Tuesday, January 12, 2021

Sinovac Biotech Ltd.

 


Sinovac Biotech LTD didirikan oleh Yin Weidon pada tahun 1999. Nama Sinovac sejajar dengan Moderna, BioNTech (Jerman ) Pfizer (US) dan Fosun Pharma (China), Zydus Cadila ( india), CanSino Biologics ( China), Sinopharm ( China). Di China, Sinovac mengoperasikan fasilitas produksi dan research & development di 5 lokasi. Kantor pusatnya berada di Beijing. Selain itu, mereka juga memiliki fasilitas lab di Brasil. Pengalamannya dalam bisnis cukup panjang sebagai perusahaan biofarmasi yang berfokus pada penelitian, pengembangan, pembuatan, dan komersialisasi vaksin yang melindungi dari penyakit menular manusia. 


Portofolio produk Sinovac mencakup vaksin untuk melawan hepatitis A dan B, influenza musiman, pandemi influenza H5N1 (flu burung), influenza H1N1 (flu babi), gondongan, dan rabies anjing. Pada tahun 2009, Sinovac adalah perusahaan pertama di dunia yang menerima persetujuan untuk vaksin influenza H1N1 dan penjamin suplay vaksin di China. Ia juga satu-satunya pemasok vaksin flu pandemi H5N1 untuk stockpiling program pemerintah..


Sinovac juga memproduksi vaksin enterovirus 71, yang telah terbukti efektif dalam mencegah penyakit tangan, kaki dan mulut pada bayi dan anak-anak selama uji coba Fase III. Juga sedang mengembangkan sejumlah produk baru termasuk vaksin polio nonaktif strain Sabin, vaksin polisakarida pneumokokus, vaksin konjugasi pneumokokus, dan vaksin varicella. Produks vaksin Sinovac di samping untuk pasar domestik di China, juga memanfaatkan peluang pasar internasional. Mereka mengekspor vaksin ke Mongolia, Nepal, Filipina dan Meksiko, dan baru-baru ini diberikan izin untuk mengkomersialkan vaksin hepatitis A di Chili. 


Untuk melawan pandemi Covid-19, Sinovac mengembangkan vaksin CoronaVac. Ini jenis vaksin inactive. Dalam uji coba di laboratorium di China, vaksin ini diketahui bisa menciptakan respon kekebalan melawan infeksi virus corona di dalam tubuh. Bulan Juli 2020 pemeritah China memberikan izin vaksin COVID-19  untuk emergency. Sinovac bekerja sama dengan dengan Indonesia, Turki dan Brazil untuk uji klnis tahap 3.  Semua hasilnya aman untuk manusia dan efektif melawan Covid-19. Saat sekarang yang memastikan membeli vaksin Sinovac adalah Turki, Brazil dan Chile, Indonesia.


Tahun 2017, Sinovac delisting di Nasdaq AS. Karena melanggar standar kepatuhan bursa.  Kemudian listing lagi setelah memenuhi persyaratan bursa. Tapi Februari 2019 Nasdaq Stock Market menghentikan perdagangan saham Sinovac pada harga $ 6,47. Penyebabnya perang proxy dengan management. Sepertinya ada investor kakap masuk tetapi Sinovac tidak mau terbuka soal informasi itu kepada bursa. Namun konplik antara direksi dan pemegang saham menimbulkan kecurigaan otoritas bursa bahwa pemegang saham pengendali menggunakan proxy untuk mengontrol perusahaan.


Saya rasa dengan reputasi Sinovac selama 20 tahun sebagai perusahaan produsen Vaksin, terlalu naip kita tidak mengakui kualitas Vaksin Sinovac. Sebagaimana informasi BPOM, vaksin Sinovac memiliki kemampuan pembentukan antibodi dalam tubuh. Efikasi vaksin mencapai 65,3 persen. MUI pun sudah mengeluarkan fatwa bahwa Vaksin CoronaVac halal dan suci. Mari vaksin. Jangan ragu.


***

Ada pertanyaan nitizen yang meragukan Vaksin COVID-19. Alasanya karena vaksin dibuat dengan cepat. Padahal untuk membuat vaksin butuh waktu riset lama dan sampai dia aman digunakan manusia butuh tahunan uji klinis untuk memastikan tidak ada efek buruk jangka panjang terhadap tubuh manusia. Lah ini vaksin bisa dibuat dalam waktu singkat. Apa iya aman? Saya akan jawab sebisa saya atas pemahaman yang saya punya. Saya memang tidak ahli namun sebagai pebisnis yang mengamati bisnis pharmasi tentu saya paham produk mereka.


Di awal pandemi desember 2019, ahli ilmu pengetahuan China berhasil memetakan dengan akurat informasi genetik tentang Virus corona SARS-Cov-2. Oleh China, informasi genetik itu dibagikan kepada ilmuwan di seluruh dunia. “ Ini loh musuh kita. Ini loh kelemahannya. Ini loh kelebihannya. Begini loh mereka berkembang. Begini loh asal muasalnya. Beginilah loh organisasi pertahanan dan penyerangannya. Ini loh penyebab sistem daya tahan ( antibodi) manusia error melindungi tubuh dari serangan”.


Jadi ibarat perang. Data intelijent tentang musuh sudah diinformasikan oleh China. Ini berkat laboratorium pertahanan nasional China terhadap serangan pandemi. Dengan informasi itulah, para ahli di dunia membuat senjata untuk melindungi diri dari serangan corona, Itu disebut Vaksin. Dari informasi itu maka strategi dan metodelogi menghadapi virus mudah ditetapkan. Strateginya adalah memperkuat antibodi manusia terhadap serangan virus. Metodenya ada dua. Pertama, dengan menggunakan inactive virus atau virus yang sudah dilemahkan. Kedua, dengan mRNA atau messenger RNA.


Metode pertama dibuat oleh China ( Sinovac). Ini metode jadul yang sudah terbukti puluhan tahun aman. Yang kedua, mRNA itu metode canggih yang sudah dikembangkan oleh Eropa dan AS. Dua metode ini punya kelebihan dan kekurangan. Jadi engga perlu diperdebatkan. Tergantung pilihan. Metode pertama, tingkat efektifitasnya melawan virus rendah dibandingkan metode ke dua. Namun tingkat keamanannya tinggi atau resikonya 0,1%. Praktis engga ada resiko. Sementara mRNA seperti Pfezer , efektifitas tinggi namun resiko juga tinggi. Namun tidak fatal.


Tapi anda tidak perlu takut atau bingung menentukan pilihan. Dokter tahu mana yang cocok untuk kedua jenis vaksin itu. Itu sama seperti cara dokter memberikan obat antibiotik untuk anda. Mereka tahu mana yang tepat untuk anda. Contoh kalau daya tahan tubuh anda kuat, ya yang cocok adalah Vaksin Sinovac ( inactive virus ). Untuk manula yang daya tahan tubuhnya rendah, yang cocok vaksin Pfezer atau mRNA. Dalam program vaksinasi, pemerintah sudah mengamankan stok untuk dua jenis vaksin itu.


Vaksin itu metode memperkuat antibodi kita. Bukan obat. Vaksin dibuat dengan standar Sains yang ketat. Jadi engga mungkin big risk. Yang penting walau sudah di vaksin, tetap patuh kepada prokes. Ubah gaya hidup anda. Esensi kekuatan antibodi sebenarnya adalah pada sikap mental atau jiwa kita terhadap penyakit. Kalau kita lebih banyak takut terhadap vaksin dengan membesar besarkan resiko vaksin, jelas itu kontraproduktif terhadap upaya sains untuk melawan pandemi. Jadi engga usah lebay seperti DKI yang dengan bombamdis menyiapkan 21 RS rujukan untuk antipasi efek sampingan dari vaksin.

Saturday, January 2, 2021

Nasip Jack Ma, Alibaba dan Alipay...?


Pada tahun 1999 sehari sebelum China bergabung dalam organisasi perdagangan dunia (WTO), Jack Ma  ( Ma Yun) mendirikan Alibaba di Hangzhou. Ia diuntungkan dari adanya liberalisasi ekonomi di bawah rezim Jiang Zemin.  Jack Ma bisa leluasa megembangkan Alibaba tanpa ada restriksi berlebihan dari pemerintah China. Tahun 2004 ia mendirikan Alipay, sebuah aplikasi pembelian dan pembayaran online di ecommerce Alibaba. Tentu berdampak luas terhadap Alibaba. Bukan hanya ecommerce tetapi juga menjadi aplikasi pembayaran raksasa bagi pengguna selular. Melayani lebh dari 1,3 miliar user global. Dari Alipay itu dia mendirikan anak perusahaan Ant financial Group. Ant juga sebagai provider tekhology untuk fintec bagi perusahaan asuransi dan perbankan.


Sebetulnya raksasa ecommerce dan alat pembayaran online, bukan hanya Jack Ma tetapi ada juga Pony Ma pendiri Tencent. Namun nama Pony Ma tidak setenar Jack Ma. Kalau Pony Ma lebih memilih diam dan terkesan misterius. Namun Jack Ma sengaja membuat dirinya terkenal dan menjadi pusat perhatian dunia. Ia bagaikan superstar yang tampi dipanggung dunia. Menjadi pusat perhatian pada pertemuan pengusaha kelas dunia di Davos. Kebetulan bahasa inggrisnya bagus dibandingkan pengusaha China lainnya, sehingga dia benar benar menjadi orator hebat, dan juga motivator bagi kalangan bisnis pemula di bidang IT. Setidaknya dengan itu, Jack Ma adalah satu satunya pengusaha China yang dapat pengakuan international.


Sebatas itu tidak ada masalah bagi pemerintah China. Namun menjadi lain ketika Jack Ma sudah mulai berani mengkritik Pemerintah. Dengan lantang dia menyindir otoritas China yang masih menerapkan aturan jadul yang sehingga menghambat proses inovasi IT. Tapi ia mendapat angin segar dari rakyat China dan dunia. Bahwa Jack Ma membawa pesan pembaharuan. Bahwa FinTech adalah era Ma. Bicara tentang FinTech tidak lepas dari Jack Ma.  Tentu keadaan ini membuat Pemerintah Xijiinping gerah. 


“ Tidak ada yang disebut era Ma Yun, tetapi Ma Yun adalah bagian dari era China… tidak peduli apakah itu Ma Yun, Ma Huateng, Elon Musk, atau kita orang biasa, mereka yang mencapai potensi terbesar mereka adalah mereka yang merebut  peluang yang disediakan oleh pemerintah China. “ Demikian kata juru bicara Parta Komunis sebagaimana dikutip oleh  People's Daily online. Itu sinyal keras. Bahwa pemerintah China tidak suka dengan cara dan sikap  Jack Ma.


Ada yang dilupakan oleh Jack Ma. Bahwa dia bisa berkembang karena regulasi yang longgar dari pemerintah China dalam rangka mendukung inovasi financial technologi. Tujuan pemerintah China tentu berharap dengan kemajuan FinTech ini bisa memberikan akses kepada rakyat China mendapatkan jasa perbankan dan lembaga keuangan dengan mudah dan murah. Namun yang jadi masalah. Kemajuan Alipay tidak seperti Philosofi pemerintah China terhadap Fintech.  Sistem alat pembayaran Alipay telah menjadi rentenir yang memeras rakyat kecil. Tidak ada trasparansi. Kalau bunga pinjaman dijanjikan 0%, ternyata rakyat dibebani diatas 15%. Belum lagi soal tabungan lewat Fintech yang tidak jelas tingkat bunga dan jaminan resiko. Lama lama sudah menjelma menjadi bisnis Ponzy.


Disamping itu tidak ada upaya Jack Ma secara serius mendorong kewirausahaan dibidang IT di China. Bahkan keberadaan Alipay dan Alibaba mematikan kompetisi. Apa yang dia katakan tentang kepedulian kepada dunia usaha kecil China, tidak sesuai dengan kenyataan. Ternyata penyebabnya adalah Jack Ma sendiri bukanlah pengedali atas saham Alibaba dan Alipay ( Ant Financial Group). Dia hanya menguasai segelintir saham. Sisanya dikuasai oleh konglomerat venture capital wallstreet dan Jepang. Mereka menjadi pengendali. Jack Ma hanya boneka dari konglomerat hedge fund. Menurut teman di Beijing” Jack Ma pernah bicara di depan forum wirausahaan. Dia mendukung protes di Hong Kong khususnya dalam memilih pemimpin Hong Kong.


Sebelum rencana Ant Financial Group (Alipay) IPO, otoritas bursa di Shanghai sudah minta keterbukaan informasi kepada Jack Ma dan petinggi Alipay. Namun sampai menjelang IPO, belum juga ada laporan keterbukaan yang memuaskan otoritas. Itu sebabnya dua hari menjelang IPO, otoritas membatalkan rencana IPO Alipay. Jack Ma  meradang. Berbicara dihadapan publik, " Seharusnya otoritas tidak hanya bicara tentang aturan diatas kertas. Tetapi membuat aturan yang memberikan solusi untuk berkembang.".  Otoritas China tidak terpengaruh dengan omongan Jack Ma itu. 


Justru, setelah pembatalan IPO Alipay, beberapa hari kemudian, China meluncurkan aturan baru tentang antitrust, yang memangkas miliaran dolar dari kapitalisasi pasar Alibaba, dan desember 2020 regulator melakukan penyelidikan antimonopoli ke group perusahaan Jack Ma. Cukup? Belum.  Pada hari Minggu (27 Desember 2020), bank sentral China mengumumkan bahwa mereka telah memerintahkan eksekutif Ant financial group untuk merombak bisnisnya guna mengatasi masalah kepatuhan berkaitan dengan kredit, asuransi, dan kekayaan, dan tidak boleh terlibat dalam skema pinjaman arbitrase, Tuntutan tersebut dapat mengarah pada restrukturisasi besar-besaran dari unicorn fintech Alibaba dan alipay. Dan pasti akan menjatuhkan saham Alibaba di bursa NY.


Menurut saya, apa yang terjadi pada Jack Ma, tak lebih bagian dari politik nasionalisme China, yang melihat resiko atas kehadiran perusahaan IT yang dimodali dari AS, Jepang, Eropa dan India. Resiko terbesar yang dikawatirkan adalah terjadinya Shock FinTech yang bisa berdampak sistemik terhadap moneter China. Misal, pinjaman publik dan skema pembayaran kepada pihak ketiga lewat fintech dengan aturan arbitrase, itu sangat beresiko terhadap gagal bayar publik, dan ini bisa memaksa negara bailout.  Fintech tetap harus melakukan skema non arbitrase. Tidak boleh secara hukum memaksa orang membayar utang. Jack Ma masuk terlalu jauh dalam bisnis keuangan. Itu sudah melanggar hukum.  Karena dia hanyalah perusahaan penyedia tekhnologi untuk alat bertransaksi dan pembayaran.


Jack Ma harus belajar bijak sebagai orang China. Yang mengutamakan kerendahan hati dan patuh kepada politik negara. Dia harus belajar dari Pony Ma yang tak pernah menyebut dirinya “ Aku “ tetapi “ kami “. Atau seperti Zhong Shanshan sang taipan Cina, orang terkaya nomor 1 di ASIA dan nomor 11 di dunia yang tak pernah bersuara di hadapan publik dan terkesan penyendiri. Budaya China adalah kebersamaan, dan kejujuran. Tidak ada yang superior kecuali negara. Saya yakin bahwa Jack Ma tidak akan dihabisi seperti Wu Anbang. Dia hanya diperingatkan agar patuh. Dia terlalu berharga bagi pemerintah China. Apalagi dia juga adalah kader Partai Komunis. Dan saya yakin Jack Ma akan berubah.