Friday, May 20, 2022

Pemerintah diatur pedagang.




Kadang saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah karena saya tidak sekolah tinggi sehingga cara berpikir saya diketawain dengan alasan macam macam seakan rumit banget. Saya tahu bahwa pasar itu hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran. Kalau anda punya pasar besar ditangan. Anda bisa kendalikan harga produksi orang lain. Anda kurangi permintaan, mati itu produksi atau setidaknya bleeding dia sebelum akhirnya mati juga. Kalau anda punya produksi besar, anda bisa tahan barang. Pasar akan ketar ketir. Harga akan naik dan anda bisa dapatkan keuntungan dari kepanikan itu.


Artinya kalau anda pegang posisi permintaan besar, anda akan mudah kendalikan penawaran. Sebaliknya kalau penawaran anda besar,  anda pun mudah kendalikan permintaan. Paham ya. Tetapi dengan catatan apabila anda smart dalam mengelola posisi itu. Kalau anda punya pasar besar, tetapi anda tidak punya gudang. Ya bego namanya. Anda akan diatur oleh ritme produksi. Kalau anda punya produksi besar tetapi anda tidak punya gudang, ya bego juga. Mengapa ? gudang itu adalah kekuatan anda dalam mengatur keseimbangan permintaan dan penawaran.  Sederhana kan.?


Lucunya di Indonesia hal yang sederhana cara berpikir pedagang sempak itu dianggap kuno. Padahal realitas bahwa harga pasar itu kan turun naik. Ketika harga turun ya beli. Kalau harga naik ya jual. Kalau engga, ya tahan jadi stok. Selagi terus dikelola dengan mekanisme begitu, engga akan rugi. Barang kan nilainya naik terus, beda dengan uang yang nilainya terus turun karena inflasi. Anak SMA paham itu. Jadi kenapa takut stok?. Apalagi sekarang sudah ada ekosistem financial yang mendukung sistem supply chain resource enterprise. Jadi berapapun stok tidak akan membuat stuck cash flow.


Tahun 2015 Jokowi membuat aturan bahwa harga BBM dikembalikan ke pasar. Saat itu di sosmed saya paling militan membela kebijakan Jokowi itu. Saya berdebat dengan banyak orang. Bahkan saya diserang oleh kader partai oposisi. Benar benar brutal debatnya. Mengapa saya begitu militan bela Jokowi? karena tidak masuk akal uang dibakar begitu saja untuk subsidi. Dan gilanya subsidi itu lebih banyak dinikmati kelas menengah. Sementara Jokowi ingin alihkan anggaran subsidi itu ke pembangunan infrastruktur. Clear ya.


Tetapi dalam perjalanannya, aturan itu tidak ditegakan. Indonesia itu konsumen BBM nomor 13 terbesar di dunia. Kalaulah Indonesia punya stok atau bunker 1 tahun konsumsi. Kita aman dari segala gejolak harga. Seharusnya dengan adanya kebijakan harga diserahkan ke pasar, saat itu juga Pertamina menempatkan dirinya sebagai trader yang punya hak monopoli pasar. Artinya, ya bermainlah. Buat analisa pasar. Kalau harga minyak  jatuh di pasar dunia, ya beli besar. Bangun bunker untuk jaga stok. Perbesar kontrak Forward. Nah ketika harga naik, ya jual dengan margin gede. Sehingga dari keuntungan itu Pertamina bisa trade off harga untuk menjaga stabilitas harga BBM dalam negeri.


Tetapi apa yang terjadi? dalam prakteknya walau tata niaga udah mendepak Petral, tetapi tetap saja trader di Singapore yang atur. Pertamina justru jadi konsumen dihadapan trader Singapore. Konyol kan. Udah begitu. Sebagin besar produksi NOC yang punya kontrak Karya,  jual Crude ke trader di Singapore. ya disedot oleh kilang Singapore dan setelah itu mereka jual lagi ke Indonesia. Ampun dah begonya.


Integrated supply chain (ISC) Pertamina justru lebih banyak beli minyak di pasar spot. Lucu ya. Punya market monopoliti tetapi beli ketengan. Kalah sama Udin pedagang sempak. yang berani beli grosir. Tetapi Ok lah. Kalau memang begitu, ya naikan harga sesuai pasar. Jangan ditahan harga hanya untuk jaga citra di hadapan presiden. Entar kalau udah kegedean harga naik, barulah harga di naikan. Ya rakyat kaget. Marah, wajarlah. Coba kalau dinaikan secara bertahap sesuai perkembangan harga. Tentu rakyat engga kaget.


Nah karena aturan subsidi sudah tidak ada lagi. Sementara Pertamina jebol. Direksi Pertamina minta negara bailout kerugian itu? Kan lucu banget. “ Anda selama ini dibayar mahal gajinya, tetapi rugi minta negara bailout. Kalaulah anda pintaran dikit dan malu dibayar mahal, ya tidak perlu Pertamina rugi. Lah anda jual dengan aturan harga pasar. Kalau untung teriak bangga. Pas rugi minta negara bailout. Anak alay juga bisa kerja begitu.” Lucunya, pemerintah mau beri kompensasi. Ya sama saja dengan bailout.


Kalau negara beri kompensasi atas kerugian Pertamina sebesar Rp. 190 triliun. itu sama saja pemerintah ( komisaris dan Meneg BUMN) mengakui kesalahan Pertamina selama ini diketahui dan dibiarkan saja. Bisa saja itulah buah konspirasi antara elite dan pedagang. Kalau pemerintah tidak tahu, ya segera pecat semua direksi dan komisaris Pertamina. Ganti orang yang lebih pintaran sedikit. Berani engga Jokowi?

Ada lagi yang aneh dan lucu. Apa itu? minyak goreng. Sudah jelas bahwa kita kendalikan produksi dan konsumsi. Karena kita produsen CPO terbesar dunia. Kita juga konsumen minyak goreng terbesar nomor 1 di dunia. Tetapi stok di tangki hanya dua minggu saja. Apa yang terjadi ? Nah bayangin aja. Kita kuasai market dan produksi, eh malah kita jadi korban pasar. Semua bilang tekor, Konsumen merasa dirugikan harga naik.  pengusaha sawit juga cerita rugi gara gara harga. Itulah contoh tidak smart pegang posisi.


Padahal semua tahu bahwa BBM dan Minyak goreng itu sudah jadi prodk strategis. Karena bersinggungan langsung dengan politik.  Ini menyangkut kebutuhan vital publik. Konyolnya sudah jelas begitu,  eh dikelola dengan mental pedagang Tanah Abang. Pragamatis sekali. Ya jangan salahkan kalau Indonesia jadi korban trader. Trader itu tidak punya barang dan tidak punya pasar. Tetapi mereka kendalikan barang dan juga pasar. Trader bermain dengan instrument trading lewat mekanisme future trading dan ekosistem financial. Walau stok hanya dalam bentuk kertas doang, tetapi harga terbentuk dan mereka dapat cuan setiap pergerakan harga.


Apakah tidak ada orang pintar di pemerintah? banyak pastinya. Tetapi yang punya niat baik bagi kepentingan negara, itu tidak banyak. Pemerintah itu memang  berbicara atas nama kepentingan rakyat tetapi dalam kebijakannya  untuk kepentingan pedagang.  Ya namanya pedagang kan ingin tetap negara lemah agar sumber daya negara bisa mereka nikmati tanpa kerja keras dan resiko rendah. Selebihnya bagi bagi uang kepada elite. Dan Demokrasi tetap bisa diongkosi agar sistem kekuasaan terus berjalan baik baik saja.


Thursday, May 19, 2022

Pemerintah keok di hadapan cukong sawit

 





Akhirnya pemerintah tidak berdaya dengan kebijakan larangan ekspor CPO. Terpaksa larangan ekspor itu dicabut lagi. Sama dengan larangan ekspor batubara. Dari awal sudah bisa ditebak akan begini jadinya. Karena memang keputusan yang tidak didukunga agenda yang jelas dan visioner. Hanya pragmatis saja. Keliatan sekali memang politik harus patuh kepada realita bahwa yang berkuasa sesungguhnya adalah oligarki bisnis. Pemerintah yang kita pilih dengan harapan tidak ada berarti apapun di hadapan kekuatan kartel bisnis. Itulah realitasnya.  


Saya ingin memberikan solusi yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk keadilan dan pertumbuhan industri dalam negeri. Walau saya sendiri tidak yakin solusi ini akan diterapkan oleh pemerintah. Tetapi sekedar upaya anak bangsa yang tak pernah kehilangan harapan dan tidak pernah lelah mencintai negeri ini, saya sampaikan tulisan ringan yang mencakup tiga hal, yaitu tata niaga, logistik dan insentif.


Tata niaga.

Kebaradaan business sawit sudah ada sejak era Soeharto dengan program PIR yang merupakan sinergi antara rakyat dan perusahaan. Ini sudah established. Melahirkan konglomerat masuk dalam datar 50 orang terkaya di Indonesia. Jadi apakah kita akan terus memperkaya mereka itu atau kita juga perlu memberi kesempatan luas orang lain menikmati kemelimpahan sumber daya Sawit? kalau pilihan untuk kepentingan konglomerat ya sudah. Selesai sampai disini. Tetapi kalau ingin melaksanakan misi Pancasilan sila ke lima, ya kita harus melakukan perubahan. Bukan sekedar perubahan tetapi perubahan struktural. Apa itu? perubahan tata niaga.


Tetapkan pajak tinggi untuk ekspor CPO. Bila perlu pajak diatas 50% dari harga ekspor. Hapus saja soal ketentuan DPO dan DMO. Jadi biarkan pengusaha upstream menentukan sikap atas kebijakan pajak itu. Ini lebih adil. Karena dengan pajak tinggi itu, sistem lebih transfarance. Semua masuk APBN dan dikelola diawasi oleh DPR. Negara punya tambahan sumber pendapatan untuk trade off atas kenaikan harga downstream seperti minyak goreng di pasaran. Artinya kalaupun harus subsidi minyak goreng dalam jangka pendek, tidak menganggu belanja rutin APBN.


Logistik.

Pemerintah bisa gunakan keberadaan BULOG ( Badan Usaha Logistik) sebagai penyangga produksi CPO dengan harga domestik tanpa pajak. Untuk itu BULOG harus bangun pusat logistik yang terintegrasi dengan kawasan industri downstream CPO. Saat sekarang pemerintah sudah bangun KEK di Sei Mangke dengan luas 2000 hektar. Sementara untuk logistik sudah pula dibangun di Kualan Tanjung. Jadi pusat logistik CPO dan kawasan industri downstream itu sudah ada. Tinggal pemerintah selanjutnya keluarkan regulasi tata niaga Sawit dengan dukungan kelembagaan BULOG dan KEK. 


Agar sistem ini bisa berjalan dengan baik dan cepat, BULOG bisa terapkan sistem  IT supply chain resource Entreprise.  Sehingga sumber daya atas stok CPO bisa diakses oleh publik yang ingin masuk ke dowsntream CPO. Karena berada di Kawasan Ekonomi Khusus, ekosistem financial untuk mendukung likuiditas stok akan terbentuk dengan sendirinya.


Insentif.

Pendirian usaha di KEK downstream CPO, mendapatkan insentif bebas pajak ekspor dan PPN. Yang keluarkan izin cukup pengelola KEK. Tidak perlu lagi minta izin kepada pemda dan pusat.  Dengan adanya insentif ini tentu akan mendorong relokasi dowstream yang ada di luar negeri seperti China, dan lain lain untuk masuk ke KEK. Pengusaha lokal juga akan antusias dirikan industri downstream. Karena engga perlu lagi invest stok untuk kelanjutan produksi.  


Artinya pengusaha UKM bisa dirikan industri downstream. Karena modal terbesar untuk downstream ada pada bahan baku dan stok barang jadi. Dengan adanya sistem IT supply chain resource Entreprise biaya stok bisa diatasi lewat ekosistem financial sebagaimana UU Sistem Resi Gudang.


***

Saya datang ke tempat seminar terbatas. Saya di Undang bukan sebagai pendengar tetapi sebagai pembicara. Saya sempat bingung. Ada apa ? saya tidak kenal lembaga penelitian itu. Tetapi ternyata itu rekomendasi dari lembagan keuangan di Eropa yang jadi sponsor, yang minta saya jadi pembicara. Seminar diadakan di hotel bintang V. Di dalam ruangan itu hanya ada 30 orang saja. Mereka yang datang itu umumnya adalah analis investasi dan pejabat pemerintah.


Tadi di dalam kendaraan menuju tempat seminar, saya sempatkan baca summary topik seminar lewat smartphone. Ini tentang Supply Chain and sustainability. Saya datang acara sudah berlangsung. Saya menanti 30 menit. Kemudian dapat kesempatan bicara. Awalnya bingung juga. Darimana saya mulai. Mereka yang hadir jelas semua sarjana. Mungkin S3. Kalau saya bicara dengan pendekatan akademis, jelas diketawain. Saya engga tahu referensinya. Jadi lebih bak saya bicara secara praktis saja. Soal mereka paham atau tidak , bukan urusan saya.


“ Bapak dan ibu sekalian. Silahkan dengar lagu ini sebelum saya bicara. " Saya putarkan lagu lewat smartphone yang berjudul “Gebyar gebyar. “ Saya perbesar volume. Mereka mendengar. Ada yang serius dan ada yang senyum. Saya bersikap sempurna saat mendengar lagu itu. Usai lagu itu. Saya tatap mereka semua.


Bapak bapak ibu ibu, kalau saya dengar lagu itu saya malu kepada diri saya sendiri. Sebagai putra ibu saya. Saya gagal menjadi putra yang dibanggakan. Kita kaya SDA, tapi SDA yang tidak mensejahterakan. Yang tidak berkeadilan. Kadang SDA itu seperti kututukan.Membuat kita saling curiga dan saling serang. Kita kuat itu karena TNI dan POLRI, bukan karena mental kita sebagai bangsa. Andaikan TNI lemah, saya tidak tahu, mungkin kita saling baku hantam. Itulah kutukan SDA.


Padahal masalah SDA yang tidak memakmurkan itu bukan hal rumit. Itu karena kita engga punya sistem tataniaga, yang secara ekosistem mendukung proses produksi, distribusi, yang berkeadilan dari segi sumber daya. Ini tidak terjadi disemua sektor. Akibatnya kita hanya sibuk rebutan papasan perang. Yang kuat yang dapat banyak. Yang lemah engga dapat apa apa. Akibatnya terjadi ketimpangan agraria, sampai kepada ketimpangan kekayaan. Untuk lebih jelasnya baik saya uraikan secara sederhana apa yang saya maksud itu.


Saya kembali kepada topik seminar ini. Supply Chain and sustainability. Saya perlu koreksi sedikit. Supply chain itu bukan hanya focus kepada IT, tetapi yang esensinya adalah berkaitan dengan 3 sumber daya. Apa saja itu ? Bahan baku, logistik ( termasuk gudang/ tanki) , dan financial. Kalau tiga hal tersebut dipenuhi maka proses berkelanjutan ( sustainable ) akan terjadi dengan sendirinya. “ Kata saya. Saya menatap kesemua yang hadir.


Nah “ lanjut saya. “ Contoh sederhana yang yang hot sekarang. Sawit. Kalau kita punya sistem Supply chain yang didukung tiga sumber daya itu, tidak mungkin sampai ada laranga ekspor dari pemerintah. Larangan itu adalah intervensi pasar karena sistem tidak bekerja, dan berdampak merugikan negara dan konsumen. Solusinya yang menguntungkan semua pihak dan negara tidak perlu intervensi, yaitu pemerintah harus membangun pusat logistik CPO yang terhubung dengan ekosistem bisnis sawit dan ini pasti didukung ekosistem financial.


Akibatnya dari sistem supply chan itu, kelebihan stok tidak jadi beban pabrik dan tidak menghalangi pemilik kebun untuk menjual TBS tanpa ada kemungkinan permainan harga akibat demand and supply yang diatur kartel. Kalau logitisk tertata baik itu akan jadi magnit besar bagi investor dalam dan luar negeri, itu akan mendorong pengusaha membangun downstream. Karena bahan baku terjamin. Otomatis  ekosistem financial terbentuk. Mengapa ! Karena kita adalah produsen sawit terbesar di dunia. We served the world and we are the world. Relokasi industri downstream dari China, Korea, Jepang, India akan terjadi secara natural tanpa perlu diundang segala. “ Kata saya.


Saya kembali putar lagu “ Kulihat ibu pertiwi” Setelah usai lagu di kumandangkan. “ Cukup sampai disini. Saya bukan akademisi. Kalau ada kata saya salah, anggap angin lalu. Terimakasih. “ kata saya. Mereka yang hadir berdiri bertepuk tangan. Saya malah bingung. Apanya yang hebat ? Saya permisi pergi untuk meeting di jalan Thamrin.

Sunday, May 15, 2022

Rencana Tesla invest di Indonesia?

 




Tahun lalu Tesla negosiasi dengan Indonesia untuk bangun pabrik EV. Akhirnya Tesla membatalkan rencananya itu. Alasannya sederhana saja. Karena Indonesia tidak bisa comply ESG ( enviromental Social Governance ).Sementara sarat utama investasi bagi perusahaan yang sudah IPO di Wallstreet harus di negara yang patuh dengan standar ESG. Mengapa Indonesia dianggap tidak memenuhi ESG ? karena Indonesia belum ada solusi konkrit tentang limbah penambangan nikel.


Kemudian Tesla lanjutkan rencana membangun pabrik EV di India. Setelah negosiasi yang panjang. Bahkan Tesla sudah mendirikan perusahaan di India, Tesla India Motors and Energy Private Ltd di Bengaluru pada 8 Januari, 2021. Namun tiga hari lalu Tesla mengumumkan bahwa mereka mundur dari rencana itu. Mereka pastikan meninggalkan pasar India. 


Apa pasal? karena India tidak ingin  hanya dimanfaatkan pasarnya saja. Tanpa ada tekad serius Tesla bangun pabrikasi secara terintegrasi di India. "Kami hanya punya pasar, dan anda punya tekhnologi. Kalau mau masuk pasar kami, ya serahkan tekhnologi kepada kami. Kalau engga, Ya engga usah invest. " Kira kira itu sikap pemerintah Idia. Tesla minta izin waktu secara bertahap membangun pabrik terintegrasi. India tidak masalah. Tetapi tetap saja impor komponen yang didatangkan dari pabrik Tesla di CHina kena pajak impor tinggi. Itulah yang membuat Tesla capek negosiasi dan akhirnya cao.


Sebenarnya tahun 2019 Tesla berencana membangun pabrik baterai EV di India. Itu juga gagal. Karena India tidak mau tekhnologi modul baterai didatangkan dari pabrik Tesla di China. Harus bangun sendiri di India. Kalau engga, ya dikenakan tarif impor tinggi. Jadi sebenarnya, India tidak salah. Tesla sudah tahu platform pengembangan industri di India sebelum dia masuk. Namun Tesla mau take advantage akan keberadaan tekhnologi EV dan kesiapan China mau dukung pembiayaan. Ternyata India tidak bisa dibujuk  kalau kepentingan domestik diabaikan.


Mungkin anda bingung. Baik saya jelaskan. Pabrik EV itu ada tiga unsur. Pertama, lempengan baterai. Kedua, modul baterai. Ketiga, kerangka dan fitur. Ya lempengan baterai itu bisa dibuat dimana saja. Nilai tambahnya rendah. Satu paket lempengan baterai per satu kendaraan value nya hanya USD 1200. Sementara modul baterai itu nilai tambahnya USD 15,000. Nah modul tekhnologi ini tidak akan ditransfer tekhnologinya kepada pihak lain. Sedangkan kerangka, itu bisa dibuat di mana saja. Karena tekhnologinya sederhana. Soal fitur itu bisa juga engga sulit.


Nah apa agenda pertemuan Jokowi dengan Elon Musk boss Tesla? apa yang ditawarkan Indonesia kepada Tesla untuk berinvestasi di Indonesia? kemungkinan besar itu hanya lempengan baterai saja, bukan modul baterai. Ya sama dengan yang dibangun oleh Indonesia Battery Corporation (IBC). Perusahaan patungan empat BUMN, PT Indonesia Asahan Aluminium/Inalum), PT Anyam Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Kemungkinan besar yang invest di Indonesia itu adalah unit bisnis Tesla di China. Karena dia engga mungkin dapat duit dari AS, kecuali dari China yang tidak mensaratkan ESG. Kemungkina sukses kecil sekali. Namun sekedar PR ya lumayan memuaskan pejabat yang atur pertemuan antara Elon Musk dan Jokowi.


Namun yang patut diperhatikan adalah kalau alasan bangun pabrik baterai itu, Tesla juga minta izin masuk pasar domestik untuk EV nya. Ya pemerintah harus tetap dengan kebijakan standar perlindungan pasar domestik. Kalau engga, sampai kapanpun kita tidak akan punya industri EV terpadu. Pasar domestik hanya dimanfaat pihak luar. Nasip kita akan sama dengan industri kendaraan konvensionnal ( Non EV) yang ada sekarang, yang kita tidak bisa mandiri.  Itu karena kebijakan masa lalu yang lemah atau longgar terhadap APM ( Agen Pemegang Merek).


***

Program hilirisasi Nikel

Kalau saya baca program hilirisasi Nikel itu sudah benar sesuai dengan UU Minerba. Jokowi laksanakan UU itu dengan konsisten. Tidak ada satupun kementrian yang berani bermain. Ya karena sudah undang undang. Artinya hilirisasi itu sudah konsesus politik.  Walau UU Minerba  itu kali pertama di create era SBY dan di revisi di era Jokowi, namun sampai sekarang hilirisasi itu hanya sebatas  antara (intermidiate) dan didominasi oleh produk kelas dua, yakni nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi). Belum sampai ke produk jadi yang nilai tambahnya tentu jauh lebih tinggi.


Pada tahun 2021, konsorsium BUMN, PT Pertamina (Persero), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT PLN (Persero) dan PT MIND ID. mendirikan pabrik baterai , namanya PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dengan masing-masing 25%. Ini juga bukan baterai modul. Hanya sebatas lempengan baterai. Tapi nilai tambahnya lumayan. Itu 5 kali daripada jual nikel mentah. Kalau modul baterai, itu nilai tambahnya bisa mencapai 50 kali.


Menurut saya, itu sudah bagus. Asalkan Pemerintah focus kepada riset dalam negeri agar kita mampu mengembangkan sendiri downstream nikel itu. Berdayakan saja  kampus seperti ITB, ITS, dan lain lain agar terlibat serius mendapatkan tekhnologi downstream nikel yang lebih luas. Mengapa? kalau kita tidak focus riset, saya kawatir kita dihabisi oleh predator dari luar. Bayangin aja betapa begonya kita kehilangan puluhan kali nilai tambah hanya karena kita tidak kuasai tekhnologi. 


Belum lagi saya dengar ada skema supply chain yang ingin kuasai SDA nikei. Misal PT Industri Baterai Indonesia kerjasama dengan Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution bangun pabrik baterai senilai US$1,1miliar. Begitu juga IBI kerjasama dengan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dengan investasi sebesar US$ 5 miliar (Rp 72 triliun), dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan sebesar US$ 13-17 miliar (Rp 187,5-245 triliun).


Investasi tersebut diatas sebenarnya itu sama saja dengan counter trade ( imbal beli SDA). Investasi dibayar dengan produksi. Karena investor yang kerjasama dengan IBI itu adalah juga offtaker produk baterai itu sendiri. Tetapi itu hanya sebatas lempengan baterai. Lempengan itu dikapalkan ke CHina untuk mendukung supply chain industri modul bateral dan EV. Kita hanya kebagian nilai tambah 5 kali saja dari harga nikel. Sementara korea dan cHina dapatkan nilai tambah 10 kali dari lempengan baterai itu. Belum lagi China dan Korea dapat laba dari pabrik baterai mereka di Indonesia sebagai JV.


Betapa besarnya anggaran pendidikan di APBN. Bahkan 20% dari total APBN. Itu tentu berharap investasi pendidikan bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan negeri ini. Tetapi sampai sekarang kita hanya jadi pecundang di bidang hilirisasi SDA. Karena kampus hanya sibuk berpolitik dan omong kosong dan output nya para sarjana yang sibuk cari kerjaan dan nyinyir. Mau gimana lagi. Itulah nasip negeri kita. Mindset terjajah belum tuntas dihapus. Inferior banget nget. 


Apalagi lihat jokowi sampai menemui Elon. Diterima pakai kaos doang. Saya nangis dalam hati. Begitu besar keinginan presiden saya untuk nilai tambah SDA negeri ini. Kalaulah anak negeri ini mampu mandiri dibidang hitech, engga mungkin presiden saya sampai merendahkan diri bertemu dengan Elon…

Thursday, May 12, 2022

AS tidak waras

 



Tahun kemarin ada film Dont Look up di Netflix. Kate Debiasky (Jennifer Lawrence), mahasiswa pascasarjana astronomi  mengingatkan akan potensi komet menabrak bumi. Itu bisa membuat kiamat. Hitungannya terkonfirimasi oleh Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) bahwa komet tersebut berpotensi menabrak Bumi dalam waktu enam bulan ke depan. Bumi berpotensi akan hancur. Tapi peringatan itu jadi bahan lelucon para elite dan politisi AS. Akibatnya memaksa Kate Debiasky membocorkan ancaman itu lewat media massa. Keadaan jadi kacau. Publik jadi takut dan kawatir atas berita tersebut.


Apa yang terjadi kemudian?  issue itu dimanfaatkan oleh Gedung Putih sebagai cara meningkatkan rating politik dihadapan rakyat. Bahwa berita soal komet itu bohong. Sementara Dr. Randall Mindy dan Kate ngotot bahwa itu bukan rumor tapi sains. Tambah ramai, issue itu juga dijadikan cara meningkatkan value saham di bursa atas perusahaan yang dapat misi untuk mengalihkan orbit komet tersebut. Padahal program perusahaan itu tidak masuk akal secara sains. Namun anehnya didukung presiden. Karenanya sikap rakyat terbelah atas issue tersebut. Ada yang percaya, dan ada yang tidak.


Film Dont Look up jenis drama satire. Walau cerita fiksi namun cukup menggambarkan betapa kehebatan sains ( akal sehat) tidak berarti sama sekali kalau sudah bicara politik kekuasaan yang diharuskan culas. Saya nonton film ini seperti membayangkan suasana batin dari Scott McClellan, juru bicara Gedung Putih Era Geoge Bush, yang menulis buku Inside The bush White House and Washington’s Culture of deception. Tahun 2005  dia sampai dapat curhat dari Alan Greenspan. Betapa renta system perbankan AS. Mungkin saat itu Alan Greenspan seperti lakon Dr. Randall Mindy dan Kate pada Film Dont Look up tidak tahu bagaimana lagi meyakinkan Presiden AS akan bahaya yang mengancam. 


Saat itu AS sedang menghadapi ancaman, bubble price di Wallstreet. Paling lama 6 bulan gelembung itu akan meledak. Dampaknya bisa menggerus 1/3 PDB AS. Scott McClellan sebagai orang dekat  George Bush berusaha menyampaikan peringatan Alan Greenspan dan minta dukungan Presiden untuk melakukan antisipasi. Apa sikap George Bush? malah yang terjadi tahun 2006, Alan Greenspan mundur sebagai Chairman the Fed, digantikan oleh Ben Shalom Bernanke.  Subprime mortgage, yang pertama kali terdeteksi tahun 2006, telah menyebar ke seluruh dunia pada musim panas 2007. Itu adalah pinjaman predator kriminal yang hipoteknya yang tidak berharga dikemas ulang agar terlihat seperti investasi yang aman dan dijajakan di seluruh dunia. 


Orang Amerika kehilangan tabungan pensiun 50%. Kekayaan bersih rumah tangga AS anjlok hingga $11 triliun — dalam satu tahun. Ini adalah angka yang sama dengan output tahunan gabungan Jerman, Jepang dan Inggris. Mereka saling menjarah dengan kejam. Tahun 2006 itu sudah terasa goncangan ekonomi. Tetapi tetap saja presiden AS tidak menyadari atau ignore atas gejala itu.   Barulah tahun 2008, setelah Lehman Brother delisting di bursa, semua terkejut. Ibarat teori domino. Satu jatuh yang lain ikut jatuh. Sistemik sekali. 


Lucunya Henry Merritt "Hank" Paulson, Menteri keuangan AS saat krisis itu terjadi, dia  sendiri tidak paham apa yang  sedang terjadi. Dia sempat bertanya kepada stafnya apa yang dimaksud CMO ( collateralized mortgage obligation). Mengapa sampai jadi pemicu crisis wallstreet? . Padahal semua tahu dia  mantan Boss Goldman Sachs, investment banker first class. Sampai kini proses recovery tidak kunjung terjadi. Bahkan semakin membuat ekonomi AS dan dunia menghadapi krisisl. Semakin engga waras.


***

Mengapa kamu sebut AS itu tidak waras? tanya teman setelah membawa tulisan saya yang di share lewat WAG. Saya senyum aja. Tetapi karena dipaksa jawab maka saya jelas secara sederhana. “ Cobalah bayangkan. Setiap kampanye presiden selalu digaungkan janji menaikan upah. Sementara proses perubahan struktural bisnis kan engga bisa cepat terhadap adanya kenaikan upah itu. Akibatnya, pertumbuhan upah lebih cepat dari pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dibawah 5% sementara upah meningkat 6,6 % setahun. Padahal di AS, 2/3 ongkos ekonomi terkait dengan upah.”


“ Tapi AS kan sudah pengalaman melewati krisis, setidaknya selama  60 tahun terakhir, termasuk pada tahun 1965, 1984 dan 1994, AS The Fed sangat perkasa mengendalikan pesawat ekonomi AS. Sehingga walau digoncang turbulensi, the fed tetap bisa soft landing"  kata teman.


“ Tahu sebabnya ?  


" Apa ?


" saat itu inflasi rendah, dan pertumbuhan upah rendah. Jadi walau the fed menaikan suku bunga tidak berdampak buruk terhadap ekonomi. Tetapi sekarang? Upah sudah tinggi, inflasi juga tinggi. Naikan suku bunga itu sama  saja membunuh sektor real. 


“ Jadi itu yang kamu maksud tidak waras? tanya teman saya. 


“ Ya. Upah yang naik tidak berdasarkan alasan rasional, tetapi lebih karena alasan politik populis,  itu sudah tidak waras. “


“ Pastilah ada alasan politik yang masuk akal ? bisa jelaskan.”


“ Secara Ekonomi AS itu sudah keok dengan China. Banyak industri dan manufaktur AS yang pindah ke China. Karena alasan upah rendah di China. Anehnya ini tidak disadari oleh pemerintah AS. Mereka masih aja menjanjikan upah naik pada setiap putaran pemilu.  Sementara mesin bisnis mereka pada hengkang ke China. Yang tersisa hanya industri dan manufaktur yang tidak efisien. Diserbu oleh produk China, ya keok lah. Masih juga engga disadari. Seharusnya mereka restruktur ekonomi mereka. Tetapi malah ajak perang dagang China. Kan konyol. Dampaknya barang kebutuhan jadi naik di pasar retail. Ini memicu inflasi.” kata saya.


“ Ya kenapa mereka naikan terus upah? 


“ AS itu kan sama  dengan Eropa. Mereka menganut sistem negara kesejahteraan. Masalah upah itu amanah konstitusi. Yang jadi masalah, upah boleh jadi ukuran kesejahteraan, tetapi kenaikan itu  seharusnya karena memang perusahaan untung. Ekonomi bergairah. Kalau ekonomi lesu, pengusaha banyak yang hengkang ke China, kan engga waras naikan upah”


“ Terus apalagi dasarnya kamu bilang tidak waras ? tanya teman


“ Udah tahu AS itu tergantung energi dan gandum dari impor. Eh dia ajak ribut Rusia yang merupakan salah satu negara produsen minyak dan gandum terbesar di dunia. Ya harga minyak  dan gandum melambung. Ini juga jadi pemicu inflasi. Ditambah lagi,  eh China lockdown alasan covid. Rantai pasokan jadi terganggu. Banyak pabrik di AS kesulitan supply chain dari China. Terpaksa mereka kurangi produksi. Kacau kan.” kata saya tersenyum


“ Benar, kata kamu. AS udah engga waras." kata teman


***


Setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada Rabu (4/5/202). Bursa bereaksi. Saham unggulan berjatuhan. Apple, rontok $220 miliar. Microsoft telah kehilangan sekitar US$ 189 miliar. Tesla menyusut US$ 199 miliar. Amazon jatuh sebesar US$ 173 miliar. Alphabet, (Google), jatuh sebesar US$ 123 miliar, Nvidia kehilangan US$85 miliar. Meta Platforms induk Facebook telah kehilangan US$70 miliar. Kalau ditotal, market telah kehilangan USD 1 triliun. Kejadian seperti ini sudah diprediksi sejak tahun lalu. Terutama dampak dari tapering atau kenaikan suku bunga.


Sebelum invasi Rusia ke Ukrania, saya sudah restruktur rekening ETF saya. Pengalaman krisis 1998 dan 2008 mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya juga menulis di blog dengan judul “ Prahara ekonomi, hanya masalah waktu”. Itu saya tulis pada bulan november 2021. Makanya minggu lalu terjadi killing field di Bursa, saya aman saja. Lantas apa penyebab sampai cepat sekali badai turnado itu datang. Apakah hanya karena kebijakan moneter AS ? Mari kita analisa sederhana ala pedagang sempak.


Pertama, terjadinya over capacity di semua sektor produksi dan manufaktur. Terutama sektor tekhnologi. Yang peningkatannya bukan berdampak kepada efisiensi tetapi justru kerakusan yang berlebihan. Sehingga terjadi bubble value. Ini sebenarnya teori dasar keuangan. Semua tahu dampak dari over capacity yang berujung over value. Tetapi para otoritas tidak berdaya menghalangi proses bubble value ini.


Kedua, dampak dari over capaciity dan over value ini, memaksa para fund manager yang mengelola portfolio terjebak dalam bisnis ilusi. Memainkan harga demi menjaga aset agar tidak busuk, walau tahu sebagian besar aset yang mereka kelola sudah deadduck. Tidak ada hope. Ini ongkosnya mahal sekali. Mereka menarik uang dari berbagai sumber dengan berbagai skema dan cerita, sehingga uang tercatat melimpah dalam neraca tetapi tidak mengalir ke sektor produksi. Ini justru mendorong meningkatnya bubble value.


Ketiga, yang paling bahaya adalah kemelimpahan sumber daya disektor moneter itu mendorong terjadinya inflasi. Maklum, sektor real tidak bertambah, uang terus bertambah. Yang jadi korban adalah publik dengan meroketnya harga barang di pasar. Ini yang disebut dengan imbalance economy. Dampaknya sangat sistemik. Karena sudah menyangkut struktural. Proses recovery sangat sulit dan ongkosnya teramat mahal.


Kempat. Para fund manager berkelas dunia sudah berpikir mendekati tahap closed file terhadap peran AS sebagai pendorong pertumbuhan PDB dunia. Bagi mereka mengelola aset berbendera Amerika itu udah no hope dan semakin lama semakin omong kosong. Udah engga waras. Apalagi utang terus meroket, Udah tembuh diatas 100% dari PDB. Sementara kebijakan paket ekonomi Biden di ketawain oleh Kongres. Presiden sudah engga ada reputasi lagi memberikan hope kepada rakyat.


Dengan empat hal tersebut, Indonesia harus cerdas mengantisipasi perubahan global. Hal ini sudah diperingatkan oleh riset World Economic League Table 2021 yang dilakukan oleh Centre for Economics and Business Research (CEBR) pada desember tahun 2021, bahwa AS sudah tidak lagi bisa diharapkan. Posisinya sudah bergeser ke China. Tahun 2023 atau 2024, AS akan masuk lubang resesi. Jadi presiden setelah Jokowi harus orang yang bukan pro AS. Harus orang yang jago mensiasati ekonomi China.

Friday, April 29, 2022

Elon Musk ? Ilusi atau rasional

 





Eropa itu pernah gelap sekian abad. Apa pasal? kekuasaan berdasarkan agama. Raja berdaulat karena diendorsed oleh gereja. Sehingga setiap hari yang ada dalam persepsi rakyat bahwa raja itu wakil Tuhan. Patuh kepada Raja itu sama saja patuh kepada Tuhan. Setiap retorika Raja menjadi sebuah harapan. Bahkan orang siap bertempur dan mati dengan membawa bendera raja, dan dengan lantang berteriak “ Save then king “Namun faktanya tidak ada sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Itu hanya untuk kepentingan raja dan gereja. 


Sejak revolusi Perancis dan diperkenalkan republik.  Kekuasaan adalah juga akal sehat. Kebenaran dipertanyakan, dan diperdebatkan. Presiden  atau kekuasaan tidak bisa lagi bicara omong kosong. Semua terukur dan bisa dinilai secara terbuka. Sehebat apapun Winston Leonard Spencer Churchill membawa inggris menang dalam perang dunia kedua. Dalam pemilu berikutnya dia kalah. Apa pasal? semua orang tahu suksesnya adalah perjudian besar dengan mengorbankan rakyat. Padahal menurut rakyat, Churcill bisa menghindari perang. Dan rakyat menghukumnya dengan tidak memilihnya .


Apa yang saya uraikan tentang kekuasaan ala agama dan republik. Sebenarnya perbedaan nyata. Antara persepsi atas dasar imajiner dengan persepsi atas dasar rasional. Walau targetnya sama namun cara pendekatan berbeda dalam membenamkan persepsi. Memang agama lebih aman. Penguasa tidak perlu kawatir akan citranya. Karena ada gereja yang menjaganya. Tetapi republik perlu kawatir akan citrannya. Makanya perlu media massa dan corong influencer untuk mempertahankan citra penguasa. Bila perlu create story agar orang punya persepsi sama seperti yang diinginkan.


Dalam bisnis khususnya dalam kegiatan investtasi, tidak jauh berbeda dengan cara kekuasaan. Kalau anda masuk ke dalam bisnis yang sudah established di market, semua jadi mudah diukur, mudah dihitung. Sulit bagi anda mau create story tentang value bisnis. Contoh saham Astra, itu sudah jelas dari sejak produksi, rantai pasok dan pemasarannya. Naik turun saham hanya berdasarkan kebijakan pemerintah terhadap Loan to value  bank kepada konsumen. 


Karena sifatnya transfarance maka tidak menarik untuk memperkuat portfolio, apalagi untuk lindung nilai. Kan semua tahu, mengelola portfolio itu bukan sekedar kepit saham atau obligasi dengan berharap cross risk, tetapi yang penting adalah bisa dileverage dengan menciptakan produk investasi yang bisa sedot uang di market. Atau bisa juga dipakai untuk window dressing bagi perusahaan investasi atau Dapen yang sudah terlalu besar tekor. Makanya saham yang sudah established di market, volatile-nya rendah dan termasuk aman bagi investor fundandamental style, walau profit rendah dan likuiditas juga rendah.


Nah untuk investasi pada saham yang tidak bisa diukur, ya semacam IT , Technology dan penyedia sosial media, itu jadi grey area dan pasti tidak established. Market sangat volatile, Mengapa ? karena ukurannya future. “ Kalau, kalau kalau, kalau, nanti akan untung berlpat”. Walau jelas tidak pernah untung namun berkat kampanye membangun persepsi, orang ramai lupa akan “ kalau kalau kalau “ itu. Nah tanpa disadari orang ramai berkiblat kepada informasi lewat sosial media atau media mainstream. Lupa akan hitungan fundamental saham. 


Saham jenis ini. memang creatornya hebat. Mereka tidak lepas 100% tapi cukup secuil tapi marcap berlipat sudah terbentuk. Sehinga persepsi dengan kenyataan terbentuk walau, senyatanya itu semua ilusi lewat mekanisme market manipulation, insider trading, dan front running. Nah dengan marcab terbentuk. Maka emiten bisa dapatkan uang yang lebih besar lewat pasar uang. Misal mereka terbitkan bond lewat skema SBLOCs atau  securities-backed lines of credit dengan collateral saham mereka yang nilai sesuai harga pasar. Sehingga emiten mudah dapatkan dana besar dari market. Padahal semua tahu value saham itu bukan atas dasar fundamental tetapi persepsi ilusi belaka.


Tentu di era terbuka saat ini. Apapun tidak bisa disembunyikan. Sehingga ruang memilih selalu ada. Investor yang sudah established, mereka cenderung memilih akal sehat. Tetapi bagi investor yang labil, mereka cenderung memilih ilusi. Mengapa? karena secara akal sehat mereka tahu bahwa mereka tidak qualified sukses. Artinya,  berharap sukses dari llusi juga engga ada masalah. Sekeras bagaimanapun anda nasehati dia. Tidak akan didengar. Sama dengan orang yang sudah terkunci persepsinya dengan agama, tidak akan bisa dipengaruhi dengan akal sehat. 


Apa dampaknya? pasar modal dan uang jadi killing field bagi orang kaya tanggung dan berorientasi ilusi. Kerumunan orang banyak yang bego dan tinggi ngayal ini,  tentu dimanfaatkan orang kaya untuk bertambah kaya.


Contoh kasus Elon Musk

Sebagian besar orang mengenal Elon Musk. Sang miliarder nomor wahid. Tapi sebagian kecil yang pengalaman di pasar modal dan uang,  sepak terjang Elon Musk itu hanya disikapi dengan senyum aja. Berita media seperti sampah bagi mereka. Karena tahu, media massa hanya memberitakan seperti Elon Musk mau. Team kampanye Musk memang hebat membentuk persepsi market. Contoh sederhan saja Semua media massa mengumumkan bahwa Twitter sudah resmi diakuisisi oleh Elon Musk. Padahal itu baru LOI kepada otoritas bursa (SEC). Prosesnya masih panjang untuk sampai akuisisi. Setidaknya butuh waktu 6 bulan lagi.


Jadi siapa sih sebenarnya Elon Musk? Saya tidak akan menilai atas dasar suka tidak suka. Tetapi berdasarkan data fundamental Tesla saja. Elon Musk memulai bisnis sejak tahun 2002. Idenya sangat utopia. Yaitu mengubah peradaban umat manusia melalui produk-produknya, seperti mobil listrik , perjalanan ruang angkasa, dan sistem Hyperloop berkecepatan tinggi bawah tanah. Tetapi tahukah anda? sampai kini tidak ada satupun dia sukses. Satu satunya sukses dia adalah mempengaruhi orang percaya dengan mimpi dia. Dan orang membayar ilusi itu. Baik saya uraikan kegagalan dia.


Pertama. Sejak mobil listri diperkenalkan dan investor keluar uang untuk mimpinya. Dia selalu gagal berproduksi secara penuh sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Sehingga dikalangan trader di kenal “ deadduck”. Tahun 2017 dua eksekutif kuncinya mengundurkan diri. Pada bulan Maret 2017, seorang pengemudi Tesla tewas saat menguji coba Model X autopiloted, dampaknya menghancurkan setengah mobil. Kemudian pada bulan Mei, dua remaja tewas mengendarai  Tesla Model S karena baterainya terbakar setelah kecelakaan. 


Kecelakaan serupa merenggut seorang pengemudi dua bulan sebelumnya. Petugas pemadam kebakaran California melaporkan bahwa baterai Tesla terus menyala beberapa hari setelah kecelakaan itu. Kasusnya diselidiki oleh NTSB dan pengadilan sudah menghukum Tesla. Makanya, China sengaja undang Tesla berinvestasi,  bukan untuk transfer tekhnologi tetapi  sengaja mempermalukan AS bahwa Tesla hanya omong kosong. Tesla hanya bangun satu pabrik kecil di Shanghai, yang produksinya tidak lebih 2000 unit sebulan dan gagal masuk pasar China. Dari setengah juta unit penjualannya tidak pernah berhasil mencetak laba. Sementara marcab usd 800 miliar 


Kedua.  SpaceX - yang disebut-sebut Musk sebagai pengganti NASA dan menjajah Mars - telah gagal diluncurkan.  Begitu banyak roketnya yang terbakar atau jatuh sehingga Musk, untuk alasan yang tidak diketahui, membuat kesalahan besar. Dan investor masih aja percaya. Aneh.


Ketiga. Adapun Hyperloop itu, sebagian besar ahli mengatakan itu tidak mungkin dan terlalu bodoh untuk percaya. Apakah mungkin untuk membangun kereta Hyperloop di terowongan bawah tanah sepanjang 200 mil dengan waktu tempuh 29 menit untuk memindahkan orang atau barang.  Engga masuk akal. Tapi kadang aneh. Orang mau ambil resiko berinvestasi pada bisnis dengan konsep utopia.


Dengan tiga hal tersebut diatas, sudah jelas, membuat Elon Musk kehilangan alasan untuk terus menarik uang dari investor. Nah satu satunya jalan adalah memanfaatkan sentimen emosi pemakai Twitter yang jumlahnya ratusan juta diseluruh dunia lewat akuisisi dengan konsep “ kebebasan berbicara “. Konsep bisnis? exit plan? dari mana sumber dana ? gelap. 


Sebagai bahan pelajaran. Tahun 2018 pernah Elon Musk sesumbar lewat twit bahwa dia mau beli saham Tesla seharga $ 420 per saham. Kemudian Tesla akan dijadikan perusahaan tertutup. Akibat twitnya itu harga saham Tesla melambung. Nyatanya, dia memang tidak ada uang. SEC kenakan pasal penipuan kepada Elon Musk dengan denda sebesar USD 20 juta.


Di tengah upaya Elon Musk untuk akuisisi Twitter tanggal 27 april 2022, seorang hakim federal telah menolak permohonan Elon Musk untuk membatalkan kasus penipuan pada tahun 2018. Dengan ketegasan hakim ini berharap publik AS tidak lagi tertipu oleh rencana Elon Musk mau beli Tweeter. Tetapi Elon cuek aja. Mengapa ? di tengah gebyar berita tentang rencana beli Twitter itu, dia jual sahamnya di Tesla senilai USD 4 miliar. Dampaknya harga sahamnya jatuh 12%. Tujuannya tercapai dengan mudah. 


Kalau akhirnya Tesla bangkrut, maka akan menambah deretan skandal wallstreet seperti Enron, Lehman, Madoft dll. Pasti dampaknya sistemik. Mengapa ? korban terbesar adalah investor yang sebagian besar adalah dana pensiun dan yayasan amal. Jelas memaksa pemerintah AS bailout.


***


“ Gimana pendapat kamu soal akuisisi Twitter? Tanya saya kepada Yuni.


“ Ya, ini contoh dan fakta sederhana betapa rendahnya literasi publik tentang proses akuisisi. Orang hanya percaya apa kata media massa “ Elon Musk resmi beli Twitter”. Apalagi berita itu dari media sekelas CNBC. Selama beberapa hari berita mengulas tentang kehebatan elok dalam take over Twitter. Padahal proses untuk sampai closing itu tidak sederhana. 


“ Emang apa saja proses itu?


“ Uda ngetes yuni ya.”


“ Saya boss kamu. Jawab kalau saya tanya” Kata saya serius. Dia narik napas. “ Tadi aja barusan mesra, sekarang udah kencang lagi mukannya. Ya udah. Yuni jelasin.”


“ Apa ?


“ Pertama, LOI kepada perusahaan target. Mereka harus tahu alasan rasional mengapa berminat untuk akuisisi. Ingat, yang jadi target ini bukan perusahaan yang akan bangkrut atau gagal bayar utang. Ini perusahaan sehat. Biasanya mereka nilai apa dasar keputusan yang mau akuisisi itu. Apakah karena alasan sinergi dalam hal market atau tekhnologi atau alasan memperbaiki performance neraca, yang berujung peningkatan value.


Kalau alasan rasional itu tidak ada, pasti perusahaan target nolak. Kalau mereka setuju, belum tentu otoritas pengawas bursa setuju. Apalagi kedua belah pihak adalah perusahaan publik. Kalau alasan rasional ini bisa diterima. Masih perlu persetujuan pemegang saham pengendali. Ini juga tidak mudah. Apalagi pemegang saham pengendali investor kakap. Dia bisa kentuti LOI atau dicuekin aja. Kalau tender biding harus siap uang ditangan dan siap dibantai di bursa.


Kedua. Kalau LOI itu sudah diterima. Maka pihak perusahaan target ingin tahu kepastian dana dari pihak yang mau beli. Mereka ingin tahu darimana duitnya. Siapa lembaga yang mendukung. Kalau tidak pasti, ya mereka akan bilang sorry. Karena mereka tidak mau wasting time. Proses ini yang sangat kritis. Hal yang tersulit bagi pemain MA adalah menunjukan kesiapan uang sebelum dia dapatkan data lengkap dari perusahaan target. Nah ini sama saja dengan chicken and egg. Mana duluan tolar atau ayam. Makanya perlu shadow team dapatkan data itu.


Nah kalau sudah bisa buktikan kesiapan dana, maka barulah perusahaan target setuju membuka bajunya. Silahkan due diligent. Itupun harus ada kesepakatan rahasia ( A non-disclosure agreement ). Tidak boleh bocorkan informasi kepada pihak yang tidak berhak. Pihak target juga minta jaminan atas kegagalan transaksi. Gagal ini bukan hanya soal uang, tetapi bisa juga karena bocornya informasi sebelum tahap negosiasi harga.


Ketiga. Due diligent atau bedah isi perut perusahaan target. Semua aspek di periksa secara detail. BIasanya empat aspek, tekhnologi, management, financial dan market. Atas dasar due diligent ini maka outputnya adalah Confidential Information Memorandum (CIM). Nah kalau sudah jadi CIM , pihak yang beli harus bicara dengan investment banker. Kalau valuasi tidak layak, ya tidak dapat dukungan investor eksternal. Artinya akuisisi harus dari kantong atau kas sendiri. Kalau engga ada duit ya cuci muka aja.


Tahap keempat, Negosiasi. Biasanya diawali dengan MOU, ( nota kepahaman.). Kemudian Head of agreement ( Pokok pokok kesepakatan). Pada tahap HoA ini, uang sudah confirmed dan pihak target sudah serahkan semua documen persetujuan dari pemegang saham, direksi dan pemerintah. Berikutnya, barulah purchase agrement ( akad jual beli). Tahap akhirnya adalah financial closing. Perjanjian pembelian perusahaan sudah dibayar lunas. Begitu kan. Benar ya” Kata Yuni. Saya mengangguk.


“ Terus lanjut “ kata saya.


“ Soal Elon Musk itu, dia baru sebatas LOI, dan itu belum ada keputusan dari twiter untuk setuju atau tidak jual. Masih dianalisa dan dipelajari LOI itu. Ditanya uang ada engga? jawabnya berubah ubah terus dan tidak jelas. Tentu engga bisa masuk ke tahap berikutnya. Ya pasti belum ada CIM yang diajukan kepada invetment banker. Tapi dia sudah bicara depan umum bahwa sudah dapat dukungan dari investment banker untuk membiayai akuisisi itu. Bagi pemain MA, omongan itu sampah. Media massa yang memberitakan juga sampah.


Kalau alasan Elon bahwa twiter tidak mau membuka data bot dan spam, ya itu bukan artinya Twiter menolak. Karena memang proses akuisisi belum sampai pada tahap due diligent. Lah duitnya aja belum jelas” Kata Yuni tersenyum. “ Gimana uda, benar ya”


“ ya benar. Untuk ukuran anak SMA sudah benar. Pintar kamu