Friday, December 23, 2022

Larangan ekspor Bauksit.



Bijih bauksit merupakan batuan yang mengandung tiga mineral utama dan berkaitan dengan mineral silikat dan biasanya dijadikan bahan baku untuk membuat aluminium. Selain itu, bauksit dapat diolah untuk pemurnian air, kosmetika, farmasi, keramik dan plastik filler. Bauksit lebih utama untuk industri almunium. Sebagai logam tahan korosi dan logam konduktif elektrik, aluminium sangat ideal untuk berbagai aplikasi. Produk aluminium hilir sangat penting sebagai supply chain pada sejumlah industri, termasuk kedirgantaraan, pertahanan, kereta api berkecepatan tinggi, kendaraan listrik dan proyek infrastruktur, transmisi daya listrik, konstruksi, mesin. 


Berdasarkan pemutakhiran data tahun 2014, Indonesia mempunyai sumber daya bauksit sebanyak 3.617.770,88 ton dan logam bauksit sebanyak 1.740.461.414 ton. Total sumber daya bijih adalah 5.358.232.296 ton. Berdasarkan Pusat Sumber Daya Geologi (Pusat Sumber Daya Geologi, 2014), cadangan bijih sebesar 1.257.169.367 ton dan mineral bauksit sebesar 571.254.869 ton sehingga total cadangan sebesar 1.828.424.236 ton.


Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan pelarangan ekspor mineral mentah berupa bijih bauksit pada Juni 2023 mendatang. Pelarangan ekspor dilakukan supaya perusahaan pertambangan bauksit mengembangkan hilirisasi di dalam negeri. Saya setuju. Tetapi dalam prakteknya mengulang kesalahan pada hilirisasi nikel. Harusnya yang dilarang bukan hanya ekspor bauksit tetapi juga ekspor alumina. Yang boleh ekspor itu adalah turunan dari alumina seperti aluminium, ekstrusi aluminium,  dan produk turunan lain yang bahan bakunya bauksit.


Strategi hilirisasi Bauksit.

Bulan juni 2023 Jokowi melarang ekspor bauksit. Sebenarnya entah siapa yang bisikin. Katanya larangan itu cara agar China dan Eropa merelokasi smelter nya ke Indonesia. Yang jadi masalah Jokowi tidak paham. Bahwa China dan Eropa sejak tahun 2008 mulai membatasi produksi smelter bauksit bukan karena tidak ada bahan baku bauksit. Bauksit bukan hanya dari Indonesia, di Afrika juga melimpah. Yang jadi masalah adalah soal energi. Sesuai kesepakatan iklim Paris, China dan Eropa melarang smelter bauksit gunakan bahan bakar dari Batubara. Karena polutan. 


Yang harus dipahami bahwa mengolah bauksit tidak sama seperti nikel, yang dibakar dalan tanur sembur. Tapi  bauksit perlu dimurnikan menjadi alumina yang kemudian diubah menjadi logam melalui elektrolisis. Nah ini memerlukan energi yang sangat besar. 60% biaya produksi alumina adalah energi. Ya, investasinya padat listrik, padat modal. Makanya kalau buat smelter alumina, yang pasti untung duluan adalah yang memasok listrik. Yang jualan fuel ( batubara atau gas ). Kalau harga fuel naik, ya listrik mahal. Engga efisien lagi.


Makanya jangan kaget tahun 2008 bila negara timur tengah yang kaya minyak dan gas membangun Smelter aluminium. Sebenarnya mereka jualan minyak dan gas tetapi melalui industri aluminium. Saat itu merupakan strategi yang jitu menyelamatkan industri MIGAS yang sedang jatuh harga, sementara aluminium sedang tinggi tingginya. Setidaknya mereka bisa tetapkan harga jual fuel ke smelter diatas harga produksi. Pada tahun 2012, Timur Tengah menyumbang sekitar 10 persen dari produksi aluminium utama dunia.  Bauksit didatangkan dari Afrika Barat.


Jadi seharusnya Jokowi tahu kalau ingin melarang ekspor bauksit ya bangun dulu PTLA. Itu energi murah dan ramah lingkungan. Sumber PLTA raksasa ada di Papua dan Kalimantan Utara. Sungai Kayan, mampu menghasilkan PTLA dengan kepasitas 9000 MW. Atau yang dekat Australia, bangun PTLA di Sungai Mamberamo, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Focus ke sana. Agar ekspor alumina bisa terkendali dari ilegal ekspor seperti kasus nikel, ya buat KEK untuk pusat industri alumina berserta downstreamnya. Lengkapi dengan pelabuhan international dan feeder sebagai Pusat logistik Juga lengkapi dengan pusat pengolahan limbah. Itu pasti akan didatangi pemain industri alumina dari seluruh dunia. 


Nilai tambah bauksit

Nah Total cadangan bauskit kita  1,8 miliar ton. Setelah diolah jadi alumina menjadi 1,08 miliar ton. Harga Bauksit USD 43 /ton. Setelah diolah jadi alumina harga USD 330/Ton. Nilai tambah dari bauksit ke alumina sebesar 9 kali. Kalau diolah jadi aluminium, harga USD 2,500. Nilai tambah dari alumina ke aluminium sebesar 8 kali. Nilai tambah aluminium terhadap bauksit 58 kali. Kalau aluminium diolah jadi ekstrusi harga USD 3.300 /ton. Nilai tambahnya 76 kali. Itu belum termasuk downstream bauksit untuk industri keramik, industri kosmetika dan industri higinis, Industri refraktori, Industri kemasan, Indusri tinta. Nilai tambahnya bisa ratusan lipat..


Nah mari kita berhitung. Kalau 1,8 miliar ton jadi ekstrusi dengan harga USD 3,300/ton maka nilainya itu sama dengan USD 5.940 miliar. Nah kalau hutang nasional kita ( termasuk swasta dan BUMN) sebesar USD 500 miliar, itu utang kecil banget. Hanya 10% dari potensi penerimaan Ekspor Ekstrusi. Belum lagi dampak berganda dari wilayah penghasil bauksit di kalimantan ( Barat ) dan Sumatera ( Riau). Dua wilayah itu akan jadi pusat industri aluminium terbesar dunia.


***

Masalahnya, untuk menjadikan potensi ekonomi itu menjadi potensi kemakmuran diperlukan pemimpin yang visioner, yang tahu nilai nation interest dalam membangun industri, pentingnya R&D dan tentu pentingnya kualitas SDM yang punya kompetensi kelas dunia. Jokowi engga paham itu. Nikel saja yang nilai tambahnya lebih tinggi dari bauksit dia bikin hancur program hilirisasi. Kini 7 tahun lagi nikel akan habis. Kita masih terjebak utang Rp. 8000 triliun dan 1/4 anak lahir kurang gizi.


No comments: