Saya sedang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin tiga bulanan. Dokternya sudah lama mengenal saya, sehingga percakapan kami sering melebar ke topik di luar medis.
“Pak, saya ingin mulai investasi di pasar modal,” katanya sambil menutup hasil rekam medis. “Saya sedang belajar. Apa saran Bapak untuk pemula seperti saya?” Dia tahu profile saya dari file di RS di Hong Kong, terutama tentang saya berhubungan dengan bursa. Maklum ini RS rujukan dari RS di Hong Kong untuk saya lakukan medical check up.
Saya tersenyum ringan.
“Mulailah dengan memahami tren bisnis emiten. Pahami siklus industrinya, regulasinya, dan arah kebijakan fiskal.”
Dokter itu mengangguk.
“Contohnya?”
“Saya mulai dari batubara dulu, ya.”
“Baik, Pak.”
“Batubara adalah sektor yang hidup dari harga global. Saat ini harga batubara sedang menurun karena permintaan dari China dan India melambat. Stok global juga relatif tinggi.”
Saya melanjutkan dengan tenang.
“Dalam bisnis komoditas, saat harga turun, margin langsung tertekan. Ketika margin turun, laba ikut turun. Investor memahami bahwa ini bukan soal kualitas manajemen perusahaan, tetapi fase siklus bisnis. Sebagai investor, Anda harus sensitif membaca siklus. Dunia sekarang sedang bergerak menuju transisi energi. Artinya, bukan berarti batubara buruk, tetapi Anda sebaiknya tidak berada di fase penurunan siklusnya.”
Dokter itu mengangguk pelan.
“Lalu sektor lain bagaimana, Pak?”
“Perbankan,” jawab saya. “Ini menarik, karena sangat dipengaruhi kebijakan fiskal dan moneter.”
“Bukankah bank terlihat sehat sekarang?”
“Betul. Secara laporan keuangan, bank terlihat kuat. CAR tinggi, laba stabil, dan NPL masih terkendali. Tetapi pasar selalu membaca masa depan. Suku bunga tinggi membuat pertumbuhan kredit melambat. Debitur menahan ekspansi.”
Saya menatapnya.
“Kredit macet tidak muncul saat ekonomi mulai melemah. Biasanya muncul setelahnya. Investor berpengalaman memahami pola itu. Karena itu, mereka sering keluar lebih awal sebelum NPL benar-benar meningkat.”
Dokter itu mencatat sesuatu di tablet. “Kalau properti, Pak?”
“Sektor properti sangat sensitif terhadap aturan Loan to Value dan suku bunga. Sekitar delapan puluh persen pembeli rumah atau apartemen menggunakan KPR.”
Saya berhenti sebentar.
“DP yang tinggi membuat calon pembeli menunda keputusan. Suku bunga tinggi membuat cicilan terasa menakutkan. Sekarang orang bukan takut tidak memiliki rumah, tetapi takut tidak mampu mencicil.”
“Developer terlihat stabil di laporan keuangan,” katanya.
“Benar. Namun cash flow mereka sering kali tertekan. Selain itu, bank juga cenderung menahan pembiayaan sektor properti.”
Dokter itu mengangguk lagi.
“Kalau otomotif, Pak?”
“Mobil dan motor adalah konsumsi berbasis utang,” jawab saya. “Saat bunga naik, konsumen menahan pembelian. Dealer menumpuk stok, margin tertekan, dan laba bisa turun lebih cepat dari ekspektasi.”
Saya menatapnya tenang.
“Penjualan kendaraan bisa ditunda enam bulan. Tetapi harga sahamnya bisa turun dalam enam hari.”
Ia tersenyum pahit.
“Jadi keempat sektor itu punya kesamaan?”
“Ya,” jawab saya. “Mereka bergantung pada ekspansi kredit dan kepercayaan konsumen. Saat likuiditas mengetat, sektor-sektor itu menjadi korban pertama. Jadi bukan karena perusahaan-perusahaan itu buruk, tetapi karena waktunya kurang tepat.”
Dokter itu terlihat berpikir.
“Kalau begitu, sektor apa yang relatif lebih aman saat ini, Pak?”
“Contohnya sektor infrastruktur data, utilitas, bisnis berbasis layanan, atau perusahaan yang tidak terlalu bergantung pada konsumsi berbasis utang.”
Ia tersenyum.
“Tidak terlalu sulit dipahami, ya, Pak.”
Saya tersenyum tipis.
“Memang terlihat sederhana. Tetapi investor harus disiplin dalam menilai valuasi.”
“Ya. Orang sering membicarakan valuasi,” katanya.
“Hanya saja,” jawab saya, “banyak orang keliru mengira valuasi hanya angka.”
Ia mengangkat alis.
“Bukankah memang angka? PER, PBV, ROE?”
“Itu alat ukur,” kata saya. “Bukan keputusan investasi.”
“Lalu apa yang harus diperhatikan terlebih dahulu?”
“Risiko,” jawab saya cepat. “Setelah itu baru laba. Di sinilah PER sering menyesatkan. PER relevan jika laba stabil. Namun jika laba bersifat siklikal, PER rendah justru bisa menipu. Saham bisa terlihat murah di puncak siklus dan mahal di dasar siklus. Itulah sebabnya saham komoditas sering terlihat murah tepat sebelum harganya jatuh.”
“Kalau PBV bagaimana, Pak?”
“PBV lebih jujur,” jawab saya. “Tetapi hanya jika Anda memahami kualitas aset perusahaan.”
“Dan ROE?” tanyanya lagi.
Saya tersenyum.
“Itu satu-satunya angka yang sulit dimanipulasi dalam jangka panjang. Jika PBV tinggi tetapi ROE rendah, biasanya itu hanya cerita. Jika PBV rendah tetapi ROE tinggi, itu sering menjadi peluang.”
Dokter itu mencondongkan badan.
“Jadi batas wajar harga saham itu di mana?”
“Batas wajar terjadi ketika pasar membayar sesuai kemampuan perusahaan menciptakan nilai, bukan sekadar berdasarkan harapan.”
“Dan kondisi sekarang bagaimana, Pak?”
“Suku bunga tinggi membuat semua harapan harus didiskon lebih besar,” jawab saya pelan.
Ia mengangguk.
“Itu sebabnya saham defensif terlihat mahal, tetapi tetap dibeli investor.”
“Karena mahal jika dibandingkan masa lalu,” kata saya, “tetapi masih wajar jika dibandingkan risiko hari ini.”
Ia tersenyum tipis.
“Berarti yang sering keliru bukan pasarnya, ya Pak?”
Saya tertawa kecil.
“Pasar jarang irasional dalam waktu lama. Yang sering irasional justru kita.”
Ia ikut tertawa, lalu berkata pelan, “Saya mulai mengerti sekarang. Valuasi bukan soal seberapa murah harga saham hari ini, tetapi seberapa mahal kesalahan yang bisa kita buat jika kita salah membaca masa depan.”
Saya mengangguk pelan ketika ia menunjukkan grafik kesehatan saya di layar monitor. Garis-garis stabil itu seperti peta perjalanan tubuh yang telah menempuh cukup banyak musim.
“Perfect, Pak,” katanya sambil tersenyum. “Boleh saya tahu apa resep Bapak tetap sehat di usia di atas enam puluh tahun?”
Saya tidak langsung menjawab. Pada usia seperti ini, setiap jawaban bukan lagi sekadar kalimat, tetapi hasil dari perjalanan panjang memahami kehilangan, ketahanan, dan makna bertahan hidup.
“Pandangilah wajah istrimu saat ia tidur,” kata saya akhirnya.
Ia tampak sedikit terkejut. Mungkin ia menunggu jawaban tentang olahraga, diet, atau disiplin medis. Saya melanjutkan dengan tenang.
“Di usia muda, kita sering mengukur nilai hidup dari apa yang kita capai. Jabatan, kekayaan, reputasi, atau pengakuan. Tetapi setelah melewati banyak siklus—naik dan turun, untung dan rugi, kehilangan dan menemukan kembali—kita mulai memahami bahwa hidup sebenarnya bukan tentang pencapaian, melainkan tentang siapa yang tetap tinggal bersama kita ketika semua pencapaian itu kehilangan makna.”
Saya memandang jendela ruang praktik yang memantulkan cahaya sore yang mulai redup. “Ketika kamu memandang pasanganmu tertidur, kamu melihat sesuatu yang tidak berubah oleh fluktuasi dunia. Kamu melihat seseorang yang telah melewati musim bersamamu—saat kamu kuat, saat kamu rapuh, saat kamu berhasil, dan saat kamu gagal. Di situlah kamu belajar tentang investasi kehidupan yang sesungguhnya.”
Saya berhenti sejenak.
“Dalam pasar keuangan, nilai selalu bergerak mengikuti siklus. Tetapi dalam hubungan manusia, ada nilai yang justru tumbuh karena waktu. Semakin lama kamu menjaganya, semakin stabil ia menenangkan jiwamu.”
Saya menarik napas perlahan.
“Kesehatan tubuh sering kali dianggap hasil dari disiplin fisik. Itu benar, tetapi tidak lengkap. Tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan batin. Jiwa yang gelisah menciptakan tubuh yang rapuh. Jiwa yang tenang menciptakan tubuh yang tahan terhadap banyak hal.”
Saya menatapnya kembali.
“Di usia matang, kita mulai menyadari bahwa kesehatan bukan hanya soal bertahan hidup lebih lama. Kesehatan adalah kemampuan menikmati hidup tanpa terbebani oleh ketakutan yang tidak perlu. Dan ketenangan batin adalah fondasi dari kemampuan itu.”
Saya tersenyum tipis.
“Orang menghabiskan hidup mengejar aset yang nilainya naik turun. Padahal aset terbesar adalah kemampuan merasa cukup ketika hidup berjalan sederhana. Dan sering kali, rasa cukup itu lahir dari kehadiran seseorang yang membuat kita merasa pulang, bahkan ketika kita tidak berada di rumah.”
Dokter itu terdiam. Ia tidak lagi melihat grafik kesehatan saya. Ia terlihat seperti sedang membaca ulang hidupnya sendiri. Saya lalu menambahkan dengan suara yang hampir seperti bisikan, “Pada akhirnya, usia bukan sekadar angka. Usia adalah perjalanan menyadari bahwa banyak hal yang dulu kita anggap penting ternyata bisa hilang tanpa menghancurkan kita. Tetapi ada beberapa hal kecil, seperti wajah seseorang yang kita cintai saat tertidur, yang justru membuat kita tetap utuh.”
“ Mengapa pemain hedge fund semua terkesan sangat filosofis? Tanyanya. Saya diam aja. Kan engga mungkin saya jawab itu karena punya istri cerewet dan memaksa kita harus terus sabar.



