Dalam beberapa pekan terakhir, media Barat, atau media yang terafiliasi dengan kepentingan Barat ramai memberitakan bahwa ekonomi Iran runtuh, bahwa rezim Ayatullah goyah, bahkan muncul spekulasi bahwa elite politiknya bersiap “kabur” dari negara itu. Narasi ini terdengar dramatis, tetapi tidak akurat. Realitas di Iran jauh lebih banal—dan justru karena itu sering diabaikan.
Benar, ada demonstrasi. Ya, namanya negara demokrasi. Tetapi itu bukan fenomena baru, bukan pula berskala nasional yang mengarah pada kekacauan sistemik. Demo di Iran bersifat lokal, sporadis, dan terbatas, tidak melumpuhkan negara, tidak memutus logistik, dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi utama. Ya biasa saja, namanya negara demokrasi seperti kita pada Agustus tahun lalu.
Di Taheran, kehidupan berjalan normal. Transportasi berfungsi. Perdagangan berlangsung. Kantor dan pabrik tetap buka. Tidak ada tanda-tanda panic economy yang biasanya mendahului krisis politik besar. Kebetulan saya ada bisnis di Teheran. Tidak ada laporan chaos sehingga staf orang asing harus di rescue. Pengiriman barang ke China on time. Rantai pasok dari China ke Iran juga lancar. Ironisnya, dalam beberapa aspek logistik, justru Indonesia lebih bermasalah, bukan karena geopolitik, tetapi karena biaya ekonomi tinggi akibat mafia pelabuhan dan inefisiensi struktural.
Apakah kejatuhan kurs Rial mencapai 1,5 juta/USD tanda ekonomi Iran runtuh? Tidak. Mengapa ? Iran tidak terintegrasi penuh dengan sistem keuangan global. Iran minim utang luar negeri. Iran hampir tidak bergantung pada portofolio asing. Perbankan domestik relatif terisolasi. Nah dengan kondisi seperti ini, tidak ada sudden stop capital flow seperti di negara emerging market lain. Tentu tidak ada “foreign investor panic”. Dalam literatur IMF, ini disebut financial insulation effect.
Walau Ekonomi Iran di embargo secara financial, apakah ekonomi Iran rapuh? Tidak. Iran tetap memproduksi minyak dan gas. Mereka tetap ekspor. Namun tidak menggunakan cara konvensional lewat LC. Tetapi barter ( Counter trade). Mereka dapat dengan mudah memperoleh hard currency lewat trader di China, Dubai dan London. Nah dengan kurs lemah otomatis biaya domestik (dalam rial) sangat murah, ekspor menjadi kompetitif secara ekstrem. Dalam ekonomi sumber daya, kurs lemah justru memperbesar penerimaan fiskal domestik dalam mata uang lokal
Disamping itu. Ekonomi Iran digerakan oleh konsumsi domestic. Kebutuhan domestik Iran diproduksi di dalam negeri, dengan local content di atas 90% untuk banyak sektor. Implikasinya jelas. inflasi hanya signifikan pada barang impor, depresiasi kurs tidak menghantam konsumsi massal, dan ketergantungan pada devisa relatif terbatas. Dengan kata lain, tekanan nilai tukar tidak otomatis menjadi tekanan sosial—berbeda dengan negara yang konsumsi hariannya bergantung pada impor.
Kesimpulannya, ekonomi Iran tetap resilient karena terisolasi dari guncangan finansial global. Iran memiliki basis sumber daya strategis dan kontrol negara yang kuat. Pasar domestik besar, dan utang valas rendah. Meskipun semua itu dibayar dengan inflasi tinggi, distorsi pasar, dan penurunan kesejahteraan masyarakat, tetapi tidak selalu menghancurkan sistem. Mengapa? karena sistem ekonomi Iran punya cara sendiri memitigasi resiko ekonomi itu. Mereka smart.
Politik Iran relatif stabil bukan karena absennya oposisi, tetapi karena elite politiknya solid dan institusinya kokoh. Negara ini memiliki struktur kekuasaan yang jelas, berlapis, dan—yang penting—tidak terjebak dalam kleptokrasi akut seperti yang terjadi di banyak negara berkembang lain. Korupsi tentu ada, seperti di semua negara. Namun ia tidak menggerogoti institusi secara sistemik hingga melumpuhkan fungsi negara.
Mengapa berita buruk terus datang dari media barat, dan terkesan sangat kritis. Karena sebenarnya iran sedang berperang dalam skala penuh dengan AS dan Barat. Perang ekonomi, bukan perang senjata. Dalam geopolitik modern, narasi adalah instrumen tekanan. Menggambarkan Iran sebagai negara yang hampir runtuh. Tujuannya menekan investor, memengaruhi opini publik global, dan membenarkan kebijakan isolasi ekonomi. Masalahnya, narasi yang diulang tidak otomatis menjadi kenyataan.

No comments:
Post a Comment