Tuesday, November 2, 2021

Bisnis PCR memang menggiurkan


 


PCR digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona, meski tak sepenuhnya akurat. Pentingnya test  PCR (Polymerase Chain Reaction) bagi orang yang menggunakan transportasi publik lewat  jalur darat, laut dan udara di jawa dan Bali agar memastikan tidak terjadi penularan COVID-19 akibat pergerakan manusia. Ketentuan test PCR itu dibuat oleh pemerintah. Karena ketegasan atas aturan itu maka lambat laun jumlah kasus COVID-19 berkurang. Dan kini kita diakui dunia sebagai negara yang dianggap berhasil menekan kasus COVID-19. 


Namun pemerintah hanya mengeluarkan aturan wajib test PCR. Sementara pengadaan PCR diserahkan kepada swasta dan dilakukan dengan prinsip bisnis, namun tarif tertinggi ditetapkan oleh pemerintah. Hal tersebut tercantum dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor: HK.02.02/I/2845/2021, yaitu maksimal Rp 495 ribu untuk wilayah Jawa-Bali dan Rp 525 ribu untuk di luar Jawa-Bali yang berlaku mulai 17 Agustus. Pada Oktober 2020, pemerintah menetapkan harga PCR seharga Rp 900 ribu. 


Apakah harga itu kemahalan? Kalau mengacu harga maksimal tahun 2020, data Indonesia Corruption Watch menunjukkan, harga PCR Indonesia (Rp 900 ribu) lebih mahal daripada di Malaysia (Rp 509 ribu), Sri Lanka (Rp 470 ribu), Vietnam (Rp 470 ribu), dan India (Rp 96 ribu).  Setelah harga diturunkan menjadi Rp 495 ribu pun, harga PCR di Indonesia masih lebih mahal daripada Sri Lanka, Vietnam, dan India. Namun apakah setelah harga turun, penyedia rugi? Tidak. Business Development Manager Helix Laboratorium Fitri Evita mengaku Helix tidak mengalami kerugian ketika pemerintah memutuskan menurunkan harga PCR dari Rp 900 ribu menjadi Rp 495 ribu. 


Secara bisnis, penjual PCR tidak akan rugi walau harga turun sampai Rp. 275.000. Mengapa ? Apalagi katanya harga impor reagen hanya Rp. 13.000. Jadi selama ini yang bikin harga itu tinggi karena business process jasa PCR. Itu mencakup biaya alat pelindungi diri (APD) dari perawat atau petugas laboratorium yang mengambil sampel, biaya swab stick, alat pelindung diri (APD), biaya jasa dokter, dan sebagainya. Jadi semua lini kebagian cuan dari adanya ketentuan PCR ini. Apakah menggiurkan bisnis pengadaan alat test PCR ini? Woh luar biasa. Mari lihat datanya.


Menurut Badan Anggaran (Banggar) DPR RI perhitungan kasar gurita bisnis tes PCR, potensi omzetnya mencapai Rp800 miliar sampai dengan Rp1,6 triliun dengan kebutuhan alat 2,8-5,6 juta per bulan. Hitung aja berapa setahun. Data dari Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat nilai impor reagen ( alat test PCR) hingga 23 Oktober 2021 mencapai Rp2,27 triliun melonjak drastis dibandingkan dengan bulan Juni senilai Rp523 miliar.  Sebagian besar atau 2/3 di impor dari China. Jadi anda bisa hitung berapa besarnya cuan dibalik jasa PCR ini. Ini bisnis mudah. Karena pasar terbentuk akibat regulasi.


Makanya wajar saja bila beberapa pengusaha menjadikan ini peluang bisnis meningkatkan uang mereka di brankas. Salah satunya adalah PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI). Menurut Juru Bicara Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, pemegang saham GSI ada 9. Diantara 9 pemegang saham itu ada nama Toba Bumi Energi ( Pemegang sahamnya LBP). Ada juga Kakaknya Eric Thohir melalui Yayasan Adaro. Ada juga ketua KADIN, Arsjad Rasjid  melalui Yayasan Indika.  Ada juga Patric Walujo, dari Northstar. Petric Walujo sendiri adalah menantu dari  T.P. Rachmat, boss Astra.


Saya tidak melihat bisnis PCR ini salah. Karena memang dibutuhkan untuk standar kepatuhan kesehatan sesuai aturan pemerintah.  Tidak melibatkan APBN. Yang jadi masalah adalah mengapa baru sekarang diketahui mereka yang terlibat dalam bisnis PCR itu adalah mereka yang punya akses kepada kekuasaan? Kalaulah dari awal disosialisasikan kepada publik dasar mereka terlibat, tentu tidak akan ada masalah. Kalau baru bicara setelah Pak Jokowi geram dan paksa harga PCR turun, apapun dalihnya sulit diterima dengan standar moral dan etika. Apalagi sebelumnya masyarakat merasa dirugikan adanya ketentuan PCR dengan ongkos yang mahal itu.

Monday, October 18, 2021

Uang...?

 




Di cafe saya asyik dengan segelas kopi dan rokok GG. Kebetulan hari masih sore belum begitu ramai pengunjung. Waitress tegur saya. “ Sendirian pak ?


“ Ya lagi tunggu agak malaman biar pulang engga macet.” Kata saya cuek.


“ Enak ya kalau ada uang. “ Katanya duduk disebelah saya.


“ Kenapa ?


“ Ya, nunggu macet aja, nongkrong di cafe. “


“ Milih banyak uang atau hidup seperti yang Tuhan mau? Kata saya.


“ Ya uang.”


“ Makanya  kamu engga dapat apa apa. “


“ Loh…Kenapa ? Salah ? Katanya terkejut. Wajah putih Manado yang merona kalau terkejut memang semakin cantik.


“ Uang lah yang membuat kamu tidak bisa hidup seperti yang kamu mau. Kalaupun kamu dapat uang, kamu tidak akan mendapatkan apa apa dan tidak akan menjadi apa apa, dan kamu bukan siapa siapa”


“ Duh bapak tega amat. “


“ Engga tega. Sikap kamu itu cermin dari kebanyakan orang. Kalau disurvey, 10 orang ditanya, 9 jawabannya pasti sama dengan kamu, yaitu memilih uang.” Kata saya.


“ Jadi gimana seharusnya ?


“ Pilihlah jalan seperti Tuhan mau. Maka uang akan datang lewat kerja yang bernilai, pengetahuan yang berkarakter, politik yang berprinsip dan bisnis yang bermoral. Maka beribadahpun akan mudah dan berkorbapun jadi membahagiakan” Kata saya.


***

Akar semua masalah di dunia ini adalah cinta uang. Menurut Frederick Lewis Donaldson, karena uang membuat orang menciptakan 7 dosa besar kehidupan. Apa itu.? Pertama, duit banyak tapi kerjaan tanpa nilai. Ada anak muda yang kaya raya dari berbisnis konten Youtube. dan mendapatkan income dari iklan. Orang banyak kagum dan mengatakan mereka smart. Semakin banyak orang kagum, semakin banyak follower semakin kaya dia.


Sumber lahirnya peradadan digital dan multimedia itu adalah AS dan Eropa. Kini mereka bingung. Di Toko tidak tersedia barang. Karena China mengurangi pasokan barang ke pasar. Apakah uang bernilai ketika barang tidak ada di pasar?. Apakah barang bisa dihasilkan dari kerja online? Kan engga. Harus bangun pabrik dan kerja keras agar barang bisa dihasilkan dan uang jadi benilai. Seni berbagi atas dasar human being bisa terjadi.


Kedua, kesenangan diraih tanpa hati nurani. Era digital sekarang orang sampai pada satu euforia bahwa IT menyelesaikan semua masalah dan memudahkan semua hal. Kelas menengah mengejar kesenangan lewat smarphone. Hubungan sosial walau tak lagi berjarak namun nurani semakin jauh berjarak. Mudah melepaskan emosi kebencian dan amarah lewat sosmed. Orang tak lagi rindu untuk bersilahturahmi secara phisik.


Ketiga, pengetahuan tanpa karakter.  Begitu banyak orang pintar diciptakan oleh kampus terbaik. Tetapi dunia tidak semakin baik. Pertikaian terus terjadi. Permusuhan dikekalkan.  Kebencian jadi air susu ibu. Keempat, business tanpa moralitas. Semakin besar PDB dan semakin besar APBN, semakin besar rasio GINI. Orang semakin berjarak dan kelas pun tercipta. Kelima, beragama tanpa nilai pengorbanan. Begitu banyak orang beragama, tapi orang semakin ragu berkorban. Cinta jadi serba bersarat. Karenanya uang membuat orang semakin miskin cinta. Hipokrit! Keenam, politik tanpa prinsip. Karena uang, UU diciptakan lewat transaksional agar rente tercipta, melahirkan segelintir orang kaya raya, dengan menjadikan orang miskin sebagai alat politik untuk terus berkuasa atas nama keadilan. 


Dan Ketujuh, kemajuan sains tanpa nilai nilai kemanusiaan. Sejak bebepa tahun lalu, pertumbuhan industri elektronika yang rakus listrik sangat cepat. Misal Pabrik apple , 1 line itu membutukan listrik 1000 MW. Di China, ada 12 pabrik Apple. Itu sama dengan 1/4 kapasitas listrik kita secara nasional. Mengapa begitu rakus? karena mengubah logam tanah jarang jadi metal itu memerlukan energi besar untuk menghasilkan panas tinggi seperti energi fusi. Belum lagi pabrik processor  yang sangat rakus listrik untuk mengolah berbagai logam menjadi metal yang tahan panas tinggi.  


Dari perkembangan Industri elektronika untuk mendukung bisnis IT, diperlukan data center, yang juga rakus listrik untuk menggerakan server berskala terrabit. Untuk ukuran data center menengah saja, sedikitnya membutuhhkan listrik 100 Mega Wat. Bayangin berapa banyak data center di dunia ini. Bahkan satu penambang Bitcoint dengan dereten server membutuhkan  listrik yang setara dengan listrik satu kota. Jadi mimpi dunia mau masuk ke cyber community dan hidup dengan artificial intellgent, Internet of things, tidak semudah itu terjelma. 


Dan sekarang dunia menghadapi krisis energi. Karena energi alternatif tidak cukup memenuhi kerakusan manusia untuk masuk ke abad digital.  Mobil listrik memang solusi pengganti BBM, tetapi menciptakan baterai itu memerlukan energi listrik raksasa. Lebih besar dari kebutuhan listrik satu kota. Jadi, yang kita anggap mudah, murah, hemat, sesungguhnya sangat tidak mudah, bahkan mahal. Apalagi kalau kekurangan energi itu kita pasok dari energi fosil, ya paradox: kemajuan dicapai, yang pada waktu bersamaan bunuh diri akibat pencemaran udara. Bencana akibat perubahan iklim hanya masalah waktu. 



Tuesday, October 5, 2021

Pencucian Uang dan Pandora Papers

 



Pencucian uang adalah operasi menyamarkan uang haram hasil kriminal. Hasil kriminal ini bisa saja dari korupsi, penggelapan pajak, narkoba, pelacuran, donasi teroris. Data dari Global Financial Integrity 2015. Dalam rentang waktu dari 2003 sampai dengan 2012, uang haram asal Indonesia mengalir ke negara surga pajak (tax haven) sebesar US$187,844 miliar atau Rp2.442 triliun dengan kurs Rp13 ribu. Bayangkan jumlahnya saat itu hampir setara dengan utang Indonesia sejak era Soekarno. Menurut data indonesia masuk 10 besar negara yang paling banyak uang haram.


Gimana caranya uang haram itu disamarkan ? Operasi pencucian uang itu dilakukan lewat tiga tahap. Pertama, Placement ( penempatan), Kedua, layering ( disamarkan), Ketiga integration ( dipakai). Agar sederhana saya analogikan lewat cerita sebagai berikut:


Placement

Udin dapat uang hasil haram. Uang itu ditempatkan di bank secara bertahap. Kemudian dia beli SBN atau Saham. Ditempatkan di bank custody. Setelah cukup besar asset itu, oleh lawyer dan fund manager yang ada di luar negeri, asset berupa SBN dan Saham itu dicairkan dan dipindahkan ke rekening perusahaan bebas pajak ( perusahaan cangkang ). Kemudian, Udin datangi Asset Management Company (perusahaan pengelola aset.) di luar negeri agar uang haram itu bisa dia pergunakan secara bebas.


Layering

Gimana caranya Asset Management Company mengatur agar asal usul uang bisa disamarkan dan bebas digunakan ? Rekening cash pada perusahaan cangkang itu dijadikan jaminan ( semacam Credit Default Swap) untuk terbitkan Credit Link Note. Apa itu credit link note? surat berharga yang terhubung (link ) dengan Saham yang terdaftar di bursa utama. Tentu saham blue chip yang tingkat likuiditasnya tinggi. Contoh, Credit link note, terhubung dengan saham Apple. Value Credit link note sama dengan valuasi Apple. Mengapa orang percaya? Karena Credit link note itu jaminannya tunai. Underlying dari Credit Link note itu adalah memberi pinjaman kepada  proyek Udin di Indonesia atau dimana saja. 


Integration

Setelah itu, Credit Link note itu dijual di market dengan harga diskon 3%. Uang hasil penjualan Credit link note itu masuk ke rekening proyek Udin. Nah yang hebatnya, Udin tunjuk proxy ( nominee atau mandat) sebagai pemegang sahan dan direktur perusahaan di proyek itu. Makanya jangan kaget kalau muncul OKB setelah tahun 2003 di Indonesia. Mereka sebenarnya proxy. Sementara Udin, hidup senang tanpa keliatan kaya raya. Selesai.


Nah perhatikan uraian tersebut diatas. Kalaupun diketahui, ada aliran dana dari Indonesia ke luar negeri dan masuk ke rekening perusahaan cangkang. Itu akan jadi blankspot. Mengapa ? Uang yang ada di rekening perusahaan cangkang itu sudah nol. Karena sudah berpindah ke rekening credit default swap untuk jaminan cash penerbitan Credit Link Note. Artinya, uang yang mengalir ke rekening proyek Udin, itu berasal dari market. Pasti clean and clear. 


Gimana seandainya negara tetap curiga kepada Udin?, Ya, tetap saja Negara engga bisa sita perusahaan Udin. Mengapa? perusahaan Udin itu terikat dengan kreditur asing, yang terhubung dengan Pasar modal. Senggol Udin, bursa akan goyang. Engga ada negara di dunia mau Pasar modalnya goyang. Jadi bagaimana solusinya agar uang haram itu kembali ke Indonesia dan pemilik sebenarnya muncul kepermukaan? ya sederhana saja. Adakan ampunan pajak ( tax Amnesty). Dengan adanya tax amnesty itu, Udin  bisa ikut repatriasi asset dengan mencatatkan saham proxy di dalam dan luar negeri itu jadi milik dia. Otomatis Udin akan masuk daftar potensial pembayar pajak. Dan Udin akan lebih aman dan tenang. Dia bisa masuk partai. Anak dan keluarganya bisa dapat warisan secara clean tanpa kawatir dikejar pajak soal asal usul uang. Sementara negara dapat pajak dari Perusahaan Udin. 


Monday, October 4, 2021

Sri Prakash Lohia


 

Lohia, yang mungkin terdengar asing, tetapi dia orang Indonesia loh. Tentu bukan pribumi. Nama lengkapnya, Sri Prakash Lohia. Kekayaan Lohia, menurut Forbes, mencapai US$6,6 miliar atau setara Rp94,05 triliun (Rp14.250 per dolar AS) pada Rabu (8/9). Kekayaannya berhasil menandingi Prajogo Pangestu yang saat ini mencapai US$5,9 miliar. Memungkinkan dia masuk urutan ke empat terkaya di Indonesia. Apa bisnis Lohia? Semua tahu kan, Indorama? ya perusahaan tekstil terpadu dan petrokimia.


Siapa Lohia? Ia lahir pada tanggal 11 Agustus 1952 di India. Ayahnya bernama Mohan Lal Lohia seorang pengusaha garmen. Ia lahir dari keluarga kelas menengah. Ia lulusan dari Universitas New Delhi dengan gelar Bachelor of Commerce. Praktis masa remajanya dihabiskan berbisnis membantu ayahnya. Pada tahun 1974, keluarganya memutuskan hijrah ke Indonesia dan mendirikan pabrik benang untuk tekstil di kota Purwakarta, Indonesia.


Diusia yang sangat muda, 22 tahun, ia meminta mandiri kepada Ayahnya untuk mendirikan pabrik garment. Investasi awalnya sebesar US$10 juta, dengan  karyawan 2000 orang. Kerja keras yang luar biasa, usahanya berkembang pesat. Kelebihan dia dari ayahnya adalah soal pendidikan dia yang lebih tinggi. Visinya bukan sekesar garment dan tekstil, tetapi juga industri yang terkait dengan supply chain. Tahun 1990 melalui Indorama Ventures, dia membangun pabrik polyethylene terephthalate (PET). Bahan baku untuk membuat produk plastik seperti botol plastik. Kini menjadi salah satu pabrik resin terbesar di dunia.


Tahun 2006 dia mengakuisisi BUMN Nigeria, National Petroleum Corporation,  yang selalu merugi dan nyaris bangkrut. Setelah dia akuisisi, mampu berproduksi dengan kapasitas penuh yaitu 350.000 poliolefin per tahun. Hasil produksinya pun tidak hanya dijual di Afrika, namun juga diekspor ke seluruh dunia. Bahkan PMA  milik Amerika di Nigeria, Old World Industries Inc, tahun 2012, dia akuisisi. Itu juga tadinya nyaris bangkrut, tetapi dibawah kelola tangan dingin Lohia, bisa mencetak laba.


Sulit dibayangkan sebuah perusahaan bermodal awal US$10 juta kini melonjak jadi perusahaan bernilai US$7 miliar atau Rp67,3 triliun. Bisnisnya menyebar di seluruh dunia dimana Indorama Group atau Indorama Corporation telah memiliki 39 pabrik yang tersebar di 19 negara. Sangat berbeda dengan Industri teksti yang legendaris seperti Pardedetex dan Sritex, yang justru meredum dan akhirnya tenggelam ditelan kompetisi.


Apa yang bisa ditarik dari kisah sukses Lohia ini? pertama, dia masuk ke bisnis supply chain untuk industri. Artinya dia menguasai bahan penolong ( linked product ) untuk proses produksi orang lain. Tentulah aman dari segi market. Namun dia tidak gunakan keunggulannya untuk memeras konsumen. Tetapi menjadikan mereka sebagai stakeholder. Dia berusaha memberikan harga yang kompetitif lewat riset dan efisiensi. Dalam hal industri yang langsung ke konsumen seperti garmen dan tekstil, dia membangun secara terintegrasi. Sehingga efisien dan mudah bersaing di pasar retail. Kedua, dia berusaha menguasai akses terhadap bahan baku. Makanya dia tidak takut akuisisi BUMN yang merugi karena dia tahu BUMN itu punya akses kepada bahan baku.


Ketiga, dia membangun pabrik dekat kepada bahan baku atau pasar. Jadi lebih efisien  soal logistik. Keempat, semua pembiayaan sudah menerapkan financial engineering, artinya dia membangun ekosistem financial dalam bisnis yang dia ciptakan, sehingga dia tidak pernah kesulitan keuangan untuk ekspansi. Keempat, sangat peduli kepada SDM,  lewat pendidikan yang bersandar kepada passion. Kelima, rendah hati.

Wednesday, September 29, 2021

Krisis energi Dunia.

 






Semua negara di seluruh dunia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon. Mengurangi ketergantungan mereka pada batu bara sebagai sumber energi dan mengadopsi sumber yang lebih hijau seperti turbin angin dan panel surya. Gas alam, sebagai bahan bakar fosil yang lebih bersih, berperan sebagai jembatan dalam transisi ini. Misal, China  berkomitmen tahun 2060 sudah zero karbon. Uni Eropa menargetkan zero karbon pada tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 55% pada tahun 2030.


Namun apa yang terjadi kemudian? Krisis energy!, terutama di China dan Eropa yang rakus energi. Sejak bulan juni, China melakukan penghematan listrik.  Pabrik-pabrik di beberapa provinsi termasuk Guangdong, pusat industri, terpaksa mengurangi produksi dan bahkan menghentikan sementara operasinya. Situasi semakin memburuk, penjatahan mempengaruhi rumah tangga di provinsi-provinsi tertentu. Pembatasan penggunaan AC dan lift telah memperburuk pemadaman di banyak kota. Eropa juga sama, bahkan bukan lagi krisis energi rumah tangga dan industri tapi juga  krisis bahan bakar kendaraan.


Mengapa secepat itu terjadi krisis? Padahal rencana matang untuk mengganti energi fusil ke energi ramah likungan tidak main main.  Itu dilaksanakan dengan ongkos mahal dan kebijakan tarif yang tinggi. Berproses sudah lebih 10 tahun sejak tahun 2005. Lantas apa penyebabnya.?


Pertama, Selama pandemi, trader berusaha menimbun persediaan gas alam dan batu bara. Lambat laun harga terkerek naik. Khususnya Gas, ulah trader Rusia yang berusaha mendonkrak harga lebih tinggi. Disaat pandemi sudah mulai berkurang, pabrik di seluruh dunia berusaha bekerja full capacity, kebutuhan energi meningkat. Tetapi harga gas dan batubara sudah terlanjur naik 5 kali lipat. Ya, stok gas dan batubara ada. Namun membeli tidak semudah membalik telapak tangan. Bisnis pembangkit listrik tidak mungkin terus beroperasi dengan tarif normal. Perubahan tarif membutuhkan regulasi, Pemerintah gamang mengubah tarif. 


Kedua, Berkurangnya output energi air ( hydro power ) karena musim panas ekstrim dan banjir besar. Terpaksa sebagian pembangkit listrik shutdown, seperti di wilayah selatan Cina. Pasokan listrik juga dipengaruhi oleh output turbin angin yang lebih rendah dalam beberapa bulan terakhir. Sementara konsumsi daya meningkat selama musim panas. Situasi dapat memburuk ketika musim dingin tiba, karena permintaan gas alam untuk memanaskan rumah dan air selama bulan-bulan musim dingin yang pahit di seluruh Eropa akan meningkat. Itu akibat dari perubahan iklim.


Ketiga, peningkatan kebutuhan listrik lebih cepat daripada tersedianya pembangkit listrik ramah lingkungan. Maklum  investasi  pembangkit listrik ramah lingkungan sangat mahal. Secara ekonomi jelas kalah jauh dibandingkan energi listrik dengan fuel fusil seperti batubara dan crude. Betambah rumit karena beberapa pembangkit listrik fusil ( Batubara dan Diesel ) sudah terlanjur shutdown sebagai kelanjutan program replace dengan energi gas. Sementara kebutuhan gas bukan hanya untuk energi tetapi juga untuk industri pupuk yang penting untuk ketahanan pangan dunia.


Keempat, lahirnya industri elektronik mendukung era digital terkait dengan IoT, Artificial intelligent, 5G, seperti smartphone, processor, batery, netwrok telekomunikasi,  yang membutuhkan energy listrik besar untuk mengolah bahan baku  mineral  utamanya. Yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan kecepatan pertumbuhannya. Itu sebabnya pabrik apple di China terpaksa mengurangi kapasitas produksinya dan ada yang berhenti produksinya.


Apa dampaknya bagi dunia ? Akankah krisis meluas ke seluruh dunia? Kenaikan harga bahan bakar tidak terbatas pada satu negara atau benua di dunia yang mengglobal. Kenaikan harga bahan bakar mempengaruhi semua negara dan semua konsumen.  Harga pompa bensin, solar, dan gas alam terkompresi juga telah meningkat. Pasokan bahan bakar kemungkinan akan tetap ketat di bulan-bulan musim dingin ketika permintaan listrik melonjak di Eropa dan negara-negara Asia Utara. 


Persaingan antar negara untuk mendapatkan pasokan yang tersedia dan taktik untuk mengalihkan kapal yang membawa gas alam cair dan batu bara dari tujuan yang telah ditentukan juga telah mendorong harga lebih tinggi. Negara-negara Eropa mencurigai Rusia memanipulasi harga gas alam dengan mencekik pasokan yang dikirim melalui pipa. Rusia adalah produsen utama gas alam dan pemasok penting ke Eropa.


Apa artinya bagi pemulihan ekonomi global?

Harga bahan bakar yang lebih tinggi hanyalah salah satu bagian dari masalah. Penutupan sementara pabrik di China akan memperlambat pemulihan supply chain global. Penutupan sementara juga berarti melewatkan tenggat waktu untuk pengiriman barang dagangan menjelang penjualan musim liburan November-Januari di banyak bagian dunia. 


Ketika penjatahan listrik diperintahkan, pabrik-pabrik di China berlomba untuk memenuhi permintaan global dan domestik untuk segala sesuatu mulai dari pakaian hingga ponsel dan gadget lainnya. Apple adalah salah satu produsen yang terkena dampak. Harga bahan bakar yang lebih tinggi dan kelangkaan akan menambah tekanan inflasi dalam ekonomi global dan mengganggu pemulihan permintaan di negara-negara berpenghasilan rendah


Apa dampaknya bagi Indonesia?

Kenaikan tajam harga batubara global menjadi keuntungan bagi perusahaan tambang batubara. Selain China, fundamental pasar batu bara di Korea Selatan dan Jepang juga semakin kuat. Pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara Jepang juga secara bertahap dilonggarkan, yang dapat mendukung penggunaan batu bara yang lebih besar. Hal ini jelas menjadi katalis positif untuk harga batu bara. 


Gangguan rel di Kolombia dan Rusia dan pemeliharaan rel mendatang di Afrika Selatan telah memperketat prospek fundamental batu bara berkalori tinggi, sementara pemuatan di Newcastle tetap kurang dari kecepatan tahun lalu pada tahap yang sama. Naiknya harga LNG terkait minyak di Asia timur laut mungkin juga mendukung permintaan batu bara lintas laut, karena bahan bakar ini akan semakin kompetitif untuk pembangkit listrik seiring berjalannya tahun. Booming kembali dah bisnis batubara. 


Lebih dari 61 % listrik di Indonesia dihasilkan dari pembakaran batu bara, sedangkan bagian dari gas alam 28,6%. Dengan demikian, kenaikan harga gas alam memiliki dampak serius atas biaya pembangkit listrik di Indonesia. Kenaikan harga  batubara dan gas, tidak akan berpengaruh dalam waktu dekat. Karena PLN melakukan kontrak jangka panjang dengan penambang lokal dan adanya ketentuan DMO ( Domestic Market Obligatio). Umunya PLN untuk pasokan tenaga gas juga bersifat longterm. Pasar spot sangat kecil sekali. 


Jadi praktis kenaikan harga gas dan batubara, tidak akan membuat Indonesia krisis energi. Apalagi industri yang rakus listrik tidak begitu banyak. Sebenarnya kalau pemerintah smart ( lewat pajak ekspor batubara dan meningkatkan DMO), krisi energi global ini bisa dimanfaatkan untuk kampanye relokasi industri dari negara maju seperti Jepang, Korea, China ke Indonesia. Indonesia hanya stress oleh kenaikan harga produk minyak bumi. Ini masalah serius karena kita sudah jadi negara net importir BBM. Tapi kalau produktifitas meningkat, harga BBM berapapun rakyat bisa beli. Masalahnya kalau industri tidak tumbuh, pengangguran bertambah, orang banyak yang bokek, kenaikan harga BBM bisa jadi masalah politik.


***


Paradox kemajuan high tech.


Sejak 10 tahun lalu, negara maju seperti Eropa, AS, China, Jepang, Korea, sedang berusaha mengurangi emisi karbon dengan mengganti pembangkit listrik dari fuel batubara ke gas. Namun Indonesia walau sudah ada kebijakan pembangunan energi alternatif namun tidak melarang berdirinya PLTU batubara. Termasuk mengizinkan swasta membangun sendiri pembangkit listrik lewat skema IPP untuk kebutuhannya. Tentu ini jadi peluang bagi pengusaha di China, Jepang, dan Korea untuk bangun industri dengan bahan bakar murah, batubara


Era SBY ijin tambang Nikel dan smelter di keluarkan di Sulawesi dan Maluku. Investor China dan Jepang bangun smelter di Sulawesi itu bukan karena pertimbangan adanya SDA berupa nikel. Tetapi karena wilayah Sulawesi  dekat dengan Australia. Mengapa ? Smelter itu membutuhkan listrik besar. Itu harus disediakan sendiri oleh smelter. Tidak bisa andalkan PLN. Bahan bakar berupa batubara didatangkan dari Austalia. Kemudian OR 2% banyak dari Australia daripada di Sulawesi. Begitu juga, China berniat membangun pabrik baterai dari lithium. Itu bahan mineralnya didatangkan dari Australia. Bukan dari Indonesia. Namun mereka bangun pabrik di Indonesia. Mengapa? karena Indonesia membolehkan Independent Power plant ( IPP) dengan fuel dari batubara. Korea juga sama. Bangun pabrik baterai di Indoesia dengan alasan yang sama, yaitu faktor listrik dan logistik.


Sejak bebepa tahun lalu, pertumbuhan industri elektronika yang rakus listrik sangat cepat. Misal Pabrik apple , 1 line itu membutukan listrik 1000 MW. Di China, ada 12 pabrik Apple. Itu sama dengan 1/4 kapasitas listrik kita secara nasional. Mengapa begitu rakus? karena mengubah logam tanah jarang jadi metal itu memerlukan energi besar untuk menghasilkan panas tinggi seperti energi fusi. Belum lagi pabrik processor  yang sangat rakus listrik untuk mengolah berbagai logam menjadi metal yang tahan panas tinggi.  


Dari perkembangan Industri elektronika untuk mendukung bisnis IT, diperlukan data center, yang juga rakus listrik untuk menggerakan server berskala terrabit. Untuk ukuran data center menengah saja, sedikitnya membutuhhkan listrik 100 Mega Wat. Bayangin berapa banyak data center di dunia ini. Bahkan satu penambang Bitcoint dengan dereten server membutuhkan  listrik yang setara dengan listrik satu kota. Jadi mimpi dunia mau masuk ke cyber community dan hidup dengan artificial intellgent, Internet of things, tidak semudah itu terjelma. 


Dan sekarang dunia menghadapi krisis energi. Karena energi alternatif tidak cukup memenuhi kerakusan manusia untuk masuk ke abad digital.  Mobil listrik memang solusi pengganti BBM, tetapi menciptakan baterai itu memerlukan energi listrik raksasa. Lebih besar dari kebutuhan listrik satu kota. Jadi, yang kita anggap mudah, murah, hemat, sesungguhnya sangat tidak mudah, bahkan mahal. Apalagi kalau kekurangan energi itu kita pasok dari energi fosil, ya paradox: kemajuan dicapai, yang pada waktu bersamaan bunuh diri akibat pencemaran udara.

Sunday, September 26, 2021

Keadilan ekonomi

 




Tahun 2018 saya berkunjung ke Beijing dalam rangka restruktur hutang holding. Dalam waktu kesempatan makan malam dengan Lyly, otoritas keuangan China, dia mengatakan “ Tidak ada yang salah dengan ketimpangan Rasio GINI. Tidak semua negara  mempunyai SDM ketika memulai pembangunan ekonomi dalam keadaan siap. Ada yang masih tertidur, ada yang dalam keadaan tidur dan terjaga, ada yang benar benar terjaga tapi bingung, ada yang terjaga berdiri dan siap berlari. Kita tidak bisa memulai dengan kondisi ideal semua orang harus siap. Ya mulai dari siapa saja yang siap saja.


Ketika awal Xijinping berkuasa. "  Pemerintah tidak bisa hanya  sekedar dapat mandat politik untuk berkuasa dan melanjutkan proses estapet kekuasaan. Komite Rakyat juga harus mau diaudit terhadap proses politik selama ini. Apakah keputusan politik komite rakyat sudah benar untuk rakyat? Kalau faktanya setelah sekian puluh tahun kita membangun masih ada 800 juta rakyat hidup dengan penghasilan dibawah USD 2  perhari. Masih ada mereka yang tidak punya rumah. Masih ada mereka tinggal di tempat kumuh yang sulit mengakses kesehatan."


Pidato Xijinping itu diliput oleh media massa, dan menjadi sangat luar biasa dalam budaya politik di China. Pemerintah mengkritik lembaga perwakilan rakyat. Karena memang sumber masalah adalah sistem politik atas nama rakyat, kalau wakilnya sendiri lebih buruk dari pemerintah. “ Sistem perwakilan yang tidak memihak kepada rakyat, akan menghancurkan sistem politik itu sendiri. Lebih buruk daripada kutu dalam selimut. Lebih buruk daripada krikil dalam sepatu.” Kata Lyly.  Lantas apa kebijakan fenomenal Xi? Tanya saya. 


Ly mengatakan ada dua hal yang sangat mendasar. Yaitu pertama, menyediakan rumah dan merevitalisasi desa secara nasional. kedua, Memperbaiki kualitas rasio GINI secara nasional lewat redistribusi keadilan ekonomi. Cukup dua hal itu saja mandat yang diperlukan oleh pemerintah dari wakil rakyat. Pemerintah akan bekerja dan silahkan nilai. Siapapun yang menghalangi, peti mati tersedia bagi mereka.  Anggaran disediakan USD 1 triliun. Tahun 2021, atau 8 tahun setelah Xi berkuasa,  Bank Dunia mengatakan, China telah sukses mengangkat lebih dari 800 juta orang keluar dari kemiskinan ekstrem sejak beralih ke reformasi pasar pada tahun 1970-an. 


China dapat mendali dari World bank. “ Kepemimpinan PKT dan sistem sosialis Cina adalah jaminan mendasar terhadap risiko, tantangan, dan kesulitan," kata Xi di Balai Besar Rakyat Beijing, di mana ia mempersembahkan medali kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam memerangi kemiskinan. Tidak ada negara lain yang bisa mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan dalam waktu sesingkat itu," kata Xi. "Sebuah keajaiban manusia telah tercipta, yang akan tercatat dalam sejarah.”


Saya kirim email ke Lyly mengucapkan selamat. Dia membalas, proses itu tidak mudah. Ada banyak mereka yang masuk peti mati. Banyak kekuasaan pemodal yang dipotong kakinya. Ada deretan konglomerasi yang terpaksa harus dibiarkan jatuh dalam proses redistribusi keadilan ekonomi. Akan ada banyak anggaran dialihkan ke R&D sektor pertanian dan praktis. Proses membela orang miskin itu sangat mahal. Benar benar digoncangkan. Perang mental antar kelas. Rasio GINI masih tetap 0,40 tetapi 60% rakyat tidak ada yang sengsara dengan penghasilan dibawah RMB 1000 ( Rp. 1,6 juta sebulan). Tahun tahun kedepan akan terus berproses memerangi kemiskinan dan distribusi keadilan ekonomi. Karena itu rakyat punya hope.