Tuesday, March 14, 2023

Bisnis dibalik Damai Iran- Arab Saudi.

 




Arab Saudi - Iran berdamai ! Kaget engga? Ya bagaimana mungkin Arab bermazhab sunny bisa berdamai dengan Iran bermazhab syiah! Tapi itulah yang terjadi berkat diplomasi damai china yang komunis. Kesepakatan itu diumumkan setelah empat hari pembicaraan yang sebelumnya dirahasiakan di Beijing antara rival Timur Tengah itu. Washington tidak terlibat langsung dalam proses perdamaian ini. Namun sebagai anggota GCC, Arab Saudi terus memberi tahu para pejabat AS tentang pembicaraan dengan Iran. AS sepertinya menanggapi dengan skeptis atas masa depan kesepatakan damai ini, sambil paranoid atas keterlibatan China sebagai mediator. 


Saya punya beberapa catatan sederhana atas perdamaian Iran Arab Saudi. Beberapa tahun belakangan ini sejak Pengeran Mohammed Bin Salman mengontrol politik  dan kemudian jadi Perdana Menteri KSA, memang terjadi perubahan paradigma politik di Arab Saudi. Wahabi diremoved dari sistem politik Arab Saudi, maka sejak itu permintaan Iran  semua dipenuhi Saudi. Diantara permintaan dari Iran adalah, Saudi mengizinkan kembali orang Iran berkunjung ke Makkah dan Madinah. Arab Saudi tidak lagi mendanai Iran International, saluran berita berbahasa Persia penentang Republik Islam.


Arab Saudi harus menarik diri sepenuhnya dari Yaman. Mengakui gerakan Ansarallah (Houthi) sebagai otoritas yang sah di Yaman. Teheran juga meminta Riyadh untuk berhenti mendukung kelompok oposisi Iran termasuk Mujahedin-e Khalq, kelompok etnis Arab Al-Ahvaziya, dan kelompok militan Baloch Jaish al-Adl. Iran menganggap ketiga organisasi tersebut teroris. Selain itu, Iran meminta Arab Saudi untuk mengurangi tekanan terhadap minoritas Syiah di negara itu dan mengizinkan anggotanya untuk mengunjungi kota suci Masyhad di Iran.


Tapi bukan hanya karena perubahan paradigma politik saja sampai Arab Saudi bersedia menerima sarat damai dari Iran. Penyebab lain adalah  dua tahun upaya AS yang gagal untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 yang bertujuan untuk menghentikan Teheran memproduksi bom nuklir. Upaya itu diperumit oleh tindakan keras oleh otoritas Iran terhadap protes dan sanksi keras AS terhadap Teheran atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. AS engga berkutik. Bagi Arab Saudi, kegagalan AS itu sebagai isyarat bahwa AS tidak punya kekuatan politik untuk mengerahkan sumber dayanya menekan Iran. Sementara Iran semakin mempercepat program nuklirnya. Berdamai adalah jalan terbaik untuk stabilitas politik dalam negeri Arab.


Namun Arab Saudi tidak begitu saja percaya dengan Iran. Arab Saudi perlu pihak tengah yang bisa menjamin proses perdamaian itu. Tadinya Arab Saudi dan Iran menggunakan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi, sebagai fasilitator. Pada tahun 2022, mereka telah mengadakan lima putaran pembicaraan intensif di Baghdad. Namun, negosiasi terhenti setelah al-Kadhimi digantikan oleh Mohammad Shia al-Sudani sebagai perdana menteri. Arab Saudi tidak percaay kepada Sudani. Frustrasi dengan jeda tersebut, Arab Saudi meminta China untuk berperan sebagai mediator. Itu disampaikan ketika Presiden Xi Jinping mengunjungi Riyadh pada Desember 2022. Xi menyampaikan pesan Riyadh ke Teheran, yang menerima tawaran China.


Begitu banyak permintaan Iran, dan Saudi setuju. Dengan kompensasi satu saja, yaitu Arab Saudi butuh jaminan keamanan. China menjamin itu. Tentu China tidak menekan Iran dengan senjata. Tapi China memberikan kemudahan pembiayaan proyek dan menyediakan saluran pembayaran minyak. Menteri Perminyakan Iran Javad Owji mengatakan sehari setelah pengumuman di Beijing bahwa China komit akan terus jadi buyer utama minyak Iran walau AS masih embargo, dan berjanji menggelontorkan dana untuk mega proyek B2B iran. China tentu akan efektif mengendalikan program nuklir Iran. Itu lebih rasional dibandingkan cara AS dengan sok jagoan todongkan pistol. Saudi percaya itu. 


Adanya kesepakatan damai ini semakin memudahkan China ambil bagian di Yaman. Meredanya perang sipil Yaman dapat melancarkan proses revitalisasi pelabuhan Yaman yang akan menjadi bagian dari proyek Belt dan Road Initiative China (BRI). BRI adalah kegiatan ekonomi, diplomatik, dan geopolitik yang beragam yang sebelumnya bernama "New Silk Road” Pada akhirnya, jalur bisnis China ke negara Timur Tengah itu akan semakin terbuka lebar. 


Nah apa yang dapat diambil dari fenomena politik di Timur Tengah ini? Ali Wyne, dalam bukunya “America’s Great-Power Opportunity: Revitalizing U.S. Foreign Policy to Meet the Challenges of Strategic Competition” mengatakan bahwa dunia telah berubah dalam beberapa dekade terakhir melalui globalisasi dan munculnya ancaman transnasional, maka kolaborasi sangat mendesak dilakukan. Kata kuncinya adalah koloborasi. China memainkan perannya dalam diplomasi internationalnya melalui “visi afirmatif” berdasarkan berbagai keunggulan kompetitifnya, seperti kemampuan produksinya, tekhnologi, pasar, jumlan penduduk, mata uang stabil dan banyak teman. AS juga harus berubah mengikuti China. Dan kalau AS berubah, maka kolaborasi akan melahirkan perdamaian sesuai dengan visi PBB, Sustainable Development Goals.

No comments: