Saturday, January 24, 2026

Trump Riviera alasan mengungsikan penduduk Gaza ke Indonesia.


 

Bayangkan Anda tiba di pesisir Mediterania saat matahari mulai condong ke barat. Laut membentang tenang, biru pucat, hampir terlalu tenang untuk wilayah yang namanya selama puluhan tahun identik dengan konflik. Angin asin menyentuh kulit. Cahaya senja memantul di fasad bangunan putih berlapis kaca—arsitektur modern yang bersih, minimalis, nyaris Swiss dalam disiplin geometrinya.


Inilah Riviera yang dibayangkan. Bukan Riviera yang lahir dari sejarah panjang bangsawan Eropa, tetapi Riviera yang dirancang di ruang rapat—di atas peta, model 3D, dan proyeksi arus modal. Sebuah kota pantai dengan marina modern, promenade panjang untuk pejalan kaki, kafe berkonsep Mediterania–Levantine, dan hotel bertingkat rendah yang menghadap langsung ke laut. Tidak ada tembok tinggi. Tidak ada barak. Yang tampak hanya garis pantai yang “dibersihkan” dari masa lalu.


Di pagi hari, wisatawan akan berjalan menyusuri boardwalk. Kopi disajikan tanpa suara ledakan di kejauhan. Kapal pesiar kecil berlabuh rapi. Toko-toko menjual kerajinan lokal yang telah “dikurasi”—cukup eksotis untuk menarik minat, cukup netral untuk tidak mengganggu selera global. Di brosur, semua terlihat ringan, aman, dan penuh harapan.


Di siang hari, pantai menjadi pusat kehidupan. Payung-payung krem berjejer. Anak-anak bermain di pasir. Musik lembut mengalun dari beach club. Dari kejauhan, garis cakrawala Mediterania tampak sama seperti di Nice atau Tel Aviv. Perbedaan hanya pada nama.


Sore hari adalah saat Riviera menunjukkan ambisinya. Restoran fine dining mulai penuh. Anggur dari Eropa Selatan mengalir. Hidangan laut disajikan dengan presentasi yang presisi. Para tamu berbicara tentang investasi, startup, dan peluang baru—seolah kota ini selalu ada, seolah tidak ada lapisan sejarah di bawah lantai marmernya.


Malam tiba, dan lampu-lampu menyala. Kota terlihat indah dari udara—sebuah grid cahaya yang teratur. Dari balkon hotel, laut memantulkan bulan. Semuanya tampak normal. Terlalu normal. Namun Riviera ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah narasi. Sebuah kisah tentang bagaimana stabilitas bisa “didesain”, bagaimana konflik bisa “ditransformasikan” menjadi peluang, dan bagaimana tanah yang lama diperdebatkan dapat dipasarkan ulang sebagai pengalaman.


Bagi pengunjung, Riviera adalah pelarian. Bagi investor, ia adalah asset class. Bagi pembuat kebijakan, ia adalah solusi visual—mudah difoto, mudah dipresentasikan. Dan bagi sejarah, ia adalah lapisan baru. Riviera ini tidak meminta Anda untuk memahami masa lalu. Ia hanya mengundang Anda menikmati matahari, laut, dan kenyamanan. Selebihnya—politik, luka, dan ingatan—ditinggalkan di luar bingkai kamera.


***

Di sinilah ironi paling halus bekerja. Gaza pada dasarnya adalah kota pantai. Menghadap Mediterania, bersuhu musim semi hampir sepanjang tahun, dengan garis pantai yang secara geografis tidak kalah dari kota-kota Riviera lain di dunia. Secara alamiah, ia memang memiliki semua prasyarat fisik untuk menjadi surga wisata. Laut, cahaya, dan posisi strategis telah ada jauh sebelum konflik memberi Gaza reputasi lain.


Donald Trump datang dengan imajinasi itu. Ambisi untuk menciptakan “surga di bumi” di Palestina—tepatnya di Gaza—dibungkus dalam sebuah proyek yang disebut Trump Riviera. Sebuah kota pantai modern, bersih, aman, dan terintegrasi dengan arsitektur global: marina, resort, distrik komersial, dan zona investasi. Gaza diproyeksikan bukan sebagai ruang sejarah, tetapi sebagai produk.


Namun di sinilah paradoksnya mengeras. Riviera ini dirancang sebagai surga tanpa orang Palestina. Setidaknya, tanpa orang Palestina yang masih membawa mimpi tentang negara merdeka, kedaulatan, dan sejarah yang belum selesai. Penduduk asli Gaza dibayangkan akan “direlokasi”—dalam narasi resmi disebut sebagai solusi kemanusiaan—ke negara lain, termasuk Indonesia. Tanahnya tetap, pantainya tetap, tetapi manusianya dipindahkan. Riviera akan menjadi kota tanpa memori. Keindahan tanpa konteks. Stabilitas tanpa sejarah.


Dalam logika proyek ini, konflik tidak diselesaikan—ia dihapus. Aspirasi politik tidak dinegosiasikan—ia dipindahkan keluar peta. Dengan begitu, Riviera bisa berdiri sebagai “solusi visual” bagi masalah yang terlalu kompleks untuk diselesaikan secara politik. Inilah ironi paling sunyi dari pembangunan modern. Ketika perdamaian didefinisikan sebagai ketenangan yang steril, dan kemanusiaan direduksi menjadi manajemen populasi. Gaza tidak lagi dibaca sebagai tanah dengan rakyat, melainkan sebagai lokasi dengan potensi ekonomi. Yang mengganggu bukanlah kekerasan, melainkan ingatan.


Trump Riviera, dalam kerangka ini, bukan sekadar proyek properti atau pariwisata. Ia adalah eksperimen geopolitik. Apakah sebuah wilayah bisa “dinormalisasi” dengan menghilangkan subjek politiknya. Apakah pantai bisa dijadikan surga dengan mengorbankan hak untuk bermimpi merdeka. Riviera ini menjanjikan matahari, laut, dan stabilitas. Namun stabilitas yang dibangun di atas pengosongan makna selalu rapuh. Karena tanah mungkin bisa dibersihkan, bangunan bisa dirancang ulang, dan narasi bisa dikemas. Tetapi sejarah—seperti laut di depan Gaza—tidak pernah benar-benar bisa diusir.


1 comment:

Anonymous said...

Hal yg memang tidak mungkin bisa 'dilepaskan' eksistensi keseluruhan GAZA, tapi bukankah sejarah juga telah mencatatkan akan ambisi, amarah, dendam, cinta, nafsu, keagungan, kekayaan, intrik, perang, pembunuhan, pembumihangusan dll. Menghiasi halaman sejarah tanah palestin? Dari 2000 SM, telah terpatri dalam sejarahnya.
Bila saat ini ada semangat untuk mentransformasi gaja dari daerah konflik menjadi surga mediterania, itu adalah merupakan asa yg perlu dukungan. Terlepas program itu akan 'melenyapkan' entitas tertentu. Tak semua hala dapat didiskusikan untuk mencapai suatu hal yg lebih baik dan maju. Terkadang butuh sedikit 'pemaksaan' jika itu untuk sebuah transformasi yg lebih baik. Apakah otu akan melenyapkan sejarah dan orang gaza ? Sepertinya terlalu jauh kita berspekulasi. Toh semua yg telah terjadi telah dicatat dalam sejarah.