Ada anak muda bertanya kepada saya. Mengapa Indonesia keliatan sangat lemah yang sehingga terkesan sangat bodoh menerima perjanjian Agreement on reciprocal Tariff (ART). Tentu anak muda ini bertanya karena dia cerdas dan melek informasi. Dia jelaskan satu persatu pasal terkait dalam ART. Saya tersenyum dan Bahagia. Karena generasi kini jauh lebih hebat dari generasi kami. Thanks untuk kebebasan informasi dan AI.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya tegaskan kepada dia bahwa Indonesia bukan negara lemah. Tetapi dalam sistem global berbasis dolar dan jaringan finansial Barat, ada beberapa titik kerentanan struktural yang bisa menjadi tekanan jika hubungan dengan AS memburuk. Mari kita uraikan secara objektif — tanpa dramatisasi, tanpa paranoia.
Pertama. Kerentanan Finansial.
Karena proses pembangunan yang kita pilih, akhirnya kita sampai pada situasi terjebak utang luar negeri. Walau investor terbesar di Indonesia adalah Singapore. Namun kreditur terbesar tetaplah Amerika. Utang luar negeri Indonesia berada di kisaran US$430 miliar. Strukturnya terdiri dari utang Pemerintah, Bank dan Korporasi. Dari sisi kreditur bilateral, Amerika Serikat memang tercatat sebagai salah satu pemberi pinjaman signifikan. Waau ada juga kreditur multilateral seperti World Bank, ADB, Jepang dan negara Eropa namun mereka patuh atas dengan design AS.
Sebagian besar di hedging bermata uang USD. Bayangkan, apa jadinya bila terjadi pengetatan likuiditas USD. Katakanlah, indoensia di kick out dari RepoLine the Fed. Kita engga punya resource lagi menahan kejatuhan USD. Dampaknya Rupiah meleman. Beban utang meningkat dan cadangan devisa tergerus. Indonesia tidak bisa mengontrol kebijakan suku bunga AS. Itu titik rapuh pertama.
Kedua. Kepemilikan Asing di Pasar Keuangan.
Disamping itu investor asing seperti Black Rock,Vanguard dan lain lain memegang porsi signifikan atas SBN (Surat Berharga Negara), Saham di BEI, Obligasi korporasi. Jika sentimen memburuk maka outflow capital bisa cepat, yield akan naik yang tentu biaya fiskal membengkak. Ekonomi cepat sekali runtuh. Kerentanan ini bukan unik Indonesia — tetapi nyata.
Ketiga. Kerentanan Sistem Pembayaran & Sanksi
AS mengontrol sistem dolar clearing sehingga ia punya senjata yang menakutkan seperti OFAC (sanctions regime) dan ini terkait dengan skses ke sistem keuangan global. Nah, jika negara masuk daftar sanksi atau secondary sanction maka Bank bisa dibatasi akses USD. Otomatis Perdagangan international terganggu karena Pembayaran internasional macet. Indonesia saat ini bukan target. Tetapi ada di dalam system itu. Itulah kekuatan finansial struktural AS.
Keempat. Kerentanan Perdagangan Strategis
Walaupun perdagangan Indonesia–AS hanya ±7–8% total perdagangan, ada sektor yang sensitive yang menyerap Angkatan kerja luas seperti Tekstil & garmen, Alas kaki roduk dan elektronik tertentu. AS adalah pasar penting untuk sektor-sektor ini. Jika tarif tinggi atau pembatasan diberlakukan maka lapangan kerja terdampak karena Industri padat karya terpukul. Ini bukan soal total perdagangan, tetapi struktur sektoral.
Kelima. Kerentanan Teknologi & Digital
Arstektur digital Indonesia bergantung pada platform AS (Google, Meta, Microsoft, Amazon). Bergantung pada chip & software AS dan sistem cloud global. Dalam konteks teknologi, ekosistem digital Indonesia terhubung erat dengan perusahaan AS. Jika ada pembatasan teknologi (seperti pada Huawei atau Rusia), Indonesia punya keterbatasan substitusi cepat. Bayangkan bila system digital terblockir. Bukan hanya kita engga bisa pakai internet, system persenjataan modern dan komersial akan tumbang tanpa internet.
Keenam. Kerentanan Rating & Persepsi Pasar
Rating sovereign Indonesia dipengaruhi oleh stabilitas fiscal, tabilitas eksternal, hubungan geopolitik. Jika terjadi ketegangan geopolitik serius maka rating bisa turun yang berujung pada spread obligasi naik dan Pembiayaan negara makin mahal. Dalam dunia keuangan modern, reputasi adalah aset. AS punya peran besar meng influence Lembaga rating itu. Jatuh atau bangkit rating ditentukan oleh dukungan dari AS.
Keadaan 6 tersebut diatas bukan datang mendadak. Tetapi hasil dari proses Panjang sejak kita memilih berkiblat ke AS paska kejatuhan Soekarno. Semakin dalam ketergantungan kita setelah reformasi .Terutama sejak kita masuk ke pasar keuangan global atau pasar obligasi (SBN) lewat monetesisasi PDB. Walau SBN sebagian besar berasal IDR, namun yang menggerakan value market atau likuiditas tetaplah USD berupa global bond.
Semakin sulit kita keluar dari jebakan ketergantungan itu, karena tidak ada diversifikasi komoditas. Masih bergantung kepada komodistas alam dan pasar yang ada dibawah hegemoni AS, seperti jepang, Eropa. Kalaupun ada China dan Rusia, itu tidak significant. Selama struktur ini belum berubah, tekanan eksternal akan selalu terasa besar.
Apa arti dari itu semua? Tanpa ART pun kita sudah terjajah oleh system AS. Apalagi system politik kita demokrasi bebas. Dimana electoral tanpa dukungan AS, sulit kandidat akan menjadi pemenang. Mengapa ? setiap pergantian rezim, selalu fiscal kita dalam kondisi defisit primer. SBY berakhir dengan meninggalkan warisan defisit primer. Jokowi juga. Tanpa dukungan likuiditas dari AS, defisit sulit ditambal. Situasi ini membuat secara struktur kita tidak pernah bisa mandiri. Bahkan walau mitra dagang kita meluas ke China, itu tidak mempengaruhi struktur yang ada.
Solusi.
Amerika tidak menjajah kita. Justru kita sendiri minta dijajah. Dan ini terkait dengan mindset rezim yang lebih memilih jadi pecundang dalam menyelesaikan masalah. Tidak ada kekuatan moral politik untuk keluar dari situasi ini. Mengapa? Karena sejak reformasi kualitas elite politik semakin rendah. Semakin kemari semakin pragmatis. Apalagi tokoh agama yang tadinya sebagai symbol kekuatan moral melakukan perubahan, justru terjebak dalam kehidupan hedonism yang sehingga ikatan patronisme semakin melemah.
Jadi solusinya ada pada perubahan mindset untuk mandiri. Dan didukung oleh sikap politik keteladanan yang lebih utamakan kepentingan nasional daripada kepentingan pragmatis. Itu yang sulit. Biasanya akan berujung kompromsi tanpa jeda seperti negara gagal seperti Venezuela, dan lain lain. Mandiri tetapi tidak bisa bangkit.
Saya menatap anak muda itu dan berkata, “Jangan melihat satu perjanjian sebagai ukuran harga diri bangsa. Lihatlah apakah kita sedang membangun fondasi agar suatu hari bisa bernegosiasi dari posisi yang lebih kuat.”
Ia mengangguk.
Kedaulatan bukan hasil satu keputusan.
Ia adalah akumulasi kerja panjang sebuah bangsa. Dan pertanyaan kritis seperti yang ia ajukan—itulah tanda bahwa masa depan belum hilang. Kecuali kalau sikap kritis dibungkam.



