Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Venezuela pada Sabtu (waktu setempat). Dalam operasi semalam yang disebut “dramatis”, serangan AS menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah Caracas. Trump memuji operasi tersebut sebagai “serangan yang belum pernah dilihat orang sejak Perang Dunia Kedua”. Namun, menurut laporan New York Times, sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan itu, termasuk warga sipil dan tantara.
“Dengan Maduro berada dalam tahanan AS, kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago, Florida. Ia menambahkan, “Kami tidak bisa mengambil risiko pihak lain mengambil alih Venezuela tanpa memikirkan kepentingan rakyat Venezuela.”
Beberapa media melaporkan bahwa sebuah pesawat yang membawa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mendarat di wilayah utara New York pada Sabtu malam. Pesawat Boeing 757 putih tersebut dilaporkan tiba di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Dari sana, Maduro diperkirakan akan diterbangkan dengan helikopter ke Kota New York untuk diproses hukum dan ditahan di Metropolitan Detention Center.
Pejabat yang dikutip NBC News menyebut Maduro dijadwalkan hadir di pengadilan pada Senin malam. Intervensi militer AS ini menuai kecaman luas. Politisi Partai Demokrat di Capitol Hill serta sejumlah pemimpin dunia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk imperialisme Amerika yang paling berbahaya sejak invasi Irak pada 2003.
Maduro, mantan sopir bus berusia 63 tahun yang ditunjuk langsung oleh Hugo Chávez sebelum wafat untuk menjadi penggantinya pada 2013, selama ini menuduh AS berupaya merebut cadangan minyak Venezuela—yang terbesar di dunia. Kini ia jadi pecundang yang menyedihkan.
“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan pendapatan bagi negara itu,” kata Trump. Ia juga memperingatkan kepada Elite Politik Venezuela yang bersumpah akan melawan bahwa AS siap melancarkan “serangan kedua yang jauh lebih besar” jika dianggap perlu.
***
Mengapa begitu mudah AS menangkap Presiden Venezuela? Hanya beberapa jam setelah serangan. Di mana militer yang selama ini dibanggakan Maduro ? Jawabnya semua mereka lemah dan tak berdaya. Karena semua institusi Venezuela sudah rapuh termasuk militernya. Selama ini polisi dan militer hanya sibuk berperang dengan oposisi dan menteror rakyat nya sendiri lewat pembatasan media dan berpendapat. Yang korup bukan hanya politisi tetapi juga tentara dan polisi termasuk hakim.
Bagaiman dengan rakyat ? mengapa mereka diam saja. Dalam situasi rezim yang sudah keterlaluan korupnya. Rakyat sudah muak. Tidak lagi bersuara apalagi mau berperang bela pemerintah. Mereka mungkin hanya tersenyum dan berkata " Bueno pues, ahí está el resultado. Se pusieron a jugarle vivo a los gringos… ¿no que eran tan arrechos?" Bahkan pendukung setia dan para buzzer serta oportunis di ring satu presiden udah duluan kabur sebelum AS menyerang. Tragis memang.
***
Dalam banyak rezim otoriter termasuk Venezuela dalam dua dekade terakhir. Militer dan aparat keamanan lebih sering digunakan untuk menekan oposisi. Mengintimidasi rakyat. Mengontrol media dan kebebasan berpendapat. Doktrin pertahanan bergeser dari external defense ke regime survival. Akibatnya tentara tidak lagi melihat diri mereka sebagai pelindung bangsa. Tetapi sebagai alat kekuasaan elite. Ketika ancaman eksternal datang, pertanyaannya bukan, “Bagaimana mempertahankan negara?” Melainkan, “Untuk siapa saya harus mati?”
Di Venezuela, sebagaimana dicatat oleh banyak laporan internasional. Korupsi tidak hanya terjadi di level politisi. Tetapi juga menyentuh militer, polisi, dan aparat hukum. Dampaknya fatal. Promosi bukan berdasarkan merit, tapi loyalitas. Logistik militer bocor. Moral pasukan runtuh. Rantai komando rapuh. Dalam kondisi seperti ini, militer tampak besar di atas kertas, tetapi kosong di lapangan.
Ini hukum sosial paling keras dan pelajaran paling tragis. Rakyat tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk negara yang selama ini menindas mereka. Jika media dibungkam, demonstrasi dipukul, hak sipil dilanggar dan pengadilan tidak adil. Maka ketika negara diserang. Tidak ada mobilisasi sipil. Tidak ada perlawanan rakyat. Tidak ada intelligence dari bawah. Bahkan pendukung rezim sendiri sering lebih dulu menyelamatkan diri. Ini bukan pengkhianatan—ini insting bertahan hidup.
Dalam banyak kasus modern (Irak 2003, Afghanistan 2021, Libya 2011). Aparat masih ada. Senjata masih ada. Bendera masih berkibar.Tetapi Negara kehilangan jiwa. Tidak ada yang mau mempertahankan simbol kekuasaan. Karena itu, kekuasaan bisa runtuh sangat cepat, bahkan tanpa pertempuran besar.
Penutup.
Pelajaran utamanya bukan tentang Venezuela atau AS. Pelajarannya adalah, bahwa ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan datang dari luar, melainkan ketika negara memusuhi rakyatnya sendiri. Jika aparat lebih takut pada kritik rakyat daripada ancaman asing. Hukum dipakai untuk membungkam, bukan melindungi. Militer dan polisi dijadikan alat politik. Maka, ya negara tampak kuat. Tapi sebenarnya sangat rapuh.
Amerika Serikat tidak “mudah masuk” ke negara mana pun. Yang sering terjadi adalah negara itu sudah tidak lagi punya siapa pun yang mau membelanya. Dan ketika negara kehilangan kepercayaan rakyat, integritas institusi, kehormatan aparat, maka serangan dari luar hanyalah pemicu, bukan penyebab runtuhnya kekuasaan.



