Sunday, May 26, 2024

Diktator bisnis semikonduktor

 



Sebelum tahun 1980 an, industri semikonduktor terintegrasi secara vertikal. Perusahaan semikonduktor memiliki dan mengoperasikan fasilitas fabrikasi wafer silikon mereka sendiri dan mengembangkan teknologi proses mereka sendiri untuk pembuatan chip mereka. Perusahaan perusahaan ini juga melakukan perakitan dan pengujian chip mereka sendiri. Tahun 1973 Indonesia pernah ada pabrik semikonduktor. Pabrik ini PMA, investasi dua perusahaan multinasional Amerika Serikat yaitu Fairchild Semiconductors dan National Semiconductors. 


Namun tahun 1985, PMA ini hengkang ke Malaysia. Sejak saat itu sampai kini, manufaktur semikonduktor Indonesia kalah dengan Malaysia. Bahkan Indonesia menjadi pengimpor semikonduktor. Setelah itu bisnis model semikonduktor berkembang.Tidak lagi terintegrasi. Terpecah pecah dalam bentuk global supply chain. Saat sekarang bisnis model terdiri dari Fabless (Chip Design), Foundry (Chip Fabrication), IDM (Chip Design & Fabrication), dan OSAT (Assembly & Test).


Fabless, khusus Chip design. Ini kekuatannya ada pada R&D dalam hal material dan sistem. Pemain utama dalam bidang ini sebagian besar perusahaan AS. Diantaranya adalah Qualcomm, Broadcom, Nvidia, AMD (Advanced Micro Devices) dan Media Tech ( Taiwan). Mereka tidak melakukan pabrikasi. Yang melakukan fabrikasi adalah  pihak lain yang mereka tunjuk sebagai outsourcing atau disebut Foundry. Mereka inilah diktator dalam bisnis semikonduktor. Karena ini bisnis high tech yang berkaitan dengan paten teknologi, tentu penentuan out sourcing sifatnya udah politik.


Dalam skema investasi. Para Foundry menentukan sendiri supply chain yang akan jadi basis produksi. Kualifikasi untuk jadi mitra mereka sangat ketat. Bahkan Foundry bukan hanya fabrikasi tetapi juga melakukan Chip Design & Fabrication sekaligus. Ya, design sesuai dengan hasil riset dari principal, Fabless. Saat sekarang ada 5 top player dunia dalam bidang Foundry, yaitu TSMC ( Taiwan Semiconductor Manufacturing Company ), Samsung, United Microelectronics Corporation ( UMC ), GlobalFoundries, Semiconductor Manufacturing International Corporation ( China).


Para foundry juga menentukan siapa yang qualified jadi mitra outsourcing OSAT ( Outsourced Semiconductor Assembly and Test). Saat sekarang top player OSAT adalah Walton Advanced Engineering, Amkor, TSHT, Chipbond, Signetics, Powertech Technology Inc, JECT, Hana Micron, Unisem, ChipMOS, UTAC, TFME, ASE Group, KYEC, SPIL. Tidak ada nama perusahaan Indonesia di daftar itu. 


Microchip dibutuhkan hampir di mana-mana. Mereka adalah jantung dari perangkat yang kita gunakan sebagai manusia modern seperti untuk bekerja, hiburan, bepergian, dan banyak lagi. Tanpa microchip tidak mungkin ada smartphone, smart car, AI, Robot, Navigasi pesawat dan kapal, MRI dan lain lain. Begitu penting dan strategisnya teknologi ini. Makanya perkembangannya yang cepat terhambat oleh faktor geopolitik antara China dan AS. Belum lagi ini bisnis high risk tapi high yield. Sebagian besar dana investasi berasal dari hedge fund yang terikat dengan  ESG dan banyak lagi faktor lainnya. Memang sophisticated 


Kalau indonesia ingin menjadi bagian dari supply chain industri microchip, yang pertama dulu harus dilakukan adalah reformasi tata niaga dengan menghapus rente dan kemudian, kurangi korupsi lewat penegakan hukum dan tentu harus perkuat R&D.  Tanpa itu jangan kaget bila Singapore dan Malaysia tetap menjadi pilihan utama bagi Foundry. 

Wednesday, May 22, 2024

Visi Elon Musk ?

 




Lebih dari sebulan setelah Elon Musk mengumumkan akan memangkas setidaknya 10% tenaga kerja perusahaan. Setiap bangun pagi karyawan dengan cemas membaca email masuk. Berharap tidak ada lagi PHK. Pemutusan hubungan kerja kemungkinan akan berlanjut hingga setidaknya bulan Juni. Padahal tadinya mereka bangga dengan  visi gila-gilaan Elon Musk mengenai energi ramah lingkungan. Lantas mengapa sampai PHK? walau alasan Musk katanya mau transformasi ke robotik dan AI, namun sebenarnya karena kalah bersaing dengan produk sejenis dan kendaraan hybrid.


Penjualan Tesla turun tajam pada kuartal terakhir tahun ini. Karena persaingan di pasar kendaraan listrik meningkat di seluruh dunia. Diskon harga pada EV produksi Tesla beberapa bulan lalu gagal menarik lebih banyak pembeli. Strategi yang sama dilakukan Elon Musk jual internet Starlink dengan banting harga. Akan gagal lagi. Tahun kemarin merugi. Karenanya Marcap Tesla drop USD 250 miliar sejak kerugian itu. Pasti dibawah tekanan likuiditas yang ketat. Panik lah. Pada April tahun ini Saham Tesla di bursa jatuh 60%. 


Sekian banyak pertanyaan teman teman kepada saya terhadap masa depan bisnis Elon Musk,  selama ini saya diam saja. Ogah jawabnya. Karena sulit menjelaskannya. Sama halnya sulit menjelaskan bahwa Bitcoin itu bukan bisnis yang ada barangnya. Harga hanya ada dalam persepsi dan konsensus semua pihak. Yang pasti untuk dapatkan bitcoin harus pakai uang beneran. Sementara Bitcoin bukanlah barang dan bukan pula komoditi real. Itu hanya persepsi. Mari kita lanjut bahas bisnis Elon Musk.


Ambil contoh Unit bisnis EV, “Tesla”. Setelah kejatuhan harga saham di bursa. Value Tesla sekitar $525 miliar. Sementara itu, General Motors bernilai $50 miliar,  Ford senilai $49 miliar, dan Toyota senilai $332 miliar. Digabung ketiganya masih lebih besar Tesla. Padahal output produksi Tesla 1,81 juta kendaraan pada tahun 2023, sementara Toyota lebih dari 10 juta. Nah pakai logika anda. Tidak perlu sekolah tinggi. Bahwa valuasi ini memang dibentuk oleh persepsi ilusi. Bahwa Tesla punya visi futuristik yang tidak dimiliki produsen kendaraan lain. Alasan ilusi hanya dipercaya orang idiot.


Mengapa? kalau benar dia punya visi futuristik, seperti perangkat lunak smart car, robot taxi dan spaceX. Tentu dia harus fokus ke visi itu seperti Huawei lakukan. Apapun ongkosnya. Tetapi dia malah banting harga jual. Artinya dia memang pedagang. Bukan industriawan yang visioner. Visi itu hanya alat jualan ilusi saja. Bukti lagi. Pada akhir tahun 2023, Tesla memiliki sekitar $29 miliar uang tunai.  Kalau memang ada itu uang. Kan bisa gunakan uang itu untuk kembangkan visinya.  Mengapa PHK besar-besaran. Kan mudah untuk paham permainannya. Bahwa dia memang tidak ada visi. Semua yang nampak hanyalah permainan klasik akuntasi wall street yaitu window dressing untuk memperkuat persepsi.


Kisah yang telah mendorong saham Tesla ke tingkat yang luar biasa sebelumnya, itu berkat gorengan hedge fund player. Nah dengan valuasi Tesla sekarang yang masih bear pada level yang buruk, sangat risiko beli. Walk away.  Kini membuka mata. Sehebat apapun cerita tentang visi Elon Musk dalam hal EV, SpaceX, dia tidak menghasilkan laba dari bisnisnya itu. Tidak bisa lagi minta investor terus onani dengan visinya. Ketahuan mainnya membegokan. Dia boleh saja punya mimpi besar dengan visi hebatnya, tetapi lakukan itu dengan uangnya sendiri. Jangan minta investor bursa untuk bertaruh atas mimpinya itu. Enough is enough. 


Kalau sampai Tesla jatuh ya Wall Street biasa saja. Investor ? ya derita elo. Free entry free fall. Sama halnya dengan jatuhnya Enron yang dikenal saham bluechip. Sama halnya dengan jatuhnya Lehman, investment banker bereputasi AAA, tumbangnya AIG, asuransi paling bergengsi. Di Indonesia. GoTo, Unicorn yang dibanggakan Jokowi, kini sahamnya jatuh mendekati gocap.  Biasa saja. Mengapa ? Tesla dibesarkan oleh bursa, dan di bursa itu yang diperdagangkan dan dipermainkan adalah persepsi terhadap valuasi. Dan itu dibangun bersama sama oleh pemain untuk mengorbankan investor tradisional. Ya sama dengan republik, yang menjadikan Pemilu ajang membangun persepsi lewat survey abal abal dan manipulasi suara. Bisnis dan poltik kalau culas, tujuannya sama. Cari uang mudah dari orang bego.


***


Walau sebagian besar teknologi Starlink dipasok oleh China namun, CEO SpaceX Elon Musk dalam wawancara dengan Financial Time, mengungkapkan bahwa pemerintah Tiongkok bukanlah penggemar Starlink. China telah menegaskan bahwa Elon Musk tidak akan pernah menjual Starlink di Tiongkok. Mengapa ? Ada tiga alasan yang mendasar mengapa China melarang Starlink. 


Pertama. Starlink itu satelit low orbit yang menyediakan Internet 50-500 Mbps sedangkan Viasat dan HughesNet hanya menyediakan 12-100 Mbps. Yang untuk mengakses tidak perlu perangkat lain seperti telp atau switching. Starlink punya device yang bisa disetel sendiri tanpa perlu keahlian khusus. Dia bisa lakukan secara direct dari satelite ke user. Ini memungkinkan negara tidak bisa kontrol informasi yang keluar maupun masuk. Dan juga tidak bisa mengontrol penggunaan internet itu untuk tujuan teror atau politik separate. Bagi China ini soal princip. No way!


Kedua. China sendiri sedang mengembangkan infrastruktur internet satelit LEO dalam skala besar, lebih canggih dari Starlink. Chins Satelite Network Group Co. Ltd ( CSNG-BUMN China) dapat tugas mekakukan pengembangan. CSNG akan pengoperasian “Guowang”, jaringan sub-rasi bintang yang mencakup sebanyak 12.992 satelit di LEO. Mega Konstelasi ini akan berkembang menjadi konstelasi satelit komunikasi Hongyun dan Hongyan, masing-masing milik China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) dan China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC). Jadi ngapain pakai starlink punya. Punya sendiri dan bisa kontrol sendiri.


Ketiga. Saat ini Starlink masih dalam tahap beta dan hanya sebagian kecil dari satelitnya yang diluncurkan. Sebagian besar sistem satelit kehilangan sinyal saat hujan lebat. Kelemahan ini belum bisa diantisipasi Starlink. Sementara China mampu menutupi kelemahan Starlink untuk kepentingan domestiknya, terutama daerah pedesaan yang butuh akses internet. 


Kalau China menolak internet Starlink, karena visi kesatuan dan persatuan bangsa mereka sangat kuat. Tidak bisa ditawar. Dan mereka punya teknologi untuk melindungi kepentingan domestiknya. Sementara kita, karena pejabat low class dan mental broker tanpa peduli visi NKRI. Starlink ini akan jadi solusi bagi Menkoinfo untuk mengadakan internet di daerah pedesaan sebagaimana program Internet Desa. Dan Telkom sebagai salah satu mitra proyek internet desa ini akan bermitra dengan Starlink jual internet ke pemerintah lewat BAKTI KOMINFO.


***

“ Apa yang kamu ketahui tentang Elon Musk ? Tanya Dewi.


“ Yang pasti dia kutu buku. Pada setiap kesempatan yang luang, dia gunakan waktunya membaca. Walau dia punya wawasan sampai ke ruang angkasa, tetapi secara personal dia orang yang pragmatis. Dia punya prinsip masa depan itu urusan para insinyur menjalankan visinya. Dia hanya fokus hari ini untuk menghasilkan uang. Entah bagaimana caranya. Uang harus dikuasai lebih dulu. Karena itu dia mau kerja keras dan mengorbankan apa saja, termasuk rumah tangganya.“ Kata saya.


“ Visi ruang angkasanya hebat ya.” 


“ SpaceX bukanlah satu satunya pemain. Bukan pula inovator teknologi angkasa. Ada United Launch Alliance (ULA). Sebelum Elon Musk bicara tentang visi ruang angkasa, ULA sudah berdiri. SpaceX masih mengerjakan prototipe, ULA sudah produksi.  China juga sudah punya. Belum lagi lainnya seperi Blue origini di AS. “ 


“ Kenapa akhirnya dia memilih China sebagai supply Chain Industri ruang angkasanya, sepeti roket dan satelit? Tanya Dewi.


“ Saya katakan tadi. Dia itu orang yang pragmatis atau tepatnya pedagang. Dia tahu bahwa engga mungkin dia bisa dapat untung dari industri ruang angkasa, kalau tekhnologi dan ketergantungan supply chain masih dari AS.  Semua industri ruang angkasa di AS  dan Eropa seperti Boeing, Hughes, Locked dan lain lain, tidak ada yang untung. Padahal mereka sudah lebih dulu dari Elon. Makanya dia pakai supply chain dari China yang murah. Engga ada urusan soal nasionalisme AS. Nah dia banting harga bandwidth satelit untuk layanan data. Harga jatuh  77%. Ini termurah selama 5 tahun belakangan ini. “ 


“ Jadi bisnis ruang angkasa sudah seperti bisnis angkot dong” Kata Andi tertawa. Saya senyum aja. “ Lantas dari mana investasi untuk riset kalau margin laba kecil ? Tanya Dewi.


“ Elon mana mikir sejauh itu.  Dia hanya tahu soal riset teknologi ya China. Dia hanya dagang merek aja. “


“ Oh pantas saya baca di surat kabar. Pentagon dan senat AS bersuara keras. Kawatir SpaceX dijadikan alat mata mata dari China untuk mengetahui sistem pertahanan AS. Apalagi ketergantungan SpaceX akan diikuti oleh provider satelit lainnya. Hancur dah kedaulatan AS. “ Kata Dewi. Saya senyum aja.


“ Terus kenapa China melarang Starlink di pasarkan di China? 


“ Ya kamu kan tahu. Itu teknologi starlink sebagian besar dari China. Ngapain China beli dari Elon. China punya lebih canggih dari Starlink “ kata saya. “China hanya memanfaatkan Elon menguasai pasar bandwith via satelit dan pada waktu bersamaan melancarkan grand strategi China menguasai orang perorang di dunia. Kalau AS  hegemoni nya focus ke negara lewat militer dan politik, tetapi china ke orang lewat layanan data ke rumah rumah. ”


“ Apa jadinya kalau akhirnya Starlink bernasib sama dengan Tesla, yang tumbuh besar berkat dukungan teknologi dari China dan terpuruk juga karena kompetisi China ? Tanya Dewi.


“ Ya dia akan datang dengan visi baru lagi, dan akan selalu ada pemain pasar uang yang memanfaatkan visinya itu untuk menarik uang lewat bursa. Begitu aja terus. Gimanapun juga uang beredar di dunia udah bubble dan itu perlu cangkang besar. Perlu semakin banyak orang miskin agar orang kaya selalu aman. Elon punya segala galanya untuk menjadi aktor agar persepsi pasar terbentuk bahwa dia orang hebat dan dipercaya. Sama halnya persepsi terhdap USD sebagai mata uang dunia.” Kata saya tersenyum

Monday, May 20, 2024

Uang adalah idiologi

 



Sampai kini AS tetap sebagai kekuatan ekonomi nomor wahid di Dunia. Masih sebagai kekuatan militer terbesar di dunia. Walau China membayangi dibelakang AS, namun tidak akan mungkin China melewati kekuatan AS. Mengapa? karena AS itu didesain sebagai sistem uang yang menjadi ideologi bagi semua bangsa. Sementara China didesain sebagai negara berbasis ideologi komunis yang tidak semua negara ikuti. China bisa saja sukses domestik. Tetapi di dunia, terlalu jauh. 


Kekuatan finansial itu lebih dari sekedar ekonomi yang dipahami secara klasik. Bicara financial, anda harus pahami itu jantung bisnis. Ada tiga unsur yang menopang kekuatan financial. Pertama adalah logistik, urat nadi ekonomi. Tidak ada satupun perdagangan bisa terlaksana tanpa dukungan logistik. AS lead soal ini. Walau pelabuhan dan bandara dimiliki negara lain, namun tidak ada satupun kapal laut bisa mengarungi samudera dan pesawat bisa terbang  tanpa dukungan insurance. Sampai kini 2/3 asuransi dunia dikuasai AS. 


Kedua. Kalau bicara financial maka juga bicara clearing. Maklum mata uang fiat tidak ada collateral. Yang jadi collateral adalah system clearing. Saat sekarang 2/3 negara di dunia clearing Vostro dan nostro dikendalikan AS. Walau China dan Rusia tidak lagi sepenuhnya menggunakan cadev USD. Namun 50% investasi di China dan Rusia berasal dari PMA, dan semua itu bermata uang USD. Karena hanya USD yang likuid pasar uangnya dan menjadi financial resource bagi semua investor institusi.


Ketiga. Keberadaan USD sebagai mata uang dunia adalah bagian dari sistem kapitalisme yang sudah berakar sejak awal AS memenangkan perang dunia ke dua. Perhatikan, paska perang dunia kedua, AS memberikan utang dalam program rekonstruksi  ( baca dech tentang Marshall Plan) kepada Eropa  dan Jepang, korea, juga kemudian Taiwan. Suka tidak suka negara tersebut menjadi satelit dan hub perputaran USD. Dan mereka kini adalah negara maju berkat dukungan financial resource AS.


Kemudian berlanjut dalam perang dingin dengan USSR. AS memberikan utang kepada negara anti komunis. Sekian dekade membuat USD dicetak diluar batas. Terjadi bubble. Dan karena itu 2/3 negara di dunia terjebak dengan debt trap, yang bagaimanapun harus tetap gunakan USD sebagai Cadev. Hidup mati mereka tergantung kepada kebijakan AS. Walau China tidak termasuk korban debt trap, tetapi semua mitra dagang China kena debt Trap. Tanpa mitra dagang dengan negara lain, China mati. Dampaknya kini  China ekonominya melambat dan AS yang terjebak inflasi. 


Sampai disini paham ya..


Saat kini dunia krisis dan bahkan beberapa negara masuk pasien IMF. Ini bukan soal AS sebagai negara. Tetapi ini berkaitan isi kepala elite financial global, yang kebetulan jadikan AS sebagai cangkang. Mereka sedang melakukan economy adjustment global. Mengubah lanskap geopolitik dan geostrategis yang mengeliminasi batas nasionalisme, menjadi masyarakat transnasional. Dengan kekuatan logistik, clearing, money market, mereka sedang mengarahkan ekonomi kepada platform borderless terhadap nasionalisme. Mereka  ingin menguasai negara di dunia dengan mengontrol regulasi apa yang harus dijalankan untuk agenda global mereka. Ini sebagai koreksi dari liberalisme pasar selama ini yang menguntungkan China. 


Ini tidak main main. Hampir semua pemain hedge fund memerintahkan proxy nya untuk melepas asset di bursa. Warren Buffet saja melepas portfolio andalannya sebesar USD 150 miliar dan kepit uang kontan. Begitu juga dengan Black Rock dan lain lain. Likuiditas ketat, financial resource tersendat menyalurkan ke jantung ekonomi. Negara negara yang lemah ditempatkan pada posisi “surrender or die. Dan bagi negara yang masih agak kuat masuk dalam perangkap debt diplomate, akhirnya NATO  ( no alternative to objection). Good bye nasionalisme ! seperti kata Jokowi  kepada Diah Pitaloka “ Ideologi tidak penting.” Di Indonesia ideologi Marhaen hanya dapat suara 16% dalam Pemilu. Kalah dengan money politik yang menjadi ideologi mayoritas negeri ini.



Tuesday, May 14, 2024

Kado untuk Prabowo...

 


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan PDB per kapita di Indonesia per akhir 2023 mencapai PDB per kapita mencapai US$4.919,7 atau sekitar Rp 79,06 juta per tahun (US$1= Rp 16.070). Bila dirata-rata dalam sebulan maka penghasilannya mencapai Rp 6,6 juta per bulan.


PDB per kapita (US$) 



Ini kado buat Prabowo yang akan mengawali kekuasaannya pada tahun 2024. Mengapa saya sebut kado? karena PDB kita akan tembus USD 5000 per kapita. Kita sudah masuk sebagai negara berpenghasilan menengah atas. Bukan lagi negara berkembang atau negara miskin. Kita sudah berada di zona negara seperti Singapura.  Kalau anda kepala keluarga, punya anak dua dan istri. Maka kalau penghasilan anda dibawah Rp. 26,4 juta ( 6,6x4) sebulan. Jangan buru buru bilang data BPS itu salah. Karena PDB itu menghitung secara rata rata, yaitu orang super kaya dan orang super miskin dimasukan dalam keranjangan hitungan. Jadi jangan baper.

Dalam Global Wealth Report 2018 yang dirilis Credit Suisse menunjukkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6% total kekayaan penduduk dewasa di tanah air. Sementara 10% orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan penduduk. Siapa saja mereka itu. Data Forbes, harta Phang Djun Pe sebesar Rp 677 triliun triliun. Harta dari keluarga Oei Wie Gwan Rp. 744 triliun. Low Tuck Kwong yang hartanya mencapai Rp 421 triliun. Keluarga   Oei Ek Tjhong sebesar Rp. 167 triliun. Keluarga Liem Sioe Liong, Rp. 170 triliun, dan lain lain. Singkatnya selama setahun saja harta mereka meningkat Rp.1.116 triliun. Jadi kalau anda bertambah miskin, mereka bertambah kaya. Jangan baper !


Sekali lagi jangan baper. Kalau faktanya pembangunan dan SDA yang besar itu hanya untuk segelintir orang. Ini bukan soal ketidak adilan. Hidup memang tidak adil. Kecuali di akhirat. Mereka yang kaya itu adalah juga rakyat Indonesia.  Pemerintah sayang kepada semua rakyat. Yang kaya dapat konsesi bisnis. Yang miskin dapat bansos dan subsidi. Hanya saja mereka yang kaya punya etos kewirausahaan yang kuat, network dalam dan luar negri yang luas, mereka menjadi aset negara yang melontarkan Indonesia ke dalam zona negara berpenghasilan menengah atas. 

Bagaimana sikap Prabowo saat menerima kado terindah ini? Apakah dia menyadari  fenomena dan realitas ekonomi negara selama ini ? Apakah dia akan melaksanakan ajaran Soekarno untuk mengamankan kekayaan Indonesia. Untuk kemakmuran bagi semua. Atau tetap melanjutkan mendukung kekayaan bagi segelintir orang. Dan melanjutkan program yang miskin  dapat Bansos, subsidi, MSG, upah UMR. Kita tidak tahu pasti.Sekali lagi, jangan baper! Nikmati saja. Ntar mati masuk sorga.




Thursday, May 9, 2024

Likuiditas perbankan ketat

 


Momok mengkawatirkan dalam sistem perbankan adalah likuiditas ketat. Maklum bank itu berbisnis dari cash flow dan kelancaran likuiditas sangat penting menjamin bank sustains. Minggu lalu Saham Bank Mandiri mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Saham turun 11% menjadi 6,175.00 rupiah ($0.38) pada Kamis sore, berada di jalur persentase kerugian satu hari terbesar sejak 2011. Mengapa? Likuiditas ketat mendorong persaingan mendapatkan dana, dan tentu berujung kepada kenaikan bunga. Membuat biaya dana semakin besar. Laba Bank Mandiri pada kuartal pertama hanya naik 1,1%, dan memangkas target margin bunga bersih setahun penuh sebesar 20-30 basis poin.  Bank bank kecil tentu lebih parah. 




Gejala ketatnya likuiditas sebenarnya sudah terasa sejak tahun lalu. Apalagi sebagian besar dana bank kesedot pasar SBN. Kini bukan hanya antar bank yang bersaing ketat dapatkan dana dari pasar. Antar BI VS Kementerian keuangan juga bersaing. Ya bersaing naikan suku bunga. Maklum BI perlu sedot dana asing agar moneter stabil. Dan Menkeu perlu dana untuk APBN. Masing masing punya kepentingan. 


Nah sejak BI rate naik jadi 6,25%. BI langsung terjun ke pasar dengan instrument SRBI (Sertifikat Rupiah Bank Indonesia) bertenor jangka pendek. SRBI tenor 12 bulan Yield 7,53%. Sedangkan SRBI tenor 9 bulan ditetapkan di 7,4% dan tenor 6 bulan 7,31%.  Ini record SRBI tertinggi sejak diperkenalkan tahun lalu. Melampaui level Yield SBN tenor terpendek. Dan tentu berdampak kepada likuiditas perbankan. Data JIBOR, sejak BI rate naik, kini sudah di 6,9% untuk tenor 1 bulan, lalu 6,51% untuk 1 pekan dan 6,17% overnight. Sedang JIBOR 3 bulan ke atas ada di kisaran 7,17%-7,45%.


Sementara SBN lelang terakhir pada 30 April, Ask-Bid yield 7,15% untuk SBN tenor 12 bulan (seri SPN) hingga 7,15%. Pemerintah akhirnya memenangkan di 6,82%. Tetap jauh lebih tinggi dibanding rate dimenangkan sebelum bunga acuan naik dalam lelang akhir Maret di level 6,48%. Yield yang semakin tinggi, tentu berdampak serius terhadap kemampuan APBN melakukan stimulus. Karena cost fund semakin mahal. Jadi mau tidak mau pemerintah harus restruktur APBN agar lebih efisien dan tidak menabrak rambu rambu defisit yang ditetapkan oleh UU. 


Memang kenaikan Yield SRBI berdampak pada meningkatnya confidence pasar maupun investor global sehingga menarik aliran modal asing. Yang pasti happy ya investor. Sementara keadaan era suku bunga tinggi the Fed itu akan masih berlangsung lama. Dampaknya sektor real yang jadi andalan PDB nasional dan penyerapan angkatan kerja terancam. Bank akan menahan pengucuran kredit.  Agar 
pertumbuhan kredit pada level dua digit atau 11%, BI terpaksa menyuntikan likuiditas ke dalam perbankan lewat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial sekitar Rp260 triliun.  Namun itu tidak akan otomatis pertumbuhan kredit akan meningkat. Mengapa ?


Karena bagaimanapun kredit itu dasarnya kelayakan bisnis. Dengan adanya likuiditas ketat, negara ( BI dan Menkeu) masuk ke pasar lewat penjualan surat berharga dan kenaikan tarif pajak,  terjadi Crowding Out Effect, yaitu daya beli publik akan drop. Kalau pasar domestik lesu, bisnis jadi engga layak. Kredit tidak akan di approved bank. Situasi ekonomi dan moneter kita memang sedang tidak baik baik saja. Perlu langkah hati hati dan rela mengorbankan kepentingan politik populis agar bisa melewati goncangan ini..