Ketika harga saham Bank Central Asia (BBCA) tertekan dan manajemen merespons dengan rencana buyback senilai Rp5 triliun, publik ritel cenderung membacanya sebagai confidence signal. Sebuah pesan implisit bahwa manajemen percaya pada fundamental dan menilai saham berada di bawah nilai wajarnya. Namun pasar—terutama investor asing—membaca peristiwa yang sama dengan kacamata yang jauh lebih dingin. Dalam banyak siklus krisis keuangan, buyback justru kerap muncul bukan sebagai simbol kekuatan, melainkan sebagai respons terhadap narasi fundamental yang mulai retak, meski belum tercermin dalam laporan keuangan.
Di atas kertas, neraca BBCA tampak nyaris tanpa cela: Capital Adequacy Ratio tinggi, NPL gross rendah, laba konsisten, dan likuiditas kuat. Tetapi pasar modal tidak hidup dari laporan tahunan. Pasar hidup dari apa yang belum diakui di neraca.
Dalam sejarah pasar modal Indonesia, praktik kredit berbasis market capitalization (marcap) bukanlah hal baru. Skemanya sederhana namun sarat risiko: kredit diberikan dengan underlying saham. Selama harga saham naik—atau setidaknya dijaga tetap tinggi—risiko tampak kecil secara statistik.
Masalah muncul ketika IHSG atau sektor tertentu terkoreksi. Nilai jaminan turun. Kredit tersebut belum macet secara akuntansi, tetapi sudah rapuh secara ekonomi. Karena menurut PSAK, kredit masih diklasifikasikan performing dan dapat direstrukturisasi secara senyap. Risiko tidak menghilang—ia hanya ditunda. Investor asing memahami ini dengan sangat baik. Sikap mereka sederhana namun tegas, “Kami percaya banknya kuat. Kami hanya tidak yakin semua kreditnya benar-benar sehat.”
Keraguan itu bukan paranoia. Ia berakar pada kerangka Basel III yang mendorong bank bersikap sangat hati-hati dalam mengakui masalah lebih awal. Ironisnya, ketika sebuah bank terlihat terlalu stabil di tengah perlambatan ekonomi, pasar justru mulai curiga. Investor asing tidak menunggu laporan NPL melonjak, CKPN membengkak, atau ROA tergerus. Mereka membaca sinyal lebih dini. Apa sinyal itu? Perlambatan kredit produktif, dominasi kredit konsumsi dan pasar modal, serta tekanan likuiditas pada debitur non-riil. Ini bukan soal PSAK. Ini soal expected loss yang belum diakui. Karena itu, asing menjual sebelum krisis tercatat—bukan sesudahnya.
Secara teknis, buyback memang dapat menopang EPS, mengurangi free float, dan menenangkan investor ritel. Namun buyback bekerja pada harga, bukan pada risiko. Ia tidak membersihkan kredit berbasis marcap. Tidak meningkatkan kualitas debitur sektor riil. Tidak mengubah struktur pertumbuhan kredit. Dengan kata lain, buyback adalah analgesik pasar, bukan terapi struktural.
Kasus BBCA menjadi kontras yang tidak bisa diabaikan. Kita semua tahu BBCA adalah bank paling prudent, paling disiplin, dan sahamnya diperlakukan sebagai premium asset. Jika bank sekelas ini saja mulai ditinggalkan investor asing, maka kondisi bank lain—terutama bank-bank BUMN—patut dipertanyakan dengan jauh lebih serius. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sentimen sesaat. Ini sinyal sistemik. Terlalu berbahaya untuk terus bermain-main dengan narasi. Too risky and too dangerous for the safety of the nation’s economic system.
Peringatan dari MSCI seharusnya disikapi dengan kedewasaan institusional. Jadikan ia titik awal untuk pembenahan yang jujur dan struktural, bukan alasan untuk merekayasa solusi instan—misalnya dengan mengubah undang-undang atau mengintervensi dana pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan demi menaikkan free float secara artifisial. Negara tidak boleh memaksa pasar. Intervensi semacam itu hanya menciptakan moral hazard, memperburuk perilaku spekulatif, dan pada akhirnya menghancurkan kepercayaan—bukan hanya pada pasar modal, tetapi pada negara itu sendiri.
Pasar modal yang sehat tidak lahir dari kosmetika harga. Ia lahir dari transparansi, disiplin pengakuan risiko, dan keberanian membersihkan distorsi kredit. Transparansi harus menjadi standar kepatuhan yang tidak bisa ditawar. Jika pasar modal kita sehat, sistem keuangan akan ikut sehat. Dan hanya dengan fondasi itu, mesin ekonomi dapat bergerak secara berkelanjutan—tanpa harus disangga oleh narasi yang rapuh. Enough is enough.

2 comments:
infografis-nya kurang jelas Babo,mohon diupload yang high resolution
Gk ngerti lg mesti omong apa, kalo saran dr mantan trader mancanegara ttp diacuhkan. Ayo gelar tiker liat keruntuhan lanjutan.
Post a Comment