Thursday, November 28, 2024

Pajak dan keadilan

 




Kemarin saya ketemu denga Ira. Korea udah turunkan suku bunga acuan jadi 3%. Kata Ira. Saya mengatakan bahwa Korea itu kan negara industry yang bergantung kepada ekspor. Disisi lain banyak negara mitra dagangnya melakukan kebijakan proteksionisme tarif bea masuk. Barang ekpor Korea jadi mahal. Nah dengan penurunan suku bunga, cost of fund industri jadi turun. Mereka tetap bisa kompit walau laba menurun. 


Kenapa bertolak belakang dengan kebijakan ekonomi kita, yang tetap pertahankan suku bunga tinggi dan pertumbuhan diatas 5%?  Tanya Ira. Indonesia itu kewajiban financial luar negeri nya lebih besar daripada asset financial luar negeri. Kata saya. Kewajiban financial luar negeri itu kan kepemilikan asing. Kapan saja bisa kabur kalau suku bunga rendah. Nah jeleknya Indonesia itu, kalau asing hengkang, pemilik asset  orang Indonesia ikutan kabur. Kan bisa chaos ekonomi.IDR bisa tumbang.


Kan Cadev kita besar. USD 150 miliar. Apa kurang ? tanya Ira. saya katakan bahwa kewajiban financial luar negeri kita itu diatas USD 700 miliar. Sekitar SD 150 miliar, itu hot money. Kapan aja bisa hengkang. Sementara  cadangan devisa kita sebesar USD 150 miliar. Itu engga ada arti. Apalagi dari USD 150 miliar cadev itu engga semua cash.  10% aja dari USD 700 miliar hengkang. Bubar kita. 


Jadi yang membuat kita beda dengan Korea karena hutang. Bukankah Korea juga berhutang? Debt to PDB Korea 52%. Lebih besar dari Indonesia. Kata ira. Saya katakan, benar. Tapi asset financial luar negeri punya swasta/BUMN korea itu besar sekali. Maklum sebagian besar PDB mereka disumbang oleh ekspor. Kalaupun ada asset milik asing tetapi itu sebagian besar FDI, bukan surat utang. Jadi resiko capital outflow rendah. 


Kebijakan korea menurunkan suku bunga itu sebagai respon terhadap menurunnya permintaan ekspor. Itu makes sense. Ira menyimpulkan. Terus,  kenapa proyeksi pertumbuhan Ekonomi juga diturunkan. Dari 2% ke 1,9%. Kan bisa berdampak kepada ekonomi domestic. Saya katakan, pertumbuhan ekonomi turun karena pemerintah memberikan insentif pajak kepada rakyat. Tapi dampaknya karena itu daya beli rakyat meningkat atau dipertahankan. Pasar property bisa bangkit lagi. Nanti setelah keadaan ekonomi pulih, ya insentif pajak tidak ada lagi. Rakyat udah tajir, ya bayar dong pajak tinggi.


Artinya disaat krisis, pemerintah justru berkorban lewat insentif pajak, bukan  bansos seperti kita. Kata Ira. Saya katakan. Pajak itu kan instrument  keadilan bagi semua. Beda dengan bansos. Bansos itu sejatinya distorsi ekonomi pasar. Karena hanya menyasar kepada golongan tertentu. Kebijakan ekonomi yang sehat secara akal adalah lewat pajak. Kalau daya beli turun, ya insentif pajak diberikan. Kalau daya beli meningkat, insentif pajak tidak ada.  


Dalam konteks pajak kenapa pemerintah kita tidak terapkan seperti Korea. Tanya Ira. Ya engga mungkin Indonesia bisa terapkan. Karena APBN kita terjebak hutang. Walau debt to PDB kita 40%, tetapi debt service ratio kita tinggi. Lebih 1/3 APBN habis untuk bayar bunga dan cicilan utang. Hampir ¼ dari ekspor kita untuk bayar utang luar negeri. Kalau kita turunkan pertumbuhan ekonomi, pajak akan drop, ya SBN kita jadi tissue toilet. kata saya. 


Bagaimanapun APBN harus ekspansif, harus terus dipompa tinggi walau harus lewat berhutang. Itu prinsip pemerintah kita. Ira menyimpulkan. Mengapa kita terjebak hutang? Lanjutnya. Ya karena pendapatan pajak rendah. Tax ratio dibawah 10% dari PDB. Bandingkan dengan Korea yang tax ratio 30% dari PDB. Makanya DSR mereka rendah hanya 14% dan tidak mengalami debt trap. Jadi walau proyeksi pertumbuhan diturunkan, engga ngaruh amat terhadap fundamnetalnya. 


Jadi apa masalah sebenarnya dengan bangsa kita ini Ale? Tanya Ira. Saya tidak mau jawab. Itu pertanyaan yang jawabannya sudah tahu sama tahu, terutama kaum terpelajar dan akademisi. Elite kita itu low class. Bukan hanya soal kompetensi yang low class , juga termasuk moral rendah banget. Doyan banget korupsi dan berbohong lewat pecitraan. Itu aja.

Tuesday, November 12, 2024

Big Corp dibalik Progam minum susu

 



Susu sapi perah dibanyak negara dilarang dijual langsung ke kapada konsumen dalam keadaan mentah. Tanpa melalui proses pasteurisasi, susu mentah mempunyai risiko lebih tinggi menyebabkan penyakit bawaan makanan.  Karenanya susu perah peternak memang market utamanya adalah industry pengolahan susu. Dari Industri pengolahan ( industry dairy ) ini dihasilkan beragam susu yang ada di pasar seperti susu dipasteurisasi, susu ultra filter, susu UHT, susu bubuk.


Data tahun 2020 kebutuhan bahan baku susu industri dalam negeri sebanyak 3,85 juta ton (setara susu segar). Sementara, pasokan susu lokal hanya mampu memenuhi sebanyak 850 ribu ton. Adapun susu segar diimpor dari berbagai negara dalam bentuk skim milk, whole milk, anhydrous milk fat, buttermilk, serta whey. 


Anda pasti sudah sangat akrab dengan susu Milo dan susu Dancow. Semuanya merupakan brand dari sebuah perusahaan besar NestlĂ©. NestlĂ© adalah perusahaan makanan dan minuman asal Swiss. Susu Bendera merek susu Indonesia. Namun tak banyak yang tahu bahwa PT Frisian Flag Indonesia (FFI), selaku perusahaan yang memproduksi, ternyata masih bernaung di bawah Friesland Campina yang didirikan di Belanda sejak tahun 1922. 


Saat sekarang ada 10 pemain top dunia dalam industry dairy. Disamping Nestle dan Friesland Campina, ada Lactalis (Prancis), Danone (Prancis), Dairy Farmers of America, Grup Yili (Tiongkok), Fonterra (Selandia Baru) Mengniu (Tiongkok), Arla Foods (Denmark/Swedia), Saputo Inc. (Kanada). Namun dari 10 itu, hanya AS dan China yang masuk 7 produsen susu sapi perah dunia. Sementara India, Brazil, Pakistan, Rusia, German tidak ada.


Hampir semua pabrik susu olahan yang ada di Indonesia dan negara manapun, pasti terafiliasi dengan 10 merek itu. Skema kerjasamanya seperti bisnis maklon. Mereka menjamin likuiditas, pasar dan tekhnologi. Seperti biasa. Mereka menekan ke bawah dan menjarah keatas. Artinya menekan peternak sebagai mitra dan menjual produknya dengan margin tinggi ke konsumen. Singkatnya mereka meciptakan ketergantungan.


Dalam skala global, Industry dairy beroperasi sudah seperti sindikat big farma. Mereka terhubung dalam kartel dan terlibat dalam lobi politik kelas dunia. Mereka tidak lagi lobi negara tetapi PBB, seperti WHO dan FAO. Misal, PP No. 28/2024 menyatakan bahwa setiap bayi berhak memperoleh air susu ibu (ASI) eksklusif sejak dilahirkan sampai usia bulan, kecuali atas indikasi medis. Pengecualian ini mengacu kepada the International Codeof Marketing of Breast-Milk Substitutes (WHO Code). Artinya, aturan tersebut mengakui bahwa susu formula dapat digunakan untuk menggantikan ASI. Confirmed.


FAO menetapkan standar gizi yang mengharuskan konsumsi susu dan WHO juga. Kemudian World Bank menjadikan aturan WHO dan FAO itu sebagai standar kepatuhan dalam memberikan pinjaman lunak. Seperti halnya program stunting  yang merekomendasikan susu formula kepada Balita stunting. Dan World bank memberikan pinjaman lunak kepada Indonesia ratusan juta dollar. Kemungkinan besar World Bank juga akan memberikan pinjaman lunak untuk makan siang bergizi, tentu menyertakan standar kepatuhan harus minum susu dan tentu juga impor nantinya.


Lebih 1 abad kartel Industri susu tidak tergoyahkan. Hanya sedikit terganggu dengan kehadiran China seperti merek Yili dan Mengniu, yang sudah merambah ke pasar premium di Eropa dan AS. Tahun 2016 Lu Xianfeng, mencaplok sebuah perusahaan peternakan sapi perah terbesar di Australia, Tasmanian Land Company (TLC). China merupakan produsen susu segar nomor 4 dunia. 


Jadi pemerintah harus smart. Jangan sampai nasip kita seperti bisnis pharmasi yang sampai sekarang dikuasai 90% oleh big pharma. 90% bahan baku obat kita impor. Pada 1997, impor bahan baku susu untuk industri dairy 40%. Sekarang sudah 80 persen impor. Hanya masalah waktu kalau tidak dibenahi peternakan sapi perah, bisa 100% kita impor. Caranya? Kita harus punya kemandirian dalam industry dairy. Hanya dengan cara itu kita bisa membela perternak sapi perah local. Dan itu kita punya modal besar untuk mencapainya. Karena pasar domestik besar.


Friday, November 8, 2024

Trump menang ekonomi indonesia terancam ?

 




Trumps ini latar belakangnya adalah pengusaha dan lahir dari keluarga konglo. Jadi dia lahir udah pakai dasi. Tentu dalam perjalanan hidupnya yang serba plamboyan, dia tidak perlu mikir dengan gaya acrobat nya. Toh jatuh juga, ada bapaknya yang akan angkat dia lagi. Watak seperti itulah yang membentuk dia sampai usia 70 lebih dan kini terpilih lagi sebagai presiden USA. Sebelumnya tahun 2021 dia gagal meraih kursi pada periode keduanya.


Paska kejatuhan Lehman, tahun 2008 AS tak henti struggle keluar dari pusaran krisis. Obama terpilih dengan harapan besar “ Yes! We can. “ Katanya. Orang punya harapan. Ternyata gagal juga. Tahun 2017. Trumps datang dengan gaya urakannya memperolok kaum politician istana gading. “ Make America Great again. “ Nyatanya makin keok dengan China. Publik marah. Dia gagal masuk putaran kedua presiden AS. Biden menggantikannya malah lebih buruk. Dan wajar kalau rakyat AS berkiblat lagi ke Trumps.


Apa sih program Ekonomi Trumps ?  Trumps akan memanfaatkan pasar domestic sebagai modal besar AS untuk tetap jadi pemimpin dunia. Tarif impor akan dia naik kan. Khusus barang dari China jadi 60%. Sementara non china 10%. Memang karena itu harga barang impor jadi mahal. Akan sulit bersaing dengan produksi dalam negeri. Dengan itu peluang bisnis domestik terbuka lebar, khususnya Industri. Jadi dia sebenarnya pemberontak system kapitalisme AS. Dia engga percaya dengan liberalisme. Dia hanya yakin AS bisa besar lagi apabila negara lead secara penuh dan market regulated


Pada waktu bersamaan Trumps lakukan pemotongan pajak korporate dan professional dari 21% menjadi 15%. Tentu ini akan mengurangi tax ratio dalam jangka pendek dan memperkecil ruang fiscal. Engga ada masalah.  Karena Trumps yakin, dengan pajak rendah akan menarik orang kaya untuk investasi di sector real terutama industry, dan menjadi magnit terjadinya relokasi industry dari Eropa, Jepang, Korea, bahkan China ke AS. Yang tentu akan menyerap angkatan kerja luas. Dengan strategi itu makanya kehadiran Trumps kembali ke panggung Pilpres AS mendapat dukungan para boss korporat dan dia menang mudah. 


Bagi financial player dan terutama kaum moneterisme jelas saja cara berpikir ekonomi Trumps ini mimpi buruk.  Karena dia tidak percaya dengan kebijakan moneter dan fiscal buka tutup likuiditas. Karena pada akhirnya membuat ketidak seimbangan antara fiskal dan moneter. Dia tidak percaya denga system itu yang katanya inflasi terkendali. Toh pada akirnya walau inflasi rendah tetap aja daya beli drop. 


Jadi jangan kaget bila di era Trumps akan terjadi tsunami moneter bagi negara berkembang. Kemarin The Fed turunkan suku bunga 0,25 bps. Itu akan jadi penurunan suku bunga terakhir. Selanjutnya suku bunga akan tetap tinggi. Mengapa ? The Fed harus kawal kebijakan trumps  yang dalam jangka pendek bersifat inflasi. Karena walau pajak turun, dia engga mau turunkan belanja APBN nya. Defisit akan melebar. Surat utang akan diproduksi terus agar capital inflow terjadi.


Dan bagi Trumps, kenaikan suku bunga ini akan jadi senjata geopolitik nya menekan negara yang tergabung dalam BRICS untuk balik lagi ke " konsesus Washington". Mengapa ? misal, Indonesia harus terus naikan suku bunga BI-rate diatas bunga the fed agar tidak terjadi capital outflow. Index USD akan semakin menguat. Sementara IDR akan terus melemah. Tentu akan semakin sulit bagi dunia usaha untuk ekspansi dan orang kaya lebih suka investasi SBN berbunga tinggi daripada bangun pabrik yang pasti tekor. Ya kita hanya punya dua plihan, “ Surrender or die “.


Tuesday, November 5, 2024

Apple minta bebas pajak 50 tahun ?

 




Kementerian Perindustrian (Kemenperin), bulan lalu memblokir izin penjualan Iphone 16 dengan alasan belum memenuhi persyaratan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 40% untuk ponsel cerdas dan tablet. Saya akan membahas ini dari sudut rasional Apple saja.


Business  Apple itu bukan pabrikasi, tetapi hanyalah design dan marketing. Mereka sendiri tidak punya pabrik. Yang produksi adalah pihak  Foundry, Media tech dan Foxconn ( Hon Hai Precision Industry Co., Ltd.). Foxconn adalah raksasa industry high tech dari Taiwan yang memproduksi semua produk merek Apple. Yang rumit dari industry smartphone ini adalah konten tekhnologi di dalamnya dan proses produksi. Apple tidak berdaya menentukan siapa yang akan jadi pemasoknya.


Jadi siapa yang menentukan ?. Foundry lah yang menentukan siapa yang qualified jadi mitra outsourcing OSAT ( Outsourced Semiconductor Assembly and Test). Saat sekarang top player OSAT adalah Walton Advanced Engineering, Amkor, TSHT, Chipbond, Signetics, Powertech Technology Inc, JECT, Hana Micron, Unisem, ChipMOS, UTAC, TFME, ASE Group, KYEC, SPIL. Tidak ada nama perusahaan Indonesia di daftar itu atau afiliate. 


Dan apple tidak mungkin mengubah bisnis model berbasis tekhnologi terdepan dari pesaingnya. Karena itulah keunggulannya. Terus mengapa Apple hanya bergantung kepada Foxconn ? ya untuk menjaga rahasia perusahaan, seperti kekayaan intelektual dan kontrol terhadap proses produksi. Jadi paham ya. Mengapa sulit bagi Apple bisa memenuhi local konten (TKDN) 40% yang ditetapkan oleh pemerintah.


Loh mengapa merek smartphone lainnya tidak ada masalah memenuhi TKDN 40%?  Kalau mau jujur tidak ada yang mencapai 40% TKDN. Mereka hanya manufaktur di Indonesia dengan supply chain impor. Bukan rahasia umum kalau semua main soal TKDN. Sementara Apple patuh dengan standar international terkait dengan good governance. Apple tidak bisa "main" seperti produsen hape lainnya. 


Dan lagi engga mudah jadi pemasok Apple. Teknologi hape merek lain tidak rumit. Beda jaun dengan Iphone produk Apple. Apa sih rumitnya ?  Misal, tingginya tingkat kompleksitas yang melekat pada desain layar. Tingkat keberhasilan untuk layar iPhone 6 yang berukuran 4,7 inci adalah sekitar 85% sedangkan untuk iPhone 6 Plus dengan layar 5,5 inci adalah sebesar 50-60%. Kalau perusahaan engga jago amat,  mana berani jadi supplier Apple. 


Yang saya tahu dari teman, udah lama Foxcon berusaha  menemukan mitra di Indonesia untuk jadi  pemasok. Namun gagal. Apa pasal ? Di Indonesia belum ada ekosistem bisnis  high tech yang melibatkan R&D. Semua hanya tukang jahit doang. Beda dengan Malaysia yang sudah sangat maju industry high tech nya. Apple tidak ada masalah invest di Malaysia. Padahal era Soeharto, Malaysia belajar dari Indonesia dalam membangun industry high tech.


Disamping itu, Apple adalah perusahaan yang sudah menerapkan ESG sangat ketat. Maklum dana investasi mereka berasal dari pasar uang dan pasar modal. Jadi kepatuhan terhadap ESG adalah keniscayaan. Nah menurut Apple, Indonesia itu tidak patuh terhadap ESG. Terbukti adanya kasus korupsi Timah dan rusaknya lingkungan penambangan nikel. Sementara salah satu material apple itu adalah timah dan nikel powder.


Nah kalau akhirnya Apple harus investasi di Indonesia sesuai dengan minimal local konten 40%, itu artinya Apple harus all out. Resiko tentu sangat besar, terutama dalam hal riset tekhnologi. Harus ada transfer tekhnologi ke perusahaan di Indonesia. Itu pasti sangat mahal. Kalau engga diberi insentif oleh pemerintah, misal bebas pajak 50 tahun,  ya mana mau mereka ambil resiko. Karena semua negara maju yang peduli kepada industrialisasi memberikan insentif bebas pajak kepada industry high tech yang lakukan riset.


Saya setuju dengan tekad pemerintah untuk konsisten terhadap TKDN, tetapi itu jangan hanya aturan doang. Harus pula disertai  dengan dukungan riset kepada industry high tech dalam negeri.  Agar kita bisa bersinergi dengan raksasa hich tech yang sudah jadi raja seperti SMC ( Taiwan Semiconductor Manufacturing Company ), Samsung, United Microelectronics Corporation ( UMC ), GlobalFoundries, Semiconductor Manufacturing International Corporation ( China). Kalau engga, aturan itu hanya jadi bahan ketawaan mereka.


Apple tidak akan tunduk begitu saja terhadap kebijakan TKDN, walau pasar domestic kita besar. Karena Apple tahu, konsumen iphone di Indonesia itu kelas menengah atas. Jumlahnya engga banyak. Mereka bisa terbang ke Singapore untuk beli hape. Kan hanya 1,5 jam penerbangan. Saran saya, lebih baik setujui aja proposal Apple untuk berinvestasi di Bandung. Walau itu hanya produksi casing dan accessories, engga apa. Kan bisa tampung angkatan kerja. Setidaknya yang kena PHK pabrik tekstil bisa kerja di sini. Setelah itu focus lah benahi ekositem industry high tech. Yuk, cerdas ya sayang. Udahan bego nya.

Thursday, October 31, 2024

Neoliberalisme ? mahzab ekonomi kita

 






Istilah Neoliberalisme sudah ada sejak tahun 1930-an. Neoliberalisme paling sering dikaitkan dengan ekonomi laissez-faire. Meskipun istilah-istilahnya serupa, neoliberalisme berbeda dari liberalisme modern. Keduanya memiliki akar ideologis dalam liberalisme klasik abad ke-19, yang memperjuangkan laissez-faire ekonomi dan kebebasan individu terhadap kekuasaan pemerintah yang berlebihan. Varian liberalisme itu sering dikaitkan dengan ekonom Adam Smith,  dalam bukunya The Wealth of Nations (1776) bahwa pasar diatur oleh "invisible hand" dan dengan demikian harus tunduk pada campur tangan pemerintah yang minimal.


Apa sih neoliberal itu ? Sederhana aja cara berpikirnya. Pemerintah harus memberikan kebebasan berbisnis. Tidak ada bisnis bisa jalan tanpa sumber daya modal. Tidak ada modal tanpa ada pengakuan akan hak milik pribadi. Tidak ada hak pribadi tanpa ada kebebasan menentukan harga dan value atas dasar alokasi sumber daya yang efisien. Nah semua yang saling kait mengkait itu diperlukan kebebasan pasar dan peran negara yang minimal.


Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu mengakses modal? Neoliberal punya prinsip sederhana. Bahwa dari kumpulan modal yang berputar dikalangan bisnis itu akan menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dampaknya akan melahirkan ekonomi tetesan ke bawah ( trickle down effect), yang pengaruhnya terhadap penyediaan lapangan kerja, perbaikan sosial, pengentasan kemiskinan. Masyarakat sejahtera bisa dicapai.


Namun pada 1970-an, terjadi stagnasi ekonomi dengan meningkatnya utang public. Ya seperti yang terjadi pada awal Jokowi berkuasa dan sekarang. Liberalisme klasik kembali dilirik oleh Friedrich Von Hayek, ekonom Inggris kelahiran Austria. Yang kemudian dikenal  sebagai neoliberalisme. Hayek berpendapat bahwa tindakan intervensionis yang ditujukan pada redistribusi kekayaan pasti mengarah pada totalitarianis. Sementara ekonom AS, Milton Friedman dalam bukunya Free to Choose menolak kebijakan fiscal pemerintah sebagai sarana mempengaruhi siklus bisnis. 


Pemikiran Friedman ini dikenal dengan istilah monetarisme. Apa itu monetarisme? Jumlah uang beredar merupakan penentu utama pada posisi permintaan aktivitas ekonomi jangka pendek. Kebijakan ekonomi makro Friedman berbeda secara significant dengan aliran Keyesian. Sampai tahun 2013 Indonesia masih menganut Keynesian. 


Yang mendasari teori moneteris adalah persamaan pertukaran, yang dinyatakan sebagai MV = PQ. M= Jumlah yan beredar. V= kecepatan perputaran uang.  P= tingkat harga rata rata dmana setiap barang dan jasa  dijual.  Q =  jumlah barang dan jasa yang diproduksi. Artinya ketika jumlah uang meningkat dengan V yang konstan dan dapat diprediksi ,seseorang dapat mengharapkan peningkatan baik dalam P maupun Q.  Peningkatan dalam Q berarti bahwa P akan tetap relatif konstan, sementara peningkatan dalam P akan terjadi jika tidak ada peningkatan yang sesuai dalam jumlah barang dan jasa yang diproduksi.


Sederhananya begini, perubahan jumlah uang beredar secara langsung mempengaruhi dan menentukan produksi, lapangan kerja, dan tingkat harga. Namun, efek dari perubahan dalam jumlah uang menjadi nyata hanya setelah periode waktu yang signifikan. Artinya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi PDB sekian percen, pasokan uang harus ditingkatkan pada tingkat tahunan yang konstan. Hutang atau cetak uang menjadi keniscayaan. Maka Ekonomi akan stabil dan inflasi rendah.


Namun, keterkaitan moneterisme antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat peningkatan pasokan uang ternyata menyesatkan. Itu dibuktikan oleh perubahan dalam ekonomi AS selama tahun 1980-an. Perubahan-perubahan ini mengurangi kemampuan untuk memprediksi dampak pertumbuhan uang terhadap pertumbuhan PDB nominal. Sehingga sangat sulit menilai kualitas PDB terhadap kemakmuran. Mengapa ? 


Pertama, pasokan uang yang mengalir ke bank tidak dalam bentuk tabungan tradisional tetapi motive investasi. Makanya uang orang kaya lebih banyak mengalir ke sector moneter daripada ke sector real.  Tentu tidak terjadi trickle down effect. Kedua, penurunan tingkat inflasi menyebabkan orang membelanjakan lebih sedikit, yang dengan demikian menurunkan kecepatan ( V ) perputaran uang. Yang pertama dan kedua itu sudah terjadi di Indonesia.


Jadi patut ditinjau ulang  kebijakan ekonomi kita yang neoliberat dan monetarism. Ada baiknya kita belajar dari China yang sosialis komunis. Yes ! China mengintegrasi ekonominya ke dalam neoliberalisme global. But, tanpa menjalankan kebijakan ekonomi neoliberal secara utuh. Why? China ogah  menjalankan kebijakan inti dari liberalisasi dan privatisasi harga, perdagangan, dan keuangan secara penuh. 


China lebih utamakan peran negara dalam redisitribusi kemakmuran, dan itu tidak diserahkan kepada pasar sepenuhnya. Misal setiap Bank Central intervensi moneter, itu bertujuan untuk creating job. Makanya setiap krisis ekonomi terjadi, China mampu melakukan economic adjustment. Ya smart lah. Karena esensi dari kapitalisme atau sosialisme atau sistem politk apapun itu adalah moral dan tentu sistem pemerintahan yang bersih dari korupsi.


***

Di China banyak merek Hape. 80% market Hape China adalah petani dan nelayan. Ongkos produksi hape smartphone di China hanya Rp 450.000. Harga eceran hape itu di pasar sekitar Rp. 650.000. Murah ? memang murah. Tapi kenapa merek Hwawei dan Xiaomi, Oppo, dan lain lain, harga ecerahnya mahal? Oh itu merek market international. Kok beda? Itulah China. Mereka menganut ekonomi dua kamar. Pasar bebas dan pasar terkendali.


Mari kita telisik lebih jauh. Satu unit Oral-b ( sikat gigi) diproduksi di China dengan harga export ke AS USD 3 per unit. Ketika sampai di AS, maka harga ini dibergerak naik untuk memberikan stimulus ekonomi dalam negeri AS kepada perusahaan expedisi, distributor, agent, biro iklan, dan WallMart. Hingga harga mencapai USD 30 per unit.


Siapakah yang mendapatkan manfaat lebih?. Dari harga konsumen, Pemerintah Amerika senang karena efisiensi terjadi daya beli meningkat. Para pedagang dan usaha jasa kreatif dapat cuan besar. Keuntungan mereka memenuhi brangkas system perbankan. Tapi, akibat china menjual harga murah, setiap hari ada saja pabrik sikat gigi di Amerika yang bankrut karena para pabrikan lebih memilih impor daripada produksi. Bagi mereka lebih untung impor. Dan lagi untuk apa berproduksi tapi kalah bersaing dengan China. 


Lambat laut banyak Pabrik di Amerika tutup relokasi ke China dan sementara Pabrik di China tumbuh pesat. Ratusan juta angkatan kerja china terserap dan kemakmuran ditapaki. Sementara di Amerika ribuan pabrik tutup dan jutaan orang kehilangan pekerjaan, ribuan perusahaan ter-jerat hutang tak terbayar, puluhan juta orang tak mampu bayar tagihan credit card dan angsuran rumah,prahara pun terjadi. 


Apa bedanya Amerika dan China. Bukankah dua duanya menggunakan kapitalisme? Amerika memberikan subsidi konsumsi lewat pelonggaran kredit. Ekspansi APBN untuk sosial. Sementara China memberikan subsidi ke sektor produksi dengan mensubsidi industri hulu. Semua industri hulu China adalah BUMN, yang memang bertugas sebagai agent of development. Ke BUMN inilah dana negara disalurkan untuk berbagai subsidi seperti bahan bakar, bunga bank, R&D dan lain lain.


Perhatikan view strategi ini. Ambil contoh bahan baku berupa PPC berasal dari Industri hulu petrokimia milik BUMN. Karena disubsidi, harganya murah. Tentu sikat gigi oral-B bisa diproduksi oleh industri hilir dengan murah. Dan itu juga termasuk  seluruh industri hilir berbahan baku petrokimia seperti tektil, rubber sintetik, kaos kaki, sandal/sepatu, dashboard kendaraan dll menjadi murah. Walau di hulu pemerintah rugi namun di hilir pemerintah untung dalam bentuk penerimaan pajak melimpah dari jutaan industri hilir dan serapan Angkatan kerja.


Jadi subsidi konsumsi hanya menciptakan kelas dan menghasilkan ekonomi rente yang korup. Sementara subsidi produksi menciptakan peluang usaha untuk tumbuh berkembangnya dunia yang mampu bersaing di pasar. Jadi paham ya beda system ekonomi walau sama sama kapitalisme. Perang dagang China-AS adalah paradox kapitalisme AS sendiri yang terlalu percaya dengan Milton Friedman dan kaum monetarism.


Saturday, October 26, 2024

Team ekonomi Jokowi dipertahankan. Mengapa?

 




Tahun 2017 terbitlah tulisan Prabowo yang berjudul "Paradox Indonesia". Dalam tulisannya dia mengatakan bahwa dua tantangan besar yang harus kita hadapi dan atasi sebagai bangsa Indonesia, kekayaan kita yang terus mengalir ke luar, dan demokrasi kita yang dikuasai pemodal besar. Pada tahun 2023 dia mengatakan bahwa ada menteri-menteri neoliberal di Kabinet Indonesia Maju. Kemudian tahun 2024, ketika jadi capres, dia menilai kapitalisme neoliberal tidak cocok menjadi sistem ekonomi Indonesia. Cocoknya Pancasila. Tetapi setelah jadi Presiden. Menteri yang dianggapnya Neoliberal era Jokowi dia pertahankan. Pertanyaannya mengapa ? saya akan jelaskan secara sederhana.


Membahas ini kita kembali kepada teori. Sampai hari ini belum ada literatur ilmiah yang bisa menjelaskan teori ekonomi Pancasila, yang secara tekhnis bisa di-implementasikan. Yang ada hanya pemikiran pilosofis saja dari Bung Hatta. Bahwa Pancasila pada dasarnya menolak teori ekonomi klasik terkait dengan kapitalisme,  dimana pasar dan dunia usaha bisa berjalan sendiri sendiri tanpa campur tangan negara. Pancasila justru mengharuskan kehadiran negara untuk membuat pasar dan dunia usaha beres. 


Lantas teori apa yang dipakai? Ya teori Ekonomi Keyness atau Keynesianisme. Era Soeharto sampai era SBY Indonesia menerapkan keyenesian. Misal, Bank Indonesia bertugas mengendalikan inflasi lewat SBI. Kalau uang beredar berlebih, ya BI menaikan suku bunga SBI. Kalau berkurang, ya BI pompa uang dengan menurunkan suku bunga dan menyalurkan kembali lewat SPBU. Dari metode itu, negara lead terhadap pertumbuhan sector real lewat ekspansi kredit perbankan. 


Yang jadi masalah adalah moral hazard tercipta. Kredit disalurkan pada konglomerat yang juga kroni Soeharto. Makanya engga aneh kalau Kredit disalurkan bank dengan mark up dan pengawasan legal lending limit sangat lemah. Akibatnya terjadi krisis moneter tahun 1998. Penyebabnya bukan teori yang salah. Yang salah peran BI tidak independent atau dibawah otoritas pemerintah. Makanya setelah tahun 1998 dibuatlah UU independensi BI.


Timbul lagi masalah. Era SBY, Orang kaya baru (OKB) bertambah karena maraknya bisnis batubara dan sawit. PDB meningkat 3 kali lipat. Banyak uang parkir di luar negeri. Apa pasal? Para OKB justru menggunakan kelebihan uang itu lewat instrument investasi asing. Karena SBI tidak menarik. SBI itu bukan alat investasi. Hanya sebagai alat pengendali inflasi. Dampaknya kepada kurs rupiah secara berlahan lahan terus melemah. Keseimbangan primer negatif. Artinya pendapatan setelah dipotong belanja, engga ada lagi uang untuk bayar bunga dan cicilan utang.


Era Jokowi pada periode pertama. Pemerintah menarik investasi swasta yang ada diluar negeri itu lewat instrument SUN. Caranya? suku bunga harus lebih tinggi dari surat berharga asing. Ya kalau air mengalir ke bawah. Uang mengalir keatas bukan ke bawah. Kemana bunga tinggi kesanalah uang mengalir. Kemudian diadakan tax amnesty agar uang parkir milik WNI di luar mudah mengalir masuk. Tetapi ternyata upaya itu tidak efektif. Mengapa? Pertimbangan orang bukan hanya suku bunga tetapi juga volatile kurs rupiah terhadap valas. Makanya pada waktu bersamaan agar kurs bisa dikendalikan, BI mengeluarkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). 


Maka sejak itu terciptalah surat utang negara sebagai alat investasi. Bukan lagi alat pengedali inflasi. Moneter kita sudah dikudeta oleh pasar. Nah ini udah nyimpang dari Keyness. Tapi masuk ke neoliberal, dari Milton Friedman. Yaitu memanjakan orang kaya lewat instrument investasi. Sejak itu SBN dan SUN jadi solusi pemerintah untuk ongkosi APBN yang defisit. Semakin besar defisit semakin besar ketergantungan pemerintah kepada utang dan semakin besar hegemoni pasar.


Walau SBN itu lebih banyak di beli oleh investor local. Namun struktur kepemilikan tetap aja asing di belakang sebagai penggerak likuiditas SBN. Apalagi dengan adanya kebijakan QE The Fed membuat likuiditas banjir. Likuiditas SBN juga meningkat.  Kerjasama BI dan Pemerintah terjalin apik. Namun sejak adanya kebijakan taper tantrum the fed tahun 2022,  suku bunga the Fed terkerek naik. BI kedodoran dapatkan dana lewat pasar uang untuk menjaga volatile kurs IDR. 


Maka tahun 2023, BI keluarkan instrument SBRI. Bunganya lebih tinggi dari bunga the fed. Berharap capital outflow tidak terjadi. Kurs bisa dikendalikan. Namun itupun engga efektif. Apa pasal? Pemerintah juga keluarkan SBN menarik uang di pasar dengan bunga tinggi. Nah desember 2023, BI mengganti BI7DRR menjadi BI-Rate. Maka kita masuk debt trap pasar bebas. Main di pasar lah. Kalau bunga fed tinggi, ya BI-Rate harus lebih tinggi. Kalau engga, capital out flow terjadi. Rupiah bisa tumbang.


Apa yang terjadi sekarang? Surat utang negara maupun BI, sudah berperan sebagai alat investasi dan yang menyedihkan bagi negara itu hanya sebagai alat menjaga stabilitas kurs bukan sebagai alat pengendali inflasi dan ekspansi sektor real. Praktis peran negara lumpuh dan dirantai tangannya. Siapa yang diuntungkan? Ya orang kaya yang jumlahnya sangat sedikit, mungkin tidak lebih 1000 orang, yang uang mereka dikelola oleh fund manager kelas dunia. Kalau kebijakan diubah dan anti pasar, ya dalam semalam uang bisa eksodus, yang bisa berdampak sistemik.


Makanya Prabowo setelah jadi presiden, dia tetap pertahankan team ekonomi Jokowi. Dia harus menghadapi realita bahwa kedaulatan negara sudah dikuasai pasar. Yang jadi pertanyaan adalah sampai berapa lama bertahan? Karena semakin hari semakin kering likuiditas. Tentu bunga semakin tinggi. Menciptakan crowding out effect. Dampaknya sector real stuck, bahkan falling down. Daya beli melemah. Kurs terus melemah. Kalau akhirnya tumbang juga. Resiko politik dan ekonomi sangat besar daya rusaknya.  Kecepatan bertindak akan meminimize resiko. Segera lakukan perubahan, sebelum terlambat. YMP tolong selamatkan negeri kita, pak.