Sunday, April 26, 2026

Hidup lapang menuju survival

 



Namanya Raka. Dulu ia bagian dari kelas menengah yang percaya pada satu hal sederhana, bahwa bekerja keras akan cukup untuk hidup layak. Setiap pagi ia berangkat dengan kemeja rapi, kopi di tangan, dan keyakinan bahwa hidup bergerak ke arah yang benar. Gajinya tidak besar, tapi cukup. Cicilan berjalan, anak sekolah, sesekali makan di luar. Hidup tidak mewah, tapi terasa stabil.


Lalu suatu hari, stabilitas itu retak. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan “efisiensi”. Kata yang terdengar teknokratis, tapi maknanya sederhana bahwa sebagian orang harus pergi. Raka salah satunya. Awalnya ia tenang. “Masih ada tabungan,” katanya pada istrinya. Ia mencoba melihat ini sebagai jeda, bukan akhir.Beberapa bulan pertama, hidup masih bisa ditopang. Tapi harga-harga tidak ikut jeda. Sembako naik. Listrik naik. Biaya sekolah tidak turun. 


Tabungan yang dulu terasa aman, perlahan menipis seperti air di dasar gelas. Lamaran kerja tak kunjung berbuah. Dunia yang dulu terasa terbuka, kini seperti menutup pintu satu per satu. Raka akhirnya masuk ke sektor informal—mengemudi, mengambil apa pun yang bisa menghasilkan uang hari itu. Tidak ada kepastian. Tidak ada perlindungan. Hanya ada hari ini.


Di sisi lain kota, ada Sari. Ia masih bekerja. Gajinya tetap masuk setiap bulan. Tapi ada yang berubah: uang itu tidak lagi cukup. Dulu ia bisa menyisihkan sedikit. Sekarang, bahkan untuk bertahan hingga akhir bulan, ia harus menghitung ulang setiap rupiah. Ketika kebutuhan melampaui penghasilan, pilihan mulai menyempit. Pinjaman online hadir seperti solusi cepat—mudah, instan, tanpa banyak pertanyaan. Sari tahu risikonya. Tapi kebutuhan tidak menunggu. Awalnya kecil. Lalu bertambah.Bunga menggerogoti pelan-pelan. Pendapatan tidak naik, tapi kewajiban terus bertambah.


Raka kehilangan pekerjaan. Sari tetap bekerja. Keduanya, dengan cara berbeda, berjalan ke arah yang sama: turun kelas. Di sinilah perubahan ekonomi terasa paling nyata. Bukan dalam grafik atau angka pertumbuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kelas menengah mulai jatuh, dan yang sudah miskin semakin terpuruk, maka fondasi ekonomi mulai goyah.


Sementara itu, di lapisan atas, cerita berbeda berjalan. Likuiditas mengalir ke instrumen yang aman, ke aset yang terlindungi, ke jaringan yang sudah mapan. Dalam banyak kasus, krisis tidak merugikan semua orang secara merata. Ada yang justru tumbuh di tengah ketidakpastian—terutama mereka yang dekat dengan sumber rente dan akses kekuasaan.Inilah paradoks yang sering luput dibaca. 


Ketika tekanan global meningkat—dari konflik geopolitik hingga lonjakan harga energi—dampaknya tidak berhenti di tingkat negara. Ia turun, merembes, dan akhirnya menetap di ruang-ruang paling kecil, dapur rumah tangga. Dalam teori ekonomi, guncangan eksternal akan mempengaruhi nilai tukar, inflasi, dan arus modal (Obstfeld & Rogoff, 1996). Dalam praktik kehidupan, ia berubah menjadi hal yang jauh lebih sederhana, yaitu harga naik, pendapatan stagnan, dan ruang hidup menyempit.


Ketika ketidakpastian global memicu flight to safety, modal keluar dari negara berkembang menuju pusat keuangan global (Rey, 2015). Rupiah tertekan, biaya impor naik, dan harga barang ikut terdorong. Bagi pelaku pasar, ini adalah dinamika portofolio. Bagi Raka dan Sari, ini adalah alasan mengapa hidup semakin mahal. Lebih jauh lagi, ketika ekonomi terlalu bertumpu pada konsumsi tanpa diimbangi produksi yang kuat, maka setiap tekanan eksternal akan lebih cepat terasa di dalam negeri (Rodrik, 2016). Konsumsi yang dulu menjadi kekuatan, berubah menjadi kerentanan.


Raka kini bekerja tanpa kepastian. Sari bekerja tanpa kecukupan. Dan di antara mereka, ada jutaan orang lain yang berada di persimpangan yang sama. Pada akhirnya, krisis bukan hanya soal apakah ekonomi tumbuh atau tidak. Ia tentang siapa yang mampu bertahan, dan siapa yang harus turun. Ketika kelas menengah mulai kehilangan pijakan, ekonomi tidak hanya melambat—ia kehilangan keseimbangannya. Dan ketika ketimpangan semakin melebar, yang tersisa bukan lagi sekadar persoalan angka, melainkan arah dari sebuah bangsa. Karena di balik setiap statistik, selalu ada cerita seperti Raka dan Sari. Dan di sanalah, ekonomi yang sebenarnya sedang berlangsung.

No comments: