Kemarin seorang teman lama dari DDB bertanya kepada saya “Apakah ekonomi republik ini masih bisa diperbaiki?” Saya tidak menjawab langsung. Saya justru balik bertanya. Dengan potensi belanja domestik sekitar Rp 12.000 triliun per tahun (± USD 800 miliar). Ukuran yang setara dengan ekonomi negara maju menengah. Bukankah itu sudah merupakan fondasi ekonomi yang sangat besar? Sebagai perbandingan, nilai belanja e-commerce seluruh Eropa sekitar USD 600-650 miliar per tahun. Artinya satu negara kepulauan dengan banyak masalah struktural memiliki daya beli domestik yang secara ukuran makro sudah bertaraf kawasan industri maju.
Bayangkan jika 60% saja dari konsumsi domestik tersebut masuk ke sektor formal industri dan jasa nasional. Dampaknya bukan hanya pertumbuhan PDB, tetapi perluasan basis pajak, peningkatan produktivitas industry, stabilitas neraca berjalan dan kemandirian ekonomi. Ini bukan teori ekonomi pembangunan yang abstrak. Ini hukum dasar bisnis: industri lahir karena pasar tersedia.
Dalam studi kelayakan investasi (feasibility study), variabel pertama yang diperiksa bank dan investor bukan teknologi, bukan SDM, melainkan kepastian pasar (market certainty). Teknologi bisa dibeli. Tenaga kerja bisa dilatih. Modal bisa dicari. Tetapi permintaan tidak bisa dipaksa. Karena itu, pertanyaan strategisnya bukan lagi, Apakah Indonesia bisa bangkit? Melainkan, Model arsitektur ekonomi apa yang kita pilih?
Kesalahan Paradigma.
Selama beberapa dekade, strategi pembangunan kita didominasi pendekatan outward-looking policy. Mengoptimalkan ekspor demi devisa. Model ini menciptakan pertumbuhan, tetapi bersifat sempit. Keterkaitan domestik (domestic linkage) rendah, multiplier effect kecil, ekonomi cenderung rente komoditas. Albert Hirschman (1958) dalam The Strategy of Economic Development menjelaskan bahwa industrialisasi berhasil bila memiliki backward linkage dan forward linkage kuat di dalam negeri. Tanpa itu, ekspor hanya menciptakan kantong kemakmuran terbatas.
Bagaimana Negara Industri Memulai?
Tidak ada negara industri besar yang lahir dari ekspor terlebih dahulu. Amerika Serikat abad 19 memproteksi pasar domestik (Hamiltonian System). Jepang pasca perang melewati proses domestic learning market (MITI policy). Korea Selatan melakukan import substitution. Setelah established baru ekspor. China menerapkan “dual circulation strategy”
Mereka mengunci pasar domestik untuk belajar memproduksi. Elektronik, peralatan rumah tangga, farmasi, tekstil teknis, komponen otomotif, bahan kimia industry, pangan olahan semuanya terlebih dahulu dipenuhi industri dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi (>70-80%). Ekspor muncul kemudian sebagai akibat efisiensi, bukan tujuan awal. Ekonom Ha-Joon Chang menyebutnya “Countries become competitive not before protection, but after learning.”
Apakah Kita Terlambat?
Tidak.
Yang dibutuhkan bukan revolusi politik, melainkan reset arsitektur ekonomi.
Empat Pilar Perubahan.
Pertama. Reorientasi Industri Hulu.
Berikan Bea impor nol untuk barang modal, tax allowance upstream industry. Namun kenakan pajak ekspor tinggi bahan mentah/antara. Tujuannya bukan anti ekspor, tetapi mengalihkan bahan baku murah ke industri domestik. Contoh sector baja, nikel & aluminium, petrokimia, serat & benang, API farmas, oleokimia. Efeknya ? industri hilir global akan relokasi ke dalam negeri karena cost advantage supply chain domestik. Ini strategi yang digunakan Jepang (1950-1970) dan Korea Selatan (1970-1985).
Kedua. Reformasi Logistik.
Menurut World Bank Logistics Performance Index, biaya logistik Indonesia masih sekitar 23-24% PDB, jauh di atas negara industri (~8-12%). Masalah utama bukan infrastruktur fisik, melainkan dwelling time, administrasi kepabeanan, kepastian delivery. Dalam supply chain modern, late delivery lebih mahal dari tarif tinggi. Karena industri global hidup dari just-in-time production.
Ketiga. Insentif R&D Industri.
Struktur teknologi industri Indonesia (UNIDO – ISIC Rev.3):
Tingkat Teknologi | Proporsi |
Tinggi | ~6% |
Menengah-tinggi | ~28% |
Menengah-rendah | ~23% |
Rendah | ~43% |
Tanpa insentif riset, tidak ada upgrading industrial capability (Michael Porter – Competitive Advantage of Nations). Maka tax credit R&D menjadi syarat wajib industrialisasi.
Keempat. Infrastruktur Pasar.
Dalam pendekatan konvensional, distribusi dipahami sebagai persoalan fisik: memindahkan barang dari pabrik ke pasar secepat dan semurah mungkin. Gudang, pelabuhan, dan transportasi ditempatkan sebagai infrastruktur logistik. Namun dalam ekonomi digital modern, fungsi tersebut mengalami transformasi mendasar. Distribusi tidak lagi semata aktivitas fisik, melainkan mekanisme koordinasi informasi ekonomi secara real-time. Yang disebut ekosistem distribusi berbasis data adalah suatu arsitektur dimana aliran barang dikendalikan oleh aliran informasi. Sistem ini menghubungkan empat komponen utama. Yaitu permintaan (demand), persediaan (inventory), produksi (production planning) dan pembiayaan (finance)
1. Warehouse nasional.
Gudang berfungsi sebagai pusat kliring barang nasional. Semua produsen tidak kirim ke toko tapi kirim ke warehouse regional. Warehouse mencatat jumlah stok, lokasi stok, kecepatan barang keluar, tren permintaan. Artinya negara tahu persis, minggu ini Indonesia butuh berapa sabun, beras, sepatu, semen. Ini menggantikan ekonomi “perkiraan” menjadi ekonomi “angka”.
2. Marketplace B2B.
Pedagang grosir, distributor, UMKM tidak lagi beli dan jual barang secara manual. Mereka cukup login. Lihat stok nasional, klik beli. Mereka engga pusing cari market. Selesai produksi, masukin ke Warehouse. Selesai. Marketplace tidak hanya tempat jualan, tapi mesin pembentuk permintaan agregat. Contoh, 5000 toko pesan minyak goreng. Sistem langsung membaca kebutuhan nasional. Ini disebut dalam ekonomi industry, demand aggregation
3. Supply Chain Finance.
Bank biasanya memberi kredit berdasarkan asset, jaminan atau agunan. Dalam sistem ini bank memberi kredit berdasarkan pergerakan barang di Gudang. Karena stok + order + histori penjualan = risiko bisa dihitung. Maka pembiayaan berubah. Bukan kredit spekulatif tetapi kredit berbasis transaksi riil. Risiko macet turun drastis.
Dampak Ekonomi Makro.
A. Likuiditas produsen terjamin.
Produsen tidak perlu menunggu barang laku. Barang masuk Gudang, langsung bisa dapat pembiayaan. Working capital problem hilang.
B. Biaya distribusi turun.
Tanpa system, pabrik bergantung kepada distributor kemudian ke sub distributor baru ketoko. Sampai dikonsumen sudah mahal. Dengan system ini, pabrik tinggal kirim warehouse dan langsung ke pedagang. Layer distribusi berkurang, harga turun alami (bukan subsidi)
C. Harga stabil.
Kelangkaan biasanya karena informasi lambat, bukan barang kurang. Dengan data real-time, stok dipindah sebelum krisis terjadi. Inflasi jadi lebih terkendali secara struktural.
D. Produksi meningkat otomatis.
Pabrik produksi bukan berdasarkan tebakan tetapi berdasarkan order nasional. Akibatnya tidak ada overproduction tidak ada underproduction. Ini disebut demand-driven industrialization
Bayangkan Indonesia seperti tubuh manusia. Saat ini sistem ekonomi kita seperti Mata tidak tahu perut lapar. Tangan masak tanpa tahu porsi. Darah baru mengalir setelah pingsan. Makanya sering harga melonjak, stok hilang petani rugi, pabrik berhenti. Marketplace adalah otak (tahu kebutuhan tubuh) Warehouse adalah darah (menyalurkan nutrisi). Bank adalah jantung (memompa energi/modal). Pabrik adalah otot (yang bekerja memproduksi). Kalau tersambung. Tubuh tidak pernah kelaparan, kelebihan makan atau kekurangan energi. Ekonomi jadi stabil secara alami.
Dulu pedagang harus ke pasar induk jam 2 pagi untuk tahu ada barang atau tidak. Sekarang bayangkan. Semua pasar induk Indonesia menyatu dalam satu layar. Pedagang di Kupang tahu stok di Surabaya pabrik tahu besok harus produksi berapa bank tahu siapa pasti jualan.Maka tidak ada spekulasi tidak ada panic buying tidak ada overstock tidak ada kredit macet
Industri tidak butuh disuruh tumbuh. Kalau pasar pasti maka produksi otomatis muncul. Karena dalam ekonomi modern, masalah utama bukan kemampuan membuat barang tetapi kepastian barang terjual. Itulah sebabnya satu gudang agregator per daerah dampaknya bisa lebih besar dari jalan tol baru. Jalan mempercepat barang bergerak. Sistem ini memastikan barang memang perlu bergerak.
Penutup
Masalah ekonomi kita bukan kekurangan sumber daya. Bukan kekurangan modal. Bukan kekurangan teknologi. Masalahnya adalah arsitektur pasar. Selama produksi tidak terhubung langsung dengan konsumsi domestik, kita akan terus mengekspor nilai tambah rendah dan mengimpor barang jadi bernilai tinggi. Kemandirian ekonomi tidak lahir dari larangan impor, melainkan dari kepastian pasar bagi produksi nasional.
Negara maju bukan karena mereka hebat mengekspor, tetapi karena mereka terlebih dahulu berhasil melayani pasar rakyatnya sendiri. Dan republik ini, dengan Rp 12.000 triliun konsumsi domestik sebenarnya sudah memiliki fondasi negara industri. Yang belum kita bangun hanyalah sistemnya.


