Sunday, November 8, 2009

Standby Letters of Credit ?



A standby letter of credit is a bank instrument regulated by the Uniform Customs and Practice International Chamber of Commerce (ICC), Publication No. 500, International Standby Practices ISP98, ICC Publication No. 590 and the Uniform Commercial Code (UCC). The ICC 500 and ICC 590 are the rules set and the UCC is the law.

The standby letter of credit is quite flexible. ISP98 offers the following descriptive list, however, keep in mind that this is only a convenience list and can be expanded as needed depending on the specific functionality or application required.

Standby Performance
Prepaid Prepayment
Standby for Bid Guarantee / Tender Bond
Counter Standby
Financial Alert
Standby Pay Direct
Insurance Alert
Commercial Standby

The standby letter of credit is conditioned on default or non-performance by the applicant, the party having the credit issued by his bank to the recipient. These instruments are, by themselves, non-negotiable and the obligations they represent are not easily transferable. ICC 500 Article 48 b, states "Credit is transferable only if expressly designated as" transferable "by the issuing bank" and, c, "The Sending Bank is under no obligation to make such a transfer except to the extent and in a manner expressly agreed by the bank. . "

ISP98 Rule 6.02 states "a. Standby is not transferable unless stated so, b. A standby stating that it is transferable without further provisions means that the right to withdraw: i. can be transferred as a whole more than once, ii. partially transferable, and iii. cannot be transferred unless the issuer (including confirmer) or someone else specifically designated on standby agrees and affects the transfer requested by the recipient.

Like the bank guarantees described above, fraudsters will often sell standby letters of credit to uninformed parties for a small percentage of their face value. It has never been disclosed that the credit is no longer valid because the applicant has fulfilled his obligations to the recipient. Another facet of the fraud scheme is offering investment opportunities through standby letters of credit and independent bank guarantees. Bear in mind that these instruments are out of date and in themselves non-negotiable, and, furthermore, the obligations they represent are not transferable immediately.


Fraudsters will claim that this instrument is discounted, has a coupon attached and pays interest. None of this is true! These instruments cannot be bought, sold or traded and there is absolutely no secondary market in which they can be traded. Any investment program that claims investing in a discount standby letter of credit is a scam.

Tuesday, October 27, 2009

Kebersamaan Bisnis lebih bernilai daripada perkumpulan Agama.



Lebih dari sepuluh tahun Rukmana tidak pernah pulang kampung . Ada yang berbeda dirasakannya ketika menginjakan kaki di kampungnya. Dia tidak lagi melihat tawa diatara para penduduk. Desa ini memang jauh sekali dari kabupaten dan sulit terjangkau karena letaknya terisolasi. Apa yang bisa diharapkan dari desa ini. Sawah tadah hujan tak dapat diharapkan memberikan hasil berlebih. Hasil kebunpun tidak banyak diharapkan karena tanah tak subur. Dulu, hampir sebagian besar penduduk desa yang muda muda termasuk Rukmana pergi ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Namun kini karena kotapun tidak lagi tempat yang nyaman bagi migran maka banyak diatara mereka kembali kedesa. Ketika para pria kembali ke desa, para wanitapun pergi meninggalkan kampung. Mereka lebih diperlukan kota untuk mengisi pekerjaan pemuas nafsu pria berduit atau ada juga terpaksa menjadi jongos dirumah rumah orang kota. Bahkan ada yang menjadi jongos di negeri orang. Walau semua mengetahui bahwa wanita adalah kaum ibu yang harus dilindungi namun ketika para pria gagal menjadi pelindung maka panggilan jiwa para ibupun bangkit untuk menjadi lebah pekerja. Cerita duka dan nestapa bagi sebagian para wanita yang bekerja, hanya ditelan getir oleh para pria. Mereka kalah dan terpaksa membiarkan semua terjadi.

Inilah yang membuat Rukmana merasa sedih. Merasa telah berdosa dengan keberhasilannya sebagai pengusaha dikota bila tak bisa berbuat sesuatu bagi penduduk kampung halamannya ini, Dia harus berbuat.

Dikantor lurah.

” Benarkah itu , Den ? ” Sang lurah terkejut ketika Rukmana menyampaikan gagasannya membangun desa ini. Tentu yang terbayang adalah uang banyak akan mengalir kekas desa.

” Berapa aden akan membantu ? ”

” Saya tidak akan memberikan uang kepada penduduk ” jawab Rukmana dengan tegas. Sang Lurah , mengerutkan kening. ” Saya akan memberikan mereka mesin uang sehingga mereka bisa mencetak berapa yang mereka mau ”

” Wah, den. Jangan becanda. Itu kriminal. Walau kami di desa ini miskin tapi tidak mungkin kami akan melawan hukum. ” Jawab tegas dari sang lurah.

” Bukan begitu maksud saya , Pak. Saya ingin memberikan lapangan usaha bagi penduduk. Bila mereka bekerja tentu mereka akan mendapatkan uang. Itulah yang saya maksud.” Jawab Rukmana dengan senyum.

” Oh....” Lurah itu tersenyum. ” Kira kira aden mau bikin usaha apa ? Pabrik ? Perkebunan ? ”

” Saya tidak akan membuat apapun. Penduduklah yang membuka usaha. ”

” Apa yang bisa mereka lakukan ? Hidup saja susah. Tanah di desa ini tidak cocok untuk usaha tani. ”

” Kalau begitu apa yang bisa mereka lakukan hingga mereka bisa bertahan sampai sekarang? ” Tanya Rukmana

” Beternak kambing. Hanya itu yang bisa mereka lakukan. Sebagian hanya menunggu kiriman uang dari anak perempuannya yang bekerja di kota. ”

’ Baik !. Peternakan. Itulah yang akan kita kembangkan. ” Kata Rukmana mantap.

" Jadi bagaiman caranya ” Tanya lurah bingung.

" Beri saya waktu untuk berpikir bagaimana caranya. "
Setelah seminggu, Rukmana datang lagi ke lurah. Dia sudah siap dengan gagasannya.

" Bagaimana Den, rencananya ? Tanya lurah itu.

” Kita harus membentuk tiga kelompok penduduk desa. Kelompok Pertama adalah peternak kambing. Saya akan memberikan tiga ekor kambing kepada setiap satu keluarga. Kedua, Peternak sapi perah. Yang masing masing keluarga akan mendapatkan satu ekor sapi perah. Ketiga adalah peternakan ayam petelur, yang akan mendapatkan 50 ekor ayam petelur. Inilah modal awal yang akan saya keluarkan kepada mereka. ”

” Apakah itu pemberian modal Cuma Cuma. ?

“ Tidak !. Mereka harus membayarnya kembali dengan hasil produksi mereka. Saya akan menjamin pembelian hasil produksi mereka. Untuk itu saya akan membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat yang khusus membina desa ini. Lembaga inilah yang bertugas memonitor dan membina usaha mereka. Agar usaha penduduk ini tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat maka kita membuat aturan untuk saling berbagi diantara mereka. Pemilik sapi perah harus membagi susu setiap minggu 4 liter kepada tetangganya yang beternak ayam. Dan peternak ayam harus membagi 10 Kg telur kepada tetangganya yang beternak sapi. Nah bagi peternak kambing harus menyerahkan seekor kambing setiap tahun untuk pebaikan jalan desa.”

Kepala Desa itu tertegun dengan penjelasan itu.

” Kami aparat desa akan berkerja keras untuk menyadarkan masyarakat desa untuk bangkit dengan kesempatan yang aden berikan ini. Kami sudah capek dengan berbagai janji janji aparat pemerintah untuk membantu tapi tidak pernah ada kenyataan ” Kata lurah itu. Sambil memeluk Rukmana.

” Betul sekali, Pak. Tapi kita tidak boleh terus menyalahkan pemerintah. Mungkin bapak bapak yang ada diatas itu sangat sibuk berpikir hingga lupa berbuat. Ya, sudahlah, Kasih kesempatan mereka terus berpikir , dan kita terus saja berbuat apa saja untuk membina masyarakat agar mandiri. ”

Tak terasa sudah lima tahun berlangsung sejak pembicaran antara Lurah dan Rukmana. Kini keadaan desa yang dulu muram telah menjadi desa yang bercahaya. Wajah muram telah tergantikan dengan keceriaan. Para wanita yang tadinya bekerja di kota sebagai PSK, sebagai jongos, telah kembali kedesa membantu memberikan semangat bagi para pria menjalankan usaha keluarga. Secara tidak langsung usaha Rukmana telah berhasil mengurangi penyakit sosial di kota dan catatan buram perbudakan manusia. 

Setiap minggu diadakan pertemuan di Balai desa. Pertemuan ini merupakan ajang komunikasi antara penduduk dengan petugas LSM yang dipimpin Rukmana. Setiap sehabis sholat Isya, diadakan ceramah agama. Moshola yang tadinya sepi sekarang mulai ramai. Kegiatan masjid tidak hanya diisi oleh kegiatan ritual agama tetapi juga untuk kegiatan sosial ekonomi penduduk. Mesjidpun menjadi hidup.

Rukmana sudah jarang datang ke desa. Dia lebih banyak menghabiskan waktu sibuknya di kota mengelola usahanya. LSMnya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan derap pembangunan desa. Dia merasa bersukur bahwa uang yang dulu ditanamnya untuk membantu masyarakat desa sebesar Rp. 5 miliar telah menjadi Lembaga pengelola Dana desa dalam bentuk BMK. Sementara dia tahu bahwa banyak temannya yang menghabiskan uang puluhan miliar untuk hal yang tak berguna seperti membeli rumah mewah, apartment mewah, mobil mewah. Semuanya akan larut ditelan waktu.

Satu saat , ” Pak, Ada petugas dari Kota datang kedesa kita. Tolong bapak datang kemari. Kami bingung karena mereka minta agar usaha kami ditutup. Masyakarat desa mulai marah dan menentang ” Rukmana terkejut mendengar suara dari telp genggamnya.. Tadi yang telp adalah lurah. Ada apa gerangan ? Pikirnya. Ditengah kebingungan tersebut , dia putuskan untuk segera datang kedesa.

” Pak,. Saya segera ke desa sekarang. Tolong jangan ada kekerasan. Kumpulkan penduduk desa di Balai Desa dengan tertip. . ” Pintanya.

Ketika dia sampai di desa. Hari menjelang sore. Para penduduk desa telah memenuhi Balai Desa. Rukmana mendatangi kantor Lurah. Di dalam telah hadir Lurah dan Petugas dari Kecamatan dan Kabupaten. Mereka dari Petugas Dinas Peternakan dan Dinas kesehatan. Seragam mereka memang sangat berwibawa. Apalagi kedatangan mereka disertai dengan kawalan petugas Polisi Pamongpraja.

” Pak Rukmana... Untunglah anda datang dengan cepat. Penduduk desa tidak mau mendengar apapun dari kami. Mereka hanya mau mendengar dari Bapak. Mereka hanya mau menuruti kata kata bapak., " Kata petugas tersebut.

" Apa yang dapat saya lakukan "

" Tolong bapak jelaskan bahwa usaha peternakan mereka itu ilegal. Karena tidak dilengkapi izin dari instansi kami. Kami harus tegas menegakan aturan. Mereka harus menutup kegiatan petenakan ini sampai ada izin dari kami. ” Kata petugas Dinas Peternakan. Rukmana hanya tersenyum mendengarkan kata demi kata dari Petugas itu.

” Dan lagi Pak. Usaha mereka ini sangat beresiko terjangkitnya wabah Flue burung yang mematikan itu. ” Sela petugas Dinas Kesehatan.

” Juga , usaha peternakan ini sangat menggangu kesehatan lingkungan. ” Kata petugas Pengawas Lingungan Hidup.

” Baiklah, Pak. ” Kata Rukmana ” Yang pasti saya tidak pernah memaksakan kehendak pada mereka. Apalagi memprovokasi mereka untuk melawan kehendak atau aturan pemerintah. Selama ini saya hanyalah mendukung apa yang baik untuk mereka. Kalau sekarang mereka patuh pada saya , itu hanya karena mereka mengetahui program yang saya laksanakan memberikan manfaat bagi hidup mereka. Jadi ada baiknya kita bersama sama ikut bicara dengan mereka . Silahkan bapak bapak ikut dalam pertemuan itu dan duduk di samping saya.” kata Rukmana ketika memasuki Balai Desa. Para penduduk yang hadir nampak bertepuk tangan ketika Rukmana masuk kedalam Balai Desa itu. Tepukan itu baru berhenti ketika lambain tangannya mengisyaratkan untuk tenang. Para hadirin semua diam dengan seksama mendengarkan setiap kata demi kata yang dkeluar dari Rukmana.

” Hadirin sekalian. Menurut pemerintah bahwa usaha yang kita jalankan ini adalah tidak syah dan karenanya harus ditutup sementara sampai ada izin dari pemerintah. Jadi saya harap hadirin sekali dapat menerima ini sebagai suatu kenyataan dan tolong...jangan melawan karena kita harus menjadi warga negara yang baik. Kita harus percaya dengan segala kebijakan dari pemerintah. ” Pandangan Rukmana dilepaskan kepada penduduk yang hadir. Mereka saling berpandangan dan kemudian mereka tertunduk. Tanpa suara. Keadaan ini membuat Rukmana salah tingkah dan merasa berdosa karena gagal melindungi mereka.

” Baiklah. ” seru Rukmana . ” Mungkin ada yang hendak ditanyakan kepada petugas dari kabupaten ini .Silahkan. ” Kata Rukmana. Para hadirin diam sejenak. Kemudian, salah satu hadirin menujukan tangan. ” Silahkan. ” Kata rukmana memberikan izin

” Pak. Kami siap menutup usaha kami. Tapi ..." kata katanya terhenti sambil menatap kearah petugas di samping Rukmana. " Bila usaha sapi perah saya ditutup apakah bapak bapak dari kabupaten ini bisa memberi saya 10 Kg telur setiap minggu. Sebab , selama ini saya mendapatkan itu dari tetangga saya. Karena saya juga memberi dia 4 liter susu setiap minggunya.” Pertanyaan ini dicatat oleh perugas yang ada disamping Rukmana.

” Apakah ada yang lain yang ingin bertanya ?

” Saya pak. ” teriak seseorang yang duduk dibelakang. ” Kami siap menutup usaha ternak kambing kami !. Tapi baiknya bapak bapak mengetahui satu hal. Bahwa dulu jalan desa ini sangat buruk hingga kami terisolasi dari dunia luar. Berkat sumbangan dana dari peternak kambing telah bisa memperbaiki jalan desa hingga nyaman dilewati oleh mobil. Bapak bapakpun tidak mengalami kesulitan datang kemari dengan mobil bagus. Padahal sebelumnya tidak ada petugas dari kota yang mau datang karena jalanan rusak. Nah, bila usaha ternak kambing kami ditutup, apakah bapak bapak dari kabupaten dapat memberi kambing sebanyak biaya merawat jalan desa ini ? “

Mendengar pertanyaan lugu dari penduduk desa ini, petugas Dinas Peternakan dari kabupaten yang duduk di samping Rukmana tak bisa berkutik. Dia hanya diam tanpa berani menatap langsung hadirin yang ada di hadapannya. Tapi Petugas Dinas Kesehatan dan Lingkungan menjawab ” Usaha peternakan ini akan mencemari lingkungan desa dengan bau yang tidak sedap dan akan mengakibatkan kehidupan masyarakat desa tidak sehat. Pemerintah mengkawatirkan terjadinya wabah flu burung dan penyakit lainnya. Itulah dasar pertimbangan kami untuk menertipkan usaha pertenakan ini. ”

” Aneh ya Pak ” teriak salah seorang hadirin menyela ” Kami yang setiap hari makan dan tidur di desa ini tidak merasakan aroma bau apapuni. Kok bapak yang jauhnya 100 Km dari desa ini bisa membauinya. Dan lagi setiap kami saling membantu membersihkan kandang. Yang punya kandang ayam akan dibantu oleh tetangga yang punya kandang sapi dan yang punya kandang sapi akan dibantu oleh yang punya kandang ayam. Karena hasil sapi perah akan berbagi kepada pemilik kandang ayam,begitupula sebaliknya, Diantara kami saling berbagi” .

” Kami hanya ingin menertipkan. Itu saja ” kata petugas kesehatan dan lingkungan.

” Dulu, waktu kami tidak punya usaha ternak dan hidup serba miskin, kenapa bapak bapak tidak tertipkan hidup kami. Mengapa baru sekarang setelah kami hidup nyaman harus ditertipkan ? Mengapa ? ” Kata salah satu hadirin sambil berdiri dan menatap semua yang hadir.

” Ya mengapa !! Teriakan serentak para hadirin. Suasana menjadi gaduh. Para petugas itu saling berpandangan. Dan akirnya berdiri. ” Maaf Pak Rukmana. Kelihatannya kami memang tidak diperlukan ada disini. ” Katanya kepada rukmana. Yang kemudian berjalan cepat keluar Balai Desa menuju tempat parkir kendaraannya. Rukmana berusaha mengejar petugas itu. Para hadirin yang ada di dalam balai desa berhamburan keluar.

" Maafkan mereka Pak. " Kata Rukmana

" Bapak dengar sendiri, kan. Mereka melawan kami. Ini sudah pelecehan negara. " Kata petugas ketertiban. "

" Tolong mengerti ,pak. Tidak ada satupun kata kata mereka melawan. Mereka sangat setia dengan aturan pemerintah. Mereka hanya butuh jawaban dan solusi dari bapak bapak. Karena ini menyangkut nasip mereka. Masa depan mereka . " Rukmana mencoba meyakinkan petugas itu. Mereka para petugas berseragam itu saling berpandangan. Seakan terkejut dengan ungkapan Rukmana.

" Anda benar !. Kami memang dalam posisi sulit. Aturan memang harus ditegakkan tapi apa artinya bila kami hanya pandai mengatur ...." Kata petugas itu.

Para penduduk desa melihat dari kejauhan ada percakapan serius antara Rukmana dengan petugas petugas itu. Kemudian Petugas itu masuk ke dalam kendaraan dan berlalu Rukmana hanya termenung memandang kepergian petugas dari kabupaten itu. Ketika dia berbalik kearah balai desa, nampak penduduk desa memenuhi halaman luar Balai Desa. Mereka menanti keputusan dari Rukmana

” Teruslah bekerja seperti biasa. ” Kalimat itu keluar dari mulutnya yang disambut dengan gegap gempita tepukan dari penduduk. ” Dengarkan , saudara saudara ..” teriak Rukmana menenangkan mereka. ” LSM yang membina kalian akan mengurus izin bagi kalian semua. Petugas itu tadi berpesan agar LSM yang selama ini tempat kalian bernaung membuat laporan secara berkala ke kabapupaten.” Lanjut Rukmana.. ” Nah , turutilah petunjuk pembina kalian agar usaha kalian dapat terus berkembang , Teruslah pelihara sikap gotong royong dan kekeluargaan. Itulah kekuatan yang sesungguhnya untuk membuat kalian tetap dihormati oleh pihak manapun, termasuk oleh penguasa yang ingin memaksakan kekuasaannya menzolimi kalian. ” para penduduk desa semua terdiam dan akhirnya mereka saling berpelukan dan berkata, ” Kami sebetulnya tidak butuh mereka dari kabupaten itu. Kami hanya butuh Bapak. Karena bapaklah yang mengajarkan kami untuk mandiri dan saling berbagi”

" Oh , salah. Saya hanya melaksanakan perintah Tuhan. Dan kalian bisa seperti ini karena juga telah melaksanakan apa kata Tuhan Dengan agama yang kita yakini harus mampu membuktikan bahwa kita pantas menjadi rahmat bagi alam semesta, setidaknya mampu memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Kuncinya adalah kebersamaan dalam bermusyawarah dan berbuat."

Monday, October 5, 2009

Harga dan Pajak



Rakyat itu adalah mereka yang bayar pajak. Selebihnya adalah sampah. Demikian ungkapan mantan Gubernur DKI dulu ketika sedang gencar gencarnya membangun Jakarta. Bang Ali memeng terkesan pemimpin yang keras dan tak ada basa basi. Dia melontarkan apapun yang menjadi hakikat kekuasaan. Apalagi latar belakangnya sebagai militer." Negara memang menempatkan orang untuk berkuasa dan menentukan harga untuk membayar dan dibayar. Itulah yang terjadi dari masa kemasa. Harga direkayasa untuk dipercaya oleh public. Dari kegiatan perniagaan terjadi proses perputaran uang. Ber gerak dari pemerintah yang mencetak dan melesat ketengah public , dan kemudian kembali kenegara dalam bentuk pajak. Rakyat dan semua organ didalam negara berputar dalam system yang direkayasa untuk mempercayai proses ini. Agar kekuasaan tetap berjalan dan negera tetap exist.

Di dalam harga terkandung dua makna yaitu jerih payah dan laba sebagai reward Dari itulah harga dipahami oleh penyedia barang atau jasa untuk menjualnya kepada konsumen. Reward itu bukan hal yang final karena masih harus dikurangi untuk hak negara sebagai penyedia jasa kepada rakyat. Maklum saja negarapun butuh biaya untuk menjalankan proses pemerintahan. Dan pajak dibenarkan untuk dipungut. Namun belakangan pemerintah tidak cukup hanya menerima pajak dari laba tapi juga bergerak lebih jauh lagi yaitu meminta pula dari harga jual. Namanya pajak penjualan. Konsumenpun dibebani pajak. Belum usai sampai disini. Pemerintahpun merasa belum cukup maka nilai tambah dari barangpun harus pula dipajaki. Namanya Pajak Pertambahan Nilai. Inipun belum cukup. Barang yang diproduksi berkatagori mewahpun dipajaki. Gabungan dari semua itulah akhirnya harga tidak lagi mencermin reward tapi lebih daripada pemerasan untuk berjalannya sebuah system yang bernama negara.

Bukan hanya pajak yang bersifat langsung maunpun tidak langsung diterapkan. Creativitas meningkatkan nilai dari harga terus berkembang. Pemeritah Daerah maupun Pusat tidak pernah kehilangan akal untuk terbentuknya harga baru dengan metode pajak bermacam macam. Ada pajak tontonan,. pajak jalan khusus. pajak penerangan jalan, pajak kebersihan pasar. pajak hasil tambang, pajak hasil pertanian. Pajak irigasi. Pajak cukai dan bea. Hebatnya semua itu dibebankan pada akhirnya kepada rakyat. Bila ini belum cukup maka pemerintahpun bebas merampas uang mereka yang tak terjangkau akses pajak melalui inflasi. . Disisi lain, Para saudagar dan produsen barang maupun jasa juga tak berhenti untuk mengeruk uang dari konsumen. Nilai tambah bersifat mayapun dicreate lewat iklan di media massa. Branded image dibangun, corporate image dibentuk, design etalage dipercantik, packaging dibuat menarik,pelayan dibuat senyum dan cantik. Hingga yang terjadi adalah harga benar benar tidak mencerminkan keadilan tentang proses jerih payah tapi juga pemerasan secara tersembunyi dengan menetapkan harga irrational.

Pemeritah tidak melihat irrational harga sebagai pemerasan. Karena selagi pajak ini dan itu tetap mengalir kedalam kas negara maka semuanya syah saja. Namanya mekanisme pasar bebas. Harga bebas bergerak setinggi tingginya dan tentu semakin tinggi pula negara mendapatkan pajak. Namun kemesraan antara pemerintah dan produsen itu menjadi retak ketika harga barang china membanjir pasar AS. Hampir sebagian besar industri besar AS yang biasa memenuhi etalage supermarket rontok dimakan produksi china. Konsumen tak lagi peduli dengan nasionalisme. Yang murah mendapatkan tempat dihati konsumen. The Fed dalam risetnya mengumunkan bahwa lebih USD 1 trilion per tahun dana konsumen AS dihemat akibat membajirnya produksi china yang murah. Sebuah fakta terbuka bahwa selama ini pemerintah dan produsen AS telah berkonpirasi merampok Publik sebesar USD 1 triliun.

Dir anah pasar uang dan pasar modalpun , kedok keculasan pengusaha dan penguasa terbongkar sudah. Harga saham yang tinggi dan nilai asset keuangan yang menggelembung ternyata hanyalah pemainan pasar yang tidak ada kaitannya dengan nilai instrinsik asset itu sendiri. Tak terbilang jatuhnya nilai asset yang berputar dipasar uang dam pasar modal. Namun ketika kelompok orang kaya yang rakus menderita akibat jatuhnya nilai asset di bursa maka duniapun panic. Tidak sepanik ketika melihat orang miskin antri minyak atau menerima BLT atau mati kelaparan akibat kemiskinan. . Hari ini kita menyaksikan sebuah tatanan dunia baru yang sakit. Menciptakan komunitas minoritas yang culas dan memeras lewat harga dipasar. Kepanikan menghadapi krisis global sekarang ini bukanlah kepanikan untuk memikirkan orang miskin tapi lebih kepada bagaimana menyelamatkan orang kaya yang takut miskin…Karena lewat orang kaya konsumerisme , saudagar dan produsen lah cash mengalir deras kedalam kantong pemerintah untuk bergeraknya roda kekuasaan dan memanjakan rezim.

Wednesday, September 23, 2009

Kadang istri tidak tahu pengorbanan suami



Aku duduk di ruang tunggu menjelang boarding di Bandara Soekarno-Hatta ketika waktu hampir melewati tengah malam. Tiba-tiba saja aku menyesali kenapa terlalu cepat tiba di situ. Seharusnya aku buang waktu dulu di koridor sambil melongok apa saja yang bisa kulihat. Ketika kuingat tak satu pun toko-toko di situ yang masih buka ketika aku lewat tadi, aku merasa benar sudah duduk di situ. Ya, tengah malam, banyak orang yang sudah terlelap. Akhirnya kutelan juga kegelisahan sambil melahap berita malam di pesawat TV, siapa tahu ada berita yang menjelaskan apa yang terjadi.

Aku sebenarnya tak menangkap benar apa yang diberitakan meski mataku terpaku ke layar kaca. Yang kulihat adalah acara TVone, wajah tua dan suara serak serak basah Pak Karni. Kadang aku tersenyum mendengar perdebatan omong kosong itu. Pak Karni memang sengaja merancang acara untuk ajang debat omong kosong, dan tentu menarik bagi orang yang otaknya sebesar kacang mede. Tetapi setidaknya dari acara TVone itu, aku bisa tahu betapa menyedihkan pemikiran kaum intoleran karena  pengaruh fundamentalis agama. Mengapa aku bilang menyedihkan. Karena di zaman di mana orang berbaur tanpa disekat SARA, eh ini ada orang terbelenggu kebebasannya berpikir karena dokrin politisasi agama. Tidak ada kemerdekaan yang asasi kecuali kebebasan berpikir. Mereka yang terbelenggu pemikirannya itu, mereka belum merdeka dalam arti sesungguhnya.

Tiba-tiba seorang ibu melintas di hadapanku. Ia membungkuk sedikit untuk meminta izin lewat di hadapanku karena kakiku yang selonjor menghalangi jalan. Ia duduk terhalang satu kursi di samping kiri tempat dudukku. Aku meliriknya: seorang wanita etnis Tionghoa. Walau usianya bukan muda lagi, tetapi, kencantikannya memang oke punya. Tubuhnya langsing, indah. Tak kuteruskan mereka-reka bagaimana masa remajanya. 

Sesudah itu segerombolan orang tiba. Mereka begitu membeludak bak air bah, seolah-olah mereka tadi tertahan di pintu gerbang, lalu barusan seorang petugas memberi jalan. Berbagai bahasa terdengar tak kupahami. Hanya aku dan beberapa orang saja yang orang Indonesia. Kebanyakan orang china yang mau pulang kampung. Mereka menyebar dan mencari tempat duduk. Memang tujuanku adalah Beijing.

Seorang balita mendadak berlari ke depan dan melintas di hadapanku. Lalu mengamati apa saja yang dia suka. Ibunya membiarkannya. Ia tak terlalu sipit. China. Laki-laki. Si wanita di sampingku meliriknya. Ia tampak gemas kepada anak itu. Aku menangkap senyum wanita itu. Ia mencari sesuatu di tasnya, mengeluarkan handphone-nya, lalu memencet serangkaian nomor.

“Anita, Ibu membangunkanmu, ya?” Bahasa Indonesianya membuat aku meliriknya. “Ibu meneleponmu karena ingat Ivan. Dia sudah tidur?” Terdiam sebentar. Aku yakin ia sedang mendengar sahutan dari seberang.
“Di sini ada anak sebesar Ivan, besarnya sama dan mirip banget wajahnya. Dia di hadapan Ibu sekarang. Makanya Ibu jadi ingat Ivan,” katanya lagi.
Ia mendengar sahutan lagi dari seberang.
“Ibu lagi di ruang tunggu, sebentar lagi boarding. Sudah, ya!”
Ia mengemasi telepon selulernya. Aku melihat dengan sudut mata ia memasukkan handphone-nya ke dalam tas tangan. Wanita ini tak membawa tas besar. Aku yakin bawaannya sudah masuk bagasi pesawat.
Aku pindah duduk ke samping kiri hingga tepat berada di sebelah kanannya.
“Saya pikir ibu orang China. Maaf tadi saya menguping.”
Aku tak menyangka kalau dia tak terkejut.
“Saya bicara dengan anak saya. Melihat anak itu jadi ingat cucu,” ujarnya dengan tata bahasa yang bagus sambil menunjuk anak kecil dengan lirikan matanya. Senyumnya mengalir tulus.
“Usia berapa?”
“Sebesar itu, dua tahun.”
“Sedang lucu-lucunya.”
“Ya.”
“Tinggal di mana ?”
“Jakarta. Bilangan PIK”
“Kapan terakhir ke Beijing?”
“Sudah lama sekali. Saya sudah sulit membayangkannya. Terakhir waktu bulan madu kedua pernikahan kami."
“ Ada apa ke Beijing ?
“ Lihat anak saya yang bungsu kuliah di sana. Tadi papanya yang sering liat, tetapi sejak tahun lalu, papanya meninggal. Saya harus menjenguknya kalau kangen. Anda ?” Katanya.
“Hanya bisnis trip. ”
“Hanya ke Beiing?”
“Tidak. Dari Beijing langsung ke Hong Kong. “
“ Oh. Saya lagi bingung.”
“ Kenapa ?
“ Saya tidak mungkin tinggal di apartemen anak saya yang berukuran kecil dan bersama dengan temannya. Sementara saya belum ada hotel. Saya sudah mencoba registrasi melalui internet. Tak satu pun berhasil. Semua penuh. Rupanya acara Olipiade Beijing mendatangkan berkah bagi bisnis wisata. Tetapi kerinduan kepada anak membuat saya nekat juga. Moga anak saya bisa dapatkan kamar hotel untuk saya.”
“Anda bisa tinggal di Paninsula Hotel Beijing.” kataku menawarkan.
“Terlalu mahal dan apa mungkin masih ada kamar ?
“ Pakai kamar saya. Saya punya time share di hotel itu. Jadi ibu bisa tinggal disana sesuka ibu“
“ Tapi anda?
“ Saya tidak nginap. Saya pakai kamar hotel hanya untuk madi. Setelah itu rapat, dan malamnya terus ke Hong Kong. “
“ Anda pengusaha?
“ Ya. “
“ Tentu tidak mudah menjadi istri pengusaha. “ 

Pembicaraan kami terpotong oleh suara petugas yang mengumumkan penumpang agar segera masuk pesawat.
“Mengapa ibu bertanya seperti itu?” Aku memberanikan diri bertanya balik.
Ia tersenyum. “Itu pengalaman yang tak mungkin saya lupakan ketika suami saya belum meninggal. Waktu kebersamaan yang kurang dan kadang paranoia tidak pernah bisa hilang. Berat sekali melawan sepi dan paranoia.  Kalau ingat saya marah marah kedia. Padahal dia baru sampai dari business trip yang melelahkan. Tetapi suami saya sangat sabar dengan sikap saya. Setelah dia meninggal, rasa bersalah tidak pernah hilang. Kini, doa saya kepada almarhum suami tidak pernah putus. ” katanya, lalu bangkit.

Para penumpang masuk ke koridor yang menghubungkan ruang tunggu dengan pintu pesawat. Dimulai dari keluarga si balita. Aku tak sempat mengikuti ibu tadi. Tak tahu juga namanya. Sayang, harapanku untuk bisa duduk berdampingan di pesawat juga tak kesampaian. Aku di cabin business class dan dia economy class.

Sampai di Beijing Capital International Airport, kami turun. Keluar dari gate imigrasi, aku berusaha mencari ibu itu tadi. Tak berapa lama nampak dia melambaikan tangan. 
“ Ibu di jemput ?
“ Ya. Anak yang jemput”
“ Kalau begitu, nanti ajak anaknya ke hotel paninsula. Ini kartu nama saya. Tinggal berikan kartu nama saya, petugas reservasi akan memberikan kunci kamar ke ibu”
***
Sampai di hotel jam 11 pagi. Aku mandi dan ganti pakaian. Turun ke lobi sudah ada staf kantor menantiku. Kami pergi ke tempat meeting. Meeting berlangsung sampai sore hari. Usai meeting aku diantar ke Bandara lagi untuk ke Hong Kong. Aku baru menyadari ternyata aku belum makan siang. Ada niat mau makan di Bandara tetapi waktu boarding sudah mepet sekali. Aku putuskan langsung boarding. Waktu itu aku merasa asam lambungku mulai bergolak. Kepalaku agak pusing. Tetapi aku berusaha menenangkan diri dengan membaca. Di dalam pesawat, pramugari memberi aku minuman welcome drik. Wine. Saat itulah kepalaku semakin pusing.

Ketika pesawat take off, aku merasa dunia berputar dan pandanganku mulai kabur. Setelah itu aku tidak sadarkan diri. Ketika aku sadar di sampingku ada wanita . Dia tersenyum. “ Syukurlah anda sudah siuman.” katanya seraya memanggil pramugari. 
“ Tadi anda sempat tidak sadarkan diri. Tetapi untunglah di samping anda ada wanita itu. Dia dokter. Dia menuntun kami memberikan pertolongan kepada anda. Menurutnya anda akan baik baik saja. “Kata pramugari.
“ Terimakasih” kataku melirik wanita itu.
“ Anda terlalu lelah dan perut anda kosong. Dengan memberikan air panas dan sedikit garam, itu bisa membuat perut anda nyaman, dan aliran darah kembali normal seperti biasa. “ Katanya.


Wanita di samping aku duduk ini, usianya sama dengan wanita yang tadi aku temui di Bandara Soeta. Tapi dia orang Korea. Kebaikan spontan yang kita beri ternyata selalu berbalas kebaikan spontan juga. Memberi dengan ikhlas selalu berbalas, tak penting etnis atau agamanya. Bukankah kemanusiaan menjebol batas etnis dan agama. Semua karena Tuhan dan kembali kepada Tuhan, tentunya

Sunday, August 23, 2009

ETFs are dangerous


Exchange-traded funds (ETFs) that use leverage or perform inversely (opposite) to an index or benchmark they track are growing in number and popularity. The controversy and danger surrounding these products was featured in recent articles in the Wall Street Journal (“FINRA Urges Caution on Leveraged Funds,” by Daisy Maxey), and InvestmentNews (“Leveraged ETFs: Handle with care”), and in Regulatory Notice 09-31 published by the Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). FINRA and others are concerned that leveraged and inverse ETFs are being inappropriately marketed and sold to retail investors for whom they are unsuitable without an adequate explanation of the risks.

Leveraged and inverse ETFs are extraordinarily risky and complex securities. Leveraged ETFs are designed to deliver multiple times the return of their benchmark, while inverse ETFs move in the opposite direction from their benchmark. Leveraged inverse ETFs multiply the inverse movement.

Like futures contracts and options, these products are designed to be used as a part of sophisticated trading strategies. Unlike futures contracts and options, they are typically not designed to be held more than one day. As a result of compounding, the price movement of such ETFs can differ markedly from their underlying index or benchmark, FINRA warns. In other words, you could lose a lot even when the underlying benchmark gains. FINRA’s illustrations are sobering:

• The Dow Jones U.S. Oil & Gas Index gained 2 percent, while an ETF seeking to deliver twice the index's daily return fell 6 percent and the related ETF seeking to deliver twice the inverse of the index's daily return fell 26 percent.
• An ETF seeking to deliver three times the daily return of the Russell 1000 Financial Services Index fell 53 percent while the index actually gained around 8 percent. The related ETF seeking to deliver three times the inverse of the index's daily return declined by 90 percent over the same period.

With this in mind, FINRA has warned brokers about their sales practice obligations when selling leveraged and inverse ETFs. Among other things, brokers are required to thoroughly understand they products they sell, make a determination, backed by appropriate information, that the product is suitable for the customer’s investment objectives and risk tolerance. Furthermore, brokers are legally obligated to explain all material facts regarding an investment before the sale.

Given the complexity of these products and the realities of the securities brokerage industry, the chance that any retail broker thoroughly understands them is zero. According to FINRA, in its typically understated fashion, “inverse and leveraged ETFs typically are not suitable for retail investors who plan to hold them for more than one trading session, particularly in volatile markets.” In fact, they are not suitable for most retail investors, period.


If you have suffered losses in leveraged and/or inverse ETFs, you should contact qualified counsel to determine your potential rights and remedies.

Saturday, August 8, 2009

Skandal LIBOR



Tujuh bank sudah menerima panggilan dari pengadilan sebagai bagian dari investigasi skandal manipulasi suku bunga bank, Libor. Ketujuh bank tersebut adalah Barclays, JPMorgan Chase, Citigroup , Deutsche Bank, HSBC dan Royal Bank of Scotland, UBS. Awalnya skandal itu terungkap pertama kali adalah pada waktu Barclays mengaku kepada otoritas pengawasan bank bahwa mereka  sejak tahun 2007 berkali-kali menyerahkan laporan suku bunga fiktif kepada panel bank- bank yang menentukan tingkat LIBOR. Skandal ini juga menyebabkan pemberhentian sang chairman (Marcus Agius) dan pemecatan CEO (Robert Diamond). 

Teman saya yang bekerja sebagai money broker di Bassel mengatakan kepada saya bahwa standard moral banker sebagai agent of development sudah tidak ada lagi. Banker kini tak ubahnya sebagai hidden criminal group. Mereka tidak peduli lagi soal moral yang menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah kepercayaan ( trust). Mereka hanya peduli bagaimana meningkatkan laba bagi pemegang saham dan pada waktu bersamaan para executive dapat hidup nyaman dengan limpahan fasilitas dan tidak peduli karena itu mereka harus menjadi gerombolan penipu.

Semua pemain uang dan mereka yang terlibat dalam dunia perbankan akan menjadikan LIBOR sebagai benchmark  untuk suku bunga jangka pendek. Kebanyakan produk-produk finansial, derivatif, dan bermacam-macam sekuritas, kontrak-kontrak keuangan, seperti kartu kredit, pinjaman, hipotek, dan sebagainya, menggunakan LIBOR sebagai acuan. Diperkirakan  ratusan triliunan dollar AS  nilai kontrak dan transaksi yang menggunakan LIBOR. Mereka tahu pasti bahwa indicator ini sangat tinggi reputasinya. Ada standard aturan dan hitungan yang ketat untuk menentukan LIBOR. 16 anggota asosiasi perbankan yang dijadikan acuan adalah Perbankan papan atas ( high rate). 

Jadi secara moral tidak mungkin ada pelanggaran standarad kepatuhan. Namun, dengan terungkapnya skandal, ternyata LIBOR ditentukan dengan cara seenaknya. Bahkan dilakukan untuk tujuan menipu pasar dan public demi mencari untung. Ini konspirasi antara semua pihak yang terlibat termasuk otoritas. Walau secara hokum pihak otoritas tidak bisa dikatakan terlibat namun secara moral mereka hancur dihadapan public. Terlepas mereka tahu atau tidak namun nyatanya public dirugikan. 

Bagaimana sampai public dirugikan? Setiap hari Thomson Reuters, perusahaan penyedia jasa informasi keuangan dan perusahaan, atas nama BBA (British Bankers’ Association ) mengumumkan angka LIBOR (London Interbank Offered Rate) untuk 15 jenis pinjaman yang dibedakan menurut jangka waktu pengembalian (tenor)— dari pinjaman satu hari (over night) sampai satu tahun—dan meliputi 10 jenis mata uang, termasuk dollar AS, euro, poundsterling, dan franc Swiss. Namun laporan itu ternyata membuat orang lain dirugikan.  

Ambil contoh Barclays menyerahkan angka suku bunga yang lebih rendah daripada yang seharusnya. Akibatnya public semakin percaya kepada perbankan. Karena bunga rendah sebagai indikasi bahwa perbankan sehat dan ekonomi stabil. Keadaan ini akan mendorong orang untuk meminjam lebih besar dari yang semestinya dan mengambil risiko yang lebih besar dari yang mampu dipikul dan tidak hati-hati dengan berbagai implikasi buruknya. Singkatnya karena data tidak benar itu telah membuat publik terjebak dalam transaksi yang menjadikan mereka sebagai korban penipuan secara sistematis. Yang pasti pihak yang diuntungkan adalah pihak yang tahu bahwa data LIBOR itu tidak benar. Siapa mereka? tentu para bankir dan otoritas.

Apa yang terjadi dalam skandal LIBOR adalah tidak berbeda dengan Skandal CMO  ( Collateral mortgage Obligation ) di AS. Skandal LIBOR memalsukan data tentang suku bunga untuk menarik keuntungan sepihak bagi para insider trader. CMO memalsukan data perusahaan untuk memungkinkan S&P dan Moody’s dll menaikkan rating dan akhirnya menipu investor untuk membeli. Memang , laporan itu tidak menjamin seratus persen kebenaran. Itu hanya sebuah indikasi untuk orang bersikap. Namun karena di create oleh lembaga yang punya kredibilitas tinggi dan didukung oleh otoritas Negara maka jadilah itu sebuah kebenaran. Kebenaran yang memungkinkan orang mengambil resiko dan bertarung dengan ketidak pastian akan masa depan. 

Setelah semua terjadi, tidak ada yang bisa disalahkan seratus persen. Ini hanyalah moral. Hukumannya hanyalah denda administrasi. Aturan hukum pidana tidak bisa menjerat kejahatan seperti ini. Samahalnya tidak bisa disalahkan rezim Orde Baru  bila data statistic makro ekonomi yang mengindikasikan siap tinggal landas namun nyatanya kandas ditengah jalan. Bila besok ekonomi jatuh kelubang krisis , kita tidak bisa menyalahkan rezim sekarang yang meng  create data makro economy tinggi untuk dipercaya. 

Harus ada keyakinan pada diri kita sendiri bahwa lembaga rating, Pemerintah adalah  mereka yang memang tidak pantas dipercaya. Jadi bila terbukti mereka tidak benar, kita harus siap untuk kecewa.