Sunday, February 7, 2021

Mobil listrik dan baterai, kita dapat apa?

 



Kita sudah masuk abad kendaraan Listrik. Lambat laun kendaraan Bahan bakar fosil akan tinggal kenangan.  Energi listrik yang menggerakan kendaraan itu adalah baterai. Baterei listrik memiliki kemampuan untuk menyimpan daya listrik dan bisa diisi ulang (rechargeable). Ada dua jenis baterei listrik yang banyak dipakai saat ini yaitu Lithium-ion (Li-ion) dan Nickel Metal Hydride (NiMH).  Di Indonesia memang belum ditemukan cebakan bijih litium meskipun ada indikasi mineralisasinya yang berasosiasi dengan batuan granit pegmatit. Namun untuk nikel dan kobalt, Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan terbesar di dunia. Penyebarannya cukup merata di Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, dan Papua.


Baterei Li-ion menggunakan unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda, sementara itu NiMH memanfaatkan nikel. Itulah mengapa produk nikel sulfat dan cobalt sulfat kini jadi primadona seiring dengan prospek mobil listrik yang kian menarik. Di dunia ini produksi Baterai Lithium untuk Mobil Listrik Terkonsentrasi di 4 Negara. Yaitu Amerika Serikat, China, Korea Selatan dan Polandia. Nanti bulan maret akan berdiri Indonesia Battery Holding. Pemegang sahamnya terdiri dari Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Masing masing menguasai saham 25%. Indonesia akan negara ke lima yang merajai pasar global akan baterai kendaraan.  Kita akan menggunakan tekhnologi dar China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan Korea Selatan, LG Chem Ltd.


CATL China juga merupakan penguasa pasar domestik China. CATL China akan jadi offtaker market dari Indonesia Battery Holding. LG Chem juga akan bertindak sebagai offtaker market. Elon Musk berbincang dengan Presiden Joko Widodo pada akhir tahun lalu. Dalam pembicaraan itu Jokowi menjabarkan potensi kendaraan listrik di Indonesia. Tesla sudah memastikan untuk menjadikan Indonesia bagian supply chain industri kendaraan listrik. Jadi secara bisnis, praktis kita sudah aman dari pasar. 


Pembiayaan proyek ini juga sangat pantastis. Bayangin aja. Di Batang ( Semarang) diatas kawasan 4.300 hektar akan berdiri industri terpadu. Investasi raksasa. Konsorsium BUMN MIND ID dan LG Eenergy Solution Ltd (LG) akan menggelontorkan investasi sebesar Rp. 142 triliun. Sebagian besar dana dari LG. Sementara Produsen China’s Contemporary Amperex Technology ( CATL) berencana menginvestasikan 5 miliar dolar AS atau setara Rp 70,6 triliun, untuk pembangunan pabrik baterai lithium.  Dari Nindustri baterai ini, Antam akan dapat offtake market nikel. 


Ditengah gebyar investasi baterai ini. Apakah kita benar dapatkan nilai tambah secara ekonomi ? Mari kita berhitung.  Harga rata-rata baterai untuk satu mobil mencapai US$ 12.000 ( 30% dari harga kendaraan listrik )  atau setara dengan Rp 171,6 juta (kurs Rp 14.300/US$). Pada posisi tersebut, harga mobil listrik (bila tidak disubsidi)  berkisar USD 40.000  atau katakanlah Rp. 560 juta.  Battery membutuhkan 100 kg Nikel. Jika kita pakai harga sekarang 1 ton ore yang memiliki kandungan Nikel seberat 20 kg (kadar 2%), maka 1 baterai itu setara dengan 5 ton ore yang diekpor oleh perusahaan tambang. Jika 1 ton ore harganya $40 maka total pendapatan ekspor bahan mentah 5 ton sebesar $ 200.  Bandingkan  kalau kita olah jadi baterai yang harganya USD 12.000. Silahkan hitung nilai tambah antara nikel dan baterai. Akan lebih besar lagi bila kita mampu bangun sendiri kendaraan listrik yang harganya  USD 40.000.Tentu nilai tambah lebih tinggi lagi.


Keberadaan Mining and Industry Indonesia (MIND ID) bersama konsorsium membangun baterai adalah pilihan tepat agar kita mendapatkan nilai tambah. Political Will sudah benar dan tepat. Namun tantangan kedepan sangat besar. PR masih banyak untuk kita bisa mandiri menguasai tekhnologi. Apa itu? masalah SDM. Kita sangat lemah. Disamping itu anggaran riset juga sangat tidak masuk akal, Kalau semua tergantung asing, kita tidak lebih jadi mitra penyedia bahan baku untuk industri baterai dan kendaraan. Kita hanya dapat nilai tambah secuil dan kebagian sebagai buruh kasar, serta pajak saja.


Pada Generasi saya, Indonesia melimpah  Timah, Minyak dan gas, hasil hutan. Generasi  saya bertanggung jawab terhadap kegagalan negara mengolah  SDA bernilai tambah tinggi. Sampai kini tidak pernah mandiri dalam industri downstream Timah, MIGAS dan hasil hutan. Setelah SDA menyusut, begitu besar kerusakan lingkungan, kita tetap miskin. Itu karena kebijakan yang bodoh dan tolol. Semoga kini dan besok kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Semua terlekat di pundak generasi muda.

No comments: