Di sebuah ruang rapat yang terlalu dingin, pemerintah menunggu. Di atas meja panjang ada grafik Rupiah, yield SBN, cadangan devisa, IHSG, dan daftar rencana besar untuk mendatangkan pasokan dolar. Semua orang melihat layar. Semua orang berharap ada satu kabar yang bisa mengubah warna merah menjadi hijau.
“Tenang,” kata seorang pejabat. “Sebentar lagi dolar masuk.”
“Dari mana?” tanya yang lain.
“Dari investor strategis.”
“Investor yang mana?”
“Yang sedang dijajaki.”
“Sudah komitmen?”
“Belum. Tapi sinyalnya positif.”
Lalu ruangan kembali hening.
Di luar, pasar bergerak. Rupiah melemah. Yield SBN naik. Saham jatuh. Tetapi di dalam ruangan, mereka tetap menunggu. Menunggu investor besar. Menunggu pinjaman murah. Menunggu global bond diserap sempurna. Menunggu Panda Bond sukses. Menunggu DHE masuk. Menunggu ekspor melonjak. Menunggu harga komoditas naik. Menunggu kabar baik dari luar negeri.
Mereka seperti Vladimir dan Estragon dalam drama Waiting for Godot. Berdiri di pinggir jalan, menunggu seseorang yang katanya akan datang, tetapi tidak pernah benar-benar tiba. Bedanya, yang mereka tunggu bukan Godot. Yang mereka tunggu adalah dolar.
Seorang staf muda masuk membawa laporan.
“Pak, Rupiah kembali tertekan.”
“Karena apa?”
“Pasar minta yield lebih tinggi.”
“Jangan biarkan yield naik,” kata pejabat itu cepat. “Kalau yield naik, beban bunga APBN membesar.”
“Benar, Pak. Tapi kalau yield tidak naik, investor keluar.”
“Kalau investor keluar?”
“Rupiah melemah.”
“Kalau Rupiah melemah?”
“Investor minta yield lebih tinggi lagi.”
Pejabat itu terdiam.
Di layar, grafik Rupiah seperti garis demam. Yield SBN mulai bergerak naik, perlahan tetapi pasti. Pasar tidak berteriak. Pasar hanya menekan tombol jual.
“Bagaimana kalau kita tahan yield?” tanya pejabat lain.
“Bisa sebentar,” jawab staf muda itu. “Tapi kalau kurs terus melemah, pasar tidak percaya. Mereka akan berkata: yield ini terlalu rendah untuk risiko sebesar ini.”
“Bagaimana kalau kita intervensi Rupiah?”
“Bisa sebentar juga. Tapi cadangan devisa bukan sumur tanpa dasar.”
“Bagaimana kalau kita tunggu dana besar masuk?”
Staf muda itu diam.
“Dari mana?” tanyanya pelan.
Ruangan hening lagi.
Di pasar, trader tidak menunggu pidato. Mereka menunggu titik paksa. Mereka tahu pemerintah takut yield naik karena yield adalah biaya masa depan APBN. Kalau yield SBN naik, bunga utang baru ikut naik. Refinancing menjadi mahal. Ruang fiskal menyempit. Belanja produktif terdesak oleh pembayaran bunga. Kalau yield tinggi terus, dana domestik tersedot ke surat utang negara. Kredit ke sektor swasta menjadi mahal. Terjadi crowding out. Pemerintah mengambil oksigen dari pasar, sementara sektor riil mulai sesak napas.
Tetapi trader juga tahu sisi lainnya. Kalau yield ditahan terlalu rendah, sementara Rupiah melemah, investor merasa tidak dibayar cukup untuk menanggung risiko kurs. Mereka keluar dari SBN. Mereka jual saham. Mereka beli dolar. Rupiah makin tertekan. Saham makin jatuh. Yield yang ditahan akhirnya kehilangan makna.
Itulah dilema yang tidak bisa diselesaikan dengan harapan. Yield rendah ingin menyelamatkan APBN.
Yield tinggi ingin menyelamatkan Rupiah.
Saham butuh likuiditas.
Kurs butuh kepercayaan.
Pasar butuh harga yang jujur. Pemerintah ingin semuanya sekaligus: yield rendah, Rupiah kuat, IHSG naik, belanja tetap besar, utang tetap murah, dan investor tetap percaya. Pasar menjawab: tidak bisa.
Setiap hari, pejabat datang ke ruang rapat itu.
“Apakah dolar besar sudah masuk?”
“Belum.”
“Apakah investor strategis sudah komit?”
“Masih due diligence.”
“Apakah ekspor bisa membawa devisa besar?”
“Bisa, tapi butuh waktu.”
“Apakah DHE bisa dipaksa masuk?”
“Bisa diatur, tapi tidak semua devisa bebas. Banyak sudah terikat kontrak, offtake, prepayment, escrow, dan kewajiban offshore.”
“Apakah China bisa membantu?”
“Mungkin. Tapi tetap menghitung risiko.”
“Apakah pasar akan tenang?”
“Kalau percaya.”
“Bagaimana membuat pasar percaya?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena jawabannya tidak menyenangkan.
Pasar tidak percaya karena menunggu kata-kata. Pasar percaya karena melihat tindakan. Dan tindakan yang dibutuhkan justru tindakan yang paling tidak disukai politik: mengurangi belanja non-produktif, menahan ekspansi fiskal yang tidak menghasilkan penerimaan, memperbaiki tax ratio, memberi kepastian regulasi, menjaga independensi bank sentral, dan membiarkan yield menyesuaikan dengan premium risiko yang diminta pasar.
Bukan menahan harga dengan pidato.
Bukan menunggu dolar datang seperti mukjizat.
Bukan berharap investor global lupa menghitung risiko.
Di sudut ruangan, seorang ekonom tua akhirnya bicara.
“Kita ini sedang menunggu Godot.”
Semua menoleh.
“Maksudnya?”
“Kita menunggu sesuatu yang tidak pasti datang. Kita menunggu pasokan dolar besar yang akan membuat Rupiah menguat dan yield SBN turun sendiri. Kita berharap ada jalan mudah: investor masuk, dolar melimpah, Rupiah menguat, pasar saham pulih, yield turun, APBN selamat. Tapi pasar tidak bekerja seperti dongeng.”
Pejabat senior menatapnya tajam.
“Lalu apa yang harus dilakukan?”
Ekonom tua itu menjawab pelan.
“Berhenti menunggu keajaiban.”
Ruangan sunyi.
“Kurangi belanja non-produktif. Tunjukkan bahwa APBN tidak hidup dari ilusi. Naikkan suku bunga atau biarkan yield menyesuaikan agar aset Rupiah kembali punya premium yang layak. Kalau pasar meminta kompensasi risiko, berikan harga yang jujur. Setelah itu baru bicara stabilisasi. Jangan dibalik.”
“Kalau yield naik, APBN berat,” kata seorang pejabat.
“Benar,” jawab ekonom tua. “Tapi kalau yield ditahan rendah saat Rupiah runtuh, APBN akan lebih berat. Karena kurs jatuh menaikkan beban impor, subsidi energi, utang valas, inflasi, dan risiko refinancing. Yield yang naik terkendali adalah obat pahit. Yield yang meledak karena terlambat adalah racun.”
Tidak ada yang membantah.
Di luar ruangan, pasar terus berjalan. Trader hedge fund tidak peduli siapa yang benar secara politik. Mereka hanya melihat titik lemah. Mereka melihat pemerintah menahan yield. Mereka melihat Rupiah tetap melemah. Mereka melihat saham sell-off. Mereka melihat CDS melebar. Mereka melihat APBN bicara spending lebih lantang daripada revenue.
Lalu mereka menunggu.
Bukan menunggu Godot.
Mereka menunggu pemerintah menyerah pada harga.
Karena dalam pasar, harga yang terlalu lama ditahan akan mencari jalan keluar sendiri. Kalau pintu ditutup, ia keluar lewat jendela. Kalau jendela ditutup, ia merobohkan dinding.
Pada akhirnya, ruang rapat itu mulai berubah. Tidak ada lagi kalimat “sebentar lagi dolar masuk” yang diucapkan dengan mudah. Tidak ada lagi keyakinan bahwa pasar bisa ditenangkan hanya dengan konferensi pers. Mereka mulai mengerti bahwa dolar besar tidak datang hanya karena diundang. Dolar datang kalau merasa aman. Investor datang kalau dibayar layak. Rupiah menguat kalau orang percaya. Yield turun kalau risiko turun, bukan karena diminta turun.
Seorang pejabat muda menulis di papan. Kepercayaan tidak bisa dicetak. Kepercayaan tidak bisa diimpor. Kepercayaan harus dibayar dengan disiplin. Ekonom tua mengangguk. “Baru sekarang kita berhenti menunggu Godot.”
Malam itu, di ruang dealing yang jauh dari kantor pemerintah, seorang trader menatap layar. Rupiah masih lemah, tetapi volatilitas mulai turun. Yield SBN sudah naik ke level yang lebih jujur. Beberapa pembeli mulai muncul. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memberi sinyal bahwa pasar mulai melihat harga yang masuk akal.
Trader itu tersenyum.
“Sekarang mereka paham,” katanya.
“Paham apa?” tanya asistennya.
“Bahwa pasar tidak menunggu keajaiban. Pasar menunggu disiplin.”
Di luar, kota tetap bising. Politisi tetap bicara. Influencer tetap membela. Pejabat tetap mencari kalimat yang paling aman. Tetapi pasar sudah memberi pelajaran dengan caranya sendiri.
Kalau negara ingin Rupiah kuat, jangan hanya mencari dolar.
Kalau negara ingin yield turun, jangan hanya menahan yield.
Kalau negara ingin pasar percaya, jangan hanya berkata fundamental kuat. Kurangi ilusi.
Bayar risiko dengan jujur.
Perbaiki fiskal.
Biarkan harga menemukan keseimbangan. Sebab menunggu dolar datang tanpa memperbaiki rumah sendiri hanyalah menunggu Godot di pinggir jurang. Dan dalam pasar, Godot tidak pernah datang. Yang datang hanya margin call.

No comments:
Post a Comment