Tuesday, January 6, 2026

Militer Venezuela lemah...

 


Dalam katalog militer global, Venezuela sering disebut sebagai negara dengan sistem persenjataan paling modern di Amerika Latin. Nama-nama besar terpampang seperti S-300VM, Buk-M2E, jet tempur generasi lanjut, radar terintegrasi, hingga sistem komando yang diklaim setara negara maju. Di atas kertas, Venezuela tampak siap menghadapi ancaman eksternal. Namun sejarah militer modern berulang kali menunjukkan satu pelajaran pahit. Senjata tidak pernah bertempur sendirian.


Krisis terbaru yang memunculkan komentar sinis dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Membuka tabir perbedaan antara kapabilitas nominal dan kapabilitas nyata. Hegseth menyebut bahwa sistem pertahanan udara Venezuela yang didominasi teknologi Rusia tidak berfungsi sebagaimana mestinya ketika menghadapi operasi militer Amerika Serikat. Bukan Alutsista buatan Rusia tidak bekerja. Tetapi tentara Venezuela tidak terlatih menggunakannya. Maklum di era modern sekarang. Senjata sudah menggunakan system electronic.Artinya profesionalisme manusia jauh lebih menentukan daripada kecanggihan alat.


***

Masalah utama militer Venezuela bukan kekurangan senjata, melainkan kekurangan profesionalisme operasional. Dalam bahasa kasar yang beredar di kalangan analis regional, “Dari sepuluh tentara Venezuela, sembilan tidak benar-benar mengerti cara mengoperasikan sistemnya. Yang satu mengerti, tapi tidak terlatih secara konsisten.” Pernyataan ini mungkin hiperbolik, namun secara struktural mendekati kenyataan.


1. Kompleksitas teknologi tanpa ekosistem

Sistem seperti S-300 atau Buk bukan sekadar peluncur rudal. Ia membutuhkan operator radar terlatih. Integrasi komando dan kontrol (C2). Pemeliharaan presisi. Latihan rutin skenario tempur nyata. Tanpa ekosistem ini, sistem pertahanan udara berubah menjadi monumen mahal.


2. Krisis ekonomi dan sanksi

Krisis fiskal Venezuela menghantam jam terbang latihan, ketersediaan suku cadang, insentif profesional prajurit. Militer yang tidak dilatih secara berkelanjutan akan kehilangan refleks tempur. Dalam perang modern, detik dan disiplin lebih menentukan daripada jumlah peluncur.


Dalam karya klasik The Soldier and the State, Samuel P. Huntington menegaskan bahwa profesionalisme militer berdiri di atas tiga pilar. Pertama. Kompetensi teknis. Kedua. Kohesi institusional. Ketiga. Etos pengabdian yang terpisah dari politik partisan. Venezuela gagal di ketiganya. Militer menjadi alat politik rezim, sarana distribusi patronase, bukan institusi profesional yang netral dan terlatih. Akibatnya, kemampuan teknis menurun, disiplin melemah, dan rantai komando menjadi rapuh.


Untuk memahami perbedaan antara senjata dan profesionalisme, Pakistan adalah studi banding yang relevan. Pakistan bukan negara kaya. Banyak peralatannya tidak selalu paling mutakhir. Namun militernya terinstitusionalisasi kuat, pelatihan berlapis dan berkelanjutan, doktrin operasi jelas dan diuji. Pakistan bertempur dalam konflik nyata, menghadapi ancaman eksistensial, dan menjadikan profesionalisme sebagai kebutuhan, bukan simbol.


Sementara  Venezuela yang membeli senjata untuk simbol kedaulatan. Pakistan membangun tentara untuk bertahan hidup. Dalam ilmu strategi, ancaman nyata melahirkan profesionalisme, sementara ancaman imajiner melahirkan parade. Bagi banyak rezim, termasuk Venezuela, senjata modern berfungsi sebagai alat legitimasi internal, simbol perlawanan terhadap hegemoni AS, ornamen geopolitik. Namun senjata yang dibeli tanpa reformasi institusi hanya menciptakan ilusi keamanan. Dalam istilah ekonomi politik pertahanan. “ hard power tanpa human capital adalah aset macet.


Kasus Venezuela memberi pelajaran pahit bagi negara berkembang. Modernisasi militer tanpa profesionalisasi adalah jebakan mahal. Politik simbolik melemahkan kesiapan tempur nyata. Kekuatan besar tidak takut pada senjata—mereka takut pada tentara profesional. Inilah mengapa Amerika Serikat lebih menghormati militer Pakistan dibanding militer Venezuela, meski secara politik Pakistan jauh lebih rumit.


Penutup

Feature ini menegaskan satu kebenaran lama yang sering dilupakan. Yang menentukan hasil konflik bukanlah senjata, melainkan manusia yang mengoperasikannya. Venezuela memiliki senjata modern, tetapi kehilangan disiplin, latihan, profesionalisme.  Dalam dunia militer modern, senjata bisa dibeli, tetapi profesionalisme harus dibangun—bertahun-tahun, dengan harga politik dan disiplin yang mahal. Dan di situlah banyak negara gagal. Terutama bila Militer juga terlibat dalam kerja sipil, tidak focus kepada profesionalitas.




No comments: