Aku berjalan di antara lampu-lampu letih,
Jakarta menatapku dengan mata yang tak sempat bermimpi.
Asap naik dari jalanan,
bukan doa, hanya sisa-sisa hari yang terbakar.
Kereta melintas ke Bekasi,
membawa tubuh-tubuh yang kalah waktu,
tapi tak mau menyerah pada sunyi.
Aku bukan bagian dari mereka,
tapi juga bukan dari kota ini.
Aku hanya singgah,
menghitung hidup dalam detik yang terus digerus.
Jika esok tak lagi datang,
biarlah aku tetap berdiri,
seorang yang tak tunduk pada lelah,
meski dunia tak pernah benar-benar ramah.
Source MYdiary
Puisi “ Jakarta-Bekasi."
Ale, Jakarta 1983.
***
Saat itu usia ku 20 tahun. Puisi itu lahir dari gejolak batin seorang anak rantau yang dalam kemiskian berbekal ijazah SMA sedang mencari arah dan jatidiri. Aku mulai merasakan realitas hidup yang digerus waktu. Hidup seolah menyempit menjadi sekadar hitungan detik, bukan lagi tentang makna. Aku melihat tubuh-tubuh manusia yang kalah oleh waktu. Selalu berlari, namun tak pernah benar-benar sampai. Seolah manusia terus tertinggal dari ritme kehidupan yang kian tak terkejar. Di sanalah aku memahami, bahwa hidup modern perlahan merampas kendali manusia atas waktunya sendiri.
Ke Jakarta aku datang. Di sini, pusat ambisi berkelindan dengan tekanan. Semangat kompetisi berdetak keras di setiap sudut. Bekasi, dulu terasa tenang. Tempat untuk pulang, namun bukan benar-benar tempat untuk hidup. Kereta pagi dan senja terus bergerak, membawa orang pergi dan kembali, seakan manusia direduksi menjadi sekadar fungsi ekonomi, bukan lagi individu yang utuh. Jakarta tak lagi memanusiakan. Ia hanya menggerakkan.
Lantas, di mana aku harus berada? Aku bukan bagian dari mereka, namun juga bukan milik kota ini. Aku berdiri di antara, ingin menjadi bagian dari sistem, namun enggan larut sepenuhnya di dalamnya. Barangkali inilah keterasingan modern. Hidup di tengah keramaian, namun tetap sendiri. Dan aku memilih untuk tidak tunduk pada lelah. Ini bukan optimisme yang naif. Ini adalah perlawanan diam, bukan melawan sistem secara frontal, melainkan menolak kehilangan martabat di dalamnya.
***
Di zaman sekarang, ada anggapan bahwa untuk bisa berkembang, kita harus berpihak kepada yang kuat.Padahal, itu bukan strategi. Itu adalah cerminan inferiority complex. Sikap mental yang tidak mandiri. Sikap yang lahir dari jiwa yang terbiasa bergantung. Orang-orang dahulu berjuang memerdekakan diri bukan sekadar untuk lepas dari penjajahan fisik, tetapi untuk membebaskan cara berpikir. Karena kemerdekaan sejati tidak berhenti pada tubuh, ia dimulai dari pikiran.
Pribadi yang merdeka adalah pribadi yang memiliki prinsip. Prinsip yang tidak bisa digadaikan, tidak bisa ditukar, dan tidak bisa dinegosiasikan. Prinsip itu bukan sekadar idealisme kosong. Ia adalah keyakinan tentang kebenaran yang harus dibela, dan kehormatan yang harus diperjuangkan. Dari situlah lahir kehidupan yang bermartabat, bukan karena apa yang dimiliki, tetapi karena nilai yang dijaga.
***
Indonesia dilahirkan oleh para pejuang yang “keras kepala”. Mereka yang memilih berdiri tegak demi kehormatan, dalam bingkai merdeka atau mati. Karena itu, sejak awal kita tidak pernah gamang di forum global. Kita duduk sejajar, dengan percaya diri, di meja yang sama. Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas aktif sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Prinsip itulah yang menjaga kita tidak tunduk pada zaman, dan tetap memiliki dignity sebagai bangsa.
Namun hari ini, arah itu terasa bergeser. Kita memilih tunduk dalam skema ART dengan AS, membuka akses terhadap sumber daya kritis demi pasar dan modal AS. Namun itu belum cukup membuat kita terhina sebagai loyalis AS. Amerika Serikat, kembali mengancam dan menekan lewat Section 301 dalam Trade Act 1974. Tujuanya mungkin agar kita patuh untuk memberikan akses udara untuk pesawat militer AS.
Secara formal, kita tetap ada sebagai bangsa. Namun pertanyaannya adalah, apakah kita masih memiliki makna, dan martabat sebagai bangsa yang merdeka? Jangan sampai, pilihan-pilihan itu lahir bukan dari strategi, melainkan dari cara pandang yang menempatkan diri sebagai bangsa yang merasa kalah, dan karena itu rela kehilangan nilai dirinya sendiri.

No comments:
Post a Comment