Wednesday, November 30, 2022

Kurs Rupiah melemah dan resiko politik.

 



Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan mengaku tidak khawatir jika kurs rupiah tembus Rp 16.000 per dollar AS. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.700 per dollar AS. Luhut menilai pelemahan rupiah ini terjadi bukan karena kondisi ekonomi Indonesia yang buruk, melainkan karena adanya faktor eksternal yakni kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) yang agresif dilakukan sepanjang 2022. Benarkah ? itu benar , tapi bukan satu satunya penyebab jatuhnya kurs, dan tidak sesederhana itu. Mengapa ?


Dampak dari kenaikan suku bunga the fed, Ekonomi AS membaik atau proses recovery efektif. Apalagi ditopang oleh kenaikan harga minyak yang tinggi. Maklum AS kini sebagai net eksporter minyak.  Agustus 2022 index REER ( Real Effective Exchange Rate) US Dollar adalah 117. Jadi memang over value. Walau the fed menurunkan suku bunga , index REER tidak akan turun. Dollar tetap akan menguat. Artinya andai the fed menurunkan suku bunga nanti, tidak akan berdampak positif bagi Indonesia selagi faktor fundamental tidak dibenahi.


Melemahnya kurs rupiah lebih besar karena faktor kebijakan moneter Indonesia berkaitan dengan RIR (real Interest rate). Tentu juga Bank Indonesia bersikap karena faktor kebijakan fiskal  berdampak kepada inflasi. Yang saling terkait. RIR adalah suku bunga yang telah disesuaikan untuk menghilangkan efek inflasi. Setelah disesuaikan, ini mencerminkan biaya dana riil bagi peminjam dan hasil riil bagi pemberi pinjaman atau investor. Atau rumus sederhananya, tingkat bunga nominal dikurangi tingkat inflasi. Perhatikan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) Oktober 2022 adalah 5,25%. Kalau dikurangi dengan level inflasi 5,7%. Maka ada spread negatif sebesar 0,46%. 


Kalau anda punya rupiah dalam jumlah besar, maka anda pasti pindah ke Dollar atau mata uang asing yang punya RIR positif. Kalau engga uang anda dibakar karena waktu. Orang tidak peduli soal neraca pembayaran yang surplus. Ini disikapi secara business as usual. Apalagi banyaknya eksposur utang korporat ( swasta /BUMN) yang bermata uang dollar. Ini akan memicu kebutuhan akan dollar sebagai tindakan hedging terus meningkat. Ya rupiah semakin terpuruk.


Mari perhatikan proses  volatile rupiah itu. Chat pada level Fibonacci Retracement Rp. 15,450/1 USD, itu gerbang neraka. Seharusnya BI dan pemerintah bersikap jelas. Mengapa ? Kalau tembus level itu maka biaya recovery sangat mahal. Walau indikator stochastic peluang menguat rupiah masih sangat lebar. Tapi kalau itu sudah sampai level Rp. 15.500, kenaikan suku bunga BI tidak sepenuhnya men-support Rupiah. Apalagi diatas itu, engga ketolong dech. Buktinya intervensi BI pada level Rp15.687 per dolar AS pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate engga men-support rupiah.


Pengaruh fundamental ekonomi sangat besar terhadap penurun rupiah. S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur atau indeks manufaktur Indonesia pada Oktober 2022 berada di level 51,8 atau turun dibandingkan September 2022 yang sebesar 53,7. Walau dikisaran masih ekspansif tapi sangat tipis. Itu menuju kontraksi atau dibawah 50%.  Tahu artinya? produksi melemah karena daya beli turun. Kalau lihat indikator turunnya sangat tinggi dibandingkan bulan september, maka kemungkinan jatuh di bulan bulan kedepan bukan tidak mungkin. Kecuali ada kebijakan yang men-support.


Solusi? Sebenarnya solusi tidak sulit. Asalkan ada kemauan melakukan tranformasi ekonomi secara mendasar. Selama ini kan ekonomi kita masih tidak ada perubahan sejak era Soeharto. Masih berkutat kepada komoditi tradisional berbasis SDA. Sementara industri dan manufaktur tidak berkembang, bahkan terjadi deindustrialisasi. Pasalnya sejak tahun 2015 , pertumbuhan andil sektor industri manufaktur terhadap perekonomian ( PDB)  Indonesia terus mengalami penurunan. 


Tengok saja angka sumbangsih sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)pada periode 2015-2018. Nilainya terus mengalami penurunan. Bahkan pada tahun 2018 hanya mencapai 19,86%. Tak sampai 20%. Padahal pada tahun 2014 masih bisa meningkat dibanding tahun sebelumnya. Saya bisa maklum karena sampai tahun 2020 neraca perdagangan kita selalu defisit. Kita terpaksa mengandalkan SDA untuk bisa amankan kurs rupiah dan devisa. Nah saat sekarang kita surplus. Seharusnya segera lakukan tranformasi ekonomi. Longgarkan kredit dan arahkan BUMN untuk lead mendukung industri tumbuh. Engga usah takut kurs melemah. Karena REER kita 117 (over value). Andaikan kurs jatuh ke level Rp. 17.000, REER drop dibawah 100 juga engga apa apa. Asalkan industri tumbuh.


Yang jadi masalah adalah tahun depan pelonggaran kredit perbankan sebagai bagian PEN-C berakhir. Sementara tekanan eksternal sangat besar kepada dunia usaha terutama korporat dan APBN. Beban yang sangat sulit untuk keluar dari debt trap valas, ancaman NPL didepan mata. Memang engga mudah mengelola negara besar seperti Indonesia dengan populasi 270 juta. Engga semudah menggalang massa datang ke GBK. Engga semudah menjawab kritikan lewat media massa. Ayo kerja dan focus kepada hal yang transformatif dan esensial. Udahan omong kosong soal capres. Kalau Rupiah terus terpuruk, inflasi menggila, chaos negeri ini. Kalau Chaos, kita mundur kebelakang.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.