Pernyataan optimistis bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 10.000 pada 2026—yang disampaikan Menteri Keuangan dan dilaporkan luas oleh media—perlu dibaca dengan hati-hati. Pernyataan tersebut menekankan kekuatan fundamental ekonomi, ekspektasi pertumbuhan laba emiten, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sebagai penopang pasar.
Secara komunikatif, ini adalah narasi stabilisasi. Dalam situasi volatilitas—termasuk ketika terjadi trading halt—pesan seperti ini lazim digunakan untuk menenangkan pasar dan publik. Bahwa gejolak bersifat sementara dan fondasi ekonomi tetap kokoh. Namun, di pasar modal, narasi tidak berdiri sendiri. Ia selalu diuji oleh struktur, aturan, dan perilaku pelaku pasar.
Masalahnya bukan pada optimisme itu sendiri, melainkan pada ketegangan antara narasi dan realitas struktural—khususnya terkait free float efektif dan transparansi kepemilikan. Selama isu ini tidak diselesaikan secara tegas, kenaikan indeks berisiko ditafsirkan sebagai hasil distorsi likuiditas, bukan refleksi permintaan pasar yang sehat. Dalam konteks ini, optimisme IHSG berpotensi dibaca pasar global sebagai upaya membeli waktu (buying time), bukan bukti reformasi. Investor institusional internasional—termasuk penyedia indeks—lebih menilai kualitas pasar daripada target angka indeks.
Pergantian pimpinan otoritas pasar modal sering disederhanakan sebagai hasil tekanan politik. Namun pembacaan yang lebih masuk akal adalah dilema kebijakan. Reformasi struktural pasar modal membawa konsekuensi jangka pendek yang menyakitkan, sementara stabilisasi jangka pendek membutuhkan kompromi.
Fakta bahwa setelah pergantian kepemimpinan OJK dan BEI, kebijakan yang muncul justru memberi masa transisi tambahan bagi emiten untuk memenuhi ketentuan free float menunjukkan adanya resistensi struktural, bukan sekadar persoalan individu. Di titik ini, proses dialog dengan penyedia indeks global menjadi sulit, karena standar mereka relatif konsisten dan berbasis aturan, bukan negosiasi politis.
Ketika pasar modal terlalu lama ditopang oleh kebijakan stabilisasi, muncul risiko yang lebih serius: state capture—bukan dalam arti tuduhan kriminal, melainkan sebagai kondisi di mana kebijakan publik tersandera oleh kebutuhan menjaga stabilitas kelompok ekonomi tertentu. Dalam sistem keuangan yang terintegrasi, penurunan tajam harga saham berpotensi berdampak pada kualitas aset perbankan, stabilitas lembaga keuangan, dan nilai tukar. Karena itu, menahan koreksi menjadi pilihan rasional jangka pendek. Namun pilihan ini datang dengan biaya: distorsi harga, penundaan penyesuaian, dan membesarnya risiko akumulatif.
Pasar modal selalu menjadi cermin bagaimana ekonomi dikelola. Ia sensitif terhadap transparansi, kepastian aturan, dan konsistensi kebijakan. Jika stabilitas dicapai terutama melalui narasi dan penundaan reformasi, maka pasar tidak sedang diperkuat—ia sedang dibius. Masalahnya bukan apakah koreksi akan terjadi, melainkan kapan dan seberapa besar. Semakin lama koreksi ditunda, semakin mahal biayanya, dan semakin panjang proses pemulihan ketika penyesuaian akhirnya tidak terelakkan.
Penutup
Optimisme adalah alat komunikasi yang sah. Tetapi optimisme tanpa reformasi struktural hanya menunda penilaian pasar. Dalam ekonomi, waktu yang dibeli tanpa perbaikan sering kali berubah menjadi utang risiko. IHSG bukan sekadar angka. Ia adalah refleksi dari kualitas tata kelola. Dan pada akhirnya, pasar global tidak menghukum narasi—mereka menghukum struktur yang rapuh.





