Thursday, January 8, 2026

China kuat dan bermartabat karena berani membunuh koruptor

 


Zhu Rongji lahir di Changsha, Tiongkok, tahun 1928. Ia bukan pendiri Partai Komunis Tiongkok, juga bukan berasal dari keluarga elite politik partai. Namun ia lahir dari keluarga bangsawan terpelajar, sebuah latar yang membentuk wataknya: disiplin, rasional, dan tidak mudah tunduk pada slogan. Justru karena latar intelektual inilah, Zhu menjadi korban Revolusi Kebudayaan (1966–1976). 


Ia dikeluarkan dari Partai Komunis dan dipaksa mengikuti program re-education—kamp kerja dan “brainwashing” ideologis. Bagi Zhu, ini bukan sekadar hukuman politik, melainkan pelajaran pahit tentang betapa rapuhnya negara jika rasionalitas dikalahkan oleh fanatisme massa. Ketika Deng Xiaoping memulai era reformasi dan membuka kembali pintu bagi teknokrat, Zhu Rongji dipanggil ke Beijing. Ia direhabilitasi dan kembali ke lingkar kekuasaan.


Zhu dikenal sebagai ekonom otodidak. Sejak awal 1980-an hingga 1990-an, Milton Friedman—ikon ekonomi liberal dan bapak monetarisme—beberapa kali bertemu dengan Zhu Rongji. Keduanya saling menghormati, bahkan saling mengagumi kecerdasan satu sama lain.  Friedman melihat Zhu sebagai teknokrat langka dari negara sosialis; Zhu melihat Friedman sebagai pemikir pasar paling konsisten di abad ke-20. 


Zhu bukan follower. Ia tidak anti pasar, tetapi menolak pasar tanpa disiplin negara. Bagi Zhu, kebebasan pasar hanya efektif jika negara menjaga stabilitas mata uang, korupsi ditekan secara ekstrem, dan kebebasan ekonomi diarahkan untuk penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial. Dalam banyak diskusi, Zhu mampu mematahkan argumen Friedman dengan satu premis sederhana, bahwa teori pasar bebas bekerja di negara dengan institusi matang—Tiongkok saat itu belum sampai ke sana.


Setelah peristiwa Tiananmen Square 1989, peta kekuasaan Tiongkok berubah drastis. Zhao Ziyang dicopot dari jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal Partai karena dianggap terlalu lunak dan bersimpati pada demonstran. Di dalam Partai, terjadi perbedaan tajam antara Zhao dan Jiang Zemin. Bagi Zhao, problem utama adalah kurangnya demokrasi. Bagi Jiang Zemin, problem sejatinya adalah korupsi sistemik dan lemahnya disiplin partai.


Jiang Zemin akhirnya menggantikan Zhao sebagai Sekretaris Jenderal Partai, dengan Zhu Rongji sebagai penasihat ekonomi kunci. Di sinilah fondasi aliansi politik–teknokratik terbentuk. Jiang menguasai struktur politik, Zhu mengendalikan arah ekonomi. Pada 1993, Jiang Zemin diangkat menjadi Presiden Tiongkok. Namun butuh waktu hampir lima tahun baginya untuk sepenuhnya menyingkirkan jaringan loyalis Zhao Ziyang di dalam partai dan birokrasi. 


Baru pada 1998, dalam periode kedua kekuasaannya, Jiang menunjuk Zhu Rongji sebagai Perdana Menteri, dengan mandat luas atas kebijakan ekonomi. Pidato pelantikan Zhu langsung mengguncang negeri “Saya telah menyiapkan seratus peti mati. Sembilan puluh sembilan untuk para koruptor, dan satu untuk saya sendiri jika saya gagal.” Pidato ini menjadi fenomenal—bukan karena retorika, melainkan karena ia benar-benar menepatinya.


Dalam tahun-tahun berikutnya, ribuan pejabat—dari tingkat rendah hingga tinggi—dihukum berat, termasuk hukuman mati bagi koruptor kelas berat. Zhu tidak melihat hukuman mati sebagai balas dendam, melainkan sebagai instrumen deterrence ekstrem dalam fase pembangunan kritis.  Dalam kerangka berpikirnya, Tiongkok belum cukup kaya untuk bersikap lunak. Negara sedang membangun fondasi state capitalism. BUMN harus direstrukturisasi. Sistem perbankan harus dibersihkan, dan Tiongkok harus siap masuk WTO (2001). Sedikit saja toleransi terhadap korupsi, menurut Zhu, bisa menggagalkan seluruh proyek nasional. Hasilnya nyata. Tiongkok berhasil melewati krisis Asia 1997–1998 tanpa runtuh—bahkan keluar sebagai pemenang jangka panjang.


Zhu Rongji adalah alumnus Tsinghua University, jurusan Electrical Engineering. Ia bukan ekonom akademik, tetapi dikenal luas sebagai technocratic policy economist—perancang sistem ekonomi negara. Desain ekonomi Tiongkok hingga hari ini—disiplin fiskal, kontrol sektor strategis, reformasi BUMN, dan pasar yang dikendalikan negara—masih membawa jejak pemikirannya. Banyak ekonom sepakat, bahwa tanpa periode “terapi kejut” ala Zhu Rongji, kebangkitan ekonomi Tiongkok pasca-2000 tidak akan secepat dan sekuat itu.


Penutup

Zhu Rongji bukan pemimpin yang populer. Ia keras, tidak kompromistis, dan sering ditakuti. Namun dalam sejarah ekonomi modern, ia dikenang sebagai sosok yang memahami satu hal mendasar. Bahwa pasar tanpa disiplin negara melahirkan kekacauan. Disiplin tanpa pasar melahirkan stagnasi. Keseimbangan keduanya membutuhkan keberanian ekstrem. Dan keberanian itulah yang menjadikan Zhu Rongji salah satu teknokrat paling menentukan dalam sejarah Tiongkok modern. China hebat dan bermartabat karena berani membunuh koruptor. Itu yang sulit diterapkan oleh negara berkembang lainnya. 


No comments: