Apa salah Iran sehingga AS-Israel menyerang lebih dulu. Bukan sembarang serangan tetapi serangan dengan target melumpuhkan system pertahanan militer Iran dan sekaligus membunuh Ali Khamenei. Apa salah Iran? sehingga kedekatan Pangeran Arab, dan Presiden Indonesia yang keduanya representasi umat islam tidak berusaha mencegah serangan itu. Iran tidak hendak menguasai dunia. Tak pula hendak menyiarkan paham syiah nya. Iran hanya bersikap tentang keadilan yang seharusnya diterima oleh rakyat palestina atas tanah mereka. Apakah itu salah?
Dan ketika Iran membalas serangan itu dengan pantas terhadap seluruh wilayah Teluk yang bersinggungan dengan militer AS dan Israel, apakah itu salah bila karenanya menimbulkan kecemasaan bagi warga Israel dan warga teluk? Menimbulkan kerusakan yang significant. Dari sekian decade Iran berharap solidaritas Islam dengan menolak kehadiran pangkalah militer AS di Teluk. Tetapi tidak didengar. Dan kini apakah pantas iran disalahkan karena serangan balasan itu menyasar ke wilayah teluk?
Perang sering tanpa definisi dan selalu karena alasan kerakusan. Makanya Iran tidak pernah memulai menyerang. Namun bila diserang maka kewajiban Iran membela diri. Bagi Iran perang berdimensi moral. Pantang menyerah. Lebih baik mati daripada menyerah kepada aggressor. Begitu islam nilai yang diyakin oleh Iran menjawab serangan dari AS-Israel. Dengan penuh kesabaran dan gagah berani dalam setiap luka akibat serangan Israel-AS, Iran memang menggetarkan nyali Israel dan AS. Mereka tidak membayagnkan begitu tangguhnya Iran.
Makanya ketika Trumps menawarkan melanjutan penyelesaian lewat diplomasi, Iran tidak menolak. Mengapa ? Inilah dasarnya. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (QS. Al-Anfal: 61). Ayat ini turun dalam konteks konflik. Artinya, bahkan di tengah ketegangan dan permusuhan, ketika ada peluang damai, maka jalan itu harus diambil. Bukan karena lemah. Bukan karena takut. Tetapi karena perdamaian membuka ruang kehidupan.
Allah juga mengingatkan, “Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128). Kalimatnya singkat, tetapi tegas. Tidak dikatakan “lebih nyaman” atau “lebih mudah.” Yang dikatakan adalah “lebih baik.” Kebaikan kadang terasa pahit, karena ia menuntut pengendalian ego, menahan balas dendam, dan menunda kepuasan emosional. Bahkan dalam hukum qisas sekalipun, Allah membuka pintu maaf, “Barang siapa memaafkan dan berdamai, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di sini terlihat bahwa memaafkan bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan moral yang dijanjikan ganjaran langsung dari Allah.
Mengutamakan perdamaian sering kali berarti menelan harga diri yang terluka. Berarti memilih stabilitas di atas kemenangan sesaat. Berarti menahan diri ketika mampu membalas. Tetapi justru di situlah derajat manusia diuji. Karena pada akhirnya, perang menghancurkan ruang hidup. Perdamaian membangun masa depan. Dan Allah tidak pernah memuliakan keangkuhan. Yang dimuliakan adalah kesabaran, keadilan, dan keberanian untuk memilih damai ketika jalan itu tersedia — walaupun terasa pahit.
