Dalam ekonomi modern, kekuatan sebuah negara tidak lagi ditentukan semata oleh luas wilayah, jumlah penduduk, atau besarnya sumber daya alam. Kekuatan sejati ditentukan oleh kemampuan mengubah pengetahuan menjadi teknologi, produktivitas, dan inovasi. Karena itu negara-negara maju menempatkan riset dan pengembangan (Research and Development / R&D) sebagai inti strategi pembangunan nasional.
Data World Bank menunjukkan Korea Selatan mengalokasikan hampir 5% PDB untuk R&D. Jepang sekitar 3,5%, Taiwan di atas 3%, bahkan China sudah melampaui 2% PDB. Sementara Indonesia masih berada di kisaran sekitar 0,2–0,3% PDB. Angka ini menunjukkan bahwa investasi Indonesia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat rendah dibanding negara industri Asia lainnya.
Ironisnya, dalam situasi kompleksitas ekonomi Indonesia masih rendah dan ketergantungan terhadap impor teknologi masih sangat besar, perhatian negara justru lebih besar diarahkan kepada program konsumsi jangka pendek seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dibanding pembangunan ekosistem riset nasional.
Tentu program pangan dan gizi penting. Tidak ada bangsa maju dengan rakyat kelaparan. Namun persoalannya terletak pada prioritas dan arah pembangunan jangka panjang. Ketika anggaran negara sangat terbatas, sementara dana riset tetap kecil, laboratorium terbengkalai, kualitas universitas stagnan, dan peneliti hidup tanpa dukungan memadai, maka pilihan politik yang terlalu menekankan konsumsi dibanding penguatan sains menunjukkan satu hal, negara belum benar-benar menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi peradaban.
Padahal bangsa yang besar bukan dibangun dari banyaknya bantuan konsumsi, melainkan dari kemampuan rakyatnya menciptakan teknologi, inovasi, industri, dan pengetahuan baru. Karena makanan dapat mengenyangkan perut satu generasi. Tetapi sains membangun kekuatan sebuah bangsa untuk puluhan bahkan ratusan tahun.
***
Selama beberapa dekade, pembangunan di banyak negara berkembang—termasuk Indonesia—sering diukur dari angka pertumbuhan ekonomi semata. Selama investasi masuk, ekspor naik, gedung berdiri, jalan tol dibangun, dan PDB tumbuh, maka pembangunan dianggap berhasil. Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan: pertumbuhan seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun? Dan untuk siapa pembangunan itu bekerja?
Di sinilah pentingnya sains sebagai fondasi pembangunan modern. Tanpa basis sains, pembangunan mudah berubah menjadi sekadar eksploitasi sumber daya alam dan akumulasi rente jangka pendek. Ia mungkin menghasilkan pertumbuhan statistik, tetapi gagal membangun peradaban yang adil, produktif, dan berkelanjutan.
Data Economic Complexity Index (ECI) dari Harvard Growth Lab menunjukkan Indonesia masih berada pada tingkat kompleksitas ekonomi relatif rendah dibanding negara industri maju Asia. Struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas primer dan produk antara, batu bara, CPO, nikel, gas, mineral mentah atau semi-hilir, sementara teknologi inti, mesin industri, bahan baku strategis, dan supply chain bernilai tambah tinggi masih bergantung pada luar negeri.
Artinya, pembangunan ekonomi Indonesia belum benar-benar bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi domestik. Yang berkembang lebih cepat justru ekonomi ekstraktif. Negara mengekspor sumber daya alam dalam skala besar, tetapi tetap mengimpor teknologi, pengetahuan, dan bahkan sebagian besar struktur industrinya sendiri.
Dalam teori Raul Prebisch dan Hans Singer, negara yang bergantung pada ekspor komoditas akan cenderung mengalami deterioration of terms of trade dalam jangka panjang. Nilai tambah terbesar tidak dinikmati negara penghasil bahan mentah, tetapi negara yang menguasai teknologi, manufaktur lanjutan, sistem keuangan, dan inovasi industri.
Karena itu pembangunan tanpa basis sains pada akhirnya hanya menciptakan ilusi pertumbuhan. Secara statistik ekonomi terlihat besar, tetapi kualitas kemandirian nasional tetap rapuh. Devisa mengalir keluar melalui impor teknologi, pembayaran utang, repatriasi keuntungan, dan ketergantungan terhadap modal asing. Tidak heran bila Posisi Investasi Internasional Bersih (Net IIP) Indonesia tetap negatif meskipun eksploitasi SDA terus meningkat.
Masalahnya tidak berhenti pada ekonomi. Pembangunan yang memunggungi sains juga cenderung merusak lingkungan. Mengapa? Karena tanpa pendekatan ilmiah, eksploitasi sumber daya alam lebih mudah didorong oleh kepentingan rente jangka pendek dibanding keberlanjutan ekologis. Hutan ditebang tanpa pemulihan ekosistem. Tambang dibuka tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan. Sungai tercemar, tanah rusak, dan masyarakat lokal kehilangan ruang hidupnya. Dalam model pembangunan seperti ini, alam diperlakukan sekadar objek ekstraksi, bukan bagian dari keseimbangan peradaban.
Ironisnya, kerusakan lingkungan justru paling besar dirasakan kelompok masyarakat bawah, petani, nelayan, masyarakat adat, dan pekerja informal. Artinya, pembangunan tanpa sains pada akhirnya juga gagal melahirkan keadilan sosial. Lebih jauh lagi, pembangunan yang anti-sains cenderung melemahkan demokrasi.
Mengapa?
Karena ketika negara tidak bertumpu pada meritokrasi, riset, dan rasionalitas kebijakan, maka ruang publik lebih mudah dipenuhi propaganda, pencitraan, populisme, dan manipulasi informasi. Keputusan strategis tidak lagi diambil berdasarkan data dan penelitian ilmiah, tetapi berdasarkan kepentingan politik jangka pendek dan tekanan oligarki ekonomi.
Joseph Stiglitz menyebut fenomena ini sebagai policy capture, yaitu ketika kebijakan negara lebih melindungi kepentingan pemilik modal besar dibanding kepentingan publik. Sementara Acemoglu dan Robinson menyebutnya sebagai extractive institutions—institusi yang memungkinkan elite mengekstraksi keuntungan dari mayoritas masyarakat. Dalam sistem seperti itu, sains menjadi ancaman. Karena sains menuntut transparansi, rasionalitas, evaluasi berbasis data, dan keberanian mengoreksi kekuasaan.
Tidak mengherankan bila banyak negara yang gagal melakukan transformasi ekonomi biasanya juga memiliki kualitas pendidikan rendah, investasi riset minim, budaya anti kritik, dan ketergantungan tinggi pada ekonomi rente. Sebaliknya, negara yang berhasil melakukan lompatan peradaban hampir selalu menempatkan sains sebagai inti pembangunan. Jepang pasca perang, Korea Selatan, Taiwan, hingga China modern. Mereka memahami bahwa kekuatan sebuah negara modern bukan terletak pada banyaknya sumber daya alam, tetapi pada kemampuan manusia mengolah pengetahuan menjadi produktivitas.
Karena itu pembangunan sejati sebenarnya bukan soal membangun gedung paling tinggi atau mengejar pertumbuhan tercepat. Pembangunan sejati adalah membangun masyarakat yang berpikir kritis, melek sains, produktif, mandiri, dan mampu menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan demokrasi. Tanpa itu, pertumbuhan hanya akan menjadi angka. Kaya di atas kertas, tetapi rapuh di dalam struktur.
***
Kritik media internasional terhadap arah ekonomi dan demokrasi Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto sebenarnya tidak muncul dalam ruang kosong. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah sorotan dari The Economist yang menilai Indonesia mulai menghadapi kombinasi berbahaya: pelemahan kualitas demokrasi di saat kapasitas fiskal dan ekonomi sedang berada di bawah tekanan.
Banyak pihak di dalam negeri sering melihat kritik seperti itu semata sebagai serangan politik Barat. Padahal, jika dibaca lebih dalam, kritik tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan struktural yang sudah lama ada, negara terlalu sering dikelola dengan pendekatan populisme politik, sementara fondasi teknokrasi, sains, dan tata kelola institusional belum cukup kuat menopang kompleksitas ekonomi modern.
Dalam negara demokrasi modern, legitimasi politik tidak cukup hanya berasal dari kemenangan elektoral. Ia juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah menghasilkan kebijakan yang rasional, transparan, terukur, dan berbasis data. Di sinilah hubungan antara demokrasi dan sains menjadi sangat penting.
Ketika kebijakan ekonomi lebih didorong oleh kebutuhan menjaga popularitas jangka pendek dibanding kalkulasi teknokratis jangka panjang, maka APBN perlahan berubah menjadi alat stabilisasi politik, bukan instrumen pembangunan peradaban. Belanja negara membesar, tetapi produktivitas nasional tidak naik secara proporsional. Program populis berkembang cepat, sementara investasi terhadap riset, teknologi, dan penguatan institusi berjalan lambat.
Padahal dunia sedang berubah sangat cepat. Persaingan global hari ini tidak lagi hanya soal siapa punya sumber daya alam terbesar, tetapi siapa yang menguasai artificial intelligence, biotechnology, advanced manufacturing, semiconductor, robotics, dan industrial science ecosystem. China memahami ini sejak lama.
Karena itu mereka membangun negara dengan basis teknokrasi industri. Mereka menghormati ilmuwan, memperbesar anggaran R&D, menghubungkan universitas dengan industri, dan menempatkan sains sebagai bagian dari strategi negara. Hasilnya terlihat jelas, perusahaan seperti Huawei, BYD, CATL, DJI, hingga Lens Technology lahir bukan dari pidato politik, tetapi dari ekosistem ilmu pengetahuan dan manufaktur yang dibangun puluhan tahun.
Sebaliknya, banyak negara berkembang masih terjebak pada ilusi pembangunan fisik tanpa penguasaan teknologi inti. Kita membangun refinery tetapi tetap bergantung pada teknologi katalis asing. Kita membangun smelter tetapi efisiensi produk masih kalah karena riset material dan engineering lemah. Kita membuka food estate tetapi gagal menjaga produktivitas karena pendekatan agrikultur berbasis sains tidak matang. Semua itu menunjukkan satu hal yaitu pembangunan tanpa penguasaan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan ketergantungan baru.
Kritik The Economist terhadap Indonesia juga menyentuh soal demokrasi. Ketika kekuasaan terlalu terkonsentrasi, oposisi melemah, kritik publik dianggap ancaman, dan institusi semakin bergantung pada figur politik, maka kualitas pengambilan keputusan ikut menurun. Dalam situasi seperti itu, kebijakan mudah berubah menjadi hasil kompromi elite, bukan hasil deliberasi ilmiah yang sehat. Demokrasi yang sehat seharusnya membuka ruang bagi akademisi, ilmuwan, technocrat, civil society, dan data independent untuk ikut membentuk arah kebijakan negara.
Karena itu, tantangan Indonesia hari ini bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Tantangan sebenarnya adalah apakah negara mampu bertransformasi menjadi negara modern yang dikelola secara teknokratis berbasis sains, tetapi tetap demokratis dan akuntabel. Jika tidak, maka kita akan terus terjebak dalam siklus, proyek besar tanpa industrial upgrading, belanja besar tanpa produktivitas, populisme tanpa transformasi, dan demokrasi prosedural tanpa kualitas institusi.
Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak dibangun hanya oleh kekuatan politik. Mereka dibangun oleh kemampuan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kebijakan publik dan demokrasi sebagai mekanisme koreksi rasional terhadap kekuasaan.




