Saturday, July 25, 2020

Persaingan bisnis menemukan vaksin COVID-19



Vaksin itu bukan obat. Bukan. Itu hanya cara membantu sistem pertahanan tubuh  kita melawan penyakit. Sistem pertahanan tubuh kita ini disebut antibodi. Apa itu antibodi? Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap keberadaan antigen (zat asing) dan akan bereaksi dengan antigen tersebut. Pada umumnya, molekul antibodi berbentuk seperti huruf Y. Bagian ujung atas masing-masing antibodi punya bentuk yang unik. Bentuk ujung ini berguna sebagai identifier antigen (zat asing). Bentuk ujung tiap antibodi ini menyesuaikan bentuk protein khas yang ada di permukaan zat asing yang diresponnya. Memang canggih Tuhan ciptakan Antibodi ini. Dia punya radar sendiri untuk mengindentifikasi musuh agar tidak meleset kalau lepasin rudal.

Sebetulnya metode menciptakan vaksin ada tiga, yaitu Pertama, Vaksin protein rekombinan. Kedua, vaksin vektor adenovirus Ketiga, vaksin yang tidak diaktifkan.

Perrtama. Vaksin protein rekombinan. Vaksin jenis ini hanya menggunakan sebagian dari virus yang ditargetkan untuk memicu respons kekebalan yang melindungi. Vaksin jenis ini sudah masuk uji coba pada hewan dan manusia, sukses. Rencana akhir tahun ini akan di produksi massal. Vaksin rekombinan umum termasuk yang melawan hepatitis B, influenza, batuk rejan dan human papillomavirus atau HPV. Vaksin protein rekombinan juga dikembangkan bersama oleh Institut Mikrobiologi dan Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical. Amerika Serikat, Israel, Jepang, Argentina, Thailand dan negara-negara lain sedang mengerjakan vaksin rekombinan serupa termasuk Indonesia yang bekerjasama dengan Korea.

Kedua. Vaksin Vektor adenovirus, Vektor adenovirus adalah vektor yang paling sering digunakan untuk terapi gen kanker. Mereka juga digunakan untuk terapi gen dan sebagai vaksin untuk mengekspresikan antigen asing. Vektor Adenovirus dapat menjadi replikasi-rusak; gen virus esensial tertentu dihapus dan diganti dengan palsu yang mengekspresikan gen terapeutik asing. Vektor semacam itu digunakan untuk terapi gen, seperti vaksin. Vektor yang kompeten untuk replikasi (oncolytic) digunakan untuk terapi gen kanker. Vektor oncolytic dirancang untuk mereplikasi secara istimewa dalam sel kanker dan untuk menghancurkan sel kanker melalui proses alami replikasi virus litik. Banyak uji klinis menunjukkan bahwa vektor adenovirus yang replikasi-cacat dan kompeten-aman dan memiliki aktivitas terapeutik.

Ketiga. Vaksin inaktif. Vaksin inaktif dihasilkan dengan menghancurkan infektivitasnya namun imunogenitasnya masih dipertahankan dengan cara: Fisik misalnya dengan pemanasan, radiasi dan Chemis, dengan bahan kimia fenol, betapropiolakton, formaldehid, Dengan perlakuan ini virus menjadi inaktif tetapi imunogenitasnya masih ada. Vaksin ini sangat aman karena tidak infeksius, namun diperlukan jumlah yang banyak untuk menimbulkan respon antibody. Jenis vaksin ini memiliki karakteristik memakai mikroba yang sudah dibunuh dengan formalin ataupun fenol. Contoh: vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid.

Semua negara maju bersama China, bersaing keras menjadi terdepan dalam riset vaksin COVID-19. Karena ini menyangkut kemanusiaan dan bisnis miliaran dolllar. Secara keseluruhan, AS memimpin perlombaan vaksin dengan 39 proyek penelitian, baik secara mandiri atau dalam kemitraan dengan negara lain. Lembaga dan perusahaan Cina sedang mengerjakan 20 proyek. Dari 39 proyek yang sedang berjalan, 11 di antaranya telah maju melampaui "fase praklinis," yang berarti pengujian telah dilakukan pada manusia. Cina sedang mengerjakan lima dari pengembangan vaksin itu, sementara AS sedang mengerjakan tiga. Puluhan miliar dolar telah disuntikkan ke dalam penelitian vaksin Covid-19. Sekitar US $ 2,38 miliar telah dialokasikan untuk atau sudah dihabiskan untuk 11 proyek teratas yang sedang dalam tahap uji klinis.

Berdasarkan WHO ada sekitar 142 kandidat vaksin dalam pengembangan di seluruh dunia, 13 di antaranya telah memasuki uji klinis. Kandidat vaksin AZD1222, yang diciptakan oleh para peneliti dari Universitas Oxford dan perusahaan biotek AstraZeneca, memasuki uji coba fase dua dan tiga bersamaan di Inggris pada akhir Mei. Pada pertengahan Juni, perusahaan bioteknologi AS, Moderna menyelesaikan protokolnya untuk uji coba fase tiga kandidat vaksin asam nukleat COVID-19 mRNA-1273. Ilmuwan dan perusahaan Cina telah menguji enam vaksin potensial dalam uji klinis di China, termasuk satu vektor, empat vaksin protein tidak aktif dan satu protein rekombinan. 

***


“ Babo, mengapa kita mau jadi kelinci percobaan China? tanya nitizen.

“ Kamu ngomong apa ?

“ Itu soal vaksin dari China? 

“ Itu vaksin bukan buatan China tetapi buatan Tuhan dan China kasih tahu kita gimana caranya memproduksinya.”

“ Maksudnya ? apa????

“ Vaksin yang akan diuji klinis di Indonesia disebut dengan vaksin yang tidak diaktifkan atau vaksin inaktif. Ya gunakan Virus itu sendiri sebagai pembunuh virus. Caranya, virus itu dilemahkan sampai tidak aktif lagi. Nah virus itu dimasukan kedalam tubuh kita. Itu artinya bahannya ya virus. Virus kan bukan ciptaan manusia. Dia ciptaan Tuhan. “

“ Oh jadi vaksin itu bukan dibuat dari babi ". “

“ Engga ada kaitan dengan Babi. Jadi aman bagi orang islam.”

“ Mengapa virus itu dimasukin ke dalam tubuh kita?

“Agar tubuh kita merespon dan menciptakan kekebalan sendiri terhadap jenis virus itu.”

“. Terus mengapa harus di uji coba di Indonesia?

“ Vaksin dari China itu kan menggunakan virus wuhan. Kita tidak tahu apakah efektif juga digunakan di Indonesia. Karena belum tentu jenis gonomnya sama dengan yang ada di China. Kalau hasil uji coba efektif, maka formula dan metodelogi vaksin itu akan kita produksi secara massal. “

“ Kenapa murah?

“ Ya. Pasti murah meriah. Karena Tuhan yang membuat formula vaksin itu, agar semua manusia bisa sehat. Kaya miskin bisa mendapatkanya. Tujuan Tuhan agar kita bersukur dan tidak mendustakan nikmatNYA. Paham ya sayang.” 

“ China dapat apa ?

“ Ya engga dapat apa apa. Kan itu penemunya adalah Tuhan, bukan manusia. China membuat vaksin ini untuk misi kemanusiaan. 

“ Emang negara lain seperti Eropa dan AS engga ada vaksin jenis itu ?

“ Ada juga. Namun secara bisnis mereka focus membuat formula lewat rekayasa biotec seperti Vaksin protein rekombinan dan Vaksin Vektor adenovirus. Tentu mahal harganya. Itu bisnis. Karena biaya riset mahal. Nanti kita bisa milih jenis vaksin apa yang akan kita gunakan. Apakah vaksin jenis pertama, kedua atau ketiga. Tapi vaksin jenis ketiga murah. Tahun depan indonesia akan produksi 100 juta vaksin ketiga itu.

Thursday, July 23, 2020

Prayogo Pangestu nomor tiga terkaya di Indonesia.


Tahun 2019, ketika meresmikan pembangunan pabrik kedua polyethylene PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) anak perusahaan Pt. Barito Pacific, Jokowi mengatakan agar Prayogo membantu mengurangi defisit perdagangan Petrokimia Indonesia. Saat itu defisit neraca perdagangan sektor petrokimia Indonesia sebesar Rp193 triliun, disebabkan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor. Untuk kebutuhan produk petrokimia mencapai 2,3 juta ton, dan baru bisa terpenuhi 736 ribu ton. Sementara 1,5 juta ton harus impor. Pabrik yang diresmikan itu kapasitasnya mencapai 400 ribu ton dan akan menjadikan total produksi polyethylene Chandra Asri menjadi 736 ribu ton per tahun. Investasi pabrik ini sekitar Rp60-Rp80 triliun. Pembangunan pabrik ditargetkan rampung empat tahun ke depan.

Pt. Barito Pacific Tbk juga adalah pemegang saham pembangkit listrik Jakarta dan Banten, melalui kepemilikan tidak langsung atas PT Indo Raya Tenaga, yang merupakan konsorsium pembangkit listrik yang bermitra dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan 15% saham milik Korea Electric Power Corp (Kepco). PT Indo Raya Tenaga menguasai mayoritas saham yaitu 51%. Kemarin tanggal 17 juli 2020, Proyogo melalui Holding Pt. Barito Pacific Tbk ( BRPT) memberikan pinjaman kepada anak perusahaanya PT. Indo Raya Tenaga sebesar US$ 252,7 juta dalam rangka meningkatkan kapasitas listri lewat pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten. 

Siapa Prayogo Pengestu ? Pria kelahiran Kalimantan. Awalnya pada tahun 1960 dia berkeja sebagai sopir angkut di Kalimantan. Suatu saat di tahun 1969, dia berkenalan dengan Bong Sun On di Malaysia. Pertemuan itulah yang kemudian mengubah nasibnya. Bong Sun On mengenalkanya kepada Burhan Urai pemilik Djayanti Group. Burhan Urai merekrutnya bekerja di Djayanti Group. Ternyata karirnya melesat dengan cepat sampai menduduki jabatan General Manager. Karena posisi sebagai GM di Djayati Group yang merupakan Kroni Soeharto, membuat hubungannya dengan keluarga Cendana juga semakin dekat. 

Pak Harto melihat potensi besar pada Prayogo , menyarankan agar dia berbisnis sendiri.  Diapun keluar dari Djayanti Group dan mengabil alih perusahan yang punya izin HPH, yaitu CV Pacific Lumber Coy yang sedang kesulitan keuangan. Sejak itu usahanya terus berkembang dan berganti nama menjadi PT Barito Pacific Lumber. Tahun 1993 masuk terdaftar di pasar modal. Namun sejak itu Prayogo mulai mengurangi porsi bisnis kayunya. Yang hebatnya dia ekspansi ke bidang yang jauh sekali dari pengalamannya, dan berhubungan dari bisnis yang sangat visioner dan high tech. Padahal dia tidak well educated.  Dia bermitra dengan keluarga Om Lim membangun pabrik Petrokimia Tripolita dan Tjandra Asri. Namun ketika krismon terjadi tahun 1998, dia mengalami kesulitan keuangan. Karena semua tahu dia bermitra dengan keluarga Cendana. Engga ada bank mau memberikan kredit lagi. 

Politik sangat kejam dari mereka yang mau membancaki assetnya. Tetapi Prayogo tetap tegar walau dia tersangkut beragam kasus seperti kasus dana reboisasi hutan dan lain lain. Ketika Gus Dur jadi presiden, Prayogo mendapatkan dukungan moral yang besar. Bahkan Gus Dur memberikan penghargaan kepada Prayogo sebagai pengusaha nasional yang terbukti mengabdikan hidupnya untuk pembangunan ekonomi Indonesia. Namun kasusnya di Era SBY semakin kencang mengancam bisnisnya. Akhirnya dia bisa lewati semua itu. Prayogo bisa bangkit lagi dari keterpurukan akibat krismon. Terutama sejak Dhanin Chearavanont, konglomerat migran China di Thailand membantunya lewat kemitraan dengan Charoen Pokphan.  

Tahun 2007 Prayogo meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Chandra Asri Tbk sehingga jadi 70%. Lalu setahun kemudian, mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk milik keluarga salim. Dimana keduanya kemudian digabung menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia dengan nama PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Di tahun 2015, TPIA bekerja sama dengan perusahaan ban asal Perancis, Michelin, untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia. BRPT kembali melebarkan sayapnya dengan mengakuisisi Star Energy Group Holding Pte Ltd di tahun 2018. Perusahaan tersebut memiliki usaha pembangkit listrik tenaga panas bumi. 

Tahun 2019, Prajogo Pangestu menjual 350 juta unit saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) senilai Rp 1,22 triliun. Lima bulan lalu atau desember 2018 dia menual sahamnya senilai Rp 1,37 triliun. Itu dia lakukan demi komitmennya melanjutkan ekpansi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Keliatanya dia focus kepada bisnis petrokimia. Namun tahun 2020, Kepemilikan Prajogo Pangestu di PT Barito Pacific Tbk meningkat menjadi 72,14% dari sebelumnya 71,53%. Kepemilikan tersebut meningkat setelah adanya pelaksanaan waran.  
Menurut majalah Forbes, posisi Prajogo melonjak tujuh peringkat ke urutan ketiga terkaya di Indonesia, dengan kekayaan bersih US $7,6 miliar atau setara dengan Rp 106 triliun, dari US $3 miliar tahun 2018. Kenaikan aset tersebut seiring dengan optimisme investor pada prospek perusahaan yang mengerek harga saham Barito Pacific.

Ya era Soeharto dia naik karena kekuasaaan, tetapi sekarang dia naik karena pasar, bukan karena kroni dengan penguasa atau bisnis rente. Tetapi kalau anda ke kantor Prayogo, photo dia bersama Pak Harto tetap dipajangnya, bahkan di rumahnya photonya bersama pak Harto masih dia pajang. Rasa terimakasihnya tidak pernah hilang kepada Pak Harto. Dia tidak takut kedekatannya dengan Soeharto dimasalalunya akan menghancurkan bisnisnya. Baginya Soeharto bukan hanya seorang presiden, tetapi seorang bapak yang menjadikan dia mantan supir angkutan jadi pengusaha sukses.Tahun 2019, Prayogo Pangestu mendapat anugerah dari negara: bintang jasa utama. Dia tetap pengusaha yang rendah hati.

Monday, July 20, 2020

COVID-19 datang., ekonomi China juara dunia.



Dengan adanya pandemi dan sekaligus krisis ekonomi sebagai kelanjutan dari perang dagang, pada kwartal pertama Ekonomi China mengalami kontraksi 6,8%. Survey yang dilakukan media digital the Diplomat. Pada kwartal pertama,  separuh  UKM telah mengurangi jumlah karyawannya lebih dari 25 persen. Perusahaan besar mengurangi 20 persen tenaga kerja mereka. Yang paling memprihatinkan adalah sepertiga dari UKM mengalami tekanan cash flow yang parah. Mereka mengalami kesulitan membayar sewa, membayar gaji karyawan, membayar pemasok. Bagi China soal UKM ini sangat serius. Karena 60% bisnis di China ditopang oleh UKM. Inti dari komunisme ada pada UKM. Kalau UKM terpuruk, negara itu akan bubar dengan sendirinya.

Namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik China yang baru saja di rilis, pada kwartal kedua, ekonomi tumbuh positif di angka 3,2 persen. Mengapa China cepat sekali bangkit? Padahal kwartal pertama sempat negatif ? Penyebabnya ada tiga, yaitu :

Pertama, China tidak tergantung supply chain global. 90% supply chain China berasal dari dalam negeri. Sehingga tidak sulit bagi China untuk menghidupkan mesin industrinya. Sementara negara lain seperti AS, Eropa, Jepang, mayoritas (75%) perusahaan yang disurvei oleh Institute for Supply Management mengatakan mereka mengalami kesulitan akan supply chain. Empat dari 10 (44%) mengatakan supply Chain mereka tergantung kepada China dan mereka tidak punya cara yang efektif mengatasi ini. Karena masa pandemi terjadi restriksi perdagangan international, sehingga sulit mendapatkan pasokan dari China.

Kedua, Sudah lebih 10 tahun propaganda Pemerintah Pusat China agar rakyatnya doyan belanja produk dalam negeri. Atau lebih banyak menggunakan uang untuk belanja daripada menabung. Di pusat kota , ada slogan di billboard dalam ukuran besar “ belanjalah, agar kalian dan teman kalian tidak kehilangan pekerjaan”. Namun tidak bisa mengubah budaya nabung dan berhemat rakyat China. Dengan adanya covid-19, barang impor menurun dan jasa logistrik dari luar negeri melambat. Orang China terpaksa harus belanja produksi dalam negeri dan itu dipermudah dengan adanya aplikasi belanja online, dan fasilitas fintech belanja dengan kredit sebagai bagian dari program stimulus ekonomi untuk menghidupkan bisnis UMKM. 

Dengan demikian platform ekonomi baru China yaitu ke dalam negeri, jadi sukses. Covid-19 seakan social engineering yang efektif melakukan perubahan, bahwa China tidak lagi sepenuhnya tergantung pada pasar eksport. Itu ditandai dengan output industri nilai tambah China naik 4,4 persen Y2Y di kuartal II karena pabrik meningkatkan produksi. Pasar domestik bergairah. Vitalitas ekonomi menunjukan ujudnya secara nyata. Angka pengangguran turun 0,2%.

Ketiga, sebelum covid-19 China sudah menimbun bahan mineral dan baja serta crude oil. Sehingga kebutuhan industri petrokimia dan alat berat, downstream tidak terganggu ketika pasokan bahan baku dari negara lain berkurang. Sehingga program stimulus yang sangat besar dapat dilakukan dengan cepat. Pembangunan ekonomi “infrastruktur baru” dicanangkan dengan ambisius seperti jaringan 5G, stasiun pengisian NEV, program efisiensi energi, dan inisiatif lain yang memastikan China lead di masa depan sebagai negara yang tumbuh berkat high tech dan pasar domestik yang raksasa. Belanja APBN China sangat besar, dan ini mendorong terjadinya konsumsi, yang pada gilirannya menghidupkan kembali UKM dan supply chain. IMF memperkirakan tahun 2021 China akan benar benar ada di depan, dan meninggalkan negara maju lainnya, dengan pertumbuhan 9,2%.

Hal tersebut diatas beralasan. Karena para ekonom memprediksi tahun 2020 sebagian besar ekonomi negara maju akan berkontraksi. Meskipun AS telah memompa  uang USD 2,3 triliun untuk menstabilkan ekonomi, tetap tidak akan bisa membuat pertumbuhan positip. IMF memproyeksikan ekonomi AS akan kontraksi sebesar 5,9 persen pada tahun 2020 dan tumbuh sebesar 4,7 persen pada tahun 2021. Demikian pula tahun 2020 Ekonomi kawasan Euro akan drop  sebesar 7,5 persen, sebelum bangkit kembali menjadi 4,7 persen pada tahun berikutnya.

Kemarin saya teleconference dengan mitra saya di China. Pada kesempatan itu saya tanyakan ke dia “ Bagaimana China bisa membuat kebijakan yang tepat dan cepat. Sehingga dari kerusakan ekonomi yang parah pada kwartal pertama, dalam hitungan bulan bisa recovery. Ini hampir sulit bisa dilakukan negara lain” 

“ Kuncinya ada pada data. Pergerakan semua sektor terekam dengan baik oleh sistem database terpusat. Jadi keputusan pemerintah, bukan karena rumor atau asumsi tetapi berdasarkan data dan fakta yang ada. Dengan demikian, kami bisa menghitung dengan cepat berapa kebutuhan dana stimulus, dan apa langkah terbaik dilakukan dalam situasi krisis dan pandemi. Kebijakan pelonggaran menjaga jarak dalam rangka COVID-19 adalah salah satu kesuksesan dalam recovery enonomy,  namun tetap waspada. Di samping itu proses pengambilan keputusan yang cepat. Sama seperti bagaimana China bisa sepenuhnya mengendalikan COVID-19 dan cepat keluar dari lockdown dengan sukses.” kata mitra saya.

Bagaimanapun dengan mulai pulihnya ekonomi China, ini merupakan angin segar bagi negara ASEAN. Proses transformasi ekonomi baru China akan mendorong terjadinya relokasi Industri ke negara ASEAN. Tentu ini akan mempercepat proses pemulihan ekonomi ASEAN. Investasi China akan mengalir untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka yang rakus bahan baku, dan peluang pasar China otomatis terbuka lebar. Namun bagaimanapun tergantung dari pemimpin ASEAN, sejauh mana mereka bisa memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi ini dan mengendalikan COVID-19 untuk segera mulai berproduksi.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan PP tentang penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Untuk itu telah menunjuk Menteri Negara BUMN sebagai Ketua Pelaksana Satuan Tugas bidang Ekonomi. Ini menunjukan bahwa langkah kebijakan pemerintah akan menjadikan BUMN sebagai lokomotif utama menggerakan ekonomi di tengah pendemi Covid-19. Ini bisa dimaklumi. Karena revaluasi aset negara mencapai Rp10.467,53 triliun, naik hingga 65%. Padahal sebelum di revaluasi sebesar Rp6.325,28 triliun. Inilah yang akan jadi fuel dan trigger untuk melakukan serangkaian kebijakan extraordinary di bidang ekonomi. Indonesia dengan berpenduduk 268 juta dan  tingkat konsumsi terbesar di ASEAN, sangat berpeluang untuk lead di kawasan. Proyeksi World Bank dan IMF, hanya tiga negara yang masih diperkirakan bertahan di atas 0 persen atau positif  yaitu Indonesia, Tiongkok dan India. 

Saturday, July 18, 2020

Djoko Tjandra dan elite politik, skandal Bank Bali.


Djoko Tjandra adalah boss dari Grup Mulia yang didirikan tahun 1970, merupakan kongsi empat bersaudara yakni Tjandra Kusuma (Tjan Boen Hwa), Eka Tjandranegara (Tjan Kok Hui), Gunawan Tjandra (Tjan Kok Kwang), dan Djoko S Tjandra sendiri. Grup Mulia menaungi sebanyak 41 anak perusahaan di dalam dan luar negeri. Kalau anda tahu gedung Five Pillars Office Park, Lippo Life Building, Kuningan Tower, BRI II, dan Mulia Center, itu bagian dari property mereka.  Di era Soeharto dan Habibie koneksinya dengan elite Golkar dan TNI/POLRI sangat dekat. Kasus Bank Bali yang menyeret namanya adalah konspirasi terlicin dan tercanggih yang pernah ada di negeri ini. Karena kasus itupula dia jadi buronan.

Mengapa ? Baik kita lihat kronologinya. Berawal tahun 1998 ketika terjadi goncangan krisis moneter yang mengakibatkan bank terkena imbas dan berdampak sistemik. Pemeritah membuat kebijakan bail out, lewat program penjamin tagihan antar bank, terhadap bank yang terkena likuidasi. Atas dasar kebijakan itu, Bank Bali yang punya tagihan kepada BDNI minta agar dibayar. BDNI sudah ajukan ke BPPN.  Bank  Bali tagih kepada BPPN perihal tidak terbayarnya tagihan piutang di BDNI dan BUN yang timbul dari transaksi money market, SWAP, dan pembelian promissory notes. Tagihan pada BDNI, belum dihitung bunga sebesar Rp 428,25 miliar dan US$ 45 juta. Sedangkan tagihan ke BUN senilai Rp 200 miliar.  BPPN ajukan ke BI agar diproses. Namun BI menolak. Alasan BI, tagihan itu  belum didaftar. Bank Bali terlambat mengajukan klaim, Tagihan yang lain ditolak karena transaksi forward-sell tidak termasuk dalam jenis kewajiban yang dijamin.

Saya masih ingat tahun itu, banyak rumor yang mengatakan bahwa tagihan itu sengaja direkayasa. Karena situasi moral hazard. Ketika ada bailout dari pemerintah, bank sehat juga mengajukan claim. Rumor itu beralasan. Karena kalau benar ada tagihan, mengapa tagihan itu terlambat diajukan. Padahal jumlahnya besar. Apalagi saat itu setiap pengumuman BI selalu dinanti oleh para banker. Terlepas dari rumor itu, Bank Bali tetap gedor BPPN, agar tagihan piutang ke BDNI dan BUN dibayar. Namun BI cuek aja. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya Bank Bali menjual hak tagih ( cessie)  itu kepada PT Era Giat Prima (EGP) , dimana direkturnya Djoko Tjandra dan Setya Novanto. Total tagiha yang di cassie itu mencapai Rp. 3 triliun. 

Semua tahu bahwa di balik dari EGP itu ada politisi Golkar yang sedang menggalang dana untuk menggolkan Habibie jadi presiden dalam sidang umum MPR. Hebatnya, setelah cassie ditanda tangani, Wakil Ketua BPPN, Pande Lubis berjanji akan membantu Bank Bali.  BPPN kembali gedor BI agar melakukan verifikasi ulang atas tagihan Bank Bali ke BDNI dan BUN dari segi kewajaran dan kebenarannya. Namun kembali BI menjawab tegas bahwa tagihan itu tidak memenuhi syarat adminstrasi. Apakah BPPN menyerah? Tidak. Kembali BPPN mengajukan surat agar dilakukan verifikasi ulang. Anehnya dua bulan kemudian, BI jawab tidak ditemukan indikasi ketidakbenaran dan ketidakwajaran transaksi SWAP, forward dan L/C antara Bank Bali dengan BDNI, transaksi pembelian promes yang di-endorse BUN belum sesuai dengan prinsip praktek perbankan yang berhati-hati. Pintu terbuka untuk dapat tagihan.

Tetapi ada lagi keanehan. Bank Bali menyampaikan kepada BPPN soal ralat jumlah atas tagihan BDNI dan BUN. Tetapi BPPN menolak ralat itu terhadap BUN namun terhadap BDNI dapat diterima. Namun tetap harus ada persetujuan dari BI atau menteri keuangan. Hebatnya lagi, setelah itu keluar surat keputusan bersama BI dan Menkeu, soal Program Penjaminan Pemerintah. Keterlambatan administratif bisa diterima selagi tagihan valid. Entah valid atau tidak, yang jelas setelah SKB itu keluar, BPPN minta BI melakukan pembayaran dana antarbank Bank Bali sebesar Rp 904 miliar dengan cara menambahkan uang di rekening Bank Bali di BI.

Kemudian, BPPN instruksikan transfer dana dari rekening Bank Bali ke sejumlah rekening: Rp 404 miliar ke rekening PT EGP di Bank Bali Tower, Rp 274 miliar ke rekening Djoko S. Tjandra di BNI Kuningan, 120 miliar ke rekening PT EGP di BNI Kuningan. Totalnya Rp. 798 miliar dibancaki. Seharusnya dengan BI sudah bayar. EGP menyerahkan surat berharga pemerintah sebagai jaminan. Tetapi malah diubah dalam perjanjian penyelesaian. Isinya, Bank Bali agar memindah bukukan dana sebesar Rp 141 miliar ke PT EGP. Alasannya, tagihan Bank Bali dari BI hanya Rp 798 miliar, sehingga dikurangkan saja dengan uang yang mengalir dari BI sebesar Rp 904 miliar.

Namun anehnya setelah uang cair dari BI, BPPN baru menyadari. Surat resmi tagihan itu tidak datang dari EGP tetapi dari Bank Bali. Atas dasar itu dianggap oleh BPPN, EGP tidak berhak atas tagihan itu. Karena statusnya secara formal tidak ada kaitannya dengan Bank Bali. Tetapi Novanto gugat BPPN ke PTUN. Alasanya dia pegang kontrak cassie dengan Bank Bali. Novanto memenangkan gugatan itu. Bahkan di tingkat banding, tetap Novanto menang. Namun di tingkat MA, Novanto kalah. Apakah Novanto nyerah ? Engga. Era Giat juga membawa kasus ini ke ranah perdata dengan menggugat Bank Bali dan BI agar mencairkan dana Rp 546 miliar. Pengadilan, pada April 2000, memutuskan Era Giat berhak atas dana lebih dari setengah triliun rupiah itu. Kasus ini terus bergulir ke tingkat selanjutnya. Melalui putusan kasasinya, Mahkamah Agung memutuskan duit itu milik Bank Bali. Di tingkat peninjauan kembali, putusan itu tetap sama: duit itu hak Bank Bali.

Kemudian Bank Bali masuk proses akuisisi oleh Standard Chartered bank. Hasil due diligent Standard Chartered Bank menemukan terjadi tambahan kerugian akibat pembayaran sebesar Rp 546 miliar sehubungan dengan klaim antarbank sebesar Rp 905 miliar. Juga ada upaya  penjualan aset-aset bank oleh manajemen Bank Bali. Jelas BPPN menolak untuk menerima kerugian tambahan tersebut sebagai bagian dari rekapitalisasi. Urusan jadi stuck. Proses akuisisi dengan standard Chartered bank melewati batas waktu yang ditentukan BI. Dengan demikian Bank Bali dinyatakan berstatus Bank Take Over (BTO). Selanjutnya management Bank Bali tidak bisa lagi negosiasi dengan Standard Chartered Bank. Proses negosiasi diambil alih oleh BPPN. Rudi Ramli pun terdepak dari bank yang didirikan oleh ayahnya itu. 

Kasus inipun menjadi skandal. Mengapa ? tanpa dukungan dari pejabat tinggi di BPPN, Menteri Keuangan dan BI, tidak mungkin bisa terlaksana. Keberadaan PT EGP, secara hukum sebagai pemegang  Cassie tidak diketahui oleh semua otoritas, baik BI, BPPN, maupun Menkeu. Itu karena keberadaan direksi EGP sangat berperan melobi semua otoritas agar proses pencairan tagihan ini terlaksana. Kejagung menetapkan sejumlah tersangka, antara lain Djoko Tjandra, Syahril Sabirin (Gubernur BI), Pande Lubis (Wakil Kepala BPPN), Rudy Ramli, hingga Tanri Abeng (Mentri Pendayagunaan BUMN).  Mereka dituding telah melakukan korupsi yang merugikan kantong negara. Kejaksaan menyita dana Rp 546 miliar itu dan menitipkan ke rekening penampungan (escrow account) di Bank Bali.

Tapi yang diadili hanya tiga orang, Djoko Tjandra, Syahril, dan Pande Lubis. Pande Lubis dihukum empat tahun penjara atas putusan MA tahun 2004. Adapun Syahril Sabirin, kendati pengadilan negeri menjatuhkan vonis penjara tiga tahun, belakangan hakim pengadilan banding dan hakim kasasi menganulir putusan itu. Djoko Tjandra sebelum masuk bui setelah keputusan pengadilan 2009, keburu kebur. Sementara Rudi Ramli setelah keluar dari penjara, jadi  boss PT Daya Network Lestari, pengelola jaringan ATM Alto. Tahun 2018 dia mendirikan PT Sarana Pembangunan Syariah yang bergerak di bidang teknologi finansial untuk pembayaran.

Thursday, July 16, 2020

Kebijakan Jokowi merugikan Industri Eropa dan sekutunya



Undang-Undang (RUU) No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) dan kemudian di revisi tahun 2020, memang salah satu UU yang membuat tembok oligarki kapitalisme di Eropa dan Jepang berderak. Maklum, sebelumnya Eropa dan Jepang mendapatkan nilai tambah luar biasa dari keberadaan SDA minerba Indonesia. 60% hasil tambang tembaga Freeport di kapalkan ke Jepang untuk di olah di Smelter Jepang. Itu sudah berlangsung puluhan tahun. Sisanya diproses di smelter Spanyol. Selama itu kita engga tahu apa saja bahan ikutan dari mineral tembaga itu. Ada rumor mengatakan sebagian berupa uranium yang bernilai tinggi di pasar. Namun kita hanya bisa curiga, karena kita tidak tahu. Benar benar dibegoin.

Sejak UU No. 4 tahun 2009 disahkan, engga gampang melaksanakan UU itu. Karena loby dan tekanan dari Eropa, Jepang, AS sangat keras. SBY dikenal presiden yang menerapkan zero enemy. Makanya era SBY masih tarik ulur, dengan beragam kebijakan pelonggaran dalam bentuk quota ekspor sampai penambang bisa bangun smelter. Tetapi nyatanya tidak ada pengusaha mau bangun smelter dalam arti sesungguhnya. Kalaupun ada hanya ukuran kecil sebagai pelengkap izin tambang agar dapat quota lebih besar untuk ekspor mentah.

Era Jokowipun tidak bisa langsung diterapkan UU itu. Barulah tahun 2017 Jokowi berani bersikap. Itupun atas reaksi AS yang mengintervensi negosiasi dengan Freeport untuk divestasi “ Jokowi itu bukan tipe orang yang sulit diajak bicara. Tetapi kesalahan AS adalah mereka memaksakan kehendak kepada Indonesia soal Freeport dan kebetulan mungkin ada yang provokasi. Ya Jokowi bersikap keras. UU No. 4/2009 itu dia jadikan alasan hukum. Siap engga siap. Stop ekspor bahan mentah tambang. Semua harus bangun smelter. Lebih gila lagi, itu juga keharusan membangun downstream mineral. Tahun 2020, siap engga siap, harus siap.  Atau keluar dari Indonesia” Kata teman saya.

Protes Eropa ( tentu di belakangnya AS) terhadap larangan ekspor bahan mentah mineral oleh Indonesia adalah bukti bahwa AS sedang menekan Indonesia. Mengapa? AS dan sekutunya tentu tidak mau tergantung dengan China. Maklum unsur mineral dari  mineral nikel itu adalah logam tanah jarang ( LTJ). Yang sangat starategis bagi industri hight tech. Kalau AS tidak menguasai sumber daya LTJ, tentu sangat beresiko bagi masa depan industrinya. Apalagi Eropa sudah masuk ke Industri high tech, yang sangat membutuhkan LTJ sebagai bahan baku. Tanpa itu , perkembangan industri eropa akan stuck. Ini soal masa depan mereka sebagai negara industri. 

“ Bro, tahu engga. Sejak januari tahun ini, Uni Eropa udah masukin gugatan ke WTO terkait dengan larangan ekspor bijih nikel. Mereka kecewa atas sikap Pemerintah Jokowi melaragn ekspor bijih nikel. Itu mereka anggap tidak fair."

“ Tidak fair gimana. Puluhan tahun mereka menikmati rente dari SDA kita, dan sekarang ketika kita buat aturan harus diolah di dalam negeri, mereka bilang engga fair. Aneh”  Kata saya.

“ Loh kamu harus tahu.  90% industri smelter mereka collapse. Bukan hanya smelter yang collapse tetapi juga industri turunannya seperti industri peralatan dapur, ornamen-ornamen rumah dan gedung, elektronik, serta komponen industri yang menggunakan nikel sebagai bahan baku. Itu nilainya milliran dollar, dan belum lagi PHK. Kamu kan tahu bahwa Eropa itu selama ini adalah pengimpor biji nikel terbesar dari Indonesia. “

“ Ya kalau begitu, pindahkan smelternya ke Indonesia, termasuk industri turunannya. Gitu aja kok repot.”

“ Problemnya, Indonesia memberikan izin smelter dengan tekhnologi fero, itu sangat tinggi menghasilkan karbon doiksida dibandingkan dengan standar yang diterapkan industri peleburan Eropa. Jelas kalau mereka pindahkan pabriknya ke Indonesia mereka akan kalah bersaing dengan perusahaan lain seperti dari China. “ Kata teman.

“ Ah itu alasan aja. Mereka sebenarnya udah kejebak dengan paranoid mereka sendiri tetang tekhnologi pengolahan mineral yang berdampak pada pencemara udara. Padahal engga seperti yang mereka pikirkan. Tekhonologi fero juga bisa diantisipasi pencemaran udaranya.” kata saya sekenanya.

“ Mending Jokowi pikirkan lebih jauh dech. Jangan dilarang total tetapi longgarkan sedikit. Apa susahnya sih. “ 

“ Itu UU, bukan kata Jokowi. Saya sebagai pengusaha juga jelas sangat berat menerima kebijakan itu, tetapi sebagai warga negara kita harus dukung. Itu amanah UU, amanah 260 rakyat Indonesia. Ngerti dech.” Kata saya.

“ Indonesia itu engga akan sanggup melawan hegemoni politik Eropa, yang didukung oleh sekutunya dari AS. Terbukti mereka embargo CPO dari Indonesia. “

“ Eropa engga pernah embargo CPO. Kamu jangan provokasi dech.  Sampai akhir tahun 2019, Uni Eropa mencatat bahwa impor CPO dalam lima tahun terakhir relatif stabil dengan rata-rata 3,6 juta ton atau 2,3 miliar euro per tahun. Selain itu, pangsa pasar CPO Indonesia di Uni Eropa tetap merupakan yang terbesar, yakni sekitar 49 persen. Memang ada kenaikan tarif, itu bukan hanya berlaku bagi Indonesia tetapi berlaku juga bagi negara lain. Itu engga ada kaitannya dengan larangan ekspor biji nikel.” Kata saya.

“ Terus gimana dengan ancaman gugatan kepada WTO soal larangan Ekspor biji nikel. Dampaknya kalau kalah, sangat luar bagi perdagangan international Indonesia.” Kata teman.

“ Lah Jepang juga pernah gugat ke WTO soal larangan eskpor biji nikel, kalah juga di pengadilan. Tahu apa sebabnya? UU international tidak boleh mengadili gugatan atas produk UU negara lain. Karena kita negara berdaulat. Sudah saya bilang, larangan ekspor biji nikel itu bukan dari Jokowi tetapi UU"

“ Bro..” kata teman saya dengan wajah kawatir, “ Semua industri pengolahan mineral di luar negeri yang membutuhkan bahan baku untuk indusri hilirnya, mereka engga happy kalau harus membangun smelter di Indonesia. Ini bukan masalah sederhana. Serius."

“ Ah engga juga. China buktinya happy aja bangun smelter dan downstream di Indonesia.”

“ Itulah masalahnya. Di sinilah terjadi pertarungan lobi politik tingkat tinggi antara dua kekuatan, yaitu AS dan China ( bersama sekutunya Eropa dan Australia) untuk mendapatkan pengaruh di Indonesia. AS dan Eropa termasuk Jepang, jelas tidak ingin membangun smelter di Indonesia karena mereka ingin menghidupkan industri dalam negerinya. Sementara Jokowi tetap bersikeras. Ya politik jadi memanas terus. Sekarang konflik laut China selatan antara AS dan China semaking memanas. Itu pasti ada kaitannya dengan kebijakan Indonesia soal larangan ekspor biji nikel. Apa Jokowi kuat menghadapi tekanan kartel industri smelter di Eropa dan AS ? Apalagi di dalam negeri, kekuatan oposan seperti dapat amunisi menyerang pemerintah. Mereka tuduh Jokowi pro china, dan tunduk dengan geostrategis China dalam proyek OBOR“

“ Engga ada urusan dengan oposan. Ini soal UU. Seharusnya oposan itu loby DPR agar UU Minerba itu diubah. Ngapain demo Jokowi, nyalahin Jokowi.  Soal geostrategis China, sampai sekarang tidak ada proyek OBOR yang dieksekusi Jokowi. Engga ada. Cek aja. Soal smelter China di Sulawesi, itu murni investasi dalam koridor UU PMA. Engga ada keistimewaan khusus kepada China. “

“ Jangan pura pura bego luh. Lah zaman SBY aman ama saja walau ada UU Minerba. Kan presiden bisa buat Perppu soal pelonggaran ekspor. Yang penting aman. “

“ Saya engga lihat Jokowi berpikir aman soal prinsip. Dia kalau udah bersikap, engga mungkin dia mundur. Yakin dech. Buang waktu kalau mau lobi dia. “ Kata saya mengakhiri diskusi.

Wednesday, July 15, 2020

Neoliberal dikudeta lewat COVID-19



Tahun 80a sampai tahun 90a gaung neoliberal semakin kencang.  Tahun 98 terjadi krisis moneter ASIA. Reformasi berbau neoliberal semakin kencang masuk ke negara ASIA. Masuk tahun 2000an neoliberal sudah menjadi firman Tuhan bersama dengan demokratisasi. Namun tahun 2008, neoliberal terjerembab ke dalam skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah. Lehman brother collapse dan diikuti lembaga keuangan lainnya. Pemerintah AS terpaksa membailout kerugian wallstreet, dan 10 bank yang dapat bailout menyerahkan sahamnya kepada Pemerintah. Saat itu juga neoliberal yang mengharamkan negara terlibat, berubah total menjadi negara terlibat, dan mengatur pasar. Market regulated yang diharamkan neoliberal dicanangkan kembali oleh Obama, bersamaan dengan di mergernya OPIC kedalam International Finance and Development Corporation dan munculnya FiNRA  ( Financial Industry Regulation Authority) sebagai agent pemerintah yang sangat berkuasa mengendalikan pasar.

Sejak tahun 2008 sampai tahun 2019 terjadi perubahan cepat, memangkas semua kekuatan neoliberal. Puncaknya AS membuang kesampah kesepakatan neoliiberal dalam WTO mengenai tarif, dan menerapkan tarif sesukanya, “ Kepentingan domestik segala galanya” kata Trumps.  Perang dagang tak bisa dielakan. Mengapa? Karena neoliberal, kekuasaan korporate yang begitu besar telah merantai tangan negara. Karenanya membuat jutaan rakyat AS  jadi homeless dan pengangguran terjadi meluas. Ini harus diakhiri kata Obama. Bahkan kekuatan tersisa dari neoliberal pada WHO , telah jadi bahan olok olok Trumps. Dengan tegas Trumps mengatakan bahwa WHO berbicara atas kepentingan TNC bidang Pharmaci. Ini harus diakhiri.

Apa yang terjadi pada AS, juga terjadi di Eropa dan negara Asia lainnya. Market regulated seakan jadi kitab suci baru yang memastikan negaralah satu satu penguasa dalam segala hal. Tidak ada lagi korporat seenaknya mengatur bandul politik kawasan maupun Global. Puncak perubahan itu terjadi ketika COVID-19 diumumkan sebagai Pandemi. Value asset korporat di  Bursa telah menyusut 40%. Kelebihan kapasitan pada korporate sebagai akibat pelonggaran kredit beberapa tahun belakangan telah menjadi monster yang memenggal cadangan laba, akibat pasar menyusut dan bisnis bekerja jauh di bawah kapasitas yang ada. Tekanan biaya tetap berupa bunga dan gaji adalah ancaman yang pasti membuat korporat harus menyerahkan nasipnya kepada negara atau mati bersama jutaan pengangguran.

Di saat pendemi dan krisis ekonomi melanda, semua kekuatan kartel perdagangan, Industri , keuangan telah menjadi pesakitan. Membuat negara semakin berkuasa dengan serangkaian program stimulus ekonomi berskala gigantik. Pasar bebas dalam skala bersaing telah tergantikan dengan pasar terkendali dan negara menjadi market maker dan money maker. “ Kalau mau jujur, pandemi ini adalah cara politisi mengkudeta neoliberal dan melempar konglomerat financial dan industri ke dalam tong sampah dan dipermalukan. Kelak, hampir dipastikan sebagian besar korporat terdaftar dalam 500 fortune dinasionalisasi lewat kebijakan bailout dan stimulus.

Jadi kalau ingin dicurgai sebagai teori konspirasi, maka negaralah yang menjadi penyebab munculnya pandemi dan itu cara negara di dunia mengkudeta rezim neoliberal, untuk kembali kepada esensi bahwa negara adalah rakyat dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Neoliberal bukan suara Tuhan , tetapi suara yang berasal dari balik kegelapan yang telah berperan melebarnya rasio GINI sekian decade. “ kata teman banker. Namun bagi saya itu bukan teori tetapi hukum alam. Pada akhirnya ketika kekuasaan sudah sampai mempermainkan etika dan moral, kehilangan spirit iman,  saat itu kekuasaan akan jatuh dengan sendirinya, termasuk rezim Neoliberal. Setidaknya dengan adanya pandemi dan krisis ini negara punya alasan kuat untuk merestore system dari neoliberal menjadi regulated. Itu sangat beralasan sekali.  Mengapa ?

“ Cobalah bayangkan. Kata teman. " Ketika pandemi baru kita sadari. Oh ternyata 90% obat kita masih impor. Oh ternyata alat kesehatan masih impor semua. Bahkan kita produksi masker untuk pasar luar negeri, sementara pemerintah harus minta donasi dari luar negeri agar dapat masker dan APD.  Kemudian, kita baru tahu oh ternyata defisit pangan kita sudah sangat memprihatinkan, daya tahan pangan kita terancam. “ lanjut temannya. Itu salah satu contoh bagaimana TNC sebagai bagian dari rezim neoliberal yang menguasai kartel obat dan alat kesehatan telah mengakibatkan kita engga punya pabrik obat dan alat kesehatan untuk mandiri. Rumah sakit kekurangan ICU  dan tempat tidur. Pelayanan publik terabaikan. Itu juga contoh bagaimana kartel pangan telah membuat kita puluhan tahun tidak bisa surplus pangan dan tergantung impor. Harga minyak dibuat jatuh agar upaya bangun kemandirian refinery jadi kendur dan tetap tergantung impor BBM. 

Kemarin Jokowi berencana akan membubarkan 18 lembaga yang dianggap bagian dari konsep neoliberal, dan membentuk 9 lembaga sebagai agent yang membuktikan negara semakin berkuasa atas apa saja. Lewat pandemi ini semakin jelas sikap pemerintah untuk semakin keras terhadap paham neoliberal dan karenanya perubahan terjadi secara significant.