Sunday, September 19, 2021

Apakah layak Industri Baterai ?

 




Industri mobil listrik itu nilai tambahnya ada pada baterai. Nilai tambah baterai itu ada pada tekhnologinya, bukan hanya pada materialnya. Ada empat jenis baterai yang bersaing untuk menetapkan standar industri kendaraan listrik: PbA (asam timbal); baterai ion lithium; NiMH (nickel metal hydride) dan sodium, juga dikenal sebagai ZEBRA, Zero Emission Battery Research Activity, sepenuhnya dapat didaur ulang dan cenderung lebih murah daripada baterai lithium. 


Baterai memiliki daya tahan yang berbeda-beda sesuai dengan teknologi yang digunakan, jenis penggunaan dan kondisi penyimpanannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan baterai adalah suhu ekstrim, kelebihan pengisian ulang dan pengosongan baterai penuh. Pabrikan memperkirakan masa pakai baterai yang berguna pada 150.000km dan daya tahan 5 tahun. Baterai saat ini menyumbang sekitar 40% dari berat kendaraan listrik dan berkotribusi sekitar 50% dari harga akhir.


Dalam industri Mobil listrik baterai ( EVBs), membangun pabrik baterai teritegrasi sejak dari sel, modul dan paket sangat mahal. Resiko besar. Makanya diperlukan supply chain global ke pabrik EVBs dalam  bentuk terpisah,  yang terdiri dari  Sel baterai, Modul dan Paket. Ini akan lebih efisien bagi Industri EVBs. Tentu para supply chain membuat Sel baterai, modul dan paket sesuai dengan design Industri EVBs. Pada giirannya nilai tambah itu ada pada Industri EVBs. Tentu sepadan dengan biaya riset yang mahal. 


Di Indonesia sepertinya dalam tiga tahun kedepan sulit untuk mendirikan Industri EVBs. Namun political Will pemerintah sudah ada. Tahun 2015 Presiden Joko Widodo sudah memberi sinyal bahwa EVBs sebagai alat transportasi masa depan di Tanah Air. Presiden menghendaki mobil listrik dapat dikembangkan sendiri di Indonesia oleh industri otomotif. Lompatan teknologi otromotif ini mendapat sambutan positif dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO). Sejak 2015 tidak terdengar anggota GAIKINDO mau bangun mobil Listrik sendiri. 


Kendalanya adalah dari pemerintah sendiri tidak satu visi terhadap rencana kemandirian industri EVBs. Menteri ESDM lebih kepada hilirisasi tambang Nikel, yaitu membangun industri sel baterai. Sementara Menteri Perindustrian belum ada rencana konkrit untuk terbangunnya EVBs secara mandiri. Dukungan stakeholder dari anggota GAIKINDO belum berani memulai. Karena kita belum siap dari sisi regulasi untuk mendukung pemasaran EVBs yang membutuhkan business model dengan dukungan insentif pajak murah, asuransi, kompensasi pengurangan karbon, ketersediaan Listrik untuk stasiun charger, R&D.  Tanpa itu, sulit bagi Industri EVBs bisa  mandiri, apalagi bisa mencetak laba. Karena biaya EVBs masih lebih mahal dibandingkan kendaraan konvesional ICE (Integrated Concept Engineering). 


Bagaimana dengan hilirisasi nikel ? 

Presiden Joko Widodo meresmikan groundbreaking pabrik baterai mobil listrik PT HKML Battery Indonesia di Karawang Jawa Barat. Proyek tersebut memiliki nilai investasi sebesar US$1,1 miliar atau setara Rp15,6 triliun. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan pabrik tersebut akan menjadi yang pertama bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Apa yang saya tahu tentang pabrik ini adalah produksi sel baterai saja. Jadi pabrik ini bagian dari supplay chain Industri EVBs. Nilai tambahnya tetap ada pada mobil listrik. 


Sebagai strategi hilirisasi tambang, masih dipertanyakan ekonomisnya. Satu baterai membutuhkan 100 kg Nikel.  Dalam 1 ton ore dengan kadar 2%, hanya ada 20 kg Nikel.  Jadi 1 baterai membutuhkan 5 ton ore. Kalau 1 ton ore harganya $40 maka total biaya nikel per baterai adalah $ 200. Harga jual baterai ke pabrik EVBs sebesar USD 450. Untung cuma USD 250. Sementara setelah baterai dipasang dengan modul dan paket, pada EV, harga baterai dihitung oleh pabrik EVBs USD 12,000. Tentu yang nikmati adalah Hyundai Industri EVBs di Korea. Sementara konsorsium BUMN di pabrik baterai Hyundai di Indonesia, hanya dapat keuntungan dari produksi sel baterai saja. Seharusnya Indonesia smart terhadap Hyundai, yaitu kita minta share di Industri EVBs nya di Korea. Karena sumber daya dan potensi pasar kita punya. Dari skema ini kita bisa belajar soal tekhnologi membuat modul dan paket baterai, termasuk design EVBs untuk kita produksi sendiri.


Apakah benar potensi bisnis baterai itu besar? Jawabnya jelas sangat besar. Namun bukan berarti mudah. Tidak perlu buru buru euforia dangan data potensi sumber daya alam yang kita punya sebagai bahan baku baterai. Misal baterai yaitu Lithium-ion (Li-ion) dan Nickel Metal Hydride (NiMH). Baterei Li-ion menggunakan unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda, sementara itu NiMH memanfaatkan nikel. Ada empat hal yang harus kita pahami tentang peluang baterai mobil listrik ini. 


Pertama,  bahan baku baterai adalah nikel, kobalt, dan lithium. Yang jadi masalah adalah menambang kobalt itu tidak mudah. Maklum ia merupakan hasil sampingan dari Tambang nikel. Kalau ditambang khusus ya  tidak layak secara investasi. Mengapa ? Tidak ada mekanisme dimana pasokan dapat bereaksi terhadap permintaan dan harga. Kalaupun kita ada nikel, hanya 10% dari total produksi untuk baterai. Sisanya diserap untuk stainless steel. Itu karena harga jual nikel masih lebih menguntungkan untuk stainless Steel daripada buat baterai. 


Kedua,  nikel harus melewati proses mengubah nickel pig iron (NPI ) menjadi nickel matte, agar dapat digunakan untuk membuat bahan kimia untuk baterai. Dan ini yang produksi adalah china. Produksi Tsingshan Holding Group yang di Indonesia itu semua diekspor ke china dan pabrik baterai di Indonesia harus impor dari china. Atau pabrik baterai bangun sendiri smelter untuk nickel matte. Jelas engga ada pabrik baterai mau invest smelter khusus nickel matte. Karena resiko besar dan tingkat return rendah sekali. Lain halnya bagi Smelter. Produksi nickel matte hanya 10% saja dari total produksi barang jadi nickel. Makanya feasible.


Ketiga, Berdasarkan informasi dari Badan Geologi, Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa belum menemukan cebakan litium di Indonesia, meskipun hingga saat ini ada indikasi mineralnya berasosiasi dengan batuan granit pegmatit. Untuk mengolahnya tidak mudah. Karena butuh Tekhnlogi dan energi listrik besar untuk memisahkannya dari mineral lain.  Sementara Mineral  yang mengandung lithium hanya 40 g/ton. Jelas tidak efisien ditambang di Indonesia. Kecuali di Afrika dan china, AS yang mineralnya bercampur dengan tanah dan kapur.  Jadi tetap secara ekonomis kita harus impor lithium carbonate equivalent. Harganya di pasar USD 12,000/ ton.


Keempat,  tahun 2020, Seorang eksekutif perusahaan Contemporary Amperex Technology Co Ltd  ( CATL) mengatakan bahwa perusahaan sedang mengembangkan baterai kendaraan listrik (EV) jenis baru yang tidak mengandung nikel atau kobalt.  Tahun 2022 sudah bisa produksi baterai tanpa nikel. Ini menjawab kekawatiran Tesla yang mulai stress karena kurangnya pasokan kobalt. Artinya potensi nickel kita tidak lagi jadi Andalan untuk terbangunnya industri baterai berkelanjutan. Walau pemerintah buat aturan dalam dua tahun boleh impor bahan baku baterai, namun setelah  2 tahun lagi kita tetap harus impor bahan baku baterai. 


Kesimpulan

Mengapa Hyundai membangun pabrik baterai di Indonesia ? Bukan karena potensi SDA kita tetapi disamping sebagai supply chain global industri EVBs, juga karena prospek pasar konsumen mobil listrik di Indonesia dan faktor efisiensi logistik bahan baku litium dari Australia. Setelah pabrik baterai dibangun, mereka akan mudah dan siap bangun pabrik EVBs Di Indonesia dan menjualnya dalam negeri. Cerita lama berulang. Kita hanya jadi konsumen saja tanpa ada kemandirian. Sama dengan Industri ICE puluhan tahun tidak mandiri.


No comments: