Tuesday, November 29, 2011

Sumber daya keuangan Uwak Sam



Pada suatu waktu sekelompok orang mengundang anggota Parlemen Amerika Serikat untuk rapat khusus. Rapat diadakan disuatu tempat yang dirahasiakan. Mereka memberikan solusi menghadapi great depresi yang sedang melanda dunia. Mereka mengusulkan agar ada pasar surat berharga secara ekslusif diatur hanya bagi kalangan terbatas dan ditujukan bukan kepada publik AS tetapi luar negeri. Apa alasanya? Pertama, mereka tidak ingin ada aturan keterbukaan informasi. Tujuannya agar dana private tersembunyi di rekening lepas pantai ( offshore ) bisa berlabuh. Kedua, memungkinkan hide fund bisa masuk ke institusi keuangan secara clean. Ketiga, bisa mencetak uang di luar sistem namun by system legitimate. Atas dasar alasan itu maka dibentuklah amandemen Securities Act of 1933 dengan menambah pasal 144 A. Namun tahun 2012 direformasi oleh Parlemen AS. Keterbukaan informasi minimal ditetapkan. Tujuannya agar tidak terjadi penipuan atau penyalah gunaan untuk pencucian uang. 

Menjelaskan secara tekhnis market 144a itu tidak mudah. Karena memang sophisticated. Tetapi untuk lebih mudah dipahami, saya sampaikan dalam bentuk kisah imajiner.  Walau tidak lengkap namun sudah cukup memahami prinsip kerjanya. Mari kita mulai. Sekelompok orang ingin mencetak uang tetapi tanpa diketahui oleh rakyat. Untuk apa uang itu? ya untuk bisnis. Membiayai ekspansionis bisnis dan sekaligus untuk money politik mengatur kekuasaan. Tetapi untuk cetak uang kan perlu bank central. Itu engga mudah. Karena dampaknya terhadap kurs mata uang melemah kalau bank central terlibat. Jadi gimana mengatasi program ini? Bank Central di outsourcing kepada swasta. Namun operasional mengikuti aturan dari Bendahara negara. Ya negara hanya regulator. Operasional diberikan kepada swasta, dalam hal ini the Fed. Proposal diajukan kepada parlemen. Setelah melalui lobi, anggota parlemen setuju. Maka ditunjuklah commitment holder sebagai pemegang saham dari the Fed atau pemegang kesepakatan konsesus rahasia. Mereka inilah yang akan jadi otak dan mesin cetak uang.

Kelompok yang mengajukan proposal ini memang cerdas. Mereka tidak mencetak uang secara langsung. Tetapi melalui mekanisme pasar surat utang. Agar tidak diketahui modus cetak uang, maka aturannya surat utang ini harus dirahasiakan. Artinya surat utang itu tidak boleh di publikasikan. Karenanya tidak boleh diperjual belikan kepada rakyat atau institusi dalam negeri. Jadi siapa penerbit dan pembeli surat utang ini? Penerbitnya adalah holding company yang terdaftar di luar negeri ( 144a Sec Act reg S) atau negara lain. Pembelinya? investor luar negeri. Ya siapa mereka itu? agar tidak panjang pertanyaan, maka disebut sebagai " QIP" ( Qualified Institutional Purchaser). Apa kriteria QIP? Kriteria yang tentukan adalah commiment holder. Itu hak diskrisi dari commitment holder untuk menentukan siapa yang qualified. 

Agar seni mencetak uang melalui surat utang ini tidak menimbulkan inflasi, maka setiap penerbitan surat utang harus ada underlying proyek. Yang menentukan underlying itu qualified atau tidak adalah commitment holder. Nah bisa bayangkan, setiap proyek yang ingin dapatkan uang melalui mekanisme ini, mereka harus deal lebih dulu kepada commitment holder. Hak diskrisi ada pada commitment holder menentukan siapa yang qualified sebagai penerbit  surat utang.

Sekarang perhatikan, pembeli dan penerbit yang tentukan adalah commitment holder. Lantas dari mana uang untuk membeli surat utang itu ? Commitment Holder memerintahkan kepada the Fed untuk mensuplai uang kepada QIP yang sudah terdaftar. Gimana mekanisme pasarnya?. Mereka menciptakan double clearing ( Eropa dan AS). Satu mengatur pembelian. Satu lagi mengatur penjualan. Antara pembeli dan penjual ini ada 'trader". Dalam hal penjualan, syaratnya adalah Delivery first atau penyerahan lebih dulu. Pembelian, syaratnya adalah Payment first atau pembayaran lebih dulu. Perhatikan, aturan ini. Ketika trader membeli surat utang, dia tidak perlu bayar. Karena pada waktu bersamaan dijual kepada buyer dengan syarat DVP ( Delivery Versus Payment).  Margin sudah pasti didapat. Berapa margin? nobody know!. Rahasia.  Artinya trader engga perlu modal tunai. Siapa trader-nya? ya mereka yang qualified menurut commitment holder. 

Lewat mekanisme inilah uang beredar mendunia. Hampir semua korporat berkelas dunia terhubung dengan pasar uang seperti  ini untuk mendapatkan financial resource. Menciptakan lebih separuh angkatan kerja di dunia. Mengelola 85 % sumber daya alam dunia. Karena tidak mungkin SDA dan SDM bisa dikelola tanpa uang.  Tanpa disadari dunia semakin tergantung dengan mata uang US Dollar.  Sementara dampak inflasi dalam negeri tidak terjadi. Karena mekanisme cetak uang itu bukan bagian dari operasi moneter. 

Lantas bagaimana dengan rakyat dalam negeri (AS)? Commitment holder tidak punya commitment kepada rakyat dalam negeri. Mereka ber-commitment menjadikan negara punya hegemoni di seluruh dunia. Dengan makanisme cetak uang lewat surat utang itu , uang sudah bertransformasi menjadi saham dan asset dalam bentuk surat utang negara lain dan surat utang korporat. Secara tdak lansung commitment holder menguasai sektor real sebagai sumber fixed income (kupon). Nah,  uang  itu mengalir ke luar negeri bukan dalam negeri (AS), sementara di dalam negeri rakyat menderita karena banyak pabrik pindah ke luar negeri. Perusahaan itu relokasi ke luar negeri tentu salah satu alasan adalah agar lebih mudah mendapatkan sumber daya kuangan lewat mekanisme yang di create oleh Commmint holder. Di dalam negeri orang kehilangan pekerjaan dan bankrut massal. Karena daya beli menurun. Commitment holder hanya tersenyum menikmati kesederhanaan hidupnya. 

***
Indonesia kali pertama menerbitkan Global Bond pasar 144a era SBY. Harus diakui bahwa kemugkinan indonesia bisa menjadi negara yang qualified masuk pasar surat utang 144a, itu berkat loby SBY. Kemudian Era Jokowi, Indonesia leluasa menjadikan 144a sebagai financial resource melalui penerbitan Green Bond and Green Sukuk Framework. Perusahaan yang masuk 144a adalah Pertamina,  Inalum, PLN, Pelindo, Jasa Marga, Angkasa Pura, dll. Pasar ini tidak kenal resesi. Sekali commitment holder setuju, jual langsung laku. Liat aja Inalum sangat mudah jual global bond. Namun karena itu apapun pertanyaan dari DPR atau siapapun berkaitan aspek legal dan teknis penerbitan bond, tidak akan dijawab. Karena itu berkaitan dengan kepatuhan atas perjanjian kerahasiaan ( Confidential agreement). Yang penting utang lewat pasar 144a engga ada collateral. Kalau jatuh tempo hutang,  engga perlu bayar pakai uang cash perusahaan. Dah gitu aja.

Sementara China, pasar uang 144a masuk melalui Holding Company yang terdaftar di Hong Kong. Inilah yang selama beberapa decade menjadi sumber pembiayaan China membangun  industri dan manufaktur. Relokasi industri dan manufaktur dari AS ke China terjadi secara massive. Dari kapitalisasi pertumbuhan ekonomi itu,  China bisa menyediakan infrastruktur  ekonomi secara luas.  Nah siapa trader 144a itu ? No body know...rahasia loh.

***edited 10/08/2020***

Memberikan petani akses pembiayaan


Peter menghubungi saya dari Bankok dan meminta saya untuk mendampingi team ICF rapat dengan LSM di Jakarta. Ada sedikit tanda tannya, bagaimana mungkin ICF masuk ke Indonesia. Bukankah Indonesia wilayah yang dihindari. Pengalaman sebelumnya, tidak ada satupun program ICF terealisir di Indonesia karena masalah birokrasi dan system yang korup. Keesokan harinya, saya sudah berada di Bandara ,terminal kedatangan untuk menjemput tamu yang tidak saya kenal nama dan wajahnya. Hanya berbekal poster kecil bertuliskan “ WELCOME ICF “ saya berharap penumpang yang keluar dari kuridor bandara akan menghampiri saya. Pandangan saya tertuju kepada seorang pria bule agak gemuk berusia diatas lima puluh yang nampak tersenyum kearah saya. Namun , dia hanya melewati saya. Saya terkejut ketika bahu saya ditepuk dari samping

“ are you from ICF “

Di depan saya berdiri seorang wanita cantik. Tinggi kira kira 170 dengan ransel warna merah dan jilbab warna hitam serta kaos lengan panjang warna putih dengan setelan celana denim. Anggun, perkasa dan mandiri. Itulah kesan pertama saya tentang wanita ini.


’ Yes , I am ” Saya langsung menyalaminya ” Welcome to Indonesia ” sambung saya sambil melirik wajah anggunnya

” Kenalkan , nama saya Grace ” Katanya sambil memperkenalkan namanya. Saya juga memperkenalkan nama seraya melangkah menuju tempat parkir. Dia mengikuti dengan langkah tegas. Nampak sekali wanita ini terlatih sebagai volantir lapangan yang biasa bekerja untuk proyek kemanusiaan. Usianya tidak lebih 35 tahun.

Didalam perjalanan menuju hotel , dia berkata ” Walau baru pertama kali bertemu dengan anda namun semua tentang anda saya ikuti. Ternyata wajah dan cerita tentang ada tidak sama ”

” cerita kadang terlalu membesar besarkan. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada pula yang patut dibanggakan. Kita semua bekerja untuk misi yang sama dan berjuang untuk itu. Kata saya dan nampak dia tersenyum.

’ Saya pikir anda orang yang serius tapi ternyata wajah dan sikap anda sangat ramah. Tidak ada kesan seorang petarung yang membuat empat lembaga keuangan kelas dunia ketar ketir. Kami semua di ICF sangat bangga dengan keberadaan anda. Nah, kali ini saya mendapatkan kehormatan untuk bertemu dengan anda dan bekerja satu team ” Katanya.

Grace bercerita banyak hal tentang program yang sedang digelutinya. Dia juga bercerita tentang proposalnya kepada ICF untuk melibatkan saya dalam teamnya. Dia harus menunggu empat bulan untuk mendapatkan keputusan. Itupun keberadaan saya dibatasi hanya berkaitan dengan upaya menarik empat offshore fund terlibat dalam program ini.Dia juga menyerahkan beberapa dokumen yang sengaja dipersiapkannya untuk saya pelajari. Sekilas dokumen itu hanya berisi bagan dan skema program dengan penjelasan ringkas. Inilah ciri khas ICF yang sangat efisien melatih teamnya. Semua orang bekerja dengan sistematis dan professional walau untuk kegiatan sosial. Ada slogan mereka ” Niat baik akan sia sia bila diorganisir dengan buruk. Niat buruk akan berhasil bila diorganisir dengan baik. Makanya niat baik haruslah diorganisir dengan baik agar tidak menimbulkan frustrasi ”

Ketika sampai di hotel. Sebelum rapat dilaksanakan dia sengaja menyampaikan materi presentasinya. Selama presentasi tersebut , kekaguman saya terhadap Grace semakin tinggi. Wanita ini sangat menguasai detil operasional, juga tak ketinggalan, pemahannya tentang visi pemberdayaan masyarakat. Seperti yang dikatakannya ” Manusia sudah di design oleh Allah sebagai makluk yang sangat sempurna. Karenanya tidak diperlukan charitiy untuk mereka berdiri. Sudah sunatulah bahwa manusia harus berbuat untuk bertahan hidup. Allah menyediakan perangkat untuk itu tanpa kecuali ras, golongan. Itulah dasar strategi kita untuk menciptakan kemadirian petani dan nelayan di indonesia.

Kemudian dia masuk kepada program implementasi ” Tugas kita hanyalah menyediakan infrastruktur untuk terbentuknya kekuatan petani menghadapi pasar bebas dan mandiri berproduksi. Infrastruktur tersebut terdiri dari tiga hal yaitu Pertama , pusat penyimpanan produksi petani ( gudang) dan pengolahan , kedua, menyediakan lembaga cutting house untuk menjamin liquidatas petani. Ketiga, menyediakan tekhnolgy tepat guna untuk mendukung peningkatan produksi. Ketiga program ini berbeda sekali dengan program yang selama ini dijalankan oleh pemerintah maupun NGO. " Katanya penuh keyakinan.

" Apa bedanya ? "

" Lembaga kita sebagai pendamping dan bukan pengatur ,apalagi ikut mengendalikan mereka. Kita hadir untuk mengamankan posisi mereka dari permainan harga pasar. Keberadaan gudang dan pusat pengolahan bukanlah untuk undertaker harga ketika panen tapi penjaga stabilitas harga ketika musim panen. Artinya petani dapat menyimpan produknya di gudang tanpa menjualnya bila harga pasar jatuh. Mereka akan menerima resi gudang sampai harga stabil. Selama menunggu harga stabil dan menguntungkan maka mereka dapat menempatkan resi gudang sebagai collateral untuk mendapatkan liquiditas dari lembaga cutting house.”

" Jelaskan pada saya tentang Cutting House yang kamu maksud "

" Ini lembaga keuangan non bank yang didirikan oleh masyarakat petani dan untuk petani. Semacam lembaga venture capital yang didukung oleh insurance company dan lembaga perdagangan berjangka komoditi. Juga didukung oleh kekuatan informasi harga di seluruh dunia. Lembaga ini sebagai penjamin liquiditas petani ketika harga jatuh tanpa mereka harus menjual produknya. Saya yakin kekuatan resource financial kita, lembaga ini dapat tampil untuk menyadarkan semua pihak untuk tidak ragu terlibat bersinegeri dengan petani tanpa aneksasi.

Program ini sederhana namun langsung kepada masalah mendasar yang selama ini membuat petani tak berdaya menghadapi pasar ; Ketika panen, harga jatuh atau pemerintah bermain dengan Harga dasar patokan dan petani tidak berdaya kecuali harus menjual untuk menutupi ongkos produksinya. Dengan system stokis dan dukungan pengolahan yang dimiliki dan dukungan lembaga cutting house maka petani mempunyai bargain position terhadap fluktuasi harga yang merugikannya. Grace mengatakan ” Bila program ini berhasil maka kita akan merambah ke produksi petani diluar beras, seperti jagung, singkong, dan tanaman muda ( jahe, tomat dll ).

Seusai presentasi dihadapan saya , dia tersenyum dan berkata ” What do you think ? Saya menjawab “ Excellent! “

Kemudian setelah itu, sesuai jadwal kamipun menghadiri rapat disuatu gedung bertingkat. Ketika kami datang , ternyata sudah ditunggu oleh team besar yang antusias menerima kedatangan kami. Sehabis rapat, Grace nampak murung. Dia tak bersuara. Saya memilih tidak mengganggunya dengan kata kata. Saya sadar dia sangat terpukul dengan resistance mitra kerjanya di Indonesia yang lebih memilih dana charitiy untuk menolong produksi petani.

“ Tuhan tidak pernah melahirkan manusia untuk menjadi pengemis. Manusia hanya butuh keadilan dan kasih sayang untuk mandiri. Mengapa ini tidak pernah disadari oleh banyak orang yang begitu mengagungkan retorika kasih sayang. “ katanya ketika sampai di hotel. Dihempaskannya tubuhnya dikorsi lounge executive dengan wajah tetap murung

“ Sebetulnya mereka tidak menyayangi orang miskin, mereka hanya memanfaatkan komunitas miskin untuk keuntungan diri mereka sendiri. “ Kata saya mencoba menghiburnya agar dia tidak perlu kecewa dengan penolakan programnya oleh mitra kerjanya.

“ Bang, Satu tahun saya menghabiskan waktu berkeliling seluruh kepulauan Indonesia. Saya mendatangi kampung kampung terpencil, bertemu dengan petani miskin, buruh tani, nelayan miskin. Hasil riset saya menyimpulkan satu hal bahwa walau ketidak adilan terus menyengsarakan mereka namun mereka tetap kuat untuk bertahan.inilah negeri dengan kekuatan komunitas tak tertandingi oleh komunitas manapun di dunia. Bila situasi ini terjadi di negara lain maka sudah lama negara itu hancur. tapi rakyat disini sangat kuat walau pemerintahnya lemah. Ketahuilah bahwa mereka tidak butuh charity untuk makmur. Mereka hanya butuh keadilan dan keberpihakan. Itu saja. Selanjutnya mereka akan tampil menjadi komunitas yang tangguh menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi anehnya, inilah yang terlalu sulit mereka dapatkan di negeri ini setelah mereka mendapatkan status sebagai bangsa yang merdeka. “

Hanya dua hari Grace di Jakarta. ICF sudah memerintahkannya untuk melupakan programnya di Indoensia. Closed file. Dia menangis di hadapan saya. ” saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan saudara muslim di sini. Mereka butuh kita yang peduli ,Bang. Tolonglah yakinkan ICF agar bersabar sedikit. Saya akan berjuang meyakinkan semua pihak. Apalagi dengan dukungan kamu, saya yakin kita bisa , please ..”

Saya hanya terdiam karena saya tidak yakin dapat membantunya. Saya kenal betul siapa itu ICF, karena dari awal mereka tidak melihat system di indonesia dapat melahirkan program kemandirian selagi mental korup pengusaha dan penguasa tidak dikikis. Negeri ini , sejarahnya selalu melahirkan cara cara yang sama untuk menempatkan rakyat sebagai korban dari kerakusan dan kemunafikan.

Setelah itu , saya tidak pernah lagi mendengar tentang Grace. Kami disconnect communication. Mungkin Grace sedang sibuk di belahan benua lain dengan program kemanusiaanya. ICF memang punya cara kerja yang unik, yang tidak mengizinkan satu sama lain berkomunikasi bila tidak dalam satu team penugasan.

2008

Bulan oktober saya amprokan dengannya disebuah resepsi di Yangon, Myanmar. Dia tersenyum cerah. Sambil menundukkan kepalanya dihadapan saya. Penampilannya sama seperti dulu. Setelan denim warma hitam dan kaus warna hitam lengan panjang dengan jilbab warna hitam. Wajah kemerahan dari wanita kelahiran Bombai ini, telah membuat saya terpukau. Ada apa dia disini ? ” Saya ditugaskan ICF disini. Orang bilang , ini negeri otoriter dari junta militer tapi mereka sangat mencintai rakyatnya, khususnya petani. Program kita berhasil mengangkat kemandirian petani dan bersinergi dengan petani dari Yunan ( china ). Saya tidak tahu , apa sih arti demokrasi ? bila hak hak rakyat terabaikan dan kaun miskin tetap menjadi komunitas muram ditengah jargon demokrasi tentang keadilan, perdamainan, kesetaraan. "

Dia tersenyum kearah seorang pria yang menghampiri saya dalam acara resepsi. Saya terkejut Peter juga hadir bersama dengan team dari Sudan, Mark

” ICF akan kembali menugaskannya ke Indonesia. Tahun 2006 parlemen Indonesia sudah mengesahkan UU Resi Gudang. Tahun 2007 pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan pelaksanaan. Itu kemenangan kaum tani walau sepenuhnya belum sempurna " Kata Peter. Nampak Grace tersenyum cerah. " Setelah dia berhasil gemilang dengan tugasnya di Myanmar. Tiga tahun dia berjuang keras tanpa lelah sehinga dua kali dia harus masuk rumah sakit di Yunan karena radang usus. Tapi sekarang dia nampak tegar dan penuh cita untuk kembali dengan impiannya yang tiga tahun lalu tenggelam. ” Sambung Peter

” Sekarang, kamu yang pegang komando untuk misi Grace di Indonesia ” kata Mark

” Saya ?

” Perwakilan ICF di Beijing telah membocorkan rencana ini. Makanya telinga dipertajam kedalam dan jangan hanya keluar terus..” Katga Peter.

Seusai acara resepsi , kami sholat berjamaah di belakang tempat resepsi. Tempatnya cukup bersih. Grace membawa perangkat sholat dengan lengkap dan alat kompas untuk menentukan arah kiblat. Itulah ciri khas pejuang lapangan ICF, dimanapun dan kapanpun sholat tak pernah ditinggal. Dengan menggunakan koran sebagai sajadah, saya menjadi imam sholat dengan dia sebagia makmun. 

Seusai sholat dia berkata ” Setiap sholat kita diingatkan untuk meng update kepribadian kita agar melakukan apa saja demi untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk mengejar harta, pangkat atau jabatan ,apalagi mencari popularitas. Tapi bila setiap hari kita melihat terus bertambahnya kumpulan komunitas miskin maka semakin kita sadar bahwa kita hanyalah kumpulan manusia yang mendustakan agama. Kita mempermainkan aqidah kita. Anehnya, kita tetap yakin dapat menjemput sorga dengan keyakinan kita beragama. Kita sombong dengan ibadah kita dan lupa esensi agama untuk berjuang menegakan keadilan bagi kaum miskin, kaum tertindas oleh system yang tak peduli dengan mereka. ” Airmatanya berlinang.

” Tahukah kamu , Bang ” Seru Grace sambil mengusap airmata. ” bahwa baik dan buruk selalu bersanding dalam kehidupan. Iblis tercipta dan malaikatpun tercipta. Dua mahluk hadir dalam keseharian kita. Inilah kebijakan Allah agar manusia mencapai kesempurnaan melewati diantara jurang maksiat dan kemuliaan. Ini juga adalah fitrah kita untuk bertarung melawan sifat iblis dengan mengendalikan nafsu kita agar kita senantiasa dekat kepada Allah. Kini, system dunia tergiring kepada kemunafikan dan kepongahan modernisasi yang mendewakan materialistis. Egoitis menjadi keseharian, mengabaikan kebersamaan untuk kepentingan bersama. Sehingga , yang lemah dan bodoh terexploitasi untuk kepentingan mereka yang pintar dan berkuasa. Ini fakta sebagai ladang ibadah kita untuk bertarung membela yang tertindas”

” Ya, aku sadari itu. Perang melawan ketidak adilan system adalah jihad. Kita tidak membenci manusia dibalik system itu. Kita hanya bertugas untuk menghancurkan system itu dengan mendidik masyarakat untuk melawan ketidak adilan itu melalui pemberdayaan mereka , mengurus diirinya sendiri sesuai dengan budaya dan agama yang mereka yakini. ” Kataku

” Betul. Kita tidak membenci mereka kaun kafir , yahudi. Kita membenci system yang menimbulkan kemaksiatan dan ketidak adilan terus terjadi.dimuka bumi ini. Itulah yang harus kita perangi, dengan segenap apa yang kita miliki. Yakinlah, tidak banyak yang diperlukan untuk itu kecuali hanyalah semangat untuk struggle in patience. Power of patience adalah modal kita dalam berjuang, tanpa lelah , tanpa berputus asa mengharap pertolongan Allah. Inilah yang harus menjadi keyakinan kita.”

Baru saya sadari bahwa Grace berhati mulia. Dia yang terlahir dari keluarga kaya raya mengorbankan karirnya sebagai Phd di bidang Ekonomi , hanya dan hanya untuk mewakafkan dirinya membela kaum tertindas akibat dari system yang korup.

” Kadang diantara kita berjalan lebih cepat di banding orang lain, begitupula pikiran kita. Tapi tolong aku dimaafkan bila aku berjalan lebih cepat dari mu..” Saya menoleh kearahnya yang nampak menunduk dalam posisi duduk, tidak berubah ketika mengucapkan salam.

” Kita akan terus bersama sama untuk tujuan yang sama. Cinta Allah lah yang akan kita jemput. Mungkin kita akan kembali gagal tapi setidaknya niat baik kita sudah dicatat oleh Allah sebagai amal sholeh. ” Kata saya. Dia terdiam namun nampak air mata mengambang dipelupuk matanya...

2009

Januari , ICF belum juga memberikan penugasan kepada saya. Sebelum Lunar new year atau tiga bulan setelah pertemuan di Yangon, saya mendapat kabar dari perwakilan ICF di Yunan , Grace telah tiada. Dia meninggal pada usia 38 tahun. Grace tidak meninggalkan suami, anak, harta kecuali impiannya untuk memperjuangkan nasip petani di Indonesia. Kanker usus telah menghentikan ambisinya kembali ke Indonesia untuk membuat dream come true. Saya teringat kata kata terakirnya ketika kami bertemu ” Kadang diantara kita berjalan lebih cepat dibanding orang lain, begitupula pikiran kita. Tapi tolong aku dimaafkan bila aku berjalan lebih cepat dari mu..”


Grace telah tiada. Tahun 2011 UU Resi Gudang di revisi, dan keliatannya lebih sempurna. Namun belum bisa dilaksanakan. Masih butuh proses panjang.

Monday, October 31, 2011

Kebangkrutan yang tidak melemahkan.



Setelah bangkrut. Apa yang harus aku lakukan adalah tetap move on. Namun dengan sumber daya keuangan yang kering memang tidak mudah. Untuk sementara yang kulakukan adalah mendatangi teman-teman yang masih longgar hidupnya. Bukan untuk meminta dan mengeluh akan nasib buruk, tapi sekedar meyakinkan mereka bahwa aku masih exist. Entah apa yang dapat mereka perbuat untuk membantuku di tengah krisis moneter paska tahun 1998. Yang penting aku akan lakukan apa saja untuk mereka tidak merasa rugi kalau membantuku. 

Ada teman tawarkan agar aku menjadi konsultannya, ya aku kerjakan. Ada yang minta aku membantunya mencari buyer batubara, ya aku lakukan. Ada juga teman minta aku terlibat dalam aktivitas sosial, ya aku ikut. Karena memang tidak berniat menjadi broker atau penjual jasa, maka setiap peluang yang kuterima aku kerjakan dengan tulus. Kalau dikasih uang aku terima,  kalau tidak ya sudah. Di samping itu, istriku juga tampil sangat luar biasa sebagai penyelamat rumah tangga kami. Ia berdagang kecil-kecilan agar bisa membantu biaya rumah tangga dan tanpa menghalangiku untuk terus berhubungan dengan teman-teman pengusaha. Ia tidak membaniku soal biaya rumah tangga.

Pernah ketika usai libur lebaran istri mengajakku dan anak-anak pergi ke Ancol dengan bekal tikar dan makanan dari rumah. Kami duduk di pantai dengan penuh keceriaan dalam hidup bersahaja. Padahal tahun lalu kami bisa tinggal di hotel dan menikmati semua hiburan yang ada di Ancol. 

"Papa,  kapan kita ke Dufan dan tidur di hotel lagi?," kata putra sulungku sambil menunjuk hotel Horisson. Rasanya aku ingin menangis, namun istriku dengan bijak menjawab, "Tahun depan kita akan tidur di hotel dan ke Dufan lagi kalau liburan. Ayo doakan Papa bisa bangkit lagi”.

Suatu waktu istriku punya tabungan dan berniat untuk memberangkatkan ibuku pergi haji. Aku tersentak. Di tengah kehidupan yang sulit, istriku begitu lapang hati berkorban untuk ibuku. Alasannya semoga ibuku dapat pula mendoakan kami agar suatu saat dapat pergi haji. Kalau tidak ada rezeki, kami berharap anak-anak dapat mengirim kami ke Baitullah. Akhirnya ibuku berangkat haji. Setelah itu kami tidak punya lagi tabungan. Kalau sakit, entah bagaimana kami bisa selamat. Karena kami juga tidak punya asuransi kesehatan.

Suatu hari, dengan bus Patas AC aku meluncur dari terminal di pinggiran Jakarta ke arah jalan Sudirman, pusat kota. Mengapa aku bilang ke arah Jalan Sudirman? Karena aku sendiri pun tidak tahu mau ke mana. Aku hanya tahu bahwa aku harus keluar rumah dan berharap akan ada peluang. Tapi ke mana?  

Entahlah. Aku turun di halte Gedung Arthaloka. Tak ingin terlalu lama bengong di halte, kaki aku langkahkan ke Hotel Reagent yang berada di belakang gedung Landmark. Berharap di hotel itu aku bertemu teman yang sedang ngopi, atau setidaknya aku bisa istirahat barang sebentar. Sesampai di hotel, karena tidak ada Credit Card, dan tidak ada uang di dompet, maka seperti biasa aku hanya duduk di lobby sebentar. Kalau lewat 1 jam tidak ada ketemu teman, ya aku pergi dari hotel itu sebelum diusir oleh Satpam.

Baru saja aku mau melangkah ke arah pintu keluar, aku bertemu dengan teman lama, warga Singapore. Ia minta aku menemaninya melakukan negosiasi dengan relasinya orang Indonesia. Usai negosiasi ia ajak aku makan siang. Ia berjanji akan memberikan fee kalau transaksinya dengan relasinya tadi berhasil. Benarlah, seminggu kemudian ia telepon aku mengabarkan bahwa aku bisa ke Singapore untuk mendapatkan fee yang ia janjikan. Tapi dari mana ongkos ke Singapore?  Ada teman yang kutemui mau menolong. Sore harinya, ia memberi aku uang untuk ongkos ke Singapore. Katanya uang itu didapatnya dari menjual HP Communicatornya. Menurutnya begitulah caranya berterimakasih karena ingat dulu aku pernah menolongnya. Aku terharu. Aku berjanji akan mengembalikan uangnya.

Sesampai di bandara Changi, temanku mengabarkan via telepon bahwa ia sedang berada di Johor Bahru. Malam baru kembali. Ia minta aku tunggu di hotel. Hotel mana? Aku tidak punya uang untuk sewa kamar. Uang di kantong hanya SGD 20. Tapi bagaimanapun aku putuskan datang ke hotel agar ia mudah menemuiku nanti.  Dengan taksi aku sampai di Hotel Central di kawasan Orchard. Dari jam 1 sampai jam 5 sore aku menantinya di lobby tapi yang kudapat malah teleponnya mengabarkan bahwa Ia tidak bisa menemuiku. Kemungkinan baru besok pagi bisa bertemu. Nah sekarang tidur di mana? Perut lapar. 

Nasib baik datang. Aku bertemu teman dari Jakarta. Ketika itu jam 7 malam. Aku diajaknya makan malam. Tapi usai makan malam, ia sibuk menerima telepon dan akhirnya pergi ke luar hotel untuk bebas bicara. Dan sampai jam 10 malam tidak kembali lagi ke restoran. Petugas restoran minta bill ditutup. Darimana aku punya uang?  Terpaksa aku menyerahkan pasporku untuk jaminan. Bahwa besok aku berjanji akan membayar setelah temanku datang. Untung manager restoran percaya, atau mungkin ia kasihan. Kini aku tidak punya paspor, tidak punya kamar untuk tidur. Tidak punya uang. Ada di negeri orang. Kalau besok temanku tidak datang maka kemungkinan urusannya harus ke polisi. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa.  Saat itulah aku teringat akan istri dirumah. Untuk mengisi kekosongan waktu dalam penantian yang tak pasti. Aku keluarkan pulpen dan mulai menulis di buku agenda yang selalu ku bawa. 

Istriku ....Tak ada orang yang ingin menulis surat seperti ini, tapi aku cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku mencintaimu, Sayang. Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai bisnisku  daripada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Aku memang punya obsesi dalam hidup ini. Obsesi seorang yang terlahir sebagai pria. Yang harus berbuat lebih. Tapi, tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama. Semoga ini dapat kamu pahami, sayang.

Ingat ketika aku membicarakan niat untuk bisnis. Aku tau kamu tidak mengerti. Kamu hanya tau kalau akhirnya bisnis  ini tidak cukup membuat kita bahagia. Aku tidak pernah tau arti uang dan kamu menanamkan arti uang dan kebijakan kepada anak anak hingga membuat mereka rendah hati dan sangat bangga akan aku. Aku sering  mengeluh kepadamu tentang bisnisku , tapi aku tak pernah mendengarmu mengeluh .Seandainya pun kamu mengeluh, mungkin aku tak mendengarnya. Aku terlalu terlena oleh masalahku sendiri sehingga tak pernah memikirkan masalahmu.

Aku memikirkannya sekarang, semua yang kamu korbankan untukku. Pakaian, liburan, pesta, dan teman-teman. Kamu tak pernah mengeluh dan entah bagaimana aku tak pernah ingat untuk berterima kasih padamu. Padahal itu sangat penting bagi dirimu. Saat aku duduk minum kopi bersama teman-teman, aku selalu membicarakan business dan obsesiku , tantanganku , peluangku. Rupanya aku lupa bahwa kamu adalah mitraku meskipun kamu tak berada bersamaku. Pengorbanan dan keteguhan hati menemaniku jualah yang akhirnya mengantarkanku aku dalam dunia yang tak terbayangkan.

Aku begitu puas dengan posisiku dihadapan teman- temanku, hingga rasanya seperti ingin mendapat pujian darimu. Tapi kamu tetap tidak mengerti antara aku dan temanku. Dengan kelakar kamu mengatakan kepadaku bahwa temanku pantas mengharapkan bisnisku karena mereka tidak perlu pusing untuk membiarkan istrinya bergelut dengan masalah sehari hari yang membosankkan. Sayang, ketahuilah bahwa aku bangga akan dirimu walau itu tak pernah kukatan. Aku menganggap kamu pasti sudah tahu, tapi andai aku melewatkan waktu untuk mengobrol denganmu sama banyaknya dengan rapat bisnisku, mungkin aku akan mengatakannya.

Aku memikirkan ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita yang terlupakan. Drama sekolah anak anak dan pertandingan olahraga yang kamu hadiri sendirian karena aku sedang diluar rumah. Bila aku di luar negeri …Aku memikirkan malam-malam sepi yang kamu lewatkan seorang diri, bertanya-tanya di mana aku berada dan bagaimana keadanku. Karena kamu memang tidak mau menghalangi kemana aku pergi. Aku memikirkan semua saat aku ingin meneleponmu hanya untuk menyapa tapi tak pernah jadi kulakukan. Aku memikirkan perasaanku yang damai karena tahu kamu berada di rumah bersama anak anak menungguku.

Tiap kali ada acara keluarga, kamu selalu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk menjelaskan kepada orang tuamu mengapa aku tak dapat hadir. Aku sibuk dengan urusanku, menjawab telp temanku , menganalisa data bisnis atau aku sedang tidur karena harus berangkat pagi pagi esoknya. Selalu ada alasan, tapi rasanya sekarang alasan itu tak begitu penting. Aku ingin merubahnya , sayang. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah berhenti untuk mencintaimu. You were always on my mind.

Waktu kita menikah, kamu tak tahu cara  mengendari motor dan mobil. Tapi, setelah beberapa tahun, kamu menjadi supir yang hebat karena kamu harus selalu  menemani kegiatan sekolah anakmu. Sementara aku sibuk dan melakukan banyak perjalanan keluar negeri. Aku banyak berbuat kesalahan dalam hidupku, tapi seandainya aku pernah mengambil satu keputusan bagus, itu adalah saat aku melamarmu. Kamu tak akan pernah bisa mengerti apa yang membuatku terus memburu obsesiku. Aku juga tak mengerti, tapi itulah cara hidupku dan kamu hadir melengkapi hidupku. 

Masa susah, masa senang, kamu selalu ada. Aku mencintaimu, Sayang, dan aku mencintai anak-anak. Tulisan itu berakhir dengan air mataku berlinang. “ Tuhan beri kesempatanku untuk memuliakan istriku. Setidaknya membawanya ke Baitullah.” 

Mendekati dini hari, teman yang tadi mengajakku makan malam masuk ke dalam hotel. Aku mengejarnya sampai ke lift. Ia terkejut. Ia pikir aku sudah pergi. Aku jelaskan bahwa aku tidak punya uang sama sekali. Juga tidak bisa membayar bill restoran. Apalagi sewa kamar. Ia tidak menyangka begitu parah keadaan hidupku. Padahal beberapa tahun lalu aku pernah meminjaminya uang. 

Dengan tersenyum ia mendatangi manager restoran untuk melunasi bill dan juga sewa kamar untukku. Kami bicara di kamarnya cukup lama. Ia menawarkan pekerjaan untuk aku mengurus pendanaan proyeknya. Dengan terus terang aku katakan bahwa aku tidak punya uang untuk bergerak. Jadi aku tidak bisa berjanji apapun untuk bisa menolongnya. Ia hanya tersenyum. Semoga ia maklum. 

Besok pagi, temanku yang orang Singapore datang ke hotel hanya untuk mengabarkan bahwa ia belum bisa memenuhi janjinya membayar komisi. Karena terbukti relasinya di Jakarta belum melunasi komisi keagenannya. Aku tidak bisa marah, ini salahku karena terlalu berharap. Dan lagi tidak ada kontrak apa pun untuk memaksanya. Nah, sekarang bagaimana bisa pulang? Uang untuk beli tiket tidak ada. Tapi aku tidak mau mengeluh kepada siapapun. Pada saat itu aku hanya bisa berdoa. Teman dari Jakarta yang tadi malam membayar kamar dan makan malam, menghampiriku di lobby. Ia menyerahkan setumpuk dokumen.
“Ini uruslah proposal bisnis saya. Pelajari. Kalau bisa bantu, hubungi saya. Dan ini uang untuk biaya operasional kamu“, katanya sambil menyerahkan uang USD 10,000. Aku terkejut. Ia langsung berlalu dari hadapanku dengan tergesa-gesa. Sekarang aku punya uang USD 10,000. Akupun bisa pulang.

Di rumah aku ceritakan kepada istriku mengenai uang yang aku terima dan juga menjelaskan bahwa aku tidak yakin akan berhasil dengan pekerjaan ini. Istriku hanya berpesan agar aku menggunakan uang itu sebaik mungkin. Waktu aku beri uang, ia menolak dengan tegas karena uang itu amanah yang harus aku gunakan untuk bekerja. 

Semalaman aku mempelajari semua dokumen itu dan mencoba melakukan stimulasi cara yang tepat mendapatkan sumber pembiayaan. Tapi selalu mentok. Karena bunga yang ditetapkan sangat rendah. Maklum ini proyek dengan pembiayaan kredit ekspor melalui APBN. Sementara credit rating Indonesia lagi jeblok. Suku bunga pasar untuk Indonesia di atas 4 % bunga LIBOR. 

Namun akhirnya aku dapat formulasi bagaimana agar proyek ini layak dibiayai.  Sampai pagi aku menyelesaikan info memo proyek itu agar mudah bagi lender untuk mempelajarinya dan membuat keputusan. Tapi siapa lendernya? Tidak ada bank dalam negeri yang bisa membiayai. Ke mana?  Pikiranku langsung ke Hong Kong. Ya, aku harus kembali ke Hong Kong untuk menemukan sumber pembiayaan. Tapi siapa yang masih percaya denganku? Dulu saja aku gagal, apalagi sekarang hanya sebagai konsultan. Tapi aku harus ke Hong Kong. 

Di bandara aku melangkah dalam ragu. “Aku ngga tahu, Ma. Apakah aku akan berhasil? Siapa yang akan percaya denganku dengan keadaan seperti sekarang?”,  kataku kepada istri yang mengantarku ke Bandara. 
“Jangan meragukan dirimu, Pa. Aku tidak pernah memilih pria yang lemah sebagai suami. Papa tetap yang terbaik bagiku. Aku yakin Papa terlalu kuat untuk jatuh.  Sudahan ya, ragunya. Jangan sampai anak-anak melihat Papa lemah. Pergilah. Ngga usah pikirkan anak-anak. Itu urusanku. Yang penting Papa tetap tenang dan jangan menyerah”, kata istriku.

Ketika pesawat take off keyakinanku sudah bulat. Benar aku bangkrut secara bisnis, namun secara spiritual aku tidak bangkrut. Sahabat masih ada yang percaya dan mau berkorban untukku. Ada istri yang selalu bangga terhadapku. Dan anak-anak yang sehat dan cerdas. Aku harus berjuang untuk membuktikan bahwa aku tidak lemah.

Pesawat mendarat di Hong Kong. Ketika itu Hong Kong sedang memasuki musim semi. Aku tidak akan tinggal di hotel bintang 5. Aku harus berhemat dengan uang yang kurang dari USD 10,000 di tangan karena aku tidak tahu sampai berapa lama perjuangan ini akan selesai. Apakah aku akan pulang dengan tangan hampa? Segera aku menepis segala perasaan negatif. Aku hanya ingat pesan terakhir dari istri bahwa aku bukan pria lemah. 

Aku menginap di hotel kawasan Central Hollywood Street. Bukan hotel, tapi tepatnya wisma. Kamar ukuran 3 x 2,5 meter. Kamar mandi ada di dalam tapi sangat sederhana. Tidak ada TV. Aku sewa kamar untuk 7 hari. Ya, inilah markasku untuk sementara. 

Ada niatku untuk menelepon Esther sahabatku yang berkarir sebagai banker di Hong Kong. Tapi entah mengapa aku urungkan. Karena aku tak ingin merepotkannya. Pagi-pagi aku meluncur ke kawasan Financial Center Hong Kong. Dengan setelan jas aku datangi satu per satu lembaga keuangan yang aku kenal. Seharian aku mendatangi semua relasi. Mungkin ada 6 perusahaan lembaga keuangan kelas dunia telah aku datangi. Tapi semua menutup pintu.  Alasannya sama bahwa proyek itu dijamin oleh Pemerintah Indonesia dan mereka tidak melihat Pemerintah punya kemampuan membayar. Ada juga yang langsung tertawa ketika bunga yang ditetapkan sebesar LIBORr+0,5%. Padahal credit rating Pemerintah jeblok. Seharusnya bunga lebih besar dari itu. Seperti halnya Philipina menawarkan bunga LIBOR +7 atau Thailand LIBOR +5. Ada apa ini? Apakah Pejabat Indonesia tidak paham soal money market?

Sebetulnya, kalaulah mereka mau saja mempelajari info memo yang kutulis tentu mereka tidak akan bersikap seperti itu. Karena dalam info memo, aku tulis analisa resiko dan solusi memperkecil resiko, bahkan menjadikan resiko sebagai peluang. Namun sikap apatis terhadap Indonesia membuat mereka malas membaca proposalku. 

Jam makan siang aku merasa lapar. Aku berniat makan di restoran, tapi kemudian aku urungkan. Aku harus berhemat. Pilihannya adalah makan hotdog yang mangkal di jembatan di dekat taman Bank of America. Dengan duduk santai aku menikmati hotdog itu sambil  berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan? Saat itu terdengar suara memanggilku. Dari arah samping nampak seorang pria bule mendekatiku.“Jaka?” Teriaknya
“Mark?” kataku setengah tidak percaya.
Kami berangkulan. Ia sahabatku dulu waktu di Jakarta. Aku pernah membeli mesin chopstick darinya. Ketika itu ia sebagai agen dari perusahaan Taiwan. Kami bicara santai di taman itu. 
“Apa yang kamu kerjakan di sini?” katanya.
“Aku sedang mencari lender yang berminat membiayai sovereign guarantee Pemerintah Indonesia“.
“Boleh aku lihat dokumennya?”
Aku menyerahan dokumen yang ada, dan itu hanya copy dari info memo yang kubuat. Ia membaca sekilas. “Boleh aku bawa copy dokumen ini?”
“Silahkan”, kataku.
Ia segera berdiri karena ada urusan lain. “Segera aku kabari kalau ada kemungkinan bisa deal ,“ katanya.
Sebelum ia melangkah jauh, aku bertanya, “Mark, apa pekerjaan kamu sekarang?”.
“Jualan asuransi”. 
Hoalaaah… Aku telah menyerahkan dokumen financial solution kepada agen asuransi, kepada orang yang tidak punya financial network.  

Sore hari setelah lelah mendatangi satu per satu lembaga keuangan aku kembali ke hotel. Hari ini kosong tak ada deal dan tak ada prospek. 

Jam 7 malam telepon selularku bergetar.  “Jaka, ada berita bagus. Besok ke kantorku,  ya. Alamatnya sesuai di kartu nama kemarin yang aku berikan kepada kamu”, kata Mark di seberang. Kesannya ia antusias sekali.
“Baik. Besok tepat jam 10 pagi aku sudah ada di kantor kamu.”
“Bagus.” 

Benarlah, ketika aku datang di kantornya, Mark sudah menanti aku di ruang resepsionis. Ia menyalami aku dengan hangat dan membawa aku ke ruang meeting. Di ruang meeting ada beberapa orang. Aku diperkenalkan satu per satu kepada mereka. Ada perwakilan dari banker di Eropa, ada perwakilan dari perusahaan asuransi khusus penjaminan utang, dan ada juga supplier. Mereka minta aku mempresentasikan info memo itu di hadapan mereka. 

Dengan tenang aku jelaskan setiap tahap proses transaksi agar resiko hukum dapat dihindari, dan syarat yang ditetapkan Pemerintah dapat disiasati dengan baik sehingga layak dibiayai. Mereka perhatikan dengan seksama setiap penjelasanku. 

“Jadi, kesimpulan dari yang Anda sampaikan adalah agar tetap mengikuti syarat yang ditetapkan Pemerintah maka perlu ada lender sebagai vehicle semacam SPC di daerah bebas pajak. SPC itu yang melakukan perikatan dengan Pemerintah. SPC ini yang akan menerima dana dari bank, yang kemudian diteruskan ke supplier yang bertindak sebagai rekanan Pemerintah. Nah, karena selisih harga sangat tinggi maka resiko atas jaminan Pemerintah ditutup oleh perusahaan asuransi dengan premium sesuai dengan credit risk surat utang Pemerintah Indonesia. Biaya premium itu ditanggung oleh suplier”, kata banker yang hadir dalam rapat itu.
"Tepat sekali“ 
“Nah, apa posisi Anda sekarang?”
“Saya hanya membantu teman saya, yang juga rekanan Pemerintah”
“Bukan konsultan?”
“Bukan.”
“Ok. Saya minta teman Anda datang ke Hong Kong bertemu kami, dan juga semua pihak yang terlibat dalam transaksi ini dari Indonesia juga hadir. Kita akan proses cepat.”
“Apakah mungkin saya bisa dapat surat undangan dari Anda yang ditujukan kepada pihak Pemerintah?”
“Apa perlu?”
“Maaf, karena saya bukan siapa-siapa yang bisa meyakinkan mereka untuk datang ke Hong Kong.”
“Ok, saya akan segera buatkan undangannya. Alamat semua ada di dokumen ini, kan?”
“Ya.”
“Hari ini saya buatkan undangannya dan sekaligus surat minat.“
“Terimakasih.” 

Seusai meeting, aku keluar dari gedung itu bersama Mark. Ia mentraktir aku makan siang. Ia mengatakan bahwa Banker tadi adalah business network dari Boss-nya. Fokusnya hanya agar ia bisa menjual produk asuransi semacam surety bond. Dan skema transaksi ini membutuhkan surety bond guna meningkatkan credit rating Indonesia. Aku bisa memahami dan senang karena skema ini memberikan manfaat untuk perusahaannya.

Sorenya aku mendapat telepon dari teman di Jakarta bahwa teman bersama rombongan dari Pemerintah akan terbang ke Hong Kong besok pagi. Nada suaranya nampak ia senang sekali. Aku bersyukur karena baru dua hari di Hong Kong sudah ada progress positif. 

Malamnya aku telepon istri menanyakan anak-anak. Hanya ia sedikit repot dengan putri bungsu kami yang sulit dijelaskan kalau aku tidak akan pergi lama-lama lagi. Setiap malam ia tidak mau tidur di kamarnya. Ia memilih tidur di kamar bersama mamanya. Dan tidak mau sprei dan sarung bantal diganti. Karena ia kangen dengan aroma tubuh papanya. Aku baru sadar bahwa putriku sudah ABG dan ia mengidolakanku. 

Keesokan paginya aku terus sibuk mempertajam analisa dan membuat beragam simulasi untuk meyakinkan temanku tentang financial solution yang aku tawarkan kepada pihak lender. Aku berharap temanku dapat mengerti. Jam 2 sore aku berangkat ke bandara untuk menjemput teman dan tim dari Pemerintah.
“Kamu menginap di mana?”, tanya teman ketika dalam perjalanan ke hotel dari bandara.
“Central Park Hotel“.
“Sebaiknya kamu gabung dengan saya saja. Kami menginap di Shangri-la. Saya sudah bookingkan kamar untuk kamu. Nanti sampai hotel setelah check in ambil tas kamu”, kata teman.
“OK” 

Aku bisa akrab dengan tim dari Pemerintah karena 2 orang dari tim yang berjumlah 3 orang itu telah kukenal baik. Jadi pembicaraan kami bisa lebih santai. 

Setelah check in hotel, aku bicara dengan temanku di kamarnya. Aku berusaha menjelaskan secara rinci tahapan financial close atas skema yang aku ajukan. Ia dapat memahaminya karena aku sampaikan dengan analogi sederhana yang mudah dicerna akalnya sebagai pedagang.  “Yang penting dapat uang dan saya bisa delivery ke Pemerintah. Itu saja“.
“Kira-kira mereka bisa terima?” Kataku
“Saya rasa mereka setuju. Yang penting Pemerintah menandatangani Credit Export Contract sesuai aturan dan syarat yang ditetapkan DPR dalam APBN. Di balik itu kalau ada rekayasa mereka tidak peduli. Terlalu rumit untuk mereka pahami. Tenang saja, Jaka”. Aku senang karena temanku merasa yakin untuk memastikan Pejabat Pemerintah akan setuju dengan skema yang aku buat.

Besoknya kami berangkat ke kantor Mark. Dari kantor Mark, kami berangkat bersama ke alamat kantor bank. Proses negosiasi dari pihak borrower sepenuhnya aku yang pegang kendali. Temanku dan Pejabat Pemerintah hanya manggut-manggut saja. Usai meeting, kami sepakat untuk memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Banker. 
Dari proses membentukan SPC, sampai buka rekening penampungan loan, sekuritisasi Government Bond yang di-back up perusahaan asuransi internasional, sampai kepada perjanjian Engineering, Procurement and Construction (EPC) kepada vendor, semua aku yang atur. Temanku hanya menandatangani, dan kalau perlu tanda tangan Pejabat Pemerintah, ia yang urus. 

Tiga hari proses itu selesai dan memuaskan. Pihak bank berjanji paling lambat hari Rabu minggu depan kredit telah cair ke rekening penampungan pada sebuah perusahaan offshore di Isle of Man. 

Hari Jumat kami kembali ke Jakarta. Tapi mampir dulu ke Singapore untuk meeting dengan tim EPC. Malamnya teman mengajakku  entertain Pejabat Pemerintah di karaoke, tapi aku menolak secara halus karena harus mempersiapkan dokumen meeting besok pagi dengan tim EPC. 

Paginya seusai meeting dengan tim EPC, temanku datang ke kamarku.  “Kamu jadi pulang hari ini?”
“Ya”
“Kenapa tidak hari Minggu aja. Ini kan malam Minggu. Kita pesta dululah.”
“Lain kali saja. Oh ya, ini sisa uang yang kamu kasih minggu lalu di Jakarta. Rincian penggunaan uang ada di dalam amplop. Terimakasih“, kataku sambil menyerahkan ampop kepadanya.
“Jangan begitulah, Jaka. Kita teman. Ambil aja uang itu dan lupakan. Terimakasih sudah bantu saya”,  katanya.
Ia menyerahkan kantong plastik dan di dalamnya ada kardus kotak sepatu. “Ini oleh-oleh untuk istri kamu. Terimakasih“, katanya lagi.

Ketika mau check out, aku membuka kotak kardus itu karena terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam tasku. Tapi ketika kubuka di dalamnya ada gepokan uang dollar. Aku bingung. Ini mungkin temanku salah kasih. Segera aku telepon, “Bro, kamu salah kasih bungkusan?” 
“Ya benar. Maaf. Saya baru bisa kasih USD 800,000, sisanya USD 1 juta minggu depan setelah kredit cair. Maaf ya, Jaka” 
“Untuk apa?” 
“Itu komisi kamu sudah bantu saya. Totalnya USD 1,8 juta dari USD 76 juta atau 2,5%.“ 
“Tapi kita ngga kontrak dan kamu ngga bisnis dengan saya. Kamu hanya minta tolong kepada saya.”
“Ya, paham. Tapi saya tahu kemampuan kamu. Terimalah dan jangan sungkan. Kalau lihat cara kamu meyakinkan Banker  dan mereka yang terlibat dari proses pembiayaan, saya terharu. Terimakasih.”
“OK lah, terimakasih. Ini sangat berarti bagi saya, bukan soal uangnya tapi cara kamu menghargai saya tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun.” Kataku. Uang itu aku setor ke rekeningku di Singapore. Aku pulang hanya bawa receipt.

Aku kembali ke Jakarta. Sampai di rumah keesokannya, aku perlihatkan receipt kepada istri, bahwa aku menerima uang atas hasil jasaku selama mengurus bisnis teman di Hong Kong. Aku ceritakan pengalamanku. Apakah ia senang?  Tidak. Ia hanya menyikapinya dengan dingin. 
“Hati-hati ya, lain kali. Jadikan pelajaran kegagalan yang sudah-sudah“.
“Apa keinginan Mama?”
“Aku hanya ingin suatu saat kelak kalau anak-anak semua sudah menikah, Papa selalu ada waktu untuk kita berdua. Ngga lagi sering ke luar negeri. Janji ya..”.
“Aku janji. Apalagi?“
“Tahun ini kita pergi haji?”
“Ya”, kataku tegas.
Barulah istri tersenyum ketika kukatakan setuju ke Mekah. Sebelumnya aku selalu menolak karena alasan sibuk. Ketika bangkrut kesadaran itu muncul, dan istri menggunakan momen kesuksesan ini untuk aku bersyukur dengan memenuhi panggilan Allah, ke Baitullah.