Sunday, June 7, 2026

Senja kala bisnis di Indonesia..

 



Sore itu saya bertemu Herman dan David di sebuah private room kecil di Jakarta.  Herman datang lebih dulu. Wajahnya terlihat muram. Ia meletakkan iPad di meja, lalu membuka grafik saham beberapa emiten CPO yang listing di Singapura. Hampir semua merah.


“Lihat ini,” katanya. “Saham CPO yang listing di Singapore rontok. Investor asing mulai keluar.”

Saya melirik layar.

“Wajar,” kata saya.

“Wajar bagaimana? Perusahaan itu punya kebun, punya pabrik, punya ekspor.”

“Justru karena ekspornya yang jadi masalah,” jawab saya. “Kalau aturan ekspor berubah dan DSI memonopoli pintu keluar, market langsung membaca risiko. Bukan hanya risiko harga, tetapi risiko kontrol. Investor paling takut kalau revenue perusahaan tidak lagi ditentukan oleh pasar, tetapi oleh meja birokrasi.”


Tak lama kemudian David masuk. Ia pemilik jaringan bisnis ritel dan juga punya relasi dekat dengan industri pakan ternak. Wajahnya seperti orang yang baru pulang dari rapat buruk.

“Maaf terlambat,” katanya. “Tadi meeting dengan beberapa supplier. Semua mulai defensif.” Ia duduk, lalu mengambil air putih.


Herman menunjuk layar. “Kamu lihat saham CPO?”


David mengangguk. “Sudah. Fund di Singapore mulai mark down exposure. Mereka bilang kalau ekspor harus lewat satu pintu, pricing power perusahaan turun. Risiko working capital naik. Cash flow jadi tidak predictable.”


Saya tersenyum tipis. “Pasar itu tidak butuh marah. Cukup ragu, harga langsung jatuh.”

Herman menatap saya. “Tapi maksud pemerintah kan ingin menertibkan ekspor, supaya tidak bocor.”

“Niatan bisa baik,” jawab saya. “Tapi pasar tidak membeli niat. Pasar membeli mekanisme. Kalau mekanismenya membuat transaksi lambat, biaya naik, pembayaran tertahan, dokumen tergantung pihak ketiga, dan eksportir kehilangan kebebasan kontrak, maka investor akan menghukum.”


David mengangguk. “Betul. Di lapangan, masalahnya bukan slogan. Masalahnya eksekusi. Buyer luar negeri tidak mau menunggu drama domestik. Kalau Indonesia ribet, mereka pindah ke Malaysia, Thailand, Afrika, atau Amerika Latin. Supply chain global tidak punya kewajiban sabar kepada kita.”


Herman menggeser layar. “Outlet modern juga mulai ekspansi ke luar negeri. Kenapa mereka tidak fokus di dalam negeri?”

David tertawa pendek. “Karena di dalam negeri margin makin tidak pasti. Regulasi berubah cepat. Biaya logistik naik. Daya beli tidak merata. Kalau mereka punya cash, brand, dan sistem distribusi, lebih masuk akal buka kaki di luar. Vietnam, Filipina, Malaysia, bahkan Timur Tengah. Di sana mereka bisa diversify risk.”


“Jadi mereka lari?” tanya Herman.


“Bukan lari,” jawab saya. “Mereka hedge. Pengusaha besar tidak selalu menentang negara. Tapi mereka tidak mau seluruh nasibnya digantung pada kebijakan yang berubah-ubah. Kalau aturan domestik makin tidak predictable, mereka pindahkan ekspansi ke tempat yang lebih bisa dihitung.”


David menambahkan, “Di board meeting bahasanya halus: regional expansion. Tapi substansinya risk diversification.”


Herman terdiam. Ia lalu membuka catatan lain. “Pabrik pakan ternak juga mulai gelisah. Mereka bilang bahan baku makin mahal karena impor jagung dan bongkil kedelai lewat PT Berdikari.”


David langsung menarik napas panjang. “Nah, itu yang paling bikin mereka marah.”

Saya menoleh kepadanya. “Ceritakan.”


David meletakkan gelasnya. “Pabrik pakan itu hidup dari kepastian bahan baku. Mereka punya PPC, planning production control. Jagung, soybean meal, vitamin premix, tepung ikan, semua harus masuk tepat waktu. Kalau bahan baku telat, line produksi berhenti. Kalau harga bahan baku naik, margin hancur. Kalau impor dikendalikan satu pihak, pabrik kehilangan fleksibilitas.”


Herman bertanya, “Tapi kalau BUMN yang impor, bukankah harusnya lebih tertib?”


David tersenyum sinis. “Tertib di atas kertas. Di lapangan, importir lama tetap bekerja. Kapal, dokumen, supplier, surveyor, broker, semua tetap orang yang sama. Bedanya sekarang ada pintu tambahan yang harus dilewati. Dan setiap pintu tambahan berarti waktu, biaya, dan risiko.”


Saya menyambung, “Dalam industri pakan, keterlambatan bukan sekadar administratif. Itu bisa menghentikan produksi. Kalau jagung dan bungkil kedelai mahal, harga pakan naik. Kalau pakan naik, peternak ayam dan telur tertekan. Kalau peternak tertekan, harga pangan rakyat naik. Jadi ini bukan soal satu pabrik. Ini soal rantai pangan.”


David mengangguk. “Beberapa teman saya mulai hitung ulang. Mereka bilang, kalau bahan baku terus mahal dan tidak pasti, lebih baik shutdown pabrik sementara. Mending impor pakan jadi. Risiko produksi hilang. Tenaga kerja dikurangi. Working capital ditekan.”


Herman terkejut. “Shutdown? Mereka tidak rugi?”


Saya tertawa pelan. “Herman, kamu masih melihat pengusaha seperti pemilik warung. Kalau warung tutup, pemiliknya langsung rugi. Konglomerat tidak begitu. Mereka sudah lama exit lewat struktur utang.”


Herman menatap saya. “Maksudnya?”


“Begini,” kata saya. “Banyak pabrik besar itu dibangun dengan kredit bank. Terutama bank BUMN. Selama ekspansi, mereka ambil utang. Aset pabrik diagunkan. Working capital dibiayai bank. Mereka sudah menarik value lewat proyek, kontraktor terafiliasi, fee distribusi, trading margin, dividen lama, management fee, dan transaksi antarperusahaan. Ketika keadaan tidak menarik lagi, mereka bisa berhenti ekspansi, kurangi produksi, bahkan shutdown. Yang pertama tekor bukan mereka. Yang pertama panik adalah bank.”


David tersenyum pahit. “Karena cash flow berhenti.”


“Ya,” jawab saya. “Kalau pabrik berhenti, revenue turun. Kalau revenue turun, debt service terganggu. Kalau debt service terganggu, bank harus restrukturisasi. Kalau kredit macet, bank yang menanggung NPL. Kalau banknya BUMN, pada akhirnya risiko itu kembali ke negara.”


Herman menggeleng. “Jadi pengusahanya aman?”


“Tidak selalu aman. Tapi mereka punya pilihan lebih banyak daripada buruh, supplier kecil, dan bank. Mereka bisa pindahkan ekspansi ke luar negeri. Bisa impor barang jadi. Bisa jual aset. Bisa restrukturisasi. Bisa minta haircut. Bisa jadikan masalahnya sebagai isu sistemik. Kalau bank merasa eksposurnya terlalu besar untuk dibiarkan gagal, bank akan ikut mencari jalan selamat.”


David berkata, “Too big to fail versi lokal.”


“Betul,” kata saya. “Bedanya, waktu untung disebut keberhasilan swasta. Waktu rugi disebut masalah nasional.”


Ruangan hening sebentar.


Herman memandang grafik saham CPO lagi. “Jadi efeknya berantai?”


“Sangat berantai,” jawab saya. “CPO kena karena ekspor dikontrol. Sahamnya jatuh karena investor takut cash flow terganggu. Ritel modern ekspansi ke luar karena mencari yurisdiksi yang lebih predictable. Pabrik pakan berpikir shutdown karena bahan baku mahal dan tidak pasti. Peternak kena karena pakan naik. Konsumen kena karena harga pangan naik. Bank kena karena kredit korporasi terganggu. APBN kena kalau bank BUMN perlu dukungan atau ekonomi melambat.”


David menambahkan, “Dan investor melihat semua itu sebagai satu hal: policy risk.”


Saya mengangguk. “Benar. Ini bukan sekadar isu CPO, jagung, atau pakan. Ini soal kepastian kebijakan. Kalau negara ingin mengontrol rantai pasok, harus punya kapasitas eksekusi. Kalau tidak, kontrol berubah menjadi bottleneck.”


Herman bertanya, “Tapi pemerintah merasa sedang menertibkan oligarki.”


“Menertibkan oligarki itu harus lewat hukum, data, audit, pajak, dan persaingan sehat,” jawab saya. “Bukan dengan membuat simpul baru yang justru menambah rente. Kalau pintu ekspor dimonopoli, kalau impor bahan baku dikunci, kalau izin jadi alat tawar, maka oligarki lama tidak hilang. Dia hanya pindah meja.”


David menatap saya. “Dan yang kecil tetap mati duluan.”


“Selalu,” jawab saya. “Dalam setiap aturan yang tidak efisien, pemain besar masih bisa bertahan. Mereka punya bank, lawyer, koneksi, holding luar negeri, dan cadangan cash. Yang kecil tidak punya. Supplier kecil, peternak, buruh, transporter, distributor kecil—mereka yang pertama kehabisan napas.”


Herman menghela napas. “Jadi kalau para bos berhenti ekspansi dan malas produksi, yang rugi negara?”


“Negara, bank, pekerja, supplier, dan konsumen,” jawab saya. “Boss besar rugi juga, tapi tidak eksistensial. Mereka sudah mengambil posisi sebelum badai. Mereka tidak perlu marah. Mereka cukup berhenti. Dalam ekonomi, kadang mogok paling mahal bukan buruh mogok kerja, tapi konglomerat mogok ekspansi.”


David tertawa getir. “Mogok investasi.”


“Ya,” kata saya. “Mereka tidak perlu demo. Tidak perlu bikin pernyataan politik. Mereka cukup tahan capex. Tahan produksi. Tahan pembelian bahan baku. Alihkan ekspansi ke luar negeri. Impor barang jadi. Simpan cash di valas. Lalu ekonomi domestik melambat sendiri.”


Herman memandang keluar jendela. Hujan mulai turun lagi.


“Lalu apa yang seharusnya dilakukan?”


“Kalau ingin kontrol SDA, bangun sistem yang lebih efisien daripada pasar lama,” jawab saya. “Bukan sekadar mengambil alih pintu. Pemerintah harus memastikan dokumen cepat, pricing transparan, pembiayaan jelas, logistik lancar, dispute mechanism kuat, dan tidak ada rente baru. Kalau tidak, pasar akan membaca kontrol sebagai risiko.”


David menambahkan, “Dan untuk bahan baku pangan, jangan main-main dengan timing. Pabrik pakan tidak bisa menunggu rapat direksi. Ayam makan setiap hari. Mesin produksi punya jadwal. Kapal punya demurrage. Gudang punya batas stok. Kalau bahan baku terlambat, kerugian langsung jalan.”


Saya mengangguk. “Ekonomi riil tidak hidup dari pidato. Ia hidup dari barang yang datang tepat waktu, harga yang masuk akal, dan uang yang berputar lancar.”


Herman menutup iPad-nya. “Jadi saham CPO rontok itu hanya gejala?”


“Ya. Gejala dari sesuatu yang lebih dalam: pasar mulai menghitung ulang risiko Indonesia. Kalau policy risk naik, valuasi turun. Kalau valuasi turun, cost of capital naik. Kalau cost of capital naik, ekspansi berhenti. Kalau ekspansi berhenti, ekonomi melambat. Kalau ekonomi melambat, pajak turun. Kalau pajak turun, APBN makin berat.”


David berkata pelan, “Dan bank BUMN menunggu tagihan datang.”


Saya tersenyum tipis. “Bank selalu tampak kuat sampai debiturnya berhenti percaya pada masa depan.”


Herman menatap saya. “Kesimpulannya?”


Saya mengambil gelas teh yang sudah dingin. “Kalau negara ingin mengatur pasar, ia harus lebih disiplin daripada pasar. Kalau negara hanya menambah pintu, menambah izin, menambah ketidakpastian, maka pengusaha tidak perlu melawan. Mereka cukup berhenti bergerak.”


Saya berhenti sebentar. “Dan ketika orang yang menguasai produksi berhenti bergerak, yang runtuh bukan hanya harga saham. Yang runtuh adalah denyut ekonomi di bawahnya.”


David mengangguk. “Pabrik tutup, buruh pulang, supplier menunggu pembayaran, bank minta restrukturisasi, dan pemerintah baru sadar bahwa produksi jauh lebih sulit daripada membuat aturan.”


Saya menatap mereka berdua dan berkata pelan, “Dalam ekonomi, negara boleh menguasai pintu. Tapi kalau pintu itu membuat orang malas masuk dan malas keluar, jangan heran kalau rumahnya perlahan kosong.”


Waiting for Godot.

 


Di sebuah ruang rapat yang terlalu dingin, pemerintah menunggu. Di atas meja panjang ada grafik Rupiah, yield SBN, cadangan devisa, IHSG, dan daftar rencana besar untuk mendatangkan pasokan dolar. Semua orang melihat layar. Semua orang berharap ada satu kabar yang bisa mengubah warna merah menjadi hijau.


“Tenang,” kata seorang pejabat. “Sebentar lagi dolar masuk.”

“Dari mana?” tanya yang lain.

“Dari investor strategis.”

“Investor yang mana?”

“Yang sedang dijajaki.”

“Sudah komitmen?”

“Belum. Tapi sinyalnya positif.”


Lalu ruangan kembali hening.


Di luar, pasar bergerak. Rupiah melemah. Yield SBN naik. Saham jatuh. Tetapi di dalam ruangan, mereka tetap menunggu. Menunggu investor besar. Menunggu pinjaman murah. Menunggu global bond diserap sempurna. Menunggu Panda Bond sukses. Menunggu DHE masuk. Menunggu ekspor melonjak. Menunggu harga komoditas naik. Menunggu kabar baik dari luar negeri.


Mereka seperti Vladimir dan Estragon dalam drama Waiting for Godot. Berdiri di pinggir jalan, menunggu seseorang yang katanya akan datang, tetapi tidak pernah benar-benar tiba. Bedanya, yang mereka tunggu bukan Godot. Yang mereka tunggu adalah dolar.


Seorang staf muda masuk membawa laporan.

“Pak, Rupiah kembali tertekan.”

“Karena apa?”

“Pasar minta yield lebih tinggi.”

“Jangan biarkan yield naik,” kata pejabat itu cepat. “Kalau yield naik, beban bunga APBN membesar.”

“Benar, Pak. Tapi kalau yield tidak naik, investor keluar.”

“Kalau investor keluar?”

“Rupiah melemah.”

“Kalau Rupiah melemah?”

“Investor minta yield lebih tinggi lagi.”

Pejabat itu terdiam.


Di layar, grafik Rupiah seperti garis demam. Yield SBN mulai bergerak naik, perlahan tetapi pasti. Pasar tidak berteriak. Pasar hanya menekan tombol jual.


“Bagaimana kalau kita tahan yield?” tanya pejabat lain.

“Bisa sebentar,” jawab staf muda itu. “Tapi kalau kurs terus melemah, pasar tidak percaya. Mereka akan berkata: yield ini terlalu rendah untuk risiko sebesar ini.”

“Bagaimana kalau kita intervensi Rupiah?”

“Bisa sebentar juga. Tapi cadangan devisa bukan sumur tanpa dasar.”

“Bagaimana kalau kita tunggu dana besar masuk?”


Staf muda itu diam.


“Dari mana?” tanyanya pelan.


Ruangan hening lagi.


Di pasar, trader tidak menunggu pidato. Mereka menunggu titik paksa. Mereka tahu pemerintah takut yield naik karena yield adalah biaya masa depan APBN. Kalau yield SBN naik, bunga utang baru ikut naik. Refinancing menjadi mahal. Ruang fiskal menyempit. Belanja produktif terdesak oleh pembayaran bunga. Kalau yield tinggi terus, dana domestik tersedot ke surat utang negara. Kredit ke sektor swasta menjadi mahal. Terjadi crowding out. Pemerintah mengambil oksigen dari pasar, sementara sektor riil mulai sesak napas.


Tetapi trader juga tahu sisi lainnya. Kalau yield ditahan terlalu rendah, sementara Rupiah melemah, investor merasa tidak dibayar cukup untuk menanggung risiko kurs. Mereka keluar dari SBN. Mereka jual saham. Mereka beli dolar. Rupiah makin tertekan. Saham makin jatuh. Yield yang ditahan akhirnya kehilangan makna.


Itulah dilema yang tidak bisa diselesaikan dengan harapan. Yield rendah ingin menyelamatkan APBN.
Yield tinggi ingin menyelamatkan Rupiah.
Saham butuh likuiditas.
Kurs butuh kepercayaan.
Pasar butuh harga yang jujur. Pemerintah ingin semuanya sekaligus: yield rendah, Rupiah kuat, IHSG naik, belanja tetap besar, utang tetap murah, dan investor tetap percaya. Pasar menjawab: tidak bisa.


Setiap hari, pejabat datang ke ruang rapat itu.

“Apakah dolar besar sudah masuk?”

“Belum.”

“Apakah investor strategis sudah komit?”

“Masih due diligence.”

“Apakah ekspor bisa membawa devisa besar?”

“Bisa, tapi butuh waktu.”

“Apakah DHE bisa dipaksa masuk?”

“Bisa diatur, tapi tidak semua devisa bebas. Banyak sudah terikat kontrak, offtake, prepayment, escrow, dan kewajiban offshore.”

“Apakah China bisa membantu?”

“Mungkin. Tapi tetap menghitung risiko.”

“Apakah pasar akan tenang?”

“Kalau percaya.”

“Bagaimana membuat pasar percaya?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena jawabannya tidak menyenangkan.


Pasar tidak percaya karena menunggu kata-kata. Pasar percaya karena melihat tindakan. Dan tindakan yang dibutuhkan justru tindakan yang paling tidak disukai politik: mengurangi belanja non-produktif, menahan ekspansi fiskal yang tidak menghasilkan penerimaan, memperbaiki tax ratio, memberi kepastian regulasi, menjaga independensi bank sentral, dan membiarkan yield menyesuaikan dengan premium risiko yang diminta pasar.


Bukan menahan harga dengan pidato.
Bukan menunggu dolar datang seperti mukjizat.
Bukan berharap investor global lupa menghitung risiko.


Di sudut ruangan, seorang ekonom tua akhirnya bicara.

“Kita ini sedang menunggu Godot.”

Semua menoleh.

“Maksudnya?”

“Kita menunggu sesuatu yang tidak pasti datang. Kita menunggu pasokan dolar besar yang akan membuat Rupiah menguat dan yield SBN turun sendiri. Kita berharap ada jalan mudah: investor masuk, dolar melimpah, Rupiah menguat, pasar saham pulih, yield turun, APBN selamat. Tapi pasar tidak bekerja seperti dongeng.”

Pejabat senior menatapnya tajam.

“Lalu apa yang harus dilakukan?”

Ekonom tua itu menjawab pelan.

“Berhenti menunggu keajaiban.”

Ruangan sunyi.

“Kurangi belanja non-produktif. Tunjukkan bahwa APBN tidak hidup dari ilusi. Naikkan suku bunga atau biarkan yield menyesuaikan agar aset Rupiah kembali punya premium yang layak. Kalau pasar meminta kompensasi risiko, berikan harga yang jujur. Setelah itu baru bicara stabilisasi. Jangan dibalik.”


“Kalau yield naik, APBN berat,” kata seorang pejabat.


“Benar,” jawab ekonom tua. “Tapi kalau yield ditahan rendah saat Rupiah runtuh, APBN akan lebih berat. Karena kurs jatuh menaikkan beban impor, subsidi energi, utang valas, inflasi, dan risiko refinancing. Yield yang naik terkendali adalah obat pahit. Yield yang meledak karena terlambat adalah racun.”


Tidak ada yang membantah.


Di luar ruangan, pasar terus berjalan. Trader hedge fund tidak peduli siapa yang benar secara politik. Mereka hanya melihat titik lemah. Mereka melihat pemerintah menahan yield. Mereka melihat Rupiah tetap melemah. Mereka melihat saham sell-off. Mereka melihat CDS melebar. Mereka melihat APBN bicara spending lebih lantang daripada revenue.


Lalu mereka menunggu.

Bukan menunggu Godot.

Mereka menunggu pemerintah menyerah pada harga.

Karena dalam pasar, harga yang terlalu lama ditahan akan mencari jalan keluar sendiri. Kalau pintu ditutup, ia keluar lewat jendela. Kalau jendela ditutup, ia merobohkan dinding.


Pada akhirnya, ruang rapat itu mulai berubah. Tidak ada lagi kalimat “sebentar lagi dolar masuk” yang diucapkan dengan mudah. Tidak ada lagi keyakinan bahwa pasar bisa ditenangkan hanya dengan konferensi pers. Mereka mulai mengerti bahwa dolar besar tidak datang hanya karena diundang. Dolar datang kalau merasa aman. Investor datang kalau dibayar layak. Rupiah menguat kalau orang percaya. Yield turun kalau risiko turun, bukan karena diminta turun.


Seorang pejabat muda menulis di papan. Kepercayaan tidak bisa dicetak. Kepercayaan tidak bisa diimpor. Kepercayaan harus dibayar dengan disiplin. Ekonom tua mengangguk. “Baru sekarang kita berhenti menunggu Godot.”


Malam itu, di ruang dealing yang jauh dari kantor pemerintah, seorang trader menatap layar. Rupiah masih lemah, tetapi volatilitas mulai turun. Yield SBN sudah naik ke level yang lebih jujur. Beberapa pembeli mulai muncul. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memberi sinyal bahwa pasar mulai melihat harga yang masuk akal.

Trader itu tersenyum.

“Sekarang mereka paham,” katanya.

“Paham apa?” tanya asistennya.

“Bahwa pasar tidak menunggu keajaiban. Pasar menunggu disiplin.”


Di luar, kota tetap bising. Politisi tetap bicara. Influencer tetap membela. Pejabat tetap mencari kalimat yang paling aman. Tetapi pasar sudah memberi pelajaran dengan caranya sendiri.


Kalau negara ingin Rupiah kuat, jangan hanya mencari dolar.
Kalau negara ingin yield turun, jangan hanya menahan yield.
Kalau negara ingin pasar percaya, jangan hanya berkata fundamental kuat. Kurangi ilusi.
Bayar risiko dengan jujur.
Perbaiki fiskal.
Biarkan harga menemukan keseimbangan. Sebab menunggu dolar datang tanpa memperbaiki rumah sendiri hanyalah menunggu Godot di pinggir jurang. Dan dalam pasar, Godot tidak pernah datang. Yang datang hanya margin call.