Monday, April 25, 2022

Stop ekspor sawit demi hilirisasi


 

Anatomi hegemoni asing di Sawit.

Kebijakan Upstream Sawit selama ini memang menguras sumber daya dan merusak lingkungan untuk tujuan peningkatan investasi. Mau dari asing atau swasta/BUMN, pemerintah tidak begitu penting.  Yang penting dengan adanya investasi, ekonomi akan tumbuh dan itu bisa meningkatkan fundamental ekonomi negara. Wajar saja. Tetapi karena adanya porsi asing tersebut akibatnya sulit bagi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan hilirisasi sawit. 


Maklum keberadaan asing itu memang dasarnya adalah untuk mendapatkan sumber daya dan mengembangkannya di negara mereka masing masing. Tidak ada motif mereka untuk menciptakan nilai tambah untuk kepentingan industrialisasi di Indonesia. Itu sudah berlangsung sejak era Soeharto. Itu sebabnya kebijakan Jokowi menghentikan ekspor sawit dan bahan sawit adalah langkah tepat dan transformatif.


Total luas lahan sawit 16,38 juta ha, luas lahan sawit rakyat itu 6,94 juta ha. Dari total luasan lahan sawit di Indonesia, sebanyak 5% atau sekitar 800 ribu ha dikuasai oleh BUMN. Sementara, 53% atau sekitar 8,64 juta ha dikuasai oleh perusahaan swasta. Dari 8,64 juta ha,  investor asing menguasai 40 persen, diantaranya adalah Malaysia, SIngapore dan China. Tiga ini pemain utama.  


Malaysia sendiri menguasai 3 juta ha lahan sawit di Indonesia. Perusahaan-perusahaan Malaysia  yang memiliki kebun sawit di Indonesia antara lain Sime Darby (Guthrie, Golden Hope, Sime Darby, KL Kepong, IOI, TH Plantations, dan Kulim. Grup Khazana,


Singapore masuk melalui Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources dan Wilmar International.  Adapun Bumitama Agri memiliki lahan sekitar 171.763 hektar per Juni 2016 yang tersebar di Kalimatan Tengah, Kalimantan Barat dan Riau. Ticker yang bersandi saham BAL SP memiliki kapitalisasi pasar SIN$1.255 juta. First Resources memiliki perkebunan per Juni 2016 seluas 208.064 hektar. Adapun kapitalisasi pasar perusahaan ini yakni SIN$2.803 juta. Golden Agri Resources merupakan induk usaha (parent company) dari PT Smart Tbk, salah satu produsen barang konsumen berbasis kelapa sawit di dalam negeri seperti minyak makan dan lemak nabati. 


Indofood Agri Resources dengan kapitalisasi SIN$628,2 juta. GPada Juni 2016, grup Salim ini memiliki luas lahan 299.497 hektar di Indonesia. Golden Agri Resources yang listing di bursa Singapura.  Golden Agri-Resources merupakan grup dari Sinar Mas. Perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar senilai SIN$4.839 juta. Luas lahan Golden Agri-Resources yakni 483.075 hektar.  Pada Juni 2016, Wilmar International memiliki lahan 166.457 hektar di Indonesia. Adapun kapitalisasi pasar Wilmar International yakni mencapai SIN$21.157,9 juta.


Sementara investor sawit dari dalam negeri yang menguasai 90% lahan sawit hanya 12 orang konglomerat. Diantaranya adalah Antony Salim, Sukanto Tanoto, Martua Sitorus, Ciliandra Fangiono, Susilo Wonowidjojo, Putera Sampoerna, Bachtiar Karim, keluarga Widjaja, Chairul Tanjung, Hashim Djojohadikusumo, Peter Sondakh, Theodore Rachmat. Kalau dilihat gurita bisnis mereka. Sebenarnya dari 12 orang itu terhubung dengan pemain utama yang berbasis di luar negeri. Jadi tetap saja mereka bekerja untuk kepentingan asing. Engga percaya. Mari kita lihat sumber daya keuangan dari 25 group besar yang terlibat membiayai.


Data sejak 2010-2018, bank-bank yang memberi modal untuk 25 grup besar itu, yaitu Oversea-Chinese Banking Corporation (Singapura), CIMB Group (Malaysia), Malayan Banking (Malaysia), Bank Negara Indonesia (Indonesia) dan Bank Mandiri (Indonesia). Mencapai US$ 19,7 miliar. Berikutnya bank investasi asing yaitu Credit Suisse (Swiss), Rabobank (Belanda) dan BNP Paribas (Prancis), Citigroup (Amerika Serikat). Diperkirakan mendukung permdalan mencapai  US$ 8,0 miliar. Jadi paham ya. Bahwa sektor sawit ini memang aneksasi asing di Indonesia baik secara langsung maupun lewat proxy


Peran China.

Empat perusahaan China mengoperasikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia seluas 100.000 ha, dengan landbank yang jauh lebih besar. Julong Group (Tianjin Julong), ZTE (Zonergy), Henan Jiujiu Chemical Co. dan Shanghai Xinjiu Chemical Co. Mereka tidak memiliki kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) dan tiga dari perusahaan telah melihat masalah keberlanjutan yang terdokumentasi.


Pada 2019, China merupakan importir minyak sawit terbesar kedua dengan pangsa 13 persen dan konsumen terbesar ketiga secara global. Selain itu, negara ini mengimpor minyak inti sawit dan turunan minyak sawit dalam jumlah besar, termasuk distilat asam lemak sawit (PFAD) untuk industri kimia, expeller inti sawit untuk digunakan sebagai pakan ternak berprotein tinggi, dan biodiesel. Tujuh dari 10 besar pemasok minyak sawit Indonesia ke China memiliki kebijakan NDPE. Kebocoran penyulingan tanpa kebijakan NDPE atau yang tertinggal dalam implementasinya menyumbang setidaknya 12 persen dari pasokan minyak sawit Indonesia ke China.


China adalah aktor kunci dalam rantai pasokan minyak sawit global

China sekarang adalah importir terbesar kedua dan konsumen minyak sawit terbesar ketiga di dunia. Perusahaan China hadir di semua segmen rantai pasokan minyak sawit internasional, mulai dari produksi hulu hingga pemurnian dan perdagangan hingga pemrosesan hilir. Peran ini mencakup investasi di perkebunan kelapa sawit di Indonesia serta impor dan konsumsi minyak sawit yang besar, terutama sebagai minyak nabati, didorong oleh populasi yang besar dan terus bertambah. Permintaan minyak sawit di Cina terutama bergantung pada penggunaan dalam makanan dan oleokimia.


Perusahaan perkebunan Cina aktif di Indonesia

Anak perusahaan empat perusahaan China mengoperasikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Ketersediaan data terkait anak perusahaan, luas konsesi, luas tanam, dan produksi minyak sawit mentah (CPO) terbatas. Perkebunan dan kawasan cadangan perusahaan terletak di Kalimantan, Papua dan Sumatera (Gambar ). Tak satu pun dari empat perusahaan memiliki kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE). Hebatnya semua pemain besar sawit di Indonesia seperti Wimar, Astra dan lainya terlibat langsung menjadi penjamin rantai pasok industri downstream CPO China.






Hilirisasi 

Walau kita punya ambisi lead business CPO namun penentu harga CPO masih tetap malaysia. Padahal produksi kita diatas Malaysia. Apa pasal.? Malaysian hilirisasi Sawit itu sangat luas massive. Sebelum membahas lebih jauh, sebaiknya saya jelaskan secara sederhana apa itu hilirisasi sawit.


Pertama adalah Oleopangan (oleofood complex) yakni industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleo pangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleopangan (oleofood product). Dari oleopangan akan dihasilkan minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, Vitamin E, shortening, ice cream, creamer, cocoa butter/specialty-fat dan lain-lain.


Kedua, Oleokimia (oleochemical complex) yakni industr refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia/oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan, misalnya ragam produk detergen, sabun, shampo), biolubrikan (misalnya biopelumas) dan biomaterial (misalnya bioplastik).


Ketiga, Biofuel (biofuel complex) yakni industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara biofuel sampai pada produk jadi biofuel seperti biodiesel, biogas, biopremium, bioavtur. 


Nah mari kita lihat produksi hilir sawit ini. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, pada tahun 2021, pasokan CPO untuk industri oleopangan mencapai 8.249.000 ton ton dan 6.561.000 ton untuk biodiesel. Serta 1.946.000 ton untuk industri oleokimia. Jadi total kebutuhan CPO untuk industri dalam negeri mencapai 16.756.000 ton. Sementara total produksi CPO sebesar 46,88 juta. Apa artinya lebih separuh ( 74% ) CPO diekspor. Konyol kan.


Makanya jangan kaget bila kita kekurangan minyak goreng sawit. Karena CPO yang masuk ke Industri oleopangan bahan baku minyak goreng hanya 8.249.000 ton. Dan itupun produksi minyak goreng tidak semua dijual ke konsumen RT, sebagian masuk ke pabrik mie instant atau industri makanan dan eksport.. Apalagi harga minyak goreng sawit naik di pasar international. Dan HET pemerintah dicuekin. Wajar kan harga minyak goreng ikut pasar international.


Jadi kesimpulannya penyebab kita tidak berdaya terhadap lonjakan harga minyak goreng dunia karena hilirisasi sawit kita gagal. Nilai tambah rendah. Karena hanya didominasi oleh biofuel. Pada laman resmi Kemenperin tercatat ada 47 perusahaan industri minyak goreng dan 2 perusahaan industri margarin. Seharunya ada ribuan industri hilir sawit. Karena produk turunan sawit itu mencapai 170 produk. Kalau downstream Sawit ini berkembang, akan banyak tumbuh industri baru dan jutaan angkatan kerja baru terserap.


Ibu SMI sempat geram. Karena lambatnya proses hiirirasi sawit ini Solusinya hanya satu. Paksa lewat regulasi soal hilirisasi seperti kasus NIkel. Mengapa nikel kita bisa tegas soal hillirisasi. Kok Sawit engga bisa tegas? Dan lagi dipaksa untuk dapat cua gede. Kan nilai tambahnya 2 kali dibanding CPO.


Tantangan kemandirian.

Sekian puluh tahun bisnis sawit di Indonesia dikuasai Asing yaitu Singapore dan Malaysia. Namun mulai tahun 2013 China sudah masuk. Kalau kekuatan Singapore dan Malaysia saja kita tidak berdaya apalagi bangkitnya kepentingan CHina dalam bisnis Sawit. Bangkit ini karena permintaan yang tinggi akan produk downstream CPO.  Banyak orang mengira bahwa pasar CPO itu India dan Eropa. Tidak. Pasar terbesar kedua dunia adalah China. Mungkin dua tahun lagi China adalah importir CPO nomor 1 dunia. Inilah yang mengkawatirkan kalau kita tidak antisipasi. Mengapa? China itu size nya besar sekali. Kalau tidak dikendalikan pasarnya, program Sustainable plant akan hancur. Tidak ada lagi warisan untuk anak cucu kita. Akan sama dengan Migas. Mengapa ?


“ Maklum pasar China itu sangat rakus. Ada jutaan industri downstream China yang sangat butuh bahan baku CPO dan bahan antara CPO. Ini akan mendorong harga CPO terus melambung. Tentu berdampak harga downstream akan juga melambung, termasuk Minyak goreng dan deterjen juga 170 jenis produk hilir CPO lainnya.” Kata teman saya.


Sebelumnya sampai dengan sekarang China masih beli dari malaysia dalam bentuk produk antara Sawit. Karena malaysia sudah sangat maju industri antara Sawit. Karenanya malaysia menentukan harga pasar CPO. Tapi kedepan, China akan menjadikan Indonesia sebagai landing kapal besar industri downstream CPO nya. Apalagi China sudah kuasai lahan diatas 100.000 hektar di Indonesia. Dan ini akan terus bertambah luasnya di papua dan Kalimantan.


Pemerintah harus tegas kepada pengusaha upstream Sawit. Karena mereka itu umunnya mental pedagang dan bertindak sebagai proxy asing untuk bisnis rente.  Ogah repot bangun downstream secara luas. CPO jangan lagi di pajaki tinggi untuk mengurangi ekspor atau di quota. Tetapi stop ekport CPO. Keras aja ke diri sendiri. Saya yakin, engga lebih 1 tahun. Ada ribuan downstream CPO China akan relokasi ke Indonesia. Itu alasan logis bisnis. Kan lebih baik relokasi daripada bangkrut engga ada bahan baku. Ini akan mendatangkan nilai tambah bagi negara dan menampung angkata kerja luas.


Nah kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh pengusaha lokal untuk dapat transfer tekhnologi downstream. Maklum CHina itu sangat maju dalam hal tekhnologi downstream. Oleochemical mereka sudah bisa buat avtur. Hampir semua petro kimia dari minyak bumi bisa dihasilkan mereka dari CPO. Kalau kita terlambat, nasip kita akan sama dengan Migas. Udah 70 tahun lebih merdeka, kita tidak bisa mandiri dalam hal downstream MIGAS. Hayo berubah. Jadikan masa lalu pelajaran. Bangkit dengan semangat bertarung dalam kuridor sinergi dan kolaborasi. Now or never.


Agenda besar : kemandirian.

Dulu waktu saya jadi Sales tekstil dengan skema undeground dan sangat brutal antara pemasok dan pedagang. Saya dapat uang banyak. Tahun 83 saya sudah punya penghasilan  diatas 1 juta sebulan. Artinya usia 20 tahun saya sudah jutawan. Karena income saya sudah jutaan sebulan. Sementara PNS golong 3 A begaji hanya Rp 86.000/ bulan.Tapi ketika tahu 1984  saya diterima kerja sebagai Sales Representative kimia perusahaan Jepang, kerjaan jutaan itu saya tinggalkan. Saya milih gaji Rp 150.000 sebulan dengan komisi tergantung omzet. 


Mengapa ? Kerja Sales undergroun itu memang income besar tetapi tidak membuat saya berkembang. Saya hanya dagang. Apa beda saya dengan pedagang informal lainnya. Masa depan saya masih panjang. Peluang  bukan hanya sekedar cari uang terbuka lebar. Dengan kerja sebagai Sales perusahaan Jepang, saya di training menjual secara terpelajar dan profesional. Saya paham seni mendekati pasar lewat product knowledge dan berkomunikasi. Walau saya harus melata dan menahan selera  itu saya nikmati. Karena sadar saya sedang berproses berubah.


Benarlah! Pengalaman Sales mengantarkan saya jadi Wirausaha sebagai trader international dan kemudian tidak ragu mendirikan pabrik. Andaikan saya tetap sebagai Sales jalanan, mungkin saja saya tetap jutawan. Tetapi stuck disana saja. Hari hari saya hanya bertahan hidup tanpa ada agenda besar untuk berkembang besar. Bisa saja decline dihantam perubahan karena terjebak  di zona nyaman.


China waktu membangun menjadi negara industri. Semua sektor pertanian meradang karena 2/3  panen diambil pemerintah untuk biaya pembangunan infrastruktur dan subsidi industri hulu, subsidi para siswa sekolah ke luar negeri. Sementara subsidi sosial dihapus. Tahun 1980an, Ada istilah di china. Bulan pertama panen anda merasa hidup dan bulan kedua dan seterusnya nya bertahan  hidup dengan apa saja asalkan tidak mati kelaparan.  China melarang SDA mineral diekspor. “ Kalau kita belum bisa olah, biarkan saja didalam perut bumi. Tunggu aja generasi berikutnya yang olah.”


Hidup soal pilihan memang. Dan itu anda berhak memilih kalau memang anda punya pilihan. Masalahnya, kadang orang kehilangan kecerdasan memilih karena takut berubah. Selalu ada alasan untuk menolak berubah. Sehingga ya engga ada pilihan. Mengapa ? Dalam dirinya engga ada agenda futuristik. Orientasi hidup lebih kepragmatis. “ Apa yang ada sekarang sikat, soal nanti kumaha engke. “ Akibatnya sudah bisa ditebak. Digilas perubahan itu sendiri. Yang terdengar di masa depan hanyalah keluhan dan sesal, saling menyalahkan. 


Saya engga kaget bila begitu banyak pihak menolak larangan ekspor sawit dan CPO. Sama juga berpuluh tahun kita ribut menolak bangun kilang BBM. Itulah bangsa kita. Mental pragmatis tanpa Visi besar sebagai bangsa besar. Sampai kini kita gagal menjadi negara industri, terlalu nyaman dengan menjadi negara pemasok komoditi alam saja.  Kalau china menjadi Negara industri dan kekuatan ekonomi dunia, itu karena mereka membangun dengan agenda besar dan semua pihak termasuk rakyatnya berjiwa besar menelan derita demi derita untuk perubahan besar


***

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.