Friday, May 1, 2020

Kebodohan masalalu


Seringkali Azra membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menenteramkan.
Sungguh "B" ! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Pada saat itulah ketika aku membuka jendela, seketika aku menjelma burung kolibri….” Azra bicara sembari memandang pada lembah yang terjamah basah. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”
Aku yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”
“Kenapa?”
“Biar aku mendekam dalam kepalamu. Biar aku mengetahui semua mimpi-mimpimu….”
“Nggak lucu!”
“Yap! Aku memang tidak sedang melucu.” Aku sedikit mengangkat bahu. “Lagi pula kamu tidak membutuhkan aku untuk melucu. Kamu membutuhkanku untuk mendengarkanmu berkeluh-kesah soal perkawinanmu yang membosankan.”
“Terima kasih, sudah jadi psikolog gratisan!”
Lalu Azra kembali membuang pandang ke arah perbukitan, pada pohon yang samar dan meliuk-liuk letih di bawah rerepih gerimis yang bagaikan bertih-bertih beras putih berhamburan diterbangkan angin. Azra  menyukai tempat ini. Kafe yang menghadirkan sunyi, tetapi tidak menutup diri karena jendela-jendelanya yang besar dan lebar dibiarkan terbuka sehingga temaram ruang yang kecoklatan seakan berkarib dengan keluasan perbukitan. Sesekali ia bisa merasakan angin dan dingin yang ringan seperti belaian. Ia memilih tempat ini bila ia menginginkan perhatian. Ia memilih tempat ini bila ingin ketemu dengan aku.
“Kupikir, kalian rakyat Turki harus belajar dari kejatuhan khilafah ustmani. Harus belajar jujur, agar kebanggaan masa lalu jadi pelajaran untuk lebih baik lagi di masa depan. “Kataku memulai obrolan, setidaknya aku ingin dia bicara diluar keluhannnya. Dia cerdas. Sarjana dari Oxford.
“ Kau ingin aku jujur tentang masa lalu negeriku. Itu akan jadi pembicaraan yang panjang. Tapi aku senang membicarakan kejujuran itu. Apalagi kamu mau mendengarkannya. “
“ Cobalah ceritakan. “ Kataku.
“ Mengapa kamu ingin aku jujur bercerita soal itu?
“ Sederhana aja. "

" Apa ?

" Mengapa 6 Abad khilafah ustmani yang kekuasaannya mencakup tidak hanya di Asia Kecil tetapi juga sebagian besar Eropa tenggara, Timur Tengah dan Afrika Utara. Ustmani mengendalikan wilayah yang membentang dari Danube ke Nil, dengan militer yang kuat, perdagangan yang hebat, dan prestasi yang mengesankan di berbagai bidang mulai dari arsitektur hingga astronomi. Akhirnya runtuh dengan tragis.  Mulailah dari pertanyaan ini. “ Kataku.
Azra menatapku dengan tersenyum, terus memandang perbukitan itu pada cuaca yang sendu, ketika segalanya perlahan-lahan menjelma bentangan kelabu, dan ia kian merasakan kebosanan itu. Ia sudah mencoba mengatasi, tetapi kian hari ia kian merasakan betapa perkawinannya semakin membenamkan dirinya dalam keasingan yang tak kunjung ia pahami. Sering ia tergeragap bangun di malam hari, berasa kebah disesah gelisah, dengan jerit yang tersekat di kerongkongan. Betapa ia inginkan pelukan yang membuatnya sedikit merasa nyaman. Aku tahu, itu ceritanya dalam keluhan.
“ Kalau aku jujur, tentu menyakitkan sekali. Bukan hanya aku tetapi semua orang islam sulit berkata jujur soal kejatuhan Ustmani. Kalau jujur, tentu menyakitkan. Karena ini menyangkut kebodohan yang tak pernah diakui oleh umat islam. Mereka masih menyalahkan orang Barat dan kafir yang membuat  Khalifah wakil Allah di dunia ini jatuh. Mereka menyalahkan terpuruknya umat islam sekarang karena jatuhnya khilafah. Padahal…” Katanya
“ Padahal apa ? “ Kataku tersenyum.
“ Padahal kejatuhan khilafah karena menolak modernisasi dari lahirnya Revolusi Industri. “
“ Mengapa menolak ?
“ Karena Islam lebih suka belajar ilmu pengetahuan meninggikan Tuhan lewat kajian semesta, tetapi tidak suka pengetahuan meninggikan Tuhan lewat cara cara berproduksi, dengan sedikit tenaga tapi menghasilkan banyak barang, dengan sedikit modal menghasilkan banyak laba. “. Katanya tersenyum getir.
“ Bagaimana Khilafah sampai bersikap seperti itu?
“ Revolusi industri lahir dari paham kapitalisme, dan kapitalisme adalah faham kafir, yang membuat orang rakus dan menjauh dari Tuhan.”
“ Oh i see. Terus “ aku semakin bersemangat.
“ Ya, ketika revolusi industri melanda Eropa pada 1700-an dan 1800-an, ekonomi khilafah tetap bergantung pada pertanian. khilafah tidak memiliki pabrik untuk bersaing dengan Inggris, Perancis dan bahkan Rusia. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi khilafah lemah, dan surplus pertanian digunakan untuk membayar pinjaman kepada kreditor Eropa. Ketika tiba saatnya untuk berperang dalam Perang Dunia I, Khilafah tidak memiliki kekuatan industri untuk menghasilkan persenjataan berat, amunisi. Tidak ada indusri baja untuk membangun jalur kereta api untuk mendukung logistik perang.”
“ Mengapa khilafah sampai berhutang? Bukankah itu haram? Kataku heran.
“ Dalam hal normal, hutang itu memang haram. Tetap dalam keadaan terjepit, utang jadi halal, tentu dengan syarat lunak. Kemudahan berhutang secara lunak inilah yang membuat elite Khilafah lupa untuk membangun industri, dan lebih focus kepada sektor pertanian yang memang sangat besar.”
“ Dan tidak ada yang berani mengingatkan Khilafah soal ini? soal perlunya industrialisasi. Padahal pada puncak kekuasaan tahun 1500-an, kekhalifahan Ustmani meliputi Bulgaria, Mesir, Yunani, Hongaria, Yordania, Lebanon, Israel dan wilayah Palestina, Makedonia, Rumania, Suriah, sebagian Arab, dan pantai utara Afrika. Andaikan Khilafah menerapkan sistem demokrasi, mungkin sampai kini Khilafah tetap bertahan, bahkan lebih modern. Karena kekuasaanya yang luas dan masyarakat homogen lebih mudah melakukan demokratisasi. “ Kataku menguatkan argumennya
“ Sistem demokrasi membutuh rakyat yang terdidik. Masalahnya elite khilafah engga mau rakyat dibawah kekuasaannya pintar. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan pendidikan di tahun 1800-an, Khilafah Ustmani tertinggal jauh di belakang para pesaing Eropa dalam hal melek huruf, sehingga pada tahun 1914, diperkirakan hanya antara 5 dan 10 persen penduduknya yang dapat membaca. Makanya sumber daya manusia khilafah ustmani, juga sumber daya alam, relatif tidak berkembang. Artinya khilafah kekurangan ahli militer, insinyur, juru tulis, dokter, dan profesi lain yang terlatih baik.” Katanya.
“ Dan karena itu kekuatan ekonomi Khilafah semakin lemah. Apalagi ketika itu wabah korupsi di kalangan elite Khifalah semakin merajalela. Ini memincu terjadinya pemberontakan di wilayah taklukan. Pada tahun 1870-an, khilafah harus membiarkan Bulgaria dan negara-negara lain menjadi merdeka, dan menyerahkan begitu saja atas tekanan dari pemberontak. Setelah kalah dalam Perang Balkan 1912-1913 akibat koalisi yang mencakup beberapa bekas kekhalifahan, khilafah terpaksa menyerahkan wilayah Eropa yang tersisa.” Kataku.
“ Tetap sekali. Apalagi ambisi kekuatan Eropa juga membantu mempercepat kehancuran khilafah Ustmani. Rusia dan Austria keduanya mendukung kaum nasionalis pemberontak di Balkan untuk menancapkan pengaruh politik mereka. Dan Inggris dan Prancis berambisi menguasai wilayah khilafah di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan itu lewat paham nasionalisme “ Katanya dengan geram.
“ Oh itu sebabnya pengusung khilafah sekarang sangat membenci nasionalisme” kataku. 
“ Ya. Jangan lupa, Rusia yang wilayahnya luas termasuk Muslim, berkembang menjadi saingan berat khilafah Ustmani. Kekaisaran Rusia adalah ancaman tunggal terbesar bagi Khilafah, dan itu adalah ancaman yang benar-benar eksistensial.  Makanya ketika kedua kekaisaran mengambil sisi yang berlawanan dalam Perang Dunia I, Rusia akhirnya runtuh lebih dulu, sebagian karena pasukan khilafah mencegah Rusia mendapatkan pasokan dari Eropa melalui Laut Hitam. Tzar Nicholas II dan menteri luar negerinya, Sergei Sazanov, menolak gagasan untuk menegosiasikan perdamaian terpisah dengan kekaisaran, yang mungkin menyelamatkan Rusia. Tetapi ongkos perang itu mahal sekali, membuat khilafah Ustmani nyaris bangkrut. Jadi sama sama kalah sebenarnya.” Lanjutnya
“ Mengapa Khilafah Ustami berpihak kepada Jernam dalam perang dunia 1? 
“ Itu cara Ustmani bisa mengalahkan Rusia. Sebelum perang, Ustmani telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman, yang ternyata menjadi pilihan yang sangat buruk. Dalam konflik yang terjadi kemudian, pasukan ustmani bertempur secara brutal, di semenanjung Gallipoli untuk melindungi Konstantinopel dari invasi pasukan Sekutu pada tahun 1915 dan 1916. Pada akhirnya, Ustmani kehilangan hampir setengah juta tentara, sebagian besar dari mereka karena penyakit, plus sekitar 3,8 juta lebih yang terluka atau jatuh sakit. Pada Oktober 1918, Ustmani menandatangani gencatan senjata dengan Inggris Raya, dan keluar dari perang.  Kekuasaan khilafah dipreteli dalam perjanjian takluk di bawah koalisi Inggris tahun 1922. Sultan Ustmani terakhir, Mehmed VI, diusir dari istananya di ibu kota Konstantinopel. Terakhir dia naik kereta pergi dan tak pernah kembali lagi. Orangpun melupakanya.
“ Andaikan Ustmani tidak di pihak Jerman dalam Perang Dunia I,  andaikan Ustmani menerima sistem demokrasi, menerima kapitalisme yang melahirkan revolusi Industri, meningkatkan pendidikan, mungkin Ustmani selamat dan sampai kini berkembang menjadi negara federal multi-etnis, multi-bahasa yang modern. Tapi itulah takdir. “ kataku.

“ Itu kesalahan yang tak diungkapkan. Mungkin kebodohan yang memalukan. Sampai kini itu ditutupi dengan dalil Al Quran dan hadith bahwa demokrasi, sains, Industri, itu paham kafir, tidak sesuai dengan Sunnah. Itu membuktikan bahwa penjuang khilafah yang ada sekarang, hanya berfantasi tentang kekuasaan yang tak boleh didebat dan kebenaran yang absolut , sehingga siapapun jadi khalifah memang memiliki sorga di dunia dengan limpahan kemewahan dan ratusan selir. “ Katanya. “ Sebetulnya mereka ingin berkuasa bukan diatas sains dan ekonomi, tetapi diatas orang bodoh yang malas berpikir. “ lanjutnya berusaha jujur. Aku suka. Tetapi orang Turki memang piawai menjelaskan sisi kelemahan dari khilafah.  
Mereka Turki modern yang sedang berjuang bangkit dari kesalahan masalalu. Tetapi anehnya tetap saja mengulang kesalahan masalalu, salah gaul berpihak kepada AS ketika ingin merebut wilayah Suriah, yang didukung Rusia dan China.
“Kupikir kamu benar, mestinya Turki tidak berpihak kepada AS dan Barat, seperti hanya aku tidak seharusnya menikah dengan pria Inggris,” desah Azra , lebih kepada dirinya sendiri.
Tetapi, entahlah. Ia tak yakin benar, apakah ia salah telah memutuskan menikah dengan Peter. Ketika laki-laki yang sudah dikenalnya sejak di Oxford  itu melamarnya, ia tak merasa perlu berpikir dua kali untuk menjawab iya. Ia yakin, pernikahan akan membuat dirinya kian nyaman. Karena ia merasa memang begitulah hidup yang mesti dilaluinya: masa remaja yang ceria, kuliah, kerja, dan menikah. Ia selalu membayangkan hidupnya seperti sebuah kisah yang akan berakhir bahagia, dengan senyum paling lembut ketika kematian menjemput. Dulu Azra hanya tertawa setiap kali aku mengatakan hidupnya terlalu datar, steril dan licin bagai lantai porselin.
“Dulu aku sudah bilang, kalau bukan karena Tuhan, perkawinan itu deal sosial yang paling dungu.…,” kataku
“Itu karena kamu kapitalis?!”
“Jangan salah paham, Az.” kataku tertawa renyah. Seringkali Azra merasa iri denganku yang bisa dengan sederhana memandang setiap persoalan. Bagiku hidup ini seakan-akan begitu gurih dan ringan seperti popcorn. “Aku sama sekali tak membenci perkawinan. Hanya aneh saja. Kupikir, perkawinan itu produk kebudayaan paling dungu yang pernah dihasilkan manusia. Salah besar kalau pernikahan ditimbang timbang dengan akal dan perasaan bahagia atau mendrita. Itu soal keimanan kepada Tuhan. Percaya Tuhan, lalui itu, dan jalani dengan cara bersahaja. Gitu aja.”
Azra mendelik, tapi aku malah terkikik. " Come , hug me. Katanya manja. 
-Istanbul 2013-

No comments: