Friday, May 29, 2026

Asing dibalik jatuhnya IHSG dan Rupiah?

 




Kalau ada yang issue kan pelemahan IHSG dan Kurs Rupiah karena ulah asing yang tak ingin pemerintahan Prabowo sukses. Maunya tumbang. Mereka katakan itu dengan alasan sama seperti kejatuhan Soeharto akibat serangan Hedge Fund, Soros. Saya bisa pastikan yang tebarkan itu buzzer sampah dan pasti bukan pemain pasar. Hidup hanya view conten dan upah sebagai buzzer. Mengapa?


Krisis 1998, serangan spekulatif oleh hedge fund terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, itu  terjadi karena struktur pasar saat itu berbeda dengan sekarang. Pasar valuta asing belum sedalam sekarang. Transparansi data masih lemah. Cadangan devisa terbatas. Rezim nilai tukar di banyak negara Asia masih semi-fixed atau managed peg, sehingga spekulan bisa membaca titik lemah bank sentral,  jika bank sentral mempertahankan kurs terlalu lama dengan cadangan devisa terbatas, maka begitu cadangan menipis, mata uang akan jebol.


Dalam situasi seperti itu, hedge fund cukup mengambil posisi besar melawan mata uang tertentu. Mereka meminjam mata uang lokal, menjualnya ke dolar AS, lalu menunggu bank sentral kehabisan amunisi mempertahankan kurs. Ketika devaluasi terjadi, mereka membeli kembali mata uang lokal pada harga yang jauh lebih murah. Selisihnya menjadi keuntungan besar. Pola ini dikenal sebagai speculative attack.


Tetapi era sekarang berbeda. Pasar keuangan global sudah jauh lebih terbuka, lebih dalam, lebih cepat, dan lebih transparan. Data cadangan devisa, neraca berjalan, inflasi, suku bunga, utang luar negeri, posisi fiskal, arus modal, hingga kepemilikan asing dalam obligasi dan saham jauh lebih mudah diakses oleh pasar. Informasi tidak lagi dikuasai segelintir hedge fund. Ribuan bank, asset manager, sovereign fund, pension fund, family office, proprietary trader, algoritma, dan market maker membaca data yang sama secara real time.


Karena itu, anggapan bahwa hedge fund bisa seenak mengatur pasar” dan menjatuhkan rupiah seperti tahun 1998, itu benar benar bodoh.  Mengapa ? Untuk menggerakkan rupiah secara ekstrem, mereka harus berhadapan dengan pasar yang sangat besar dan sangat beragam. Ada eksportir, importir, bank domestik, bank global, Bank Indonesia, sovereign wealth fund, dana pensiun, perusahaan multinasional, trader komoditas, investor obligasi, investor saham, dan pelaku derivatif. Semua punya posisi, kepentingan, dan horizon waktu berbeda.


Kalau satu hedge fund mencoba menyerang rupiah tanpa dasar hitungan yang kuat, ia justru bisa dihajar pasar. Trader lain akan mengambil posisi berlawanan jika mereka melihat rupiah sudah terlalu murah. Bank Indonesia bisa masuk melalui intervensi spot, DNDF, operasi moneter, swap, dan pengelolaan likuiditas. Eksportir bisa menjual dolar. Investor obligasi bisa masuk jika yield dianggap menarik. Jadi pasar sekarang bukan meja kecil yang bisa dibalik oleh satu pemain besar.


Serangan spekulatif hanya efektif jika ada kelemahan fundamental yang nyata. Misalnya cadangan devisa sangat tipis, defisit transaksi berjalan melebar, fiskal tidak disiplin, utang valas jangka pendek besar, inflasi tidak terkendali, kredibilitas bank sentral rendah, atau pemerintah memberi sinyal kebijakan yang membingungkan. Tanpa kelemahan fundamental semacam itu, serangan hedge fund akan sangat mahal dan berisiko gagal. Inilah perbedaan penting antara manipulasi dan repricing.



Jika rupiah melemah karena investor melihat risiko fiskal meningkat, defisit melebar, imbal hasil SBN naik, kebijakan tidak konsisten, atau prospek ekonomi melemah, itu bukan semata-mata serangan asing. Itu adalah repricing of risk. Pasar menilai ulang harga aset Indonesia berdasarkan risiko baru. Dalam konteks ini, rupiah melemah bukan karena satu pihak “menyerang”, tetapi karena banyak pelaku pasar secara bersamaan mengurangi eksposur terhadap rupiah.


Begitu pula dengan IHSG. Jika investor asing menjual saham Indonesia, itu belum tentu konspirasi. Bisa jadi mereka melihat valuasi terlalu mahal, laba emiten melambat, rupiah melemah, yield obligasi naik, risiko fiskal meningkat, atau pasar lain menawarkan return yang lebih menarik. Dalam pasar modern, modal bergerak berdasarkan perbandingan risiko dan imbal hasil. Uang tidak punya nasionalisme. Uang hanya mencari tempat yang paling aman, paling likuid, dan paling rasional secara return.


Karena itu, menyalahkan hedge fund atau asing setiap kali rupiah melemah adalah cara berpikir sampah. Narasi seperti itu mungkin nyaman secara politik, tetapi lemah secara analitis. Ia membuat pemerintah dan publik lupa memeriksa akar masalah,  apakah fiskal disiplin, apakah kebijakan konsisten, apakah cadangan devisa cukup, apakah defisit transaksi berjalan terkendali, apakah ekspor bernilai tambah naik, apakah investor percaya pada tata kelola ekonomi nasional.


Pada 1998, serangan spekulatif bisa berhasil karena pasar rapuh, informasi tidak simetris, cadangan devisa terbatas, sistem perbankan lemah, dan rezim kurs tidak kredibel. Hari ini, pasar jauh lebih kompleks. Untuk “menjatuhkan” rupiah, pelaku spekulatif harus melawan ribuan pelaku pasar lain, likuiditas global, instrumen bank sentral, dan data terbuka yang bisa dibaca semua orang. Itu bukan hanya sulit. Itu tindakan bodoh jika tidak didukung fundamental yang benar-benar lemah.


Maka kesimpulannya,  era sekarang bukan lagi era ketika hedge fund bisa dengan mudah menjatuhkan mata uang hanya dengan rumor dan posisi besar. Yang lebih berbahaya hari ini bukan serangan spekulan, melainkan hilangnya kepercayaan pasar akibat kesalahan kebijakan sendiri. Jika pemerintah tidak disiplin fiskal, sering mengubah kebijakan tanpa kajian akademik, meremehkan pelemahan kurs, dan gagal menjaga kredibilitas institusi, maka rupiah bisa melemah bukan karena diserang, tetapi karena ditinggalkan. Pasar modern tidak mudah dikendalikan oleh satu aktor. Tetapi pasar modern sangat cepat menghukum negara yang kehilangan disiplin.


No comments: