Sunday, July 24, 2011

Izinkan aku jadi sahabatmu.



1983

Bel sekolah berdentang keras dan kamipun berlarian meninggalkan kelas. Siapa sih yang mau berlama lama di kelas menghadapi pelajaran matematika. Apalagi menghadapi guru yang killer dan membosankan. Dengan malas ku kayuh sepedaku menuju pulang bersama teman teman. Dari kejauhan nampak Burhan tersenyum kearahku. Teman temanku mentertawakanku “ Tuh..lihat pacarmu tersenyum padamu…” teriak teman teman kepada ku. “ Iiih Amit amit cabang bayi..” teriaku agak tersinggung. Dengan cepat kukayuh sepedaku untuk menjauhi Burhan. Aku kesal dengan dia. Karenanya membuat aku diperolok oleh teman teman.

Tapi sekonyong konyong sepedaku kehilangan daya. Ternyata rantainya lepas. Aku bingung karena tidak mengerti cara memperbaikinya. Semua temanku sudah jauh. Sementara yang kunampak adalah Burhan yang dari kejauhan berjalan kearahku.

“ Ada masalah apa , Lia “ tanyanya.

“ Rantainya Lepas…” jawabku sedikit ketus. Mataku mencoba mengarah ketempat lain.

“ Mari , saya bantu perbaiki “

Tanpa menunggu jawabanku , dia memperbaiki rantai sepedaku agar kembali ke tempat semula hingga dapat kembali dipergunakan. Selama dia memperbaiki itu , aku memperhatikan bajunya yang nampak basah karena keringat. Pria ini menghabiskan waktu sejam lebih berjalan kaki untuk sampai di rumahnya. Ada sedikit kasihan terhadapnya tapi segera aku hilangkan dalam pikiranku. Tidak ada yang membuat aku tertarik dengan pria ini. Wajah dan penampilannya tidak sebanding bila harus berjalan berdampingan denganku. Apalagi dia dari keluarga miskin. Dan dia mempunyai penyakit kulit di sekitar tangan dan kakinya. Kadang nampak bernanah. Layaknya permukaan bulan pada setiap bagian lengan dan kakinya. Bila berdampingan agak lama dengannya maka akan tercium aroma yang kurang sedap. Jadi wajarkan bila aku menolak untuk mendekatinya. Apalagi di kelas aku termasuk wanita tercantik dan keberadaannya adalah bahan olok terhadapku namun sebetulnya tema teman memperolok dia. Tapi dia tidak pernah marah atau tersinggung. Wajahnya selalu tersenyum.

“ Lia, ini sepedanya. Kamu sudah bisa pergunakan. “ katanya sambil tersenyum .

Aku hanya mengangguk dan berlalu tanpa mengucapkan terimakasih. Kulihat dari belakang dia agak berlari mengikuti ku. Aku segera menghentikan sepeda.

“ Sudah. Tidak usah ikuti aku. “ Teriak ku sambil mataku mengarah sekeliling kawatir ada teman temanku yang meliat.

“ Aku hanya ingin memastikan kamu tidak apa apa di jalan. “ jawabnya sambil tersenyum.

“ Ya .sudah..sudah…!” seruku sambil membelakanginya dan mengayuh sepedaku. Dia tidak lagi mengikutiku..

1985

Di Ibu kota aku memulai kehidupan baru sebagai mahasiwi disalah satu universitas Swasta terkenal. Burhan aku tidak tahu apakah dia melanjutkan ke universitas. Apa peduliku. Belakangan aku ketemu dia di dalam bus. Ah dia jadi kondektur bus. Masih seperti dulu , dia tersenyum menyapaku

“ Lia, Apakabar ? “

Aku berusaha memalingkan wajah ketempat lain. Karena di sebelahku ada pacarku yang nampak terkejut ketika dia menyapa sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Dengan sungkan kejabat tangannya. Sekarang tidak nampak lagi bekas kudis di tangannya. Nampak bersih. Tanpa kata kata dia hanya terdiam menatapku sambil tersenyum.

Ketika akan turun dari Bis, tasku terasa ada yang menarik. Aku melihat ke belakang ternyata copet. Aku berteriak setelah copet itu turun dari bus. Burhan menatap ke arahku. Dia segera turun dari Bus dan berlari mengejar copet itu. Sementara pacarku hanya terpaku tanpa berbuat apa apa. Selang beberapa saat kulihat Burhan menjadi bulan bulanan dari beberapa preman. Ada yang menuduh justru dialah sebagai pencopet. Pacarku menariku untuk segera berlalu dari tempat kejadian itu. Karena tidak mau ambil resiko. Dari jauh nampak Burhan terkapar di jalanan. Ada perasaan bersalah tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Walau dia mempertaruhkan hidupnya hanya karena ingin melindungi miliku.

Suatu waktu aku bertemu kembali dengannya di Bus. Dia sudah nampak baikan. Bukas luka di wajahnya sudah tidak nampak. Dia tetap tersenyum ke arahku

“ Apakabar Lia “ Sapanya.

AKu hanya tersenyum sedikit dan mengalihkan perhatian ke tempat lain. Sementara tanganku berusaha memagut lengan pacarku. Burhan hanya berlalu di hadapanku ketika akan menarik ongkos Bus. Namun pacarku segera memberikan uang. Seraya melotot ke arah Burhan. Aku tahu Burhan berusaha menatapku tetapi aku cepat memalingkan wajah darinya. Dia terpaksa menerima ongkos. Dan berlalu

1990

Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta asing. Kehidupan yang dulu kucita citakan sebagai professional kini sudah dalam genggamanku. Tapi kehidupan percintaanku kandas di tengah jalan. Sukses dalam karir tidak membuat aku sukses mendapatkan pria yang sesuai dengan apa yang kumau. Pada suatu ketika aku terjebak di tempat parker mobil di sebuah pelataran parkir di daerah Hayam Wuruk. Di tengah hujan lembat aku harus keluar dari kendaraanku sementara payung tidak ada. Seseorang yang datang menghampiriku dari dalam RUKO membawa payung.

“ Apakabar, Lia “ Ternyata Burhan “ Ini , pakai payung untuk kamu” sambungnya sambil tersenyum.

Tanpa kusadari payung itu kupakai sendiri sementara dia basah kuyup. Dia tetap tersenyum kearahku. Aku cepat berlalu darinya  seraya melempar payung ke samping. Tanpa ucapan terimakasih.

2006

Posisiku di perusahaan sudah diatas puncak. Karir ku melesat bagai panah. Tapi kehidupan percintaanku tetap kering. Tak terhitung kekecewaan datang silih berganti yang akirnya membuatku lelah untuk memulai kembali. Usiaku sudah kepala 4 dan barulah terasa betapa sepi dan rentanya hidup ini tanpa ada pria yang dapat melindungi kita. Ini baru kurasakan.

Apalagi perusahaan tempatku bekerja mulai senen kemis karena kesulitan likuiditas. Maklum perbankan dalam negeri sudah terlalu banyak menghadapi masalah hingga tidak punya perhatian lagi memberikan kredit baru kepada nasabahnya. Perusahaan memberikan tugas kepadaku agar mencari mitra yang dapat memberikan dukungan financial bagi kelangsungan masa depan perusahaan. Sudah hampir enam bulan upaya promosi kebeberapa Negara untuk mendapatkan mitra , belum juga mendatangkan hasil. Aku sudah lelah dan hampir frustrasi. Melalui contact perusahaan yang ada di Hong Kong, aku direkomendasi untuk menjajaki kerjasama dengan investor , yang kemungkinan berminat untuk memberikan dukungan financial. Perundingan dengan team negosiasi dari pihak investor sangat melelahkan. Mereka tidak nampak tertarik dengan segala prospek yang ku sampaikan dalam presentasi business.

Di tengah kelalahan itu , aku disarankan oleh teamku untuk bertemu langsung dengan pimpinan dari pihak investor. Pertemuan diadakan di Hong Kong Financial Club yang merupakan Club paling bergengsi di Hong Kong. Hanya pebisis kelas dunia yang dapat menjadi member di club ini. Kehadiran aku di sini atas undangan dari pihak investor.

“ Lia , Apa kabar ? “ sapa yang tidak pernah aku lupa. Burhan berdiri di hadapanku dengan setelah jas mahal. Dia tersenyum. Wajahnya tidak nampak seperti pria berusia diatas 40. Dia nampak lebih muda dari usianya namun terkesan sangat berwibawa. Aku tertunduk tanpa bisa berkata apa apa.

“ Senang ketemu kamu lagi, Lia “ Dia segera mengulurkan tangannya dan kusambut dengan ragu.

“ Lia, ! “ serunya “ Aku sudah mengambil keputusan bahwa perusahaan kami siap memberikan dukungan financial atas proposal yang kamu usulkan. “ katanya ketika memulai pembicaraan. Dia tersenyum menatapku. Tatapan yang membuat aku tidak berarti apa apa di hadapannya Tatapan yang selalu sama dan senyum yang selalu sama dari dulu sejak aku kenal dia.

“ Apa syarat yang kamu usulkan “ tanyaku.

“ Tidak ada syarat kecuali saya setuju dengan kondisi yang kamu inginkan. “

“ Mengapa ? begitu mudahnya kamu bersikap dengan investasi yang begitu besarnya “

“Apakah kamu perlu penjelasan ini dari saya ?

“ Ya , please. Karena aku sudah setengah tahun berupaya dan selalu gagal. “

“ Izinkan aku untuk menjadi sahabatmu. “ Katanya dengan tersenyum “ Kalaupun tidak mungkin maka izinkan aku menjadi temanmu saja. “ sambungnya lirih.

“ Kamu sudah menikah , Bur ? Tanyaku

“ Sudah. Wanita sederhana. Tidak berpendidikan tinggi. Dia menerimaku.”  Katanya dengan tersenyum. 

“ Wanita yang beruntung.” kataku seketika.

“ Aku rasa, yang beruntung adalah aku. Karena masih ada perempuan mau menerimaku” Kata Burhan dengan rendah hati. Namun menusuk jantungku.

“ Punya anak ? Kataku

“ Dua. “

Burhan berdiri dan melangkah ke arah jendela sambil menatap keindahan panorama harbor Hong Kong. Aku mencoba berdiri mengikuti langkahnya. Kami berdiri sejajar sambil menatap ke arah jendela.

Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku kala itu. Yang pasti aku seperti berjalan diatas awan dalam ketidak berdayaan di depan seorang pria yang bertahun tahun selalu mencurahkan perhatiannya terhadapku namun aku sendiri tidak pernah bisa berterimakasih padanya hanya karena ego dan takut kecantikanku tak bernilai di hadapan orang lain. Pria ini yang memelihara perasaan cintanya tanpa ada dendam dan akirnya tidak pernah mengharapkan apa apa kecuali kesediaanku untuk menerimanya sebagai sahabat.

Andaikan dulu aku dapat bersikap baik dengannya tentu aku tidak harus mendera dalam banyak kekecewaan dari pria pria yang pernah mampir dalam hidupku. Tak terasa air mataku berlinang. Terbayang dulu ketika dia terkapar karena hanya ingin melindungiku dari tukang copet. Terbayang tubuhnya yang basah kuyup hanya karena memberikan payung untuk ku. Terbayang dia berlari lari mengikuti sepedaku hanya ingin memastikan tidak terjadi apapa denganku. Semua bayangan tentangnya menyesak didalam dadaku.

Airmataku tumpah tanpa berani menatap wajah teduhnya.“ Lia …” serunya sambil menyerahkan sapu tangan kepadaku. Dia memang selalu tau bersikap dan care pada moment ya tepat. Selalu…'

" Mengapa kamu selalu baik denganku. Padahal aku selalu membenci kamu ?

" Aku tidak tahu bagaimana membenci. " Katanya tersenyum. Aku ingat betapa tak terbilang teman teman mengolok ngolok Burhan karena dia kudisan namun dia tidak pernah marah. Dia hanya diam atau berusaha tersenyum.

Tak berapa lama ada wanita Tionghoa masuk ke ruang meeting itu. Wanita itu sangat menaruh hormat kepada Burhan “ Ini kenalkan Wenny. Dia akan bantu kamu untuk menyelesaikan proses administrasi soal rencana investasi kami di perusahaan kamu,. Dia akan bantu kamu sampai financial clossing.” Kata Burhan dengan tenang dan penuh wibawa. Setela itu dia pamit untuk pergi. Dia membukukan tubuhnya kearahku sebagai tanda betapa dia sangat menghormatiku. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu Burhan. Setelah aku pensiun, dia mengundangku makan malam di Hotel Shangrila. Kami akhirnya jadi sahabat ketika kami menua. 

Thursday, July 21, 2011

Berterimakasih.


2008. Beijing , musim gugur datang. Dalam perjalanan dari bandara menuju Paninsula Beijing Hotel, nampak bendera china dengan lima bintang berkibar dimana mana. Juga tak ketinggalan spanduk besar berisi propaganda ala komunis. Maklum ini bertepatan hari kemerdekaan China. Di dalam kendaraan , direkturku berkali kali mengingatkan jadwal yang harus kuperhatikan selama kunjungan ke Beijing ini. Aku hanya mengangguk namun mungkin baginya aku terkesan tidak peduli. Bagiku teman ini terlalu perpeksionis. Satu kali diingatkan lebih dari cukup bagi pria.

Sesampai di Hotel, setelah ganti pakaian, aku turun ke Loby hotel untuk bertemu dengan relasi yang sudah dijadwalkan. Pertemuan itu cukup singkat. Sehingga aku bisa bersegera kembali ke kamar untuk sholat maghrib. Ketika tepat di pintu lift, nampak serombongan pria dan wanita berpakaian rapi keluar dari lift. Aku menyurut ke belakang memberi ruang leluasa bagi mereka. Terdengar suara wanita memanggilku. “ Brother, are you… ? setengah berlari menghampiriku. Seorang wanita yang tak kukenal. Namun dia memanggil namaku dengan jelas.

“ Ada apa ke Beijing ? tanyanya dalam bahasa inggeris yang sempurna
“ Ya biasalah. Ada urusan” jawabku singkat dalam kebingungan karena sama sekali tidak mengenal wanita ini, apalagi dia tak henti memandangku. Dengan lancar dia mencoba mengingatkanku peristiwa kali pertama bertemu dengannya. Itu enam tahun lalu. Dia menyebut tempat hotel di mana kami bertemu. Dia juga menyebutkan bahwa dia membantuku sebagai guide pergi Great Wall. Segera aku ingat. Karena kunjungan ke great wall hanya sekali seumur hidupku walau tak terbilang aku berkunjung ke Beijing. Tentu aku sekarang ingat siapa wanita ini.

" Ya. Kamu Ling , kan " kataku
" Benar. " Wajahnya nampak ceria.
" Gimana apakah cita citamu terkabulkan untuk bekerja di Bank" Aku tahu soal ini karena dia pernah bercerita impiannya untuk merubah nasip keluarganya di kampung melalui pendidikan nya. Walau budaya china merendahkan wanita namun dia berkeyakinan bahwa wanita bisa berbuat lebih baik atau setara dengan pria. Semangatnya untuk struggling dan survival di tengah keterbatasan. Itulah yang selalu kuingat.
“ Ya. Aku sekarang bekerja di bank. " Katanya dengan raut wajah berhias senyum.
“ Oh bagus. Saya senang mendengarnya..”
Teman temannya terdengar berkali kali memanggilnya.
“ Aku harus segera pergi ke ruang sebelah sana ” Katanya sambil menunjuk kesuatu ruangan.. Kutahu itu adalah ruang seminar. “ Jam 8 seminar usai. Ini sesi terakhir. Boleh aku traktir kamu makan malam. “Sambungnya.
Berat untuk menerima ajakannnya karena teringat jadwal yang ketat malam iini. Namun pancaran wajahnya yang penuh harap juga sulit bagiku untuk menolak.
“ Baiklah” Jawabku singkat.
“ Thanks , brother”
“ Tapi ..”
‘ Apa ?
“ Kamu ikut dalam acara jadwal makan malam bersama relasi saya, Gimana ?
“ Baik. Saya setuju. “ wajahnya nampak ceria.

Dia segera berlalu. Aku kembali kekamar untu sholat maghrib karena sebentar lagi aku harus menghadiri rapat bisnis bersama team dari New York untuk persiapan pertemuan besok pagi. 

Seusai sholat , aku mencoba mengingat peristiwa enam tahun lalu. Ketika itu musim dingin. Setelah empat hari bersibuk diri, hari sabtu tak ada kegiatan apapun. Kesempatan ini kugunakan untuk mengunjungi objek wisata Great Wall. Tapi tak ada teman yang bisa mengantar. Business Center yang terdapat di Hotel mengetahui rencanaku ke Great wall. Mereka menawarkan guide. Segera kusanggupi. Honornya USD 100 per hari. Tak lebih satu jam menunggu, petugas business center sudah mengabarkan bahwa guide sudah tersedia.

Seorang waninta belia berwajah opal dengan tinggi tak lebih 165 Cm. Menurut ukuran Asia dia tergolong tinggi. Dengan ramah dia memperkenalkan dirinya. “Sebut aku, Ling” katanya. Gadis itu bercerita dia kuliah tingkat terakhir jurusan Financial and banking. Kerjaan sebagai guide adalah sampingannya untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup sebagai mahasiswi di kota besa seperti Beijing. Dia berasal dari kampung di provinsi Hobey. Berulang ulang dia mengaku bahasa inggerisnya tidak sempurna. Dia minta saya berbicara tidak terlalu cepat agar mudah dimengerti. Tak lupa agar saya bersabar mendengar dia berbicara. Bila ada yang yang tidak dimengerti mohon diberitahu, katanya. Kesungguhannya melayani tamu dengan profesi guide free lance membuatku respect. Kenyataanya memang bahasa inggerisnya sempurna.

Sehari dalam kunjungan itu, dia berusaha sebaik mungkin menjadi guide professional. Dengan lancar dia menceritakan sejarah dinasti china yang terlibat membangun tembok china. Sedikit banyak dia paham soal budaya china namun berulang ulang kali ku ajak bicara soal politik , dia dengan halus menghindar percakapan itu. Baginya pemerintah lebih tahu banyak dibanding rakyat. Pemerintah tahu mau di bawa kemana china ini di masa depan. “Kami percaya dengan pemerintah dan memang tak ada pilihan”. Katanya bergaya diplomasi. 

Ketika kusinggung soal keluarganya. Dia becerita tentang kemiskinan dan hasratnya untuk sukses di kota demi membantu keluarganya. Sore kami kembali ke Hotel. Ketika berpisah, aku memberi uang jasanya sebagai guide. Dengan berat dia menerima USD 100. Menurutnya itu terlalu banyak. Sebetulnya tarifnya hanya USD 30. SIsanya diambil oleh agent. Kalau saya bisa menghubungi dia langsung, dia berjanji akan memberikan tariff setengahnya. Saya hanya tersenyum.

Keesokannya aku kembali sibuk dengan aktifitasku. Ketika sore menjelang malam , kembali ke hotel, kulihat dia sudah berada di loby hotel. Bersegera dia menghampiriku.
“ Pak, apakah anda membutuhkan saya hari ini atau mungkin besok. “ Katanya dengan wajah nampak ramah. Nampak wanita ini wajahnya agak pucat.
“ Hari ini tidak, dan juga besok tidak. “ jawabku singkat. Dia menundukan wajah. Ada raut sedih namun berusaha tegar di hadapanku.
“ Ok, Kalau saya butuh guide, tentu saya akan telp kamu. Tapi belum bisa pasti kapan?
“ Ya. Saya paham. Tapi saya tidak punya hp untuk anda menghubungi saya. Kecuali anda menghubungi agent saya. Itupun belum tentu dia akan menugaskannya kepada saya. Mungkin kepada orang lain” dia menunduk.
" Maaf saya harus segera kekamar saya. Bye " kataku sambil melangkah membiarkan wanita itu berdiri memandangku berlalu. 
Ketika berjalan menuju lift, Duty Manager hotel menyapaku dengan ramah. Sambil menanti pintu lift terbuka, Duty manager itu mengatakan bahwa wanita yang tadi kutemui berada di loby hotel sejak jam 11 pagi. Duty Manager itu mengira wanita itu adalah sahabatku. Aku tersentak. Artinya delapan jam wanita itu menunggu untuk sesuatu yang belum pasti. Sementara itu dia tak beranjak dari tempat duduknya. Tanpa minum, tanpa makan. Suatu pertarungan hebat untuk meraih peluang. Tak kenal lelah dan tak berputus asa. Aku terharu. Kulihat wanita itu sedang melangkah menuju pintu keluar. Bersegera aku kembali menghampiri wanita itu.
“ Tunggu sebentar " seruku. Dia berbalik menghadapku 
" Ok. Sekarang kamu ikut saya” kataku dengan lembut
“ kemana ?
“ Temanin saya ke Mall dan sekalian makan malam”
“ Benarkah ?
“ Benar, gimana ? “ 
Dia mengangguk dengan ceria. 

Usai makan malam , karena terniat untuk membawa oleh oleh untuk sibungsu di rumah yang berpesan HP. dia mengtarku ke pusat perbelanjaan Elektronik. Dia membawa kekawasan Wangfujing. Sebelum beli hp, aku telp ke rumah untuk memastikan pilihanku agar tidak salah. Tapi sibungsu dengan tegas menolak Hp buatan China. Ya sudahlah. Tapi wanita itu matanya tak pernah putus melihat hp di etalage. Seketika aku ingat andaikan wanita ini punya hp tentu tidak perlu dia harus menunggu berlama lama di hotel, hanya untuk memastikan aku menggunakan jasanya atau tidak. Kuputuskan untuk membeli satu HP Nokia. Harganya RMB 1200. Aku beli satu hp tanpa memberi tahu untuk siapa hp itu. 

Setelah itu , kami kembali ke Hotel. Sebelum berpisah di loby hotel aku memberi bungkusan Hp itu kepadanya. Dia nampak terkejut. Dengan mulut menganga dan mata melotot dia memandangku dan kemudian bungkusan itu.
“ Mengapa ?
“ Saya pikir kamu butuh hp ini. Besok besok kalau aku butuh jasamu aku tinggal telp. Kamu tidak perlu lagi menunggu lama di loby hotel,” kataku dengan tersenyum. Sekilas kuperhatikan Wanita itu berlinang airmata. Aku  segera masuk kedalam hotel sambil tak lupa menyisipkan tiga lembar sepuluh dollar ketangannya ketika salaman. 

Aku tidak tahu bagaimana lagi reaksinya atas pemberian itu. Aku hanya berpikir sederhana , Aku yakin bila wanita itu punya sedikit access seperti HP, tentu dia akan mudah mendapatkan pelanggan. Akan lebih banyak uang dia terima. Tentu cita citanya lebih mudah tergapai. 

Keesokannya , pagi pagi aku harus kembali ke Hong Kong. Enam tahun setelah peristiwa itu, baru hari ini bertemu kembali dengan wanita itu. Walau setelah itu aku acap berkunjung ke Beijing namun tak berkesempatan untuk menghubungi wanita itu dan lagi aku tidak tahu nomor Hpnya. Pada pertemuan tadi sore, walau aku sudah melupakannya namun dia tidak pernah lupa akan aku.

***
Jam 8.15 malam, dia sudah menanti di loby untuk bersamaku makan malam. Temanku sudah menanti juga di loby untuk membawa kami ke restoran di west beijing.
“ Enam tahun lamanya aku ingin bertemu lagi dengan kamu, bang. Ingin sekali. Selama 6 tahun, setiap minggu aku pasti datang ke hotel tempat dulu kamu menginap. Hanya sekedar ingin bertemu lagi. Tetapi resepsionis selalu menggeleng ” Katanya ketika di dalam restoran sambil menunggu makanan terhidang.
“ Mengapa kamu ingin sekali bertemu denganku?
“ Dulu ketika kamu memberiku HP , sangking senangnya aku lupa berterima kasih. Itu baru kusadari ketika dalam perjalanan pulang ke apartement. Aku menyesali diriku. Sulit untuk memaaftkan diriku sendiri. Aku membayangkan kebaikanmu dan kehinaanku yang tak pandai berterimakasih. Itu sebabnya keesokan paginya aku kembali ke hotel tapi menurut petugas hotel kamu sudah check out untuk penerbangan pertama ke Hong Kong."
“ Engga usah bilang terimakasih. Dan lagi ketika itu saya hanya berpikir normative bahwa kamu memang butuh hp untuk melancarkan pekerjaanmu. Itu aja. “
Dia segera mengeluarkan hp dari dalam tas kecilnya “ Sampai hari ini hp pemberian kamu masih saya pakai. Tak pernah rusak. Selalu saya jaga dengan baik.” Saya terkejut. Dia memberikan Hp itu untuk kulihat. Oh, Enam tahun hp itu masih bagus dan terawat dengan baik.
“ Loh ini kan sudah ketinggalan model. Kenapa kamu engga beli yang baru” Kataku diliput haru dengan sikapnya yang begitu menghargai sebuah pemberian.
“ Memang saya bisa membeli yang baru. Namun tak akan bisa mengganti nilai hp ini. Setiap saya melihat hp ini saya melihat kamu, bang “
“ Sampai kapan kamu akan menjaga HP itu ? kataku sambil tersenyum.
“ Sampai aku bertemu dengan kamu. Bang “
“ Nah, sekarang kamu sudah bertemu denganku. Ya kan “
“ Ya. Dan besok aku akan beli yang baru. Tapi yang lama tetap akan abadi di hatiku. “
“ Kenapa sih kamu terlalu terbawa perasasaan soal pemberianku. ?
“ Masalahnya gara gara hp pemberian kamu itu, aku lebih mudah mendapatkan pelanggan. Setelah itu kehidupanku agak berubah. Dalam sebulan aku bisa mendapatkan 15 hari kerja. Itu lebih dari cukup untuk menyelesaikan biaya akhir kuliahku."
“ Oh I see”
‘ Dan lihatlah kini aku “ katanya setengah berseru dengan mata melebar. “Setamat kuliah aku bisa bekerja di Bank dan kini jabatanku manager. Terimakasih Bang…”

Aku mengangguk berwajah cerah sebagai ujud aku bahagia melihat perjalanan hidupnya semakin baik. Usai makan malam, dia minta saya bertemu dengan keluarganya. Ternyata dia sengaja meminta suaminya membawa anaknya yang berusia 3 tahun untuk berkenalan denganku di loby hotel. Setelah saling bersalaman, suaminya minta saya berphoto bersama dengan mereka. “ Boleh photo ini kami perbesar dan pajang di ruang tamu kami” kata suaminya dengan bahasa inggeris yang terpatah patah. Saya hanya tersenyum dan bingung karena sikap keluarga kecil ini yang begitu berlebihan.

‘Mengapa” tanyaku.

“ Namamu selalu disebut oleh istri saya. Kami ingin kamu menjadi saudara tua kami. “ Kata suaminya dengan tersenyum ramah.

Setelah sedikit beramah tamah, aku segera kembali ke kamar. Relasiku yang sedari tadi menyaksikan pertemuan itu nampak tersenyum.

Dalam kesendirian saya membatin diatas rasa hormat kepada wanita itu. Hikmah terbentang di depanku. Tak mudah mengungkapkan rasa terimakasih dengan tulus. Tak mudah. Apalagi harus menanti sekian tahun untuk sepenggal hutang berkata "terimakasih".Lewat peristiwa ini Allah berdialogh dengaku tentang rasa Syukur. Semakin tinggi rasa terimakasihnya semakin tinggi nilainya sebagai manusia yang bermatabat. 

Di banyak kehidupan, betapa kebaikan orang begitu mudah terlupakan hanya karena sepenggal kesalahan yang tak menyamankan. Menanamkan terimakasih tak lain mengingat kebaikan orang lain dan memaafkan kesalahannya. Itulah nilai akhlak disisi Allah. Tak terbilang nikmat Allah kita terima namun sedikit saja derita datang, kita mulai mempertanyakan kasih sayang Allah. Kita lupa bersyukur, lupa berterimakasih kepada Allah.

Memberi bukanlah suatu yang luar biasa. Ketika ada kesempatan dan memang moment nya tepat kita harus berbuat maka berbuatlah. Jangan pernah berpikir soal untung rugi. Mungkin uang sebesar itu tak begitu besar manfaatnya bagi anda yang berlebih. Tapi bagi sebagian orang ,khususnya bagi simiskin yang harus berjuang di tengah keterbatasan , itu sangat bernilai. Mungkin bagi orang berduit , sekali makan di restoran jepang bisa menghabiskan Rp. 6 juta tapi ada sebagian keluarga yang bisa bertahan hidup dengan uang sebanyak itu sebagai modal usaha atau untuk membeli motor ojek bekas. 

Masalahnya, bisakah kita berbagi secara pantas untuk manfaat yang jelas. Itulah yang lebih penting. Soal nilai pahala, itu hak Allah. Kewajiban kita adalah menghidupkan empati di dalam hati kita untuk berbuat demi cinta kepada semua. Dalam bentuk apapun selagi perbuatan diiringi oleh cinta maka itulah nilainya disisi Allah.


Tuesday, June 28, 2011

Aksi Sandi dan Edwin caplok tambang emas.



Tahukah anda bahwa di Kabupatenn Banyuwangi, Jawa Timur ada tambang emas. Keberadaan tambang ini menjadi pembicaraan dikalangan pembisnis. Karena penuh dengan konplik dan intrik sejak kali pertama berdirinya. Pada awalnya konsesis tambang Emas ini diajukan oleh PT. Hakman Metalindo, di Meru Betiri 1995-1996. Pemilik perusahaan ini memang pengalaman di tambang Emas. Siapa yang engga kenal Jansen FP Adoe dan Yusuf Merukh. Yusuf Merukh merupakan konglomerat pemilik 20% saham Newmont Minahasa Raya (NMR) dan Newmont Nusa Tenggara. 

Luas konsesi 62.586 hektar, yang terdiri dari tiga blok yaitu Pertama, PT. Hakman Emas Metalindo (HEM) luas KP 5.386 hektar. Kedua, Hakman Platina Metalindo (HPLM) dengan 25.930 hektar dan Hakman Perak Metalindo (HPLM), 25.120 hektar. Memang sebagian lokasi masuk ke Taman Nasional Meru Betiri. Sementara Eksplorasi dilakukan oleh mitranya dari Australia, yaitu Golden Valley Mines N.L. Namun dalam proses eksplorasi tahun 1995, ketiga perusahaan tersebut merusak lingkungan. Mengakibatkan kawasan hutan jati menjadi kering serta pembuangan limbah tambangnya (tailing) merusak ekosistem laut. 

Keadaan ini menimbulkan polemik di masyarakat khususnya jawa timur. Setidaknya masyarakat jawa timur baru tahu bahwa wilayahnya merupakan penghasil tambang emas terbesar di Indonesia. Namun tahun 1998 polemik ini redam begitu saja karena ada kasus pembunuhan dukun santen di wilayah Tapal Kuda. Bersamaan ketika itu Soeharto juga lengser.  Setelah proses ekplorasi selesai, sekitar pertengahan tahun 2000, Hakman Group mengajukan kontrak karya pertambangan kepada Pemerintah Jember dan Banyuwangi. Namun berdampak pada lingkungan hidup dan tumpang tindih dengan Taman Nasional Meru Betiri, maka izin itu tidak bisa diproses. Tahun 2006 Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari mengakhiri izin explorasi.

***
Sehari sebelum izin eksplorasi tembaga Hakman berakhir, 17 Januari 2006, PT Indo Multi Cipta (IMC)– nama lain PT. Indo Multi Niaga (IMN) membuat surat permohonan izin explorasi bahan galian kepada Bupati Banyuwangi. Izin dikeluarkan tahun 2006 juga. KP eksplorasi keluar pada 16 Februari 2007 seluas 11.621,45 hektar. Ia mencakup Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jatim, hingga 2015. Selain Tumpang Pitu,  seluas 1.700 hektar, konsesi IMN juga mencakup Katak, Candrian, Gunung Manis, Salakan, Gumuk Genderuwo, dan Rajeg Besi. Walau ada hutang lindung, Pada 27 Juli 2007, Departemen Kehutanan mengeluarkan surat berisi persetujuan izin kegiatan eksplorasi tambang emas dan mineral pengikutnya di kawasan hutan produksi tetap dan hutan lindung seluas 1.987,80 hektar untuk IMN. Pada tahun yang sama juga keluar izin exploitasi.

PT Indo Multi Niaga (IMN) bermitra dengan investor dari  Australia, Intrepid Mines Limited. Namun dalam IMN Interpid menempatkan anak perusahaannya Emperor Mines Limited sebagai pemegang saham. 80% saham dimiliki oleh suami-istri Andreas Reza Nazaruddin dan Maya Miranda Ambarsari. Dari kerjasama itu, Intrepid keluar uang sebesar USD 100 juta untuk explorasi. 

Hasil explorasi yang disusun H&SC, dalam laporan yang dibuat sesuai standar JORC  ( Joint Ore Reserve Committee) Code (sistem klasifikasi sumber daya mineral yang diterima dunia internasional) “Resource Estimation of the Tujuh Bukit Project, Eastern Java, Indonesia” disebutkan bahwa di bawah lapisan oksida tambang Tumpang Pitu terkandung sumber daya tembaga sebesar 19,28 miliar pound. Jumlah itu jauh lebih besar ketimbang kandungan tembaga di tambang Batu Hijau dan Elang Dodo milik Newmont yang hanya 6,3 miliar pound. Kandungan emas di tambang Merdeka juga diyakini lebih besar, yakni sebanyak 28 juta Oz. Sementara di Newmont cuma ada 9,3 juta Oz.

Sebelum exploitasi, Andreas Reza Nazaruddin dan Maya Miranda Ambarsari sebagai pemegang saham mayoritas IMN melepas sahamnya kepada PT Cinta Kasih Abadi ( Andreas Tjahjadi), PT Selaras Karya Indonesia ( Rahmad Deswandy). Siapa mereka itu ? Andreas Tjahjadi tercatat sebagai presiden komisaris di IMN sekaligus direktur non-eksekutif di Seroja Investment, perusahaan yang berbasis di Singapura, yang punya bisnis  pengangkutan batu bara produksi PT Adaro Energy Tbk. Selain Andreas, direktur di Seroja Investment adalah Edwin Soeryadjaya, presiden komisaris di Adaro Energy. Artinya ini patut diduga  di balik pengambil alihan ini adalah Edwin.

Tentu saja Intrepid kecewa besar dengan mitra lokalnya. Mereka merasa dikhianati. Bahkan Intrepid mengancam akan melakukan legal action. Namun akhirnya mereka sadar bahwa pelepasan saham itu legal. Hak mitra lokalnya untuk jual kemana mereka suka. Yang dikawatirkan Intrepid adalah keterlibatan Edwin itu mengancam hegemoninya di IMN. Maklum mereka tidak mau ambil resiko kalau tidak bisa jadi pengendali sebenarnya di IMN. Itu sebabnya tahun 2012 Intrepid menggandeng Surya Paloh untuk menghadapi Edwin Cs dalam menguasai kembali IMN. Namun pertarungan itu tidak mudah. Sangat alot. 

Apalagi ada UU No. 4/2009 yang melarang kepemilikan saham mayoritas oleh investor asing di sektor tambang. IMN berjanji akan menyelesaikan persoalan ini. 80% saham di IMN dijual kepada PT Merdeka Copper Gold. Yang kemudian mengajukan izin usaha pertambangan (IUP) sesuai UU Minerba yang baru. IUP diajukan oleh dua anak usaha perusahaan, yakni PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Damai Suksesindo (DSI). Setelah itu Edwin dan Sandi mulai merapat ke ring satu Megawati. Jokowi menang dalam Pemilu dan hubungan Sandi dengan Hendropriyono semakin dekat. Sandi juga mendekati Yeni Wahid. Surya Paloh sepertinya ikut gelombang saja sambil berharap umbrella dari keberadaan Merdeka Copper Gold. Maklum sama sama team sukses Jokowi. 

***
Siapa Merdeka Copper Gold itu? Pemegang mayoritas saham Merdeka adalah PT. Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dan PT. Provident Capital Indonesia. Dua perusahaan investasi ini didirikan Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya. Artinya secara tidak langsung Edwin hanya mindahkan kepemilikan 80% saham di IMN kepada Merdeka Cooper Gold. Pertanyaannya adalah mengapa sampai ada penjualan saham IMN kepada Merdeka? disinilah cerdasnya Sandi. Dia memberikan solusi kepada semua pihak agar happy. Pihak Intrepid yang sudah keluarkan uang sebesar lebih USD 100 juta dollar dianggap sebagai utang Merdeka. Dan karena itu Merdeka keluarkan obligasi. Nah kalau Intrepid mau menaikan  kepemilkan saham diatas 20%, obligasi itu bisa dikonversi jadi saham. Tetapi harus melalui IPO. 

Nah agar IPO lancar dan tidak ada issue negatif atas lingkungan hidup, tahun 2015 Merdeka, menempatkan Preskom, AM Hendropriyono dan Boy Thohir sebagai komisaris. Semua tahu bahwa kedua orang ini punya hubungan dekat dengan Megawati, dan team sukses Jokowi.  Bulan Mei 2015, Merdeka IPO. Jumlah saham ditawarkan 874.363.644 saham baru atau 21,7% dengan rentang harga Rp1.800–Rp2.100 per saham. Tahun 2016 AM Hendropriyono mengundurkan diri sebagai preskom. Digantikan oleh Edwin. Sementara Boy Thohir tetap sebagai komisaris.

***
Apa kesimpulan dari cerita ini. Pertama. Edwin melalui Saratoga menguasai tambang emas ini tidak mengambil resiko awal. Resiko awal ada pada Intrepid, yang menanggung biaya explorasi mencapai SD 100 juta. Sementara mitra lokal yang menguasai 80% tidak keluar uang.  Tetapi Intrepid lupa, bahwa mitra lokalnya itu punya hubungan bisnis dengan Edwin. Setelah terbukti ada emas, maka saham mayoritas dijual ke Edwin. Andai terbukti engga ada emas, ya itu derita Intrepid. Kasus ditutup. Cerita tidak akan pernah ada.

Kedua, uang Intrepid yang sudah keluar tidak hilang karena ditukar dengan saham lewat harga bursa. Artinya value yang dibangun oleh Intrepid tetapi yang menikmati adalah Saratoga. Selanjutnya pembiayaan melalui pasar modal. Capital gain yang menikmati adalah Saratoga. Capital gain 20 kali lipat dari harga nominal. Dahsyat.  Apakah publik menikmati Capital gain? Sampai sekarang saham Merdeka tidak berubah secara significant sejak penawaran pertama. Artinya kinerja Merdeka sejak berdiri memang tidak seperti cerita dalam propektusnya. Padahal  mereka menarik uang dari Bursa mencapai hampir Rp. 10 triliun. Tetapi everybody happy. Yang manyun ya investor.

Itulah contoh proses perizinan yang menimbulkan rente dan membuat real investor jadi pecudang. Ini menjadi catatan hitam bagi semua investor institusi di seluruh dunia. Bahwa proses perizinan di Indonesia tidak memihak kepada investor tetapi memihak  kepada pengusaha rente. ( edited 2019)

EX File


“ Kita harus ketemu. Ada yang harus dibicarakan. Temui aku di Ritz Hong Kong jam 4.15 sore. “ Kata Widia lewat email. Ketika jam 2 sore. Aku sedang berada di Financial club Hong Kong yang hanya sejengkal jaraknya dengan Ritz. Kupehatikan email itu, ada kesan kekawatiran. 

Aku kenal betul Widia. Wajah kawatirnya seakan terbayang di depan mataku. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela menatap Harbour Hong Kong yang berkabut di musin dingin tahun 2003 itu. Lamunanku kepada Widia “ Kamu harus belajar menyanyi, suara kamu sebetulnya punya ciri khas. Nanti aku ajarkan kamu menyanyi. “ Katanya ketika aku usai mengikuti suara emasnya dengan piano. Aku hanya tersenyum. 

Sebetulnya melihat dia menyanyi saja , imaginasiku sudah sangat penuh. She is perpect lady. Sweet dan smart. Aku tersenyum seorang diri bila ingat dia. Tetapi lamunan itu berusaha aku tepis. Bagaimanapu dia orang yang ambisi. Andaikan sifat ambisinya itu bisa di kurangi tentu dia akan sangat perpect. Tetapi mungkin karena itulah dia istimewa.

Jam 4.30 aku sudah di loby Ritz. Widia membuka kamarnya. “ Kamu terlambat 15 menit.” Katanya dengan wajah masam. Tetapi karena itu dia semakin cantik. 

“ Sebetulnya aku masih ingin berlama lama di Financial Club. Ada teman dari Credit Swiss yang ajak aku bersantai. Ke hotel inipun dia antar. Kami jalan kaki. Hanya dekat saja. “ 

“ Pasti wanita?

“ Orang indonesia juga. Dia berkarir di bank  sejak tahun 1996.”

“ Cantik.”

“ Biasalah. “ kataku sekenanya.

Dia melangkah ke ruang mini bar untuk mengambil minuman. “Wine?

“ Terlalu dini untuk minum “

“ Apa bedanya ? Katanya sambil menuangkan wiski ke dalam dua gelas. Dan menghampirku dengan menyerahkan salah satu gelas itu.Tanpa peduli sikapku menolak minum. Dia memang pemaksa. Ruang besar panthouse terasa sempit oleh sikapnya yang serba ketus.

“ Jadi apa yang harus dibicarakan itu ? Kataku berbicara dari belakang tempat duduknya di sofa warna putih.

“ Menurut catatan saya. Ada USD 3 miliar uang di BI hilang. Padahal kita lagi krisis devisa" Kata Widia dengan nada curiga.

“ Itu karena perubahan sistem pencatatan di awal tahun 2000, dari Gross Foreign Assets (GFA) ke International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). Jadi berkurangnya bukan karena menguap tetapi karena perubahan pencatatan. Perubahan akuntasi dengan metode GFA ke IRFCL ini diperkuat oleh UU BI No.23 thn 1999 yang menjadi lembaga independent sebagaimana LOI dari IMF. " Kataku.

" Hebat, kan. Dengan adanya UU ini maka BI sangat berkuasa. Ia menjadi lembaga pemegang devisa dan sekaligus sebagai regulor lembaga lembaga perbankan. Yang jadi masalah, tidak pernah ada catatan resmi bahwa perubahan dari GFA ke IRFCL sudah dapat persetujuan dari DPR." Kata Widia tetap dengan nada curiga dan mengajak saya curiga.

“ Ya itu karena migrasi pencatatan devisa dari GFA ke IRFCL. IRFCL kan off-balance-sheet-components, dikurangi predetermined dan contingent short-term drains. Wajar kalau susut." Kataku tetap rasional.

“ Ok. Kembali pada pertanyaan di awal tadi. Mengapa devisa susut karena perubahan itu ? Apakah hanya karena perbedaan sistem pencatatan? Besar susutnya adalah US$ 3 Milyar Setara Rp. 30 Trilyun (kurs Rp. 10.000). Dari US$ 27 Milyar menjadi US$ 24 Milyar. Selisihnya masuk kelompok contigent short-term drains. Kalau benar. Mengapa negara lain yang ikut konsep pencatatan RFCL seperti Malaysia, Singapore, dan lainnya tidak terjadi perubahan?  Jawab! "Kata Widia dengan cerdas.

" Nah itu patut dipertanyakan."

Widia mengeluarkan catatan setebal halaman buku kuning telp. 

“ Kamu baca ini, ada pada halaman 480. Perhatikan dengan baik baik perubahan akuntasi yang tidak singkron. Sepertinya ada yang sengaja mengaburkan itu. “

Saya perhatikan laporan itu. Beberapa menit kemudian, pandangan saya aneh kepada dia. “ Ini bukan hanya USD 3 miliar. Tetapi lebih. Ini perampokan. “Kata saya berkerut kening.
“ Makanya aku ingin kamu tahu. “
“ Siapa saja yang tahu soal ini ?
“ Hanya kamu.”
“ OK. Apa rencana kamu ?
“ Kamu tahu Wachovia bank ?
“ Ya tahu.”
“ Baca dokumen halaman 1319. “ Katanya meminta saya membuka lagi buku tebal setebal halaman kuning telp itu. Saya membuka halaman 1319 itu dengan seksama. “ terus baca sampai akhir laporan “ katanya mengingatkanku untuk membaca sampai tuntas. 

“ Ya Tuhan. IMF gunakan migrasi system itu untuk merampok melalui write off rekening off balance sheet yang merupakan piutang AS atas gold asset yang di tempatkan Soeharto tahun 1996. “ 

“ Baca terus, dear. “ 

Saya terus membaca. Usai itu. Aku terpaksa menyender di sofa. Nafas ku sesak. Memikirkan keadaan negeriku yang dirampok oleh konspirasi asing.

“ Mereka bukan hanya merampok SDA tapi juga merampok tabungan negara. “ kataku dengan tersenyum getir.

“Kapan kamu pulang “ Katanya mengakiri lamunanku.
 
“ Ada apa dengan aku. Mengapa tanya ?

“ Kita harus menghadap presiden.” 

“ Ah Please, Sudah cukup. Aku harus membenahi hidupku. Please.” 

“ Dengar ! Serunya “ teman teman yang lain mau bergabung dalam team menyelesaikan ini asalkan kamu ikut bergabung. Mereka ingin kamu pimpin mereka. “

“ Loh kok sejauh ini ? Kita bukan pejabat negara. Kitak tidak punya hak inisiatif. Kecuali ada penugasan dari negara. Aku akan siap bertarung, walau harus nyawa taruhannya. Tetapi dengan cara menciptakan perang sendiri, bukan sifatku.”

“ Jaka, kamu temanin aku laporkan masalah ini ke pada presiden. Nanti kita lihat apa sikap presiden. “

“ Itu sama saja kita memberikan bensin untuk membakar. “ 

“ Jadi bagaimana seharusnya ?

“ ya engga ada yang seharusnya. Biarin aja. Ada banyak orang pintar membantu presiden. Mengapa kita harus repot mikirin.”

“ Duh kamu ini. Aneh. Setelah tahu semua, kamu malah skeptis begini. “

Saya hanya diam.

“ Bantu aku, Jaka..” Katanya memecah kebekuanku. Wajahnya nampak memelas. 

“ AKu engga janji. Beri waktu aku berpikir. “

“ Ok. Aku besok terus ke Washington karena ada urusan dinas.”

“ Hati hati ya. “ Kataku ringan dan cuek

“ Kamu engga tawarin aku dinner”Katanya tersenyum penuh arti.

“ Dinner atau dating?

“ Keduanya boleh, siapa takut “

" Diner aja ya. Temanku esther ada diloby..yok kita makan malam diluar."

" Dasar kamu yaaa" Katanya mau pukul bahuku. Tetapi aku cepat mengelak

***
Ketika makan malam , entah mengapa saya tergerak untuk mengetahui lebih jauh file yang ada padanya. 

“ Apakah bisa setelah dinner ini, aku kekamar kamu.?Kataku kepada Widia. Ether nampak terkejut. Mukanya mendadak pucat.

“ Welcome. “ Kata Widia sambil melirik ke arah Esthe.

“ Aku mau pelajari semua file yang tadi kamu perlihatkan.”

“ Oh ok.”

“ Apakah setelah ini saya langsung pulang aja. “ Kata Esther kepada saya.

“ Engga. Kamu temanin aku. Mungkin ada yang harus aku tanya. Ini ada kaitan dengan profesi kamu sebagai banker.”

Esther diam. Wajahnya masih masam.

 “ No problem “ kata Widia yang nampak rilex, Beda dengan Esther yang tegang. Tetapi akhirnya Esther bisa juga tersenyum. Makan malam hanya berlangsung satu sesi. Tak ada wine. Kami segera melangkah ke arah Ritz.

Widia menyerahkan file tersebut ke saya. Saya duduk di meja kerja yang ada di kamar panthouse itu. Selama saya membaca file tersebut, esther dan Widia bicara di ruang tamu. Cukup lama saya pelajari File itu. Tak terasa berlangsung 1 jam lebih dengan menghasilkan beberapa catatan. Saya kembali ke ruang tamu di mana estheer dan Widia  sedang asyik ngobrol.

“ Tadi kalian ngobrol bahasa apa ?

“ Bahasa jawa. Jawa inggih. “

“ Memang dari dulu jago financial memang orang jawa. Tapi sekarang, ceweknya lebih jago lagi. Tetapi eh..ngomongin apa?

“ Soal kamu”

“ Saya. Emang ada apa ?

Mereka berdua tersenyum.
“ Ok. saya sudah pelajari. “Kata saya tanpa peduli yang mereka bicarakan tentang saya. “ Saya tidak melihat ada yang aneh. HIlangnya devisa ini karena transaksi outstanding yang merupakan komitmen sistem perbankan yang harus di jaga BI. Jadi semacam ada penjaminan cross border antar bank.”

“ Out standing commiment, maksud kamu ? Tanya Widia.

“ Ya. " Kataku

“ Siapa yang lakukan itu ?Kejar Widia.

“ Itu makanya perlu audit forensik posisi outstanding antar bank."

“ BPK tidak sampai melacak kesana ?Kata Widia nampak bingung

“ Karena memang belum jadi potensi loss, karena di neraca posisi commitment itu masih off balance sheet. Jadi wajar saja ,kalau BPK tidak anggap ada pelanggaran. “

“ Tetapi mengapa dikeluarkan dari devisa.”

“Disitulah letak kehebatan orang dibalik yang merekayasa migrasi sistem devisa. “Kataku

“ OK. Tetapi itu harus tetap masuk off balance sheet. Engga bisa di write off terus lenyap. “ kata Esther yang memang banker sangat paham soal neraca bank.

“ Dimana catatan itu ? kata saya kepada Widia.

“ Engga ada.” 

“ Pasti ada catatannya. Kamu harus dapatkan file tersebut.

“ Baik akan saya dapatkan. “

“ Kalau ada data itu, kita akan bongkar siapa saja yang terlibat dalam outstanding commitment sehingga file itu di write off. “ Kata saya dengan wajah geram.

Widia  tersenyum.

“ Jaka.” Esther menyentuh dengkul saya.” Ada apa ini ? kata Esther berkerut kening.

“ Engga ada apa apa ? Kata saya santai.

“ Jaka, jangan cari masalah. Stop !

“ Kenapa ? Tanya Widia. Dengan mengerutkan kening menatap Esther dengan wajah kawatir. 

“ Itu bukan urusan kamu. Ini antara saya dengan dia. Please. Saya sudah tahu persoalannya. Kenapa kamu libatkan dia ? dia sedang punya masalah keuangan karena bisnisnya. Jangan buyarkan konsentrasi dia. “ kata Esther dengan ketus.

Widia nampak bingung dengan sikap Esther seraya menatap saya. Dia ingin ketegasan saya dalam bersikap. Saya segera berdiri. “ sebaiknya kami permisi pulang. Sampai ketemu lagi ya. Jam berapa flight kamu ? Kataku berharap perdebatan kosong itu tidak berlanjut.
“ Besok Jam 11 pagi.”
“ OK. Have a nice trip.”

Saya melangkah keluar kamar di ikuti esther.  Dalam perjalanan ke Apartement, Esther mengatakan “ Jaka, saya sudah tahu pokok persoalannya ketika kamu bicara tadi.. Karena itu bukan rahasia umum di kalangan banker first class.”

“ Tetapi kenapa kamu sewot di depan dia. Bijaklah sedikit “Kata saya.

“ Apa lantas saya harus hormat hanya karena dia pejabat? Naluri banker saya mengatakan, dia tidak punya itikad baik. Apalagi katanya dia tidak tahu apa yang kamu pertanyakan. Aneh, jaka. “

“ Oh ya…”

“ Eh “ mulai keras suara Esther “ Dengar ya. Kamu itu lemah di hadapan wanita perayu seperti dia. Apalagi smart. Rasio kamu mudah tercemar. “

“ Enggalah Esther. Saya tetap hati hati.”

“ Tapi wasting time. Saya engga setuju kamu terlibat bantu dia. Stop.”

Saya hanya diam. 

“ Dengar engga ? 

“ Ya saya akan pikirkan. Tetapi.. “

“ Apa ?

“ BIsa jelaskan kepada saya kekawatiran kamu itu. Agar saya bisa jernih melihat persoalan.” kata saya pelan.

“ Baik akan saya jelas. “ tetapi sebelum Esther menjelaskan, kendaraan Esther sudah sampai di Apartement. “ kamu mau mampir ?

“ Yalah. Aku mau dengar penjelasan dari kamu. “

“ Tapi udah jam 1 pagi. “

“ Aku nginep aja di apartemen kamu.”Kejarku.

“ Aku capek Jaka. Besok pagi aku ada rapat di kantor.”

“ Ya udah kalau begitu aku balik aja ke aparment ku.”

“ Loh engga jadi nginep. “

“ Engga. “ Kataku membuka pintu kendaraan dan segera melangkah keluar kawasan apartemen. Tetapi Esther keluar dari kendaraan mengejarku “ Kamu mau ke hotel si genit itu ya.” Kata Esther memagut lenganku.

“ Ya enggalah. Pulang ke apartementku.”

“ Engga. Balik ke apartemenku.” Katanya tegas. Aku tahu kalau sudah begitu artinya non negotiable.

Di apartement saya ngobrol dengan Eshter. 

" Pada tahun 1998 , Indover terlilit masalah kredit macet namun BI memberikan program penyelamatan melalui penempatan dana dalam bentuk Deposito sebesar USD 800 juta. Tahun 1999, kembali Bank ini membukukan kerugian sebesar US$ 272,1 juta. Dan menurut laporan dari BI ditahun 2000, bank ini mencatatkan keuntungan 4,2 juta euro. 

Tahun 2001, keuntungannya membengkak jadi 18,9 juta euro. Angka itu menyusut menjadi 11,9 juta euro pada 2002. Tapi ditahun 2003, Indover BV, melakukan write off sebesar 385,27 Juta US dollar. Dengan cara mengalihkan ke Indo Plus BV yang telah efektif per tanggal 23 November 2003. 

Masalah ini tidak pernah dibuka oleh DPR menjadi pansus atau oleh pihak aparat hukum. Di tambah lagi dalam setiap laporan tahunan BI ,tidak pernah mencantumkan Indover dalam neracanya padahal sebagai anak perusahaan maka indover harus tertuang dalam neraca konsolidasi BI." Kata Esther. 

" Maksud kamu apa cerita soal soal itu " kataku.

" Dengar kelanjutannya. "Kata esther melotot. " Ketika Indover di tawarkan kepada calon pembeli, lucunya semua calon pembeli tidak ingin BI menarik depositonya dari bank itu sebelum bank itu sehat terutama akibat dari adanya write off sebesar USD 385,27 juta. "

" Engga ngerti saya. "

" Ok saya minta daya analis kamu bekerja, sayang. Itu artinya write off yang diceritakan si genit tadi memang sudah direncanakan guna menutupi borok BI. Bukan tidak mungkin ada pihak yang menggunakan Indover sebagai channeling dan bank commitment dalam transaksi  Hedging. Kerugian jadi membengkak. Bisa saja USD 3 miliar.  Equity di rampok , laba masuk kantong sendiri. Paham sayang" Kata Esther mendekat wajahnya ke saya.

" Oh. Jadi nothing ya. Tetapi siapa ? "

" Ya Nanti juga akan ketahuan kalau ada rezim yang berani membongkarnya. Ngapain kamu ikutan urus. Emang kamu pengangguran. Dan lagi untuk apa dibongkar?. Sudah terjadi. Para elite politik udah berdamai dengan kenyataan. "

" Oh i see. "

" Udah ah. Aku ngantuk. Kamu mau tidur di kamar atau di sofa" Kata Esther. 

"Sofa ajalah." 

" Ya sebentar aku ambi selimut"

***
Sore sepulang kantor Esther telp saya 

“ Jaka, temani aku makan malam dengan relasiku? ada waktu ? 

“ Saya sedang di Central Hong Kong meeting dengan Asset manager. Dimana dinner nya?

“ Ya di Alexander building. Aku tunggu di tempat biasa ya.”

“ Ok aku akan segera ke sana setelah usai meeting “

“ Bye now.”

Esther sedang asyik membaca ketika saya datang ke restoran. Dia tidak meyadari kedatangan saya. “ Kamu nampak cantik sekali dengan kacamata baca itu. Mengapa tidak dipakai terus ? 

Ether terkejut mendongak, melihat kearah saya yang di halangi table. Dia tersenyum seraya melepas kacamatanya. “ Aku sudah tua untuk ukuran wanita.” 

“ Usia kamu sekarang 40 tahun. Sama dengan saya. Kita pasti akan menua” Kataku duduk di samping Esther. Terasa aroma lembut dari rambutnya. Aku perhatikan wajahnya dari samping.

“ Jaka, jangan terus perhatikan aku, Udah cukup “

“ Engga boleh ?

“ Kamu terus begitu. Kita 10 tahun bersahabat. Apa engga bosan apa liat aku “ Katanya merengut.

“ Engga. Apalagi kalau lihat kamu lagi marah. “

“ Kamu itu tidak pernah dewasa di hadapan wanita. Susah minta kamu berubah. “

“ Apa kamu inginkan aku berubah ?

“ ya berubah lah. Seperi aku mau. “

“ Mau kamu apa ?

“ Ihhh engga pernah ngerti ya. “ Katanya mencubit pipiku denga kedua tangannya.

“ Apa ?

“ Jangan gampang ambil resiko. Stop bermain main dengan hedge fund.”

“ Saya menikmati resiko, Esther.”

“ Tuh kan. Mulai lagi. “

“ Mau gimana lagi ?

“ Kemarin tawaran dari David kamu tolak untuk jadi mitra global nya. Dan sekarang kamu terlibat lagi dengan wanita genit itu. Tawarkan bisnis beresiko. Udah dech.”

“ Dia engga genit. Dia hanya exciting aja. Tetapi aku tidak tertarik. Dia aja GR engga jelas.”

Tamu Esther datang. Kami menghentikan ngobrol. Ether berdiri menyalami relasinya, seraya memperkenalkan saya kepada relasinya. Penampilan relasi esther sangat berkelas dengan setelan mahal. Saya tahu bahwa relasi ini pasti banker atau fund manager..

“ Oh ini orangnya yang kamu maksud soal kemarin itu ? Kata pria itu dengan serius sambil melirik kearah saya. Saya bingung ada apa ini?

“ Ya. “ Kata Esther dengan tersenyum. 

Pria itu membuka tas kantornya dan memberikan file kepada Esther “ Ini kamu liat file yang saya katakan kemarin. “ 

Esther meliat sekilas file tersebut dan kemudian menyerahkan kepada saya. File tersebut semacam laporan financial yang memuat angka angka transaksi.

“ Wow..fantastik. Total balance USD 60 billion. “ Kata saya terkejut.

“ File transaksi itu sudah dihapus sejak tahun 1998. “Kata pria itu

“ Mengapa ? Kata saya bingung 

“ DTC memang punya fitur untuk menghapus file sehingga tidak terlacak oleh otoritas. Namun asset itu aman di custodian.” Kata Esther.

“ Siapa di balik transaksi ini ?

“ Kamu liat kode setiap posted transaksi. “ Kata pria itu. “ Semua mengarah ke perusahaan yang terdaftar di Isle of Man. “

“ Ok ..siapa ?

Pria itu mengerutkan kening menatap ke arah Esther seakan minta Esther menjelaskan kepada saya.

“ Jaka, kamu liat file itu dengan seksama dan tenang. Coba perhatikan route confimation trade. Itu setelah ada kode SX angka nol. Itu artinya dari Indonesia.”

Saya perhatikan kembali dengan seksama file tersebut. Akhirnya saya tahu pasti ada orang di Jakarta yang melakukan transaksi derivative melalui 144 A SEC via Euroclear. Equity sebesar USD 200 juta melalui trade confirmation lembaga keuangan non bank. 

“ Equity itu di removed juga seiring file deleted via DTC ? kata saya kepada Esther.

“ Ya. “

“ Oh jadi pihak jakarta telah ditipu oleh seseorang”

“ Ya lebih miris uang hasil tipuan dipakai untuk memukul indonesia sendiri sehingga memudahkan pemain hedge fund melepas rupiah di pasar dalam pasar option. Nilai kontrak opsi 5 kali dari GNP Indonesia. “

“ Siapa lawannya ?

“ Kamu baca file itu. Itu ada code GR LDN. “

“Apa itu ?

“ The Fed melalui euroclear dan clearstream.”

“Jadi semua pemain di floor hanyalah proxy dari the Fed”

“ Tepat sekali.”

“ Mengapa ? 

“ Closed file , Jaka. Udah saatnya diktator itu jatuh. Saatnya demokratisasi hidup di ASIA. , termasuk Indonesia.”

Ketika keluar dari restoran. 

" Apa maksud kamu atur ketemu relasi kamu ini ?

" Aku minta kamu lupakan. Jangan bicara lagi soal ini. Ini semua hanya politik, ada yang dikorban pada setiap perubahan. Forget about the past and look a future."