Namanya Raka. Dulu ia bagian dari kelas menengah yang percaya pada satu hal sederhana, bahwa bekerja keras akan cukup untuk hidup layak. Setiap pagi ia berangkat dengan kemeja rapi, kopi di tangan, dan keyakinan bahwa hidup bergerak ke arah yang benar. Gajinya tidak besar, tapi cukup. Cicilan berjalan, anak sekolah, sesekali makan di luar. Hidup tidak mewah, tapi terasa stabil.
Lalu suatu hari, stabilitas itu retak. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan “efisiensi”. Kata yang terdengar teknokratis, tapi maknanya sederhana bahwa sebagian orang harus pergi. Raka salah satunya. Awalnya ia tenang. “Masih ada tabungan,” katanya pada istrinya. Ia mencoba melihat ini sebagai jeda, bukan akhir.Beberapa bulan pertama, hidup masih bisa ditopang. Tapi harga-harga tidak ikut jeda. Sembako naik. Listrik naik. Biaya sekolah tidak turun.
Tabungan yang dulu terasa aman, perlahan menipis seperti air di dasar gelas. Lamaran kerja tak kunjung berbuah. Dunia yang dulu terasa terbuka, kini seperti menutup pintu satu per satu. Raka akhirnya masuk ke sektor informal—mengemudi, mengambil apa pun yang bisa menghasilkan uang hari itu. Tidak ada kepastian. Tidak ada perlindungan. Hanya ada hari ini.
Di sisi lain kota, ada Sari. Ia masih bekerja. Gajinya tetap masuk setiap bulan. Tapi ada yang berubah: uang itu tidak lagi cukup. Dulu ia bisa menyisihkan sedikit. Sekarang, bahkan untuk bertahan hingga akhir bulan, ia harus menghitung ulang setiap rupiah. Ketika kebutuhan melampaui penghasilan, pilihan mulai menyempit. Pinjaman online hadir seperti solusi cepat—mudah, instan, tanpa banyak pertanyaan. Sari tahu risikonya. Tapi kebutuhan tidak menunggu. Awalnya kecil. Lalu bertambah.Bunga menggerogoti pelan-pelan. Pendapatan tidak naik, tapi kewajiban terus bertambah.
Raka kehilangan pekerjaan. Sari tetap bekerja. Keduanya, dengan cara berbeda, berjalan ke arah yang sama: turun kelas. Di sinilah perubahan ekonomi terasa paling nyata. Bukan dalam grafik atau angka pertumbuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kelas menengah mulai jatuh, dan yang sudah miskin semakin terpuruk, maka fondasi ekonomi mulai goyah.
Sementara itu, di lapisan atas, cerita berbeda berjalan. Likuiditas mengalir ke instrumen yang aman, ke aset yang terlindungi, ke jaringan yang sudah mapan. Dalam banyak kasus, krisis tidak merugikan semua orang secara merata. Ada yang justru tumbuh di tengah ketidakpastian—terutama mereka yang dekat dengan sumber rente dan akses kekuasaan.Inilah paradoks yang sering luput dibaca.
Ketika tekanan global meningkat—dari konflik geopolitik hingga lonjakan harga energi—dampaknya tidak berhenti di tingkat negara. Ia turun, merembes, dan akhirnya menetap di ruang-ruang paling kecil, dapur rumah tangga. Dalam teori ekonomi, guncangan eksternal akan mempengaruhi nilai tukar, inflasi, dan arus modal (Obstfeld & Rogoff, 1996). Dalam praktik kehidupan, ia berubah menjadi hal yang jauh lebih sederhana, yaitu harga naik, pendapatan stagnan, dan ruang hidup menyempit.
Ketika ketidakpastian global memicu flight to safety, modal keluar dari negara berkembang menuju pusat keuangan global (Rey, 2015). Rupiah tertekan, biaya impor naik, dan harga barang ikut terdorong. Bagi pelaku pasar, ini adalah dinamika portofolio. Bagi Raka dan Sari, ini adalah alasan mengapa hidup semakin mahal. Lebih jauh lagi, ketika ekonomi terlalu bertumpu pada konsumsi tanpa diimbangi produksi yang kuat, maka setiap tekanan eksternal akan lebih cepat terasa di dalam negeri (Rodrik, 2016). Konsumsi yang dulu menjadi kekuatan, berubah menjadi kerentanan.
Raka kini bekerja tanpa kepastian. Sari bekerja tanpa kecukupan. Dan di antara mereka, ada jutaan orang lain yang berada di persimpangan yang sama. Pada akhirnya, krisis bukan hanya soal apakah ekonomi tumbuh atau tidak. Ia tentang siapa yang mampu bertahan, dan siapa yang harus turun. Ketika kelas menengah mulai kehilangan pijakan, ekonomi tidak hanya melambat—ia kehilangan keseimbangannya. Dan ketika ketimpangan semakin melebar, yang tersisa bukan lagi sekadar persoalan angka, melainkan arah dari sebuah bangsa. Karena di balik setiap statistik, selalu ada cerita seperti Raka dan Sari. Dan di sanalah, ekonomi yang sebenarnya sedang berlangsung.
***
Pada tahun 2025, narasi resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menempatkan investasi sebagai salah satu pilar utama. Data menunjukkan bahwa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh relatif lebih tinggi dibanding komponen lain, memberikan kontribusi penting terhadap laju PDB. Namun, di balik angka tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar, investasi seperti apa yang sebenarnya menopang pertumbuhan itu?
Jika ditelaah lebih dalam, struktur investasi Indonesia masih menunjukkan kecenderungan yang berulang—yakni dominasi sektor berbasis ekstraksi sumber daya alam. Pertambangan mineral, energi, dan komoditas primer menjadi magnet utama arus modal, baik domestik maupun asing. Fenomena ini bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari pola pembangunan yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Secara ekonomi, sektor ekstraktif memiliki karakteristik yang khas. Ia bersifat padat modal (capital-intensive), membutuhkan investasi besar di awal, namun tidak diikuti dengan serapan tenaga kerja yang signifikan. Dalam kerangka teori pembangunan, sektor seperti ini cenderung menghasilkan pertumbuhan yang tidak merata, karena nilai tambah yang dihasilkan tidak sepenuhnya terdistribusi ke dalam ekonomi domestik (Auty, 2001; Sachs & Warner, 2001).
Akibatnya, meskipun angka investasi meningkat, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja relatif terbatas. Pertumbuhan terjadi, tetapi tidak secara langsung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Inilah yang dalam literatur sering disebut sebagai “jobless growth”—pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi peningkatan kesempatan kerja secara proporsional (World Bank, 2012).
Masalah tidak berhenti pada struktur sektor. Terdapat pula isu klasik dalam dinamika investasi, yaitu kesenjangan antara komitmen dan realisasi. Banyak proyek investasi yang tercatat dalam pipeline belum sepenuhnya terealisasi di lapangan. Kendala perizinan, ketidakpastian global, serta fluktuasi harga komoditas menjadi faktor yang menunda implementasi. Dalam kondisi seperti ini, angka investasi sering kali mencerminkan niat ekonomi, bukan aktivitas riil yang langsung menggerakkan produksi.
Implikasinya terhadap pertumbuhan menjadi signifikan. Ketika investasi terkonsentrasi pada sektor ekstraktif yang padat modal, dan pada saat yang sama realisasinya belum optimal, maka efek pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi domestik menjadi terbatas. Industri hilir tidak berkembang secepat yang diharapkan, rantai pasok domestik tidak sepenuhnya terintegrasi, dan sektor tenaga kerja tidak mendapatkan dorongan yang cukup.
Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi ini juga berkaitan dengan tantangan transformasi ekonomi. Negara yang bergantung pada sektor ekstraktif cenderung menghadapi apa yang disebut sebagai “resource curse”, di mana kekayaan sumber daya justru menghambat diversifikasi ekonomi dan inovasi (Auty, 2001). Tanpa strategi hilirisasi dan penguatan industri berbasis teknologi, ekonomi berisiko terjebak dalam pola pertumbuhan yang stagnan.
Dengan demikian, pertumbuhan yang ditopang oleh investasi pada tahun 2025 perlu dibaca secara lebih kritis. Design seperti ini udah berlangsung lebih dari 5 dekade. Ia mungkin kuat dalam angka, tetapi belum tentu kuat dalam kualitas. Pertumbuhan semacam ini cenderung kurang inklusif, tidak merata dan terbatas dalam menciptakan dampak jangka Panjang. Yang justru menciptakan kerapuhan ekonomi seiring bertambahnya populasi dan ketidak pastian ekonomi global.



