Ada masa ketika kenaikan indeks justru menuntut kehati-hatian. IHSG bergerak hijau, headline optimistis beredar, grafik tampak meyakinkan. Namun di balik layar, pasar terasa sempit—seperti aula besar yang hanya diisi oleh beberapa suara yang sama. Kenaikan ini bukan digerakkan oleh partisipasi luas, melainkan oleh konsentrasi. Sekitar sepuluh emiten besar menopang keseluruhan cerita. Secara teknis sah. Secara struktural, rapuh. Pasar yang sehat bergerak karena banyak tangan; pasar yang rapuh bergerak karena sedikit kendali. Masalahnya menjadi lebih serius ketika konsentrasi itu bertemu dengan ketidaktransparanan yang berlapis.
Lapisan pertama adalah free float yang terlihat, tapi tak benar-benar ada. Di prospektus, angkanya cukup. Di laporan, terlihat patuh. Namun di pasar, saham nyaris tak bergerak kecuali oleh tangan yang sama. Likuiditas ada di atas kertas, tetapi tidak hadir sebagai ruang transaksi publik yang hidup. Ia seperti kolam yang tampak luas, namun airnya hanya setinggi mata kaki—cukup untuk dilihat, tidak cukup untuk berenang.
Lapisan kedua adalah siapa yang sebenarnya bertransaksi. Volume tampak besar, tetapi berputar di lingkaran sempit. Afiliasi ke afiliasi. Crossing yang sah secara administratif, namun menutup mata publik dari siapa lawan transaksinya. Ini tidak selalu melanggar aturan, tetapi ia mengaburkan fungsi paling dasar pasar: price discovery. Harga terbentuk, tetapi bukan oleh interaksi luas antara pembeli dan penjual independen.
Lapisan ketiga adalah kepemilikan pengendali yang tidak sepenuhnya terbaca. Nama di layar satu, jaringan di belakangnya banyak. SPV, nominee, perjanjian privat. Semua legal. Namun ketika krisis datang, investor global tidak tahu siapa yang benar-benar memegang kendali. Pasar pun kehilangan satu hal yang paling ia butuhkan saat genting: kejelasan tanggung jawab.
Lapisan keempat adalah komunikasi regulator yang lebih banyak narasi daripada verifikasi. Rilis optimistis datang lebih cepat daripada data rinci. Penjelasan bersifat umum, bukan pengujian spesifik. Padahal pasar global tidak hidup dari janji, melainkan dari bukti yang bisa diuji ulang. Waktu berjalan, sementara ketidakpastian dibiarkan menggantung.
Lapisan kelima—dan yang paling berbahaya—adalah keyakinan bahwa reputasi bisa dinegosiasikan. Ada perasaan lama bahwa selama indeks naik dan headline positif, semuanya akan baik-baik saja. Padahal lembaga global tidak menilai cerita. Mereka menilai struktur. Di titik inilah pasar global mulai bereaksi. Bukan dengan pidato, melainkan dengan mekanisme. MSCI tidak bertindak sebagai aktor politik. Ia adalah mesin reputasi. Indeksnya dipakai oleh dana pasif dan aktif bernilai triliunan dolar. Peringatan sejak Oktober terkait free float dan akses pasar bukan intervensi—melainkan cermin.
Namun ada satu realitas domestik yang sering diabaikan, dan justru membuat perbaikan struktural terasa menakutkan: kemiskinan literasi finansial dan keterbatasan kapasitas investor ritel. Selama ini, kenaikan indeks sangat bergantung pada investor institusi—asing maupun domestik—yang memiliki kapasitas modal besar, horizon investasi panjang, dan kemampuan menyerap likuiditas saat free float benar-benar dilepas ke pasar. Ketika free float dibuat transparan dan riil, konsekuensinya jelas: saham harus benar-benar beredar, likuiditas harus benar-benar diserap, dan harga harus benar-benar dibentuk oleh pasar. Di sinilah masalah muncul.
Investor ritel Indonesia—dengan literasi finansial yang masih rendah dan daya beli terbatas—tidak memiliki kapasitas untuk menggantikan peran investor institusi secara struktural. Mereka aktif, tetapi dangkal. Banyak, tetapi kecil. Responsif terhadap euforia, rapuh terhadap volatilitas. Akibatnya, ada ketakutan tersirat yang jarang diucapkan. Bahwa jika free float dilepas secara jujur dan transparan, IHSG justru berisiko turun dalam jangka pendek, karena permintaan institusional belum pulih, investor ritel tidak cukup kuat menyerap pasokan, dan harga harus menyesuaikan diri dengan likuiditas yang nyata. Inilah dilema yang sesungguhnya: pasar ingin tampak naik, tetapi takut menghadapi kenyataan.
Ironisnya, ketakutan domestik ini berkelindan dengan ketidakpastian global. Dunia takut. Geopolitik retak. Kebijakan global tidak lagi bisa diprediksi. Harga emas naik ke rekor. Namun emas yang diperdagangkan hari ini adalah emas kertas—klaim finansial yang diperdagangkan puluhan kali lipat dari emas fisik. Lebih dari 95 persen transaksi emas global diselesaikan dalam dolar AS. Maka lahirlah paradoks zaman ini: dunia lari ke emas karena takut, tetapi ketakutan itu justru berputar di dalam sistem dolar. Ketidakpastian tidak menghancurkan pusat sistem; ia justru menguatkannya.
Logika yang sama—dalam skala lebih kecil—terjadi di pasar saham Indonesia. Indeks bisa naik tanpa kepercayaan. Angka menenangkan, struktur tidak. Selama ini, pasar seolah memilih menunda transparansi demi menjaga ilusi stabilitas. Sejarah pasar selalu menunjukkan sebaliknya. Indeks bisa naik tanpa kepercayaan. Namun kepercayaan tidak pernah naik tanpa transparansi. Dan transparansi memang mahal. Ia menuntut kesiapan investor institusi, kedewasaan ritel, dan keberanian regulator untuk membiarkan pasar menyesuaikan diri—meski itu berarti kejatuhan IHSG. Ketika satu atau dua penopang retak, jatuhnya bukan bertahap. Ia seperti lantai yang tiba-tiba bolong.
Pasar bisa direkayasa naik. Namun kepercayaan selalu jatuh ke tempat yang sama: transparansi. Dan pada akhirnya, bukan pidato yang memutuskan, melainkan arus uang—yang tidak pernah berbohong.

No comments:
Post a Comment