Friday, January 7, 2011

Berbisnis dalam semangat Cinta.



Hari telah berangkat malam. Udara summer ini telah membuat orang semakin akrab dengan AC di tengah belantara hutan beton. Di balik gedung tinggi, di kawasan financial center, HK,  saya termenung seorang diri. Di pelataran parkir yang bila malam hari dijadikan tempat orang duduk santai sambil menikmati secangkir coffe, membuang malam hingga lelah membawa tidur. Di situlah saya  duduk. 

" Uda , passport Yuni, habis. Gimana? Itu sms saya terima dari direksi saya di Jakarta. 
” Besok saya suruh orang saya untuk urus. “ Saya jawab SMS itu dengan singkat.

Memang etnis Cina agak takut kalau urusan masalah legalitas pribadinya dengan pemerintah. Walau dia mampu urusan apa saja dan bertemu dengan pejabat, politisi, tetapi kalau soal urusan legalitas pribadinya, mereka tetap ada rasa takut atau tepatnya trauma. Apalagi yang lahir di bawah tahun 1980. Saya sering dengar dan saksikan , terasa sekali susana hati mereka ketika berhadapan dengan pemerintah. Makanya kalau diminta uang berapa aja mereka tidak pernah tanya. Tidak pernah protes. Kasih begitu saja.

Jadi kalau ada orang bilang bahwa etnis China pengemplang hutang atau larikan uang, saya tidak percaya 100 % mereka berniat jahat. Saya tahu pasti sebagian besar mereka hanya jadi pion pejabat atau pengusaha pribumi yang dekat sekali dengan partai. Saya pernah marah besar karena Yuni keluarkan uang kepada pejabat dari uang pribadinya. Saya baru tahu belakangan. Saya tanya mengapa ? dia tidak menjawab apapun. Tetapi dari wajahnya nampak dia memilih diam dari pada ungkapkan alasannya. Karena dia tahu saya akan serang pejabat itu. Makanya sejak itu saya perintahkan semua pengeluaran untuk pejabat, serahkan kepada orang yang saya beri tugas khusus untuk itu.

Ada teman saya bertahun tahun punya usaha suplier, kalau di hitung dia hanya dapat 5% dari total penerimaan, selebihnya dimakan oleh pajabat. Dari 5% itu dia masih harus bayar berbagai kegiatan amal dari ormas. Jadi benar benar mereka di peras. " Kami engga punya pilihan, daripada ribut, ya ambil ajalah uang. Kami hanya mau damai." Ada teman saya tahun 1998, rumahnya di jarah di PIK dan pabriknya dibakar, padahal dia kerja keras mengumpulkan uang berpuluh tahun untuk bangun pabrik dan beli rumah. Ketika prahara itu, dia hanya bersyukur anak dan istrinya aman aman saja. Kebetulan anaknya tinggal di AS dan Istrinya sedang sama dia di kantor.

Lamunan saya buyar ketika Wenny hadir di hadapan saya.  “ Aku lelah sekali. Tadi siang aku harus buat laporan soal analisa investasi. Dalam waktu dua jam harus sudah ada di meja boss. Belum lagi harus presentasi di hadapan clients dan boss. Uhhh melelahkan“ Katanya dengan senyum lembut.

“ Apa aku boleh pesan minum lagi untuk kamu “ tanyanya.

Saya  hanya mengangguk.

“ Cofee lagi ?

“ Teh hangat. “ jawab saya singkat.

Dia memanggil pelayan untuk pesan teh hangat.

Saya hanya diam. Dia mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya dan itu adalah buku. Dia membaca tanpa meliat kearah saya. Namun saya yakin bahwa setiap sebentar dia meliri saya. Benarlah, dia lepasnya kacamata dan berkata :

“ Tadi siang aku telp kamu berkali kali tapi tidak diangkat. Ada apa ?

“ Aku sibuk” jawabku singkat tapi berusaha tersenyum. Karena saya tahu itu memang salah. Tentu dia kecewa.

“ Aku tahu. Kamu selalu sibuk. Dan aku kemari karena yakin kamu ada disini..” Itulah dia yang mengenal saya dengan hatinya. Dia tidak butuh kata kata. Dia tahu sikap saya dan tahu apa yang harus diperbuatnya. Dia datang kesini tentu dia mengkawatirkan saya.

‘ Ini buku bagus sekali “ katanya dengan mata berbinar.

Saya memandang ke arahnya. Dia tersenyum. “ Boleh aku bacakan sedikit. Aku baca yang menarik saja ya. Boleh “ Matanya memancar harap tanpa menghilangkan senyum manis di balik wajah orientalnya.

Saya diam saja. 

“ Aku bacakan ya..”

Saya mengangguk

“ Dengarin, ya” Katanya sambil mengenakan kacamata bacanya. “ Ketika musim dingin datang, saljupun turun. Bumi ditaburi oleh kelembutan butir salju. Bumi ingin diam sementara. Tak ingin bumi tanahnya ditanami pangan. Tak ingin bumi dikeruk untuk diambil isinya. Burung pergi kebenua lain. Yang ada kesunyian dan juga keindahan. “ Dia terhenti membaca sambil melirik kearah saya. Mata nampak bergerak gerak seakan meminta tanggapan saya. Tetapi saya tetap diam.

“ Wei, hanyalah pria biasa saja. Namun baginya musim dingin punya makna lain. Ini bukan soal kesunyian dan keindahan atau apalah. Ini hanya cara tuhan meminta manusia berhenti barang sejenak. Ya sejenak. Bumi butuh istirahat. Manusia juga butuh istirahat. Biarlah salju turun dengan dingin menusuk. Biarlah burung pergi membawa siulannya. Biarlah dedaunan tertidur dalam mimpinya. Biarlah. Wei, menimati itu semua. Karena begitulah Tuhan merancang dan kemudian berbuat untuk sepatah cinta bagi semua ciptaannya. “

Kembali dia melirik kearah saya. Dia tesenyum dan mengangguk ngangguk sambil membuka lembaran halaman buku itu.

“ Wei, hanya ingin melewati musim ini sebagaimana musim dingin yang lalu. Dia percaya bahwa hanya soal waktu, musim ini akan berganti dan musim semipun akan datang. Dan juga itupun tak pernah dia nanti. Biarlah musim semi membangunkan bunga dari tidurnya. Biarlah musim semi mengundang burung untuk bersiul. Baginya musim hanyalah rutinitas titah Tuhan. Untuk menunjukan kebesaranNya. Selalu ada hikmat di balik musim. Itulah cara Tuhan berdialogh kepada semua manusia. “

Saya terpanggil untuk menatapnya. Dia senang.

“ Ada apa ? Kamu suka ceritanya ?

“ Siapa itu Wei ? Kata saya mengerutkan kening

Dia menatap saya dengan pancaran mata indahnya.

“ Wei hanya pria biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari Wei...

“ Lantas apa menariknya buku itu ? Apa menariknya kisah itu. “ Kata saya sambil menggelengkan kepala.

“ Wei menanti keajaiban dari Tuhan. 10 tahun istrinya sakit lumpuh. Sepuluh tahun dia merawat istrinya siang dan malam. Sepuluh tahun dia berharap agar Tuhan menyembuhkan istrinya. “

“ Oh....” Saya tersentak seketika. "Mengapa dia bisa bertahan seperti itu. “ tanya saya.

Dia tidak menjawab seketika. Dia membalik balik halaman buku itu. “ Inilah sebabnya “ Katanya sambil melirik saya dengan senyumnya “ Wei bekata...Ada ratusan juta wanita di China dan mungkin miliaran wanita diciptakan Tuhan di bumi ini. Tapi ketika Tuhan memberiku wanita sebagai istri maka itulah yang terbaik bagiku dari sekian miliar wanita dibumi ini. Tuhan tahu mengapa istriku harus sakit lumpuh, sebagaiman Tuhan tahu mengapa harus ada musim dingin. Sudah sepuluh musim aku tak lagi mendengar suara istriku menyapaku di pagi hari. Sudah sepuluh musim berganti aku tak bisa menyemai istriku. Sudah sepuluh tahun aku kedinginan. Tapi aku yakin dan sangat yakin musim pasti berganti”

“ Oh...” Kata saya terpesona

Dia tidak peduli dengan reaksi saya. Dia kembali meneruskan membaca dan ini nampak dia membuka lembaran akhir dari buku itu..”Wei berkata .. Andai aku bisa memilih apa yang terbaik bagiku , tentu aku akan memilih tapi sayang sekali, aku hanya manusia yang diciptakan tanpa berhak untuk memilih apa yang aku inginkan. Tugasku hanyalah melewati semua itu dan berharap...” Wei melangkah membopong tubuh istrinya melewati bukit terjal untuk disemayamkan diatas bukit. Ketika itu musim semi. Dari atas bukit , Wei menatap ke bawah dan berkata kepada jasad istrinya “ Istriku , aku telah membuat tangga untuk naik kebukit ini. Ada lebih 1000 anak tangga yang kususun selama 10 tahun. Ini sekedar memastikan kepadamu bahwa bila kelak aku tua , aku masih mampu menggerakan tubuh rentaku untuk sampai kemakammu , menyapamu. Dan kamu tidak perlu kesepian di sana..”

“ Oh...” Saya melongok mendengar kisah akhir dari buku itu.. Saya terhentak dengan mata memerah. Saya lihat diapun sama dengan saya . “ Sangat mengharukan…” Kata saya.

“ Cinta bukanlah apa yang kamu katakan dan kamu perbuat. Ketika orang yang kamu cintai dalam keadaan gundah, tugasmu menentramkan bukan bertanya. Ketika orang yang kamu cintai bersalah, tugasmu meluruskan bukannya menyalahkan. Ketika orang yang kamu cintai tak bisa menjawab maka hatimulah yang menjawab. Ketika orang yang kamu cintai dalam keadaan lemah, tugasmu menyediakan tubuhmu untuk menopangnya. Kecintaan kepada seseorang bukan hanya mempercayainya tapi bagaimana kamu bersikap terhadapnya. Dan itu hanya ketulusan untuk sepatah kata bahwa cinta adalah cinta. “

Dia mengakhiri membaca dan menutup buku itu. “ Bisnis itu bagus, kalau itu bagian dari cara kita mengaktualkan cinta. Bersinergi atau kolaborasi adalah spirit yang luar biasa untuk saling berbagi potensi.  Kadang kita harus berkorban untuk satu hal namun kita mendapatkan untung dilain hal. Biasa saja. Yang penting selagi ada cinta, maka kebersamaan itu berkah yang luar biasa. Karena semua orang sadar di mana posisinya dan tidak memaksakan diri mendapatkan lebih dari posisi dia. Rakyat melalui parlemen menciptakan regulasi, pemerintah melaksanakannya dan rakyat mematuhinya.  Selagi dalam irama cinta, hubungan itu akan sangat indah. Ya kan dear ? Kata Wenny tersenyum penuh arti.

Kejahatan yang paiing buruk, dan paling tak bermoral di abad 21 ini adalah sifat rasis, dan lebih buruk lagi kebencian karena perbedaan agama. Paranoia terhadap etnis Cina itu , kadang membuat saya malu bila jalan di Shenzhen dan berada di pabrik saya di china karena tidak ada sedikitpun mereka membenci saya orang indonesia atau paranoia. Bahkan pejabat China sangat baik kepada saya. Kalau makan di luar , mereka malu kalau saya yang bayar. Entah apa yang salah denga kita, Padahal agama dan budaya tidak mendidik kita jadi pembenci kepada siapapun. Justru kita harus menebarkan cinta, terutama dalam bisnis. 

No comments: