Sunday, July 11, 2021

Fakta, COVID-19 mendatangkan Laba bagi Big Pharma.

 




Saya dapat kiriman makalah CHIC conference di Shanghai pada maret lalu yang bertema “Innovation in Healthcare – Beacon of Hope in a COVID World”. Yang menarik ulasan teman dari Morgan Stanley Shanghai. Ulasannya singkat namun mengena bagi saya. Bisnis yang mudah dapatkan uang adalah bisnis yang mendukung diktator profesi. Walau ia  kontroversial namun profesi itu akan jadi otoritas mendorong orang membeli lewat kebijakan pemerintah. Semakin banyak yang menolak semakin besar peluang pasar dan semakin besar laba tercipta.


Di dunia modern ini setiap yang berseragam maka dia merasa jadi otoritas. Engga boleh disalahkan. Tentara berseragam lengkap untuk tempur. Jangan pertanyakan sikapnya dalam operasi militer. Siapapun yang meragukannya akan dianggap musuh. Para agamawan  seperti ustad, pendeta, dll selalu tampil dengan seragamnya. Kalau dia bicara engga boleh dipertanyakan. Dia otoritas atas kata katanya. Dokter dengan seragamnya juga tidak boleh dipertanyakan sikapnya dalam mendiagnosa pasien dan memberi obat. 


Mengapa ? tentara, agamawan, dokter itu bekerja dengan standar operating procedur yang ketat. Tentara hanya boleh membunuh ketika perang. Agamawan hanya boleh bicara depan jamaahnya. Dokter hanya boleh memberikan terapi dan opini kepada pasien yang dia tangani sesuai keahliannya. Kalau mereka salah atas profesinya ? gimana?. itu mereka punya pengadilan internal sendiri. Orang luar tidak boleh mengadili kalau itu berkaitan dengan tugasnya kecuali itu kejahatan personal. 


Otoritas lembaga dan profesi itu memang tercipta dalam struktur sosial masyarakat modern. Engga boleh ngiri. Ingat. Hanya tentara ,  agamawan dan dokter yang ada sumpah profesi. Yang lain tidak. Karir mereka berkembang karena akreditas lembaga dan juga akreditas dari masyarakat yang tertolong atas kehadiran mereka. Lantas bagaimana kalau sampai terjadi perbedaan pendapat dengan masyarakat. ? 


Saya dapat kiriman video dari Teman dan juga dapat dari anggota DBB. Video itu tentang anti tesis dari COVID-19 yang disampaikan oleh   Lois Owien. Dia hanya yakin dengan sikapnya berdasarkan akademis dan data yang dia kuasai. Bukan hanya sekedar rumor. Namun bagaimanapun dia tetap salah. Mengapa? walau bidang keilmuan dia sebagai dokter namun dia bukan anggota IDI. Artinya dia tidak punya otoritas bicara sebagai dokter dan dia tidak pakai seragam dokter.


Dunia berubah secara revolusioner karena keberadaan tentara. Blok antar negara terbetuk dan peta politik berubah sesuai dengan kekuatan militer mereka yang berseragam. Agamawan juga menjadi agent perubahan politik dalam sistem demokrasi dan dinasti. Dokter dan sederet sistem yang mendukungnya bersama WHO juga menjadi roadblock sendiri yang memaksa manusia punya standar persepsi sama terhadap suatu penyakit.


***


Pandemi COVID-19 datang disaat dunia sedang menghadapi ketidak pastian ekonomi global. Dalam situasi negara di dunia dalam keadaan demam akibat krisis perang dagang China-AS, Pandemi melanda dunia. Keadaan itu semakin sulit bagi negara untuk melakukan recovery. Karena dampak dari pandemi itu terjadi pembatasan produksi akibat social distance. Pasar menciut dan likuidtas mengering. Karena dana publik terkuras untuk stimulus ekonomi dan program recovery ekonomi akibat COVID-19.


Tetapi sistem kapitalisme memang unik. Tidak ada istilah kelam. Tidak selalu membuat semua ruang gelap. Selalu ada cahaya terang masuk di saat gelap datang. Artinya di tengah krisis, selalu ada peluang  untuk berkembang bagi sebagian orang. Jadi tidak selalu prahara meliputi duka semua. Ada juga ceria.  Mari kita liat data.


Data marketwatch Tahun 2020, sejak COVID melanda terjadi peningkatan penjualan Vitamin C sangat drastis. 90% Supply chain industri Pharmacy global untuk Vitamin C adalah China. Tahun 2020 total supply Chain China untuk berbagai industri pharmacy dan beragam merek senilai USD 1,8 miliar. Tetapi tahukah anda bahwa nilai penjualan Vitamin  C tingkat retal 1000 kali lipat. Contoh aja. Ester C di AS dalam 54 minggu mampu menjual USD 500 juta lebih. 


Ada 2000 merek Vitamin C yang diproduksi di dunia. Belum lagi multivitamin yang ada kandungan Vitamin C. Produksi merek Vitamin C yang dipasok oleh China itu sebagian besar ada di AS dan Eropa. Tentu mereka lah mendapatkan nilai tambah ribuan persen. Kalau dihitung diperkirakan, nilainya 100 kali dari produksi migas dan Mineral kita. Atau setara dengan pendapatan semua negara ASEAN. 


Bagaimana dengan penjualan Obat dan vaksin yang terkait dengan COVID-19?  Saya tidak tahu detailnya. Namun membaca laporan dari Gilead’s 2021 guidance total penjualan tahun 2021 diharapkan mencapai USD 2,9 trilion. Atau sama dengan 3 kali PDB kita atau sama dengan semua PDB negara ASEAN. Mau tahu laba mereka? Berdasarkan Wharton Research Data Services, margin laba diatas 75%. Dahsyat engga?  mana ada bisnis normal bisa untung gigantik itu.


Prospek jangka panjang bisnis pharmacy akan terus melambung. Mengapa? akibat pandemi yang menglobal, persepsi dunia terhadap bahaya COVID 19 dan peduli akan kesehatan sudah terbentuk. Ini captive market. Dari persepsi ini, ada peluang pasar 7,7 miliar penduduk bumi. Katakanlah 5% saja atau 400 juta jadi potesi market. Data itu masuk akal. Karena tahun ini saja kasus COVID 19 sudah mencapai 180 juta kasus. Jadi mencapai 400 juta kasus engga sulit amat dech.  Lantas ada berapa industri  yang menguasai market share global itu? mau tahu? tak banyak. Hanya 8 perusahaan saja. Apa saja? Johnson & Johnson, Sinovac Biotech, AstraZeneca, Regeneron Pharmaceuticals, Eli Lilly, Gilead Sciences, Moderna, Pfizer and BioNTech.  Hebat ya. Mereka memang diktator ditengah 7,7 miliar populasi dunia.


Bagaimana Indonesia ? Badan Pusat Statistik (BPS) mendata industri kimia farmasi mengalami akselerasi pertumbuhan di setiap kuartal pada Januari-September 2020. Adapun, pertumbuhan kuartal III/2020 mencapai 14,96 persen secara tahunan. Peningkatan itu berasal dari adanya pandemi. Sementara obat lain justru menurun permintaanya. Yang menyedihkan. Peluang begitu besar tidak membuat pabrik obat dapat cuan gede. Apa pasal? kebutuhan bahan baku obat (BBO) naik 30-300 persen dan itu 90% impor. Tetap saja pihak raksasa pharmasi dunia yang untung gede.



Sunday, July 4, 2021

Fenomena bisnis dan bank digital

 




Desember 2020 Gojek akusisi saham Bank Artos (Bank Jago). Ini langkah kuda bagi Gojek untuk memperkuat ekosistem bisnis digitalnya. Harga akuisisi perlembar saham Rp. 1.150. Sebelumnya  tahun 2016 ketika IPO harga Rp. 132 perlembar. Hitung aja berapa naiknya. Tetapi setelah diakusisi oleh Gojek harga terus naik, dan pernah mencapai Rp. 11.375 perlembar. Dahsyat kan. Apakah harga itu gorengan? engga juga. Fluktuasi harga tetap wajar dikisaran diatas Rp.  9000. Mengapa? Alasannya ? pertama, Gojek punya user aktif 40 juta. Belum lagi dengan mergernya Gojek dengan Tokopedia, jumlah user semakin besar. Semua user itu berpotesi menjadi nasabah bank Artos.


Peluang business digital ini dibaca dengan smart oleh Antony Salim. Tetapi Antony tahu lawannya di bisnis digital adalah Gojek dengan deretan investor kelas kakap dibelakangnya. Karenanya strategi Antony adalah mengandalkan  bisnis tradisional yang sudah dikuasai sebelumnya ( Jaringan ritel indomaret lebih dari 17000 gerai). Semua gerainya terhubung dengan cash management secara online dan menjadi marchant bagi semua fintect pembayaran online. Artinya keberadaan bisnis offline berupa gerai telah menjadi penentu dari ekosistem bisis digital. Mengapa ? bagaimanun bisnis offline berupa geray punya market yang established. Beda dengan online yang pasarnya rapuh.


Anthoni Salim juga membeli saham  PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) sebesar 9 persen yang nilai pasarnya mencapai Rp 12,72 triliun. Seperti diketahui, Emtek adalah induk dari e-commerce, Bukalapak atau cucu usahanya. Kepemilikan Emtek di Bukalapak melalui anak perusahaannya, PT Kreatif Media Karya (KMK). KMK merupakan pemegang saham utama Bukalapak dengan porsi kepemilikan mencapai 38%. Sedangkan, KMK dimiliki sepenuhnya oleh EMTK dengan porsi kepemilikan saham sebesar 99,99%. Pendiri EMTK  adalah Edi Sariaatmadja adalah ex eksekutif dari NAPAN Group yang juga keluarga dari Salim Group. Bukalapak IPO, sahamnya tentu punya prospek bagus karena didukung oleh ekosistem bisnis digital yang terhubung dengan Antony Salim.


Saat dia mulai serius ekspansi ke bisnis digital, dia lebih dulu kuasai infrastruktur data center. Dia kuasai saham DCII. Dengan demikian dia kuasai dua hal yang sangat penting dalam pengembangan bisnis digital. Apa itu? Infrastruktur IT dan Jaringan gerai ( offline) dan Bukalapak (online). Dua hal ini membuat dia penentu dalam aliansi strategis dengan semua mereka yang terlibat dalam ekosistem binis digital. Ini dibaca oleh investor bursa. Itu sebabnya ketika Antony beli saham DCII, harga saham terus melambung ribuan persen. 


Antony bersama CT sudah punya Bank Mega, yang telah akusisi Bank Harda. Harga saham Bank Harda terus naik setelah diakuisi CT. Antony sendiri juga punya bank lain seperti Bank INA. Bahkan ketika persetujuan aksi korporasi rights issue oleh PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), itu artinya Salim akan meningkatkan kepemilikan sahamnya. Harga terus melesat kencang. Dalam 3 bulan saham BINA terbang 292% dan sudah naik 642% sejak awal tahun sehingga BEI terpaksa memberikan cap UMA ( Unusual Market Activity) terhadap saham bank mini ini.


Bagaimanapun ini baru tahap aksi korporat. Masih transaksi future. Belum realitas. Masih butuh waktu untuk process membuktikan ramalan investor itu sesuai dengan ekspektasi. Yang harus diperhatikan OJK adalah perkuat aturan ekosistem bisnis digital agar investor dan konsumen tidak dirugikan dikemudian hari. Hal yang sangat berbahaya dan harus dijadikan catatan oleh OJK atar fenomena bisnis digital ini adalah sebagai berikut :


Pertama. Penguasaan bisnis digital oleh segelintir orang yang menguasai ekosistem bisnis dan terhubung dengan perbankan jangan sampai mematikan bank kecil. Mengapa? bank lain tidak akan mungkin bisa membangun infrastruktur IT sehebat Gojek dan Antony yang menguasai jaringan bisnis tradisional ( offline). Kalaupun mereka merger untuk memperkuat daya saing, namun itu tidak akan efektif. Mengapa ? pasarnya sudah dikuasai oleh dua group besar itu. Jadi OJK harus antisipasi ini. Negara harus hadir menegakan keadilan bagi dunia usaha.


Kedua. Karena bank digital mengandalkan Fintech jangan sampai standar kepatuhan kredit atau penyaluran dana ke nasabah melanggar aturan. Jangan sampai standar kepatuhan yang berkaitan dengan KYC dilanggar. Karena bisa jadi wahana cuci uang. Jangan sampai dinding api ( firewall ) antara bank sebagai agent of development dan Fintech sebagai toolss dijebol. Sehingga menimbulkan fraud moneter seperti kasus Ali Pay dari An Financial di China. Sistem IT OJK harus canggih yang sehingga bisa mendeteksi kalau terjadi pelanggaran.


Ketiga, awasi dengan ketat porfolio dari Lembaga Dana Pensiun dan Asuransi. Jangan sampai mereka ikutan goreng  saham bisnis digital. Ini berbahaya. Karena kenaikan saham bisnis digital pada tahap awal biasanya  digerakan oleh pemain hedge fund. Ini high risk. Jangan sampai terulang lagi kasus Jiwasraya, ASABRI dan lainnya.


Karena perubahan zaman, bagaimanapun bisnis digital tidak bisa dihalangi. Yang penting pastikan kehadiran bisnis digital itu memberikan manfaat besar  bagi rakyat dan merupakan cara terbaik untuk memberikan akses  keuangan dan bank kepada publik secara luas

Thursday, June 24, 2021

Selain bisnis, semua omong kosong


“Tahukah anda betapa hancurnya Suriah dan Yaman akibat perang saudara. Itu karena kelompok radikal dibiarkan. “ Kata teman waktu diskusi di ruang Spa. Saya tersenyum saja. Karena itulah pemahaman dia terhadap suatu masalah. Dia tidak paham geostrategis global dibalik konflik Suriah. Suriah memang bukan negara penghasil Minyak dan Gas terbesar di Timur tengah. Tetapi Suriah adalah jalur strategis pipa Gas untuk ekspor ke Eropa lewat Turki. Artinya siapa yang menguasai Suriah maka dialah yang menguasai sumber daya migas di Timur Tengah.


Gimana ceritanya? Dari awal pemerintah Suriah ingin menjadikan wilayahnya sebagai perlintasan Pipa Minyak dan Gas sebagai sumber pendapatan negaranya. Bersama Mesir, Suriah berencana  membangun Pipa Gas Arab (AGP) dari Mesir ke Tripoli (di Lebanon) dan IPC dari Kirkuk, di Irak, ke Banyas. Rencana ini dianggap bahaya. Makanya AS invasi Irak tahun 2003. Alasanya? Sadam Husein ancaman bagi Negara Arab mitra AS.


Kemudian tahun 2011, dua bulan sebelum dimulainya pemberontakan. Dengan dukungan Rusia-Gazprom,  Suriah bersama Turki, berencana membangun jaringan Pipa yang menghubungkan Mediterania, Kaspia, Laut Hitam, dan Teluk. Target : pasar Eropa. Itu juga gagal karena adanya pemberontakan. Ulahnya AS yang tidak ingin melibatkan Iran. Maklum Pipa itu berasal dari ladang raksasa Pars Selatan Iran. Ya AS tidak mau Iran mendapatkan jalur suplai Gas dan Minyak ke Eropa. 


Apa yang terjadi di Yaman juga cara Iran dan Rusia membantu al Houthi menjatuhkan Rezim Mansour Hadi boneka Barat. Maklum perdagangan Minyak Timur tengah melintasi Yaman, Teluk Aden.  Teluk Aden merupakan lintasan pelayaran menuju Laut Merah, Terusan Suez dan Laut Tengah (Mediterania), jalur lalu lintas pelayaran (perdagangan) dunia. 3,3 juta barel setipa hari minyak melintasi teluk Aden. Maka memaksa Arab Saudi bersama n aliansi Gulf Cooperation Council (GCC) menyerang Yaman. Targetnya menghabisi kelompok al Houthi.


Yang tampak dipermukaan konflik Suriah , Yaman itu karena konflik sekterian atau agama. Padahal itu karena bisnis berebut hegemoni jalur pipa dan pelayaran ( Perdagangan). Agama hanya jadi kendaraan untuk menjatuhkan rezim agar tujuan AS bersama konsorsium bisa terlaksana mengamankan jalur Pipa dan pelayaran tanpa melibatkan Rusia dan Iran. 


Sama juga sejak Jokowi berkuasa dan sikap tegas Jokowi atas posisi Indonesia atas Selat Malaka. 2015 Jokowi perintahkan untuk ambil alih pengelolaan wilayah udara atau Flight Information Region (FIR) dari Singapura. Setelah itu Jokowi selalu digoyang oposan Islam. Agama jadi pemicu keributan yang tak sudah. Sampai kini tidak juga bisa kita ambil alih FIR itu. Itu karena bisnis. Yang ribut itu karena dibayar. Sama seperti oposan di Suriah dan Yaman. Mereka proxy dari business multitriliun dollar yang berada dibalik geostrategis Arab, Eropa dan AS yang dikendalikan oleh Transnational Corporation. 


Kalau kepentingan TNC di Indonesia tepenuhi, yakinlah kadrun akan jadi orang baik, karena presiden Indonesia adalah boneka Barat. Itu sudah dibuktikan era SBY dimana Selat Malaka dikuasai Barat dengan memberikan hak kepada Singapore sebagai pengendali traffic udara selat Malaka. Semua karena business.? politisasi agama itu bullshit atau omong kosong. Mengapa? selain busnis, semua itu hanya omong kosong.


Tuesday, June 22, 2021

Masalah Hutang negara di tengah pandemi.





Cara kerja Menteri keuangan menurut saya sangat jenius. Mengapa ? Tidak ada yang tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir. Dia tahu bahwa disaat pandemi, suku bunga pasti akan naik, karena tingkat resiko juga tinggi. Likuiditas juga rendah. Bayangkan kalau tapering the Fed benar terjadi, akan semakin sulit dapatkan dana dan bunga akan jauh lebih tinggi. Makanya sejak tahu 2020 Menteri Keuangan berusaha menarik pinjaman diatas defisit. Salah? Tidak. Itu dasar hukumnya jelas yaitu, PERPU No. 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus. Total pinjaman tahun 2020 adalah sebesar Rp 1.225,9 triliun, sementara defisit  Rp 947,70 triliun.  Jadi kita ada kelebihan dana sebagai sikap jaga jaga. 


Sementara pembiayaan valas lebih diarahkan kepada sumber dana multilateral, seperti World Bank. Maklum vaksin dan alat kesehatan masih impor. Jauh lebih baik hutang dengan Bank Dunia  berbunga murah dan lunak daripada menguras cadangan devisa. Penggunannya sesuai amanah Perpu yaitu program vaksinasi gratis untuk menjangkau seluruh penduduk dewasa Indonesia. Pembiayaan ini untuk membantu sistem kesehatan Indonesia menjadi lebih tangguh, termasuk surveilans genomik untuk varian baru.


“ Tapi kamu lihat. Indikator rasio utang terhdap APBN kita jatuh semua dan bahkan mengkawatirkan sekali.  Bahkan BPK memperingatkan, tren penambahan utang pemerintah dan biaya bunga telah melampaui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penerimaan negara, yang dikhawatirkan pemerintah tidak mampu untuk membayarnya.” Kata teman.


“ Di tengah situasi pandemi ini tidak bisa menjadikan referensi IMF dan atau International Debt Relief (IDR) sebagai indikator layak atau tidak layak. World Bank International Debt Statistics (2021) menyebutkan kira kira 70% negara-negara berpenghasilan menengah ke atas ( tidak termasuk Indonesia, yang masuk menengah bawah). Menarik hutang untuk bayar utang. Artinya mereka sudah tidak mampu bayar utang dari pendapatan negara.  Semua indikator seperti rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan, rasio utang terhadap penerimaan. Semua sudah terlewati jauh dari ambang batas IMF. Itu sudah  terjadi sebelum ada pandemi. Dan mereka baik baik saja.” 


“ Loh kenapa begitu ? Kata teman.


“ Utang itu diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Selagi produksi terus terjadi dan konsumsi domestik terjaga dengan baik, daya tahan ekonomi tetap terjaga aman. Nanti setelah proses recovery dimulai, masalah utang itu akan tercover oleh pertumbuhan ekonomi. Saat sekarang, tidak ada negara yang benar benar tumbuh ekonominya selain China dan Vietnam. Sabar aja sampai pandemi berlalu”


“ Mengapa tidak lakukan penjadwalan utang.  Bukankah World bank ada program penjadwalan hutang atau pilih opsi debt SWAP.” 


“ Walau penjadwalan hutang itu adalah fasilitas World Bank, namun tetap saja tidak populer. Mengapa ? karena negara yang masuk katagori boleh ikut program pejadwalan adalah negara yang dianggap gagal. Artinya kalaupun dapat penjadwalan pastilah ada program penyesuaian. Dan itu jelas sangat politik. Itu sama saja  menyerahkan kedaulatan negara kepada kreditur. Engga sehat. Sama seperti dulu 1998 ketika kita di bawah pengawasan IMF.  Mengenai debt to SWAP, juga tidak mudah. Karena butuh audit lingkungan yang rumit dan lama. Selama proses itu kita jadi bulan bulanan LSM sebagai negara lemah dan tidak becus. Enggalah. Indonesia sangat jauh untuk dianggap negara lemah sehingga perlu debt to SWAP.”


“ Jadi sebenarnya tidak perlu terlalu kawatir dengan utang? 


“ Yang paling tahu kondisi utang itu mengkawatirkan atau tidak ya kreditur. Mana ada kreditur bego. Nah, menurut Standard and Poor's (S&P), Sovereign Credit Rating Indonesia pada investment grade BBB. Selain itu, Lembaga pemeringkat global asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I) juga mempertahankan peringkat Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB+/outlook stabil (Investment Grade) pada 22 April 2021.  Itu artinya negara masih punya magnit besar menarik sumber daya keuangan. Karenanya proses menuju recovery selama pandemi bisa terus berlangsung sampai kita bisa melwati batas resesi untuk bangkit lagi. Tentu dengan syarat utama adalah utang harus dikelola dengan baik. Ya patokannya UU. 


Saya tidak melihat pemerintah melanggar PERPU 1/2020. Rasio utang kita masih dikisaran 44% dari PDB. Itu di bawah pagu rasio utang berdasarkan UU Keuangan Negara yaitu 60%. Kalau dibandingkan dengan negara lain kita masih lebih baik, Debt rasio mereka seperti Singapura di 150%, Malaysia 62%, Filipina 54%. Apalagi dibandingkan dengan AS 78%, Jepang 256%. Kita akan baik baik saja.”

Wednesday, June 16, 2021

Mafia Alutsista ?


 


Membeli mesin perang, apakah itu senjata mesin, pesawat tempur, roket, rudal, kapal perang, tidak seperti membeli perangkat yang ada di pasar. Mengapa? karena industri mesin perang itu pasarnya hanya pemerintah. Dan Industri berdiri dengan izin ketat dari pemerintah. Bukan sekedar izin, tetapi juga menentukan jenis tekhologi, produk sampai kepada pasar. Jadi wajar saja, kalau pengadaan mesin perang itu berkaitan dengan politik, dan kalau kita bicara politik maka di dunia sekarang ini yang menguasai tekhnologi mesin perang adalah AS dan Eropa Barat, Rusia, China, India. 


Kalau kita bagi dua zona penguasaan tekhologi mesin perang maka itu hanya ada zona Barat dan AS, Zone Rusia dan China. Setiap negara berusaha untuk mendapatkan tekhnologi dari tiga zona. Apakah bertujuan mengembangkan sendiri terkhologi atau membangun sendiri industri atau membeli jadi. Tetap saja harus punya jaringan politik ke salah satu zona itu.  Misal, Iran sukses membangun industri mesin perang. Itu berkat tekhnologi dari Rusia dan China. India berhasil membangun industri mesin perang, itu berkat dukungan tekhnologi dari Rusia dan Eropa. Negara manapun yang mendapatkan dukungan membuat mesin perang dari prinsipal,  tidak bisa jual tanpa izin dari prinsipal ( pemilik tehknologi)


***


Saya mengikuti perkembangan issue seputar pengadaan Alutsista TNI, yang sampai ada istilah “ mafia”. Saya tidak mau sembarangan  ikut dalam polemik soal Alutsista. Karena tidak semua rumor itu seperti kenyataan. Mengapa ? pengadaan alutsista itu tidak semudah mendapatkan barang pada umumnya.  Dimanapun industri alat perang seperti senjata mesin, pesawat tempur, roket, rudal, kapal perang, dll adalah special business dan terkait politik.


Mengapa? karena industri mesin perang itu pasarnya hanya pemerintah. Dan Industri berdiri dengan izin ketat dari pemerintah. Bukan sekedar izin, tetapi juga menentukan jenis tekhologi, produk sampai kepada pasar. Jadi wajar saja, kalau pengadaan mesin perang itu berkaitan dengan politik, dan kalau kita bicara politik maka di dunia sekarang ini yang menguasai tekhnologi mesin perang adalah AS dan Eropa Barat, Rusia, China, India. Tanpa keberpihakan dengan salah satu negara tersebut, sulit untuk dapatkan alutsista.


Tentu tidak mudah bagi TNI membuat persiapan dan perencanaan pengadaan alutsista. Setiap rencana terbentur dengan kebijakan politik luar negeri yang tak memihak kepada negara manapun dan anggaran yang terbatas.  Itu sebabnya, kalau anda ikut tender alutsista, yang diutamakan adalah dukungan dari vendor. Dukungan ini tidak mudah. Tidak ada jaminan perusahaan besar dapat dukungan.  Lobi kepada vendor lebih kepada lobi personal. Lobi ini benar benar kerja intelijen. Rumit. Anda harus melewati banyak channel untuk sampai bisa deal dengan vendor.  Anda mungkin kaget kok pemerintah beli kapal perang  bekas dari Italia? kan rugi. Itu bukan soal untung rugi tetapi akses mendapatkan sparepart. Italia itu adalah anggota NATO, dan NATO merupakan produsen alutsista terbesar di dunia. Jadi pertimbangan beli kapal  bekas itu adalah bagian dari lobi mendapatkan alutsista, termasuk sparepart.  Artinya, untuk apa  beli  baru tetapi tidak bisa dapat akses sparepart. Tidak bisa akses ke vendor.


Kebanyakan tidak bisa deal langsung tetapi melalui beberapa perantara yang punya special connection dengan vendor. Dalam proses ini ada berbagai fee yang harus dibayar, yang tidak mungkin resmi. Mengapa ? baik pemerintah dari pihak vendor dan pemerintah kita seakan tidak tahu menahu. Itu sebabnya rekanan yang ketangkap KPK, tidak bisa diusut jadi terpidana. Kasusnya hilang begitu saja. Karena tidak ada satupun pihak yang mau jadi saksi. Megapa ? Mau mati? Ya takutlah. Bisnis senjata itu antara mati dan hidup setipis rambut dibelah tujuh. 


Jadi kalau ingin pengadaan alutsista itu transparans yang pertama kali dilakukan adalah tentukan arah politik luar  negeri. Tentukan kita berpihak kepada siapa ? China atau Rusia atau AS ( NATO). Pilih aja salah satu. Nah selanjutnya pemerintah bisa beli alat perang seperti beli mobil di showroom. Semua transparan dan kebetulan sekarang alutsista memang overproduction. Murah. Kalau engga mau mengubah UUD 45 politik luar negeri bebas aktif , maka terima sajalah situasi pengadaan alutsista yang ada. Atau perkuat riset alat perang agar kita mandiri? Mungkinkah? Lah peniti aja masih impor dari China. Dah gitu saja.

Friday, June 11, 2021

Bahaya Taper Tantrum

 





Dalam hal sistem moneter, AS itu negara adidaya. Itu harus diakui. Karena suka tidak suka bahwa mata uang dolar sudah menjadi mata uang dunia. Kalau bicara economy recovery  AS ya, tidak bisa dilepaskan dari recovery dunia. Sebelumnya semua tahu, AS mengalami krisis financial sejak tahun 2008. Setelah itu terus menghadapi goncangan, terutama  semakin menciutnya dunia usaha akibat ekpansi produk China yang mengalahkan produksi domestik AS.  Kemudian berlanjut dengan perang dagang China-AS yang berdampak luas kepada negara  mitra dagang AS lainnya. Dollar semakin tertekan dan defisit anggaran AS juga semakin melebar. 


Atas dasar itulah AS mengeluarkan senjata ampuhnya dalam menyelamatkan ekonominya. Yaitu dengan mencetak uang secara tidak langsung. Gimana caranya? Yaitu melalui skema QE ( Quantitative Easing ) Pemerintah AS menerbitkan surat utang ( US treasury). Surat utang ini tidak dijual kepada publik. Tetapi dijual kepada The Fed ( bank Central). Darimana the Fed dapatkan uang? ya the fed cetak uang. Nah uang inilah yang dipompa ke sektor perbankan agar perbankan ada darah untuk mendorong dunia usaha melakukan ekspansi. Kalau dunia usaha ekspansi, maka angkatan kerja terserap dan otomatis konsumsi meningkat. Ekonomi pulih.


Tapi bukan itu saja. Uang yang dipompa oleh the Fed juga dipakai untuk  menstabilkan mata uang dollar di negara manapun. The fed mengeluarkan berbagai fitur kepada negara yang mempunyai cadangan dolar tinggi agar bisa mengamankan kursnya. Misal, Bank Indonesia dapatkan fasilitan REPO line dari The fed senilai USD60 miliar. ini akan memperkuat second line of defense BI teradap gejolak Rupiah. Kebijakan suku bunga the fed akan mempengaruhi aliran modal. Kalau suku bunga rendah, maka uang akan mengalir ke luar AS untuk masuk ke pasar modal dan pasar uang di negara lain. Karena spread yang lebar itu menguntungkan daripada simpan di AS. 


Nah apa jadinya kalau the Fed membuat kebijakan menaikkan suku bunga? Itu artinya sinyal perbaikan ekonomi AS sudah terjadi. Tentu dollar akan pulang kampung. Ini berhaya bagi negara lain yang likuiditasnya tergantung kepada dollar. Likuiditas mengering akan membuat index pasar modal jatuh. Pasar obligasi juga kering. Ekspasi bisnis dan investasi lewat hutang sudah semakin sulit.  Rupiah akan dihajar pasar. Terjadi aksi jual obligasi Valas kita dipasar dan harga akan semakin jatuh. Tetapi bisa saja suku bunga tidak naik tetapi the fed mengurangi pembelian surat utang. Ini sangat berhaya. Karena kebijakannya adalah melawan hantu, yaitu inflasi. 


Solusi bagi pemerintah mengantisipasi dampak mengeringnya likuiditas adalah  Bank Indonesia (BI) harus menaikkan suku bunga acuan, yang saat ini sudah mencapai level terendah dalam sejarah yaitu 3,5%. Dan Menteri kabinet harus pastikan konsumsi domestik terjaga, baik dari sisi permitaan maupun supply. Yang utama adalah jaga kebutuhan pokok. Dan Pak Buwas itu tugasnya sangat penting menjaga sembako aman. Berdasarkan pengalaman sebelumnya tahun 1998, 2008, kita selalu bisa berselancar digelombang krisis. Sekali ini saya yakin kita lebih dewasa menghadapinya dan ketahanan fundametal ekonomi kita juga lentur.  Kita akan baik baik saja. Asalkan berhenti rakus.