Friday, September 2, 2011

Berhutang yang tak bisa ditagih dan paksa bayar bunga?



Lunar New Year tahun 2011, CEO anak perusahaan di Zuhai mengundang saya untuk makan malam bersama seluruh staff.  Acara itu diadakan di hotel bintang V.  Semua tamu yang datang dari Hong Kong diberi kamar hotel untuk menginap satu malam.  Saya datang bersama Tom, teman dari New York yang kebetulan saya undang untuk membicarakan keterlibatannya dalam investasi di anak perusahaan.  Acara itu memang cukup meriah karena bukan hanya acara makan malam tapi juga dilengkapi acara panggung kesenian yang dibawakan oleh para staff perusahaan. Ada lomba karaoke, juga lomba tari, dan lain sebagainya. Saya menyaksikan acara pergantian tahun ala china ini merasa kedekatan antara pimpinan dan staff beserta karyawan. Di tengah kesulitan ekonomi akibat krisis global, mereka masih bisa tersenyum dalam kebersamaan dan tentu mereka yakin akan sebuah hope bahwa di masa depan semua akan baik baik saja. 

Kemudian, acara itu diselingi para pimpinan membagikan amplop warna merah yang di dalamnya ada terselip uang. Ini sebagai ujud kasih sayang dan berharap berkah akan datang berlipatganda. Begitu keyakinan orang china.   Saya menyaksikan acara itu sampai selesai. Tom, sempat berbisik kepada saya bahwa mereka saling membagikan uang tapi seperti becanda. Tentu  jumlah uang itu bukan ukuran tapi ujud kepedulian, itu yang penting. Bagaimanakah perasaan terdalam ketika anda memberi dan menerima, itulah yang ingin diungkapkan dari budaya berbagi ini. Kata saya. Tom hanya menggelengkan kepala. Dia tidak melihat itu sebagai ujud kasih sayang yang tulus. Itu hanya culture yang no meaning. Katanya. 

Saya tetap berkeyakinan bahwa memberi adalah sesuatu yang sangat bermakna. Kami tak ingin berdebat soal ini. Setelah menjelang dini hari , acara bubar. Para undangan semua pulang dan kami kembali kekamar hotel. Pagi pagi saya bertemu, Chang, CEO anak perusahaan saat breakfast dan Tom. Tom kembali penasaran tentang makna berbagi itu. Bagaimana bisa kita rasakan maknanya. Kembali saya tegaskan bahwa tak perlu dipermasalahkan seperti apa makna itu. Kalau ingin memberi , maka memberilah. Jadikanlah itu kebiasaan. Kelak akan dirasakan maknanya; prilaku kita akan berubah, hati kita akan melembut, sikap empati akan terbangun dengan sendirinya. Bila sudah begitu maka jiwa kita sehat, tentu badan akan terhindar dari segala penyakit. Yakinlah. Tapi Tom itu terdiam dan akhirnya menggeleng gelengkan kepala. Dia tetap tidak paham.

Karena ada satu hal yang harus dibicarakan serius antara saya, Chang, dan Tom,  maka kami memilih bicara di kamar. Sebetulnya dari dua bulan lalu anak perusahaan di bawah holding yang listed di bursa Hangseng sedang berencana melepas perpetual bond. Pilihan menerbitkan perpetual bond karena tidak menggangu rasio utang perusahaan. Mengapa ?  Walau sifatnya bond namun secara hukum ia juga sama dengan equity atau saham. Namun keberadaan perpetual bond tidak sampai membuat pemegang saham delutif. Di samping itu, bond holder dapat hak istimewa mendapat bayaran kupon lebih dulu sebelum deviden dibagi. Pembayaran kupon masuk sebagai biaya operasional. Walau kupon dibayar setelah laba perusahaan dipotong pajak. Jadi sama dengan deviden. Artinya, secara akuntasi tidak akan mempengaruhi kinerja perusahaan walau harus bayar kupon. Andai perusahaan mengalami kesulitan likuiditas membayar kupon maka dapat ditangguhkan. Itu tidak dianggap default. Namun tetap kupon dihitung sebagai outstanding dan komulatif.

“ Berapa lama call option Perpetual bond itu ? tanya Tom.

“ 10 tahun.”

“ Saya sudah baca propektusnya. Market secure dan growth bagus. Kamu sebaiknya masuk dalam limited offer. Saya akan atur beberapa investor ikut penawaran. Tenang saja. “ Kata Tom.  Chang nampak senang. Karena strategi ini sangat efektif meningkatkan kinerja perusahaan tanpa menekan DER yang sudah mencapai ambang batas. Dan tentu akan meningkatkan value perusahaan bila laba meningkat. Sehingga memudahkan perusahaan melakukan leverage untuk ekspansi. 

Ketika kami sedang asyik berbicara, petugas cleaning service masuk untuk membersihkan ruangan. Chang mempersilahkan. Kami melanjutkan pembicaraan. Setelah usai membersihkan ruangan itu, petugas cleaning service minta permisi untuk pergi.  Chang memberi tip kepada petugas cleaning sevice itu sebesar RMB 1000 ( Rp. 1.600,000). Petugas itu seorang wanita, yang mungkin usianya tak lebih 30 tahun.  Tangannya gemetar ketika menerima  uang itu. Saya segera mengucapkan gong xi pa chai Wanita itu menjawabnya dengan air mata berlinang, dan akhirnya air mata berurai jatuh dipipinya. Mukanya memerah.  Berkali kali dia mengatakan terimakasih. Kami semua mengangguk. Wanita itu  keluar ruangan tanpa membalikan punggung. Dia berjalan mundur tanpa henti memandang kami dengan air mata berlinang..

Peristiwa yang walau hanya tiga menit itu, disaksikan oleh kami semua. Tom terharu. Menurutnya ini baru kali dia menyaksikan dan merasakan betapa dalamnya makna memberi. Menurutnya lagi, air mata tidak mudah jatuh berurai. Kalaulah tanpa dorongan hati tak mungkin airmata berurai. Wanita itu mungkin selama hidupnya tidak pernah mendapatkan gratis kecuali dari orang tuanya. Maklum system kehidupan di china memang dirancang memaksa orang untuk berbuat agar bisa makan. Tak ada yang gratis. Demikian penjelasan dari Chang. Ya, budaya lunar new Year memang di dalamnya ada tradisi berbagi.   Dalam keseharian, budaya itu telah bertransformasi dari donasi ke tersedianya industri , perdagangan, jasa, yang massive, yang membuat kesempatan kerja dan peluang bagi ratusan juta rakyat.  Berbagi secara terhormat, tentunya. Yang punya modal, tenaga, dapat bersinergi, suatu perbaduan antara kapitalisme dan sosialisme yang indah.

No comments: