Tuesday, May 12, 2020

Jatuhnya Hin Leong



Hin Leong , didirikan oleh taipan Cina legendaris Lim Oon Kuin. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1963 dan telah berkembang menjadi salah satu pemasok bahan bakar atau bunker terbesar di Asia. OK Lim, begitu pendiri perusahaan ini dikenal, membangun perusahaan dari awalnya sebagai dealer minyak dengan armada  truk, kemudian berkembang menjadi Trader oil terbesar di Asia Tenggara, dengan menguasai asset 130 kapal tanker, terminal minyak, storage/bunker untuk menjamin suplai Refinery. Bunkering arm perusahaan, Ocean Bunkering Services, menduduki peringkat pemasok bahan bakar ketiga terbesar di Singapura tahun lalu, Singapura adalah pusat pengiriman bahan bakar terbesar di dunia.

Bagi orang Indonesia nama Hin Leong tidak asing. Karena keberadaan Petral sebelum dibubarkan oleh Jokowi, praktis yang menjamin likuiditas Petral Trading Arm adalah Hin Leong. Mitra Petral di Indonesia yang punya akses politik mendapatkan kontrak impor BBM dan Crude. Mereka tanpa modal dapat fee dari Hin Leong atas setiap pengiriman minyak ke Indonesia. Sejak kehilangan kotrak dengan PETRAL dan kemudian masuk tahun 2018 dimana harga minyak volatile di market membuat Hin Liong tekor. Tahun lalu dia kalah dalam trading future USD 800 juta. 50% stok minyaknya menyusut akibat harga miyak jatuh di pasar. Sebagai perusahaan Publik Hin Liong berhadapa dengan masalah hukum. Karena melakukan akunting fraud. 

Sementara stok yang ada terpaksa dijual dengan harga 30% dari harga perolehan. Itupun hanya terkumpul uang sebesar USD. 1,136 miliar. Masih jauh untuk bisa lunasi hutang sebesar USD 3 miliar. Bulan April 2020, konsorsium 10 bank yang merupakan kreditur Hin Leong, terdiri dari  HSBC Holdings, DBS Group Holdings dan OCBC Bank mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas masa depan Hin Leong. Hasilnya bukan solusi pembiayaan, malah bank bank tersebut menghentikan fasiltas LC bagi Hin Leong. Semua tahu, jantung dari Trader oil adalah likuiditas LC. Kalau sudah tidak bisa lagi dapatkan fasilitas LC dari bank, itu artinya lonceng kematian.

Bad news tentang Hin Leong tentu mengejutkan komunitas keuangan dan perdagangan Singapura ketika Hin Leong - salah satu perusahaan perdagangan minyak terbesar yang telah berdiri hampir 60 tahun - runtuh dan masuk ke dalam pengawasan administrasi pemerintah. Hin Leong adalah salah satu korban ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang diciptakan oleh pandemi Covid-19. Kemerosotan permintaan global mendorong harga minyak berjangka AS turun ke $ 0 dan kemudian ke wilayah negatif karena para pedagang berebut untuk membayar penyimpanan minyak mereka daripada menerima pengiriman fisik seperti yang terjadi dalam kondisi perdagangan normal. Futures pada patokan West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei berpindah tangan awal minggu pertama April pada $ 37,63 negatif per barel sebagai titik paling ekstrim dari kejatuhan harga minyak.

Harga minyak negatif menghancurkan neraca keuangan Hin Leong tetapi keruntuhannya mempertanyakan status Singapura sebagai pusat perdagangan komoditas global bersama Houston, London dan Jenewa karena kekhawatiran akan regulasi yang longgar dan kemungkinan korupsi. Pemerintah Singapore sedang melakukan investigasi atas kebangrkutan Hin Leong. Karena terindikasi melakukan fraud atas perdagangan future, yang kerugiannya tidak dilaporkan kepada otoritas. Dan hebatnya Laporan keuangannya mendapat disclaimer dari Deloite yang merupakan akuntan paling bonafid di dunia. Setidaknya dunia jadi tahu, bahwa sistem perdagangan minyak di AS, London dan Singapore memang penuh dengan kospirasi dan korup. Corona menyingkap kebobrokan yang sudah lama ditutupi.

1 comment:

Irman said...

Korban Corona lain nya pasti menyusul. Sang Pencipta sedang me reset dunia.