Friday, April 8, 2011

HANGZHOU.



Pendahuluan
Sebelum liberalisasi ekonomi Deng, Hangzhou ( ibu kota provinsi Zhejiang)   adalah contoh kemampuan pemerintah local melawan system komunis. Namun perlawanan ini tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah pusat karena letak daerah ini yang jauh. Kota ini awalnya tidak dirancang sebagai pusat industri tapi pusat pertahanan militer dalam menghadapi kemugkinan konflik dengan Taiwan. Daerah ini sangat sedikit sekali mendapatkan anggaran dari Pusat dan hampir tidak mungkin untuk menciptakan pertumbuhan. Namun rakyat yang ada di Zhejiang bangkit dengan kemampuan kemandirian. 

Pembangunan dilakukan oleh masyarakat dengan dukungan pendanaan dari budaya arisan. Kebiasaan masyarakat china yang suka berkelompok berdasarkan pertemanan serta hobi hidup hemat dan gemar menabung telah menjadikan system arisan ini mampu sebagai amunisi menuju kemakmuran.Ketika system arisan ini menunjukan keberhasilan maka disinilah yang patut kita contoh dimana mereka mampu berbuat jenius tanpa dukungan penasehat keuangan Wall street dan pengacara di London. Larangan mendapatkan dana dari system perbankan telah mendorong terbentuknya system perusahaan keluarga kolektive ( koperasi ). 

Kemudian dengan melobi perusahaan Negara untuk menjadikan mereka sebagai anak angkat. Melalui perjanjian dengan manajemen perusahaan Negara tersebut , koperasi itu akan membungkus dirinya dengan nama, dokumen dokumen dan nomor rekening di bank dimana perusahaan Negara itu sebagai nasabah utama, Tentu terjadinya kolaborasi tersamar ini karena didukung adanya jaminan dari system arisan yang mampu memperkuan likuiditas bank. Langkah ini tidak hanya membuat usaha mereka halal menerima kredit bank, tetapi juga membebaskannya dari keharusan membayar pajak. 

Sementara para petanipun melalui system pertanian kolektive yang ditetapkan pemerintah berhasil mengelabui pemerintah dengan cara yang sama. Tentu cara ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan tidak langsung dari penguasa partai local dan intelektual kaum muda yang tersadarkan oleh ambisi rakyat untuk mandiri. Namun melawan secara langsung kekuatan pusat adalah tidak mungkin. Maka tidak aneh bila banyak pemimpin usaha kolektif tersebut ( koperasi ) itu dimotori oleh pejabat partai local yang gigih memberikan pendidikan untuk menimbulkan semangat kemandirian. Disamping itu para pemuda lulusan universitas Zhejiang secara diam diam melalui program kebudayaan pergi kepenjuru china untuk memasarkan produk dan juga melobi pedagang Hong Kong untuk menjadi perantara mereka masuk kepasar international.

Apa yang terjadi kini? Hangzou sebagai ibu kota Zhejiang telah menjadi kota terbaik dan paling mandiri dari segi anggaran. Dan menjadi model pengelolaan kota di seluruh dunia. Lantas apa saja kehebatan Hangzou?

Ekonomi.
Mungkin anda sudah sering mendengar nama Alibaba atau nama Jack Ma sang billoner yang humble. Nah Jack Ma membangun Alibaba di Hangzhou. Mengapa ? Karena hanya di Hangzhou pusat venture capital yang paling berani membiayai start up business IT. The Internet Finance Building di sebelah barat Hangzhou yang menampung start up teknologi, budaya Silicon Valley sangat berakar disini. Jangan kaget kalau kita melihat Para pekerja muda berjalan-jalan dengan hanya mengenakan kaos ala Mark, celana jins dan sepatu kets. Setiap perkantoran dilengkapi ruang Gym, meja pingpong dan ruang untuk pesta jumat malam.

Dari dana modal ventura telah berhasil menciptakan diantaranya menjadi perusahaan berbasis IT berkelas dujnia. Ada ratusan perusahaan IT sebagai pengembang software yang melayani perusahaan yang bukan hanya dari china tapi juga dari seluruh dunia. Industri kreatif adalah tulang punggung ekonomi Hangzhou disamping tentu industri high tech dan light industrial yang banya tersebar di pinggiran hangzhou.

Awalnya Hangzhou hanyalah kota yang dipenuhi  industri rumah tangga namun berkat pemimpin yang punya visi hebat telah berhasil melakukan trasnformasi menjadi wilayah yang berkembang karena tekhnologi dan produk ekspor yang murah. Provinsi tersebut menyumbang 6,3 persen ekonomi China tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Zhejiang mencapai 8,3% sementara China rata rata petumbuhannya 7%.  Hangzhou telah menjadi kota paling mandiri dari segi APBD. Bahkan punya tabungan besar yang sehingga bisa membantu daerah lain untuk pembiayaan pembangunan. Pemerintah pusat hanya memberikan kebijakan agar terjadi pertumbuhan berkelanjutan di Hangzhou

Kota hijau. 
Hangzhou berpenduduk 7 juta orang. Kurang dari satu jam dengan pesawat dari Shanghai, di tepi Sungai Qiantang, Hangzhou merupakan salah satu kota metropolitan terpenting di Republik China. Kota ini diracang sebagai kota hijau ( Green City). Keberhasilan membangun kota dengan concept green city ini di tandai semakin banyak orang menggunakan angkutan sepeda. Selalu sebelum gedung pencakar langit dibangun pohon dan taman dibuat terlebih dahulu dengan concept Green Building. Lahan terbuka hijau ada dimana mana. Beberapa jalan dan kawasan kota terlindungi dari kekunoannya, seperti halnya dengan daerah alami di pinggiran kota. Di tengah derap pembangunan yang berkompetisi diatasa kota kota besar di CHina, Hangzhou menolak konsep kota modern yang menghilangkan masa lalu dan warisan bydaya lama china. 

Primadona daya tarik Hangzhou adalah Danau Barat ( west lake). Di Cina, lebih dari 30 danau memiliki nama yang sama, dan kebanyakan dari mereka "dibaptis" untuk menghormati orang di Hangzhou. Ini adalah oasis sejati di antara gedung pencakar langit. Dengan luas lebih dari 6 km persegi, dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2011. Danau Barat telah menjadi sumber inspirasi bagi penyair China. Su Dongpo membandingkannya dengan seorang wanita muda yang gaunnya begitu indah. Penulis akhirnya menjadi gubernur dan membangun jembatan yang dinamai menurut namanya, Su. Itu terjadi pada abad ke-11. 

Hampir 1.000 tahun kemudian, Danau Barat merupakan lokasi pengendara sepeda favorit di Hangzhou. Rute utama melintasi perbukitan berhutan di sebelah selatan danau. Jalur sepeda dua roda lainnya yang paling terkenal (motor-free) di Hangzhou melintasi perkebunan teh, yang merupakan tanaman utama yang tumbuh di luar kota. Saat sekarang,  salah satu jaringan penyewaan sepeda terbesar di dunia, yang didistribusikan di 2.700 titik pengumpulan ada di Hangzhou. Makanya engga aneh bila Hangzhao memenangkan beberapa penghargaan internasional (termasuk pengakuan dari PBB). Dan karena itu wajar bila jumlah wisatawan berkunjung ke Hangzhou mencapai 100 juta orang dan ini jumlahnya 8 kali lipat dari kunjungan wisatawan ke Indonesia.

Penutup.
Hampir kota kota besar di dunia terinspirasi akan kehebatan Hangzou. Tapi apa sebetulnya yang membuat hebat Hangzhou ? Ya rakyatnya memang hebat dan punya mental mandiri. Walau mereka tidak bisa menghilangkan tradisi lokalnya namun mereka bisa menerima pengaruh dari luar selagi itu baik untuk kemajuan. Mereka belajar dari luar dan kemudian memperaktekannya menjadi lebih baik tanpa kehilangan kearifan lokal. Banyak investor berdatangan dari manca negara karena rakyat Hangzhou memang pekerja keras dan terkenal jujur dan cepat belajar. Di samping itu berkah yang luar biasa dari Hangzhou, rakyatnya selalu dapat gubernur orang baik dan punya visi besar untuk menjadikan Zhejiang bukan hanya nya mandiri tapi juga tidak terbelakang dan modern.

The SPE


The special purpose entity (aka SPE, special investment vehicle, SIV, special purpose vehicle, SPV, special purpose corporation, SPC) is a limited-purpose legal vehicle, organized as a corporation, limited liability company, or business trust, that is formed to securitize assets, such as loans and receivables, and sell them as asset-backed securities (ABS). Since most ABSs are sold to institutional investors that require an investment grade credit rating, the SPE provides bankruptcy remoteness from the seller of the assets, which includes banks and finance companies, and allows the credit rating of the SPE to be higher than that of the seller or sponsor of the ABS.

Bankruptcy remoteness is accomplished by legally segregating the collateral from the originator or seller for the benefit of ABS holders. For bankruptcy remoteness to be legally effective, there must be a true sale of the assets at arm's length. The Uniform Commercial Code (UCC) of most states stipulates that this transfer can be accomplished either by transferring the loan documents from the seller to the SPE, or by filing a UCC finance statement. Filing UCC statements is usually done because it is cheaper and faster.

Legal counsel for the seller will render a legal opinion concerning the effectiveness of the transfer, including a true sale opinion and a non consolidation opinion, stating that if the sponsor enters bankruptcy, the assets of SPE would not be consolidated with the assets of the sponsor.

After the special purpose entity is formed, the securitization of assets and their sale to investors involves the following steps:

- The assets, usually loans or receivables, are transferred from the seller to the SPE.
- The SPE securitizes the assets, then sells the resulting securities, mostly as notes, to investors.
- The proceeds of the security sale are then paid to the seller of the assets.
- Credit rating agencies review all documents of the SPE before assigning a rating. While the credit rating agency is not a legal party to any of the agreements for setting up the special purpose entity, it is listed in the documents as the credit rating agency, and the documents also require that specified information be provided to the credit rating agency continually, to ensure that the proper procedures are being followed to maintain credit quality, and that the credit quality is actually being maintained.

Some of the legal documents used to form the SPE and issue securities include: SPE organizational documents. investment/portfolio management agreements, trust agreements , custodial agreements, collateral, pooling, and servicing agreements, loan and sale agreements, mortgages or deeds of trust, liquidity and credit support agreements, swap agreements for converting floating and fixed rates, legal opinions required by the credit rating agencies, trust indenture and offering circular or prospectus for the securities

Investasi amal Ayah yang melindungiku



Entah kenapa tergerak tanganku untuk menulis kisah ini. Apalagi ketika membaca cerpen kamu di blog, mungkin tak salahnya bila kisah ini dapat kau ketahui, apalagi dimuat di blog untuk berbagi hikmah. kisah ini tentang Bang Udin, yang kini dia adalah suami tercintaku. Belahan hatiku. Berawal dulu sekali ketika kali pertama aku bersua dengannya di Jakarta. Seperti biasanya malam minggu Bang Udin datang ke rumah kami. Rumah kami di kampung dengan Bang Udin bersebelahan. Ayah dan Bunda sangat senang bila dia datang berkunjung.  Bagiku kedatangan Bang Udin adalah berkah tak terbilang. Karena banyak PR sekolah seperti matematika dapat dikerjakan dengan cepat olehnya. Kutahu dia sudah setahun tamat SMU namun tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia merantau ke Jakarta hanya bekal tekad. 

Yang kutahu, dia harus bekerja membantu biaya rumah tangga orang tuanya di kampung. Yang bisa dia kerjakan hanyalah sebagai tukang jahit konpeksi. Belakangan Ayah mengingingkan dia tinggal di rumah untuk bekerja sebagai tukang jahit. Kebetulan rumah kami juga merangkap tempat konpeksi. Menurut ayah, memang pemuda kampung dididik oleh pamannya berbagai ketrampilan untuk bekal mereka merantau. Diantaranya ketrampilan menjahit, memasak dan bahkan perbaikan jam tangan. Di samping pendidikan agama melalui surau memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja kampung.

Kuperhatikan , selama Bang Udin di rumah , dia sangat rajin bekerja. Seusai sholat subuh, dia mengepel lantai rumah dari belakang sampai di depan. Juga dilantai dua. Setelah itu, dia akan minum kopi barang sejenak. Dan dilanjutkan dengan menjahit. Dia baru akan berhenti setelah waktu sholat. Setelah selesai sholat dia akan kembali bekerja. Begitulah kesehariannya yang kutahu.  Tapi, setiap malam setelah usai menjahit, kadang aku melihat Bang Udin masih asyik dengan membaca buku dan kadang menulis. Pernah aku tanyakan apa yang sedang dia lakukan. Bang Udin hanya tersenyum. Dan agak malu dia berusaha menyembunyikan buku dari hadapanku.  

Ayah dan Bunda , sangat senang akan kehadiran Bang Udin di rumah kami. Dia sangat ringan tangan. Tak pernah menolak disuruh apapun. Sangat cepat bergerak dan selalu selesai dengan sempurna. Tidak sampai setahun di rumah kami, Bang Udin harus keluar rumah karena dia diterima di PTN. Dia memilih tinggal dekat dengan kampus. Menurut ayah kesehariannya dia membuka usaha photo copy dan restoran kecil. Memang dia pandai memasak. 

Ketika Bang Udin tinggal di rumah , aku masih duduk di Madrasah Sanawiyah kelas 1. Dan ketika dia masuk PTN, aku kelas dua Madrasah Sanawiya. Sejak kuliah di PTN , Bang Udin jarang datang ke rumah kami. Namun bila dia datang ke rumah, selalu ada saja yang dia kerjakan. Dan tak lupa dia membantu ayah dikonpeksi untuk menjahit. 

Tiga tahu setelah itu, ayah meninggal. Aku menjadi yatim. Harta dan usaha konpeksi diperebutkan oleh saudara laki lakiku. Awalnya mereka bersama sama mengelola usaha peninggalan ayah namun belakangan mereka berpisah. Bunda tidak bisa berbuat banyak ketika mereka minta harta ayah dibagi. Toko dikuasai oleh anak laki laki begitu juga dengan usaha konpeksi. Sementara aku anak perempuan satu satunya tidak mendapatkan apapun.  Setelah rumah terjual, aku bersama bunda menumpang tinggal di rumah abang tertua. Dia,tidak mau menguliahkanku. Terpaksa aku bekerja di toserba. Pernah satu saat Bang Udin datang ke rumah abang tertuaku. Dia mengabarkan bahwa dia  sudah selesai kuliahnya. Dia bekerja sebagai salesman. Sempat diolok olok oleh Abangku.

 “ Tinggi kali kau sekolah Din, nyatanya jadi pedagang keliling juga kau”. Kata Abangku.
“ Aku sarjana ekonomi bang, Ya jadi sales lah.”
“ Kalau hanya jualan, ngapain kau sekolah tinggi tinggi. Tolol kau Din” Kata abangku. Tetapi Bang Udin diam saja. Sejak itu Bang Udin  tidak pernah datang lagi.

Tak bisa kuceritakan lebih jauh betapa tertekannya hidupku dan bunda tinggal dirumah abang. Istrinya nampak tak berela hati menerima beban kami. Aku berusaha sabar. Tak ingin aku menuntut sesuatu yang menjadi hakku sebagai putri dari ayahku.  Begitupula bunda , berkali kali memintaku bersabar. Karena sebaik baiknya tidak ber-abang akan lebih baik punya abang. Akan lebih terhormat bagi wanita bila tinggal di rumah abangnya sendiri.  Aku berusaha untuk sabar dan sabar. Ketika sindiran yang menyedihkan dari kakak iparku, aku hanya bisa mengadu kepada Allah dalam tahajudku agar aku diberi kekuatan ketika aku lemah, diberi kesabaran ketika aku dizolimi. Tentu Allah akan menjagaku siang dan malam dari semua prahara yang datang kepadaku. 

Aku yakin akan hal itu. Usiaku sudah 26 tahun, dan belum satupun pria yang datang melamarku. Namun aku tetap menjaga diriku dari pergaulan yang salah.  Ingat akan pituah ayah, “ elok elok laku ya nak. Jaga pandangan matamu , jaga langkahmu, jaga auratmu, jaga semua, karena itu adalah amanah Allah kepada setiap perempuan untuk menjadi terhormat. Sekali kau abaikan salah satu itu maka rusaklah hidupmu. Perempuan itu seperti susu diatas belanga. Dia akan rusak karena nila setitik. Beda dengan pria yang tak nampak rusak walau banyak nila tertuang kedalam belanga.” Aku paham betul itu karena begitulah yang kupelajari di sekolah agama.

Di waktu luangku , kugunakan untuk bekerja di Panti Asuhan. Mendidik anak anak belajar mengaji dan matematika. Di tengah tengah para yatim lagi piatu itu, membuatku tak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Memang aku yatim namun tidak piatu. Aku masih punya bunda untuk ku berkeluh kesah dalam dekapan bunda. Ada kakakku walau kadang tidak membuatku nyaman namun aku dilindungi oleh mereka, tinggal di rumah mereka. Para yatim piatu itu hidup sendirian dibumi Allah. Kalaupun ada keluarga namun mereka tidak peduli. Karena pesan cinta Tuha yang mengharuskan manusia beriman untuk membantu orang miskin , yatim lagi piatu. Setengah gajiku kugunakan untuk anak anak yatim itu.

Suatu ketika ada pria gagah dengan pakaian rapi datang ketempatku kerja. Dan dia adalah Bang Udin. Dengan senyuman khasnya dia memandangku.

“ Lina “ Serunya.

“ Ya, bang. Abang sehat. Ada lebih 10 tahun ya bang kita engga ketemu. Abang kemana saja.”

“Alhamdulilah, sehat. Setelah setahun jadi sales di jakarta, abang pindah ke Riau. Dagang hasil bumi. Terus berkembang jadi eksportir. Setelah krismon 98 abang sama teman teman ikut lelang BPPN beli kebuh Sawit. Alhamdulilah. Terus berkembang. Kamu gimana kabarnya “

“ Aku juga sehat. “

“ Masih tinggal dengan Bang Farhan?

“ Yalah, kemana lagi mau tinggal.

“ Ya ya…”

“ Abang mau belanja apa ?

“ Abang ..abang…hem” nampak Bang udin seperti orang bingung

“ Ada apa bang ?

“ Tadi abang ke rumah Etek. Dia bilang Lina kerja di Toserba ini. Abang sengaja mampir mau ketemu lina." Aku melihat ada sesuatu yang tersimpan dalam pikiran Bang Udin, yang ingin dia sampaikan.

“ Oh, ya , Ada apa bang?

“Jam berapa lina istirahat ?

‘ Sebentar lagi. “

“ Ya sudah, abang tunggu diluar aja, ya”

Bang Udin langsung keluar sambil melempar senyum ke arahku, Aku bingung. Ada apa gerangan.

Ketika waktu istirahat. Bang Udin mengajakku makan di restoran yang terlekat di Mall itu.

“ Lin, “ seru bang udin” Ada rahasia yang harus aku buka kepadamu.”

“ Rahasia apa ? Aku berkerut kening.

“ Sebetulnya ayahmu melarang aku untuk mengatakan kepada siapapun. Tapi aku tak bisa menahannya. Karena ini sesuatu yang sangat berharga bagiku. Setidaknya memberikan contoh kepada ku dan juga kamu tentang nilai nilai kasih sayang” Kata Bang Udin. Terlalu berliku liku kata kata itu membuat aku bingun memaknainya.

“ Katakan kepadaku , kalau boleh, apa rahasia itu, bang?

Nampak bang Udin berpikir barang sejenak, Namun wajahnya tetap berhias senyum.

“ Kamu tahu , aku anak yatim di kampung. Sedari kecil aku dipelihara oleh pamanku di kampung. Mandehku juga miskin. Itulah sebabnya aku merantau ke jakarta untuk merubah nasip.  Sebetulnya aku sungkan untuk datang menemui ayahmu karena kita bukanlah keluarga kandung. Namun sikap ayahmu begitu baik kepadaku. Hingga aku merasa punya orang tua sendiri. Dan ketika ayahmu mintaku tinggal di rumahmu, bertambah besar rasa syukurku kepada Allah. Makanya aku berusaha meringankan semua beban ayamu dan bekerja dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan apapun. “

“ Ya Bang , aku tahu itu. Karena begitulah sifat ayah. Bukan hanya abang yang diperlakukan seperti itu. Siapapun anak muda yang datang dari kampung asalkan masih ada kait mengkait hubungan keluarga maka akan ditampung dan dibinanya selayaknya anak kandung dia sendiri. “  Kataku.

“ Ayahmu menasehatiku untuk bersemangat  meneruskan sekolah. Itulah sebabnya aku kembali menguatkan niat untuk kuliah. Benarlah ketika aku di terima di PTN, ayahmu ….” Bang Udin terdiam.

“ Kenapa ayah, bang..”

“ Ayah menanggung semua biaya masuk universitas. Setelah itu dia pula memberikan modal untukku membuka usaha photo copy dan restoran kecil agar aku bisa mandiri. “ Nampak bang Udin berlinang air mata ketika sampai pada kisah ini.

“ Lin, ayah melarang aku untuk menceritakan ini kepada siapapun. Tapi kamu sudah tahu. Semoga Ayah di alam baqa mendapat tempat sebaik baik disisi Allah. " Kata Bang Udin dengan airmata mengambang. Aku hanya terdiam namun larut dalam haru" Lin, setiap habis sholat aku tak pernah lupa barang sekalipun mendoakan ayah. Ayah sangat baik dan berhati mulia. Dia membantuku tidak berharap apapun kecuali ikhlas karena Allah. Itupula sebabnya mungkin dia tak ingin kebaikannya ini diketahui oleh siapapun.” Sambungnya.

“ Ya, bang..” Entah mengapa akupun tak bisa menahan airmataku jatuh. Aku ingat Ayah. Kemudian kami terdiam sejenak.

“ Lin,usia abang sudah kepala tiga. Pacarpun tak ada. Gimana dengan LIna ?

“ Sama bang. Aku engga ada pacar. Aku sibuk di samping kerja juga ngajar di panti”

“ Ngajar di Panti ?

“ Ya”

“ Ternyata air hujan jatuh kepelimpahan juga. Anak tak ubahnya dengan sifat orang tua. Selalu ingin berbagi dan memberi walau keadaan tidak lapang seperti orang lain.”

“ Ya , Lina hanya senang aja kalau ditengah tengah anak yatim. Senang melihat mereka belajar dan bercengkrama. dan Ayah pernah menasehati Lina agar dekatlah sama orang miskin, binalah mereka, lindungi mereka dan kasihi mereka karena itulah amanah Allah kepada orang beriman yang berlebih seperti kita ini , ya kan bang“

" Ya , benar, Lin. Itu juga nasehat yang pernah abang dengar dari Ayah. Terlalu banyak kenangan indah bersama Ayah. Ayah terlalu baik dan pemurah. Makanya rezekinya juga dimurahkan oleh ALlah.”

Usai makan di restoran itu. Kami berpisah.

Ketika aku sampai di rumah, nampak banyak orang berkumpul di ruang tamu. Di ruangan itu ada paman Bang Udin dari kampung, Bunda, Abang abangku dan juga para iparku.  Aku diminta oleh abangku masu kamar dan tidak boleh keluar selama pertemuan berlangsung. Aku tidak tahu, ada apa gerangan?. Tak berapa lama , abang tertuaku datang ke kamarku bersama uni dengan tersenyum

“ Lin, usia kamu sudah 26 tahun. Sudah selayaknya kamu mendapatkan pasangan. “ kata abangku mulai bicara. “ Tadi paman si Udin dari kampung khusus datang untuk melamarmu jadi istri keponakannya. “

“ Bang Udin” kataku setengah tidak percaya

“ Ya , Si Udin yang inginkan kamu jadi istrinya. Apakah kamu bersedia…?”

Aku hanya terdiam. Terbayang olehku wajah bang Udin tadi ketika bercerita tentang Ayah. Teringat doa siang malam kunpanjatkan kepada Allah agar aku mendapatkan pria bergama , cerdas dan pekerja keras. Kini Pria itu  datang khusus kepadaku untuk melamarku. Tidak pernah terbetik barang sedikitpun di hatiku bahwa Bang Udin akan menyukaiku. TIdak pernah. Apalagi aku hanya wanita yang tak pernah mengecap bangku kuliah dan Bang Udin sudah pula Sarjana dan kini jadi pengusaha tergolong sukses. Hubungan kami selama ini seperti kakak adik yang saling menjaga. Tak pernah menjalin hubungan istimewa layaknya orang pacaran. Namun inilah kehendak Allah.

Ketika usai resepsi pernikahan, Aku diboyong bang udin ke rumah yang baru dibelinya. Bunda diajaknya pula bersamaku. Kasih sayang bang Udin kepada bunda sangat berlebih layaknya ibu kandung. Berbeda sekali dengan perlakuan dari abang abangku kepada bunda. Dari kehidupanku, aku mendapatkan hikmah yang teramat luas bahwa berkat kasih sayang yang ikhlas diberikan oleh Ayahku kepada siapapun ternyata berbuah kepadaku, putrinya dan tentu amalan itu  akan terus mengalir kepada ayah di alam Baqa. Setiap kebaikan yang ditanam maka kebaikan pula yang akan datang, kini atau besok pasti berbalas, Allah maha benar dengan segala janjinya. Kini aku dan Bang Udin sudah menjadi orang tua dari kedua anak kami. Tentu teladan dari Ayah akan abadi dihati kami dengan tak pernah ragu untuk berbuat kepada siapapun yang miskin , yatim dan piatu, dan berkorban untuk mereka tentunya.

Friday, March 18, 2011

Membangkitkan potensi wirausaha.



Di hadapan saya ada seorang dalam usia senja dan rinkih. Wajah tua itu nampak lelah namun terpancar keikhlasan untuk suatu tekad berbuat dengan tujuan yang jelas , yaitu untuk berkorban. Orang tua itu di hadapkan pada kenyataan di mana putrinya menjanda setelah ditinggal mati oleh suaminya. Putrinya datang menemuinya dengan membawa dua anak. Setelah itu putrinya pergi tanpa pernah ada kabar lagi. Sementara dia harus menanggung beban dua cucunya yang tertua berumur 9 tahun dan kedua 7 tahun. Pria baya itu mengharapkan saya memberikan zakat atau sadakah agar dia dapat modal untuk membuka usaha berdagang kasur kapuk. Kebetulan pria tua ini punya pengalaman dan keahlian mejahit dan membuat kasur. 

Rencananya dia akan berdagang keliling kampung untuk memasarkan kasur itu. Dia yakin penghasilannya akan cukup untuk menanggung dua cucunya. Yang jadi masalah, bahwa orang tua ini sakit encok. Jangankan berjalan keliling kampung, melangkah lebih dari 10 meter saja sudah tidak mampu. Saya  sadar  bahwa orang tua itu hanya punya semangat tanpa memperhatikan kemampuan phisiknya. Tapi saya tetap memberi dana yang diperlukan untuk modal pria tua ini berdagang kasur. Saya yakin tak lebih sebulan uang itu akan habis.

Dua tahun kemudian , saya bertemu kembali dengan pria tua itu. Subhanallah, pria itu benar dengan janjinya. Dia berhasil menghidupi kedua cucunya dengan berdagang kasur keliling kampung. Penyakitnya seketika hilang ketika dia mendapatkan modal dari saya. Bahkan penyakit batuk dan jantungpun ikut sembuh. Wajah pria itu tak nampak lagi ringkih. Dia nampak bersemangat dengan hidupnya. 

Bagaimana orang tua itu bisa berubah ? Pria tua itu bangkit dengan potensi yang tersisa di usia senjanya ketika beban ada di pundaknya. Beban itu bukan hanya harus dipikul tapi juga tahu apa yang akan dicapainya. Tujuannya adalah bagaimana mengantarkan kedua cucunya untuk menamatkan SMU dan mandiri. Apakah dia akan berhasil? Itu tidak dipikirkannya berlebihan. Nyatanya , dua tahun , dengan modal hanya sekedarnya, dia bisa bertahan. Dan bahkan bisa berbuat banyak untuk cucunya tanpa harus meminta minta. Saya kagum di tengah kebingungan yang tak bisa ditembus dengan akal sehat. Bagaimana orang dengan beban berat dan penyakit dihidap namun “mampu” melewatinya di tengah keterbatasan. Itulah kekuasaan Tuhan.

Dari cerita tersebut diatas kita mendapatkan hikmah. Bahwa ketika beban datang sebetulnya harus diterima dengan rasa syukur. Bahwa apa yang menimpamu tidak ada akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan dan di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Karena bukan tidak mungkin itu cara Tuhan membangkitkan pontensi kita yang terpendam dan sekaligus menjebol hambatan yang ada pada diri kita. 

Lihatlah kenyataannya pada orang tua itu. Penyakit yang menghambatnya untuk melangkah seketika dapat sembuh tanpa obat hanya karena kekuatan pontesi yang keluar dari dalam dirinya memancarkan energy yang luar biasa. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana beban atau masalah yang datang disikapi sebagai cara membangkitkan potensi itu ? Caranya harus diyakini bahwa beban itu adalah takdir yang harus dijemput dan diterima dengan ikhlas. Setelah diterima maka harus tahu pasti tujuannya. Tujuan ini sangat penting. Semakin jelas tujuan itu semakin kuat energy yang keluar dari potensi terpendam kita. Bagi orang tua itu, tujuannya adalah  pertama, melindungi kedua cucunya. Kedua, mengantarkan cucunya untuk mampu mandiri setelah dia tiada. Dua tujuan ini sangat mulia. Itulah kekuatan spiritual yang tak bisa diterjemahkan dengan akal kecuali dengan keimanan kepada Tuhan

Sebagaimana kata orang tua itu " Saya percaya bahwa beban yang datang kepada saya adalah cobaan dari Allah dan tentu Allah pula yang akan menjaga saya agar mampu menanggung beban itu. Ini masalah saya. Dan tidak bisa saya berharap orang lain menaruh iba kepada saya dan cucu saya. Saya masih dihidupkan oleh Allah dan karenanya Allah menjamin rezeki untuk saya. " 

Dengan tekad seperti itulah orang tua itu menjadi petarung yang kuat terhadap nasipnya. Dia tidak bersedih dan tidak larut dalam ratapan agar orang lain membantunya.  Dari tekad inilah membuat dia kuat. Penyakitnya menyesuaikan dengan tekadnya akhirnya sembuh begitu saja. Dia bangkit dengan tekad untuk menerima beban itu dengan ikhlas dan melangkah ke depan bersama takdirnya. Terbukti dia bisa dan mendapatkan kekuatan untuk melangkah kearah tujuan, untuk cucunya, untuk cinta dan kasih sayang.

Andaikan tekad itu tidak ada maka dapat dipastikan bahwa orang tua itu akan menjadi bagian dari beban hidupnya. Bukannya menjadi penyelesai masalah dan pemikul beban. Bila dia menderita karena itu maka itu bukan salah Tuhan. Itu salah dia sendiri karena dia gagal membangkitkan potensi terpendamnya dan menyikap beban sebagai peluang. Padahal ketika masalah dan beban datang kepadanya sebetulnya Allah sedang memberikan stimulus agar potensinya yang terpendam dapat bangkit menjaid energi besar, tapi dia abaikan. Jadi deritanya bukan salah Tuhan tapi karena dia salah meresponse masalah dan beban itu. 

Ya bila kita beriman kepada Tuhan maka kita juga harus beriman kepada sunatullah. Bahwa setiap hari Tuhan memberikan peluang dan kesempatan untuk kita. Pemberiannya tidak selalu dalam bentuk bungkusan yang indah dan gemerlap. Kadang terbungkus rapat yang tak mudah dibuka. Kadang terlempar kewajah kita dengan rasa sakit yang menyengat. Kadang tergeletak tanpa makna apapun.  Tugas kita orang beriman membuka bungkusan itu dengan kerja keras, menangkap lemparan itu dengan sigap walau berkali kali harus terjatuh, memungutnya dari keacuhan dan membosankan. 

Dari hal itu, process sunatullah kita lewati. Bila sulit, berusahalah. Bila tak paham, belajarlah, bila tak mungkin dilakukan, cobalah. Hanya itu yang bisa kita perbuat untuk membuka tabir takdir kita sebagai manusia yang serba lemah dan hidup dalam keterbatasan akan ruang dan waktu. Jangan pernah berharap doa akan terkabulkan lewat zikir siang malam sementara  pada waktu bersamaan kita tidak mampu membaca berbagai tanda tanda kekuasaan Allah ketika memberi, yang meminta kita bersabar dan ikhlas menerima dan melewatinya.

Cross border financing sebagai solusi pembiayaan.



Datang SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you're feeling lonely and small, You need somebody there ..” saya tersenyum. Wenni selalu begitu bila dia ingin bertemu dengan saya. Petikan lagu you are only lonely adalah ciri khasnya untuk mengingatkan kepada saya bahwa saya tidak sendirian. Dia sahabat saya. Awal saya kenal dia sebagai analis di Shanghai. Kemudian , dia mendapat jodoh pria Hong Kong. Namun perkawinan delapan tahun berakhir dengan perceraian yang menyakitkan. Setelah itu dia memulai hidupnya sebagai single parent dengan bekerja di Investment Banking. 

Kami tidak sering bertemu. Namun blla bertemu, dia pendengar yang baik dan tahu menempatkan diri secara pantas di hadapan saya. BIla saya mengundang makan malam, dia berusaha memakai gaun yang tak membuat mata saya pedih. Karenanya saya juga menjaganya dengan baik. Persahabatan kami terjalin dengan baik. Dia selalu ada untuk saya dalam situasi apapun walau saya sendiri kadang tidak punya waktu cukup banyak untuk kebersamaan dengannya.”I realize between us.. I understand you my dear brother…Bagaimanapun saya berusaha selalu untuk dia, 

Suatu hari dia menghubungi saya via telp. Kebetulan saya lagi di Bangkok. Dengan terisak dia mengabarkan bahwa dia terjebak dengan sharkloan karena harus menolong orang tuanya sakit. Selama ini dia berusaha tidak menceritakan keadaannya karena kawatir saya mengkawirkannya. Namun kini dia tidak sanggup lagi mengatasinya. Dia berniat menjual Ginjalnya sebagai solusi. Dengan lembut saya katakan bahwa dia akan baik baik saja. Kami akan mengatasinya sama sama. 

Setiba di Hong Kong, saya menemuinya. Dia sudah tidak lagi bekerja karena memikirkan hutang yang tidak mungkin dia bayar dengan gajinya. Dia memikirkan anaknya. Saya menunggu sikapnya terhadap saya. Ingin saya menolongnya seketika. Namun tak satupun kata dia meminta saya mengasihaninya. Dia berusaha nampak tegar. Menurutnya kebersamaan dengan saya lebih dari cukup untuk dia merasa nyaman bahwa dia tidak sendirian. Dia akan baik baik saja..demikian kesan yang disampaikannya ketika bertemu. 

Teringat awal saya merintis usaha, pengorbanannya membantu saya menghadapi peliknya berhadapan dengan lembaga keuangan di Hong Kong dan tanpa lelah dia berusaha meyakinkan banyak pihak agar mendukung saya. Menurutnya apa yang dia lakukan semua itu tulus sebagai sahabat. Tapi kini, saya tidak mengerti mengapa dia terkesan tidak menginginkan saya menolongnya. Apakah persahabatan selama ini tidak memungkinkan saya peduli dengannya. Apalagi kini dia tidak punya penghasilan dengan beban anak yang harus ditanggungnya. Belum lagi hutang yang harus dibayarnya. 

Akhirnya saya dapat berdamai dengan diri saya sendiri. Bagaimanapun prinsipnya dapat saya hargai. Bahwa sudah sifatnya tidak ingin meminta, kecuali memberi. Dan itu sudah dibuktikan selama bersahabat dengan saya. Saya mengundangnya makan malam untuk sebuah solusi. 

“ Apa yang kamu pahami tentang Cross border financing ? Kata saya saat makan malam.
“ Itu kan pada umumnya terjadi dalam trade financing. Seperti Eksport dan impor. Namun derivatif nya luas sekali. Bukan hanya soal ekspor dan import tetapi juga sebagai solusi pembiayaan antar benua. Contoh pengusaha tambang. Mereka tidak punya modal untuk exploitasi setelah proses explorasi sukses. Dengan skema cross border financing facility mereka bisa dapatkan standby LC berjangka waktu 1 tahun dari buyer di luar negeri. Standby LC ini bisa dijaminkan kepada bank dalam negeri untuk dapatkan fasilitas kredit dalam rangka produksi. Tentu setelah mereka mengeluarkan corporate guarantee kepada buyer. Karena kan SBLC itu sebagai non cash loan yang tanpa syarat. Kalau mereka gagal delivery maka mereka harus melepas saham itu kepada buyer. 

Ada juga digunakan untuk pembiayaan pembangkit listrik. Perusahaan pembangkit listrik butuh pembiayaan EPC. Mereka bisa mengajukan kredit ekspor kepada Vendor di luar negeri. Jaminan pembayaran adalah kotrak penjualan kepada perusahaan listrik nasional yang bertindak sebagai off taker. Nah melalui rekening itu di buka revolving cash LC kedapa vendor di luar negeri. Sehingga setiap pembayaran dari off taker akan langsung digunakan sebagai Bank Accepted (BA) oleh bank penerbit LC. Tentu semua itu diatur dalam kontrak. 

Ada juga dalam bentuk pembiayaan dengan skema Participant Interest dalam bisnis tambang minyak atau mineral. Ada juga sebagai solusi pembiayaan atas produksi yang sudah ada off take marketnya. Biasanya buyer luar negeri menarik pinjman dari bank dan uang itu dipakai untuk membiayai proyek dalam negeri. Namun semua hasil produksi harus dikirim kepada buyer sebagai bagian dari pembayaran utang. Ya masih banyak lagi contohnya. Ada apa kamu  bertanya itu? Bukannya kamu lebih paham dari saya? “ Kata Wenny.

“ Gimana kalau kita buka bisnis shadow banking dengan jasa cross border financing facility itu. Kita akan bertindak sebagai agent dari buyer dan seller. 

“ Kita ?

“ Ya kamu dan saya. Gimana ? kata saya. Saya tahu bahwa dia punya pengalaman dan network dengan lembaga keuangan di Hong Kong. Dengan hati hati saya katakan bahwa saya punya peluang bisnis untuk trade financing transaksi Batu bara. Bahwa ada sebagian buyer China tidak selalu accepted beli batubara dari Indonesia dengan LC. Mereka hanya mau bayar lewat TT setelah barang sampai di pelabuhan. Sementara sebagian seller dari Indonesia tidak nyaman menjual batubara tanpa LC. Nah tugasnya adalah sebagai payment gate way dan settlement agent. Busines nya solution provider di bidang Cross border financing. 

Dengan airmata berlinang dia menatap saya. Saya tahu dia terharu dengan tawaran saya. Secepatnya saya remas jemarinya untuk menentramkan batinnya bahwa saya peduli dengannya dan berharap dia mengerti sikap saya. Sehingga dia tidak perlu sungkan lagi terhadap saya. Keesokannya saya membantu dia mendirikan perusahaan dan dengan setengah manja dia minta saya bersama sama dengannya sebagai pemegang saham. Saya menyetor modal awal agar dia dapat menjalankan rencana bisnisnya. Dia berjanji akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakan saya. 

Selama tahun tahun perjuangan mengembangkan bisnis itu dia sudah jarang bertemu dengan saya kecuali kirim email atau bicara lewat skype. Bila betemu kadang dia nampak murung karena tidak punya waktu cukup kebersamaan dengan saya. Dengan tegas saya katakan bahwa saya akan baik baik saja. Dia tidak perlu merasa bersalah.Kebahagiaan saya adalah bila dia dapat berhasil melewati hidup yang tidak ramah ini. 

Berkat kerja keras, dia sudah bisa membayar hutangnya. Dua tahun lalu dia berhasil mengirim putranya melanjutkan pendidikan ke Universitas di Canada. Kini hidupnya sudah mapan. Satu saat dengan airmata berlinang dia berkata bahwa saya telah melakukan banyak hal untuknya. Sementara dia merasa tidak pernah melakukan apapun untuk saya. Rasanya dia tidak pantas mendapatkan kehormatan ini. Dengan tersenyum saya katakan bahwa  dia adalah sahabat saya yang harus saya jaga, dan dia sudah membuktikannya bagaimana dia selalu menjaga saya. Bukan soal siapa memanfaatkan siapa, tapi memang persahabatan ini berkah yang sangat luar biasa bagi saya. “ Terimakasih Tuhan atas berkah persahabatan ini “ kata Wenni seakan berbisik.


Tuesday, February 22, 2011

Leverage


Leverage the control of a position larger than your own funds would directly allow. It’s available in one form or another in basically every market and is accomplished either through borrowing and/or the use of derivatives.
You will see things like 50:1 leverage or 100:1 leverage. A 100:1 leverage ratio means that for every $100 in position value you would be required to put up $1 in deposited funds.

Now margin is closely tied to leverage. Margin is the deposit money used to secure a leveraged position. It is normally expressed in percentages. For example the margin on a position when employing 100:1 leverage would be 1%. At 50:1 leverage it would be 2%. An so on.

There is the additional topic of gearing or effective leverage or real leverage. Those are just different ways of talking about the actual leverage one employs when holding a position. For example, you may be able to trade at 100:1 leverage but if you have a $10,000 account and are trading a $100,000 position you are actually only using 10:1 leverage – meaning your are only controlling a trade 10 times the size of your account.

I think most people get that part of it all.

Here’s where the confusion comes in. I have seen a number of traders say that leverage equals risk. This simply isn’t true. What is boils down to is this. Allowable leverage tells you one thing – how big you can trade, either in terms of position size or number of positions. That’s it. No more. No less.

Risk comes down to one thing, and one thing only – the size of your position. The larger the position, the greater the risk. It’s that simple, really. High degrees of available leverage certainly allow for larger positions, but they do no require them.

The thing that I think causes the most confusion is thinking in terms of margin and not account size. If you trade at 100:1 leverage you would have to put up 1% margin. That means a 1% move in the market against you would wipe out your margin deposit. If you were trading on 50:1 leverage the same 1% move against your trade would only take out half your margin. That seems like less risk.

Here’s why it isn’t.

Assume a $10,000 account and a $100,000 trade size. For a 100:1 leverage account the margin requirement would be $1000, while at 50:1 it would be $2000. If the market moves against the position by 1%, that would mean a $1000 loss to the account, or a 10% decline in account value. It doesn’t matter whethere the trade was done in a 100:1 or 50:1 leverage account. A 1% move on a $100,000 position will always represent a 10% change in account value for a $10,000 account.

The only time differences in leverage mean differences in risk is when you are talking about different position sizes, basically meaning using all available funds for margin. The 100:1 leverage $10,000 account could trake $1 million, while the 50:1 could only go as high as $500,000. Clearly, when the accounts are maxed out like that a 1% move in position value is different. The 100:1 account would be wiped out, while the 50:1 account would only lose have its value.@