Thursday, July 21, 2022

Indonesia kena Prank Elon Musk

 



Kemungkinan besar Tesla akan gagal masuk ke Indonesia untuk bangun pabrik EV terpadu. “ Kata Yuni kemarin.”  Kenapa.? Padahal tahun ini sangat gencar sekali berita soal lobi pemerintah kepada Tesla” Lanjutnya. Saya senyum saja. Karena banyak orang tidak tahu. Elon Musk kaya, itu karena value dari marcap di bursa saja. Yang lebih besar  karena persepsi pasar, bukan karena faktor fundamental.  Sejak tahun 2021 Tesla sudah dikeluarkan dari Indeks S&P 500. Apa pasal? karna melanggar ESG. Itu sama saja menutup sumber daya keuangan bagi rencana investasinya.


Maklum apapun financial instrument kalau engga masuk daftar index S&P, tidak mungkin bisa mengakses financial resource.  Karena tidak ada satupun PE atau investor mau terlibat membiayai program bisnis. Sementara bagi perusahaan publik, Marcap besar tidak ada artinya kalau mereka tidak punya peluang melakukan leverage lewat pasar uang. Bagi Elon Musk, ESG itu hipokrit. “ Mengapa kepada TNC oil company sepeti Chevron dan Exxon, tidak juga dikeluarkan dari S&P.? Bukankah mereka juga jelas jelas melanggar ESG”.


Deposit nikel ada dua jenis: sulfida dan laterit. Sekitar 60% dari sumber daya nikel dunia yang diketahui adalah laterit, yang cenderung berada di belahan bumi selatan. Sisanya 40% adalah endapan sulfida. Pada Laterit, batuan harus benar-benar cair atau larut untuk memungkinkan ekstraksi nikel. Akibatnya, membutuhkan skala ekonomi dengan modal yang besar. Pada umumnya juga biaya produksi jauh lebih tinggi. Sementara bijih sulfida, prosesnya dapat dipekatkan dengan menggunakan teknik flotasi yang cukup sederhana. Biaya lebih murah. Namun, tambang sulfida yang ada semakin menipis.


Mau engga mau, penambang nikel harus beralih ke tambang nikel dengan kualitas lebih rendah, tetapi lebih mahal untuk diproses, serta lebih mencemari, seperti yang ditemukan di Filipina, Indonesia, dan Kaledonia Baru. Nah kalau untuk baterai, smelter nya menggunakan tekhnologi HPAL  ( High Pressure Acid Leach). yang sangat berpolusi.Dan ini jelas melanggar ESG. 


“Ale, Produsen nikel pig iron Cina di Indonesia sekarang sedang  mencari untuk membuat nikel matte ,  untuk baterai EV. Dua bulan lalu, CNGR Advanced Material Co dari China mengatakan akan berinvestasi di tiga proyek baru di Indonesia untuk memproduksi nikel matte di Sulawesi.  Mereka bermitra dengan Rigqueza International yang berbasis di Singapura.  Namun prosesnya butuh listrik besar dan sangat polusi, lebih dari HPAL dan sekitar empat kali lebih kotor dari pengolahan nikel sulfida tradisional. Jelas melanggar standar ESG. Tetapi China jalan terus. Kenapa ? “


“ Ya karena duit China engga pakai pasar uang dari AS. Mereka punya uang sendiri. Nah Elon berharap Pemerintah Indonesia jadi jomblang untuk dapatkan dana dari China bangun pabrik EV terpadu dengan baterai. China tidak berminat. Ya deadduck lah. Kena Prank Indonesia.” Kata saya.


Apa sih sebenarnya ESG itu. Kenapa ruwet banget. Padahal setiap negara sudah ada standar lingkungan hidup. “ Tanya Risa.

 

“ ESG itu ada tiga unsur. Yaitu Enviroment ( Lingkungan), Social ( sosial ) dan Governance. Sebenarnya kalau sekedar environment itu tidak sulit. Itu soal tekhnologi. Yang sulit itu adalah soal Social dan Governance. Dua hal itu menyatu. Artinya perusahaan harus melaksanakan praktek bisnis yang bermoral, seperti tidak menyuap untuk dapatkan izin, memastikan bisnis memberikan dampak kemakmuran di lokasi proyek, tidak diskriminasi atau tidak rasis. Nah ini kan soal akhlak. Akhlak itu mahal. Engga semua perusahaan mampu. Apalagi Tesla, si Elon itu reputasinya buruk soal ESG. " Kata saya tersenyum.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.