Monday, September 21, 2020

Korporat VS Pemerintah.


Dalam satu kesempatan di ruang Sauna. Ada pembicaraan antara teman. Saya jadi pendengar aja. Mereka membahas calon kepala Daerah di suatu provinsi. 
“ Ah dia engga bisa dipegang. Gua engga percaya dia” kata satu orang. Yang dimaksud “ dia” itu adalah calon yang akan diusung partai.
“ Tapi boss. Engga enak kita sama partai pengusungnya.”
“ Ya udah. Suruh dia bayar sendiri. Apa bisa ?
“ Ya engga. "
" Makanya dengar kata gua. “
“ Jadi siapa menurut lue yang cocok”
“ Gua engga penting cocok atau engga. Yang penting bisnis kita semakin lancar. Perluasan lahan mudah. Kalau ribut dengan rakya soal lahan, dia bela kita.” 
“ Ok. Siapa ?
Salah satunya menyebut nama seseorang. 
“ Dia kan kader pemula di Partai. “
“ Tapi dia kerja di perusahaan gua. “ Kata yang lain. “ Jadi kita bisa atur sesuka kita. Gua kenal betul dia.”
“ Ya udah deal. Lue tanggung jawab ya“Kata yang lain.

Beberapa  bulan kemudian, saya baca koran. Nama yang dimaksud jadi Gubernur. Saya jadi tersenyum. 

Tahun 90an the fed mengumumkan bahwa tingkat ketergantungan rakyat Amerika kepada korporat udah mencapai 60%. Anda bisa bayangkan. Tahun 2000 an berapa persen tingkat ketergantungan rakyat kepada korporat. Di Indonesia sebelum harga minyak jatuh, pendapatan bagi hasil dari migas di APBN mungkin mencapai 40%. Namun berlalunya waktu setelah harga minyak jatuh dan tambang jatuh. 80% APBN berasal dari pajak. Hanya 20% dari bagi hasil migas tambang dan lainnya Apa artinya? tingkat ketergantungan rakyat kepada korporat semakin tinggi. 

Saat sekarang memang PDB kita mencapai Rp. 14000 triliun. Sebesar itu Rp. 7000 triliun  resource nya berasal dari BUMN. Tetapi tahukah anda. 80% asset BUMN terbentuk karena dukungan korporat. Siapa itu? ya supplier, sub kontraktor, perbankan, investor institusi. Artinya lagi, dari Rp. 7000 triliun itu, hanya Rp. 1400 triliun yang efektif dikuasai negara. Dapat disimpulkan pembentukan PDB itu 80% berasal dari korporat. Mau tahu jumlahnya? Data tahun 2020 SPT pajak Badan yaitu 657.441. Kalau dikurangi BUMN yang 120 an. Maka benar benar keberadaan korporat itu sangat dominan atas 265 juta rakyat.

Makanya jangan kaget walau bandul politik itu secara formal digerakan oleh partai dan Ormas. Tetapi kemana bandul bergerak, itu tergantung korporat. Semua elite partai, punya koneksi dengan korporat. Bahkan antara mereka saling pelihara. Yang jadi masalah kemudian, dari tahun ketahun, tuntutan rakyat semakin besar.  Maka lahirlah politik populisme. Ini politik sebenarnya adalah antagonis dari pengaruh korporat yang besar. Namun pada saat mereka  mencalonkan diri sebagai pemimpin, mereka juga harus patuh dengan konsesus yang dibuat dengan korporat. Karena mereka perlu uang. Dalam sistem demokrasi,  tanpa uang itu hanya omong kosong.

Dunia korporat juga sama dengan dunia politik. Antara para boss juga saling sikut. Faksi juga terbentuk. Ini terjadi di semua negara. Baik demokrasi ataupun tidak. Di China saja, sejak lahirnya generasi milenial tahun 90an jadi Konglomerat dan menggeser posisi BUMN, berperan besar mengubah politik China. Xi Jinping  sebagai presiden dan Li Keqiang sebagai PM adalah contoh bagaimana generasi milienal tahun 90an berhasil menyingkirkan faksi Maoisme di bawah Bo Xilai. 

Tetapi ada yang  berbeda.  Antar faksi politik bisa berdamai satu sama lain. Sementara faksi korporat tidak begitu. Tergatung kepetingan bisnis. China bisa menunjukan betapa politik itu sangat berkuasa. Presiden mengumumkan Lockdown kota Wuhan, kemudian diikuti social distance bagi kota lain. Praktis semua dunia usaha stuck. Pandemi COVID-19 menunjukan bahwa politik tetaplah panglima. Dan kemudian diikuti oleh negara lain di seluruh dunia—kecuali negara komunis tradisional dimana politik mendomianasi—  Setelah itu negara tampil dengan program populis memberikan bantuan tunai  kepada rakyat dan pada waktu bersamaan dirampok oleh korporat lewat program stimulus. Its time to change. We won. “ Kata politisi sambil hisap cerutu seharga USD 100 per batang. Dan para boss korporat tersenyum senang.

Setelah ini kehidupan demokrasi hanya secara procedural untuk berkuasa. Ketika poltik sangat kuat berkuasa dan korporat menentukan hidup orang banyak, kita tidak lagi bisa berharap kepada nilai ilai demokrasi. Kecuali perkuat diri masing masing atau mati makan sendal bakiak.

No comments: