Tuesday, October 27, 2009

Kebersamaan Bisnis lebih bernilai daripada perkumpulan Agama.



Lebih dari sepuluh tahun Rukmana tidak pernah pulang kampung . Ada yang berbeda dirasakannya ketika menginjakan kaki di kampungnya. Dia tidak lagi melihat tawa diatara para penduduk. Desa ini memang jauh sekali dari kabupaten dan sulit terjangkau karena letaknya terisolasi. Apa yang bisa diharapkan dari desa ini. Sawah tadah hujan tak dapat diharapkan memberikan hasil berlebih. Hasil kebunpun tidak banyak diharapkan karena tanah tak subur. Dulu, hampir sebagian besar penduduk desa yang muda muda termasuk Rukmana pergi ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Namun kini karena kotapun tidak lagi tempat yang nyaman bagi migran maka banyak diatara mereka kembali kedesa. Ketika para pria kembali ke desa, para wanitapun pergi meninggalkan kampung. Mereka lebih diperlukan kota untuk mengisi pekerjaan pemuas nafsu pria berduit atau ada juga terpaksa menjadi jongos dirumah rumah orang kota. Bahkan ada yang menjadi jongos di negeri orang. Walau semua mengetahui bahwa wanita adalah kaum ibu yang harus dilindungi namun ketika para pria gagal menjadi pelindung maka panggilan jiwa para ibupun bangkit untuk menjadi lebah pekerja. Cerita duka dan nestapa bagi sebagian para wanita yang bekerja, hanya ditelan getir oleh para pria. Mereka kalah dan terpaksa membiarkan semua terjadi.

Inilah yang membuat Rukmana merasa sedih. Merasa telah berdosa dengan keberhasilannya sebagai pengusaha dikota bila tak bisa berbuat sesuatu bagi penduduk kampung halamannya ini, Dia harus berbuat.

Dikantor lurah.

” Benarkah itu , Den ? ” Sang lurah terkejut ketika Rukmana menyampaikan gagasannya membangun desa ini. Tentu yang terbayang adalah uang banyak akan mengalir kekas desa.

” Berapa aden akan membantu ? ”

” Saya tidak akan memberikan uang kepada penduduk ” jawab Rukmana dengan tegas. Sang Lurah , mengerutkan kening. ” Saya akan memberikan mereka mesin uang sehingga mereka bisa mencetak berapa yang mereka mau ”

” Wah, den. Jangan becanda. Itu kriminal. Walau kami di desa ini miskin tapi tidak mungkin kami akan melawan hukum. ” Jawab tegas dari sang lurah.

” Bukan begitu maksud saya , Pak. Saya ingin memberikan lapangan usaha bagi penduduk. Bila mereka bekerja tentu mereka akan mendapatkan uang. Itulah yang saya maksud.” Jawab Rukmana dengan senyum.

” Oh....” Lurah itu tersenyum. ” Kira kira aden mau bikin usaha apa ? Pabrik ? Perkebunan ? ”

” Saya tidak akan membuat apapun. Penduduklah yang membuka usaha. ”

” Apa yang bisa mereka lakukan ? Hidup saja susah. Tanah di desa ini tidak cocok untuk usaha tani. ”

” Kalau begitu apa yang bisa mereka lakukan hingga mereka bisa bertahan sampai sekarang? ” Tanya Rukmana

” Beternak kambing. Hanya itu yang bisa mereka lakukan. Sebagian hanya menunggu kiriman uang dari anak perempuannya yang bekerja di kota. ”

’ Baik !. Peternakan. Itulah yang akan kita kembangkan. ” Kata Rukmana mantap.

" Jadi bagaiman caranya ” Tanya lurah bingung.

" Beri saya waktu untuk berpikir bagaimana caranya. "
Setelah seminggu, Rukmana datang lagi ke lurah. Dia sudah siap dengan gagasannya.

" Bagaimana Den, rencananya ? Tanya lurah itu.

” Kita harus membentuk tiga kelompok penduduk desa. Kelompok Pertama adalah peternak kambing. Saya akan memberikan tiga ekor kambing kepada setiap satu keluarga. Kedua, Peternak sapi perah. Yang masing masing keluarga akan mendapatkan satu ekor sapi perah. Ketiga adalah peternakan ayam petelur, yang akan mendapatkan 50 ekor ayam petelur. Inilah modal awal yang akan saya keluarkan kepada mereka. ”

” Apakah itu pemberian modal Cuma Cuma. ?

“ Tidak !. Mereka harus membayarnya kembali dengan hasil produksi mereka. Saya akan menjamin pembelian hasil produksi mereka. Untuk itu saya akan membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat yang khusus membina desa ini. Lembaga inilah yang bertugas memonitor dan membina usaha mereka. Agar usaha penduduk ini tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat maka kita membuat aturan untuk saling berbagi diantara mereka. Pemilik sapi perah harus membagi susu setiap minggu 4 liter kepada tetangganya yang beternak ayam. Dan peternak ayam harus membagi 10 Kg telur kepada tetangganya yang beternak sapi. Nah bagi peternak kambing harus menyerahkan seekor kambing setiap tahun untuk pebaikan jalan desa.”

Kepala Desa itu tertegun dengan penjelasan itu.

” Kami aparat desa akan berkerja keras untuk menyadarkan masyarakat desa untuk bangkit dengan kesempatan yang aden berikan ini. Kami sudah capek dengan berbagai janji janji aparat pemerintah untuk membantu tapi tidak pernah ada kenyataan ” Kata lurah itu. Sambil memeluk Rukmana.

” Betul sekali, Pak. Tapi kita tidak boleh terus menyalahkan pemerintah. Mungkin bapak bapak yang ada diatas itu sangat sibuk berpikir hingga lupa berbuat. Ya, sudahlah, Kasih kesempatan mereka terus berpikir , dan kita terus saja berbuat apa saja untuk membina masyarakat agar mandiri. ”

Tak terasa sudah lima tahun berlangsung sejak pembicaran antara Lurah dan Rukmana. Kini keadaan desa yang dulu muram telah menjadi desa yang bercahaya. Wajah muram telah tergantikan dengan keceriaan. Para wanita yang tadinya bekerja di kota sebagai PSK, sebagai jongos, telah kembali kedesa membantu memberikan semangat bagi para pria menjalankan usaha keluarga. Secara tidak langsung usaha Rukmana telah berhasil mengurangi penyakit sosial di kota dan catatan buram perbudakan manusia. 

Setiap minggu diadakan pertemuan di Balai desa. Pertemuan ini merupakan ajang komunikasi antara penduduk dengan petugas LSM yang dipimpin Rukmana. Setiap sehabis sholat Isya, diadakan ceramah agama. Moshola yang tadinya sepi sekarang mulai ramai. Kegiatan masjid tidak hanya diisi oleh kegiatan ritual agama tetapi juga untuk kegiatan sosial ekonomi penduduk. Mesjidpun menjadi hidup.

Rukmana sudah jarang datang ke desa. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sibuknya di kota mengelola usahanya. LSMnya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan derap pembangunan desa. Dia merasa bersukur bahwa uang yang dulu ditanamnya untuk membantu masyarakat desa sebesar Rp. 5 miliar telah menjadi Lembaga pengelola Dana desa dalam bentuk BMK. Sementara dia tahu bahwa banyak temannya yang menghabiskan uang puluhan miliar untuk hal yang tak berguna seperti membeli rumah mewah, apartment mewah, mobil mewah. Semuanya akan larut ditelan waktu.

Satu saat , ” Pak, Ada petugas dari Kota datang kedesa kita. Tolong bapak datang kemari. Kami bingung karena mereka minta agar usaha kami ditutup. Masyakarat desa mulai marah dan menentang ” Rukmana terkejut mendengar suara dari telp genggamnya.. Tadi yang telp adalah lurah. Ada apa gerangan ? Pikirnya. Ditengah kebingungan tersebut , dia putuskan untuk segera datang kedesa.

” Pak,. Saya segera ke desa sekarang. Tolong jangan ada kekerasan. Kumpulkan penduduk desa di Balai Desa dengan tertip. . ” Pintanya.

Ketika dia sampai di desa. Hari menjelang sore. Para penduduk desa telah memenuhi Balai Desa. Rukmana mendatangi kantor Lurah. Di dalam telah hadir Lurah dan Petugas dari Kecamatan dan Kabupaten. Mereka dari Petugas Dinas Peternakan dan Dinas kesehatan. Seragam mereka memang sangat berwibawa. Apalagi kedatangan mereka disertai dengan kawalan petugas Polisi Pamongpraja.

” Pak Rukmana... Untunglah anda datang dengan cepat. Penduduk desa tidak mau mendengar apapun dari kami. Mereka hanya mau mendengar dari Bapak. Mereka hanya mau menuruti kata kata bapak., " Kata petugas tersebut.

" Apa yang dapat saya lakukan "

" Tolong bapak jelaskan bahwa usaha peternakan mereka itu ilegal. Karena tidak dilengkapi izin dari instansi kami. Kami harus tegas menegakan aturan. Mereka harus menutup kegiatan petenakan ini sampai ada izin dari kami. ” Kata petugas Dinas Peternakan. Rukmana hanya tersenyum mendengarkan kata demi kata dari Petugas itu.

” Dan lagi Pak. Usaha mereka ini sangat beresiko terjangkitnya wabah Flue burung yang mematikan itu. ” Sela petugas Dinas Kesehatan.

” Juga , usaha peternakan ini sangat menggangu kesehatan lingkungan. ” Kata petugas Pengawas Lingungan Hidup.

” Baiklah, Pak. ” Kata Rukmana ” Yang pasti saya tidak pernah memaksakan kehendak pada mereka. Apalagi memprovokasi mereka untuk melawan kehendak atau aturan pemerintah. Selama ini saya hanyalah mendukung apa yang baik untuk mereka. Kalau sekarang mereka patuh pada saya , itu hanya karena mereka mengetahui program yang saya laksanakan memberikan manfaat bagi hidup mereka. Jadi ada baiknya kita bersama sama ikut bicara dengan mereka . Silahkan bapak bapak ikut dalam pertemuan itu dan duduk di samping saya.” kata Rukmana ketika memasuki Balai Desa. Para penduduk yang hadir nampak bertepuk tangan ketika Rukmana masuk kedalam Balai Desa itu. Tepukan itu baru berhenti ketika lambain tangannya mengisyaratkan untuk tenang. Para hadirin semua diam dengan seksama mendengarkan setiap kata demi kata yang dkeluar dari Rukmana.

” Hadirin sekalian. Menurut pemerintah bahwa usaha yang kita jalankan ini adalah tidak syah dan karenanya harus ditutup sementara sampai ada izin dari pemerintah. Jadi saya harap hadirin sekali dapat menerima ini sebagai suatu kenyataan dan tolong...jangan melawan karena kita harus menjadi warga negara yang baik. Kita harus percaya dengan segala kebijakan dari pemerintah. ” Pandangan Rukmana dilepaskan kepada penduduk yang hadir. Mereka saling berpandangan dan kemudian mereka tertunduk. Tanpa suara. Keadaan ini membuat Rukmana salah tingkah dan merasa berdosa karena gagal melindungi mereka.

” Baiklah. ” seru Rukmana . ” Mungkin ada yang hendak ditanyakan kepada petugas dari kabupaten ini .Silahkan. ” Kata Rukmana. Para hadirin diam sejenak. Kemudian, salah satu hadirin menujukan tangan. ” Silahkan. ” Kata rukmana memberikan izin

” Pak. Kami siap menutup usaha kami. Tapi ..." kata katanya terhenti sambil menatap kearah petugas di samping Rukmana. " Bila usaha sapi perah saya ditutup apakah bapak bapak dari kabupaten ini bisa memberi saya 10 Kg telur setiap minggu. Sebab , selama ini saya mendapatkan itu dari tetangga saya. Karena saya juga memberi dia 4 liter susu setiap minggunya.” Pertanyaan ini dicatat oleh perugas yang ada disamping Rukmana.

” Apakah ada yang lain yang ingin bertanya ?

” Saya pak. ” teriak seseorang yang duduk dibelakang. ” Kami siap menutup usaha ternak kambing kami !. Tapi baiknya bapak bapak mengetahui satu hal. Bahwa dulu jalan desa ini sangat buruk hingga kami terisolasi dari dunia luar. Berkat sumbangan dana dari peternak kambing telah bisa memperbaiki jalan desa hingga nyaman dilewati oleh mobil. Bapak bapakpun tidak mengalami kesulitan datang kemari dengan mobil bagus. Padahal sebelumnya tidak ada petugas dari kota yang mau datang karena jalanan rusak. Nah, bila usaha ternak kambing kami ditutup, apakah bapak bapak dari kabupaten dapat memberi kambing sebanyak biaya merawat jalan desa ini ? “

Mendengar pertanyaan lugu dari penduduk desa ini, petugas Dinas Peternakan dari kabupaten yang duduk di samping Rukmana tak bisa berkutik. Dia hanya diam tanpa berani menatap langsung hadirin yang ada di hadapannya. Tapi Petugas Dinas Kesehatan dan Lingkungan menjawab ” Usaha peternakan ini akan mencemari lingkungan desa dengan bau yang tidak sedap dan akan mengakibatkan kehidupan masyarakat desa tidak sehat. Pemerintah mengkawatirkan terjadinya wabah flu burung dan penyakit lainnya. Itulah dasar pertimbangan kami untuk menertipkan usaha pertenakan ini. ”

” Aneh ya Pak ” teriak salah seorang hadirin menyela ” Kami yang setiap hari makan dan tidur di desa ini tidak merasakan aroma bau apapuni. Kok bapak yang jauhnya 100 Km dari desa ini bisa membauinya. Dan lagi setiap kami saling membantu membersihkan kandang. Yang punya kandang ayam akan dibantu oleh tetangga yang punya kandang sapi dan yang punya kandang sapi akan dibantu oleh yang punya kandang ayam. Karena hasil sapi perah akan berbagi kepada pemilik kandang ayam,begitupula sebaliknya, Diantara kami saling berbagi” .

” Kami hanya ingin menertipkan. Itu saja ” kata petugas kesehatan dan lingkungan.

” Dulu, waktu kami tidak punya usaha ternak dan hidup serba miskin, kenapa bapak bapak tidak tertipkan hidup kami. Mengapa baru sekarang setelah kami hidup nyaman harus ditertipkan ? Mengapa ? ” Kata salah satu hadirin sambil berdiri dan menatap semua yang hadir.

” Ya mengapa !! Teriakan serentak para hadirin. Suasana menjadi gaduh. Para petugas itu saling berpandangan. Dan akirnya berdiri. ” Maaf Pak Rukmana. Kelihatannya kami memang tidak diperlukan ada disini. ” Katanya kepada rukmana. Yang kemudian berjalan cepat keluar Balai Desa menuju tempat parkir kendaraannya. Rukmana berusaha mengejar petugas itu. Para hadirin yang ada di dalam balai desa berhamburan keluar.

" Maafkan mereka Pak. " Kata Rukmana

" Bapak dengar sendiri, kan. Mereka melawan kami. Ini sudah pelecehan negara. " Kata petugas ketertiban. "

" Tolong mengerti ,pak. Tidak ada satupun kata kata mereka melawan. Mereka sangat setia dengan aturan pemerintah. Mereka hanya butuh jawaban dan solusi dari bapak bapak. Karena ini menyangkut nasip mereka. Masa depan mereka . " Rukmana mencoba meyakinkan petugas itu. Mereka para petugas berseragam itu saling berpandangan. Seakan terkejut dengan ungkapan Rukmana.

" Anda benar !. Kami memang dalam posisi sulit. Aturan memang harus ditegakkan tapi apa artinya bila kami hanya pandai mengatur ...." Kata petugas itu.

Para penduduk desa melihat dari kejauhan ada percakapan serius antara Rukmana dengan petugas petugas itu. Kemudian Petugas itu masuk ke dalam kendaraan dan berlalu Rukmana hanya termenung memandang kepergian petugas dari kabupaten itu. Ketika dia berbalik kearah balai desa, nampak penduduk desa memenuhi halaman luar Balai Desa. Mereka menanti keputusan dari Rukmana

” Teruslah bekerja seperti biasa. ” Kalimat itu keluar dari mulutnya yang disambut dengan gegap gempita tepukan dari penduduk. ” Dengarkan , saudara saudara ..” teriak Rukmana menenangkan mereka. ” LSM yang membina kalian akan mengurus izin bagi kalian semua. Petugas itu tadi berpesan agar LSM yang selama ini tempat kalian bernaung membuat laporan secara berkala ke kabapupaten.” Lanjut Rukmana.. ” Nah , turutilah petunjuk pembina kalian agar usaha kalian dapat terus berkembang , Teruslah pelihara sikap gotong royong dan kekeluargaan. Itulah kekuatan yang sesungguhnya untuk membuat kalian tetap dihormati oleh pihak manapun, termasuk oleh penguasa yang ingin memaksakan kekuasaannya menzolimi kalian. ” para penduduk desa semua terdiam dan akhirnya mereka saling berpelukan dan berkata, ” Kami sebetulnya tidak butuh mereka dari kabupaten itu. Kami hanya butuh Bapak. Karena bapaklah yang mengajarkan kami untuk mandiri dan saling berbagi”

" Oh , salah. Saya hanya melaksanakan perintah Tuhan. Dan kalian bisa seperti ini karena juga telah melaksanakan apa kata Tuhan Dengan agama yang kita yakini harus mampu membuktikan bahwa kita pantas menjadi rahmat bagi alam semesta, setidaknya mampu memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Kuncinya adalah kebersamaan dalam bermusyawarah dan berbuat."

Monday, October 5, 2009

Harga dan Pajak



Rakyat itu adalah mereka yang bayar pajak. Selebihnya adalah sampah. Demikian ungkapan mantan Gubernur DKI dulu ketika sedang gencar gencarnya membangun Jakarta. Bang Ali memeng terkesan pemimpin yang keras dan tak ada basa basi. Dia melontarkan apapun yang menjadi hakikat kekuasaan. Apalagi latar belakangnya sebagai militer." Negara memang menempatkan orang untuk berkuasa dan menentukan harga untuk membayar dan dibayar. Itulah yang terjadi dari masa kemasa. Harga direkayasa untuk dipercaya oleh public. Dari kegiatan perniagaan terjadi proses perputaran uang. Ber gerak dari pemerintah yang mencetak dan melesat ketengah public , dan kemudian kembali kenegara dalam bentuk pajak. Rakyat dan semua organ didalam negara berputar dalam system yang direkayasa untuk mempercayai proses ini. Agar kekuasaan tetap berjalan dan negera tetap exist.

Di dalam harga terkandung dua makna yaitu jerih payah dan laba sebagai reward Dari itulah harga dipahami oleh penyedia barang atau jasa untuk menjualnya kepada konsumen. Reward itu bukan hal yang final karena masih harus dikurangi untuk hak negara sebagai penyedia jasa kepada rakyat. Maklum saja negarapun butuh biaya untuk menjalankan proses pemerintahan. Dan pajak dibenarkan untuk dipungut. Namun belakangan pemerintah tidak cukup hanya menerima pajak dari laba tapi juga bergerak lebih jauh lagi yaitu meminta pula dari harga jual. Namanya pajak penjualan. Konsumenpun dibebani pajak. Belum usai sampai disini. Pemerintahpun merasa belum cukup maka nilai tambah dari barangpun harus pula dipajaki. Namanya Pajak Pertambahan Nilai. Inipun belum cukup. Barang yang diproduksi berkatagori mewahpun dipajaki. Gabungan dari semua itulah akhirnya harga tidak lagi mencermin reward tapi lebih daripada pemerasan untuk berjalannya sebuah system yang bernama negara.

Bukan hanya pajak yang bersifat langsung maunpun tidak langsung diterapkan. Creativitas meningkatkan nilai dari harga terus berkembang. Pemeritah Daerah maupun Pusat tidak pernah kehilangan akal untuk terbentuknya harga baru dengan metode pajak bermacam macam. Ada pajak tontonan,. pajak jalan khusus. pajak penerangan jalan, pajak kebersihan pasar. pajak hasil tambang, pajak hasil pertanian. Pajak irigasi. Pajak cukai dan bea. Hebatnya semua itu dibebankan pada akhirnya kepada rakyat. Bila ini belum cukup maka pemerintahpun bebas merampas uang mereka yang tak terjangkau akses pajak melalui inflasi. . Disisi lain, Para saudagar dan produsen barang maupun jasa juga tak berhenti untuk mengeruk uang dari konsumen. Nilai tambah bersifat mayapun dicreate lewat iklan di media massa. Branded image dibangun, corporate image dibentuk, design etalage dipercantik, packaging dibuat menarik,pelayan dibuat senyum dan cantik. Hingga yang terjadi adalah harga benar benar tidak mencerminkan keadilan tentang proses jerih payah tapi juga pemerasan secara tersembunyi dengan menetapkan harga irrational.

Pemeritah tidak melihat irrational harga sebagai pemerasan. Karena selagi pajak ini dan itu tetap mengalir kedalam kas negara maka semuanya syah saja. Namanya mekanisme pasar bebas. Harga bebas bergerak setinggi tingginya dan tentu semakin tinggi pula negara mendapatkan pajak. Namun kemesraan antara pemerintah dan produsen itu menjadi retak ketika harga barang china membanjir pasar AS. Hampir sebagian besar industri besar AS yang biasa memenuhi etalage supermarket rontok dimakan produksi china. Konsumen tak lagi peduli dengan nasionalisme. Yang murah mendapatkan tempat dihati konsumen. The Fed dalam risetnya mengumunkan bahwa lebih USD 1 trilion per tahun dana konsumen AS dihemat akibat membajirnya produksi china yang murah. Sebuah fakta terbuka bahwa selama ini pemerintah dan produsen AS telah berkonpirasi merampok Publik sebesar USD 1 triliun.

Dir anah pasar uang dan pasar modalpun , kedok keculasan pengusaha dan penguasa terbongkar sudah. Harga saham yang tinggi dan nilai asset keuangan yang menggelembung ternyata hanyalah pemainan pasar yang tidak ada kaitannya dengan nilai instrinsik asset itu sendiri. Tak terbilang jatuhnya nilai asset yang berputar dipasar uang dam pasar modal. Namun ketika kelompok orang kaya yang rakus menderita akibat jatuhnya nilai asset di bursa maka duniapun panic. Tidak sepanik ketika melihat orang miskin antri minyak atau menerima BLT atau mati kelaparan akibat kemiskinan. . Hari ini kita menyaksikan sebuah tatanan dunia baru yang sakit. Menciptakan komunitas minoritas yang culas dan memeras lewat harga dipasar. Kepanikan menghadapi krisis global sekarang ini bukanlah kepanikan untuk memikirkan orang miskin tapi lebih kepada bagaimana menyelamatkan orang kaya yang takut miskin…Karena lewat orang kaya konsumerisme , saudagar dan produsen lah cash mengalir deras kedalam kantong pemerintah untuk bergeraknya roda kekuasaan dan memanjakan rezim.

Wednesday, September 23, 2009

Kadang istri tidak tahu pengorbanan suami



Aku duduk di ruang tunggu menjelang boarding di Bandara Soekarno-Hatta ketika waktu hampir melewati tengah malam. Tiba-tiba saja aku menyesali kenapa terlalu cepat tiba di situ. Seharusnya aku buang waktu dulu di koridor sambil melongok apa saja yang bisa kulihat. Ketika kuingat tak satu pun toko-toko di situ yang masih buka ketika aku lewat tadi, aku merasa benar sudah duduk di situ. Ya, tengah malam, banyak orang yang sudah terlelap. Akhirnya kutelan juga kegelisahan sambil melahap berita malam di pesawat TV, siapa tahu ada berita yang menjelaskan apa yang terjadi.

Aku sebenarnya tak menangkap benar apa yang diberitakan meski mataku terpaku ke layar kaca. Yang kulihat adalah acara TVone, wajah tua dan suara serak serak basah Pak Karni. Kadang aku tersenyum mendengar perdebatan omong kosong itu. Pak Karni memang sengaja merancang acara untuk ajang debat omong kosong, dan tentu menarik bagi orang yang otaknya sebesar kacang mede. Tetapi setidaknya dari acara TVone itu, aku bisa tahu betapa menyedihkan pemikiran kaum intoleran karena  pengaruh fundamentalis agama. Mengapa aku bilang menyedihkan. Karena di zaman di mana orang berbaur tanpa disekat SARA, eh ini ada orang terbelenggu kebebasannya berpikir karena dokrin politisasi agama. Tidak ada kemerdekaan yang asasi kecuali kebebasan berpikir. Mereka yang terbelenggu pemikirannya itu, mereka belum merdeka dalam arti sesungguhnya.

Tiba-tiba seorang ibu melintas di hadapanku. Ia membungkuk sedikit untuk meminta izin lewat di hadapanku karena kakiku yang selonjor menghalangi jalan. Ia duduk terhalang satu kursi di samping kiri tempat dudukku. Aku meliriknya: seorang wanita etnis Tionghoa. Walau usianya bukan muda lagi, tetapi, kencantikannya memang oke punya. Tubuhnya langsing, indah. Tak kuteruskan mereka-reka bagaimana masa remajanya. 

Sesudah itu segerombolan orang tiba. Mereka begitu membeludak bak air bah, seolah-olah mereka tadi tertahan di pintu gerbang, lalu barusan seorang petugas memberi jalan. Berbagai bahasa terdengar tak kupahami. Hanya aku dan beberapa orang saja yang orang Indonesia. Kebanyakan orang china yang mau pulang kampung. Mereka menyebar dan mencari tempat duduk. Memang tujuanku adalah Beijing.

Seorang balita mendadak berlari ke depan dan melintas di hadapanku. Lalu mengamati apa saja yang dia suka. Ibunya membiarkannya. Ia tak terlalu sipit. China. Laki-laki. Si wanita di sampingku meliriknya. Ia tampak gemas kepada anak itu. Aku menangkap senyum wanita itu. Ia mencari sesuatu di tasnya, mengeluarkan handphone-nya, lalu memencet serangkaian nomor.

“Anita, Ibu membangunkanmu, ya?” Bahasa Indonesianya membuat aku meliriknya. “Ibu meneleponmu karena ingat Ivan. Dia sudah tidur?” Terdiam sebentar. Aku yakin ia sedang mendengar sahutan dari seberang.
“Di sini ada anak sebesar Ivan, besarnya sama dan mirip banget wajahnya. Dia di hadapan Ibu sekarang. Makanya Ibu jadi ingat Ivan,” katanya lagi.
Ia mendengar sahutan lagi dari seberang.
“Ibu lagi di ruang tunggu, sebentar lagi boarding. Sudah, ya!”
Ia mengemasi telepon selulernya. Aku melihat dengan sudut mata ia memasukkan handphone-nya ke dalam tas tangan. Wanita ini tak membawa tas besar. Aku yakin bawaannya sudah masuk bagasi pesawat.
Aku pindah duduk ke samping kiri hingga tepat berada di sebelah kanannya.
“Saya pikir ibu orang China. Maaf tadi saya menguping.”
Aku tak menyangka kalau dia tak terkejut.
“Saya bicara dengan anak saya. Melihat anak itu jadi ingat cucu,” ujarnya dengan tata bahasa yang bagus sambil menunjuk anak kecil dengan lirikan matanya. Senyumnya mengalir tulus.
“Usia berapa?”
“Sebesar itu, dua tahun.”
“Sedang lucu-lucunya.”
“Ya.”
“Tinggal di mana ?”
“Jakarta. Bilangan PIK”
“Kapan terakhir ke Beijing?”
“Sudah lama sekali. Saya sudah sulit membayangkannya. Terakhir waktu bulan madu kedua pernikahan kami."
“ Ada apa ke Beijing ?
“ Lihat anak saya yang bungsu kuliah di sana. Tadi papanya yang sering liat, tetapi sejak tahun lalu, papanya meninggal. Saya harus menjenguknya kalau kangen. Anda ?” Katanya.
“Hanya bisnis trip. ”
“Hanya ke Beiing?”
“Tidak. Dari Beijing langsung ke Hong Kong. “
“ Oh. Saya lagi bingung.”
“ Kenapa ?
“ Saya tidak mungkin tinggal di apartemen anak saya yang berukuran kecil dan bersama dengan temannya. Sementara saya belum ada hotel. Saya sudah mencoba registrasi melalui internet. Tak satu pun berhasil. Semua penuh. Rupanya acara Olipiade Beijing mendatangkan berkah bagi bisnis wisata. Tetapi kerinduan kepada anak membuat saya nekat juga. Moga anak saya bisa dapatkan kamar hotel untuk saya.”
“Anda bisa tinggal di Paninsula Hotel Beijing.” kataku menawarkan.
“Terlalu mahal dan apa mungkin masih ada kamar ?
“ Pakai kamar saya. Saya punya time share di hotel itu. Jadi ibu bisa tinggal disana sesuka ibu“
“ Tapi anda?
“ Saya tidak nginap. Saya pakai kamar hotel hanya untuk madi. Setelah itu rapat, dan malamnya terus ke Hong Kong. “
“ Anda pengusaha?
“ Ya. “
“ Tentu tidak mudah menjadi istri pengusaha. “ 

Pembicaraan kami terpotong oleh suara petugas yang mengumumkan penumpang agar segera masuk pesawat.
“Mengapa ibu bertanya seperti itu?” Aku memberanikan diri bertanya balik.
Ia tersenyum. “Itu pengalaman yang tak mungkin saya lupakan ketika suami saya belum meninggal. Waktu kebersamaan yang kurang dan kadang paranoia tidak pernah bisa hilang. Berat sekali melawan sepi dan paranoia.  Kalau ingat saya marah marah kedia. Padahal dia baru sampai dari business trip yang melelahkan. Tetapi suami saya sangat sabar dengan sikap saya. Setelah dia meninggal, rasa bersalah tidak pernah hilang. Kini, doa saya kepada almarhum suami tidak pernah putus. ” katanya, lalu bangkit.

Para penumpang masuk ke koridor yang menghubungkan ruang tunggu dengan pintu pesawat. Dimulai dari keluarga si balita. Aku tak sempat mengikuti ibu tadi. Tak tahu juga namanya. Sayang, harapanku untuk bisa duduk berdampingan di pesawat juga tak kesampaian. Aku di cabin business class dan dia economy class.

Sampai di Beijing Capital International Airport, kami turun. Keluar dari gate imigrasi, aku berusaha mencari ibu itu tadi. Tak berapa lama nampak dia melambaikan tangan. 
“ Ibu di jemput ?
“ Ya. Anak yang jemput”
“ Kalau begitu, nanti ajak anaknya ke hotel paninsula. Ini kartu nama saya. Tinggal berikan kartu nama saya, petugas reservasi akan memberikan kunci kamar ke ibu”
***
Sampai di hotel jam 11 pagi. Aku mandi dan ganti pakaian. Turun ke lobi sudah ada staf kantor menantiku. Kami pergi ke tempat meeting. Meeting berlangsung sampai sore hari. Usai meeting aku diantar ke Bandara lagi untuk ke Hong Kong. Aku baru menyadari ternyata aku belum makan siang. Ada niat mau makan di Bandara tetapi waktu boarding sudah mepet sekali. Aku putuskan langsung boarding. Waktu itu aku merasa asam lambungku mulai bergolak. Kepalaku agak pusing. Tetapi aku berusaha menenangkan diri dengan membaca. Di dalam pesawat, pramugari memberi aku minuman welcome drik. Wine. Saat itulah kepalaku semakin pusing.

Ketika pesawat take off, aku merasa dunia berputar dan pandanganku mulai kabur. Setelah itu aku tidak sadarkan diri. Ketika aku sadar di sampingku ada wanita . Dia tersenyum. “ Syukurlah anda sudah siuman.” katanya seraya memanggil pramugari. 
“ Tadi anda sempat tidak sadarkan diri. Tetapi untunglah di samping anda ada wanita itu. Dia dokter. Dia menuntun kami memberikan pertolongan kepada anda. Menurutnya anda akan baik baik saja. “Kata pramugari.
“ Terimakasih” kataku melirik wanita itu.
“ Anda terlalu lelah dan perut anda kosong. Dengan memberikan air panas dan sedikit garam, itu bisa membuat perut anda nyaman, dan aliran darah kembali normal seperti biasa. “ Katanya.


Wanita di samping aku duduk ini, usianya sama dengan wanita yang tadi aku temui di Bandara Soeta. Tapi dia orang Korea. Kebaikan spontan yang kita beri ternyata selalu berbalas kebaikan spontan juga. Memberi dengan ikhlas selalu berbalas, tak penting etnis atau agamanya. Bukankah kemanusiaan menjebol batas etnis dan agama. Semua karena Tuhan dan kembali kepada Tuhan, tentunya

Sunday, August 23, 2009

ETFs are dangerous


Exchange-traded funds (ETFs) that use leverage or perform inversely (opposite) to an index or benchmark they track are growing in number and popularity. The controversy and danger surrounding these products was featured in recent articles in the Wall Street Journal (“FINRA Urges Caution on Leveraged Funds,” by Daisy Maxey), and InvestmentNews (“Leveraged ETFs: Handle with care”), and in Regulatory Notice 09-31 published by the Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). FINRA and others are concerned that leveraged and inverse ETFs are being inappropriately marketed and sold to retail investors for whom they are unsuitable without an adequate explanation of the risks.

Leveraged and inverse ETFs are extraordinarily risky and complex securities. Leveraged ETFs are designed to deliver multiple times the return of their benchmark, while inverse ETFs move in the opposite direction from their benchmark. Leveraged inverse ETFs multiply the inverse movement.

Like futures contracts and options, these products are designed to be used as a part of sophisticated trading strategies. Unlike futures contracts and options, they are typically not designed to be held more than one day. As a result of compounding, the price movement of such ETFs can differ markedly from their underlying index or benchmark, FINRA warns. In other words, you could lose a lot even when the underlying benchmark gains. FINRA’s illustrations are sobering:

• The Dow Jones U.S. Oil & Gas Index gained 2 percent, while an ETF seeking to deliver twice the index's daily return fell 6 percent and the related ETF seeking to deliver twice the inverse of the index's daily return fell 26 percent.
• An ETF seeking to deliver three times the daily return of the Russell 1000 Financial Services Index fell 53 percent while the index actually gained around 8 percent. The related ETF seeking to deliver three times the inverse of the index's daily return declined by 90 percent over the same period.

With this in mind, FINRA has warned brokers about their sales practice obligations when selling leveraged and inverse ETFs. Among other things, brokers are required to thoroughly understand they products they sell, make a determination, backed by appropriate information, that the product is suitable for the customer’s investment objectives and risk tolerance. Furthermore, brokers are legally obligated to explain all material facts regarding an investment before the sale.

Given the complexity of these products and the realities of the securities brokerage industry, the chance that any retail broker thoroughly understands them is zero. According to FINRA, in its typically understated fashion, “inverse and leveraged ETFs typically are not suitable for retail investors who plan to hold them for more than one trading session, particularly in volatile markets.” In fact, they are not suitable for most retail investors, period.


If you have suffered losses in leveraged and/or inverse ETFs, you should contact qualified counsel to determine your potential rights and remedies.

Saturday, August 8, 2009

Skandal LIBOR



Tujuh bank sudah menerima panggilan dari pengadilan sebagai bagian dari investigasi skandal manipulasi suku bunga bank, Libor. Ketujuh bank tersebut adalah Barclays, JPMorgan Chase, Citigroup , Deutsche Bank, HSBC dan Royal Bank of Scotland, UBS. Awalnya skandal itu terungkap pertama kali adalah pada waktu Barclays mengaku kepada otoritas pengawasan bank bahwa mereka  sejak tahun 2007 berkali-kali menyerahkan laporan suku bunga fiktif kepada panel bank- bank yang menentukan tingkat LIBOR. Skandal ini juga menyebabkan pemberhentian sang chairman (Marcus Agius) dan pemecatan CEO (Robert Diamond). 

Teman saya yang bekerja sebagai money broker di Bassel mengatakan kepada saya bahwa standard moral banker sebagai agent of development sudah tidak ada lagi. Banker kini tak ubahnya sebagai hidden criminal group. Mereka tidak peduli lagi soal moral yang menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah kepercayaan ( trust). Mereka hanya peduli bagaimana meningkatkan laba bagi pemegang saham dan pada waktu bersamaan para executive dapat hidup nyaman dengan limpahan fasilitas dan tidak peduli karena itu mereka harus menjadi gerombolan penipu.

Semua pemain uang dan mereka yang terlibat dalam dunia perbankan akan menjadikan LIBOR sebagai benchmark  untuk suku bunga jangka pendek. Kebanyakan produk-produk finansial, derivatif, dan bermacam-macam sekuritas, kontrak-kontrak keuangan, seperti kartu kredit, pinjaman, hipotek, dan sebagainya, menggunakan LIBOR sebagai acuan. Diperkirakan  ratusan triliunan dollar AS  nilai kontrak dan transaksi yang menggunakan LIBOR. Mereka tahu pasti bahwa indicator ini sangat tinggi reputasinya. Ada standard aturan dan hitungan yang ketat untuk menentukan LIBOR. 16 anggota asosiasi perbankan yang dijadikan acuan adalah Perbankan papan atas ( high rate). 

Jadi secara moral tidak mungkin ada pelanggaran standarad kepatuhan. Namun, dengan terungkapnya skandal, ternyata LIBOR ditentukan dengan cara seenaknya. Bahkan dilakukan untuk tujuan menipu pasar dan public demi mencari untung. Ini konspirasi antara semua pihak yang terlibat termasuk otoritas. Walau secara hokum pihak otoritas tidak bisa dikatakan terlibat namun secara moral mereka hancur dihadapan public. Terlepas mereka tahu atau tidak namun nyatanya public dirugikan. 

Bagaimana sampai public dirugikan? Setiap hari Thomson Reuters, perusahaan penyedia jasa informasi keuangan dan perusahaan, atas nama BBA (British Bankers’ Association ) mengumumkan angka LIBOR (London Interbank Offered Rate) untuk 15 jenis pinjaman yang dibedakan menurut jangka waktu pengembalian (tenor)— dari pinjaman satu hari (over night) sampai satu tahun—dan meliputi 10 jenis mata uang, termasuk dollar AS, euro, poundsterling, dan franc Swiss. Namun laporan itu ternyata membuat orang lain dirugikan.  

Ambil contoh Barclays menyerahkan angka suku bunga yang lebih rendah daripada yang seharusnya. Akibatnya public semakin percaya kepada perbankan. Karena bunga rendah sebagai indikasi bahwa perbankan sehat dan ekonomi stabil. Keadaan ini akan mendorong orang untuk meminjam lebih besar dari yang semestinya dan mengambil risiko yang lebih besar dari yang mampu dipikul dan tidak hati-hati dengan berbagai implikasi buruknya. Singkatnya karena data tidak benar itu telah membuat publik terjebak dalam transaksi yang menjadikan mereka sebagai korban penipuan secara sistematis. Yang pasti pihak yang diuntungkan adalah pihak yang tahu bahwa data LIBOR itu tidak benar. Siapa mereka? tentu para bankir dan otoritas.

Apa yang terjadi dalam skandal LIBOR adalah tidak berbeda dengan Skandal CMO  ( Collateral mortgage Obligation ) di AS. Skandal LIBOR memalsukan data tentang suku bunga untuk menarik keuntungan sepihak bagi para insider trader. CMO memalsukan data perusahaan untuk memungkinkan S&P dan Moody’s dll menaikkan rating dan akhirnya menipu investor untuk membeli. Memang , laporan itu tidak menjamin seratus persen kebenaran. Itu hanya sebuah indikasi untuk orang bersikap. Namun karena di create oleh lembaga yang punya kredibilitas tinggi dan didukung oleh otoritas Negara maka jadilah itu sebuah kebenaran. Kebenaran yang memungkinkan orang mengambil resiko dan bertarung dengan ketidak pastian akan masa depan. 

Setelah semua terjadi, tidak ada yang bisa disalahkan seratus persen. Ini hanyalah moral. Hukumannya hanyalah denda administrasi. Aturan hukum pidana tidak bisa menjerat kejahatan seperti ini. Samahalnya tidak bisa disalahkan rezim Orde Baru  bila data statistic makro ekonomi yang mengindikasikan siap tinggal landas namun nyatanya kandas ditengah jalan. Bila besok ekonomi jatuh kelubang krisis , kita tidak bisa menyalahkan rezim sekarang yang meng  create data makro economy tinggi untuk dipercaya. 

Harus ada keyakinan pada diri kita sendiri bahwa lembaga rating, Pemerintah adalah  mereka yang memang tidak pantas dipercaya. Jadi bila terbukti mereka tidak benar, kita harus siap untuk kecewa.

Saturday, July 25, 2009

Digital Monetary Trust


This article describes an Internet-based anonymous banking project, known as The Digital Monetary Trust, Ltd. The Digital Monetary Trust (hereafter: DMT) is a proposed financial trust (which may be optionally viewed as a mutual fund, or a money market fund) all of whose assets will be invested in cash, commodities (such as gold), and high-quality (low credit-risk) securities denominated in various national currencies. DMT is a Laissez Faire City corporation.

The basic business of DMT will be the provision of private, anonymous accounts, which may be used by individuals and entities within the system to securely store anonymous capital or to make anonymous monetary transactions. That is, the DMT will be in the business of providing privacy, and doing so in a cryptographical framework which provides a more solid basis for customer anonymity than the traditional ones of (allegedly) tight-lipped bankers or (often-leaky) banking secrecy laws. In fact, much stricter provisions will be made to protect against spies, hackers, and misguided law enforcement agencies with subpoena or seizure powers. DMT will not know who its customers are, but will nevertheless be able to securely determine when asset transfers are authorized.

The DMT software system 1) will allow customers to securely access accounts and transfer money via the Internet; 2) will anonymize transactions and account creation within the DMT system, so that these activities cannot be observed by other DMT customers, by the DMT itself, or by outside parties; and yet, 3) will also provide a publicly observable accounting of DMT's asset holdings. DMT is an anonymous account system—not a digital cash system. But alliance with other (third-party) vendors will allow for the receipt or withdrawal of anonymous digital coins. (That is, digital cash systems can be layered on top of the anonymous account system.). Employment information for those who wish to participate in the creation of the DMT, or those who wish to participate as investors, will be given later in this article.

There are conceptually three distinct layers to the Digital Monetary Trust (DMT). These are:

Layer 1. A secure Internet webserver which acts as the public presentation of the bank, and which interacts with bank customers via their web browsers over a secure Internet channel. (Customers may optionally interact with the bank via anonymous email.)

Layer 2. Digital account software which is layered on top of the secure Internet channel. The software will include:
a. A customer module which generates and stores relevant customer numbers.
b. A trust module which generates the relevant trust numbers, and produces reports.
c. A data base for storing trust account information.

Layer 3. An interface with the normal, non-anonymous banking system ("outside system"). The anonymous digital bank (DMT) accepts payments from the outside system, and makes payments back into the outside system. Ordinary wire transfer payments into or out of the DMT system will be observable, although they will not be linkable to a DMT account-holder's identity. Deposits or withdrawals of anonymous digital coins will not be linkable to any outside bank account, much less to a DMT account. Payments (account transfers) taking place entirely within the anonymous system (DMT) will be neither observable nor linkable.

The three-layered framework will allow DMT to carry out its basic business, which is to provide privacy services to its customers. DMT will earn income from interest payments on its holdings of government and other high-credit quality securities (part of which may be returned to depositors, after extraction of custody and transaction fees). DMT will also earn transaction fees from transfers out of the anonymous system, and some fees from the transfers of funds between accounts.
The structure of the system here is important. Without remote, Internet-based banking access, DMT would have few customers. Without the elements of security and privacy, DMT would not be able to service its citizens in a manner consistent with its stated objectives. Without a convenient user interface, DMT would not be able to efficiently manage such a process, and customers would require a higher degree of motivation to use the available services. Without demonstrable anonymity, the DMT accounts would be just one more competitor in a vast sea of similar products.

Note that the profit mechanism here is the provision of privacy services in return for interest earned on asset holdings. We believe that providing anonymous assets is the market opportunity. It is the one service that no one is providing—outside the traditional framework of "secret" accounts, which are not in fact very secret. By holding assets and operating as a bank or trust, the DMT will have reserves with which to provide earnings. Note that if DMT captures only a small part of the privacy business now serviced by Swiss and other banks, it will gain a substantial asset base.

Others in the digital cash world are hoping to earn seigniorage via the traveler's check model, or by selling software. They face serious barriers to profitability—the main one being public acceptance of particular digital currencies. The only currency in this regard that has ever portended some market acceptance was (the now defunct) Digicash's half- anonymous "ecash". DMT can use the ecash coin format for its purposes, and provide additional privacy services to its customers, without having to worry whether the ecash activity is itself seriously profitable.

DMT as a Financial Intermediary
Before describing the technical and software aspects of the Digital Monetary Trust project, it is important to address the nature and operation of the institution as a financial intermediary.

For all practical purposes, DMT can be indifferently thought of as a money market fund, a mutual fund, or a bank. Like all of those, it will have assets and liabilities. The assets are the things the trust owns, while the liabilities are the trust's obligations to its account holders. The difference between total assets and total liabilities represents DMT shareholder's equity.

The initial assets will be holdings of gold and high-quality interest-bearing securities denominated in U.S. dollars, Euros, Japanese yen, and British pounds, as well as some residual cash (if only because of the lump sum nature of security purchases). The liabilities (trust accounts) are analogous to ordinary checking accounts. The DMT balance sheet will thus have the following initial form:
The Digital Monetary Trust Balance Sheet

Assets
CashGoldInterest-Bearing Securities
· U.S. dollar
· Japanese yen
· Euros
· British pound

Liabilitiies
Trust Accounts
Equity
Shareholder Equity

In order to create an anonymous account on behalf of a customer, the customer will be required to make payment from some ordinary bank, credit, or commodity account, or else deposit blinded coins. These payments must be made into ordinary bank or commodity accounts owned or controlled by DMT. The latter accounts will be termed DMT overt accounts.

Customer payment ---------------> DMT overt account

The overt accounts will be held in various banks or warehouses around the world, and will be denominated in various currencies or commodities. From the overt accounts, the money will be moved (perhaps after chaining) to other DMT-controlled security and commodity accounts. The latter accounts will be used to purchase securities, or to hold commodity assets.

DMT overt account--->[chain]--->DMT security or commodity account

Upon notification from the relevant bank that funds have been received from a customer into a DMT overt account, the DMT will issue a customer claim ticket in the Trust module. The customer will be able to access the Trust module via the Internet, and claim value in terms of DMT allowed currencies, including DMT rands.

The DMT rand will be a currency of denomination for Trust accounts at DMT, along with dollars, euros, British pounds, and Japanese yen. If a customer choses the rand as the currency unit of account for his/her deposit, money paid into the Trust will be allocated 20 percent for purchases of gold, and 20 percent each for purchases of high quality securities denominated in Japanese yen, euros, British pounds, and U.S. dollars. The exchange rate for the rand with respect to money paid into the Trust system will be determined by a daily price fix. The fixing rate of the rand with respect to the U.S. dollar will be the total U.S. dollar market value of the gold and securities that back the rand, divided by the number of rands issued at the time of the fix. (Thus, new money entering the system will be neutral with respect to the current value of the rand.)

A customer may, however, simply choose to hold accounts in dollars, yen, pounds, or euros. These accounts will be backed, respectively, by dollar-, yen-, pound-, or euro- denominated securities.

The Trust will charge transaction fees for money leaving the system (anticipated to be 1/2 of 1 percent per transaction). Money that exits the system will initially appear in a DMT security or commodity account, and from there will be transferred to a DMT overt account for credit to the owner. In addition, the Trust will earn interest on its assets denominated in high-quality securities. Some of this interest may be returned to trust account holders. If so, an account holder will be able to anonymously claim interest according to the rand or designated currency value of his account.

DMT account holders will be able to conduct ordinary business with other DMT account holders, and to make anonymous payments among themselves. Such business dealings are at the discretion of the parties concerned, and take place entirely outside the DMT system. But in a DMT monetary transaction between two parties, each of the two parties will be required to communicate with the Trust Module for an anonymous debit-credit transaction to be carried out. (This communication will not be simultaneous. The receiving party will supply the paying party a number to be associated with the payment or transfer. The receiving party will then anonymously collect the payment in a secure manner that is described later in Part 2 of this article series.)

One account will be debited and the other credited, but the overall liability of DMT will not change. (The total liability will be slightly reduced by the fee charged for such transactions, which is anticipated to be 1/10 of 1 percent per transaction.)
New money entering the system will be used to purchase gold and government or other low-risk securities. The net holdings of gold and high-quality securities will be public knowledge to account holders, with the relevant information as to total asset holdings displayed on a World Wide Web page. Making this information available to account holders will increase user and potential user confidence in the underlying soundness of the DMT operation. (Potential adversaries, such as FinCEN-type mafias, will have to open a DMT account in order to obtain the same information.)

The DMT will not accept physical (as opposed to electronic or digital or "wired") cash payments into its system. All transfers have to be made through the medium of a pre- existing banking relation. The requirement for a pre-existing banking relationship will help screen out funds from possibly questionable sources, such as the proceeds of fraud or theft or other activities that do not respect the fundamental property rights of individuals. Of course, any bank that accepts cash will be able to wire or transfer the funds to a DMT overt account. In addition, the DMT will accept direct deposits of gold into system, upon presentation of the proper documents.

In short, the DMT is a fund that will take in money and invest it in a predefined portfolio of commodities and high-quality securities. The total assets of the fund will be known to account holders. But shares (deposits, trust accounts) in the fund will be held anonymously, and moreover can be transferred anonymously between account holders. In its basic operation, it doesn't matter whether the DMT is considered a trust, a bank, a money-market fund, or a mutual fund.

The basic problems to be solved by the software system are DMT security, in that no value is to be given out without corresponding value paid into the system; customer privacy, in that a customer's account ownership and account transactions are not known to anyone except the customer himself; and public accounting, in that information on DMT asset holdings is always available to account holders.

Some of the computer system requirements implied by the DMT operation are therefore:
· bi-directional communication between the customer (or the customer's User Module) and the Trust (Trust Module) over a secure Internet link
· generation and management of customer (User Module) symmetric communication keys
· generation and mangement of Trust (Trust Module) symmetric and public/private keys
· generation and storage of account and collection numbers associated with deposits into DMT anonymous accounts
· return of bank digitally-signed account information to the collecting party
· generation and storage of numbers associated with withdrawals from DMT anonymous accounts
· return of bank digitally-signed modified account information to the paying party
· generation and storage of number associated with transfers between DMT anonymous accounts
· email interface to assist in the optional encryption and transfer of module-created numbers to the DMT via anonymous email or a nym server
· DMT asset accounting of invested funds (this will likely be handled by a separate system)
· DMT Web Page display of asset allocation
· currency module (for keeping track of exchange rates, including the par value of the rand, for currencies and commodities)
· menu-driven customer (User Module) interface
· menu-driven Trust (Trust Module) interface
More specific requirements will be discussed later

Computer System Objectives
The Provision of Anonymous Accounts. There are many reasons for anonymity. People with visible assets are inviting targets for theft or extortion; for lawsuits from customers, strangers, wives, husbands, girlfriends, boyfriends, family members, patients, and others seeking an easy and convenient way of enhancing their own financial well- being; for arbitrary assessments from governmental agencies which have budgetary problems or which have visions of expanded influence through a greater command of resources; for asset seizures based on inane and arbitrary laws such as those relating to minor drug possession (laws which allow parents' assets to be seized as a result of their children's activities); and for political pressures exerted by the implicit threat that if one does not toe the current political line, then one's personal belongings may become a government target.

In short, the possession of financial assets can limit freedom as well as enhance it. Anonymity reduces the negative impact on freedom that comes from building personal wealth. Hence there is a demand for anonymity from freedom-seeking individuals.

An anonymous account provides much more security than does, say, a Swiss numbered account. A Swiss numbered account is not anonymous. The identity of a numbered account owner is not generally available within the Swiss bank, but is nevertheless known to a small number of upper level managers. A Swiss numbered account reduces the number of individuals who have access to information in the account, but it does not reduce this number to zero. Moreover, little consideration is given to the security of transactions made with such an account.

Anonymity provides protection for the bank as well as the customer. Bank employees cannot be placed under legal, economic, or physical pressure to reveal what they know ("rubber-hose cryptanalysis"), because they will not know anything. Bank employees cannot be bribed to give out information for the same reason. If bank records are seized, the only data that can be gained is information that is already public. Hence there will be no reason to take such action in the first place. Neither will any customer be placed in the position of worrying that information about his activities may be given to others: the bank will not possess such information.

In short, there is a market demand for completely anonymous accounts, and this demand is not being met by current purveyors of digital cash systems. Anonymity is a product for which the current demand clearly exceeds the available supply: hence the provision of anonymity should earn rates of return well above average.

Is anonymity practical? All current systems we have looked at fail to address this issue. At best such systems are interested in the anonymity of digital coins, not account holders. By contrast, the system presented here concentrates on account-holder anonymity. But it also provides a mechanism for transfers between anonymous accounts, which may take place for whatever reason. Possible business deals between account holders are not the business of DMT. Hence the DMT does not collect information on them—and does not guarantee payment by one party to the other, in the manner of the credit-card model. Rather, what DMT will do is make authorized, anonymous transfers between accounts.

Because account balances are altered as needed, the total number of accounts will be a simple multiple of the number of people in the system. (It is assumed that individuals may desire several accounts.) Hence the size of the database should not create on-line waits, unlike digital coin systems which attempt to anonymize small-value, everyday payments.

This point cannot be emphasized enough. Money serves two principal functions. It is a medium of exchange, and it is a store of value. A few digital cash systems seek to anonymize money in its role as a medium of exchange. The DMT project is primarily a project to anonymize money in its store of value function.
Current and proposed digital cash systems that anonymize coins do not provide anonymity in asset holdings: but only anonymity in payments.

Moreover, the biggest market opportunity, in our view, is not in the minor seignorage recapture that can be obtained by issuing one's own coins (and facing the difficulties of competing with ordinary government-sponsored cash), but in providing a haven for flight capital. Swiss banks have made a living from this for years. But Swiss banks are as now leaky as a sieve.

Anonymity is the market opportunity. The provision of anonymity will provide high returns. Digital cash itself may not ever provide significant returns. But the provision of anonymous accounts will allow DMT to earn significant interest on its asset holdings.

Most individuals with dollars to hide want secure dollars. They are not interested in seeing their well-understood, spendable dollars disappear into what they may consider "flaky digital cash." On the other hand, if DMT is in the business of anonymity, then it would be nice to make available transactional anonymity in small, everyday payments also.

We have had discussions with projected suppliers of digital cash software, and reached the following conclusion:
DMT can issue and accept anonymous digital coins in connection with its anonymous digital accounts.
Keep in mind, however, that ordinary business transactions can be conducted using DMT accounts. One party pays from his DMT account, and the second party collects the payment into his (possibly newly created) DMT account. This will be more practical for large payments than for the small everyday payments envisioned by digital cash systems.

User Interface Via the Internet. The DMT software will involve two principal parts. The first part will be a Trust Module that operates in connection with a web server to control the overall DMT operation. The second is a User Module that operates in connection with a generic web browser for access to trust services. The reasons for the latter are now explained.

Mobility is important to the lifestyle of a Netizen. The demand for mobile banking services can be met by providing access to DMT from anywhere in the world Internet connections are available.

Of equal importance, Internet access has become a manditory part of any future banking operation because of cost factors. A survey of European and American banks by Booze, Allen & Hamilton found that the cost of the average payment transaction on the Internet was 13 cents or less, compared with 26 cents for a personal computer banking service using the bank's own software, 54 cents for a telephone banking service, and $1.08 per transaction for a bank branch.

Where the DMT itself is concerned, political factors are also important. The DMT computer (computers) will be located in geographical jurisdictions where it can carry on its business without political interference. The key to a profitable DMT operation is therefore not neighborhood banking but rather telecommunications access. As time progresses, political factors will become increasingly important to the DMT operation for other reasons, in particular the possible erroneous targeting of the DMT for "money laundering" (the usual Statist rallying cry as a frivolous excuse to attack financial privacy).

There are essentially three approaches to Internet banking software. The fat client model relies on the customer having dedicated banking software on his PC, like Intuit's Quicken software. Data and business logic is stored on the customer's PC. But this type of model has traditionally had little flexibility, and is not easily integrated with other Internet applications. The thin-client-stateless model only expects the customer to have generic software, such as a web browser, and the interface relies on a generic Internet language (such as the World Wide Web's HTML). This is sufficient for supplying acount information or transferring funds, but it doesn't allow the customer to add much value by processing the data in any way. It doesn't meet specific security requirements.

The thin-client-stateful model represents the probable future direction of most Internet banking. This model combines a generic interface like a web browser with PC resident software. Here one might think of, for example, a plug-in to Netscape which allowed the customer to set up her own parameters, DMT-related encryption keys, and whatnot. Such a plug-in might allow security parameters of the transactions process to be controlled without unduly restricting customer convenience.

Be this as it may, the DMT software application proposed here is essentially a stand- alone Java application (not an applet), for reasons made clear later. Despite claims to the contrary, a browser with Netscape plug-ins or Microsoft ActiveX components is not really very thin. Nor are the plug-ins portable in the same way as a stand-alone Java application is. By contrast, the DMT software envisioned here will operate much like the thin-client stateful model. The DMT User Module can be thought of as a stripped down web browser, number processor, number storage module, and email interface unit that handles just a few MIME-types, and enacts the SSL/TLS protocol.

The User Module and the numbers stored therein will give the customer Internet access to his account or accounts. Only the customer will know the identity of his own anonymous accounts and the balances in those accounts. (The Trust Module will always know its total liabilities to account holders, but will never know who these account holders are.)

Asset Accounting and Banking Security. The Trust Module will allow the transfer of money into and out of anonymous accounts, and the transfer of money between anonymous accounts. Instead of tracking coins, the system would keep track of balances, and may (depending on the protocol chosen by the customer) create new accounts with new account numbers as these balances are changed. Transfers between anonymous accounts can be done by anonymous email or (more conveniently) by User Module on- line requests to the Trust Module.

The bank itself will know nothing about the accounts held by customers, except for transfers into or out of the system. (When money is transferred into the system, the bank may know the identity of the bank account from which the money came, because the bank may receive the funds by wire transfer. When money is transferred out of the system, the bank will have to know the account to which funds are to be paid—payment of digital coins excepted. Note, however, that there may be no observable connection between the identity of the person transferring money in, and the customer who collects it.) The bank will always know the sum total of individual account obligations. Internal DMT transfers cannot change the total. In or out transfers can change the total, subject to double-entry verification of funds received/paid.

The bank asset accounting software (which may be separate from the Trust module) will allow for the convenient updating of asset holdings and exchange rates. Any changes will be automatically reflected in the publicly displayed screens on asset holdings and exchange rates.

Interface With Existing Banking Systems. Interface with existing banking systems is simple. Money transferred into the DMT system will come from ordinary bank accounts, and will be paid into ordinary bank accounts owned by DMT. The balance accounting in the latter case will be done by the banks of which DMT is a customer.

The key is to provide a mechanism which allows these funds to be anonymously deposited into anonymous accounts.

The funds in ordinary DMT bank accounts will be used to purchase commodities and high-quality securities. Accounting for these assets is conceptually separate from the operation of the anonymous deposit system. Bank transfers and securities and commodities purchases will be entered into the bank asset accounting system as they occur, both for accounting verification and for public display. (In addition to accurate accounting, a principal concern in this part of the DMT operation will be to preserve the value of the DMT's assets from blockage, default, repudiation, or seizure. This, however, is separate from the software operation.)

User Convenience. The software will be simple to use in that it will be menu-driven. Both the User Module and Trust Module will feature point-and-click functionality.
The customer will be able to access his account information at any time, because the information relevant to his account(s) will reside in the User Module on the customer's computer. Only if the customer wishes to change his account—by making transfers to another customer, by adding to his account, or by transferring money out of the account—will it be necessary to contact DMT.

The customer can also use the User Module software to view DMT asset allocation and current exchange rates.

The User Module will handle all the necessary cryptography needed to interact with the DMT system, and provide convenient export mechanisms for those who prefer to conduct transactions via anonymous email.

Protection Against Hostile Intruders. The environment must be considered hostile at all times for certain aspects of the DMT's operation. This includes the possibility someone will casually acquire or tamper with the DMT's secret keys (for public key cryptography), or corrupt, tamper with, or maliciously monitor the execution of the operational code for performing certain cryptographical operations. Such tampering could come from outside intruders or possibly even DMT employees.

One aspect of addressing these problems is to use a secure cryptographic coprocessor for storage of critical keys and cryptographical variables (such as group generators and moduli) and for performing other critical cryptographical operations (such as modular exponentiation and calculation of hash values). In particular, it is intended that no customer "account number" will ever be observable in an unencrypted form by any DMT employee. Such a customer account number, as will be seen in the description of the banking protocols detailed later, is a public key (although not attacted to an identity known to the DMT), and will be created by and known to the customer. This number will be used by the bank, but does not need to appear in an unencrypted form outside the secure coprocessor.

We are well aware that "secure" coprocessors do not provide any ultimate security. We believe, however, they can be highly useful in keeping bank employees ignorant of transaction information that could potentially be linked to an account holder's identity. This in itself provides a large measure of bank and customer security.
Another security risk is the possible seizure of the bank's records or database. Such a seizure must yield no useful information about DMT's customers to the seizing party. How this will be accomplished in explained later in the banking protocols.
Digital Cash Extensions. As mentioned, the DMT is an anonymous account system, not a blinded digital coin system. However, using third party software, the DMT intends to allow digital coin transfers into, or out of, anonymous accounts. Moreover, nothing precludes DMT becoming a digital coin issuer itself at some point. The decision to do so will depend on an evaluation that says this makes sense in terms of DMT's core business.

The digital cash extention will allow DMT to take advantage of markets created by others, but ones that we do not feel will in and of themselves be very profitable.