Thursday, May 20, 2010

the Glass-Steagall Act


The Banking Act of 1933, widely known as the Glass-Steagall Act of 1933, separated banking according to the types of banking business - commercial banking and investment banking. It was passed when a large portion of the U.S. banking system collapsed during the Great Depression in the 1920s and 1930s.

History and Meaning of Glass-Steagall Act The stock market crashed in the U.S. in 1929. That was, essentially, the beginning of the Great Depression. Very similar to the beginning of the Great Recession in 2008, the stock market had reached new highs before 1929 driven by speculation. The Glass-Steagall Act was a reaction to the fact that banks, before the Great Depression, had mixed the commercial and investing activities and regulators felt that this had caused some of the problems. In other words, mixing the commercial and investment banks functions caused banks to take too much risk with depositors' money.. Banks were accused of being greedy....taking on too much risk with depositors' money in hopes of scoring big investment rewards.

After the enactment of Glass-Steagall, commercial banks could accept depositor's money and make loans but could not become involved in selling or trading securities or underwriting. They certainly could not trade in risky or speculative financial instruments. Investment banks could underwrite securities and sell securities, but they could not accept bank deposits or make loans to customers. Glass-Steagall had other provisions. Banks could not pay market interest rates on deposits, for example.

Why the Separation between Commercial and Investment Banks? Some lawmakers in the early 1930's, during the Great Depression, felt that risky activities by banks had contributed to the crash of the stock market and the Great Depression itself. Depositors' money was used for speculative trading. Depositors' money, as a result, was lost. As a result, two Democratic lawmakers, Senator Carter Glass of Virginia and Henry Steagall of Alabama sponsored bills which became known as the Glass-Steagall Act of 1933.

The thinking was that separating the powers of commercial and investment banks would protect depositors' money and it did until the Glass-Steagall Act was repealed in 1999 by the Gramm-Leach-Bliley Act. The Gramm-Leach-Bliley Act was passed along party lines by a Republican vote in the Senate. The banking industry had been lobbying for the repeal since the 1980s. One of the arguments for repealing the Glass-Steagall Act was that the banking industry was losing market share to securities firms. Another was that the securities activities the banks were seeking were low risk by their nature and could provide diversification for the banks. Obviously, the types of risky, exotic securities like credit default swaps had not been thought of at that time.

Creation of the Federal Deposit Insurance Corportion. Along with the other provisions of the Glass-Steagall Act, it also created the Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC). The FDIC is a government corporation that insures the safety of depositors' money up to $250,000 per depositor per bank.

The FDIC examines and supervises member banks for safety and soundness and supervises failed banks. Like the Glass-Steagall Act, the FDIC grew out of the events of the Great Depression. Because there was no deposit insurance at that time, there were bank runs. Depositors fled to banks when the Depression hit to try to withdraw their money. This made the Depression worse. When 2008 came and the Great Recession occurred, the FDIC increased its depositor insurance amount to $250,000 from $100,000 per bank per depositor to increase consumer confidence. That limit will expire at the end of 2013 and will revert back to $100,000.

Will Glass-Steagall be Reborn? Due to the Great Recession of 2008-09 and the fact that the investment banks on Wall Street used depositors' money to make risky investments, President Obama is thinking about re-enacting at least parts of the Glass-Steagall Act. He would like to name his new act the Volcker Rule after Paul Volcker, former Chair of the Federal Reserve, who is a defender of the Glass-Steagall Act.

The Volcker Rule, at least according to Obama's first thoughts, would stop banks from playing the market with depositors' money, participating in hedge funds and making private equity investments. In addition, there would be no more mergers between big banks. The thinking is still fluid on this rule, so nothing is certain yet. However, the Volcker rule or something like it would end the "too big to fail" mentality and clean up the banks. It just might save us from another financial crisis.

Tuesday, May 11, 2010

2010 flash crash...



Tahun 2010 saya sedang nongkrong di Bar Mandarin Hotel . Sekedar killing time sampai buka market putaran kedua jam 1 dini hari. Sambil memesan Red wine segelas dan mendengar lagu classic. Saya nikmati suasana tenang itu dalam penuh tekanan.  Tekanan terus kebawah. Saya sudah putuskan untuk memindahkan semua portfolio saya pada sesi kedua.
“ Anda sendirian” teguran datang dari samping saya duduk. Nampak wanita sipit sepertinya orang Korea. “ Kenalkan nama saya Areum. “ Katanya lagi seraya mengulurkan tangannya.  Seperti kerbau dicucuk hidung saya menerima jabatan tangannya. Tetapi wanita ini cantik“ Anda dari mana” katanya lagi dengan nada cuek.
“ Indonesia.”
“ Oh saya Korea. Tepatnya Busan.” jawabnya ringan.  Kemudian dia pesan Vodka sebotol. 
“ Hari ini hari buruk bagi saya. Engga beruntung. “ Katanya sambil nenggak vodka dari botol. Saya mengerutkan kening. Cepat sekali dia minum.
“ Kamu tahu ?” Katanya dengan suara agak meninggi. “ Pacar putus, dan karir semakin buruk. Mungkin besok boss akan berhentikan saya. Karena posisi trading yang saya pegang kalah terus.” Sambungnya. Saya lirik pin pada jas blesser nya. Itu logo dari lembaga keuangan Jepang.
“ Sejak pemain China tahu nikmatnya melantai di bursa. Pasar semakin kacau. Volatile market engga terkendali. Apalagi sejak 2008 kejatuhan wallstreet”  Katanya meracau. Dia berdiri dari tempat duduknya. Memagut tubuh saya karena dia hampir terjatuh. “ Ayo dansa. “ Katanya memeluk saya. Namun Botol Vodka masih dipegang dia. Saya merebut botol vodka dari tangan dia.  Wajahnya seperti menahan sesuatu “ Huakk” Lah muntah tepat di dada saya. Duh jas Armany seharga USD 2000 dimuntahi dia. Saya langsung gendong dia bawa ke toilet private agar dia bisa muntah sampai habis. 

Setelah kembali ke table. Petugas Bar minta saya antar dia pulang. “ Pulang? kemana? dia bukan teman saya. Saya baru kenal di sini” Kata saya bingung.
“ Itu bukan urusan saya. Yang pasti saya lihat dia bersama anda. “ Kata petugas Bar seraya menyerahkan Bill. Wah kena USD 1000 lebih. Saya bayar pakai credit card. Saya noleh ke samping dia udah tidak ada. Saya senang. Bersyukur. Engga apa hilang duit. Yang penting terhindar dari wanita mabok. Pikiran saya tertuju kepada bursa yang sebentar lagi buka. Saya bersegera kembali ke terminal saya.

Baru saja saya mau keluar dari Bar, ada satpam hotel masuk ke Bar bersama wanita tadi bersama saya. Saya berusaha menghindar seperti engga kenal. “ Hei..! “ teriak orang memanggil. Saya menoleh. Ternyata petugas Bar bersama Satpam dan Wanita itu. “ Mengapa anda biarkan teman wanita anda jalan sendiri. Dia mabuk “
“ Tetapi dia bukan teman saya.”
“ Engga ada urusan saya. Bawa wanita ini. “ Kata Satpam.
Dengan berat hati saya bopong wanita itu keluar dari Hotel untuk pesan taksi. Tetapi setiap taksi yang saya pesan, menolak. Apa pasal? mereka tahu ada penumpang mabok. Kawatir muntah di dalam taksinya.

Kalau saya bawa ke apartemen saya. Saya kawatir ada masalah. Sebagai orang asing kalau ada masalah bisa berabe di Hong kong. Untunglah saya ingat. Saya ada timeshare di Mandarin Hotel. Saya langsung Check in. Wanita itu saya gendong ( meletakannya dibelakang saya). Sampai di kamar. Saya selimuti dia. Setelah itu saya langsung turun ke bawah menemui sekuriti dan duty manager. Saya katakan di kamar itu ada orang mabok. Mohon setiap jam diperiksa keadaanya. Mereka datang ke kamar melihat wanita itu. Ingin memastikan kondisi wanita itu. Eh wanita itu udah engga ada di tempat tidur. Saya panik. Kemana wanita ini? Ternyata dia tertidur di dalam bathtup dalam keadaan pakaian lengkap. Sekuriti minta agar saya sendiri yang jaga. Mereka kawatir.  Saya buka semua pakaiannya yang basah. Kemudian saya selimuti agar dia bisa tidur nyaman.

Sampai pagi saya tertidur di Sofa. Bangun pagi , wanita itu sudah tidak ada. Saya hanya tersenyum.  Buka channel TV, saya terkejut. Pasar rebound. Ya kenangan flash crash wallstreet yang dimulai jam 2:45. Program komputer secara otomatis melakukan sale pada posisi jual yang sudah saya tentukan. Hanya 36 menit berlansung tetapi menyelamatkan saya dari kebangkrutan. Kenangan ini  tidak pernah terlupakan. Adaikan saya tidak bertemu Areum mungkin saya tidak akan beruntung. Mungkin saya akan menyesali karena memindahkan posisi dan tidak mendapatkan barkah dari kenaikan pasar secara cepat. Setelah itu saya bersahabat dengan Areum

Saturday, May 1, 2010

SBLC sebagai solusi pembiayaan


SBLC atau standby LC adalah instrument bank. SBLC diterbitkan lewat fasilitas non cash loan. Jadi walau anda punya uang kas di bank. Anda tidak bisa dapatkan sblc tanpa melalui fasilitas kredit. Mengapa? karena SBLC adalah commitment bank kepada bank lain yang bersifat financial guarantee.  Jadi harus paham bahwa sblc itu produk bank, bukan bond atau MTN. Jadi tidak ada CUSIP atau ISIN number pada SBLC. Dan pasti tidak listed di Euroclear atau clearstream. Nah apa penggunaan SBLC itu?. 


Pertama, untuk cross bording financing fasility atau pembiayaan lintas benua dalam jaminan resiko atas suatu proyek atau transaksi. Contoh anda, dapat order dari buyer dalam jangka waktu 1 tahun. Nah untuk menjamin pembayaran, anda bisa minta SBLC apabila buyer tidak bisa terbitkan Revolving LC. Tentu anda perhitungkan bunga.


Kedua, untuk credit enhancement atau semacam performance bond. Katakanlah anda belum punya reputasi dapatkan kredit bank. Nah SBLC dari bank lain itu bisa meningkatkan performance anda di hadapan bank pemberi kredit. Biasanya bank pemberi pinjaman hanya focus kepada sifat dari SBLC itu. Karena walau SBLC itu bersifat irrevocable, transferable dan unconditional namun jenis  ada beberapa sesuai international law. Ada yang bersifat collect atau tidak full commitmet. Ini biasanya diatur dalam ICC 4xx dan ICC 7xx. Ada juga yang bersifat final sebagaimana diatur dalam ICC 600. Bank akan tentukan jenis term SBLC apa yang mereka accepted. Ya tergantung tingkat resiko bisnis anda.


Ketiga, dalam skema financial engineering. Umumnya ini diterapkan dalam transaksi hedge fund. Contoh mereka akan akuisisi suatu business lewat skema LBO. Mereka yakin akan exit strategy. Tetapi mereka engga ada uang untuk akuisisi. Mereka bisa minta bank sediakan fasilitas non cash loan dalam  bentuk SBLC. Namun bank selalu minta cash sebagai collateral. Nah biasanya pemain hedge fund gunakan asset protection pada offshore fund sebagai cash  colateral. Setelah SBLC terbit, itu dijadikan jaminan untuk terbitkan bond backed SBLC,  yang akan dijual lewat pasar terbatas ( limited offer ). Biasanya dalam  skema hedge fund dan LBO antara pemilik cash collateral dan beneficiary terjadi venture business atau bagi bagi laba. 


Jadi kalau anda ingin memanfaatkan SBLC maka pahami apa tujuan penggunaan SBLC itu. Ya namanya kan instrument (alat). Tentu harus sesuai dengan kegunaannya. Kalau anda paham untuk apa SBLC itu tentu juga tidak sulit mendapatkan facilitas SBLC ( atau non cash loan). Jangan sampai salah kamprah. Akibatnya seperti orang beli kulkas tapi isinya pakaian.

Bisnis dengan pelayanan Cinta.



Ketika saya melakukan city check in di Kowloon Express Station, petugas dengan bermuka masam mengatakan kepada saya bahwa ticket saya sudah expired 1 hari. Artinya saya tidak bisa terbang. Saya berusaha untuk mendapatkan ticket baru namun karena sudah rentang waktu dua jam boarding maka saya tidak bisa lagi terbang pada jam yang sama. Petugas travel agent menyarankan saya terbang keesokan harinya.  

Karena saya pemegang Centurion card AMEX , terpaksa saya gunakan fasilitas kemudahan reservasi ticket di saat emergency. Saya menghubungi call center AMEX. Tidak berapa lama , saya sudah dihubungi oleh Travel agent bahwa saya mendapatkan ticket untuk terbang pada jam itu. Namun mereka meng up grade ticket saya menjadi first class. Saya tegaskan bahwa saya tidak ingin naik first class. Saya ingin economic class. Petugas itu nampak bingung. Menurutnya saya berhak mendapatkan discount besar karena fasilitas Centurion card dan kemungkinan harganya tidak jauh beda dengan economic class. Namun karena saya tetap dengan pilihan saya, maka sayapun diberi ticket economic class.

Di dalam pesawat ketika membagikan makanan, saya menolak makanan itu karena saya sedang berpuasa. Pramugari itu nampak bingung. Di sebelah saya duduk TKI pria yang bekerja di Korea. Diapun berpuasa. Saya dan TKI itu memilih untuk tidur. Namun selang beberapa menit ada petugas pramugari datang menemui kami. Dengan ramah dia mengatakan bahwa akan melayani kami untuk buka puasa. Dia mempersilahkan kami untuk tidur dan akan segera dibangunkan ketika waktu buka puasa. 

Benarlah, ketika saatnya berbuka puasa, petugas Pramugari datang membawa satu set makanan. Dengan tak lupa pramugari itu menanyakan apakah ada lagi yang kami perlukan untuk menambah kenyamanan buka puasa. Saya hanya mengatakan bahwa menu yang dihidangkan sudah lebih baik. Andaikan air putih diberi itu sudah sangat bersyukur. Karena kata saya, kami hanyalah penumpang economic class yang tak pantas mendapatkan layahan special. Namun pramugari itu berkata bahwa maskapai penerbangannya punya standard tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pemeluk agama melaksanakan ritualnya di udara.

Dari peristiwa itu saya mendapatkan satu kesan mendalam. Bahwa saya dihargai begitu tinggi oleh Travel agent  ketika mereka tahu saya pemegang centurion card namun ini hanyalah layanan kapitalis. Memberikan yang terbaik kepada yang qualified untuk membeli apa saja. Tapi diudara , dengan status economic class saya dihormati tinggi karena agama saya. Karena ritual agama yang sedang saya jalani. Bagi saya, maskapai penerbangan itu telah menempatkan human right bukan hanya dalam bentuk jargon tapi dalam satu kesatuan system layanan kepada pelanggan. Ini ditanamkan kepada semua crew pesawat. 

Mengelola perusahaan raksasa bukan hanya target mendatangkan laba tapi bagaimana membangun budaya cinta kepada siapa saja tanpa memperhatikan kelas, terutama menghargai keyakinan orang lain dengan menempatkan rasa hormat. Dari data yang saya ketahui bahwa maskapai penerbangan itu memang selalu blue chip sahamnya di market. Ketika penerbangan lain dirudung merugi, maskapai penerbangan itu tetap untung dan bertahan ditengah krisis.

Saya sampaikan rasa terimakasih kepada pramugari itu karena telah melayani kami dengan sebaik  mungkin terutama menghormati keberadaan kami yang sedang berpuasa. Tak berapa lama dia memberikan secarik kertas kepada saya. Katanya sebaiknya saya memberikan sedikit catatan tertulis untuk dia sampaikan kepada management. Bahwa menurutnya layanan ini ada karena kebijakan manajemen dan mereka mematuhi kebijakan itu melalaui pelatihan yang ketat. 

Saya menulis singkat dan tak lupa mencantumkan namanya. Seusai menulis itu saya termenung. Teringat tulisan dalam salah satu majalan business tentang konsep  spiritual emotion development. Bahwa perusahaan atau pemerintah tidak akan bisa berkembang besar dan berkelanjutan bila anggota organisasi tidak memahami spiritual. Nilai tertinggi dari spiritual adalah cinta. Sikap cinta ini dibangun bukan karena didasarkan kepada strategi marketing yang serba pura pura tapi dibangun dengan nilai nilai spiritual yang tertanam di dalam hati sebagai ujud sincerity ( Keikhlasan) . Dari sikap sincerity ini akan melahirkan passion ( Gairah ) di tengah berbagai hambatan dan dari passion akan melahirkan eternity ( kelanggengan)  yang tak mudah dihantam krisis dan gejolak yang berujung pada penderitaan.