandara, aku langsung ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, isteriku sudah menunggu dan membawaku ke ruangan bunda dirawat. Kucium kening bunda dan nampak matanya terbuka, Bunda tersenyum, “Kaukah itu nak?”
“ Ya, Bunda.”

“Siapa yang bilang bunda sakit. Bunda engga apa apa.” Bunda menoleh ke arah isteriku.  “Jangan kau ganggu anakku bekerja. Soal begini tak perlulah dikabarkan. Kau pikir mudah untuk kembali dari luar negeri ke sini. Lagian di sana dia tidak main-main. Inyo bakureh. ( dia cari duit) ” Bunda mengomeli isteriku. Itulah bunda, dalam keadaan apapun beliau tetap tidak ingin membuat anaknya repot. Andaikan tangannya masih kokoh, langkahnya masih kuat itu akan selalu digunakannya untuk membimbing anak anaknya melangkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya akan terus terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik baik saja, dan “Bunda akan selalu ada di sampingmu, Nak….”

Friday, August 3, 2012

Jalan terjal meraih sukses



Ada teman yang empat tahun lalu saya temui dia hanyalah seorang Sales di Guangzhou. Tapi sekarang dia sudah jadi boss pabrik besar di China. Bagaimana secepat itu teman ini dapat sukses.? Dia cerita bahwa awalnya dia mengetahui ada informasi dari Internet tentang new produk. Produk ini dibuat dari bahan alami atau istilahnya friendly environments. Kegunaanya adalah untuk membersihkan toilet atau mencuci piring kotor atau membersihkan kramik kamar mandi. Hebatnya lagi, limbah dari produk ini, kalau mengalir kesaluran pembuangan maka dapat membersihkan juga saluran tersebut dan sekaligus menghilangkan aroma busuk.

Dia melihat ini suatu peluang yang luar biasa kalau dapat dipasarkan di China. Kemudian , dia mengirim email ke perusahaan yang memproduksi tersebut yang berada di AS. Hampir sebulan , tidak ada response. Padahal dalam sebulan itu dia berkirim email lebih dari 100 kali. Apa pasal ? Karena dalam email itu dia menawarkan diri sebagai sole agent di china. Bayangkan? Teman ini hanyalah salesman ,yang tidak punya kantor sendiri , apalagi karyawan.Tapi dia jujur menyampaikan background dia kepada produsen barang itu.

Akhirnya ada juga response. Perusahaan itu bersedia menujuk dia sebagai agent asalkan dia dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan. Syarat tersebut , tentu syarat yang normative. Artinya dia harus punya gudang, harus punya kantor, harus punya cabang, harus punya bukti kemampuan menjual sesuai target selama setahun. Secara logika, tidak mungkin teman ini mampu memenuhi syarat tersebut. Tapi yang logika bagi orang awam, tidak bagi dia. Dia beerjuang untuk dapat memenuhi syarat yang ditetapkan oleh produsen. Sebelum dia melangkah lebih jauh dia minta ada penjanjian sederhana (seperti MOU ) yang memberikan hak dia untuk memproses sesuai sarat yang ditentukan dan juga kewajiban produsen memenuhi janjinya apabila dia dapat memenuhi persyaratan.

Setelah MOU di tandatangani. Dia mulai bergrilya mendatangi target pasar. Dia memilih meyakinkan pasar sebelum dia melengkapi persyaratan lainnya. Beberapa rumah sakit besar, Hotel dan apartement resort , dia datangi. Setiap hari sedikitnya ada sepuluh calon target pasar yang dikunjunginya. Menurutnya, dia mendatangi target market itu terpaksa menggunakan angkutan umum dan kadang berjalan kaki. Karena kendaraan pribadinya telah dijual untuk keperluan biaya sehari hari. Dsamping itu dia juga menggunakan business directory untuk mendapatkan alamat target pasarnya, dan mengirim brosur via email lebih dari enam ribu sasaran. Hasilnya dalam tiga bulan , dia bisa mendapatkan response lebih dari 500 target marketnya. Total permintaan tak disangka , lebih dari valume penjualan produsen AS selama setahun di lima negara.

Hasil penjajakan pasar ini , dia laporkan kepada produsen di AS tapi tidak ditanggapi serius karena dia belum melampirkan kesiapan yang lainnya seperti kantor, izin perusahaan dan lain lain. Dia sadar jalan sebagai agent terlalu sempit baginya. Ada ruang yang lebih besar yaitu sebagai industriawan. Tetap inipun jalan terjal yang tak mudah. Maka dengan keyakinan pasar yang begitu besar, jalan sebagai industriawan dipilihnya. Walau dihadapan produsen AS dia tidak dianggap sebelah mata, terbukti tidak ada response apapun atas emailnya namun dia tidak mengecilkan diri dengan ragu untuk mengajukan proposal sebagai industriawan. Selanjutnya,  dia mengajukan proposal kerjasama untuk membuat produk tersebut di china. Lebih dari empat bulan, proposal itu tidak pernah digubris oleh produsen. Walau setiap hari dia selalu mengirim email tentang hal yang sama. Kadang sehari dia kirim 5 email. Menurutnya, tidak sedikitpun dia ragu akan diterima proposalnya. Dia yakin seyakinnya. Selagi belum ada jawaban maka peluang masih ada. Kalaupun ada jawaban penolakan maka dia masih punya cara untuk meyakinkan.

Akhirnya , benarlah keyakinannya bersua dengan kenyataan. Pihak produsen , menyanggupi untuk bekerja sama tapi tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk investasi. Dia juga diwajibkan untuk membayar technology fee berdasarkan volume penjualan , juga ditambah golden share sebesar 15%. Dia juga harus membayar transfer right untuk patent sebesar USD 1 juta dollar didepan. Lagi lagi, ini hampir tidak mungkin dapat dipenuhinya. Apalagi dengan keadaanya yang hampir bankrupt. Maklum lebih dari setahun dia hidup dari tabungan karena tidak lagi bekerja sebagai sales. Seluruh energy dan waktunya dicurahkan untuk ini. Dalam keadaan serba kurang , dia tetap yakin akan berhasil. Apalagi istrinya selalu mendukungnya dan tak sedikitpun meragukan obsesinya.

Waktu dilaluinya dengan berat dan jalan terseok seok. Semakin sulit semakin membara semangatnya. Menurutnya, andaikan semua mudah, tentu sukses akan menjadi milik semua orang. Hanya pejuang yang berhak memenangkan pertempuran  Demikian philosopy hidup yang diyakininya. Itulah sebabnya tidak ada istilah menyerah baginya. Ditengah sulit akan selalu ada cara untuk keluar dari kesulitan asalkan selalu bergerak dan bergerak , tidak menyerah dengan keadaan. Dia juga tidak mengemis dengan produsen untuk mengasihaninya agar melunakan kondisi. Baginya, kemitraan adalah keseimbangan. BIla dia ingin dihargai maka dia harus memastikan dirinya qualified untuk dijadikan mitra dan itu hanya satu jalan yaitu dia harus memenuhi syarat dari produsesn.

Jalan yang ditempuh adalah mencari orang lain yang bisa dijadikan sinergi untuk meraih impiannya. Pertama tama yang dia datangi adalah Perusahaan Distributor besar, yang mengageni banyak produk import. Ada banyak distributor yang didatanginya. Akhirnya beberapa menyanggupi untuk mendukung rencananya membuat pabrik dan bersedia menjadi distributor. Masalah marketing teratasi. Masalah kedua , darimana modal untuk merealisasikan ini. Inilah yang paling utama. Tanpa modal , semua impian akan menjadi tetap impian. Dia tidak frustrasi. Tanpa izin perusahaan, tanpa kantor , tak mengurangi rasa pecaya dirinya untuk bertemu engan bank. Ya, hanya bank yang dia tahu sebagai sumber pembiayaan. Lain tempat tidak dia paham. Apalagi mengharapkan bantuan dari keluarga Itu tidak mungkin. Dia terlahir dari keluarga miskin, juga istrinya.

Dengan bermodalkan proposal bisnis dan MOU dengan produsen di AS, dia berusaha meyakinkan bank untuk mendukungnya. Bukan hanya satu bank yang didatanganinya ,tapi beberapa bank. Jawaban bank semuanya sama bahwa dia harus punya track record sebagai businessman atau collateral, juga perizinan yang lengkap. Tanpa itu bank tidak bisa kasih dia modal. Track record ,dia tidak ada. Collateral, apalagi, izin jangan tanya. katanya. Teman ini tetap tidak kecewa dengan penolakan itu. Karena dari penolakan itu dia mengetahui apa yang harus dilakukannya agar qualified mendapatkan pinjaman dari bank. Ya menurutnya, dia harus mencari mitra yang punya tract record sebagai debitur bank yang sehat. Tentu mereka orang yang sukses dan perusahaan yang hebat. Bila dia bermitra dengan orang itu maka perusahaannya akan memenuhi syarat untuk dibiayai oleh bank. Untuk biaya melengkapi izin usaha, dia menggadaikan apartementnya. 

Selanjutnya dia mendatangi beberapa nasabah bank yang sudah punya track record. Proposal ini disampaikan kepada mereka. Dia tidak meminta modal dari mereka. Dia hanya minta nama mereka tercantum sebagai pemegang saham perusahaanya. Karena nasabah bank yang sudah punya track record adalah perusahaan besar , tentu tidak mudah mendatangi mereka apalagi meyakinkan petinggi perusahaan itu. Bahkan menurut ceritanya, untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan pimpinan perusahaan itu, dia pernah duduk seharian di sebuah restoran hanya karena menunggu pimpinan perusahaan itu datang kerestoran yang biasa dikunjungi. Tak sedikit yang lansung menolak rencana bisnisnya. Namun dia tak pernah lelah dan berputus asa. Dia terus berusaha .

Akhirnya ada satu perusahaan yang tertarik untuk mendukungnya.Benarlah. Mereka tidak keluar uang hanya bersedia menempatkan namanya sebagai pemegang saham mayoritas. Mereka minta saham 60% namun dia punya opsi untuk membeli kembali saham itu dalam jangka waktu tertentu dengan harga 50% diatas harga nominal. Dia terima deal itu tanpa sedikitpun merasa dirugikan. ini wajar, menurutnya. Karena siapa yang akan percaya kepada pemula. Namun dia yakin , walau dia minoritas dia  akan menjadi pemenang karena dia sangat memahami bisnis ini dan tahu bahwa mitranya hanya mengejar rente saham. Setelah kemitraan terjadi maka proses pengajuan pinjaman ke bank dilaksanakan. Bankpun setuju memberikan kredit dengan kondisi semua saham dijadikan jaminan, termasuk personal guarantee dari pemegang saham mayoritas yang dikenal bank sebagai nasabah yang punya track record bagus.

Maka, jadilah teman ini sebagai direktur perusahaan dengan investasi raksasa. Tiga tahu setelah perusahaannya beroperasi , produksinya sudah membanjir pasar dalam negeri China maupun kemanca negara. Hebatnya lagi , principalnya yang di AS memilih menutup pabriknya di AS dan memindahkan businessnya ke china. Melalui venture capital  dia mengajukan skema pembiayaan untuk menbeli kembali saham yang 60% tersebut dan kemudian menjualnya kembali kepada mitranya dari AS seharga 4 kali lipat.  Kini dia bermitra langsung dengan principal yang menguasai riset dan technology.

Sukses sudah ditangannya. Apakah penampilannya berubah , seperti orang kaya baru ? tidak !.Justru dia semakin keras bekerja. Sehari dia berkeja hampir 18 jam. Hidup sederhana. Tidak membeli rumah mewah, Dia bahagia dengan tetap tinggal ditempat yanag lama. Kenapa ? dia masih punya obsesi ? “ saya ingin membuat imperium business , bukan hanya untuk saya dan keluarga tetapi juga untuk masyarakat china. Kami harus menguasai technology ini untuk kami kembangkan sendiri”. Tahun depan perusahaanya akan masuk ke Shenzhen Stock exchange dan Shanghai Stock Echange.

Apa yang dilakukan oleh teman saya diatas adalah suatu semangat entrepreneurship.  Jeli membaca peluang, creative mencari solusi, tidak kenal lelah dan selalu bekerja keras , tidak takut menghadapi resiko ketidak pastian, selalu berpikir positif, tidak rendah diri, bersikap terbuka dan mau berkerjasama demi mencapai tujuan. Lebih daripada itu adalah niat baik untuk kepentingan semua pihak. 

*** 
Ya, Keberhasilan tidak pernah datang dengan mudah. Semuanya harus diperjuangkan ditengah keterbatasan yang ada. Hidup adalah proses , yang semua orang harus melewatinya. Tanpa kecuali. Yang membuat orang lain kagum bukanlah hasil yang dicapai seseorang melainkan proses dibalik keberhasilan tersebut. Jangan pernah tergoda dengan istilah miracle atau short cut atau kekuatan doa miskin effort. Bila kita percaya kepada Allah maka kita juga harus percaya kepada hukum Allah, yaitu sunattulalh, bahwa semua harus dilalui dengan kerja keras, istiqamah dan sabar. Ini juga yang disunahkan oleh Rasul kepada kita semua yang beriman..

Wednesday, July 18, 2012

Kemandirian tanpa takut


“ Goblok kamu ya…” Kata suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu di arahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di korsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk ke kamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi dimaki maki dan dimarahi di depan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda. Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas. Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. 

Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka di sekolah pintar pintar. Aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah di rumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ Tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup di bawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang ke rumah. Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal di sekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Kupurhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasah Aliyah, Doni kembali tinggal di rumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak dihabiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang ke rumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa ke kantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesannya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

***

Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku di rumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku di tengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Di tengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri di depan pintu rumah.

Doniku ada di depanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni di rumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja di luar negeri. Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu dicemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan juga Rini. Dari usaha reklame, Doni dipercaya oleh kontraktor untuk membangun beberapa billboard di Bandara. Dia semakin sibuk dengan bisnisnya namun rasa cinta dan hormatnya kepadaku tidak pernah kurang. Setiap keluar rumah dia selalu mencium tanganku, dan memelukku. Cintanya kepada adik adiknya membuat dia sangat berwibawa di hadapan adik adiknya. 

Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah di rumah. Seusai sholat berjamaan Doni tak lupa duduk bersilah di hadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat di hadapan manusia tapi di hadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita di dunia ini di bandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan. Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku di penjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah , terimakasih anakku...