Tuesday, September 28, 2010

Bisnis berorientasi pasar.




Setelah lunch meeting saya pergi sholat Ashar di Plaza Indonesia. Seusai sholat Ashar dapat telp dari Direksi saya . “ Bisa ketemu engga” Katanya. Saya menyanggupi bertemu. Kami janjian di cafe di Grand hyatt. Karena kebetulan saya ada janji dengan Pejabat Pemda jam 6 sore.

“ Kenapa belum juga dilakukan akuisisi perusahaan itu. Ini udah hampir 2 tahun. Mereka terus menagih janji. “Kata Yuni.
Saya diam saja. Namun saya serius menatapnya. 
“ Padahal kalau kita bisa bangun pelabuhan ikan di lokasi itu, luar bisa masa depannya. “
Saya diam saja.
“ Uda, please. Ini soal reputasi.”
Ketika dia bicara reputasi. Saya terpanggil untuk menjelaskan sikap saya” Dengar ya. Kita engga bisnis pelabuhan. Pelabuhan itu hanya pendukung saja. Bisnis kita sebenarnya berkaitan dengan  fasilitas supply chain bagi industri perikanan. Untuk itu kita bangun kawasan industri pegolahan perikanan. Nah mitra kita di luar negeri yang punya network untuk relokasi industri pegolahan perikanan sampai hari ini belum mau ambil komitmen. Seharusnya kamu lebih ulet bujuk mereka agar mau ambil komitmen.”
“ Mereka akan ambil komitmen kalau kita sudah mulai membangun” Kata Yuni berargumen.
“ Saya engga bisa dikondisikan. Saya paham sekali. Mereka butuh sumber daya ikan. Mereka harus ikut kondisi kita. Karena negara kita punya SDA perikanan. Dan lagi semua investasi infrastruktur kita yang keluar. Jadi, pastikan kamu bekerja lebih keras untuk dapatkan kotrak dengan mitra kita di luar negeri. Paham? ? 
“ Ya uda. “ Katanya dengan wajah masam. 
Relasi saya sudah datang. 
“ Uda, Yuni pulang? 
“ Ya pulang aja.”Kata saya. Tetapi Yuni bukannya pulang malah pindah ke table lain. Wajahnya masih masam.

Setelah selesai meeting dengan relasi bisnis. Yuni kembali ke table saya. 
" Kenapa engga pulang?
" Udah hampir setahun kita engga ketemu. Pas ketemu 5 menit suruh pulang. Tega amat sih uda." 
Saya tersenyum. “ Ya udah.  Kita minum wine ya. “ kata sayas sekedar membuat wajah dia engga lagi masan.  Benar. Dia tersenyum cerah. Tetapi saya gunakan kesempatan ini untuk memotivasi Yuni. “ Yun, sejak awal aku terjun berbisnis, berawal dari adanya motif dagang. Pada usia muda aku punya pabrik corrugated  box. Itu karena temanku pengusaha korea yang punya pabrik garmen dia minta tolong dapatkan rekanan untuk suplay kemasan karton. Karena itulah aku dirikan pabrik kemasan karton. Aku dirikan pabrik amplas, karena permintaan amplas yang tinggi akibat pesatnya industri olahan rotan tahun 80an. Itupun kalau sampai pabrik amplas berdiri lebih karena ada permintaan besar dari teman yang punya pabrik rotan. Tetapi usaha itu semua berkembang dan akhirnya mudah jatuh. Apa pasal? Ternyata aku memang berbakat dagang. Tetapi aku tidak menguasai business process yang butuh skill management.

Dari banyak kegagalan itu aku belajar tentang business process. Bahwa kalau aku ingin berkembang karena mental dagang, maka aku juga harus punya skill management. Ternyata skill management itu adalah seni mendelegasikan pekerjaan kepada orang yang tepat sesuai visi kita sebagai pedagang. Barulah tahun 2003 atau usia 40 tahun, aku terapkan skill management dalam bisnis. Yaitu keberanian mendelegasikan bisnis proses kepada orang yang tepat. Tentu harus aku pastikan dia juga punya mental dagang. Karenanya aku memberikan bonus dan gaji sesuai prestasi dia. Dengan begitu mental dagangnya bangkit. Kalau dia setia, karena aku berlaku adil dalam deal dengan dia dan tentu bisa merebut hatinya.” Kataku. 

“ Nah itu pasti ketika Uda tunjuk Yuni kelola bisnis ya kan. Aku ingat tahunnya. Karena pada awalnya semua bisnis yang Yuni jalankan, memang marketnya udah terjamin. Yuni tinggal jalankan bisnis proses aja. “ Kata Yuni tersenyum.

“ Ya. Selanjutnya ketika aku hijrah ke China, prinsip dagang dan penguasaan bisnis proses itu tetap sebagai prioritas dalam membuat keputusan. Lima tahun pertama bisnis di China, aku bisa dirikan pabrik garmen, kertas, electronik, itu berawal dari penguasaan pasar terlebih dahulu. Aku sudah punya kontrak penjualan dalam jangka panjang. Jadi kalau pabrik berdiri dan orang bekerja, itulah bagian dari bisnis proses. Dan aku tahu siapa yang pantas aku delegasikan. Mereka aku tempatkan sebagai proxy.”

“ Itu pasti James, Wenny, kan “ Kata Yuni tersenyum. “ Mereka jadi proxy sama seperti Yuni” Sambungnya.

“ Ketika masuk ke dalam bisnis hedge fund. Kalau aku terlibat dalam aksi akuisisi , take over bisnis,  berbagai bidang bisis. Dari infrastruktur, mining, jasa keuangan, perkebunan, kawasan industri, perhotelan, manufaktur, industri.  Itu semua karena alasan dagang. Market atas produk bisnis itu sudah aku kuasai terlebih dahulu. Itu bisa karena adanya off taker market atau bisa juga karena adanya strategic partner yang kuasai tekhnologi sehingga bisa menghasilan produk yang murah dan berkualitas tentu pasti bisa unggul dalam persaingan merebut pasar.” 

“ Ya Yuni tahu. Walau holding banyak anak perusahaan. Tetapi sebetulnya anak perusahaan itu terdiri dari para proxy. Para direksi itu Uda  sendiri yang pilih. Makanya udah engga pernah kawatir.” 

“ Nah karena bisnis berorientasi kepada pasar dan penguasaan pasar maka cashflow sebagai darah dalam bisnis terus mengalir lancar. Walau cash out besar namun ada kepastian cash in lebih besar. Sehingga berapapun utang digali tidak akan menimbulkan masalah. Apapun goncangan krisis,  selalu selamat walau jalan bersilambat. Karena mindset pedagang. Aku tidak melihat bisnis itu sesuatu yang rumit ditengah kehidupan yang menjanjikan kemewahan Bagiku itu hanya dagang. Biasa saja. Kalau untungl engga dipakai berfoya foya. Tetapi ya ditabung dan dikembangkan agar kalau rugi tidak harus jatuh bangkrut. Prinsip dagang memang begitu. Kalau ingin untung harus siap rugi dan berubah menjadi lebih baik karena itu. “ Kata saya.

“ Tentu menguasai pasar secara captive karena faktor konsesi atau tekhnologi itu memerlukan jaringan bisnis yang luas. Itu yang tidak mudah. Itu yang tidak dimiliki oleh para proxy. Makanya mereka loyal. Apalagi dari skill bisnis proses itu mereka dapat gaji besar dan bonus gede“ kata Yuni menyimpulkan.

“ Bukan hanya karena gaji dan bonus mereka loyal" Kata saya tersenyum.

" Ya tentu ada tambahan. Uda pinter banget mempermaikan emosi kita dan akhirnya kita termotivasi untuk bekerja keras dan memberikan prestasi terbaik. Tetapi bukan hanya kepada proxy. Kepada relasi Uda juga begitu. "

" Membangun jaringan bisnis itu kunci sukses sebagai pengusaha. Tentu harus memperkaya pengetahuan agar bisa bergaul dengan semua level. Harus melunakan hati agar bisa merebut hati orang. Harus jadi pendengar yang baik agar bisa menguasai masalah. Harus mau investasi kepada mereka. Dan  karena itu memaksa kita harus  terus memperbaiki attitude agar semua sumberdaya bisa di akses dan peluang tidak lagi dicari tetapi datang dengan sendirinya. Karena pada akhirnya orang baik akan bertemu orang baik. “

“ Dan karena itu Uda selalu konsisten. Keputusan bisnis diambail apabila proyek sudah secure marketnya. Bisa sabar sampai 2 tahun untuk akuisisi sampai ada kepastian mitra kita mau commit relokasi industri perikanannya ke kawasan yang akan kita bangun” 

“ Ingat! Selagi market secure, apapun bisnis, makan!. Engga usah kawatir. Berapapun investasi, kita siap cash out. Karena itu akan mendatangkan cash in.” Kata saya.  Yuni mengangguk tanda setuju. Dia terdiam  barang sejenak. Dia tatap saya sejurus.  “ Yuni pernah buat kesalah besar. Sehingga uda rugi besar. Tetapi kenapa uda engga marah dan mengeluh. Bahkan sampai sekarang uda engga pernah ungkit kesalahan itu. Padahal yuni sering bikin kesel uda” Katanya.

“ Ketika rugi datang. Aku harus bersikap positip agar kamu juga bermental positif. Makanya aku cepat sekali menghidari orang yang selalu mengeluh dan pandai membicarakan kekurangan orang lain.”

“ Mengapa? 

“ Karena ibarat barang dagangan, dia sudah expired.  Engga mungkin dia bisa berkembang dalam lingkungan bisnis kalau mudah mengeluh. Dan kehebatan kamu, dalam sulit apapun, kamu tidak pernah mengeluh. Dan setiap tahun target laba tercapai.” 

“ Dasar pedagang “ Kata Yuni ketus.

“ Pada hakikatnya dalam diri manusia itu ada bakat pedagang. Ya menjual sesuatu. Sesuatu itu bisa apa saja. Peradaban berubah karena mental dagang itu. Orang Eropa berlayar jauh ke Nusantara ini karena motif dagang. Kalau terjadi penjajahan, itu karena bagian dari seni dagang saja. Perang dan damai, juga karena dagang. Terjadinya perkawinan dan cerai karena bagian dari proses dagang juga. Wanita suka dinikahi pria karena pertimbangan dagang. Kalau ada cinta disertakan, itu hanya micin penyedap rasa. Politik jadi menarik, karena para politisi punya mental dagang.  UU tercipta dari proses transaksional anggota dewan, yang tentu motif dagang. Bahkan dalam profesi yang mulia seperti pendeta atau ustadz, juga berkembang karena dagang. Begitulah. Silahkan kembangkan sendiri dan renungkan. Tapi jujurlah menilai diri kita sendiri. Benarkah yang saya katakan itu.? Kata saya. Yuni terdiam.

“ Ya udah. Kamu pulang aja. “ Kata saya mengakhiri pembicaraan. Karena udah cukup.

“ Engga. Yuni pulang kalau Uda juga pulang” Katanya tegas.

“ Bayar bill dan kita pulang bareng “ Kata saya. 
" Yuni awal bulan depan ke China. Pastikan dapat kontrak. Yakin bisa kok." Katanya waktu kami menuju loby hotel.
" Ya saya yakin kamu bisa. "
" Kenapa uda engga tanya gimana caranya Yuni bisa yakinkan mereka?
" Engga penting saya tahu. "
" Segitunya ya. "

No comments: