Wednesday, September 23, 2020

FinCen Files



Menurut BBC. Sejumlah bocoran dokumen transaksi keuangan sekitar US$2 triliun mengungkapkan bagaimana sejumlah bank terbesar di dunia mengizinkan pelaku tindak kriminal memindahkan uang kotor ke seluruh dunia. Dokumen itu juga menunjukkan bagaimana oligarki Rusia telah menggunakan bank untuk menghindari sanksi yang seharusnya menghentikan mereka memasukkan uang ke Barat. Pengungkapan ini adalah yang terbaru dari serangkaian bocoran dokumen selama lima tahun terakhir mengenai kesepakatan rahasia, pencucian uang, dan kejahatan keuangan. FinCen juga mencatat beberapa bank di Indonesia juga terlibat dalam transaksi janggal. Tetapi dari pihak tidak ada satupun komentar.  

Pak Darmin Nasution pernah mencurigai satu pengusaha sebagai pengemplang pajak dan meragukan asal usul uang pengusaha itu.  Mengapa ? Karena kecepatan ekspansi pengusaha itu mengalahkan para konglomerat yang sudah lebih dulu exist. Itu Pak Darmin  lakukan sejak jadi dirjen pajak. Pengusaha itu berkali kali dipanggil petugas pajak. Berkali kali kena serangan rumor. Pernah pabrik yang sedang dibangun terpaksa dihentikan. Karena dianggap melakukan transfer pricing lewat impor. Tetapi sampai berakhir jabatannya sebagai dirjen pajak dan terakhir jadi menteri, tetap tidak bisa menemukan bukti apa yang dicurigainya. Namun dia tetap tidak percaya kepada pengusaha itu. 

Ada dua hal resiko bagi pengusaha. Pertama, terlalu cepat ekspansi. Dicurigai sebagai pemain money laundry. Kedua,  terlalu mudah dapat sumber pembiayaan dianggap menyembunyikan pajak. Padahal dua hal itu tidak perlu terjadi kalau uang sudah berada di system. Mengapa? sekali pengusaha itu dapat akses kepada elite financial player, maka sumber pembiayaan menjadi tak terbatas.  Mendapatkan trust dari elite financial player itu engga mudah. Karena yang tersulit adalah menjaga trust mereka. Kalau anda mudah nyinyir dan nyanyi serta sombong dengan gaya hidup, pasti tidak akan mungkin bisa dapat trust.

Sejak tahun 2004 diperkenalkan digital monetary system (DMS) oleh Bank international for settlement sebagai bagian dari risk management compliance. Akses kepada digital itu hanya berdasarkan code. level DMS ini memungkinkan terjadi inhouse clearing di dalam bank seperti ATM dan ebangking. Kemudian tahun 2006 berkembang ke Bilateral settlement antar bank melalui cross border. Tahun 2014, lahirlah system SWIFT interface seperti Alliance lite2 dan terakhir 2018, GPI ( global payment innovation ) yang terhubung ke terminal trading untuk surat berharga dan saham. Jadi lalu lintasi uang antar lembaga keuangan bank dan non bank dilakukan secara real settlement. Tidak ada lagi dokumen manual menyertai.

Sejak asset berubah menjadi DMS, maka semua dokumen yang ada menjadi ilegal dan nul. Setiap confirmasi secara oral atau surat, pasti ditolak oleh semua institusi yang terlibat. Bahkan lewat pengadilan pun pasti tolak.  Dengan adanya DMS maka setiap transaksi yang sudah selesai akan terhapus dengan sendirinya. Tidak mungkin file tersimpan di internal server pejabat bank atau pegawai pemerintah. Sehingga engga mungkin bisa di printout. Namun dia tersimpan rapi di main server bank cetral, yang otorisasinya harus melibatkan sedikitnya dua bank central dan bank correspondent. Bahwa DMS itu clean dan clear. 

Saya sangat paham soal itu. Makanya rumor yang disampaikan oleh FinCen terhadap adanya transaksi mencurigakan di Indonesia dan termasuk rumor terhadap berapa pengusaha yang terlibat , itu hanya jadi angin sore. Pengantar bobok siang saja.  Mengapa? sekali anda punya rekening private banking dan punya akses DMS, maka anda sudah telanjang di hadapan system. Bukan hanya dalam negeri tetapi dunia. Artinya anda sudah melewati standard compliance yang ketat. Kalau anda tidak qualified, pasti asset dan uang di block. Rumor itu hanya datang dari orang yang punya penyakit paranoid. Karena lack financial system knowledge. Pasti! 

Mengapa ada layanan private banking, GPI, yang terhubung dengan DMS? Karena pemilik rekening jumbo engga mau membuka dirinya ke publik. Semakin orang tahu dia nothing, makin menguntungkan bagi mereka. Apapun rumor, baik bagi dia. Kalau orang bilang dia scamm dan orang percaya, mereka malah bersyukur. Karena berkurang orang bego dan rakus dekatin mereka. Kalau orang percaya, mereka juga engga perlu berbangga diri. Karena mereka engga butuh orang lain percaya untuk berbisnis. Mereka berada di puncak piramida bisnis. Orang butuh mereka.  Mereka  tidak akan hancur karena rumor. Mereka tidak butuh penilaian manusia Tetapi penilaian Tuhan. At the end of the day, it's not what I learned but what I taught, not what I got but what I gave, not what I did but what I helped another achieve that will make a difference in someone's life....and mine.

No comments: