Thursday, May 14, 2026

Kita tidak pernah serius membangun negara..



 

Pendahuluan.

Kritik media internasional terhadap arah ekonomi dan demokrasi Indonesia di era Prabowo Subianto sebenarnya tidak muncul dalam ruang kosong. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah sorotan dari The Economist yang menilai Indonesia mulai menghadapi kombinasi berbahaya: pelemahan kualitas demokrasi di tengah meningkatnya tekanan fiskal dan ekonomi.


Sebagian kalangan di dalam negeri sering memandang kritik seperti itu semata-mata sebagai serangan politik Barat terhadap pemerintah Indonesia. Namun jika dibaca lebih dalam, kritik tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih struktural dan telah berlangsung lama, yaitu kegagalan negara membangun sistem pendidikan, budaya teknokrasi, serta institusi publik yang berbasis sains dan meritokrasi.


Masalah utama Indonesia bukan sekadar pada pergantian rezim atau figur pemimpin. Persoalannya lebih mendasar. Selama puluhan tahun, sistem pendidikan nasional terlalu berorientasi pada administratif, hafalan, dan reproduksi kepatuhan sosial, bukan pada pembentukan manusia yang kritis, ilmiah, kreatif, dan mandiri secara intelektual. Akibatnya, elite politik yang lahir dari sistem tersebut sering kali lebih kuat dalam membangun narasi populis dibanding membangun kapasitas teknokrasi negara.




Dalam demokrasi modern, legitimasi politik tidak cukup hanya berasal dari kemenangan elektoral. Pemerintah juga dituntut mampu menghasilkan kebijakan yang rasional, transparan, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di sinilah hubungan antara pendidikan, sains, demokrasi, dan kualitas ekonomi menjadi sangat penting.


Ketika sistem pendidikan gagal membangun budaya berpikir kritis dan scientific reasoning, maka ruang publik perlahan dipenuhi oleh politik emosional, kultus figur, dan polarisasi identitas. Kritik dianggap ancaman. Loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi. Popularitas lebih penting daripada kualitas kebijakan.


Dalam situasi seperti itu, demokrasi secara formal mungkin tetap berjalan, pemilu tetap ada, partai tetap bergerak, dan parlemen tetap aktif. Namun substansi demokrasi perlahan mengalami distorsi karena pengambilan keputusan lebih banyak ditentukan oleh kompromi elite politik dibanding proses deliberasi ilmiah yang sehat. Dampaknya langsung terasa terhadap arah ekonomi negara.


Ketika kebijakan ekonomi lebih didorong oleh kebutuhan menjaga stabilitas politik jangka pendek dibanding transformasi produktivitas jangka panjang, maka APBN perlahan berubah menjadi alat stabilisasi kekuasaan, bukan instrumen pembangunan peradaban. Belanja negara meningkat, tetapi kapasitas industri, riset, teknologi, dan produktivitas nasional tidak naik secara proporsional.


Pendidikan yang membangun.

Singapore tidak memiliki sumber daya alam yang signifikan. Luas wilayahnya kecil, dan jumlah penduduknya bahkan hanya sekitar 10% dari populasi Jawa Barat. Namun demikian, PDB Singapura telah mencapai sekitar US$600 miliar—setara hampir 35–40% dari total PDB Indonesia yang memiliki lebih dari 280 juta penduduk serta kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih besar. 


Tentu saja, membandingkan Indonesia dengan Singapura sering dianggap tidak sepenuhnya apple to apple karena perbedaan skala geografis, jumlah penduduk, dan kompleksitas sosial-ekonomi yang sangat besar. Karena itu, perbandingan dengan China mungkin lebih relevan dalam perspektif pembangunan jangka panjang. China juga bukan negara yang secara historis kaya minyak dan gas bumi. Bahkan hanya sekitar 10% wilayah lahannya yang dapat digunakan untuk pertanian produktif. 


Namun, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, China mampu membangun kapasitas industri, teknologi, infrastruktur, dan manufaktur yang sangat besar hingga menghasilkan PDB sekitar US$19 triliun. Sementara itu, PDB Indonesia masih berada di kisaran US$1,4–1,5 triliun. Dengan demikian, ukuran ekonomi China saat ini sekitar 12 kali lebih besar dibanding Indonesia.


Mengapa jarak pembangunan antara Indonesia dengan Singapore atau China begitu jauh? Salah satu jawabannya terletak pada pendidikan. Namun pendidikan di sini bukan sekadar jumlah kampus, gedung sekolah, atau banyaknya lulusan setiap tahun. Pendidikan modern adalah sebuah sistem yang terintegrasi dengan riset dan pengembangan (Research and Development/R&D), industri, kebudayaan, serta arah pembangunan nasional jangka panjang.


Dalam negara-negara yang berhasil melakukan lompatan peradaban, sistem pendidikan tidak hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi melahirkan manusia yang mampu menciptakan teknologi, inovasi, dan kapasitas produksi baru. Pendidikan menjadi fondasi bagi tumbuhnya kreativitas, disiplin ilmiah, keberanian bereksperimen, serta semangat kemandirian bangsa. Karena itu, sistem pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan ekosistem nyata laboratorium riset, industri, pusat inovasi, pengembangan teknologi,  hingga kebutuhan strategis negara. 


Sains tidak hanya dipahami sebagai disiplin akademik, melainkan sebagai cara berpikir. Setiap gagasan, kebijakan, maupun keputusan publik harus bertumpu pada pendekatan ilmiah, rasionalitas, serta akal sehat. Dengan demikian, pembangunan tidak bergerak berdasarkan emosi sesaat, kultus individu, atau sekadar narasi populis, tetapi melalui proses yang terukur, dapat diuji, dan dipertanggungjawabkan secara intelektual.


Sistem seperti ini pada akhirnya akan membentuk budaya meritokrasi secara alami. Penghargaan diberikan atas kompetensi, kapasitas, integritas, dan etos kerja—bukan semata karena kedekatan sosial, privilese, ataupun faktor nonproduktif lainnya. Dalam masyarakat yang bertumpu pada kompetensi, setiap individu memiliki peluang yang lebih setara untuk berkembang sesuai kemampuan dan kerja kerasnya.


Dari sana, keadilan proporsional akan tumbuh secara organik. Bukan keadilan yang dibangun atas rasa iri atau sekadar pembagian yang seragam, melainkan keadilan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk bertumbuh, berkompetisi secara sehat, dan memperoleh hasil sesuai kontribusinya.


Ketika masyarakat percaya bahwa pendidikan, kerja keras, dan kemampuan benar-benar dihargai, maka semangat untuk maju akan muncul dengan sendirinya. Kreativitas berkembang. Inovasi tumbuh. Produktivitas meningkat. Dan bangsa tidak lagi bergerak karena dorongan sesaat, melainkan karena kesadaran kolektif untuk membangun peradaban yang lebih maju, adil, dan bermartabat.


Di banyak negara maju Asia, investasi terhadap R&D dilakukan secara berjenjang dan sistematis, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Anak-anak tidak hanya diajarkan menghafal, tetapi juga membangun rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan budaya menyelesaikan masalah. Yang menarik, standar kemajuan mereka tidak selalu diukur dari seberapa “asing” sebuah sistem pendidikan, melainkan dari kemampuan menerjemahkan modernitas ke dalam karakter budaya bangsa mereka sendiri.


China, misalnya, tetap membangun modernisasi dengan karakter kolektif dan disiplin sosial yang kuat. Singapura membangun efisiensi dan meritokrasi dalam tata kelola publiknya. Sementara Jepang dan Korea Selatan mengintegrasikan etos kerja, pendidikan, dan identitas nasional sebagai bagian dari strategi pembangunan.





Ekonomi berbasis sains.

Dalam sejarah pembangunan modern, tidak ada negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi tanpa membangun sistem pendidikan yang kuat. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk besar, ataupun posisi geografis strategis tidak otomatis menghasilkan kemajuan jika tidak ditopang oleh kualitas manusia yang mampu mengelola dan mengembangkan potensi tersebut. Karena itu, pada akhirnya struktur ekonomi suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas sistem pendidikannya.


Pendidikan bukan sekadar proses menghasilkan lulusan atau memperbanyak gedung sekolah dan universitas. Pendidikan adalah fondasi pembentukan cara berpikir sebuah bangsa. Dari sistem pendidikan lahir karakter manusia, budaya kerja, kapasitas sains, kemampuan teknologi, hingga pola organisasi ekonomi nasional.


Negara dengan sistem pendidikan yang baik cenderung memiliki struktur ekonomi yang lebih kompleks dan produktif. Mereka tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah melalui teknologi, inovasi, riset, dan industri modern. Sebaliknya, negara dengan kualitas pendidikan yang lemah umumnya terjebak pada ekonomi berbasis konsumsi dan eksploitasi sumber daya alam. Pertumbuhan ekonomi mungkin tetap terjadi, tetapi sering kali rapuh karena bergantung pada harga komoditas, utang, atau konsumsi jangka pendek.


Dalam ekonomi modern, ukuran penting yang menggambarkan kemajuan struktur ekonomi dikenal sebagai Economic Complexity Index (ECI). Indeks ini mengukur kemampuan suatu negara menghasilkan produk dan jasa yang membutuhkan pengetahuan, teknologi, serta kapasitas industri yang kompleks.


Negara dengan ECI tinggi biasanya mampu memproduksi semikonduktor, robotik, aerospace, farmasi, bioteknologi, kendaraan listrik, hingga teknologi digital canggih.  Produk-produk tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi panjang dari pendidikan, budaya sains,  riset dan pengembangan (R&D),  serta keterhubungan antara universitas, industri, dan negara.  Karena itu, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan pekerja, tetapi menciptakan manusia yang mampu membangun peradaban teknologi.


Di banyak negara maju Asia seperti Japan, South Korea, Singapore, dan China, sistem pendidikan dirancang untuk membentuk budaya berpikir ilmiah sejak usia dini. Anak-anak tidak hanya diajarkan menghafal, tetapi juga berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama, menghormati proses,  dan membangun disiplin intelektual.  Pendidikan mereka terhubung langsung dengan kebutuhan pembangunan nasional. Universitas menjadi pusat riset. Industri terhubung dengan laboratorium. Negara memberi dukungan besar terhadap inovasi dan pengembangan teknologi.


Akibatnya, struktur ekonomi mereka bergerak naik dari ekonomi berbasis tenaga kerja murah menjadi ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi tinggi. Sementara itu, Indonesia yang gagal membangun sistem pendidikan berbasis sains  mengalami kesenjangan produktivitas yang besar. Ekonomi tumbuh, tetapi nilai tambah terbesar justru dinikmati negara lain yang memiliki teknologi lebih maju.



Penutup.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa sumber daya alam melimpah, bonus demografi, pasar domestik besar, dan posisi strategis dalam perdagangan dunia.  Namun modal tersebut tidak akan cukup tanpa transformasi pendidikan yang serius. Pendidikan Indonesia harus bergerak melampaui sekadar orientasi administratif dan hafalan. 


Sistem pendidikan perlu diarahkan untuk memperkuat budaya sains, meningkatkan kapasitas riset, membangun kreativitas, menghargai meritokrasi,  serta menumbuhkan semangat inovasi dan kemandirian.  Yang tidak kalah penting, modernisasi pendidikan tidak berarti meninggalkan identitas bangsa. Justru negara-negara maju berhasil karena mampu menerjemahkan kemajuan teknologi ke dalam karakter budaya mereka sendiri.


Indonesia memiliki nilai sosial yang sangat kuat yaitu gotong royong, solidaritas, tepa salira, dan kemampuan adaptasi sosial yang tinggi.  Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi fondasi dalam membangun sistem pendidikan nasional yang modern tetapi tetap berakar pada kebudayaan bangsa. Dari sistem pendidikan seperti itulah akan lahir generasi yang egaliter, kreatif, inovatif, dan percaya diri menghadapi perubahan zaman. Generasi yang menghormati sains dan akal sehat, tetapi tetap memiliki empati sosial dan kesadaran kolektif sebagai bangsa.


Pada akhirnya, struktur ekonomi suatu negara bukan dibentuk oleh keberuntungan sejarah semata, melainkan oleh kualitas manusia yang dihasilkan sistem pendidikannya.Karena pendidikan yang baik tidak hanya menciptakan tenaga kerja.Ia menciptakan kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri.



No comments: