Sunday, August 23, 2009

ETFs are dangerous


Exchange-traded funds (ETFs) that use leverage or perform inversely (opposite) to an index or benchmark they track are growing in number and popularity. The controversy and danger surrounding these products was featured in recent articles in the Wall Street Journal (“FINRA Urges Caution on Leveraged Funds,” by Daisy Maxey), and InvestmentNews (“Leveraged ETFs: Handle with care”), and in Regulatory Notice 09-31 published by the Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). FINRA and others are concerned that leveraged and inverse ETFs are being inappropriately marketed and sold to retail investors for whom they are unsuitable without an adequate explanation of the risks.

Leveraged and inverse ETFs are extraordinarily risky and complex securities. Leveraged ETFs are designed to deliver multiple times the return of their benchmark, while inverse ETFs move in the opposite direction from their benchmark. Leveraged inverse ETFs multiply the inverse movement.

Like futures contracts and options, these products are designed to be used as a part of sophisticated trading strategies. Unlike futures contracts and options, they are typically not designed to be held more than one day. As a result of compounding, the price movement of such ETFs can differ markedly from their underlying index or benchmark, FINRA warns. In other words, you could lose a lot even when the underlying benchmark gains. FINRA’s illustrations are sobering:

• The Dow Jones U.S. Oil & Gas Index gained 2 percent, while an ETF seeking to deliver twice the index's daily return fell 6 percent and the related ETF seeking to deliver twice the inverse of the index's daily return fell 26 percent.
• An ETF seeking to deliver three times the daily return of the Russell 1000 Financial Services Index fell 53 percent while the index actually gained around 8 percent. The related ETF seeking to deliver three times the inverse of the index's daily return declined by 90 percent over the same period.

With this in mind, FINRA has warned brokers about their sales practice obligations when selling leveraged and inverse ETFs. Among other things, brokers are required to thoroughly understand they products they sell, make a determination, backed by appropriate information, that the product is suitable for the customer’s investment objectives and risk tolerance. Furthermore, brokers are legally obligated to explain all material facts regarding an investment before the sale.

Given the complexity of these products and the realities of the securities brokerage industry, the chance that any retail broker thoroughly understands them is zero. According to FINRA, in its typically understated fashion, “inverse and leveraged ETFs typically are not suitable for retail investors who plan to hold them for more than one trading session, particularly in volatile markets.” In fact, they are not suitable for most retail investors, period.


If you have suffered losses in leveraged and/or inverse ETFs, you should contact qualified counsel to determine your potential rights and remedies.

Saturday, August 8, 2009

Skandal LIBOR



Tujuh bank sudah menerima panggilan dari pengadilan sebagai bagian dari investigasi skandal manipulasi suku bunga bank, Libor. Ketujuh bank tersebut adalah Barclays, JPMorgan Chase, Citigroup , Deutsche Bank, HSBC dan Royal Bank of Scotland, UBS. Awalnya skandal itu terungkap pertama kali adalah pada waktu Barclays mengaku kepada otoritas pengawasan bank bahwa mereka  sejak tahun 2007 berkali-kali menyerahkan laporan suku bunga fiktif kepada panel bank- bank yang menentukan tingkat LIBOR. Skandal ini juga menyebabkan pemberhentian sang chairman (Marcus Agius) dan pemecatan CEO (Robert Diamond). 

Teman saya yang bekerja sebagai money broker di Bassel mengatakan kepada saya bahwa standard moral banker sebagai agent of development sudah tidak ada lagi. Banker kini tak ubahnya sebagai hidden criminal group. Mereka tidak peduli lagi soal moral yang menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah kepercayaan ( trust). Mereka hanya peduli bagaimana meningkatkan laba bagi pemegang saham dan pada waktu bersamaan para executive dapat hidup nyaman dengan limpahan fasilitas dan tidak peduli karena itu mereka harus menjadi gerombolan penipu.

Semua pemain uang dan mereka yang terlibat dalam dunia perbankan akan menjadikan LIBOR sebagai benchmark  untuk suku bunga jangka pendek. Kebanyakan produk-produk finansial, derivatif, dan bermacam-macam sekuritas, kontrak-kontrak keuangan, seperti kartu kredit, pinjaman, hipotek, dan sebagainya, menggunakan LIBOR sebagai acuan. Diperkirakan  ratusan triliunan dollar AS  nilai kontrak dan transaksi yang menggunakan LIBOR. Mereka tahu pasti bahwa indicator ini sangat tinggi reputasinya. Ada standard aturan dan hitungan yang ketat untuk menentukan LIBOR. 16 anggota asosiasi perbankan yang dijadikan acuan adalah Perbankan papan atas ( high rate). 

Jadi secara moral tidak mungkin ada pelanggaran standarad kepatuhan. Namun, dengan terungkapnya skandal, ternyata LIBOR ditentukan dengan cara seenaknya. Bahkan dilakukan untuk tujuan menipu pasar dan public demi mencari untung. Ini konspirasi antara semua pihak yang terlibat termasuk otoritas. Walau secara hokum pihak otoritas tidak bisa dikatakan terlibat namun secara moral mereka hancur dihadapan public. Terlepas mereka tahu atau tidak namun nyatanya public dirugikan. 

Bagaimana sampai public dirugikan? Setiap hari Thomson Reuters, perusahaan penyedia jasa informasi keuangan dan perusahaan, atas nama BBA (British Bankers’ Association ) mengumumkan angka LIBOR (London Interbank Offered Rate) untuk 15 jenis pinjaman yang dibedakan menurut jangka waktu pengembalian (tenor)— dari pinjaman satu hari (over night) sampai satu tahun—dan meliputi 10 jenis mata uang, termasuk dollar AS, euro, poundsterling, dan franc Swiss. Namun laporan itu ternyata membuat orang lain dirugikan.  

Ambil contoh Barclays menyerahkan angka suku bunga yang lebih rendah daripada yang seharusnya. Akibatnya public semakin percaya kepada perbankan. Karena bunga rendah sebagai indikasi bahwa perbankan sehat dan ekonomi stabil. Keadaan ini akan mendorong orang untuk meminjam lebih besar dari yang semestinya dan mengambil risiko yang lebih besar dari yang mampu dipikul dan tidak hati-hati dengan berbagai implikasi buruknya. Singkatnya karena data tidak benar itu telah membuat publik terjebak dalam transaksi yang menjadikan mereka sebagai korban penipuan secara sistematis. Yang pasti pihak yang diuntungkan adalah pihak yang tahu bahwa data LIBOR itu tidak benar. Siapa mereka? tentu para bankir dan otoritas.

Apa yang terjadi dalam skandal LIBOR adalah tidak berbeda dengan Skandal CMO  ( Collateral mortgage Obligation ) di AS. Skandal LIBOR memalsukan data tentang suku bunga untuk menarik keuntungan sepihak bagi para insider trader. CMO memalsukan data perusahaan untuk memungkinkan S&P dan Moody’s dll menaikkan rating dan akhirnya menipu investor untuk membeli. Memang , laporan itu tidak menjamin seratus persen kebenaran. Itu hanya sebuah indikasi untuk orang bersikap. Namun karena di create oleh lembaga yang punya kredibilitas tinggi dan didukung oleh otoritas Negara maka jadilah itu sebuah kebenaran. Kebenaran yang memungkinkan orang mengambil resiko dan bertarung dengan ketidak pastian akan masa depan. 

Setelah semua terjadi, tidak ada yang bisa disalahkan seratus persen. Ini hanyalah moral. Hukumannya hanyalah denda administrasi. Aturan hukum pidana tidak bisa menjerat kejahatan seperti ini. Samahalnya tidak bisa disalahkan rezim Orde Baru  bila data statistic makro ekonomi yang mengindikasikan siap tinggal landas namun nyatanya kandas ditengah jalan. Bila besok ekonomi jatuh kelubang krisis , kita tidak bisa menyalahkan rezim sekarang yang meng  create data makro economy tinggi untuk dipercaya. 

Harus ada keyakinan pada diri kita sendiri bahwa lembaga rating, Pemerintah adalah  mereka yang memang tidak pantas dipercaya. Jadi bila terbukti mereka tidak benar, kita harus siap untuk kecewa.