Banyak orang melihat bahwa sejumlah tokoh penting dalam industri teknologi global memiliki latar belakang Yahudi, dan dari situ muncul kesimpulan bahwa sebagian besar teknologi IT berasal dari kelompok etnis tertentu. Pandangan seperti ini terdengar sederhana, tetapi tidak sepenuhnya akurat.
Memang benar, sebelum tahun 2000—terutama pada era dotcom bubble di Amerika Serikat—banyak startup teknologi lahir dari ekosistem Silicon Valley. Beberapa di antaranya didirikan oleh individu dengan latar belakang Yahudi, seperti Sergey Brin, Larry Page, dan Mark Zuckerberg. Namun yang lebih menentukan bukan identitas mereka, melainkan ekosistem yang mendukung riset universitas, venture capital, dan pasar modal yang terbuka.
Setelah tahun 2000, terjadi perubahan struktur global. China mulai membangun kekuatan teknologinya sendiri, bukan melalui akuisisi semata, tetapi melalui strategi negara—kombinasi antara proteksi pasar domestik, investasi besar-besaran, dan integrasi antara pemerintah, industri, dan teknologi. Teknologi computer sekian decade dikuasai oleh Larry Ellison pendiri Oracle Corporation, Michael Dell pendiri Dell Technologies. Tapi setelah IBM diakuisisi oleh China, berganti dengan Lenovo, Oracle dan Dell jadi lilliput.
Makanya jangan kaget bila Google yang didirikan etnis Yahudi ( Sergey Brin& Larry Page ) kalah dibandingkan Baidu. Platfom Social Media, Meta ( Mark Zuckerberg) kalah dengan WeChat. Mengapa ? karena start up etnis Yahudi dibiayai oleh venture capital bukan dari Yahudi. Contoh Google pemodal awal adalah John Doerr. Ia bukan Yahudi. Meta, oleh Peter Thiel, ia bukan Yahudi, etnis German. Sementara China dibiayai oleh Pemerintah.
Kelebihan yang sering terlihat dari Israel—yang mayoritas penduduknya berlatar Yahudi—adalah pada kapasitas inovasi teknologi. Sejak awal, visi negara ini memang tidak bertumpu pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, sistem pendidikannya dibangun kuat, terutama di bidang sains, teknologi, dan riset.
Di sisi lain, Israel juga mendapat dukungan ekosistem dari Amerika Serikat dan Eropa, baik dalam bentuk akses teknologi, pendanaan, maupun integrasi pasar. Hal ini mempercepat lahirnya inovasi dan komersialisasi teknologi. Pendekatan serupa sebenarnya juga terlihat pada Iran, yang fokus pada penguatan SDM dan teknologi dalam kondisi keterbatasan. Perbedaannya, Iran tidak memiliki akses ke ekosistem Barat, sehingga pengembangannya lebih banyak ditopang oleh kerja sama dengan China dan kekuatan domestik.
Saya sendiri pernah melihat langsung hal ini. Pada 2011, saya memperoleh teknologi P2P berbasis blockchain untuk logistik dari Tel Aviv. Namun, pengembangan dan skalanya justru terjadi di China. Hal yang sama juga terjadi pada teknologi pertanian—dikembangkan di Israel, tetapi diindustrialisasi dan diperluas implementasinya di China.
Jika dilihat sebagai negara, ekonomi Israel tidak sepenuhnya solid. Ia memiliki kekuatan di sektor teknologi, tetapi juga menghadapi kerentanan akibat konflik berkepanjangan yang menekan fiskal. Jika dibandingkan dengan Singapura—yang jumlah penduduknya relatif sebanding. Kedua negara sama-sama bertumpu pada sektor jasa, industri berbasis pengetahuan.
Namun struktur fiskalnya berbeda. Israel, Debt to GDP mendekati 70%. Defisit fiscal di atas 4% PDB. Ketergantungan pada pembiayaan utang cukup tinggi. Sementara Singapore, Debt publik (gross) di atas 100% PDB . Namun utang pemerintah bersih mendekati nol. Bahkan secara keseluruhan, negara ini adalah net creditor. Fiskal relatif disiplin, sering berada dalam posisi surplus
Israel kuat dalam inovasi, tetapi menghadapi tekanan struktural pada sisi fiskal akibat faktor geopolitik. Singapore, di sisi lain, mungkin tidak seagresif Israel dalam inovasi teknologi frontier, tetapi memiliki fundamental fiskal dan manajemen keuangan negara yang jauh lebih stabil.
Dalam dunia modern, kekuatan tidak hanya diukur dari kemampuan menciptakan teknologi. Tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan— antara inovasi dan stabilitas. Dan dalam jangka panjang, yang bertahan bukan hanya yang paling inovatif. tetapi yang paling mampu mengelola risiko atas dasar kemandirian dan perdamaian.

No comments:
Post a Comment