Sejak lebih 1 dekade, China menjalankan sebuah agenda pembangunan yang secara politis berisiko tinggi namun secara struktural sangat menentukan, yaitu memperkecil kesenjangan pendapatan antara desa dan kota. Ini bukan pekerjaan kecil. Ini adalah proyek transformasi sosial-ekonomi berskala nasional yang menyentuh jutaan rumah tangga, struktur produksi, hingga legitimasi politik negara.
Yang menarik, agenda besar ini tidak dijalankan melalui program populis jangka pendek seperti bantuan tunai langsung, subsidi konsumsi, atau skema bantuan berbasis elektabilitas. China memilih jalan yang jauh lebih berat secara teknokratis dan politis, yaitu berupa revitalisasi pedesaan berbasis pertanian ekologis dan industrialisasi desa.
Alih-alih memompa daya beli secara artifisial, negara mengirim jutaan insinyur, teknisi, dan perencana ke desa-desa untuk membangun fondasi produksi. Infrastruktur pertanian diperkuat—mulai dari warehousing, fasilitas pemrosesan hasil pertanian, irigasi modern, perbaikan kualitas tanah dan air, hingga penciptaan ekosistem desa yang sehat secara lingkungan. Di saat yang sama, negara mendorong platform pemasaran dan marketplace agar petani tidak lagi menjadi pihak terlemah dalam rantai nilai.
Peran akademisi juga tidak bersifat simbolik. Lembaga riset dan universitas didorong secara agresif untuk menghasilkan inovasi benih, teknologi pertanian presisi, dan sistem produksi berdaya hasil tinggi. Dengan kata lain, China menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen utama pemerataan pendapatan, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Transformasi ini tidak bebas biaya sosial. Ketika pemerintah China mengerem ekspansi bisnis dan proyek-proyek perkotaan yang hanya mengejar pertumbuhan angka, lapangan kerja di kota menyusut. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan, dan urban employment mengalami tekanan. Namun, tekanan ini bukan kegagalan kebijakan, melainkan konsekuensi yang disadari dari pergeseran paradigma: dari growth at all costs menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Mega proyek di pedesaan—yang sebelumnya terpinggirkan—justru menciptakan daya tarik baru. Arus balik tenaga kerja dari kota ke desa mulai terjadi. Desa-desa yang tertinggal bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru, dengan fungsi produksi, pemrosesan, dan distribusi yang terintegrasi. Dalam banyak kasus, desa secara gradual berubah menjadi kota—bukan melalui urban sprawl, tetapi melalui industrial upgrading di wilayah rural.
Hasilnya mulai terlihat secara empiris. Data resmi China menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara penduduk perkotaan dan pedesaan terus menyempit. Rasio pendapatan perkotaan–pedesaan turun dari 2,56:1 pada 2020 menjadi 2,31:1 pada 2025, sebagaimana disampaikan oleh Han Wenxiu, Kepala Kantor Kelompok Pimpinan Pekerjaan Pedesaan Pusat.
Pada 2025, pendapatan per kapita yang dapat dibelanjakan petani mencapai 24.456 yuan, tumbuh sekitar 6 persen secara tahunan. Lebih penting dari angka itu sendiri adalah tren jangka panjangnya, yaitu peningkatan kualitas hidup dasar petani yang berlangsung konsisten, bukan lonjakan semu berbasis subsidi.
Kebijakan ini ditegaskan kembali dalam rilis tahunan “Dokumen Sentral No. 1”, yang menjadi panduan strategis utama China dalam modernisasi pertanian dan revitalisasi pedesaan menuju 2026. Pemerintah menempatkan pertumbuhan pendapatan petani sebagai prioritas inti, melalui pengembangan industri berbasis wilayah, stabilisasi lapangan kerja migran, dan pemanfaatan aset pedesaan secara produktif untuk diversifikasi sumber pendapatan.
Penutup
Model pembangunan China menunjukkan satu pelajaran penting dalam ekonomi politik pembangunan. Bahwa pemerataan pendapatan yang berkelanjutan tidak bisa dicapai lewat populisme fiskal, melainkan melalui transformasi struktur produksi. Jalan ini lambat, mahal, dan penuh risiko politik. Namun justru karena itu, hasilnya lebih tahan lama.
Ketika banyak negara memilih jalan pintas melalui distribusi bantuan konsumtif, China memilih membangun kapasitas produksi desa. Ketika populisme menjanjikan popularitas cepat, China mempertaruhkan legitimasi politiknya pada kerja sunyi yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Dalam konteks global hari ini, revitalisasi pedesaan China bukan sekadar kebijakan domestik, melainkan eksperimen besar tentang bagaimana negara mengelola transisi menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan—tanpa bergantung pada ilusi populisme.



