Sebagian besar survei flourishing bertumpu pada self-reported well-being: responden ditanya apakah mereka merasa puas, bersyukur, atau bahagia dengan hidupnya. Sebagian besar orang indonesia akan menjawab " Bahagian dan bersyukur " Orang indonesia memang begitu. Mereka malu mengatakan dia tidak happy. Bahkan dalam kondisi terburuk pun Mereka masih berkata. "Untung masih bisa bernapas dan hidup, " Artinya, persepsi tidak selalu sejalan dengan kondisi objektif.
Dalam masyarakat dengan literasi rendah, ekspektasi hidup yang ditekan, dan budaya adaptif terhadap kesulitan, jawaban “bahagia” sering kali mencerminkan mekanisme bertahan (coping mechanism), bukan kesejahteraan nyata. Mengukur kebahagiaan tanpa menimbang daya beli, keamanan kerja, dan akses layanan publik berisiko menghasilkan kesimpulan menyesatkan.
Di tengah dunia yang dilanda perang, krisis pangan, inflasi, dan fragmentasi geopolitik, muncul narasi optimistis tentang global flourishin. Bahwa dunia sedang bertumbuh, lebih sejahtera, dan makin inklusif. Di Indonesia, narasi itu diterjemahkan lebih jauh. Indonesia disebut sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Namun pertanyaannya sederhana. Bahagia menurut siapa, dan bahagia yang seperti apa? Karena jika kebahagiaan diukur tanpa melihat struktur ekonomi dan realitas sosial, yang muncul bukan flourishing, melainkan sekadar flouring—ditaburi tepung di permukaan, putih dan rapi, tetapi rapuh di dalam.
Mari kita lihat fakta-fakta yang jarang disandingkan dengan indeks kebahagiaan.
Rakyat kecandunan Judol.
Menurut data aparat dan laporan media nasional, sekitar 8,8 juta orang Indonesia terlibat judi online pada 2024. Yang mengejutkan, di dalamnya terdapat puluhan ribu anak di bawah usia 10 tahun. Judi online bukan sekadar hiburan; ia adalah indikator tekanan ekonomi, keputusasaan, dan rendahnya literasi keuangan. Apakah masyarakat yang secara massal mencari jalan pintas lewat judi digital bisa disebut masyarakat yang bahagia? Atau justru masyarakat yang sedang mencari pelarian?
Rakyat terjebak Pinjol.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat lebih dari 15 juta akun pinjaman online (pinjol) aktif di Indonesia. Pinjol sering dipromosikan sebagai inklusi keuangan. Namun di lapangan, ia juga menjadi mekanisme bertahan hidup bagi kelompok yang penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan dasar. Lebih jauh, tingkat kredit macet (TWP90/NPL) pinjol terus meningkat, menandakan banyak rumah tangga gagal membayar utang jangka pendek. Utang yang gagal bayar bukan tanda kebahagiaan; ia adalah tanda ekonomi rumah tangga yang rapuh.
Kemiskinan: Angka vs Realitas.
Secara statistik resmi nasional, angka kemiskinan memang menurun. Namun jika menggunakan standar internasional Bank Dunia—misalnya garis kemiskinan USD 3,65 PPP per hari untuk negara berpendapatan menengah ke atas—maka lebih dari separuh penduduk Indonesia berada dalam kategori miskin atau rentan miskin.
Artinya, jutaan orang hidup sedikit di atas garis kemiskinan resmi, sangat mudah jatuh miskin ketika harga pangan naik, sakit, kehilangan pekerjaan, atau terjerat utang. Apakah kondisi hidup yang rapuh dan penuh ketidakpastian ini bisa disebut bahagia?
Index perceraian.
Data statistik resmi menunjukkan ratusan ribu kasus perceraian setiap tahunnya, seperti sekitar 466.359 kasus perceraian pada 2024 menurut laporan statistik nasional atau 1,4/1000 orang. Ini mengindikasikan bahwa konflik rumah tangga dan disfungsi keluarga bukan fenomena kecil di Indonesia saat ini. Mengapa? Sebagian besar perceraian karena factor ekonomi dan tidak punya akses kejaminan social dan pekerjaan yang layak.
Kebahagiaan Ilusi.
Indeks kebahagiaan sering mengukur persepsi: rasa syukur, budaya ramah, kemampuan beradaptasi. Semua itu bernilai. Namun kebahagiaan tanpa daya beli, tanpa keadilan hukum, dan tanpa mobilitas sosial adalah kebahagiaan semu. Judi online masif bukan tanda optimisme, melainkan ketidakpercayaan pada masa depan. Pinjol yang meledak bukan bukti kesejahteraan, melainkan kesenjangan antara upah dan biaya hidup. Kemiskinan struktural yang luas bukan sekadar statistik, melainkan pengalaman hidup sehari-hari.
Bangsa yang sehat bukan bangsa yang paling sering tersenyum di survei, tetapi bangsa yang warganya produktif, institusinya adil, ekonominya memberi harapan, dan masa depannya bisa direncanakan.
Index World Happiness tahun 2025.
Survey dari survei flourishing terkesan satire. Kalau dipercaya dan bangga, itu karena kita memang miskin literasi. Padahal sudah ada Index tentang kebahagian yang benar dan objective dikeluarkan oleh World Happines index. Indonesia urutan ke 83. Bangsa yang terbelakang untuk bisa dikatakan bahagia.
Penutup.
Dunia boleh berbicara tentang global flourishing. Indonesia perlu bertanya lebih jujur. Apakah kita benar-benar bertumbuh, atau hanya pandai menormalisasi ketimpangan dengan narasi kebahagiaan? Sebab kebahagiaan sejati tidak lahir dari statistik yang dipoles, melainkan dari kehidupan yang bermartabat. Tidak terjebak Judol, tidak dikejar pinjol dan walau tidak kaya namun cukup untuk beribadah terasa nyaman. Tanpa itu, kita hanya menabur tepung di atas retakan—hingga suatu hari, retakan itu tak lagi bisa disembunyikan.





