Monday, December 28, 2020

Bisnis wisata Halal.

 



Ada nitizen nanya ke saya. “ Babo, apa sih yang dimaksud dengan wisata Halal? Saya hanya tersenyum. Tetapi dalam kesempatan ini saya akan sampaikan apa itu wisata halal dan sekaligus bagaimana layaknya bagi program nasional. Saya yakin bahwa program wisata halal itu semacam program ideal dan complimentary dalam bisnis pariwisata. Wisata Halal itu, bagian dari seni propaganda tujuan wisata. Maklum Indonesia itu negara mayoritas muslim, tentu beralasan indonesia harus punya program wisata halal. Beberapa waktu lalu, Indonesia berhasil merebut posisi teratas dalam indeks Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019. Setelah sebelumnya berada di peringkat kedua. 


Wisata halal itu bukan hanya object wisata tetapi juga berkaitan dengan akomodasi dan kuliner. Kalau wisata halal ini dikelola dengan baik, akan memberikan peluang bagi eklusifitas destinasi wisata dan ini captive market terutama bagi negara yang mayoritas islam, dan tentu pasar wisata domestik. Pada sebuah laporan yang diterbitkan oleh “World Travel Market” di London, Inggris pada tahun 2007 menyebutkan bahwa potensi wisata halal sangat besar dari sisi ekonomi. 


“The Economist” juga menyebut prospek yang besar bagi industri wisata halal. Tak hanya berhubungan dengan prosuk halal (makanan atau minuman non-alkohol), namun juga layanan yang berhubungan dengan interaksi antara wisatawan laki-laki dan perempuan. Perkembangan wisata halal , bisa melahirkan industri kreatif produk halal, yang tentu punya pasar ekspor kuat. 


Saya sering travelling ke beberapa negara. Sebenarnya walau  mungkin pemilik hotel bukan beragama islam, mereka sudah menerapkan standar halal untuk sarana akomodasi. Itu terlihat cara mereka menghormati pilihan kita pada formulir check in hotel. Kalau kita sebut halal, maka mereka akan ingatkan restoran mana saja di hotel itu yang tidak halal, termasuk bar yang menyediakan alkohol. Bahkan kalau kita datang bersama sekretaris dan minta kamar berbeda, mereka berikan layanan kamar khusus untuk sekretaris dengan harga diskon. itu cara mereka menghormati standar religius halal. 


Apa artinya. Wisata halal itu jangan jadi standar aturan bagi sarana dan prasarana Wisata, termasuk object wisata. Kalau itu dijadikan standar akan merusak nilai nilai pluralisme. Jagi gimana? ya tirulah negara lain. Bahwa wisata halal itu bukan hanya soal agama tetapi juga bisnis. Berkaitan dengan pelayanan kepada wisatawan. Karena yang butuh wisata halal bukan hanya orang islam. Agama lain seperti kristen ortodok, katolik, Budha, Hindu juga membutuhkan wisata halal.

Tugas pemerintah adalah focus memberikan kesadaran kepada stakeholder, bukan pemaksaan, apalagi punya stempel identitas atau sertifikasi halal. Engga perlu itu. Tiru sajalah bank syariah. Walau pemiliknya tidak semua orang islam, tetapi sistemnya diterima oleh banker non islam dan berkembang karena kebutuhan pasar dan memang bisnis oriented. Dengan focus kepada pembinaan kesadaran maka wisata non halal juga bisa berkembang tanpa ada rasa kawatir. Hidup ini soal pilihan, apalagi soal bisnis. Pemaksaan tidak akan menghasilan produk berkualitas. Tetapi kesadaran wisata halal, aka meningkat mutu layanan dan bisnis jadi menyenangkan.


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.