Pengantar.
Essay ini membahas perbandingan model pembangunan ekonomi China dan United States sebagaimana dianalisis oleh John Ross. Fokus utama terletak pada keberhasilan China dalam pengentasan kemiskinan secara masif serta penolakannya terhadap paradigma “trickle-down economics” yang dominan di Barat.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat menunjukkan kecenderungan konsentrasi manfaat pada kelompok berpendapatan tinggi, yang berimplikasi pada meningkatnya ketimpangan dan ketidakpuasan sosial. Kajian ini menempatkan kedua model dalam kerangka ekonomi politik untuk memahami implikasi jangka panjang terhadap stabilitas sosial dan legitimasi sistem ekonomi.
1. Pendahuluan
Selama beberapa dekade terakhir, perdebatan mengenai efektivitas model pembangunan ekonomi semakin mengemuka, terutama dalam konteks perbandingan antara China dan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak lagi cukup dinilai dari agregat output, tetapi juga dari distribusi manfaatnya. Dalam konteks ini, analisis John Ross menjadi relevan karena menyoroti perbedaan mendasar dalam pendekatan kedua negara terhadap pembangunan dan distribusi kesejahteraan.
2. Model Pembangunan China.
Sejak reformasi ekonomi tahun 1978, China telah menjalankan strategi pembangunan yang menggabungkan mekanisme pasar dengan intervensi negara yang kuat. Salah satu capaian paling signifikan adalah keberhasilan mengangkat sekitar 850 juta penduduk keluar dari kemiskinan ekstrem. Capaian ini tidak hanya mencerminkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga efektivitas kebijakan redistribusi dan pembangunan berbasis negara.
Berbeda dengan pendekatan laissez-faire, China secara aktif mengarahkan investasi ke sektor produktif, membangun infrastruktur skala besar, menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja. Dalam kerangka ini, negara tidak berperan sebagai pengamat, melainkan sebagai aktor utama dalam orkestrasi pembangunan ekonomi. Dengan demikian, pertumbuhan tidak dibiarkan mengalir secara alami ke bawah, tetapi secara aktif didistribusikan melalui kebijakan publik.
3. Penolakan terhadap Paradigma “Trickle-Down”
Paradigma “trickle-down economics” berasumsi bahwa pertumbuhan yang dinikmati oleh kelompok atas pada akhirnya akan “menetes” ke lapisan masyarakat bawah melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan konsumsi. Namun, John Ross menilai bahwa China secara eksplisit menolak pendekatan ini.
Sebaliknya, China mengadopsi pendekatan, pro-poor growth yaitu redistribusi melalui kebijakan fiskal dan investasi publik. Kontrol terhadap sektor strategis. Dengan demikian, distribusi hasil pembangunan tidak diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, tetapi menjadi bagian dari desain kebijakan.
4. Model Amerika Serikat.
Sebaliknya, di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Sebagian besar manfaat pertumbuhan terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi, khususnya 10% teratas.
Fenomena ini berkaitan dengan deregulasi sektor keuangan , globalisasi yang menguntungkan kapital besar dan stagnasi upah kelas menengah. Akibatnya, terjadi peningkatan ketimpangan pendapatan dan kekayaan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial dan politik, termasuk meningkatnya polarisasi dan ketidakpuasan terhadap sistem.
5. Implikasi Ekonomi Politik
Perbedaan model ini memiliki implikasi yang luas:
5.1 Stabilitas Sosial
Model China, dengan distribusi yang lebih merata, cenderung menghasilkan stabilitas sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketimpangan di Amerika Serikat berkontribusi pada meningkatnya ketegangan sosial.
5.2 Legitimasi Sistem
Keberhasilan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas memperkuat legitimasi pemerintah di China. Di sisi lain, persepsi ketidakadilan ekonomi di Amerika Serikat dapat melemahkan kepercayaan terhadap institusi.
5.3 Daya Tahan Ekonomi
Distribusi pendapatan yang lebih merata dapat memperkuat konsumsi domestik dan ketahanan ekonomi. Sebaliknya, konsentrasi kekayaan dapat membatasi daya beli mayoritas populasi.
6. Diskusi Kritis
Untuk dapat mengadopsi model China, terdapat tantangan mendasar, yaitu dominasi negara dalam pengelolaan pasar yang berpotensi mengurangi transparansi. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin meniru pendekatan tersebut, diperlukan kepemimpinan di seluruh level yang memiliki kompetensi tinggi dan integritas di atas rata-rata. Selain itu, penegakan hukum yang tegas terhadap praktik korupsi menjadi prasyarat utama. Tanpa fondasi tersebut, model ini justru berisiko melahirkan state capture, di mana kekuasaan ekonomi dikuasai oleh kelompok tertentu.
Sebaliknya, untuk mengadopsi model United States, tantangan utamanya terletak pada ketergantungan yang tinggi terhadap mekanisme pasar dan demokratisasi di berbagai sektor. Dalam konteks ini, apabila Indonesia ingin meniru model tersebut, maka investasi pada sektor pendidikan dan riset harus menjadi prioritas. Tingkat literasi masyarakat perlu ditingkatkan melampaui rata-rata negara berkembang, sehingga mampu menghasilkan pemimpin yang kompeten dan berintegritas melalui sistem meritokrasi.
Dengan demikian, perdebatan tidak semata-mata terletak pada pemilihan satu model tertentu, melainkan pada pemahaman terhadap trade-off yang melekat pada masing-masing pendekatan
7. Kesimpulan
Analisis John Ross menegaskan bahwa perbedaan utama antara China dan Amerika Serikat terletak pada cara distribusi hasil pertumbuhan. China berhasil mencapai pertumbuhan inklusif melalui intervensi negara yang terarah, sementara Amerika Serikat menghadapi tantangan ketimpangan akibat dominasi paradigma “trickle-down”. Dalam konteks global yang semakin kompleks, keberhasilan suatu model tidak hanya ditentukan oleh tingkat pertumbuhan, tetapi oleh kemampuannya dalam menciptakan keseimbangan antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial.
Penutup
Pertumbuhan ekonomi tanpa distribusi yang adil berpotensi menciptakan ketidakstabilan.Sebaliknya, pembangunan yang inklusif dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan jangka panjang. Dengan demikian, perdebatan mengenai model pembangunan bukan sekadar akademis, tetapi menyangkut arah masa depan sistem ekonomi global.***
Referensi
World Bank (2020). Poverty and Shared Prosperity 2020: Reversals of Fortune. Washington, DC: World Bank.John Ross (2017). China’s Great Road: Lessons for Marxist Theory and Socialist Practices. London: Praxis Press. International Monetary Fund (2023). People’s Republic of China: Article IV Consultation Report. OECD (2015). In It Together: Why Less Inequality Benefits All. Paris: OECD Publishing. Thomas Piketty (2014). Capital in the Twenty-First Century. Cambridge, MA: Harvard University Press. Congressional Budget Office (2022). Trends in the Distribution of Household Income in the United States. UNDP (2022). Human Development Report. National Bureau of Statistics of China (2023). China Statistical Yearbook. Stiglitz, J.E. (2012). The Price of Inequality. New York: W.W. Norton. Rodrik, D. (2018). Straight Talk on Trade: Ideas for a Sane World Economy. Princeton: Princeton University Press. Milanovic, B. (2016). Global Inequality: A New Approach for the Age of Globalization. Harvard University Press.




