Wednesday, July 15, 2020

Neoliberal dikudeta lewat COVID-19



Tahun 80a sampai tahun 90a gaung neoliberal semakin kencang.  Tahun 98 terjadi krisis moneter ASIA. Reformasi berbau neoliberal semakin kencang masuk ke negara ASIA. Masuk tahun 2000an neoliberal sudah menjadi firman Tuhan bersama dengan demokratisasi. Namun tahun 2008, neoliberal terjerembab ke dalam skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah. Lehman brother collapse dan diikuti lembaga keuangan lainnya. Pemerintah AS terpaksa membailout kerugian wallstreet, dan 10 bank yang dapat bailout menyerahkan sahamnya kepada Pemerintah. Saat itu juga neoliberal yang mengharamkan negara terlibat, berubah total menjadi negara terlibat, dan mengatur pasar. Market regulated yang diharamkan neoliberal dicanangkan kembali oleh Obama, bersamaan dengan di mergernya OPIC kedalam International Finance and Development Corporation dan munculnya FiNRA  ( Financial Industry Regulation Authority) sebagai agent pemerintah yang sangat berkuasa mengendalikan pasar.

Sejak tahun 2008 sampai tahun 2019 terjadi perubahan cepat, memangkas semua kekuatan neoliberal. Puncaknya AS membuang kesampah kesepakatan neoliiberal dalam WTO mengenai tarif, dan menerapkan tarif sesukanya, “ Kepentingan domestik segala galanya” kata Trumps.  Perang dagang tak bisa dielakan. Mengapa? Karena neoliberal, kekuasaan korporate yang begitu besar telah merantai tangan negara. Karenanya membuat jutaan rakyat AS  jadi homeless dan pengangguran terjadi meluas. Ini harus diakhiri kata Obama. Bahkan kekuatan tersisa dari neoliberal pada WHO , telah jadi bahan olok olok Trumps. Dengan tegas Trumps mengatakan bahwa WHO berbicara atas kepentingan TNC bidang Pharmaci. Ini harus diakhiri.

Apa yang terjadi pada AS, juga terjadi di Eropa dan negara Asia lainnya. Market regulated seakan jadi kitab suci baru yang memastikan negaralah satu satu penguasa dalam segala hal. Tidak ada lagi korporat seenaknya mengatur bandul politik kawasan maupun Global. Puncak perubahan itu terjadi ketika COVID-19 diumumkan sebagai Pandemi. Value asset korporat di  Bursa telah menyusut 40%. Kelebihan kapasitan pada korporate sebagai akibat pelonggaran kredit beberapa tahun belakangan telah menjadi monster yang memenggal cadangan laba, akibat pasar menyusut dan bisnis bekerja jauh di bawah kapasitas yang ada. Tekanan biaya tetap berupa bunga dan gaji adalah ancaman yang pasti membuat korporat harus menyerahkan nasipnya kepada negara atau mati bersama jutaan pengangguran.

Di saat pendemi dan krisis ekonomi melanda, semua kekuatan kartel perdagangan, Industri , keuangan telah menjadi pesakitan. Membuat negara semakin berkuasa dengan serangkaian program stimulus ekonomi berskala gigantik. Pasar bebas dalam skala bersaing telah tergantikan dengan pasar terkendali dan negara menjadi market maker dan money maker. “ Kalau mau jujur, pandemi ini adalah cara politisi mengkudeta neoliberal dan melempar konglomerat financial dan industri ke dalam tong sampah dan dipermalukan. Kelak, hampir dipastikan sebagian besar korporat terdaftar dalam 500 fortune dinasionalisasi lewat kebijakan bailout dan stimulus.

Jadi kalau ingin dicurgai sebagai teori konspirasi, maka negaralah yang menjadi penyebab munculnya pandemi dan itu cara negara di dunia mengkudeta rezim neoliberal, untuk kembali kepada esensi bahwa negara adalah rakyat dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Neoliberal bukan suara Tuhan , tetapi suara yang berasal dari balik kegelapan yang telah berperan melebarnya rasio GINI sekian decade. “ kata teman banker. Namun bagi saya itu bukan teori tetapi hukum alam. Pada akhirnya ketika kekuasaan sudah sampai mempermainkan etika dan moral, kehilangan spirit iman,  saat itu kekuasaan akan jatuh dengan sendirinya, termasuk rezim Neoliberal. Setidaknya dengan adanya pandemi dan krisis ini negara punya alasan kuat untuk merestore system dari neoliberal menjadi regulated. Itu sangat beralasan sekali.  Mengapa ?

“ Cobalah bayangkan. Kata teman. " Ketika pandemi baru kita sadari. Oh ternyata 90% obat kita masih impor. Oh ternyata alat kesehatan masih impor semua. Bahkan kita produksi masker untuk pasar luar negeri, sementara pemerintah harus minta donasi dari luar negeri agar dapat masker dan APD.  Kemudian, kita baru tahu oh ternyata defisit pangan kita sudah sangat memprihatinkan, daya tahan pangan kita terancam. “ lanjut temannya. Itu salah satu contoh bagaimana TNC sebagai bagian dari rezim neoliberal yang menguasai kartel obat dan alat kesehatan telah mengakibatkan kita engga punya pabrik obat dan alat kesehatan untuk mandiri. Rumah sakit kekurangan ICU  dan tempat tidur. Pelayanan publik terabaikan. Itu juga contoh bagaimana kartel pangan telah membuat kita puluhan tahun tidak bisa surplus pangan dan tergantung impor. Harga minyak dibuat jatuh agar upaya bangun kemandirian refinery jadi kendur dan tetap tergantung impor BBM. 

Kemarin Jokowi berencana akan membubarkan 18 lembaga yang dianggap bagian dari konsep neoliberal, dan membentuk 9 lembaga sebagai agent yang membuktikan negara semakin berkuasa atas apa saja. Lewat pandemi ini semakin jelas sikap pemerintah untuk semakin keras terhadap paham neoliberal dan karenanya perubahan terjadi secara significant.

No comments: